JURNAL KONVERSI
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
PENGARUH WAKTU KARBONISASI PADA PEMBUATAN KARBON AKTIF BERBAHAN BAKU SEKAM PADI DENGAN AKTIVATOR KOH
Penelitian ini bertujuan memanfaatkan limbah sekam padi sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif dengan mencari hubungan korelasi antara perbedaan waktu karbonisasi terhadap daya serap karbon aktif dari sekam padi dengan proses kimia. Percobaan dilakukan dengan menggunakan variabel waktu pembakaran 30,45,60,75 dan 90 menit pada suhu pembakaran 600ºC. Dengan menggunakan aktivator KOH 10%. Aktivasi karbon dilakukan dengan cara aktivasi kimia dan aktivasi basah, bahan baku sekam padi direndam terlebih dahulu dengan bahan-bahan kimia yang disebut aktivator. Analisa hasil penelitian terdiri dari uji pengurangan kekeruhan (∆ntu) pada tetes tebu dan bilangan iod, sedangkan analisa data terdiri atas penentuan persamaan regresi dan penentuan koefisien korelasi. Dari hasil penelitian didapat kondisi optimum pembakaran pada waktu 90 menit dengan pengurangan kekeruhan (∆ntu) pada tetes tebu sebesar 25 ntu dengan persamaan least square yaitu : y = 0.126x + 13.6 dan didapat koefisien korelasi ( r ) sebesar 0,981. Sedangkan untuk bilangan iod sebesar 176.391 mg I2/gr dengan persamaan least square yaitu : y = -5.465x + 658.6 dan didapat koefisien korelasi ( r ) sebesar 0.963. Kata kunci: Sekam padi, karbon aktif , aktivasi KO
PENGARUH KONSENTRASI HCl SEBAGAI PELARUT PADA EKSTRAKSI PEKTIN DARI LABU SIAM
Labu siam (Sechium edule Sw) merupakan salah satu jenis buah yang masih sangat terbatas penggunannya. Labu siam biasanya hanya dikonsumsi sebagai sayuran biasa seperti sayur labu dan sebagai lalapan. Untuk itu perlu dicari alternatif lain yang dapat lebih meningkatkan daya guna labu siam. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan mengekstrak pektinnya, karena pektin dapat digunakan secara luas pada berbagai industri. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh konsentrasi pelarut terhadap rendemen pektin yang didapat dari buah labu siam. Pada penelitian ini, pengambilan pektin labu siam dilakukan dengan metode ekstraksi pelarut. Bahan baku sumber pektin adalah kulit dan daging buah labu siam. Variabel yang digunakan adalah perbandingan konsentrasi pelarut dengan berat kering buah labu siam konstan sebanyak 25 gram. Sebagai zat pengasam digunakan larutan HCl dengan konsentrasi 0,05; 0,1; 0,15; 0,2; 0,25 N. Hasil penelitian menunjukan bahwa rendemen pektin terbaik sebanyak 9,61% pada kondisi operasi ekstraksi sebagai berikut : konsentrasi pelarut 0,2 N, temperatur 90 oC dan waktu ekstraksi 120 menit. Kata kunci :Pektin, Ekstraksi, Labu Siam, Pelarut, Asam Klorid
PENGARUH TEMPERATUR PENGERINGAN LIMBAH DAGING BUAH PALA SEBAGAI BAHAN PENGAWET TERHADAP PERUBAHAN MUTU IKAN
Pengawetan ikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya pendinginan, pengasapan, pengeringan, penambahan pengawet dan pemvakuman. Penelitian ini memanfaatkan limbah buah pala untuk mengawetkan ikan segar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh temperatur pengeringan dari limbah daging buah pala sebagai bahan pengawet terhadap mutu ikan dengantemperatur pengeringan daging buah pala yang telah ditentukan. Proses pengawetan dilakukan dengan cara melapisi ikan segar yang sudah dibersihkan menggunakan campuran daging buah pala 6% dan garam 8%. Daging buah pala yang digunakan dalam proses ini dikeringkan terlebih dahulu melalui pemanasan menggunakan oven pada temperatur 60oC, 65oC, 70oC, 75oC dan 80oC.Mutu ikan diuji secara organoleptik, Angka Lempeng Total, Kadar Total Volatile Base (TVB), Kadar Trymethyl Amine (TMA) dan kadar air pada 2 tahap pengamatan yaitu sebelum perlakuan (H-0) dan hari ketiga setelah perlakuan (H+3). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa temperatur terbaik pengeringan daging buah pala berdasarkan hasil analisa laboratorium adalah pada 70oC.Hubungan antara temperatur pengeringan (x) dengan mutu ikan (y) dapat dilihat dari persamaan-persamaan y = -0.0066x2 + 0.95x - 28.071, R² = 0.9134 (Organoleptik) ; y = 1971.4x2 - 281800x + 1E+07, R² = 0.9426 (Angka Lempeng Total) ;y = 0.099x2 - 14.212x + 544.69, R² = 0.688 (Total Volatile Base); y = -0.0031x2 + 0.2708x + 18.401, R² = 0.9242 (Trymethyl Amine); y = 0.0118x2 - 1.4714x + 109.77, R² = 0.8702 (Kadar Air). Kata kunci : Ikan, Pengawet, Pala (Myrictica Fragranss), myristicin,Antimikroba
PEMBUATAN KATALIS HYDROTREATING NiMo YANG TAHAN TERHADAP RACUN KATALIS (SILIKA)
Minyak bumi mengandung pengotor berupa sulfur, nitrogen, oksigen, logam, dan olefin. Pengotor-pengotor tersebut harus dihilangkan melalui proses hydrotreating sebelum minyak bumi diolah lebih lanjut. Salah satu katalis hydrotreating yang umum digunakan adalah NiMo/γ-Al2O3.Tujuan dari penelitian ini adalah membuat katalis NiMo/γ-Al2O3 untuk hydrotreating dengan umpan berupa coker nafta dan fosfat sebagai aditif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah impregnasi. Bahan baku yang digunakan yaitu Nikel Nitrat (NiNO3.6H2O), Molybdenum Trioxide (MoO3), larutan Amoniak (NH4) dan gamma alumina komersial sebagai penyangga. Katalis yang dihasilkan diuji luas permukaannya menggunakan metode Bruneur-Emmet-Teller (BET), sedangkan struktur aktifnya diuji menggunakan XRD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis yang lebih tahan terhadap keracunan silika adalah katalis dengan komposisi 3% Nikel, 5% Molibdenum, dengan penyangga alumina yang telah dikalsinasi pada suhu 600 oC.
PENGARUH SUHU EKSTRAKSI KULIT BUAH PAPAYA DENGAN PELARUT HCL 0,1N PADA PEMBUATAN PEKTIN
Pepaya (Carica papaya L.) pada umumnya dimanfaatkan oleh konsumen hanya daging buahnya saja. Sedangkan kulitnya selalu terbuang sia-sia. Oleh karena itu kami memanfaatkan limbah kulit pepaya yang sudah tidak dimanfaatkan lagi sebagai bahan baku pembuatan pektin dengan cara mengekstraksi kulit pepaya dengan pelarut asam mineral encer (HC1 0,1 N). Pektin digunakan secara luas sebagai komponen fungsional pada industri makanan karena kemampuannya membentuk gel encer dan menstabilkan protein (May, 1990). Penambahan pektin pada makanan akan mempengaruhi proses metabolisme dan pencernaan khususnya pada adsorpsi glukosa dan tingkat kolesterol (Baker, 1994). Selain itu, pektin juga dapat membuat lapisan yang sangat baik yaitu sebagai bahan pengisi dalam industri kertas dan tekstil, serta sebagai pengental dalam industri karet. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh suhu ekstraksi terhadap rendemen pektin dari kulit pepaya. Penelitian ini dilakukan di laboratorium PTK II Fakultas Teknik Universitas Muhammdaiyah Jakarta dan di PT Akasha Wira International. Penelitian dilakukan selama 3 bulan dari bulan Januari - Maret 2013.Variabel yang digunakan dalam peneliatan ini yaitu waktu ekstraksi 90 menit dengan variasi suhu ekstraksi (50’C, 60°C 70°C, 80°C dan 90°C ). Kata kunci : ekstraksi, kulit papaya, pekti
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT BERBAHAN DASAR NATA DE SOYA
Selulosa asetat umumnya dibuat dengan mengunakan sumber selulosa yang berasal dari kayu dan kapas, penggunaan kayu dan kapas tersebut pun akan semakin meningkat seiring bertambahnya kebutuhan akan selulosa asetat dari tahun ketahun yang kemudian akan dapat menimbulkan gangguan pada kelestarian alam, oleh karena itu diperlukan sumber selulosa lain untuk mengatasi masalah tersebut. Pada penelitian ini kami memanfaatkan limbah produksi tahu sebagai sumber altematif selulosa dalam pembuatan selulosa asetat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan katalis terhadap rendemen dan kadar asetil dari selulosa asetat yang dihasilkan dan mengetahui volume katalis yang optimal untuk menghasilkan selulosa asetat.Limbah tahu yang tidak dimanfaalkan dijadikan bahan dasar untuk membuat selulosa (nata de soya), nata de soya dibuat dari limbah tahu dengan bantuan bakteri acetobacter xylinium yang kemudian dikeringkan dan dihaluskan untuk menghasilkan serbuk selulosa Serbuk selulosa kemudian direaksikan dengan pereaksi asetilisasi asam asetat anhidrat dengan bantuan katalis H2SO4 (p) dan dalam pemanasan 40°C yang kemudian menjadi selulosa asetaiPada penelitian ini dilakukan variasi terhadap volume katalis dengan variasi volume 0,25 ml, 0,5 ml, 0,75 ml, 1 ml, 1,25 ml, dan 1,5 ml untuk mendapatkan jumlah volume yang optimal dalam mendapatkan selulosa asetat. Dari penelitian yang dilakukan didapat volume katalis yang paling optimal adalah 1ml dengan rendemen sebesar 67,93% dan kadar asetil sebesar 44,42%. Kadar asetil yang terkandung tersebut melebihi standar yang tercantum dalam SNI yaitu 39-40%. Kata kunci : selulosa asetat, nata de soya, katalis
SIFAT MEKANIK LAPISAN FILM NANOKOMPOSIT KITOSAN-SELULOSA ASETAT-PVA SEBAGAI KEMASAN PANGAN BIODEGRADABLE
Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik lapisan film nanokomposit kitosan-selulosa asetat-PVA yang diaplikasikan sebagai kemasan pangan (ikan). Kitosan dibuat dalam bentuk nanopartikel dengan menggunakan metoda pengendapan menggunakan STPP. Selulosa asetat dibuat dari limbah cair industrI tahu yang difermentasi menggunakan Acetobacter Xylinum sehingga terbentuk nata de soya (NDS). NDS ini kemudian diaktivasi menggunakan HCl dan NaOH sehingga terbentuk selulosa asetat. Nanopartikel kitosan dicampur dengan selulosa asetat dan PVA membentuk lapisan film yang akan diaplikasikan sebagai kemasan pangan (ikan). Lapisan film yang terbentuk diuji sifat mekaniknya. Dari penelitian didapat bahwa lapisan film nanokomposit kitosan-selulosa asetat-PVA mempunyai sifat mekanik yang baik yaitu elongasi 30 %, rata-rata kuat tarik 525 kg/cm2.
PENGARUH KONSENTRASI GLISERIN TERHADAP VISKOSITAS DARI PEMBUATAN PASTA GIGI CANGKANG KERANG DARAH
Telah dilakukan penelitian "Pengaruh Konsentrasi Gliserin Terhadap Viskositas Dari Pembuatan Pasta Gigi Cangkang Kerang Darah" yang dilakukan di PT Biotek Indonesia. Pasta gigi tersebut dibuat dari tepung cangkang kerang darah berukuran 800 mesh dengan campuran gliserin, MgC03, minyak peppermint, ekstrak daun sirih, dan pewarna appel green. Alasan penggunaan cangkang kerang darah adalah untuk memanfaatkan limbah cangkang kerang darah dan kandungan kalsium pada cangkang kerang darah itu tinggi. Prosedur penelitian ini dilakukan dengan cara pembersihan dan pengeringan cangkang kerang darah, grinding dan screening, penambahan bahan-bahan sampai terbentuk gel pasta gigi berwarna hijau seulas, kemudian dilakukan pengukuran viskositas dari masing- masing konsentrasi gliserin dengan menggunakan viskometer Brookfield model LVDVI+, dengan spindle 4, kecepatan 0,3 rpm. Dari hasil penelitian didapatkan konsentrasi gliserin ideal pembuatan pasta gigi tersebut adalah sebesar 50%. Pasta gigi ini memenuhi standar SNI 12-3524-1994 dengan viskositas 120.000 cP. Peningkatan kadar gliserin (x) terbukti menurunkan viskositas pasta gigi (y) menurut persamaan linier : y = -25.900x + 14.200. Kata kunci : gliserin, viskositas, cangkang, kerang darah, limbah
KESETIMBANGAN ADSORBSI ASAM LEMAK BEBAS DAN PEROKSIDA DI DALAM MINYAK SAWIT MENTAH (CPO) MENGGUNAKAN BIOADSORBEN DARI AMPAS TEBU
Sebagai negara agraris, Indonesia menghasilkan produk pertanian beserta limbahnya. Limbah pertanian dapat tersedia sepanjang tahun, namun masih kurang dimanfaatkan. Dalam usaha meningkatan pemanfaatan limbah pertanian, maka dilakukan pengolahan limbah pertanian menjadi bioadsorben. Penelitian bertujuan mempelajari mekanisme adsorbsi asam lemak bebas (FFA) dan peroksida (PV) di dalam minyak sawit mentah (CPO) dengan bioadsorben dari ampas tebu, menggunakan model kesetimbangan adsorbsi isotherm. Ampas tebu yang sudah bersih kemudian dihaluskan, setelah itu direaksikan dengan NaOH untuk menghilangkan kandungan ligninnya, sehingga diperoleh bioadsorben. Minyak kelapa sawit mentah yang sudah dipanaskan dicampur dengan bioadsorben sesuai variasi massa yang digunakan. Campuran tersebut diaduk dengan kecepatan 500 rpm selama satu jam pada temperatur dijaga 110 oC. Selanjutnya campuran disaring dengan pompa vakum. Filtrat yang diperoleh dianalisa kadar asam lemak bebas dan bilangan peroksida. Data hasil penelitian memperlihatkan semakin besar massa bioadsorben yang digunakan, maka FFA dan PV yang terjerap semakin besar. Berdasarkan data percobaan dan model matematika, konstanta kesetimbangan dicari menggunakan least square. Model persamaan Isotherm Freundlich dan Langmuir, digunakan untuk mengevaluasi data yang diperoleh. Model kesetimbangan Langmuir paling sesuai untuk memprediksi proses adsorbsi asam lemak bebas. Sedangkan untuk memprediksi proses adsorbsi peroksida paling sesuai adalah model Freundlich. Hal ini didukung dengan nilai linieritas (R2) persamaan mendekati satu.
PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH BUAH STROBERI (BUAH AFKIR)
Bioetanol sebagai salah satu bahan bakar alternatif yang dapat dibuat dari bahan baku yang mengandung glukosa, pati maupun selulosa. Salah satu bahan yang bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan etanol adalah buah stroberi yang mudah dan cepat rusak. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari massa ragi optimum terhadap hasil perolehan rendemen dan kualitas bioetanol, dan mencari waktu fermentasi optimum terhadap hasil perolehan rendemen dan kualitas bioetanol. Metode dalam penelitian ini yaitu dengan proses fermentasi. Buah stroberi afkir difermentasi dengan menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan ditambah urea dan NPK dengan variabel massa ragi Saccharomyces cerevisiae (0,25; 0,50; 0,75; 1,00; 1,25 gr) dan waktu fermentasi 3, 5, 7, 9, 11 dan 13 hari. Setelah terjadi fermentasi maka etanol akan terbentuk. Campuran yang terbentuk diperas untuk diambil cairannya lalu didestilasi untuk mendapatkan etanol. Dari hasil penelitian ini diperoleh bioetanol dengan kemurnian 3,04 dengan rendemen sebesar 2,8 % pada massa ragi optimum sebanyak 0,75 gr dan rendemen sebesar 3 % pada waktu fermentasi optimum 11 hari. Dari hasil penelitian didapat persamaan sebagai berikut : y = -4,142 x2 + 7,181x-0,79 dan R2= 0,816.