SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN PANDUAN SOSIODRAMA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PENGELOLAAN EMOSI SISWA KELAS X DI SMA NEGERI 1 KEDIRI
ABSTRAK Dewi, Rizkha Puspita. 2012. Pengembangan Panduan Sosiodrama untuk meningkatkan Keterampilan Pengelolaan Emosi Siswa Kelas X di SMA Negeri 1 Kediri. Skripsi, Jurusan BKP, FIP Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, (II) Yuliati Hotifah, S.Psi, M.Pd. Kata kunci : Keterampilan Pengelolaan Emosi, Panduan Sosiodrama, Siswa SMA NegeriI 1 Kediri Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Selama masa transisi ini remaja mempunyai berbagai problematik yang dapat menimbulkan krisis identitas dan ketidakstabilan emosi. Karena itu remaja memerlukan layanan bimbingan dan konseling. untuk memberikan bimbingan pada siswa remaja diperlukan metode dan media. Salah satu teknik bimbingan dan konseling adalah sosiodrama. Untuk menerapkannya diperlukan panduan sosiodrama. Panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi bagi siswa SMA merupakan panduan yang bertujuan atau berfungsi dalam kegiatan pencegahan. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA Negeri 1 Kediri yang dapat diterima secara teoritis dan praktis.Penelitian ini menggunakan model pengembangan Borg and Gall 2003. Langkah-langkah dari Borg and Gall yang dikembangkan peneliti dalam penelitian ini meliputi enam langkah, yaitu menentukan potensi dan masalah penelitian, mengumpulkan informasi, mendesain produk, validasi rancangan produk, perbaikan atau revisi produk I dan II, dan produk akhir. Analisis data kuantitatif menggunakan analisis statistik deskriptif dan data kualitatif disimpulkan apa adanya. Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif berupa statistif deskriptif yaitu format penilaian dan data kualitatif yaitu berupa saran atau pendapat dari uji ahli bimbingan dan konseling, uji ahli drama, dan uji calon pengguna produk (konselor), dapat disimpulkan bahwa panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi ini bermanfaat bagi siswa SMA Negeri 1 Kediri dalam pemberian layanan BK secara optimal dengan memiliki keberterimaan sangat berguna, sangat mudah, sangat menarik, dan sangat akurat secara teoritis. Saran bagi konselor juga dapat mengaplikasikan model sosiodrama ini secara efektif, dan peneliti selanjutnya dapat Melakukan uji kelompok kecil atau uji lapangan yang lebih luas serta pengkajian untuk mengetahui keefektifan panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi guna diperoleh hasil yang lebih akurat.
Studi Tentang Kecanduan Game Online Siswa SMP BSS Malang
ABSTRAK Gumilang, Galang Surya. 2012. Studi Tentang Kecanduan Game Online Siswa SMP BSS Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd., (II) Dr. M. Ramli, M.A. Kata Kunci: kecanduan, game online, prestasi belajar. Kecanduan game online adalah suatu gejala yang terjadi saat sekarang ini seiring dengan berkembang pesatnya dunia teknologi Informasi seperti internet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kecanduan game online siswa SMP BSS Malang, (2) prestasi belajar siswa SMP BSS Malang, (3) dan hubungan antara kecanduan game online dengan prestasi belajar. Digunakan Rancangan Mixed Methods sebagai kombinasi atau gabungan penelitian pendekatan kuantitatif dan kualitatif termasuk didalamnya terdapat data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif penelitian pada suatu kajian tunggal. Strategi yang digunakan yaitu Strategi Embedded Konkruen merupakan strategi penelitian yang menarik yaitu dalam satu tahap pengumpulan data, peneliti mampu mengumpulkan dua jenis data secara bersama-sama. Hasil penelitian secara kuantitatif diketahui siswa yang mengalami kecanduan game online tingkat kecanduan game online sebanyak 3 siswa (16,03 %) termasuk sangat tinggi, 4 siswa (14,36 %) termasuk tinggi, 13 siswa (41,86 %) termasuk sedang, 4 siswa (11,9 %) termasuk rendah, dan 5 siswa (12,66 %) termasuk sangat rendah. Selain itu, prestasi belajar siswa terdapat 12 siswa yang mengalami prestasi belajar rendah yaitu mendapatkan kategori “kurang” dan “sangat kurang” sehingga mendapatkan ranking yang tidak memuaskan. Sedangkan terdapat 6 siswa yang mendapatkan kategori “cukup” dan 12 siswa lainnya mendapatkan kategori “sangat baik” dan “baik”. Dari hasil tersebut, tidak ada hubungan yang signifikan antara kecanduan game online dengan prestasi belajar karena nilai uji hipotesis yaitu 0,291. Pada sisi kualitatif, dari 30 siswa ditemukan (1) Awal dia bermain game online, (2) Waktu yang dihabiskan untuk bermain rata-rata 2-4 jam, (3) Orang tuanya tidak mengijinkan untuk bermain game online, dan (4) Prestasi belajarnya rendah. Berdasarkan penelitian di atas, saran yang dapat diberikan antara lain: (1) konselor harus memperhatikan siswanya yang mengalami kecanduan game online lebih lanjut lagi supaya tidak berlarut-larut dengan melancarkan pendekatan konseling dan teknik konseling yang efektif. (2) Penelitian selanjutnya bisa melancarkan teknik konseling yang efektif yang berguna untuk mengatasi kecanduan game online. Selain itu, penelitian selanjutnya perlu mengembangkan instrumen lebih baik lagi.
KEEFEKTIFAN TEKNIK HOMEROOM UNTUK MENINGKATKAN KETERBUKAAN DIRI SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 KARANGREJO TULUNGAGUNG
ABSTRAK Hidayati, Nurlaili. 2011. Keefektifan Teknik Homeroom untuk Meningkatkan Keterbukaan Diri Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Karangrejo Tulungagung. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Widada, M.Si, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata kunci : teknik homeroom, self-disclosure Remaja perlu melakukan pengungkapan diri (self-disclosure) sebagai salah satu keterampilan sosial yang harus dimiliki agar mereka dapat diterima dalam lingkungan sosialnya. Seringkali self disclosure terjadi ketika seseorang telah mengembangkan keakraban yang dekat. Salah satu teknik bimbingan yang dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan keterbukaan diri siswa yaitu melalui penggunaan "Teknik Homeroom". Teknik homeroom sebagai alat dalam upaya membimbing individu untuk dapat mengungkapkan berbagai pengalaman, pengetahuan, gagasan atau ide-ide karena yang ditekankan dalam kegiatan homeroom adalah terciptanya suasana yang penuh kekeluargaan dan akrab seperti rumah yang menyenangkan.Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keefektifan teknik homeroom dalam meningkatkan Keterbukaan Diri Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Karangrejo Tulungagung. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen, dengan desain eksperimen pretest-posttest control group design. Adapun proses penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan meliputi observasi, penyusunan instrumen, penyusunan skenario pelaksanaan kegiatan homeroom, dan uji coba instrumen inventori self disclosure dengan hasil dari 50 item ada 25 item yang valid serta memiliki nilai Cronbach's Alpha 0,88. Nilai Cronbach's Alpha 0,88 lebih dari 0,50 maka data dapat dipercaya atau reliabel. Tahap kedua yaitu seleksi subjek dan diperoleh subjek penelitian 60 orang yang memiliki keterbukaan diri rendah dengan pembagian 30 orang dikelompokkan dalam kelompok eksperimen dan 30 orang dalam kelompok kontrol dengan teknik purposive sampling. Tahap ketiga yaitu pelaksanaan layanan bimbingan dengan teknik homeroom pada kelompok eksperimen. Sementara pada kelompok kontrol tidak diberikan layanan bimbingan dengan teknik homeroom. Hal tersebut bertujuan untuk melihat pengaruh teknik homeroom terhadap peningkatan keterbukaan diri siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah t- test yaitu membedakan rata-rata kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum dan sesudah perlakuan/treatment. Hasil penelitian pada kelompok eksperimen menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pre tes ke pos tes dari 62,10 menjadi 66.33. Rata-rata hasil pos tes inventori keterbukaan diri kelas eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata hasil pos tes kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen memiliki skor rata-rata pos tes 66,33, sedangkan pada kelompok kontrol memiliki skor rata-rata pos tes 61,96.T-test menunjukkan nilai t = 3,615 dengan nilai sig 0,001. Angka sig 0,001 berarti lebih kecil dari 0,05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa keterbukaan diri pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ada perbedaan setelah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen, maka teknik homeroom efektif dalam meningkatkan keterbukaan diri siswa. Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi konselor yaitu hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi bagi konselor untuk menunjang dan meningkatkan layanan BK dalam membantu siswa yang memiliki keterampilan mengungkapkan diri rendah. Di samping itu, juga disarankan kepada lembaga prodi BK bahwa hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam mengembangkan matakuliah bimbingan kelompok. Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi bagi peneliti yang lain dalam melakukan penelitian serupa yang bertujuan meningkatkan keterbukaan diri siswa.
EKSPERIMEN PILIHAN KELEKATAN TERHADAP IBU PENGGANTI PADA BAYI KERA
ABSTRAK Mustika, Dewi Ayu Risky. 2011. Eksperimen Pilihan Kelekatan Terhadap Ibu Pengganti Pada Bayi Kera. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Alwisol, M.Pd. (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: attachment, eksperimen Harlow, kera Kebanyakan orang berpendapat, perasaan cinta anak kepada ibunya bersumber atau berlatar belakang refleks bayi untuk mempertahankan hidupnya memperoleh nutrisi. Banyak ibu menyalah-artikan apa dan bagaimana tingkah laku lekat/kedekatan anak dan ibu dapat terbentuk. Oleh karena itu, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran dan penjelasan agar para ibu atau orang tua mengetahui bahwa apa yang dialami seseorang ketika bayi akan mempengaruhi perkembangannya. Bayi menjadi manusia berkat kelembutan dan kasih sayang yang diterima dari pemeran keibuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan anak kera akan lebih memilih berada di dekat ibu pengganti rancangan kawat botol susu atau ibu pengganti kain hangat atau ibu pengganti kain dingin. Hipotesis penelitian ini adalah "Tidak ada perbedaan waktu dalam memilih berada didekat ibu pengganti kain hangat, ibu pengganti rancangan kawat botol susu dan atau ibu pengganti kain dingin." Variabel dalam penelitian ini adalah boneka kawat botol susu sebagai pengganti peran ibu yang memberikan ASI kepada bayinya. Bayi membutuhkan nutrisi, dan nutrisi tersebut didapat dari ASI; boneka kawat kain hangat sebagai pengganti peran ibu yang memberikan kehangatan. Bayi yang baru lahir membutuhkan kehangatan seperti dalam kandungan. Kehangatan yang diberikan bayi dapat berupa sentuhan maupun gendongan dari seorang ibu; dan boneka kawat kain dingin sebagai pengganti peran ibu yang memberikan kelembutan namun tidak memberikan kehangatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 45 menit diletakkan pada sangkar eksperimen, selama ± 10 menit kera berada pada botol susu, ± 30 menit menit kera berada pada kain hangat, dan ± 5 menit kera berada pada kain dingin. Pada menit-menit tersebut, tidak secara berurutan dan menetap monyet berada pada salah satu sisi tersebut, melainkan sambil berlari-larian dan berpindah-pindah. Dilihat dari hasil penelitian bahwa monyet bayi lebih banyak menghabiskan waktu dalam kain hangat, hal ini mungkin dapat juga diartikan bahwa bayi manusia pun memilih hal yang sama. Bayi memerlukan kualitas hubungan kehangatan fisiologis, kasih sayang, rasa aman, dan tempat bergantung yang baik dengan ibunya.
Gaya Kepemimpinan Mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa
ABSTRAK Astuti, Jayaning Sila. 2011. Gaya Kepemimpinan Mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Dr. Marthen Pali, M.Si, (II) Ika Andrini Farida, M.Psi. Kata kunci : gaya kepemimpinan, Unit Kegiatan Mahasiswa. UKM adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa yang ada di Malang. Berdasarkan hasil wawancara terhadap dua orang anggota Dewan Pertimbangan Organisasi, dapat diketahui bahwa kontrol ketua umum terhadap organisasi pada periode 2010 ini lemah. Padahal faktor kepemimpinan adalah salah satu faktor penting dalam menjalankan roda kepemimpinan secara stabil. Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting untuk meneliti seperti apakah gaya kepemimpinan mahasiswa di UKM setelah terjadi kasus tersebut. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan cara berkomunikasi para pemimpin di UKM periode 2010, 2) Mendeskripsikan cara memotivasi bawahan dari para pemimpin di UKM periode 2010, 3) Mendeskripsikan cara penyusunan tujuan kelompok dari para pemimpin di UKM periode 2010, 4) Mendeskripsikan proses pengambilan keputusan dari para pemimpin di UKM periode 2010. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ini adalah UKM di Malang. Model penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan jurnal refleksi subyek. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecukupan referensial. Hasil penelitian ini menunjukkan 1) UKM adalah organisasi yang lebih mengedepankan pengembangan bakat minat anggotanya daripada keorganisasiannya, 2) Departemen-departemen di dalam tubuh organisasi UKM berjalan tanpa koordinasi yang baik, 3) Cara pemotivasian yang banyak digunakan adalah koordinasi dengan bawahan, sedang yang khas adalah kedekatan personal dan pemotivasian di bidang kepenulisan bawahan, 4) Gaya kepemimpinan mahasiswa UKM adalah partisipatif-kelompok, dilihat dari cara berkomunikasi dan cara pengambilan keputusan, 5) Beberapa pemimpin di UKM tidak memahami bagaimana komunikasi dan motivasi terhadap bawahan dijalankan dalam organisasi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa meskipun dari aspek komunikasi para pemimpin termasuk dalam klasifikasi partisipatif-kelompok, sebagian para pemimpin tidak menjalin komunikasi yang intens dengan bawahan. Sehingga pemotivasian terhadap bawahan kurang, tidak ada sinergi tujuan organisasi antara ketua umum dengan kepala departemen, dan atasan tidak melakukan kontrol yang baik terhadap bawahan dan membuat bawahan banyak melakukan pengambilan keputusan sendiri. Dari hasil penelitian tersebut disarankan untuk 1) Merancang kembali persyaratan menjadi pengurus organisasi UKM Penulis dengan mempertimbangkan: mengangkat pengurus yang masa studinya masih memungkinkan, tidak mengangkat kepala departemen yang telah menjabat sebagai kepala departemen di organisasi lain, mengetahui pemahaman para calon pengurus tentang kepemimpinan dalam organisasi sebelum dipilih menjadi pengurus; 2) Ketua umum menyusun tujuan kepengurusan dengan melibatkan bawahan. Atau jika ketua umum menyusunnya sendiri, ketua umum memberikan penjelasan mendetail tentang tujuan kepengurusan kepada bawahan. 3) Memperjelas wewenang antara pengurus harian, terutama antara ketua umum yang membawahi organisasi secara penuh dan ketua I yang membawahi urusan dalam organisasi.
PELABELAN DIRI DALAM INTERAKSI SOSIAL SISWA KELAS UNGGULAN SMA NEGERI 1 PAPAR KEDIRI TAHUN AJARAN 2010/2011
ABSTRAK Andrianie, Santy. 2011. Pelabelan Diri Siswa dalam Interaksi Sosial Siswa Kelas Unggulan SMA Negeri 1 Papar, Kediri Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd., II) Dra. Henny Indreswari, M.Pd. Kata Kunci: pelabelan, interaksi sosial, kelas unggulan Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya label yang digunakan oleh siswa kelas unggulan dalam interaksi sosial mereka. Pemaknaan tentang label dan alasan tentang label yang melekat pada diri siswa kelas unggulan akan berpengaruh pada interaksi sosial mereka. Fokus penelitian ini adalah bagaimanakah pelabelan tersebut berpengaruh terhadap bentuk interaksi social siswa kelas unggulan terhadap diri dan lingkungan sosialnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik snowball sampling. Dalam penelitian ini, yang menjadi sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan dalam lingkungan sosial siswa kelas unggulan. Data tersebut didukung dengan sumber tertulis yang berkaitan dengan siswa kelas unggulan seperti buku pribadi dan daftar nilai serta foto aktifitas siswa kelas unggulan. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi partisipatif, wawancara mendalam, triangulasi dan dokumentasi. Analisis data yang didapat selama satu bulan penelitian ini dilakukan menggunakan teknik deskriptif melalui reduksi data, displai data, dan verifikasi data. Setelah data tersebut diperoleh kemudian dilakukan pengecekan keabsahan data dengan menggunakan perpanjangan keikutsertaan metode trianggulasi, ketekunan pengamatan, dan pemeriksaan sejawat melalui diskusi. Temuan penelitian menunjukkan ada dua label yang melekat pada diri siswa kelas unggulan yaitu label sebagai kelas unggulan-unggulanan dan ita-itu. Label ini muncul pada perilaku siswa kelas unggulan didasari karena adanya keinginan mendapatkan kepuasan jika menunjukkan perilaku label tersebut serta adanya keinginan untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya. Perilaku label ini ditunjukkan dengan berbagai cara dalam hampir setiap kegiatan siswa, baik ketika pelajaran maupun saat istirahat dan juga ketika jam kosong di sekolah. Di antara personil sekolah memberikan respon yang berbeda-beda terhadap perilaku label yang ditunjukkan siswa kelas unggulan. Ada yang memberikan respon negatif, dengan menilai bahwa siswa kelas unggulan yang ada saat ini tidak seperti yang diharapkan, ada yang memberi respon positif bahwa perilaku label tersebut merupakan hal yang wajar bagi remaja, dan ada yang bersikap netral yang tidak membenarkan ataupun menyalahkan perilaku label tersebut. Bagi pihak-pihak yang memberikan reaksi netral dan positif perilaku label yang ditunjukkan oleh siswa kelas unggulan, tidak menimbulkan masalah dalam kegiatan interaksi sosial mereka. Namun bagi pihak yang memberikan reaksi negatif terhadap perilaku label yang ditunjukkan siswa kelas unggulan perilaku label ini acapkali memicu adanya konflik dalam interaksi sosial mereka. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini, diberikan saran kepada pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan kelas unggulan diharapkan untuk tidak memberikan penilaian secara sepihak terkait label yang ditunjukkan oleh siswa kelas unggulan, namun juga dapat memahami dan mengarahkan siswa kelas unggulan agar dapat maksimal dalam aspek-aspek perkembanggan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kepada penyelenggara kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, diharapkan dapat merancang program layanan yang dapat membantu bagi anak-anak yang diuntungkan dalam pelaksanaan program kelas unggulan ini.
Perbedaan Efikasi Diri Antara Mahasiswa Bekerja dan Mahasiswa Tidak Bekerja Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Wasilia, Annisa. 2011. Perbedaan Efikasi Diri antara Mahasiswa Bekerja dan Tidak Bekerja Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Universitas Negeri Malang. Skripsi. Program Studi Psikologi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Fattah Hidayat, M. Si., (II) Ika Andrini Farida, S. Psi, M. Psi. Kata Kunci: efikasi diri, mahasiswa bekerja. Banyaknya individu yang belum siap menghadapi persaingan dalam mendapatkan pekerjaan sewaktu menjalani proses perkuliahan menunjukkan banyak mahasiswa yang masih memiliki efikasi diri rendah. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja, (2) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa bekerja, (3) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa tidak bekerja, (4) mengetahui perbedaan gambaran efikasi diri antara mahasiswa bekerja dengan mahasiswa tidak bekerja. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan deskriptif dan komparatif pada 100 responden yaitu 50 mahasiswa bekerja dan 50 mahasiswa tidak bekerja yang diambil dengan teknik purposive- quota sampling di Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala efikasi diri dengan validitas internal ≥ 30 dan diperoleh α 0,955, kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dari 50 mahasiswa bekerja sebagian besar memiliki efikasi diri tinggi yaitu sebanyak 37 orang (74%) dengan mean 187,46 termasuk kategori tinggi, (2) dari 50 mahasiswa tidak bekerja sebagian besar memiliki efikasi diri sedang yaitu sebanyak 43 orang (86%) dengan mean 157,32 temasuk kategori sedang, (3) ada perbedaan efikasi diri mahasiswa bekerja dan tidak bekerja (t=9,094 dengan sig = 0,000, p ≤0,05). Berdasar hasil penelitian disarankan (1) mahasiswa meningkatkan pengalaman performansi dengan beraktivitas di luar aktivitas kuliah seperti kegiatan ekstrakurikuler atau bekerja, (2) pihak Universitas Negeri Malang memberi tugas yang dapat mengembangkan dan meningkatkan efikasi diri mahasiswa, memberi penghargaan pada mahasiswa berprestasi dan mengadakan seminar atau workshop tentang dunia kerja, (3) peneliti selanjutnya yang juga akan mengkaji lebih dalam perbedaan efikasi diri mahasiswa dengan melihat faktor-faktor yang melatarbelakanginya, hendaknya memasukkan variabel lain seperti sifat tugas yang dihadapi, adanya insentif eksternal, peran individu dalam lingkungan, atau informasi tentang kemampuan individu sehingga hasil penelitian yang diperoleh menjadi semakin detil dan akurat.
Efektivitas Teknik Thought Stopping Untuk Meningkatkan Self-Esteem Siswa Di SMP Laboratorium UM.
ABSTRAK Wulansari, Yessy. 2011. Efektivitas Teknik Thought Stopping Untuk Meningkatkan Self-Esteem Siswa Di SMP Laboratorium UM. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Program Studi S1 Bimbingan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd. (II) Dr. Andi Mappiare AT, M.Pd. Kata Kunci: teknik thought stopping, konseling kelompok, self-esteem Self-esteem yang tinggi perlu bagi siswa SMP. Namun kenyataannya banyak diantara siswa yang memiliki self-esteem rendah. Mereka sering merasa dirinya bodoh atau tidak mampu dalam melakukan berbagai hal, tidak percaya diri, bahkan merasa hidupnya tidak bahagia. Salah satu latihan yang efektif untuk meningkatkan self-esteem adalah teknik thought stopping. Teknik thought stopping adalah cara yang digunakan untuk mengatasi pikiran yang tidak rasional yang dapat membuat masalah dengan mengubah kepada pikiran yang netral, positif dan tegas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektivan teknik thought stopping dalam konseling kelompok untuk meningkatkan self-esteem siswa di SMP Laboratorium UM. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan one group pretest - posttes design. Kelompok eksperimen adalah siswa yang memiliki kriteria self-esteem rendah melalui instrumen self-esteem. Konseling kelompok dengan teknik penghentian pikiran dilakukan dalam 8 kali pertemuan dengan tema yang berbeda-beda. Jumlah subyek yang diambil sebanyak 8 siswa. Data yang diperoleh melalui subyek, menggunakan inventori self-esteem yang telah diuji validitasnya dengan menggunakan analisis butir dan uji reliabilitas, sehingga didapatkan r alpha lebih besar daripada r table dengan tingkat reliabilities 0,715 yang berarti reliabel atau dapat dipercaya. Hasil analisis Wilcoxon dan Sign menunjukkan statistik hitung < statistik tabel, maka hipotesis alternatif diterima. Hasil uji z terlihat bahwa pada kolom Asymp. Sign 2-tailed untuk uji satu sisi adalah 0,012. Oleh karena kasus ini adalah uji satu sisi, maka probabilitasnya menjadi 0,012:2 = 0,0006. Disini terdapat probabilitas dibawah 0,05 (0,0006 < 0,05), sehingga Hipotesis nihil ditolak atau bisa juga diartikan teknik konseling penghentian pikiran efektif untuk meningkatkan self-esteem di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik thought stopping efektif untuk meningkatkan self-esteem siswa di SMP Laboratorium UM yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pre test dan post test. Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran : (1) pihak sekolah diharapkan memperhatikan dan memantau self-esteem siswa, (2) konselor diharapkan membantu siswa meningkatkan self-esteem, (3) peneliti lanjutan, jika ingin melakukan penelitian serupa disarankan untuk mempertimbangkan waktu/ lamanya treatment, menggunakan stimulasi yang bervariasi seperi sinema pendek, dan memperluas subyek penelitian di wilayah sekolah-sekolah di kota Malang.
Perbedaan Kemampuan Interaksi Sosial antara Remaja Adiksi Internet dengan Remaja Non-Adiksi di Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan interaksi antara remaja adiksi internet dengan remaja non-adiksi di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukan kepada 85 mahasiswa Universitas Negeri Malang. Data dikumpulkan dengan skala internet addiction disorder (koefisien relibialitas 0,938) dan skala kemampuan interaksi sosial (koefisien relibialitas 0,890). Data dianalisis dengan uji Independent Samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kemampuan interaksi sosial antara remaja adiksi internet dengan remaja non-adiksi di Universitas Negeri Malang dengan nilai t sebesar -5,626, nilai F sebesar 0,016, serta signifikansi (0,000 < 0.05). Kata kunci: interaksi sosial, adiksi interne
Faktor-faktor Yang Melatarbelakangi Pengambilan keputusan membeli handphone pada mahasiswa tipe kepribadian ekstravert dan introvert
ABSTRAK Wardani, Eka Amelia Kristia. 2011. Faktor-faktor Yang Melatarbelakangi Pengambilan Keputusan Membeli Handphone Pada Mahasiswa Tipe Kepribadian Ekstravert dan Introvert. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Alwisol, M. Pd, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Psi. Kata Kunci: Faktor, Pengambilan Keputusan Membeli Handphone, Mahasiswa, Tipe Kepribadian Ekstravert, Tipe Kepribadian Introvert. Handphone (HP) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk menghubungkan pesawat telepon satu dengan yang lainnya mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel, wireless). Mahasiswa membutuhkan handphone untuk memenuhi kebutuhannya. Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian handphone adalah faktor ukuran, harga, kualitas, warna, model, fitur, merek, penampilan, kecanggihan, awet, praktis, keterjangkauan layanan, harga purna jual, sifat motivasi, harga diri, pamer, popularitas, hobi, keyakinan, gengsi, keinginan, kebutuhan, tanggapan, teman sebaya, keluarga, tokoh idola, iklan di tv dan status sosial. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif, dengan menggunakan penelitian faktorial dan uji beda. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang mempunyai karakteristik: (1) mahasiswa yang pernah membeli dan memiliki handphone, (2) pria dan wanita dan tercatat sebagai mahasiswa S1 UM, (3) berusia antara 19-24 tahun, (4) mahasiswa angkatan 20072010. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang sebanyak 120 responden. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah teknik insidental sampling. 120 responden diberi skala faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian handphone dan skala ekstravert introvert. Dari hasil penelitian 29 faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian ini dapat direduksi menjadi 5 faktor dengan total muatan varian sebesar 64.931%. Kelima faktor tersebut adalah: (1) faktor gaya hidup yang menyumbang 17.009% varian. (2) faktor kebutuhan yang menyumbang 15.576% varian. (3) faktor fitur dan layanan yang menyumbang 11.980% varian. (4) faktor konsistensi harga yang menyumbang 11.553% varian. (5) faktor tampilan yang menyumbang 8,813% varian. Hasil penelitian tentang Faktor-faktor Yang Melatarbelakangi Mahasiswa Pengambilan Keputusan Membeli Handphone Pada Mahasiswa Tipe Kepribadian Ekstravert dan Introvert menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan faktor-faktor antara mahasiswa yang bertipe kepribadian ekstravert dan bertipe kepribadian introvert. Mean Difference ekstravert vs introvert = .005897, siginifikan pada .979 > .05 (H0 diterima).