JURNAL KONVERSI
Not a member yet
    137 research outputs found

    PENGARUH JUMLAH SUKROSA PADA PEMBUATAN NATA DE PINA DARI SARI BUAH NANAS

    Get PDF
    Salah satuupaya penganekaragaman makanan olahanbuah nanas di Indonesia selain untuk hidangan pencuci mulut, sirup, selai, dan buah kalenganadalah pembuatan Nata de Pina dari sari buah nanas.Penelitian ini bertujuan menentukan penambahan sukrosa optimum pada pembuatan Nata de Pina dari sari buah nanas dan menyelidiki kelayakan dari produk yang dihasilkan dengan uji organoleptis.Nanas dikupas lalu diblender untuk diambil sari buahnya.Sari buah nanas dididihkan, kemudian ditambahkan sukrosa 2, 4, 6, 8, dan 10 % berat. Kemudian campuran dijadikan pH =5, lalu disterilisasi dalam autoclave. Setelah dingin, larutan dicampur dengan starter.Kemudian media difermentasi selama 8 hari di dalam inkubator pada 30oC. Nata de Pina yang diperoleh dioven selama dua jam pada 110oC, kemudian ditimbang beratnya.Kondisi optimum dicapai pada penambahan sukrosa 6%,denganyield 26,4%. Korelasi yield (y) dan persen sukrosa (x): y = - 0,2632x2 + 4,2736x + 9,474.Uji organoleptis melibatkan fermentasi Nata de Pina dengan penambahan sukrosa 6%. Nata hasil fermentasi dibandingkan teksturnya dengan nata yang ada dipasaran.Dari metode Inverted Beta F Distribution diketahui bahwa Nata de Pina yang diperoleh tidak mempunyai perbedaan dengan Nata yang ada dipasaran. Kata Kunci : Nata de Pina, fermentasi, nanas

    BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B-3) DAN KEBERADAANNYA DI DALAM LIMBAH

    Get PDF
    Pemahaman tentang bahan berbahaya dan beracun (B-3) masih terbatas pada masyarakat yang terlibat langsung dalam penanganan atau masyarakat akademisi tertentu.Bahkan banyak orang mengira keberadaan B-3 hanya pada lingkungan industri atau pabrik. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai hal tersebut.Dalam kehidupan manusia dimanapun keberadaannya, hampir dipastikan tidak akan terhidar dari bahan B-3,tertamasebagaibahan terpakai atau sisa (bekas), seperti halnya bahan-bahan yang digunakan sebagai alat rumah tangga atau bahan primer (kebutuhan sehari-hari) seperti: bahan pembersih, pembasmi serangga, gas lampu pijar dan sebagainya. Dengan mengerti dan memahami sifat dan karakteristik B-3, diharapkan seseorang bisa mengelolanya secara baik dan aman. Kata kunci: B-3, limba

    PENGARUH WAKTU PENGADUKAN TERHADAP RENDEMEN NANOPARTIKEL KITOSAN PADA PROSES PEMBUATAN NANOPARTIKEL KITOSAN DENGAN CARA PENGENDAPAN

    Get PDF
    Salah satu altematif untuk mengurangi limbah kulit udang dan meningkatkan nilai ekonomis pada limbah kulit udang adalah dengan memanfaatkannya melalui sintesis nanopartikel kitosan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui waktu yang optimum pada proses pembuatan nanopartikel kitosan dengan teknik pengendapan. Nanopartikel kitosan dapat dibuat dengan cara reaksi ikatan silang antara kitosan dengan sodium tripoliphosphat. Dengan cara merekayasa kitosan menjadi nanopartikel kitosan dengan merubah struktur yang bersifat kristalin menjadi amorph melalui ikatan silang gugus amina (-NH2+) pada kitosan dengan gugus phosphat (-PO4'3) pada sodium tripoliphosphat, ukuran partikel yang dihasilkan rata-rata 40 nm. Metode pengendapan dengan menambahkan NaOH konsentrasi tinggi, dengan variable waktu pengadukan yang digunakan adalah 10, 15, 20, 25, dan 30 menit, menghasilkan rendemen nanopartikel kitosan masing-masing yaitu 2.9 gr, 2.86 gr, 2.539 gr, 2.422 gr, dan 2.322 gr. Semakin lama waktu pengadukan semakin banyak ikatan silang yang terbentuk antara kitosan dengan sodium tripoliphosphate maka kekuatan mekanik matriks kitosan akan meningkat sehingga partikel kitosan menjadi semakin kuat dan keras.  Kata kunci: Kitosan, nanopartikel,  pendendapan, rendemen, reaksi ikatan silang

    PENDAYAGUNAAN KITOSAN DARI KULIT UDANG SEBAGAI ADSORBEN GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR

    Get PDF
    Kegiatan industri, transportasi dan pembusukan sampah merupakan sumber dari polusi udara. Polusi udara memberikan kontribusi yang besar bagi bertambahnya tingkat kematian yang terjadi di seluruh dunia. Kitosan telah banyak digunakan sebagai adsorben zat dan senyawa berbahaya seperti logam berat, zat warna remazol yellow, logam nikel dari limbah katalis proses pengolahan minyak bumi, ion Cadmium, timbal, tembaga. Kitin dapat diisolasi dan ditransformasi menjadi kitosan melalui proses deasetilasi. Kitin merupakan polisakarida utama yang terdapat pada kulit udang, cangkang kepiting, fungi dan kerangka luar serangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan kitosan untuk menjerap gas buang kendaraan bermotor. Metode Penelitian meliputi: pembuatan kitosan (berupa serbuk dan membran), uji emisi gas buang kendaraan bermotor, pembuatan rekayasa knalpot sebagai media uji dan terakhir adalah uji emisi gas buang kendaraan bermotor menggunakan kitosan dengan variasi massa (serbuk) dan variasi jumlah lembaran (membran). Pada pengujian pertama tahap ke-1 untuk serbuk kitosan terjadi penurunan Hidrokarbon 35,82%; Karbon monoksida 20%; Karbon dioksida 38,27%. Untuk membran kitosan kenaikan Hidrokarbon 8.96%; karbon monoksida 20%; karbon dioksida 18,52%, oksigen 0.048%. Saat pengujian pertama tahap ke-2 untuk serbuk kitosan terjadi penurunan Hidrokarbon 15,71%; Karbon monoksida 25,92%; kenaikan oksigen2,56%; CO2 75%. Namun seiring bertambahnya waktu kontak, justru emisi yang dihasilkan jauh lebih tinggi. Kata kunci: kitosan, gas buang kendaraan bermotor, adsorpsi, uji emis

    PEMBUATAN ETANOL DARI BIJI NANGKA DENGAN VARIABEL MASSA PATI

    Get PDF
    Biji Nangka mengandung karbohidrat yang dapat dimanfaatkan menjadi bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan biji nangka sebagai bahan baku pembuatan etanol. Penelitian ini dilakukan dua tahap yaitu, pembuatan powder dari biji nangka dan proses fermentasi. Proses yang pertama adalah pembuatan pati powder biji nangka. Biji nangka dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan. Setelah itu dihaluskan kemudian diayak sehingga menjadi powder. Proses yang kedua diawali dengan pensterilisasian alat dengan menggunakan autoclave. Powder biji nangka ditimbang dengan variabel massa pati (5, 10, 15, 20, 25) gram. Kemudian powder biji nangka yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dilarutkan dengan 100 ml aquadest. Selanjutnya dikukus dengan temperatur 68- 70°C selama ±45 menit, setelah itu dinginkan dalam temperatur kamar. Sampel dimasukkan ke dalam incubator yang sebelumnya sudah distrelisasi dengan alkohol. kemudian tambahkan ragi Sacchromyces cerevisiae 0,5 gram. Fermentasi dilakukan selama 5 hari. Setelah itu, sampel diambil kemudian disaring hingga mendapatkan filtrat (etanol). Dari penelitian diperoleh hasil semakin banyak massa pati maka kadar etanol yang dihasilkan juga akan semakin besar, karena kadar karbohidrat yang diubah menjadi ethanol semakin banyak. Kadar etanol terendah pada variabel massa pati 5 gram yaitu 3,05 % ethanol dengan absorbansi 0,542. Kadar etanol tertinggi pada variabel massa pati 25 gram yaitu 4,87% etanol dengan absorbansi 0,145. Dari hasil penelitian didapatkan persamaan hubungan kadar etanol dengan variabel massa pati yaitu y = 0,098x + 2,480 Kata kunci:Biji nangka, etanol, fermentasi, pati, Sacchromyces cerevisiae

    REVIEW ON HARD SEGMENT INFLUENCESON THE PHYSICALPROPERTIES OF THERMOPLASTICPOLYURETHANES

    Get PDF
    Thermoplastic polyurethanes (TPUs) are the fastest growing market in polyurethane technology mainly due to their easy process ability, versatile properties and recyclable nature. They find applications in high performance materials like coatings, adhesives, fibres and foams in a variety of industries ranging from automotive and footwear to medical implants. TPUs are linear block copolymers comprising of alternating soft and hard segments. The versatile properties of TPUs are usually attributed to their phase-separated morphologies. Different parameters are known to affect TPUs physical properties. One of those is their chemical architecture that is the statistical arrangement of hard segments (HS) and soft segments (SS).In particular the architecture of the HS will influence the molecular structure and intermolecular interaction. Its role as physical crosslink sites will govern thermal, mechanical and morphological properties. Hence a modification of HS chemical architecture might adjust the ultimate properties of TPU. This implication is important in process control of production and design of application. Therefore this paper will review various studies to understand the effect of different architecture to the properties of TPU. Keywords: thermoplasticpolyurethanes, hard segment architecture, physical propertie

    KOREKSI KADAR FLAVONOID DAN TOKSISITAS DALAM EKSTRAK TEMPUYUNG (SONCHUS ARVENSIS) DAN PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA)

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan selama dua bulan sejak 6 April sampai dengan 6 Juni 2009 di Laboratorium Uji Pusat Studi Biofarmaka Jalan Taman Kencana No. 3 Bogor. Bahan penelitian (unit sampel) adalah daun pegagan (Centella asiatica)  tempuyung (Sonchus arvensis) yang diambil dari perkebunan kampus IPB. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah ada pengaruh dari flavonoid yang terambil terhadap daya toksisitas terhadap larva udang (Artemia salina) pada ekstrak tempuyung (Sonchus arvensis) dan pegagan (Cantella asiatica). Berdasarkan percobaan flavonoid yang terambil tidak berpengaruh terhadap sifat toksisitas dikarenakan pada sampel tempuyung maserasi yang memiliki flavonoid sebesar 0,0216% (b/b) hanya memiliki nilai LC50 sebesar 254.9644 dengan program SPSS, sedangkan untuk sampel tempuyung refluks Jpmg memiliki kadar flavonoid sebesar 0,0102% (b/b) memiliki nilai LC50 sebesar 7.555.855 dengan Program SPSS. Kemudian untuk sampel pegagan maserasi yang memiliki kadar flavonoid kecil yaitu sebesar 0,0088% (b/b) juga memiliki nilai LC50 yang kecil sebesar 611.508 dengan program SPSS, sedangkan untuk sampel pegagan refluks yang memiliki kadar flavonoid lebih kecil yaitu 0,0128% (b/b) memiliki kadar flavonoid sebesar 11.214.722 dengan program SPSS, oleh karena itu tidak selamanya ada korelasi antara kadar flavonoid dan nilai toksisitas pada ekstrak tempuyung dan pegagan, kadar flavonoid yang tinggi tidak selamanya memiliki daya toksisitas yang tinggi Kata Kunci: Flavonoid, larva udang (Artemia salina), maserasi, pegagan (Centella asiatica), tempuyung (Sonchus arvensis)

    117

    full texts

    137

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL KONVERSI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇