REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
Not a member yet
    198 research outputs found

    Mencitrakan Sang Kandidat: Si “Tukang Foto” Iklan Politik

    Get PDF
    Abstrak Perkembangan fotografi komersial di Indonesia akhir-akhir ini telah memasuki ranah politik, terutama sejak diberlakukannya sistem demokrasi langsung. Masyarakat menentukan pilihan mereka melalui pendekatan para kandidat dan calon, baik berupa kampanye maupun melalui iklan-iklan politik yang hadir di media massa, maupun berupa cetak billboard dan selebaran. Dalam iklan-iklan politik, terutama ikan luar ruang, kandidat yang dianalogikan sebagai produk, dipotret dan dikemas dalam sebuah desain iklan yang membawa pesan-pesan penting berupa pencitaan dan direduksi dalam sebuah gambar. Dengan demikian, fungsi fotografer iklan baik secara teknis maupun ide memberi pengaruh yang besar terhadap pencitraan kandidat, yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap jalannya negara selanjutnya setelah kandidat tersebut melaju ke urusan birokrasi negara. Di samping itu, permasalahan ekonomi yang berbanding lurus dengan pencitraan kandidat dalam iklan-iklan politik, ternyata menyimpan kemelut yang kompleks. AbstractImaging the Candidate : the “Photographer” of Politic Ads. Lately, the development of commercial photography in Indonesia has entered the realm of politics, especially since the system of direct democracy has been enacted. Communities determine their choice through the candidates and prospective nominees, either through campaigns or political advertisements presented in mass media, as well as on billboards and flyers printed form. In political ads, especially the outdoor ads, the candidate analogized as product, were photographed and packaged in advertisement design carrying important messages in the form of imagery and reduced in an image. Thus, the function of advertising photographers, both technically and in ideas, giving major influences on imaging the candidate, which indirectly affect the course of the country once the candidate proceeds to the affairs of the state bureaucracy. In addition, the economic problems which unfortunately are in direct proportion to the imaging candidate in the politics ads, turn out keeping a complex crisis

    Ansel Adams Easton (Kajian Karya, Kesenimanan, dan Aspek Sosialnya)

    Get PDF
    Ketenaran seorang seniman kadang-kadang diakui sebagai refleksi dari dirinya dan fitur karyanya saja. Seniman sering dianggap memiliki peran yang sangat sentral dalam upaya untuk mencapai reputasinya di masyarakat. Sering tidak disadari bahwa di balik popularitas seorang seniman, ada sejumlah faktor sosial budaya yang juga memengaruhi hal itu. Ansel Adams adalah contoh bagaimana posisi seorang seniman dalam konstelasi sosial budaya Amerika. Selain memiliki sebuah karya yang indah, kemampuan teknis dan konsep karya yang baik, ia juga mampu menempatkan dirinya dalam peta sosial pada zamannya. Diskusi tentang Ansel Adams akan dilakukan dengan mempertimbangkan pekerjaan sampingan, kapasitas, dan peran yang dianggap eksternal yang membantu mendorong popularitasnya. Dalam perspektif ini akan terlihat bagaimana pentingnya faktor sosial dalam mempertahankan eksistensi seorang seniman. Ansel Easton Adams (Assessment work, artistry, and its Social Aspects). The fame of an artist is sometimes recognized as a reflection of himself and his work features alone. The artist often regarded as a highly central role in efforts to achieve its reputation.The public do not  realize that behind the popularity of an artist, there are a number of socio-cultural factors that also affect it. Ansel Adams is an example of how the position of an artist in the  constellation of socio-cultural America. Besides having a beautiful work, technical ability and concept of good works, he is also able to put himself in a social map of his era. Discussion of Ansel Adams will be conducted  by considering the workside, the capacity and roles deemed external helped push his popularity. In this perspective will be seen how the importance of social factors in maintaining the existence of an artist

    Analisis Naratif: Kemiskinan dalam Program Reality TV “Pemberian Misterius” di Stasiun SCTV

    Get PDF
    Reality TV merupakan sebuah program televisi yang menggambarkan sebuah peristiwa realita atau peristiwa nyata. Namun, program tersebut mengalami perkembangan dengan menampilkan kejadian yang nyata dan dibuat sehingga disebut program hibriditas. Sebagai sebuah program yang menggambarkan kejadian tentunya reality TV memiliki aspek narasi di dalamnya. Salah satunya adalah program reality TV “Pemberian Misterius” yang menarasikan tentang memberi pertolongan dengan memberi hadiah kepada orang lain yang memenuhi kriteria yang ditetapkan. Namun, narasi yang ceritakan tersebut sebenarnya memiliki makna lain sebagai sebuah representasi kemiskinan yang secara implisit tidak terbaca oleh penonton. Analisis naratif merupakan metode mengkaji narasi yang dapat membantu kita untuk memahami, mengevaluasi dan memaknai struktur narasi. Oleh sebab itu program reality TV “Pemberian Misterius” akan dianalisis menggunakan analisis naratif untuk melihat makna sebenarnya, yaitu representasi kemiskinan dalam program reality TV “Pemberian Misterius”. Poverty in Reality TV Programme “Mysterious Gift” on SCTV Television Channel. Reality TV is a television program which depicts a realistic event or real event. However, the program evolves and depicts real (unscripted) and manufactured events (scripted), so that it’s called hybrid program. As a program which depicts events, reality TV contains narration aspect. One of them is reality TV program called “Pemberian Misterius” which narrates the aids delivery by giving gifts to others who meet established criteria. However, the narration contains another meaning which is as an implicit representation of poverty the audience isn’t aware of. Narrative analysis is the method of reviewing narration which can help us to understand, evaluate and interpret narration. Therefore, “Pemberian Misterius” reality TV program was analyzed using narrative analysis to discover its meaning, which is representation of poverty in “Pemberian Misterius” reality TV program

    Langen Katresnan: Video Animasi dengan Tema Ramayana Episode Penculikan Shinta

    Get PDF
    AbstrakKisah Ramayana telah banyak dikenal dalam masyarakat Indonesia sejak berabad-abad yanglalu. Kisah ini telah disebarkan dari generasi ke generasi. Cerita ini akrab bagi masyarakat dalambentuk kakawin ini sering dipentaskan dalam bentuk seni pertunjukan, dramatari, pertunjukanwayang, serta dalam bentuk boneka atau patung. Kisah Ramayana memiliki banyak episode,namun dalam penciptaan karya video animasi mengambil Episode Penculikan Shinta. Animasikarya video ini dieksplorasi bentuk karakter dan cerita, serta berkolaborasi dengan tari, teater,dan seni musik. Penculikan cerita Shinta menjadi dasar narasi utama dalam penciptaan videoanimasi dengan tema Ramayana episode penculikan Shinta ‘Langen Katresnan’ yang kemudiandikembangkan sesuai dengan ide-ide dan konsep. Ini juga mendukung penciptaan karya baruyang mempromosikan keaslian pekerjaan. Video animasi ini bekerja dengan menggunakanteknik dua dimensi. Ini sebenarnya adalah referensi yang animasi boneka yang pertama kalidiakui oleh nenek moyang sebelumnya. Langen Katresnan: An Animation Video with the Theme ‘Ramayana Episode the Abductionof Shinta’. Ramayana story has been widely known in Indonesian society since centuries ago.This story has been disseminated from generation to generation. The story is familiar to thepublic in the form of this kakawin often staged in the form of performing arts, dramatari,puppet performances, as well as in the form of puppet or sculpture. Ramayana story has a lotof episodes, but in the creation of this animated video work taking Shinta kidnapping episode.This animated video works explored the form of characters and stories, as well as collaboratewith dance, theater and musical arts. Kidnapping of Shinta’s story became the basis of theprincipal narrative in the creation of animated video with the theme of Ramayana episodekidnapping Shinta ‘Langen Katresnan’ which then developed in accordance with the ideas andconcepts. It also supports the creation of new work that promotes originality of the work. Thisanimated video works using two-dimensional techniques. This is actually a reference to thatpuppet animation that was first recognized by earlier ancestors

    Perjalanan Fantasi Menembus Ruang dan Waktu (Analisis Semiotika Film The Time Machine)

    Get PDF
    Cerita klasik usaha manusia untuk menaklukkan ruang dan waktu sudah menjadi impian sejak dahulu. Novel fiksi ilmiah terkenal The Time Machine (1895) karya H.G. Wells merupakan salah satu cerita klasik fantasi ilmiah manusia menembus batasan ruang dan waktu. Film sebagai hasil kreativitas insan menjadi media hiburan yang digemari karena mampu mewujudkan imajinasi mengarungi waktu. Hal ihwal yang belum dapat tercapai saat ini, lewat media film terwujudkan. Film fiksi ilmiah (science fiction) adalah genre film yang muncul sebagai medium realisasi imajinasi. Pada tahun 2002 industri film Hollywood memproduksi kembali cerita klasik populer The Time Machine. Dengan menggunakan metode analisis semiotika penelitian ini berkeinginan mengkaji film fiksi ilmiah The Time Machine untuk membongkar kepalsuan pencapaian teknologi yang dilakukan Hollywood sebagai kapanjangan tangan negara adidaya. Dari hasil penelitian diharapkan muncul kesadaran kritis penonton untuk tidak secara langsung mempercayai apa yang ditontonnya dan menyadari bahwa yang dilihatnya adalah sebuah imajinasi palsu.Fantasy Trip Entering the Space and Time (Semiotics Analysis on Film The Time Machine). Classic stories about human’s dreams to conquer space and time have been existing since long time ago. One of the most known science fiction novel about space and time wanderers is The Time Machine (1895) by H.G. Wells. This novel was than adapted in the movie  with the same title (2002) by movie industry in Hollywood. This movie is both a form of a creative work  and on the other hand is entertaining. This movie was very popular at the time because it could express the human imagination of time wanderers and the technology used and at the same time could realize it although only in a movie form. The technology of the time wandering itself is impossible at the time, even nowaday. Science fiction is then known as a genre of movie which could realize human imaginations. Using semiotic analysis, this study is trying to review this movie to show the fake thruths that Hollywood is than just a part of super power state (US)  statements. The result of the study is trying to give references to audience that the movie they might watch might be just a fake imagination

    Semut Rangrang (Oecophylla Smaragdina) dan Benda-benda Berteknologi dalam Fotografi Ekspresi

    Get PDF
    AbstrakFotografi ekspresi merupakan ungkapan jiwa yang mengutamakan ekspresi jati diri pribadiseseorang yang diekspresikan dalam karya seni murni. Penulis mengekspresikan apa yang adadalam pikiran berupa fantasi dan kebebasan yang tidak membatasi ide penciptaan. penciptaanini menggunakan metode ide, referensi, dan eksplorasi. Foto ini menampilkan objek semutrangrang (Oecophylla smaragdina) yang merespons benda-benda berteknologi seperti halnyamanusia sekarang yang hampir tidak dapat dipisahkan lagi dengan perkembangan teknologi.Semut adalah representasi manusia karena semut memiliki makna sebagai serangga yangtergolong serangga sosial yang kehidupannya saling bekerja sama dan saling menolong sepertihalnya manusia. Karya yang penulis ciptakan diharapkan memiliki daya ganggu yang memicuemosional dan memunculkan berbagai interpretasi kepada khalayak ramai.AbstractWeaver Ants (Oecophylla Smaragdina) and High Technology Objects in Fine ArtPhotography. Fine art photography is an expression of one’s soul that promotes the expressionof personal identity as expressed in a work of fine art. The author expresses what is in the mindin the form of fantasy and freedom that does not restrict the idea of creation. The creationitself involves ideas, references and exploration. The photos depict weaver ants (OecophyllaSmaragdina) responding to hi-tech objects just like human who cannot be separated fromthe development of technology. Ants are representations of human being because ants areincluded in the group of social insects that work in groups and help each other as human beingdo. The works created here are expected to have a certain interference power which couldtrigger emotional feeling and raise various interpretations for the general public

    Simulakra Baudrillard dalam Multidimensi Posmodernisme: Kajian Fotografi Makanan dalam Media Sosial Instagram

    Get PDF
    Makanan kini dipandang dengan sudut pandang yang berbeda, karena ia tak lagi sekedar kebutuhan pokok, tetapi telah dimaknai jauh dari fungsi utamanya.  Telah sekian lama makanan menjadi simbol kemakmuran orang yang berpunya sejak dari abad ke-16 dan ke-17 yang ditunjukkan dalam lukisan-lukisan di masa itu, yang kini kemudian meraih masa gemilangnya melalui berbagai tayangan di televisi, majalah, dan buku-buku masakan.  Makanan tidak lagi sekedar apa yang dimakan, tetapi menjadi sesuatu yang dipamerkan dan berkembang menjadi gaya hidup.  Seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi, orang cenderung mengumbar kegemarannya akan makanan melalui berbagai media sosial, salah satu yang terkenal yaitu Instagram.  Visualisasi makanan telah diekspos sedemikian rupa dari menu rumahan yang sederhana hingga makanan kelas atas yang biasanya tersaji di restoran mewah.Tulisan ini membahas banyaknya foto-foto makanan yang diunggah ke dalam berbagai akun Instagram dan kemudian akan dicoba untuk menemukan bagaimana unggahan tersebut mempengaruhi keseharian kita.  Metode yang digunakan adalah mengaitkan teori simulakra dari Baudrillard dengan pendekatan multidimensi posmodernisme.  Akun Instagram dipilih secara acak berdasarkan tampilan enam frame pertamanya yang menampilkan foto-foto makanan, yang kemudian foto-foto tersebut dianalisis menggunakan kajian simulakra dari Baudrillard. Hasil temuan dari analisis menunjukkan bahwa orang tidak lagi mengonsumsi sesuatu (makanan) sesuai fungsinya, tanpa disadari mereka telah mengonsumsi sebuah tanda yang akhirnya akan meletakkan mereka ke dalam hirarki, kelompok, dan kelas dengan kemampuan mengonsumsi yang sama.  Instagram merupakan salah satu media sosial yang menggunakan foto sebagai instrumen untuk berkembangnya budaya visual yang makin memperkuat berlangsungnya simulakra dalam keseharian, yang memisahkan objek dari apa yang seharusnya direpresentasikannya hingga ke ambang batas nihilisme dan orang tidak bisa lagi mengenali apa yang sesungguhnya mereka apresiasi. Food has been seen in different views nowadays, it is not merely one of the staples, but it has gone far beyond its primary function.  Food has long been a symbol of prosperity of the haves since the 16th  until the 17th century through paintings, which later these days regains its triumph in the abundant TV shows, magazines and cook books.  Food is no longer what we eat, but it is something to show off and lately it has become a lifestyle.  Along with the advanced communication technology, people tend to flaunt their food fetish through various social media, one that has become so popular is Instagram.  The visuality of food has been vividly exposed from simple home cooking   menu to high-end foods such those served in fine dining restaurants.   This article tries to analyze the massive photographs of food uploaded in several random accounts of Instagram, and then to find out to what extent they influence our everyday life.  The method employed is Baudrillard’s simulacra with a hint of approach of multidimensional postmodernism.  Random accounts of Instagram were chosen based on their first six frames or feeds all exposing food,  then those photographs were elaborated and analyzed using Baudrillard’s simulacra.          The findings show that people no longer consume something (food) as it is, but they have consumed ‘signs’ or the prestige symbols embedded in that object.  The act of consuming signs will finally put them in certain hierarchy, groups, and classes with the same interest and ability to consume the same sign in the same way.  Instagram as one  of the social media using the photograph as the instrument in blossoming the visual culture strengthens the simulacra that happens in daily basis, that it seems separating the object from what it should represent until it fades to nihilism and people can hardly recognize what they really appreciate

    Virtual Reality: Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia, Hiperealitas

    Get PDF
    AbstrakKemajuan teknologi informasi dan mulai “membaiknya” tingkat perekonomian rataratapenduduk Indonesia, ikut meningkatkan kuantitas serta kualitas kehidupan mereka.Pertumbuhan dan kecanggihan gadget kadang tidak memberi kesempatan bagi penggunanyauntuk menggunakan dan menikmati kecanggihan tersebut. Baru beberapa saat gadget canggihtersebut dimiliki dan belum semua aplikasi yang tertanam di gadget tersebut digunakan,sudah datang dan muncul seri baru yang lebih canggih dengan aplikasi yang lebih beragamdan menghibur. Televisi dengan materi audiovisualnya yang juga semakin menghibur danmemanjakan mata penontonnya seakan tidak mau kalah untuk menyuguhkan budaya glamour,konsumtif, instan, dan sekali lagi menghibur. Demikianlah bangsa ini dalam setiap detik denyutnapas hidupnya tiada henti dijejali dengan hiburan, hiburan, sekali lagi hiburan yang dangkal,artifisial, dan semu. Ketika dunia Barat mencapai kemajuan bangsanya melalui proses revolusiindustri bangsa Indonesia mencapai dan memperoleh kemajuan hanya pada tingkat penggunadan pola pikir konsumtif. Tidak berlebihan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa bangsaIndonesia ini sudah terjajah untuk ketiga kalinya. Dijajah oleh industri kapitalisme globaldengan teknologinya sehingga budaya, kearifan lokal, nurani serta olah rasa dan pikiran darimanusia Indonesia semakin tergerus. Bahkan untuk disebut sebagai intelektual yang ilmiahrakyat dari bangsa ini harus mengerti dan memahami bahasa mereka, sebaliknya bangsaBarat tersebut dengan leluasa berkeliaran di negeri ini dengan berbagai kepentingan tidakdiharuskan mengerti, memahami, dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Budaya malu, tepaselira, saling memahami, dan menghargai dalam memaknai perbedaan juga semakin hilangdalam kehidupan bermasyarakat dan juga dalam bernegara. Gagap teknologi, bukan dalamartian tidak mampu menggunakan dan mengoperasikan hasil kemajuan teknologi, tetapi lebihpada ketidakmampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut secara cerdas,beretika, dan bertanggung jawab. Inilah fenomena budaya yang sedang terjadi di negara yangmemiliki falsafah Pancasila dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika. Virtual Reality: Hyperconsumerism, Hypertext, Hypermedia, Hypereality. Advancesin information technology and started “improving” the average rate of the economy ofIndonesia’s population, helps to improve the quantity and the quality of their lives. But thegrowth and sophistication of gadgets sometimes do not provide an opportunity for users touse and enjoy the sophistication. New gadgets while it is held, and not all applications areembedded in the gadget is used, has come and appear more sophisticated new series with amore diverse applications and entertaining. Television with audio-visual materials are alsomore entertaining and pleasing to the eye as if the audience does not want to lose to presentthe glamor culture, consumerism, instant and once again entertaining. Thus this nation inevery second breath of life relentless beats crammed with entertainment, amusement oncemore entertainment shallow, artificial and superficial. When the western world nation achieveprogress through the industrial revolution of the Indonesian nation reach and make progressonly at the level of the user and consumer mindset. No exaggeration there is a statement that says that the Indonesian nation has been occupied for the third time. Colonized by globalcapitalism with the technology industry to culture, local wisdom, conscience and if the heartsand minds of the Indonesian people increasingly eroded. Even for the so-called scientificintellectual people of this nation should know and understand their language, otherwisethe western nations to freely roam the country with a variety of interests are not requiredto understand, comprehend spoken in Indonesian. Culture of shame, tepo seliro, mutualunderstanding and respect of understanding of the difference is also getting lost in the societyand also in the state. Stuttering technology, not in the sense of not being able to use andoperate the result of advances in technology, but rather the inability to take advantage ofthe technological advances in intelligent, ethical and responsible.It’s a cultural phenomenonthat is happening in a country that has a philosophy of Pancasila with the motto of Unity inDiversity

    Penggunaan Metafora Visual Dalam Video Iklan Layanan Masyarakat Kick It Out

    Get PDF
    AbstrakKerusuhan para penggemar sepak bola di Indonesia sudah umum terjadi pada banyaktayangan langsung. Sikap negatif yang berlebihan cenderung menjadi salah satu penyebabsering terjadinya kerusuhan antara penggemar sepak bola di Indonesia. Anarkisme cenderungmengarah pada sikap vandalisme yang sangat merugikan diri sendiri atau orang lain. Kurangnyasemnagat sportivitas pada penggemar sepak bola di Indonesia masih sering ditemui, perlukesadaran untuk mengubah itu semua. Iklan layanan masyarakat adalah iklan yang mengkritiktujuan non-komersial, satir, atau dibuat untuk menularkan sifat positif akan suatu masalahsosial. Sebuah iklan layanan masyarakat yang dibuat akan lebih mudah diterima olehmasyarakat jika disampaikan dengan memberikan paparan fenomena sosial. Metafora adalahsindiran halus yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang non-verbal. Sebuah iklanyang berisi pesan dan divisualisasikan melalui ajakan metafora akan lebih terkesan dan tidakmenggurui. Pendekatan metafora yang digunakan untuk menyampaikan pesan video iklanlayanan masyarakat Kick It Out akan menyampaikan pesan dengan cara halus. The Using of Visual Metaphor in the Video of Public Service Announcement ‘Kick It Out’.Football fans riot in Indonesia are common and many lives. Excessive negative and tends to beone of the causes frequent riots between football fans in Indonesia. Anarchism is likely to leadto vandalism attitude is very detrimental to yourself or others. Lack of sportsmanship spiritfootball fans in Indonesia are still frequently encountered, it is necessary for an awareness tochange it all. Public service ads are ads that criticize non-commercial purposes, satirical, orinvited to do the positive nature of social problems. A public service announcements that areinvited will be more easily accepted by the community by giving exposure to social phenomena.Metaphor is a delicate metaphor used to describe something as non-verbal. An advertisementthat contains a message and visualized through metaphor will be more impressed solicitationand not patronize them head on. Metaphorical approach used to convey a message, videopublic service announcements Kick It Out will convey a subtle message

    Butterfly: Video Mapping Transformasi Kupu-Kupu sebagai Simbol Transformasi Diri

    Get PDF
    AbstrakKupu-kupu mengalami proses transformasi sebagai bagian dari siklus hidup normal. Kupukupujuga merupakan representasi dari simbol tentang sukacita, kebahagiaan, musimsemi, kelahiran kembali, dan pembaharuan. Image serangga cantik ini juga menyimbolkankelembutan, yang bisa menyentuh dalam masa sulit. Dalam proses kesedihan, orang yangberduka telah belajar bagaimana menghadapi kehilangan, atau perubahan yang signifikan.Banyak orang mungkin menyembunyikan diri seperti berada dalam kepompong ketikamencoba untuk menyembuhkan jiwanya. Fase kepompong merupakan salah satu fasetransformasi dari introspeksi dan refleksi. Proses ini berakhir dengan orang yang munculdari kepompong mereka, bermetamorfosis menjadi orang yang berbeda. Video instalasi inimerupakan salah satu seni media baru, dengan menggunakan video mapping sebagai teknikyang akan memperlihatkan fase-fase transformasi kupu-kupu hingga menjadi kupu-kupu yangcantik sebagai simbol transformasi diri. Butterfly: Video Mapping of Butterfly’s Transformation as a Symbol of Self- Transformation.Butterfly undergoing a process of transformation as part of the normal life cycle. Butterfliesalso represent a symbol of a lot of joy, happiness , spring, rebirth and renewal. This beautifulinsect image also symbolizes light and soft, which can touch the heart during this difficult timeand force one to think about the migration of power. In the process of grief , grieving peoplehave learned how to deal with loss or significant change. many people may hide themselvesfrom all over the world such as in a cocoon when trying to heal his soul. Cocoon phase is onestage of the transformation of introspection and reflection. This process ends up as peopleemerged from their cocoons, morphed into a different person. This video instalation is one ofnew media art, by using video mapping technique will show how the phases through which thebutterfly in its transformation into a beautiful butterfly as a symbol self transformation

    155

    full texts

    198

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇