JURNAL KONVERSI
Not a member yet
    137 research outputs found

    PENGARUH KONSENTRASI KHITOSAN DAN WAKTU FILTRASI MEMBRAN KHITOSAN TERHADAP PENURUNAN KADAR FOSFAT DALAM LIMBAH DETERJEN

    Get PDF
    Penanggulangan terhadap pencemaran air limbah yang mengandung senyawa fosfat,  terutama yang berasal dari air limbah deterjen dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi membran. Membran dapat dibuat dari bahan polimer alam yaitu senyawa khitosan yang diperoleh dari khitin yang terdapat di dalam kulit udang. Khitin dapat diubah menjadi khitosan melalui proses deasetilasi menggunakan NaOH 50%. Kualitas khitosan yang diperoleh pada penelitian ini ditentukan dengan FTIR.  Khitosan dilarutkan dalam asam asetat 1%, selanjutnya digunakan untuk membuat membran jenis membrane Ultrafiltrasi dengan variasi konsentrasi khitosan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% (b/v). Membran tersebut digunakan untuk menurunkan kadar fosfat larutan standar KH2PO4 10 ppm dengan variasi waktu kontak 30, 60, 90 dan 120 menit. Membran khitosan 3% dan waktu kontak 60 menit merupakan membran terbaik karena mampu menurunkan kadar fosfat dalam larutan standar KH2PO4 10 ppm secara optimal. Besarnya derajat deasetilasi (DD) 84.18%. Kondisi ini diaplikasikan untuk menurunkan kadar fosfat total yang terdapat dalam air limbah deterjen. Hasil pengamatan menunjukkan dapat menurunkan kadar fosfat total dalam air limbah deterjen sampai 97.40% setelah dilakukan filtrasi empat kali dan perubahan pH larutan dari 9 menjadi 8. Kata kunci : Derajat deasetilasi, Membran Khitosan, Fosfat.

    PEMANFAATAN SAMPAH SAYURAN SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOETANOL

    Get PDF
    Bahan bakar fosil termasuk dalam sumber energi tak terbarukan, sehingga cadangan sumber bahan bakar fosil di Indonesia semakin berkurang. Hal ini membuat pemerintah harus melakukan langkah-langkah penghematan energi serta mencari sumber-sumber energI baru dan terbarukan untuk menggantikan minyak bumi fosil. Salah satu sumber energy terbarukan dapat diperoleh dengan cara memproduksi bioetanol yang dapat dibuat dengan cara fermentasi menggunakan bahan baku sampah sayuran yang banyak tersedia di pasar tradisional. Penelitian ini ditujukan untuk melihat tingkat konversi sampah sayuran untuk menjadi bioetanol. Perubahan sampah sayuran menjadi bioetanol yang dilakukan pada penelitian ini melalui dua tahapan yaitu: perubahan sampah sayuran (polisakarida / selulosa) menjadi monosakarida (gula) melalui proses hidrolisis dilanjutkan dengan fermentasi gula menggunakan jamur saccaromices cerevisiae menjadi etanol. Produk hasil fermentasi dianalisa dengan menggunakan Gas Chromatography. Hasil analisa menunjukkan penambahan ragi untuk fermentasi sebanyak 8% (berat) menghasilkan etanol sebanyak 68,17% (berat) dengan kadar 122,95 ppm.. Kata Kunci : Bioetanol, hidrolisa, sampah, sayuran, saccaromices cerevisiae

    PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI KULIT BUAH PISANG KEPOK DENGAN PELARUT HCl 0,1 N PADA PEMBUATAN PEKTIN

    Get PDF
    Produksi tanaman pisang (Musaceaea sp) menduduki peringkat pertama hasil pertanian di Indonesia, namun hal ini tidak diimbangi dengan pengolahan limbah dari kulit pisang yang jumlahnya banyak. Oleh karena itu dicoba untuk memanfaatkan limbah kulit pisang sebagai bahan baku pembuatan pektin. Pektin digunakan sebagai komponen fungsional pada industri makanan karena kemampuannya membentuk gel encer dan menstabilkan protein. Pektin juga digunakan sebagai bahan pengisi dalam industri kertas dan tekstil, serta sebagai pengental dalam industri karet. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh waktu ekstraksi terhadap rendemen pektin dari kulit pisang kepok. Kulit pisang yang telah dikeringkan dan dihaluskan menjadi serbuk diekstraksi dengan HCl 0,1N pada suhu 900C. Variabel yang digunakan dalam ekstraksi ini adalah variasi waktu ekstraksi, yaitu 40 menit, 60 menit, 80 menit, 100 menit, dan 120 menit. Larutan hasil ekstraksi disaring dan dikentalkan hingga setengah volume filtrat semula dengan pemanasan, kemudian pektin dikentalkan dengan menggunakan etanol asam. Endapan pektin dicuci menggunakan alkohol 96% hingga bebas klorida dan dilakukan pemisahan endapan dengan menggunakan vakum kemudian dikeringkan dalam oven. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen pektin optimum pada suhu 900C selama 80 menit yaitu 29,55% dengan kadar metoksil sebesar 3,73% (metoksil rendah) dan kadar asam galakturonat sebesar 44,28%.  Kata kunci : Pektin,Kadar Metoksil, Kadar Galakturona

    PEMANFAATAN TANIN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI TERHADAP LAJU KOROSI BESI DALAM LARUTAN NaCl 3% (w/v)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inhibitor yang berasal dari ekstrak tanin daun jambu biji terhadap laju korosi besi dalam media NaCl 3%(w/v) dan mendapatkan konsentrasi optimum melalui nilai efisisensi inhibisi. Ekstrak tanin diperoleh dari daun jambu biji dengan cara mengekstrak 20 gram daun jambu biji dalam 1000 mL air dengan waktu 20 menit, selanjutnya didinginkan dan disaring, serta dikeringkan pada suhu 105 ºCmenggunakan hot plate. Tanin ekstrak daun jambu biji yang terbentuk diidentifikasi dengan menambahkan larutan gelatin 10%, dan hasilnya terbentuk endapan berwarna putih yang berarti tanin positif. Larutan FeCl3 10% bertetes-tetes ditambahkan pada filtrat hasil ekstraksi, jika warna yang terbentuk adalah hitam kehijauan, berarti tanin positif. Metode permanganatometri digunakan untuk menentukan kadar tanin. Variasi penambahan ekstrak tanin daun jambu bijike dalam natrium klorida adalah dengan konsentrasi 0 ppm, 65 ppm, 130 ppm, 195 ppm, 260 ppm, dan 325 ppm. Laju korosi dihitung dariberkurangnyamassa besi/waktu atau metode gravimetri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa inhibitor ekstrak daun jambu biji  mampumengurangi laju korosi besi dalam media NaCl 3%. Konsentrasi inhibitor optimal untuk mencegah korosi adalah 130 ppmdengan laju korosi 0.045 mg/cm2hari dengan efisiensi inhibisi sebesar 38,36%.  Kata kunci: daun jambu biji, Tanin, korosi besi, inhibito

    PENGARUH KONSENTRASI ASAM SITRAT TERHADAP PENURUNAN BILANGAN ASAM DAN KEPEKATAN WARNA MINYAK JELANTAH MELALUI PROSES ADSORPSI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi (persen berat atau %w/w) asam sitrat yang dimanfaatkan sebagai adsorben terhadap penurunan bilangan asam dan kepekatan warna pada minyak goreng bekas. Pada penelitian ini dilakukan metode adsorbsi dengan tahapan tahapan proses yaitu proses despicing, netralisasi dan bleaching, dengan variasi konsentrasi asam sitrat 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, 3% (w/w) serta temperatur pemanasan 70oC dan kecepatan pengadukan 500rpm selama 60 menit. Dari hasil penelitian didapatkan penambahan asam sitrat yang paling baik adalah 2% (w/w). Persamaan polinomial hubungan antara konsentrasi asam sitrat (x) dan bilangan asam (y) adalah y = 0.1834x2 – 0.768x + 1.3591 dengan nilai R2 = 0.9367. Pada kondisi terbaik besarnya bilangan asam adalah 0.5319 dan nilai kepekatan warna adalah 37/20. Kata kunci: asam sitrat,minyak goreng bekas,adsorbsi

    PENGARUH LAMA WAKTU PENGADUKAN DENGAN VARIASI PENAMBAHAN ASAM ASETAT DALAM PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DARI BUAH KELAPA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan katalis asam asetat dan waktu pengadukan terhadap rendemen dan beberapa sifat fisikokimia Virgin Coconut Oil (VCO). Pembuatan VCO dengan katalis asam asetat dilakukan dalam erlenmeyer 250 ml.Sampel yang digunakan yaitu VCO yang dibuat dengan penambahan asam asetat konsentrasi 1%, 2%, 3% dan 4% dan waktu pengadukan 10 menit, 15 menit, 20 menit, dan 25 menit. Masing-masing sampel dianalisis kualitasnya yang meliputi kadar air, angka asam lemak bebas, angka peroksida, dan rendemen VCO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen VCO yang tertinggi diperoleh melalui penambahan asam asetat sebesar 2% dan lama pengadukan selama 10 menit, yaitu sebesar 18.03% dan volume VCO sebesar 119 ml. Hal ini dikarenakan pada penambahan asam asetat 2% menciptakan kondisi isoelektrik, dimana terbentuk ion zwitter yang akan mendenaturasi protein pada pH optimum 4,5. Kata kunci: Waktu, Asam Asetat, Virgin Coconut Oil, isoelektrik

    PENGARUH UKURAN PARTIKEL PELEPAH PISANG DAN KONSENTRASI KATALIS H2SO4 PADA PROSES HIDROLISA TERHADAP KONVERSI SELULOSA MENJADI BIOETANOL

    Get PDF
    Kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) seolah sudah menjadi kebutuhan primer negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Solusi dalam pemecahan masalah tersebut adalah membuat bahan bakar alternatif dari sumber daya alam yang terbarukan. Bioetanol adalah bahan bakar yang memenuhi kriteria tersebut karena sifatnya yang ramah lingkungan. Salah satu bahan baku pembuatan bioetanol ialah biomassa selulosik, sebagai salah satu sumbernya adalah pelepah pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh besar kecilnya ukuran partikel pelepah pisang dalam pembuatan bioetanol. Variabel ukuran yang digunakan ialah 10, 28, 45, 60 dan 100 mesh. Hidrolisis asam merupakan tahapan untuk mengubah polisakarida (pati dan selulosa) menjadi glukosa yang selanjutnya difermentasi menggunakan ragi untuk membentuk etanol. Dengan mengambil kondisi hidrolisis pada suhu 80°C selama 4 jam menggunakan 3 variabel konsentrasi katalis asam sulfat, yaitu 1 M, 2 M dan 4 M. Pada tahap fermentasi dilakukan pada suhu ruang selama 48 jam menggunakan ragi tape. Penelitian ini menunjukkan kondisi optimum dari pembuatan bioetanol di mana ukuran partikel pelepah pisang kering 100 mesh, konsentrasi katalis H2SO4 2 M, diperoleh konversi sebesar 57,60%. Yield optimum yang didapatkan pada kondisi optimum tersebut ialah 1,79 % bioetanol dari pelepah pisang basah. Kata kunci : Pelepah pisang, Biomassa selulosik, Bioetano

    UJI KOMPATIBEL EPOKSI METIL OLEAT TURUNAN MINYAK SAWIT SEBAGAI PLASTICIZER PLASTIK KANTONG DARAH

    Get PDF
    Dalam penelitian ini, plastik PVC dibuat dengan mencampur resin PVC dan plasticizer  epoksi metil  oleat di dalam sebuah mixer dan dicetak dengan metode PVC coating. Plastik PVC yang terbentuk dan kantong darah komersial dikarakterisasi dengan mengukur sifat-sifat mekanik (kuat tarik dan regang ulur) dan sifat kelarutan plasticizer dalam metanol. Adapun plasticizer epoksi metil oleat dibuat melalui rangkaian proses esterifikasi, dan epoksidasi. Epoksi metil oleat yang dihasilkan memiliki sifat-sifat yang lebih baik daripada  produk komersial. Hal ini ditunjukkan oleh angka oksiran yang lebih tinggi dan angka iod yang lebih rendah daripada epoksi komersial. Uji kompatibel epoksi metil oleat sebagai plasticizer untuk produksi lembar plastik PVC menunjukkan hasil yang hampir sama (lebih rendah) dengan lembar plastik kantong darah komersial. Lembar plastik yang dihasilkan memiliki kuat tarik sebesar 15,7 Mpa dan regang putus 315 %. Sementara itu kantong darah komersial memiliki kuat tarik sebesar 19,2 Mpa dan regang putus 340 %. Adanya asam lemak yang tidak bereaksi pada proses epoksidasi menyebabkan berkurangnya kekuatan perpaduan antara matriks dan fase terdispersi. Hal ini yang menyebabkan nilai kuat tarik dan regang putus plastik menurun. Adapun jumlah senyawa ftalat (DOP) yang terlarut dalam metanol dari produk plastik PVC dan kantong darah komersial masing-masing sebesar 42,1% dan 40,2%. Jumlah DOP yang terlarut baik dari produk plastik PVC maupun kantong darah komersial masih memenuhi standar kesehatan. Kata Kunci : oleat, minyak sawit, kantong dara

    OPTIMASI TEKANAN DAN RASIO REFLUKS PADA DISTILASI FRAKSINASI VAKUM TERHADAP MUTU EUGENOL DARI MINYAK DAUN CENGKEH (Eugenia caryophyllata)

    Get PDF
    Eugenol merupakan komponen utama minyak daun cengkeh dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kemurniannya. Untuk mendapatkan eugenol dengan tingkat kemurnian tinggi dan memenuhi standar United States Pharmacopeia / USP (2010) yaitu minimal 99,5%, maka pada penelitian ini dipelajari tekanan dan rasio refluks pada distilasi fraksinasi vakum minyak daun cengkeh. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan variabel tekanan (4, 6, 10 mmHg) dan rasio refluks (10/5, 20/4, 40/4). Hasil menunjukkan bahwa tekanan mempengaruhi kemurnian, rendemen, bobot jenis, indeks bias, dan putaran optik eugenol secara nyata (α = 0,01). Tekanan distilasi fraksinasi vakum terbaik adalah 10 mmHg dengan rasio refluks 20/4 dan menghasilkan eugenol beraroma khas cengkeh dan tidak berwarna dengan kemurnian 99,65% (sesuai standar USP), rendemen 64,61%, bobot jenis 1,0656, indeks bias 1,5407, putaran optik -0,10, kelarutan eugenol dalam etanol 70% sebesar 1:1.  Kata kunci: eugenol, tekanan, rasio refluks, distilasi fraksinas

    STABILITAS TERMAL MINUMAN EMULSI DARI PEKATAN KAROTEN MINYAK SAWIT MERAH SELAMA PENYIMPANAN

    Get PDF
    Minuman emulsi, sebagai produk dengan kadar air yang tinggi (30-40%, mudah untuk mengalami kerusakan akibat reaksi hidrolisis dan oksidasi, selanjutnya dapat menghasilkan produk lanjut  berupa prooksidan dan radikal  bebas  yang  sangat  berbahaya bagi kesehatan dan bersifat karsinogenik.Analisis terhadap kestabilan  oksidatif- termal minuman emulsi perlu dilakukan untuk menentukan status keamanan pangan produk tersebut. Bilangan peroksida (PV) digunakan sebagai penanda tingkat oksidasi dan kerusakan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan mengetahui stabilitas oksidatif-termal minuman emulsi yang diproduksi dari minyak sawit merah dan mengetahui kinetika perubahan bilangan peroksida selama penyimpanan. Penyimpanan dilakukan pada empat macam suhu (lemari es, suhu ruang, 30 oC, 40 oC, dan 50 oC) dan pengukuran PV dilakukan secara titrasi menggunakan 0,1N Na2S2O3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama penyimpanan, PV mengalami peningkatan signifikan, padahal dalam produk terkandung karoten (anti oksidan alami) yang tinggi. Laju peningkatan PV terendah teramati pada penyimpanan di suhu refrigerasi (9oC) yaitu 0.354 meq O2/kg produk/minggu dan meningkat dengan persamaan PV = PV0+ t.e(-827.8(1/T) + 1.866) sejalan dengan peningkatan suhu (T dalam Kalvin) dan masa simpan (t dalam minggu). Berdasarkan batas maksimum PV yang direkomendasi oleh Palm Oil Refiners Association of Malaysia (PORAM) produk pangan berminyak, yaitu 5 meq O2/kg produk, masa kadaluarsa minuman emulsi tiap suhu penyimpanan (refrigerasi, suhu kamar, dan  suhu 30 oC, 40 oC, dan 50 oC) adalah 11.8; 5.0; 9.7; 9.5 and 8.6 minggu. Tingginya PV menunjukkan stabilitas oksidasi-termal relatif rendah. Kata kunci: Minuman emulsi, bilangan peroksida, minyak sawit merah, stabilita

    117

    full texts

    137

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL KONVERSI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇