REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
Not a member yet
    198 research outputs found

    Fundamental Kewirausahaan sebagai Media Penciptaan Lapangan Kerja di Bidang Fotografi

    Get PDF
    AbstrakLahir dari keajaiban teknologi dan terus berevolusi mengikuti jiwa zamannya, menegaskanbahwa fotografi adalah instrumen penghasil rupiah yang efektif. Terobosan berbagai mediaakhir guna display dan booming media sosial berbasis internet merangsang pertumbuhanpengguna fotografi, baik bersifat profesional maupun amatir. Terbukanya peluang besar untukmenciptakan lapangan kerja yang menjanjikan dan meningkatnya kebutuhan ilmu fotografiditandai munculnya berbagai lembaga edukasi, komunitas, dan ruang diskusi. Memicuterjadinya persaingan ketat dalam medan bisnis fotografi, sebagian mencoba membangundan jatuh, sebagian lagi tetap berproses demi sebuah mimpi. Satu dua orang telah menjadiraja, dan kebanyakan masih berkutat masalah teknis tanpa mampu merealisasikan peluangyang ada. Menciptakan lapangan kerja menurut para ahli sangat penting guna menekan angkapengangguran di suatu negara. Jika peluang terbuka lebar, seyogianya para insan fotografiikut serta membantu pemerintah mewujudkannya, paling tidak mampu membuka lapangankerja untuk dirinya sendiri. Menjadi seorang wirausaha di bidang fotografi bukan hal sulit,walaupun karena digitalisasi kompetitor semakin banyak, kesempatan selalu ada bagi yangmau menumbuhkan fundamental kewirausahaan dalam dirinya. Belajar dan mencoba adalahkunci untuk menjawab tantangan bisnis fotografi masa depan.AbstractEntrepreneurship Fundamentals as Employment Creation Media in the Field ofPhotography. Born from the miracle of technology and continues to evolve following thespirit of its era, emphasizing photography as an effective instrument for earning money. Thebreakthrough in various user end media for display, as well as the booming of internet-basedsocial media stimulate the growth of photography users both professional and amateur. Theopportunity in creating promising employmens is widely opened, flagged by the bloomingof education institution, community, and discussion forum. Hence, they trigger a tightcompetition in photography business, some may try and fail while some may keep on progressfor the sake of their own dream. One or two may become successful, while others still workon the technique without being able to realize the given opportunity. Creating employment,according to some experts, is very important in lowering the unemployment in a country.When there is an opportunity, hopefuly the photographers could help the governemnt creatingan employment opportunity, at least for themselves. Being an entrepreneur in photographyis not really difficult, eventhough the numbers of competitors in digitalization is gettingmore each day,because an opportunity is always open for those who want to develop theirown entrepreneur fundamental. Learning and trying are the keys to answer the challenge inphotography business in the future

    Penjejakan Fitur Berbasis Koherensi Temporal dalam Sistem Animasi Ekspresi Wajah

    Get PDF
    AbstrakTingginya permintaan produktivitas industri animasi di Indonesia menuntut adanya perubahandi sektor produksi. Teknologi motion capture merupakan penerapan prinsip visi komputeryang mengadaptasi indera mata manusia untuk mengenali fenomena gerakan yang tertangkapkamera dan memetakannya dalam pola gerak virtual. Tulisan ilmiah ini akan membahas metodepenjejakan fitur penanda di wajah manusia untuk mendapatkan informasi mengenai ekspresiwajah. Teknik penjejakan menggunakan penerapan prinsip koherensi temporal. Asumsi yangdigunakan pada penelitian ini berargumentasi bahwa dengan menggunakan pendekatankoherensi temporal, maka proses penjejakan fitur di citra sekuensial dapat disederhanakandengan perhitungan nilai kedekatan pada penanda di setiap frame-nya. Hasil yang didapatmenunjukkan bahwa proses penjejakan fitur yang diusulkan memiliki hasil yang handal untukmenangani banyak frame. Komputasi yang digunakan juga sangat efisien dan hemat karenaprosesnya tidak memerlukan tahap pembelajaran terlebih dahulu. Kumpulan hasil penjejakanparameter fitur penanda secara sekuensial akan membentuk sebuah basis data ekspresi visualdari wajah manusia. AbstractTemporal Coherence Based Feature Tracking in the Animation System of Facial Expression.High demand on the productivity of the animation industry in Indonesia requires a changein the existing production process. Motion capture technology is the implementation of acomputer vision principle to adopt the human eye senses to understand the phenomenon ofmotion results from a camera and to map the virtual movement patterns. This paper willdiscuss a method for tracking marker features in the human face to obtain information aboutfacial expressions. The tracking technique is using implementation of temporal coherenceprinciple. This research assumes that by using temporal coherence approach, the trackingprocess in sequential images can be simplified by calculating similarity on markers in eachframe. The result shows that this feature-tracking process have reliable result to handle alot of frames. The computation used is very efficient and cheap because it does not requirea learning process in advance. The precision accuracy of tracking parameters generated adatabase of good visual expression

    Menengok Kembali Eksistensi Visual Effect Film Indonesia

    Get PDF
    AbstrakVisual effect film dunia saat ini sudah mencapai tingkat pencapaian tertinggi yang mampumembuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin, baik yang berdasarkan kenyataan,realita, sampai dengan yang bersifat imajinatif. Visual effect (VFX) atau efek visual hampirselalu hadir dalam film-film bergenre action yang mampu membuat penonton benar-benaryakin bahwa adegan tersebut adalah nyata, tak terkecuali untuk film-film buatan Indonesia.Namun, selama tiga dekade eksistensi efek visual di Indonesia, realita perkembangannya jauhtertinggal dibanding kualitas efek visual film Holywood baik dari sisi estetika maupun teknik.Masih banyak film Indonesia yang tidak meyakinkan dari sisi efek visualnya sehingga tidakcukup membuat penonton percaya bahwa adegan yang dihadirkan seolah-olah nyata atau tidakmempunyai efek realitas. Bahkan beberapa efek visual film/sinetron yang ditayangkan di salahsatu televisi swasta seringkali menjadi bahan cemoohan karena nampak jelas kepalsuannya.Sumber daya bidang animasi dan visual effect di Indonesia sesungguhnya sangat memenuhisyarat dan mampu membuat efek visual setara dengan produksi Holywood, namun padakenyataannya selalu ditemukan faktor klasik yang menghambatnya antara lain faktorkesempatan dan pembiayaan. Looking Back the Existence of Indonesia Film’s Visual Effects. The film’s visual effects arenow reaching the highest level of achievement that is able to make all the impossible becomespossible, whether based on fact, reality, to the imaginative nature. Visual effects (VFX) orvisual effect almost always presents in the action films genre that are able to make the audiencereally believe that these scenes are real, not least for films made in Indonesia. However, duringthe three decades of the existence of the visual effects in Indonesia, the reality of developmentis far behind the quality of visual effects of Hollywood movies both in terms of aesthetics andengineering. There are still many Indonesian films which are not convincing in terms of visualeffects that do not quite make the audience believe that the scene is presented as if it is realor not have the effect of reality. Even some of the visual effects of the film / soap opera thataired on a private television is often played as the subject of ridicule for obvious falsehood.Resources field of animation and visual effects in Indonesia actually highly qualified and ableto create visual effects on par with Hollywood production, but in fact, the classical factor thathinders among other factors and financing opportunities are always found

    Unsur-Unsur Budaya Lokal dalam Karya Animasi Indonesia Periode Tahun 2014-2018

    Get PDF
    Identitas budaya lokal pada suatu negara mempengaruhi bagaimana bentuk dari karya animasi di negara tersebut. Jepang sendiri memiliki 14 kategori budaya dan Malaysia memiliki 13 kategori pada karya animasi mereka. Hal tersebut membuat karya animasi mereka memiliki ciri khas dimata penonton animasi. Di Indonesia sendiri hal tersebut masih belum terpetakan secara mendetail hingga saat ini. Oleh karena itu pada penelitian ini meneliti seperti apa unsur-unsur budaya lokal yang ada pada karya animasi Indonesia. Metode yang digunakan adalah menggunakan analisis isi dengan pendekatan budaya sebagai landasan teorinya. Hasil yang didapatkan adalah 17 katagori budaya termasuk 5 kategori yang tidak ada pada kategori budaya pada animasi Jepang dan Malaysia. 17 kategori tersebut tersebar kedalam 375 bentuk-bentuk identitas budaya yang merepresentasikan ciri khas budaya Indonesia

    Ironi Setting Lokalitas dalam Film Komedi Jagad X Code: Kajian Sosiologi Pierre Bourdieu

    Get PDF
    AbstrakFilm komedi yang cenderung untuk sekadar memenuhi selera pasar dengan ramuan seks,mistik, kekerasan, dan roman percintaan picisan pada kenyataannya bukan menjadi sebuahkonvensi yang baku untuk film bergenre komedi. Ada juga film-film bergenre komedi yangdibuat dengan idealisme berbeda, termasuk dengan muatan ranah lokal/setting lokalitas yangmengangkat persoalan sosial, seperti masyarakat pinggiran dan masyarakat kota. Masyarakatpinggiran yang selama ini umum dikanal dengan kehidupan yang keras, premanisme, kumuh,“kampungan”, gagap teknologi, dalam film JAGAD X CODE ditampilkan berkebalikandengan pandangan umum tersebut. Terdapat ironi setting antara yang ditampilkan dengananggapan umum masyarakat. Ironi setting lokalitas yang terdapat dalam film komediJAGAD X CODE melibatkan hubungan antara hal-hal yang saling bertolak-belakang sertamengejutkan antara yang dipikirkan penonton dengan realita kehidupan yang didigambarkansecara dramatik dan sinematik. Bourdieu melalui konsep habitus, menunjukkan bahwa realitassosial berupaya memahami dan menganalisis kesenjangan sosial-budaya, ekonomi, dan politikyang ada di masyarakat. Terjadi represi dan kekerasan simbolik yang dilakukan oleh rezimatau kelompok yang berkuasa terhadap masyarakat kelas bawah, yang terpinggirkan dalamproses “pembangunan.” Dengan demikian, kelompok yang dominan pada hakikatnya terusmereproduksi struktur yang menguntungkan posisinya tersebut. Permasalahan yang dikajiadalah apakah makna ironi setting lokalitas dalam film JAGAD X CODE? Apakah hubunganantara ironi setting lokalitas dalam film JAGAD X CODE dengan nilai-nilai lokalitas?Bagaimana konsep habitus Bourdieu berperan dalam naratif film JAGAD X CODE? Kajianini mengidentifikasi bahwa di tengah gegap industri budaya film komedi, berbau seks, mistis,kekerasan, dan roman percintaan picisan, terdapat film komedi yang disajikan dengan nuansayang berbeda dan lebih menyoroti kehidupan masyarakat. Ironi setting dan teori habitusBourdieu berperan membebaskan masyarakat pinggiran kota dari “kediktaktoran” pandanganumum dan menyuarakan kritik atas masyarakat pada umumnya yang cenderung habitusdengan struktur yang telah mengikat secara kultur dan menguasai manusia itu sendiri. The Irony of Locality Setting in Comedy Film “Jagad X-Code: A Pierre Bourdieu SociologyStudy. Comedy that tends to just meet the tastes of the market with potions, there are: sex,mysticism, violence, and romance novels in fact there has not standard convention for moviecomedy. There is also comedy films are made with different ideals, including with local wisdom/locality setting that raised social issues, such as rural communities and urban communities.X-CODE JAGAD is a film which shown in contrast about that common sense. Ruralcommunities that have common known by the hard life, thuggery, seedy, “tacky”, stutteringtechnology, but in that film there is not. There is irony about the settings with the general notionof society. The irony of locality setting contained in JAGAD X CODE involves the relationshipbetween things that are exclusive mutually and surprising the audience thought the realityof life which dramatic and cinematic described. Bourdieu, through the concept of habitus, economics and politics of society. Occurs repression and symbolic violence committed by theregime or the ruling group of lower classes, marginalized in the “development” process. Thus,the dominant is continue reproducing the favorable position structure. The problem studied iswhether the meaning of irony of locality setting on JAGAD X CODE? What is the relationshipbetween irony of locality setting on JAGAD X CODE with values locality? How Bourdieu’sconcept of habitus role in the narrative of JAGAD X CODE? This study identified that in themiddle of the culture industry of comedy: sexist, mystical, violence, and pulp romance novels,there are presented with different shades and further highlights the life of the community.Irony of setting and Bourdieu’s theory about “habitus” suburban community liberating role ofcommon sense about “dictatorship” and criticism of society in general tend with a structurethat has binding and control of human culture itself

    “Aku Yang Galau”: Refleksi Film Masa Kolonial Hingga Awal Kemerdekaan

    Get PDF
    Film tidak hanya mewujudkan image (citraan) tetapi juga imaji (baca: imajinasi) tentang realitas masyarakatnya. Tulisan ini melihat film sebagai teks yang strategis dalam pergolakan dan kegalauan masyarakat pada masa kolonial, lalu pada era kebangkitan nasional hingga awal kemerdekaan. Film-film seperti Terang Boelan, Dasima, hingga Rentjong Atjeh yang dibuat sebelum kemerdekaan, telah menunjukkan antitesis kolonialisme. Film-film tersebut memang muncul ketika negeri ini masih dijajah, namun formula, bentuk, dan penyajiannya dapat dilihat telah berdikari –meski tidak sepenuhnya—dengan memasukkan unsur hibriditas yang disukai masyarakat. Daya tarik dari film pada masa kebangkitan nasional adalah masuknya selera pribumi dalam film yang pada saat itu ditujukan kepada pangsa pasar Eropa. Musik, pakaian, gaya hidup, dan respons dari film ini bukanlah suatu entitas tunggal. Seperti halnya masyarakat yang dilanda “kegalauan identitas” sebelum negeri ini benar-benar merdeka. Film pada masa tersebut menjadi subordinat dari selera masyarakat yang sebelumnya terikat struktur sosial karena pengaruh kolonialisme. Sementara itu, film yang muncul pada masa awal kemerdekaan seperti Harimau Tjampa, Lagi-Lagi Krisis, dan Tamu Agung menunjukkan ekspresi nasionalisme yang besar dengan tetap memasukkan unsur tradisi. Meski telah merdeka, film pada awal masa kemerdekaan ini menemui tantangan lain, yakni dominasi negara di satu sisi dan sikap masyarakat kelas bawah di sisi lain. Maka corak khas dari film-film pada masa itu pun terlihat menggambarkan kegalauan masyarakat yang baru saja merdeka dan sedang mencari identitas.The One Who’s Mixed up”: Reflections of Film from the Colonial Era to the Beginning of Independence. Film was not only creates images but also imagination by pictures of social reality. This article sees film as strategic text in society upheaval and mixed up during colonial era, continued to (kebangkitan nasional) national resurgence era until early independence. Films as Terang Boelan, Dasima, to Rentjong Atjeh which made before independence have been showing colonialism antitheses. This country was on colonized when that film shows, but the formula, form and presentation could be seen independent –tough not entirely— with popular hybrid elements input. Uniquely, films on national resurgence era attracts by local native taste which presented to European viewers. Music, clothes, lifestyle and response of those films was not a single entity, as though the society who has mixed up identity before getting independency. Films on that era are the subordinate of society taste which is before tied to colonial social structure. Meanwhile, early independence films such as Harimau Tjampa, Lagi-Lagi Krisis and Tamu Agung shows strong national expression by still using traditional element. Even after independence, early independence films met another challenge which is state domination and in another hand, the attitude of lower class. So the characteristic of films from colonial to the beginning of independence was representing societies mixed-up who were looking for identity

    Foto Dokumenter Bengkel Andong Mbah Musiran: Penerapan Dan Tinjauan Metode Edfat dalam Penciptaan Karya Fotografi

    Get PDF
    Metode EDFAT belum begitu dikenal dalam dunia akdemik fotografi. Namun, metode terebut sebenarnya sudah lazim di kalangan prktisi, khususnya fotografer jurnalistik. Untuk itu maka penelitian dan penerapan EDFAT menjadi penting dilakukan, mengingat dalam kenyataannya metode tersebut sangat efektif dan efisien.Peneletian ini merupakan upaya untuk memahami dan menerapkan metode EDFAT. Subjek penelitian ini ialah bengkel andong mBah Musiran yang berada di kawasan Jotawang, Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode EDFAT memang dapat diterapkan dalam penciptaan karya fotografi, terlebih jika sebelum pemotretan, fotografer terlebih dahulu menghimpun informasi yang berkaitan dengan subjek pemotretan

    Sampling Suara Instrumen Musik sebagai Strategi Peningkatan Hasil Belajar Mahasiswa dalam Pembuatan Film Scoring

    Get PDF
    ABSTRAKFilm scoring merupakan pembuatan musik untuk mengiringi gambar visual dalam film. Dalam pembuatan film scoring sangat dibutuhkan pengetahuan tentang musik, hal ini dikarekan film scoring memiliki tujuan untuk menciptakan emosi penonton agar dapat memahami film yang ditonton. Instrumen musik merupakan elemen musikal yang mendukung terciptanya emosi penonton. Penelitian ini memiliki tujuan meningkatkan hasil belajar mahasiswa Program Studi D-3 Animasi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada pembuatan Film Scoring dengan strategi pembelajaran menggunakan sampling suara isntrumen musik. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar mahasiswa, maka digunakan penelitian tindak kelas dengan tiga siklus. Indikator keberhasilan hasil belajar mahasiswa didapat dari nilai dalam tugas membuat film scoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar mahasiswa pada akhir siklus ketiga dari PTK dengan menggunakan strategi pembelajaran sampling suara instrumen musik. Hasil belajar mahasiswa ini ditunjukan dengan jumlah mahasiswa yang mendapat nilai amat baik dan baik yaitu sekitar 93,75% dari 16 mahasiswa. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi sampling suara instrumen musik meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada pembuatan film scoring. Film scoring is music written specifically to accompany a movie. The knowledge about music plays an important role in the making of film scoring. The purpose of film scoring is evoking audience’s emotion so they will understand the film message. Musical instrument is musical element that create audience’s emotion while watching film. This research aims to enhance student learning outcomes at Animation Study Program, Faculty of Media and Recorded Arts, Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta in making film scoring with using sampling musical instrument as learning strategy. This research is classroom action research with three cycles. The indicator of student learning outcomes gathering from number of students who got an excellent and good marking in making film scoring. The results show 93,75% students or 15 out of 16 students got an excellent and good marking in making film scoring. According to the result of this study, it was concluded that the strategy of using sampling musical instrument can improve student learning outcome in making film scoring.

    Konstruksi Keistimewaan Yogyakarta dalam Narasi Film-Film Kompetisi Produksi Dinas Kebudayaan Yogyakarta Tahun 2016-2017

    Get PDF
    ABSTRAKSejak Undang-undang Keistimewaan disahkan, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) konsisten menggelar program kompetisi Pendanaan Pembuatan Film. Dalam genre fiksi dan dokumenter, film-film terpilih yang difasilitasi telah menafsirkan dinamika kebudayaan di DIY dengan cukup beragam. Asumsinya, film-film tersebut setidaknya mampu mewujudkan tata nilai budaya masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai luhur budaya lokal. Namun demikian, beragamnya perspektif dan pendekatan yang digunakan sineas dalam produksi film kompetisi tentunya membangun realita baru akan narasi keistimewaan Yogyakarta. Penelitian ini akan memeriksa bagaimana konstruksi keistimewaan DIY dibagun lewat narasi film-film pemenang kompetisi pada dua tahun belakangan. Proses penelitian saat ini telah mencapai pada tahapan analisis struktur luar narasi kedua film kompetisi produksi Danais 2016-2017. Adanya ketidaksesuaian struktur narasi film-film dengan gagasan yang digunakan untuk menemukan struktur luar menurut Todorov justru menjadi tantangan besar dalam penelitian ini. Ketidaksesuaian ini sekaligus menjadi suatu penemuan yang penting saat keseluruhan proses analisis terselesaikan Since the Privileges Law has been authorized, the Government Cultural Office of the Special Region of Yogyakarta has been consistently holding a film-making funding program. In the genres of fiction and documentary, the facilitated selected films have climbed the Cultural Revolution in the Special Region of Yogyakarta with quite a variety. The assumption is that those films are at least able to realize the cultural values of the society based on the noble values of the local culture. However, the variety of perspectives and approaches used by filmmakers in the production of competitive films, certainly builds a new reality of the Yogyakarta's distinctive narrative. This research will examine how the construction of the privileges of the Special Region of Yogyakarta is built through the narrative of the winning films of the competition in the past two years. The current research process has reached the stage of analysis of the outside narrative structure of the two 2016-2017 Danais production competition films. According to Todorov, the inconsistency in the narrative structure of the films, with the ideas which are used to find the outward structures, has become a major challenge in this research. This incompatibility is also an important discovery when the entire analysis process is resolved

    Fotografi, Pariwisata, dan Media Aktualisasi Diri

    Get PDF
    Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak lepas dari orang yang ada di sekitarnya. Hal tersebut mempengaruhi gaya hidup seseorang. Gaya hidup berkaitan erat dengan perkembangan masyarakat, yang didalamnya terkandung nilai-nilai seperti strata sosial, pencitraan, dan aktualisasi diri yang semua itu demi pencarian identitas baru. Seperti halnya melakukan perjalanan wisata pada saat ini merupakan kebutuhan bagi sebagian orang. Perjalanan wisata tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kepuasan semata, tetapi menjadi sebuah keharusan dan menjadi penting karena aktivitas tersebut melibatkan banyak hal yang ingin dicapai untuk menunjukkan eksistensi diri. Dorongan seseorang untuk menunjukkan eksistensi diri yang tidak terlepas dari berkembangnya teknologi dan informasi saat ini. Sejak ditemukan teknologi fotografi, aktivitas pariwisata terkait erat dengan dokumentasi sebagai suatu sarana untuk mengenang peristiwa wisata. Photography, Tourism, and Self-Actualitation Media. Humans are essentially social beings that cannot be separated from those that exist in their neighborhood. It affects a person's lifestyle. Lifestyle is bounded closely with the development of society, that it contains values such as social strata, imaging, and self-actualization are all for the sake of search of new identities. Traveling at this time is a necessity for some people. Sightseeing trips not only for the needs of satisfaction, but it becomes a necessity and is important because these activities involve a lot of things to be achieved to demonstrate the existence of self. Urge someone to show the existence of self that is inseparable from the development of technology and information today. Since the discovery of technology of photography, tourism activity is closely related to documentation as a tool for remembering traveling events

    155

    full texts

    198

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇