REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
Not a member yet
    198 research outputs found

    Ekspresi Fotografi Seni dengan Objek Rangda

    Get PDF
    AbstrakDalam karya seni fotografi, banyak hal yang dapat diangkat sebagai objek penciptaan yangmemiliki nilai-nilai estetika, salah satunya adalah Rangda. Ekspresi fotografi seni denganobjek Rangda merupakan sebuah konsep penciptaan karya fotografi seni, yang pada hakikatnyaadalah upaya perwujudan ide kreatif dalam menanggapi sosok Rangda melalui media senifotografi. Rangda, yang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dipandang sebagaibenda (topeng) yang disucikan, ternyata memiliki potensi yang luar biasa, apabila dipandangdan disikapi sebagai sumber serta objek penciptaan seni, khususnya fotografi seni. Melaluieksplorasi dan observasi diperoleh pengalaman empiris selanjutnya ditranformasikan lewatmodel objek-objek imajinatif dan diolah secara digital imaging. Pengetahuan tentang estetikadalam menyusun elemen-elemen objek serta pemahaman dan kemampuan penguasaan teknikfotografi diterapkan untuk mewujudkan karya ekspresi fotografi seni dengan objek Rangda. The Expression of Art Photography with “Rangda” as the Object. In the work of artphotography, there are so many things used as the object for the artwork, with some aestheticvalues, one of those things is Rangda. Art photography with Rangda as it’s object is a conceptto create the creative idea of Rangda to be kind of a real thing with an art photography as themedia. Rangda, in the daily life of Balinese people, is a sacred thing (mask), but when it isseen as an artwork source, in fact it has a great potential, especially in the art photography.The empiric experience of those are gained from the exploration and observation transformedby the imagination object and then developed by a digital imaging. The knowledge of theaesthetic of how to arrange the object elements, with comprehension and skill of photographytechnic the will be used to create the expression of art photography artwork with Rangda asit object

    Analisis Metafora Pendidikan dan Perkembangan Sosioemosional Tokoh Utama Film “Beauty And The Beast” Versi Live-Action

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan konsep pendidikan yang terjadi di struktur sosial masyarakat Perancis pada abad ke-18. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis metafora pendidikan dan perkembangan sosioemosional sang tokoh utama film “Beauty and the Beast” versi live-action, Belle. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan studi kepustakaan mengambil teori-teori utama, yakni teori metafora pendidikan dan perkembangan sosioemosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora pendidikan digambarkan secara jelas oleh tokoh utama dalam kaitannya dengan buku, perpustakaan, pendampingan membaca, dan book discussion. Hal ini pada akhirnya membawa pengaruh baik bagi kondisi masyarakat saat itu. Perkembangan sosioemosional tokoh utama berkaitan pula dengan mikrosistem, mesosistem, dan makrosistem yang menjadi satu rangkaian proses perkembangan aspek psikososialnya, yaitu kepercayaan, otonomi, inisiatif, rajin, identitas, dan keintiman. ABSTRACTAnalysis on Educational Metaphors and Socio-emotional Development of Live-Action Version “Beauty and the Beast” Main Character. This research was encouraged by the differences in the concept of education that occurred in the social structure of French society in the 18th century. This study aims to provide an analysis on educational metaphors and socio-emotional development of live-action version “Beauty and the Beast”, the main character, Belle. This research is a qualitative descriptive one, applying the theory of educational metaphor and socio-emotional development. The results showed that the main character clearly described the educational metaphor by doing many activities in relation to books, libraries, reading assistance, and book discussion. These brought good influence to the condition of the community at that time. Microsystems, mesosystems, and macrosystems related the main character to socio-emotional development. They led to be a series of processes in the development of psychosocial aspects, namely trust, autonomy, initiative, diligence, identity, and intimacy

    Citra dan Tanda Malioboro dalam Konstruksi Fotografi

    Get PDF
    Perkembangan zaman akan mengubah citra dan simbol Malioboro. Citra kawasan yang dulunya asri dan nyaman itu sekarang berubah menjadi semrawut dan tidak nyaman lagi. Keadaan ini menstimulasi ide penciptaan karya bahwa ruang publik Malioboro yang semrawut dan tidak nyaman itu dipersonifikasikan sebagai rumah besar yang ruang-ruangnya telah disekat-sekat layaknya kamar pribadi yang nyaman dengan kamar yang memiliki keunikan sendiri-sendiri. Konsep penciptaan dan perwujudan ini merupakan kumpulan objek imaji visual fotografi yang realistis untuk dikonstruksikan kembali dengan tujuan menghasilkan realitas imajiner. Pendekatan teori penciptaan ini adalah citra, konstruksi fotografi, dan makna. Proses eksperimentasi dan pembentukan karya diawali dari imaji-imaji visual fotografi yang dikumpulkan, diseleksi, dan direpresentasikan dengan citra objek kaum urban yang berjuang untuk hidup dan ruang cagar budaya yang terpinggirkan oleh bangunan modern di Malioboro melalui imaji visual fotografi. Imaji-imaji visual fotografi dari suatu realitas imaji masa lalu tersebut diimajinasikan ke masa yang akan datang untuk dikonstruksi kembali menjadi kesatuan dengan menggunakan teknik montase dan kolase digital imaging ke bentuk imajinasi visual fotografi yang imajinatif dan bernilai kreatif estetis untuk dimaknai kembali pada keadaan sekarang. Penciptaan karya ini tidak lagi berbicara tentang tataran teknis saja, namun juga berbicara tentang estetika, citra, tanda-tanda dan makna baru di dalamnya. Melalui penciptaan karya ini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui citra, proses konstruksi, penyajian penciptaan karya, dan makna yang dihadirkan kembali dari perwujudan imaji ke bentuk karya imajinasi visual fotografi yang bernilai kreatif estetis. Karya imajinasi visual fotografi ini diharapkan menjadi media untuk mengungkapkan perasaan atau ekspresi dan emosi estetis pencipta dalam bentuk parodi visual. Penciptaan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah citra/imaji/makna baru dan untuk membangun rasa memiliki serta kesadaran akan permasalahan tata kehidupan dan tata ruang Malioboro sekarang ini.AbstractImage and Symbols of Malioboro in the Construction of Photography. Change of time will change the image and symbol of Malioboro. The image of this area that once was beautiful and comfortable now has changed into a chaotic and an uncomfortable one. This situation has stimulated an idea of creating artworks that the public space of Malioboro which is chaotic and uncomfortable is personified as a big house with separated rooms as in private bedrooms with their own uniqueness. The concept of the creation and the embodiment is a compilation of objects from photography visual images, which are realistic to be reconstructed with the aim of generating an imaginary reality. The approach for this creation is a photography construction’s image and its meaning. The processes of experimentation and the formation of the works were started with the visual images of photography which were collected, selected, and represented with the images of urban people who struggle to live there and the cultural heritage which is marginalized by modern buildings in Malioboro through visual images of photography. Visual images of photography from the past reality of those images were imagined into the future time to be reconstructed as a unity by using techniques of montage and collage in digital imaging which would transform them into creative and aesthetic photography visual imagination to be reinterpreted in recent time. This creation does not only articulate the technique itself, but also to articulate the aesthetics, images, signs and new meanings in them. Through this creation, society is expected to know the images, the construction process, the presentation, and the meaning which are brought back from the visualization of images to the form of creative and aesthetic photography visual imagination. It is expected to be a media to express the artist’s aesthetic feeling and emotion in the form of visual parody. This creation is expected to be beneficial in enriching the corpus of new images/meanings and to raise the sense of belonging as well as awareness of the problem of life order and the spatial layout of current Malioboro

    Pendidikan Seni Film dan Televisi Menjadi Penggerak Industri Ekonomi Kreatif

    Get PDF
    Globalisasi, sebagai suatu proses integrasi internasional, terjadi karena pertukaran pandangan dunia dalam berbagai sektor. Di Indonesia gelombang globalisasi sudah bergerak lebih dari 25 tahun. Tumbuh dan berkembangnya memberikan pengaruh terhadap berbagai sisi kehidupan bangsa dengan semua  atribut budayanya. Di bidang pendidikan, globalisasi memiliki dampak yang cukup besar bagi perubahan pada sistem atau model pembelajaran dan kurikulum yang diajarkan. Era industri kreatif yang digulirkan oleh pemerintah melalui Menteri Perdagangan RI waktu itu masih dijabat oleh Dr. Mari Elka Pangestu, telah  memberikan peluang seluas-luasnya bagi pendidikan tinggi seni agar dapat berfungsi sebagai salah satu pilar bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.Indonesia sudah memiliki kantong-kantong institusi dan perusahaan yang dapat menjadi mitra bagi para lulusan pendidikan seni. Para talenta yang kreatif dan terampil lulusan pendidikan seni adalah sumber daya manusia yang diperlukan bagi sektor industri kreatif di masa mendatang. Karya film dan program acara televisi sebagai karya seni yang memiliki standart estetika, di dalamnya terdapat gagasan, pengolahan artistik, matrialisasi, pengalaman teknik dan manajemen produksi, yang  proses produksinya  membutuhkan sekelompok atau individu sumberdaya manusia berkualitas dengan tingkat  pendidikan setara diploma dan sarjana. Kemudian juga dengan  televisi apabila sudah masuk ke dalam rana industri kapitalis, tentu akan berdampak pada bagi masyarakatnya, seperti yang dijelaskan oleh Redatin Parwadi untuk menciptakan perilaku konsumtif bagi konsumennya inilah, televisi mempunyai peran yang sangat penting baik sebagai media ataupun sebagai alat bagi kaum kapitalis untuk mengkonstruksi pikiran konsumen. Sejalan dengan konsep HAKI yang melindungi kualitas  karya cipta  anak bangsa dari originalitas dan eksistensinya, tentu lembaga pendidikan seni memiliki peran penting di dalam melahirkan sumberdaya manusia yang mampu menghasilkan karya seni  kreatif dan inovatif. Maka dewasa ini, di Indonesia sudah saatnya menerapkan konsep  pendidikan multikulturalisme berbasis budaya lokal yang dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun kearifan lokal menuju kebudayaan dunia. Art Education of Film and Television as Actuation in the Creative Economy Industry for the Lecturers of Television Department, Faculty of Recorded Media Arts ISI Yogyakarta. Globalization, as a process of international integration, occurs because there is an exchange of the world’s view in some sectors. In Indonesia, the wave of globalization has been ongoing for more than 25 years. Its growth and development have given influence to all aspects of nation’s life with its cultural attributes. In education, globalization has a quite big impact for the shift of system or learning model and the taught curriculum. The era of creative industry launchedby the government through the Indonesian Minister of Trade which was once held by Dr. Mari Elka Pangestu, has now given a vast opportunity for higher education in art to be one of the pillars for the growth of creative economy in Indonesia. Indonesia has certain institutions and companies that could be partners for the graduates of art school. Creative talents andskillful graduates from art school are the necessary human resources for creative industry sector in the future. Films and television programs as works of art which has standardized aesthetics, therein we could find ideas, artistic process, materialization, technique and production management experience, whose production processes need a group of people or qualified human resources holding diplomas of bachelor degree and bachelor of honors or those in equivalence. When television is admitted into capitalist’s industry, it will affect the society, as stated by Redatin Parwadi, to create a consumptive behavior for the consumers,television has an important part both as media and as means for the capitalists to construct the mind of the consumers. In accordance with the concept of HAKI (intellectual rights) to protect the quality of copyrights owned by the nations’ generation with their originality and existence, higher education of arts has a very significant role in creating human resources who are able to create creative and innovative works of art. Nowadays, Indonesia has already applied multiculturalism education concept on the basis of local wisdom that could be one ofalternatives to build local wisdom into world’s culture

    Klaim Kebenaran Filmis Dokumenter: Problem dan Alternatif Sudut Pandang

    No full text
    Klaim kebenaran filmis yang berlaku bagi dokumenter perlu diselidiki dengan pertimbangan bahwa notabene gagasan tentang kebenaran filmis diletakkan pada dua aspek, yaitu: realitas dan sineas. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana persoalan itu berkembang, serta mencari berbagai kemungkinan atau alternatif untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hasil penyelidikan tersebut menjadi dasar bagi konseptualisasi tentang kebenaran filmis dokumenter dengan cara mempertimbangkan peletakan kebenaran filmis pada aspek lain, di luar realitas dan sineas. Langkah awal penyelidikan fokus kepada literature review, di mana langkah ini menjadi cara yang efektif untuk menyarikan beberapa pemikiran penting dan mengkritisi pemikiran terkait klaim kebenaran filmis dokumenter. Hasil literature review menunjukkan adanya celah persoalan yang harus diselesaikan terkait klaim kebenaran filmis dokumenter. Persoalan itu muncul karena belum adanya satu gagasan yang secara signifikan menyebut pembacaan kebenaran filmis secara kognitif. Itu artinya, proses kognitif yang berlangsung selama kegiatan menonton belum sepenuhnya dibahas sebagai fokus dalam beberapa kajian tersebut. Problem inilah yang mendasari tawaran alternatif berupa pelibatan penonton untuk membaca kebenaran filmis dokumenter melalui pengamatan terhadap keberadaan unsur filmis di sepanjang alur dan plot. Konseptualisasi ini menemukan istilah bagi cara pandang penonton terhadap klaim kebenaran filmis, yaitu keterpercayaan. Istilah keterpercayaan ini akan dikaji secara khusus sebagai istilah baru bagi klaim kebenaran filmis dokumenter pada penelitian selanjutnya

    Book Review, Photography In Southeast Asia – A Survey

    Get PDF
    Judul : PHOTOGRAPHY IN SOUTHEAST ASIA – A SurveyPenulis : Zhuang WubinPenerbit : NUS PRESS, Singapore (National University of Singapore)Tahun : 2016ISBN : 978-981-4722-12-4 (case)Halaman : 522 termasuk Index, Gambar/Photographs, Notes dan Bibliograph

    Etnografi Komunikasi Visual Pertunjukan Reyog Obyogan Ponorogo

    Get PDF
    AbstrakPerkembangan reyog ponorogo ditengah majunya komunitas budaya global mempunyai cara khusus dan berbeda dalam penyampaian informasi, terutama dalam pertunjukkan reyog obyogan yang ada di kabupaten ponorogo. Reyog obyogan merupakan sebuah pertunjukkan reyog yang seolah-olah tidak mempunyai aturan dalam pertunjukkan, akan tetapi pertunjukkan ini penuh dengan makna yang terkandung didalamnya dan tersampaian dengan model komunikasi visual. Komunikasi visual merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan. Dalam bidang ilmu antroplogi, kajian ilmu tentang komunikasi dikenal dengan komunikasi ethnografi, sebuah proses yang dikembangkan dari pola-pola bicara dalam sebuah komunitas. Penelitian ini menggunaka teori komunikasi budaya dalam ranah etnografi yang dikembangkan oleh Dell Hymes, SPEAKING (Setting and scene, participant, event, act squence, key, instrumentalities, norms, and genres). Etnografi sendiri merupakan sebuah metode dalam menggali informasi yang terkandung dalam sebuah komunitas budaya dan  berusaha mengungkapkan sebuah pesan lewat media tari, ekspresi dan interaksi. Hal inilah yang menjadi sebuah cara berkomunikasi dengan banyak aspek yang saling terkait. Komunikasi visual dalam penelitian ini , sesuai namanya, adalah komunikasi melalui media penglihatan yang terdokumentasikan dengan media fotografi. Melihat paradigma dan perkembangan inilah, fokus dalam penelitan ini adalah melihat lebih jauh dan mendalam bagaimana sebuah tanda-tanda visual berkembang dalam bentuk komunikasi budaya yang hidup dan tumbuh dalam kesenian reyog terutama reyog Obyogan di Kabupaten Ponorogo. melalui metode penelitian kualitatif dengan observasi mendalam dan wawancara diharapkan hasil yang dicapai dapat lebih maksimal dengan temuan-temuan baru yang ada sesuai dengan perkembangan yang ada pertunjukkan reyog tersebut.

    Objektivikasi Perempuan Tua dalam Fotografi Jurnalistik Analisis Semiotika pada Foto-Foto Pameran Jalan Menuju Media Kreatif #8

    Get PDF
    Penelitian ini berfokus pada objektivitas perempuan tua dalam fotografi jurnalistik. Objektivikasi perempuan adalah objek yang menarik karena menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan masyarakat. Hampir di setiap media massa, perempuan diposisikan sebagai pelengkap dunia laki-laki. Paras cantik dan keindahan lekuk tubuh perempuan dijadikan sebagai objek seksual. Lain halnya dalam karya fotografi pada pameran “Jalan Menuju Media Kreatif #8”. Dengan analisis deskriptif interpretif berparadigma kritis, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menginterpretasikan data yang bersangkutan dengan objektivikasi dan mitos dalam karya fotografi jurnalistik. Variabel penelitian ini adalah fotografi jurnalistik, perempuan, dan komunikasi visual. Terdapat tiga objektivikasi perempuan dalam karya foto jurnalistik ini: pertama, objektivikasi perempuan terletak pada inner beauty; kedua,; perempuan menikmati pekerjaannya sebagai ibu rumah; dan ketiga, perempuan tampil tanpa make up tebal. Mitos kecantikan perempuan terletak pada inner beauty, dalam foto-foto ini disajikan melalui keaslian wajah, profesi, dan ketaatannya. Mitos lain adalah penempatan perempuan yang selalu di wilayah domestik. Dengan demikian, perempuan tidak lagi hanya menghabiskan waktunya untuk berdandan dan bergaya. AbstractObjectification of Elderly Women in Photojournalism: Analysys of Semiotics on the Photographs of ‘Jalan Menuju Media Kreatif #8’. This study focused on elderly women objectivity in photojournalism. The objectification of women is an interesting object because it has become a phenomenon in the society. Almost in every mass media, women are positioned as the complement of men’s worlds. Pretty faces and the beauty of women’s curves are made as sexual objects. There was a difference in the photography exhibition in the event of “Jalan Menuju Media Kreatif #8”. By using interpretative descriptive analysis with critical paradigm, this research aims to describe and to interpret the data related to the objectification and myths in the photography works of photojournalism. The variables of this research are photojournalism, women, and visual communication. There are three objectifications of women in those works of photojournalism; first, objectification of women on their inner beauty; second, women enjoying their work as homemakers; and three, women without thick make-up. The myth of female beauty lies in the inner beauty,therefore in the photographs they were represented through the authenticity of their faces, professions, and obediences. Another myth is the position of women in the domestic sphere. Thus, women did not just spend their time to dress up and to be stylish

    Aspek Perlindungan Anak dalam Iklan Televisi: Kajian Terhadap Iklan Televisi Yang Melanggar Kode Etik Periklanan

    Get PDF
    AbstrakIklan telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap hari,baik secara sadar maupun tidak kita selalu terpapar oleh iklan. Ketika menonton acara televisifavorit kita, tiba-tiba acara terhenti oleh iklan, ketika kita membaca koran, majalah atau bahkanketika kita berangkat kerja kita selalu bertemu dengan iklan entah itu dalam bentuk poster,spanduk, baliho maupun iklan di media cetak. Banyaknya iklan yang beredar di masyarakattentu saja memberikan pengaruh yang besar pada para konsumen mulai dari pengaruh yangberupa pembelian maupun pengaruh sederhana seperti meniru iklan. Besarnya pengaruh iklantersebut tentu saja harus diimbangi dengan sikap bijaksana terutama terkait dengan pengaruhiklan terhadap anak-anak. Sayangnya saat ini masih banyak iklan televisi yang melanggaretika pariwara Indonesia terkait dengan aspek perlindungan anak. Di antaranya adalah Iklantelevisi Permen Jagoan Neon versi “Mountain Bike”, Iklan Mie Sedap versi “Kerja Bakti”,Iklan Gerry Chocolatos versi “Masuk ke Dalam kulkas” serta iklan mie sedap versi “rasa ayamspesial”. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang lebihmenekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisisterhadap dinamika hubungan antarfenomena yang diamati, dengan menggunakan logikailmiah. Data yang peneliti peroleh baik melalui penelitian kepustakaan maupun penelitianlapangan akan di analisis secara deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif melakukan analisishanya sampai taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematiksehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan. Aspects of the Protection of Children in Television Commercials: Study on the BreakingTelevision Advertising Advertising Code. Advertising has become one part in people’s dailylives. Every day, either consciously or not we are always exposed to the ads. When watchinga favorite television show us, suddenly interrupted by advertising the event, when we readthe newspapers, magazines or even when we go to work we are always met with the ad eitherin the form of posters, banners, billboards and print ads. The number of ads that circulate inthe community of course have a considerable influence on the consumer from the impact orinfluence the purchase of a simple form such as imitating the ad. The magnitude of the effect ofsuch advertising must of course be balanced with prudence, especially relating to the influenceof advertising on children. Unfortunately today there are many television ads that violate ethicsIndonesia advertisement related to aspects of child protection. Among these are television adsNeon Candy Stud version of “Mountain Bike”, Ad Noodle Savoury version of “Work Activity”,Ad Gerry Chocolatos version of “Go to In the fridge” and savory noodles ad version “specialchicken flavor”. This study is a qualitative research, which is a type of research that is moreemphasizes the analysis of deductive and inductive inference process and the analysis of thedynamics of the relationship antarfenomena observed, using scientific logic. Researchers dataobtained through library research and field research will be descriptive - qualitative analysis.Descriptive study analyzing only to some descriptions, which analyze and present the facts ina systematic way so that it can be easily understood and concluded

    Kaki Manusia Sebagai Objek Estetik Penciptaan Fotografi Seni

    Get PDF
    AbstrakLaporan pertanggungjawaban adalah deskripsi tertulis pengalaman kreatif seorang senimanatau fotografer dalam upaya eksplorasi estetika pada gambar dan gagasan manusia sebagaistimulan dasar bagi penciptaan karya seni fotografi. Kaki manusia sebagai objek estetika adalahmasalah yang berhubungan dengan berbagai fenomena yang terjadi di bidang sosial, budaya,dan politik di Indonesia saat ini. Berdasarkan hubungan ini, kaki manusia akan dirumuskansebagai gambar yang memiliki nilai, dan kesan tersendiri dalam penciptaan sebuah karya senifotografi. Oleh karena itu, penciptaan seni fotografi ini berjudul Kaki Manusia sebagai ObjekEstetik Penciptaan Seni Fotografi. Dari latar belakang ini, kaki sebagai seni fotografi objekpilihan, akan dikelola secara kreatif dan sistematis melalui tahapan penciptaan. Fase penciptaanterdiri dari: (1) eksplorasi wacana, (2) eksplorasi artistik, (3) tahap elaborasi fotografi, (4) tahapsintesis, dan (5) tahap penyelesaian. Metodis, melalui tahapan proses kreatif di mana dirumuskandalam berbagai bentuk gambar artistik dari kaki manusia. Berbagai bentuk gambar artistik yangdihasilkan dari endapan dari proses penciptaan, dapat disimpulkan sebagai objek estetika dalamkarya-karya fotografi seni. Hal ini secara khusus ditandai dengan pembentukan ‘pencitraan laindi balik gambar kaki terlihat, serta dari berbagai bentuk citra baru’ sebagai hasil dari eksplorasiartistik gambar umum kaki. Secara umum, seluruh gambar dari kaki dalam karya fotografi senimemiliki hubungan reflektif dengan situasi sosial, budaya, dan politik yang berkembang dalammasyarakat Indonesia, yang mengandung nilai, makna, dan kesan. Human Foot as Aesthetic Object Creation Art Photography. Accountability report is a writtendescription of creative experiences as an artist or a photographer of aesthetic exploration effortson the image and the idea of a human as a basic stimulant for the creation of works of artphotography. Human foot as an aesthetic object is a problem that relates to various phenomenathat occur in the social sphere, culture and politics in Indonesia today. Based on these linkages,human feet would be formulated as an image that has a value, and the impression of eatingalone in the creation of a work of art photography. Hence the creation of this art photographyentitled The Human Foots as Aesthetic Object Creation of Art Photography. Starting from thisbackground, then the legs as an option object art photography, will be managed creatively andsystematically through a phases of creation. The creation phases consist of: (1) the explorationof discourse, (2) artistic exploration, (3) the stage of elaboration photographic, (4) the synthesisphase, and (5) the stage of completion. Methodically, through the phases of the creative processthrough which this can then be formulated in various forms of artistic image of a human foot. Thevarious forms of artistic images generated from the foots of its creation process, can be summedup as an object of aesthetic order in the photographic works of art. It is specifically characterizedby the formation of ‘imaging the other’ behind the image seen with legs visible, as well as of thevarious forms of ‘new image’ as a result of an artistic exploration of the common image of legsvisible. In general, the whole image of the foot in a photographic work of art has a reflectiverelationship with the social situation, cultures, and politics that developed in Indonesian society,by value, meaning and impression that it contains

    155

    full texts

    198

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇