SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
    1354 research outputs found

    KEEFEKTIFAN ASSERTIVE TRAINING UNTUK MENINGKATKAN SELF ESTEEM SISWA KELAS XI SMAN 1 DURENAN

    No full text
    ABSTRAK   Candrasari, Vina. 2012. Keefektifan Assertive Training untuk Meningkatkan Self Esteem Siswa Kelas XI SMAN 1 Durenan. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd.   Kata kunci: Assertive Training, Self Esteem, Konseling Behavioral.   Siswa yang mengalami kesulitan bersikap asertif akan menyebabkan tingkat self esteem pada dirinya rendah. Hal itu telah disebutkan oleh beberapa teori yang menjelaskan bahwa ketegasan atau asertif mendukung tingkat self esteem individu. Salah satu karakteristik individu dengan self esteem tinggi, yaitu bersikap asertif. Assertive training merupakan salah satu teknik dalam konseling behavioral. Assertive training digunakan untuk mengubah perilaku individu yang semula tidak asertif dalam rangka untuk meningkatkan self esteem siswa. Berbagai masalah akan timbul ketika individu sulit untuk bersikap asertif, misalnya, perasaan tidak berdaya, malu, takut menerima resiko. Rasa tidak berdaya, malu dan takut menerima resiko akan berpengaruh terhadap tingkat self esteem individu. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan assertive training untuk meningkatkan self esteem siswa kelas XI SMA Negeri 1 Durenan Kabupaten Trenggalek. Jenis penelitian ini adalah eksperimen kuasi, dengan one group pretest-posttest design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Durenan yang berjumlah 266 siswa. Kemudian, diambil 8 siswa sebagai kelompok eksperimen berdasarkan hasil pengisian skala self esteem dengan hasil pretest yang menunjukkan self esteem rendah. Assertive training dilaksanakan sebanyak lima kali pertemuan dalam konseling kelompok behavioral. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan tingkat self esteem siswa sebelum dan sesudah diberi treatment yang berupa assertive training. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan self esteem (harga diri) berdasarkan hasil posttest pengisian skala self esteem. Hal ini dibuktikan dengan nilai yang diperoleh dari uji Wilcoxon sebesar (Z=-2.524a) dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0.012 dan 0.01

    PENGEMBANGAN PANDUAN PENYUSUNAN LIFE HISTORY UNTUK MENGUNGKAP KETERBUKAAN DIRI SISWA SMP

    No full text
    ABSTRAK   Prabawati, Yulik Sulistiara. 2012. Pengembangan Panduan Penyusunan Life History untuk Mengungkap Keterbukaan Diri Siswa. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nur Hidayah, M.Pd, (2) Dr. M. Ramli, M.A.   Kata kunci: keterbukaan diri, panduan life history, siswa SMP   Keterbukaan diri adalah kemampuan mengungkap informasi diri kepada orang lain, baik informasi umum maupun khusus. Informasi diri ini dapat berkaitan dengan ide, pemikiran, sikap, minat, pekerjaan, pendidikan, kepribadian, dan fisik. Untuk mengungkap informasi diri siswa konselor dapat menggunakan panduan penyusunan life history. Panduan penyusunan life history ini merupakan buku petunjuk pengungkapan sejarah kehidupan seseorang baik secara menyuluruh maupun hanya aspek tertentu yang digambarkan secara rinci melalui tulisan atau karangan. Life history yang diungkapkan sesuai dengan unsur-unsur keterbukaan diri dalam BASIC ID yang dikemukakan oleh Lazarus, mencakup behavior (perilaku), affection (perasaan), sensation (sensasi), imagery (khayalan), cognitive (pikiran), interpersonal relationship (hubungan interpersonal), dan drug (obat). Tujuan pengembangan ialah menghasilkan panduan life history untuk mengungkap keterbukaan diri siswa secara tertulis. Buku panduan ini terdiri atas panduan penyusunan life history bagi siswa dan panduan life history beserta analisisnya untuk konselor. Adapun tujuan khusus pengembangan panduan ini menghasilkan produk yang dapat diterima dari segi ketepatan, kemudahan, kegunaan, dan kemenarikan. Prosedur pengembangan panduan penyusunan life history ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan yang diadaptasi dari Borg and Gall (1983) yaitu 1) need assesment, 2) merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, 3) penyusunan produk awal, 4) uji coba tahap pertama, yaitu uji ahli BK dan calon pengguna produk konselor, 5) revisi tahap pertama, 6) uji coba tahap kedua, yaitu uji kelompok kecil, 7) revisi akhir menghasilkan panduan penyusunan life history untuk mengungkap keterbukaan diri siswa SMP berupa buku panduan bagi konselor dan siswa. Desain yang digunakan dalam pengembangan ini adalah desain deskriptif, dengan subyek penelitian ahli BK, calon pengguna konselor, dan 8 orang siswa yang dipilih secara acak yang sudah mewakili kelompok kecil. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket penilaian menghasilkan data kuantitatif dan kualitatif. Analisis data kuantitaif menggunakan teknik analisis rata-rata, sedangkan teknik analisis deskriptif untuk data kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa panduan penyusunan life history dinilai ahli BK, yaitu tepat dengan nilai 3, sangat mudah dengan nilai 3,12, sangat berguna dengan nilai 3,21, dan menarik dengan nilai 3. Sedangkan penilaian dari calon pengguna produk yaitu sangat tepat dengan nilai 3,2, sangat mudah dengan nilai 3,5, sangat berguna dengan nilai 3,37, dan sangat menarik dengan nilai 3,37. Dari uji kelompok kecil menggolongkan panduan ini tergolong panduan yang sangat tepat, sangat mudah, sangat berguna, dan sangat tepat dengan nilai rata-rata 3,24. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa panduan penyusunan life untuk mengungkap keterbukaan diri siswa SMP memiliki keberterimaan sangat tepat, sangat mudah, sangat berguna, dan sangat menarik. Saran pengembangan panduan ini adalah dalam melaksanakan panduan penyusunan life history konselor hendaknya memahami prosedur pelaksanaan life history serta perlu adanya tindak lanjut hasil pengungkapan data siswa dengan melakukan konseling individual maupun kelompok. Saran untuk peneliti selanjutnya panduan penyusunan life history perlu diuji cobakan kelompok besar untuk uji penormaan dan desiminasi sehingga panduan ini benar-benar sesuai dan bermanfaat. Selain itu apabila panduan penyusunan life history untuk mengungkap keterbukaan diri ini hendak digunakan oleh siswa sekolah menengah atas dan sederajat, maka hendaknya melalukan need assesment terlebih dahulu.

    pembenaran diri remaja pelaku homoseksual di kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor-faktor penyebab perilaku homoseksual pada remaja dan pemaknaan remaja terhadap perilaku homoseksual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologis. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan juga observasi yang langsung dilakukan peneliti terhadap subjek. Prosedur analisis data menggunakan konsep Miles dan Huberman yang meliputi data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. Lokasi penelitian dilakukan oleh peneliti di kota Malang. Untuk menguji keabsahan data, peneliti melakukan ketekunan pengamatan serta trianggulasi sumber, trianggulasi waktu, dan trianggulasi teknik. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1)faktor yang menyebabkan perilaku homoseksual pada remaja di kota Malang adalah faktor traumatik, (2)Faktor lingkungan teman sebaya yang membuat pelaku lesbian mulai merasakan kenyamanan menjalin hubungan dengan sesama jenis dibandingkan dengan lawan jenisnya (3)Pemaknaan pelaku homoseksual terhadap perilaku homoseksual ini adalah mereka membenarkan apa yang terjadi pada diri mereka, meskipun masih banyak pro dan kontra mengenai keberadaan pelaku homoseksual di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Saran dari penelitian ini adalah: (1)Diharapkan untuk konselor sekolah, dapat memberikan upaya preventif (2)Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini, seperti meneliti apa yang bisa dilakukan oleh konselor untuk membantu penyembuhan peserta didik yang mengalami penyimpangan orientasi seksual, ataupun upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah maraknya peserta didik yang mengalami orientasi seksual yang menyimpang. Kata Kunci: pelaku homoseksual, penyimpangan perilaku, lesbian, ga

    Keefektifan Strategi Self-Management untuk Mengurangi Stres dalam Belajar Siswa Kelas XI SMK Negeri 5 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Febriana, Egi Ika. 2012. Keefektifan Strategi Self-Management untuk Mengurangi Stres dalam Belajar Siswa Kelas XI SMK Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan  Bimbingan  dan  Konseling,  Fakultas  Ilmu  Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd, (II) Dr. Andi Mappiare A.T., M.Pd   Kata Kunci: self-management, stres, siswa SMK   Stres  secara  umum  merupakan  sesuatu  yang  tidak  terpisahkan  dalam kehidupan  manusia, bahkan stres  merupakan  bagian dari kehidupan. Orang  harus tergesa-gesa bangun,  membereskan  PR,  lupa  atau  tidak  sempat  untuk  sarapan, berlari untuk mengejar kendaraan umum, sekolah atau aktifitas, berkonflik dengan teman  atau  orang  lain,  dan  lain-lain.  Stres  dapat  terjadi  dimanapun  dan  pada siapapun,  juga  pada  siswa. Mengatasi masalah  tersebut  diperlukan  bantuan  yang efektif  untuk mengurangi  stres  dalam  belajar  siswa  kelas  XI  SMK  Negeri  5 Malang.  Salah  satu  upayanya  ialah penerapan strategi self-management. Tujuan dari  penelitian  ini  adalah  untuk  mengetahui  tingkat  keefektivan strategi self-management untuk mengurangi stres dalam belajar siswa SMK N 5 Malang. Rancangan  penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah eksperimen semu (Quasi-Exsperimental Research) tanpa kelas kontrol. Penelitian menggunakan  jenis  desain  eksperimen  kasus  tunggal  (Single-Case  Experimental Design). Dalam SCED  meliputi 3  fase,  yaitu  fase A,  fase B (treatment), dan  fase A’. Dengan subjek siswa kelas XI SMK N 5 Malang dengan jumlah 5 siswa. Teknik  pengumpulan  data  menggunakan  skala  stres  dalam  belajar,  tugas  harian self-management,  dan  self-report. Untuk  menganalisis  data  menggunakan  hasil dari visual  inspection  pada  saat  sebelum  perlakuan,  perlakuan,  dan  sesudah perlakuan.. Hasil  dari  penelitian menunjukkan  bahwa self-management berpengaruh terhadap  pengurangan  stres  dalam  belajar  siswa.  Hal  ini  tampak  dari masing-masing  subjek  menunjukkan  adanya  penurunan  tingkah  laku  stres  dalam belajarnya dari fase A ke fase A’. Dari 5 subjek memilki peningkatan persentase penurunan stres di atas 50%. Berdasarkan  hasil  penelitian  ini,  disarankan  agar:  1) konselor  dapat membantu siswa untuk mengurangi stres dalam belajar menggunakan strategi self-management.  Konselor  dapat  memberikan  strategi  self-management  ini  tidak hanya  pada  5  siswa  tetapi  pada  seluruh  siswa XI  RPL  I  yang  sudah  diketahui karakteristiknya,  dan 2) peneliti  selanjutnya hendaknya jika  akan menguji self-management untuk mengurangi  stres dengan melakukan penelitian  menggunakan kelompok kontrol.

    Pengembangan Modul Perencanaan Karir Model Career Exploration Program (CEP) bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama

    No full text
    ABSTRAK   Tiara, Subekti Wahyu. 2012. Pengembangan Modul Perencanaan Karir Model Career Exploration Program (CEP) bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan,  Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. (II) Dr. Carolina Ligya Radjah M.Kes.   Kata kunci: Bimbingan Karir, Perencanaan Karir, Career Exploration Program (CEP)   Siswa SMP merupakan individu yang berkembang dan mereka berada pada peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Siswa SMP yang rata-rata berusia 13-15 tahun berada pada growth stage (subtahap capacity) dan exploration stage (subtahap tentative). Pada subtahap capacity (13-14 tahun), siswa mulai memikirkan kemampuan yang dimiliki dan membutuhkan latihan-latihan untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Pada tahap selanjutnya yaitu subtahap tentative (15-17 tahun), siswa mempertimbangkan pentingnya kebutuhan, minat, kemampuan, nilai, serta kesempatan-kesempatan yang berhubungan dengan pengembangan diri dan karir. Berdasarkan hasil need asessment, banyak siswa yang belum memahami diri mereka, tidak mengetahui cita-citanya, dan bingung memilih sekolah lanjutan. Berkaitan dengan itu dibutuhkan materi perencanaan karir bagi siswa Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menyusun dan mengembangkan modul perencanaan karir model career exploration program (CEP) bagi siswa Sekolah Menengah Pertama, agar siswa dapat merencanakan karirnya dengan baik. Penelitian  ini adalah penelitian pengembangan (development research) yang menggunakan model Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) tahap I studi pendahuluan dan perencanaan: menentukan potensi dan masalah penelitan, melakukan kajian pustaka dan need assesment; 2) tahap II pengembangan produk: menentukan kompetensi, indikator dan tujuan, menyusun prototype modul, dan mendesain produk; 3) tahap III uji coba produk: uji ahli (uji ahli bimbingan dan konseling dan uji ahli media); revisi produk berdasarkan hasil penilaian uji ahli; uji calon pengguna produk (konselor); revisi berdasarkan hasil penilaian uji pengguna produk; uji coba produk terbatas (uji kelompok kecil); revisi berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil; hasil produk akhir modul perencanaan karir model career exploration program (CEP) bagi siswa Sekolah Menengah Pertama. Produk yang dihasilkan adalah 1) Modul Perencanaan Karir Model Career Exploration Program (CEP) bagi siswa Sekolah Menengah Pertama dan 2) Panduan Modul Perencanaan Karir Model Career Exploration Program (CEP) bagi siswa Sekolah Menengah Pertama. Modul bagi siswa terdiri atas lima penggalan yaitu self knowledge, career knowledge, educational knowledge, career goal dan career planning. Setiap penggalan berisi materi, evaluasi diri dan evaluasi kelompok dengan alokasi waktu masing-masing 2 x 40 menit. Berdasarkan hasil analisis data penilaian para ahli, calon pengguna produk dan kelompok kecil serta revisi-revisi yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan terhadap modul dan panduannya, dapat disimpulkan bahwa panduan untuk konselor layak, berguna, menarik, efisien dan tepat secara teoritis maupun praktis. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada konselor sebagai pengguna produk benar-benar memahami dan mempelajari modul ini sebelum mengaplikasikan kegiatan dalam modul ini kepada siswa dikarenakan materi yang disusun pada modul ini tidak berdasarkan jenjang kelas, namun menyesuaikan pada kebutuhan siswa yang menjadi sasaran layanan bimbingan konseling. Bagi peneliti selanjutnya, hasil dari penelitian dan pengembangan ini dapat dilanjutkan dengan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan produk yang dihasilkan dalam membantu siswa untuk merencanakan karir dengan matang.

    KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN TEKNIK BIBLIOKONSELING UNTUK MENINGKATKAN EMPATI SISWA DALAM PENCEGAHAN KASUS BULLYING DI SMPN 5 MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Kurniawati, Shophia Terry. 2012. Keefektifan Penggunaan Teknik  Bibliokonseling untuk Meningkatkan Empati Siswa dalam Pencegahan Kasus Bulllying di SMPN 5 Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Elia Flurentin, M.Pd., (II) Irene Maya Simon, S.Pd., M.Pd.   Kata kunci : empati, bibliokonseling, bullying.   Empati adalah suatu kemampuan untuk menempatkan diri pada pikiran dan perasaan orang lain tanpa harus secara nyata terlibat dalam perasaan maupun tanggapan orang tersebut. Rendahnya empati dikalangan siswa dapat menyebabkan adanya pelecehan antar siswa, pengintimidasian, perkelahian, atau yang sering disebut tindakan bullying. Bentuk tindakan bullying dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu tindakan bullying secara langsung dan tindakan bullying secara tidak langsung. Empati dapat ditingkatkan agar kasus bullying di sekolah dapat dicegah, melalui aplikasi teknik bibliokonseling. Penggunaan bibliokonseling dapat memperluas wawasan siswa mengenai keanekaragaman nilai-nilai yang dianggap berharga untuk membangun aspek-aspek kemanusiaan yang mengarah pada kepedulian, belas kasihan, toleransi, dan menerima adanya perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan penggunaan bibliokonseling dalam meningkatkan empati siswa SMP dalam pencegahan kasus bullying di sekolah, dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu jenis pretest posttest one group design. Subjek penelitian berjumlah sembilan orang siswa SMP kelas VIII yang memiliki kriteria empati rendah yang diukur menggunakan skala empati siswa SMP. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala empati yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon dan berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek efektif untuk meningkatkan empati siswa SMP dalam pencegahan kasus bullying di sekolah. Pemberian treatment dengan menggunakan bibliokonseling berupa cerita pendek yang dalam penerapannya memiliki beberapa tahap meliputi: siswa diberikan waktu untuk membaca cerita pendek, diskusi refleksi isi cerita, refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen dan refleksi pengalaman. Kegiatan ini dilakukan dalam delapan kali pertemuan yang diawali dengan kegiatan ice breaking dan pemberian pretest pada pertemuan pertama, sedangkan untuk tujuh kali pertemuan selanjutnya diberikan satu cerita pendek setiap pertemuan untuk direfleksi dan pada pertemuan terakhir diberikan posttest. Berdasarkan hasil analisis bahwa bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek efektif untuk meningkatkan empati siswa SMP dalam pencegahan kasus bullying di sekolah, hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor di akhir pertemuan, pada hasil pretest dari 9 orang menunjukkan skor minimum 60 dan skor maksimum 67 dengan rerata 64, standart deviasi 2,455 setelah mengikuti treatment penggunaan bibliokonseling untuk meningkatkan empati siswa SMP dalam pencegahan kasus bullying di sekolah, hasil posttest menunjukkan skor minimum 99 dan skor  maksimum 117 dengan rerata 107, standart deviasi 5,267. Oleh sebab itu, maka diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) aplikasi teknik bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek hendaknya diperhatikan apakah tema cerita sesuai dengan tingkat kemampuan membaca dan usia siswa, tulisan harus menarik serta melatih untuk berpikir, merasakan, dan mengartikan makna yang bisa diambil dari cerita, dan alur kisah tidak terlalu rumit sehingga siswa memperoleh wawasan tentang keanekaragaman nilai-nilai yang dianggap berharga bagi manusia, serta (2) peneliti selanjutnya dapat menggunakan kelompok kontrol atau jenis penelitian time series.

    EFEKTIVITAS TEKNIK HUMOR DALAM KONSELING KELOMPOK REBT UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM SISWA KELAS X JURUSAN PERAWAT SOSIAL SMKN 2 MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Setyarini, Indah. 2012. Efektivitas Teknik Humor Dalam Konseling Kelompok REBT Untuk Meningkatkan Self-Esteem Siswa Jurusan Perawat Sosial di SMKN 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd. (II) Dr. Andi Mappiare A.T., M.Pd   Kata Kunci: teknik humor, konseling kelompok REBT, self-esteem   Teknik humor merupakan salah satu dari teknik konseling REBT yang paling populer. Teknik ini digunakan untuk mengganti pikiran irasional menjadi lebih rasional dengan suasana yang rileks dan santai. Anggapan siswa tentang dirinya yang kurang pandai, kurang beruntung, tidak memiliki masa depan yang lebih baik dari orang lain dan terlalu membesar-besarkan kekurangan yang ia miliki merupakan pikiran irasional yang dimilikinya, hal ini membuat siswa memiliki self-esteem yang rendah. Pikiran irasional tersebut dimiliki oleh siswa SMK yang berada pada jurusan low-grade, hal ini menjadi gangguan emosional yang perlu dibantu dalam penyelesaiannya, karena self-esteem yang tinggi perlu dimiliki oleh siswa SMK untuk mengembangkan semangat belajar dan mendapatkan masa depan yang diharapkan. Oleh karena itu konseling dengan teknik humor menjadikan proses konseling menjadi rileks dan konseli lebih mampu mengungkapkan permasalahan dengan baik sehingga penyelesaiannya dapat meningkatkan self-esteem.Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektivan teknik humor dalam konseling kelompok REBT untuk meningkatkan self-esteem siswa jurusan Perawat Sosial di SMKN 2 Malang. Rancangan penelitian menggunakan eksperimen semu dengan one group pretest-posttest design. Kelompok eksperimen diambil dari siswa yang memiliki kriteria self-esteem rendah, sangat rendah dari hasil inventori yang telah diuji validitas dan reabilitasnya oleh peneliti terdahulu. Jumlah subyek yang diambil sebanyak 7 siswa. Diberikan perlakuan berupa konseling kelompok REBT dengan teknik humor sebanyak 7 kali pertemuan. Untuk menganalisis data menggunakan statistik inferensial non-parametrik, yaitu uji beda two-related samples tests Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan tingkat self-esteem siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan teknik humor dalam konseling kelompok REBT pada kelompok eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik humor dalam konseling kelompok REBT efektif untuk meningkatkan self-esteem siswa kelas X jurusan Perawat Sosial SMKN 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran : (1) Konselor dapat membantu siswa untuk meningkatkan self-esteemnya dengan menggunakan teknik humor dalam konseling kelompok REBTpada kelas, jurusan dan sekolah lain, mempertimbangkan waktu operasional konseling dan memanfaatkan fasilitas sekolah untuk memberikan stimulan (2) Peneliti lanjutan diharapkan dapat mempertimbangkan waktu operasional, up to date dalam memberikan stimulan, melaksanakan validitas ekologi dan menguji ulang istrumen pada subyek terteliti yang berbeda.

    PENGEMBANGAN PANDUAN PEMILIHAN SEKOLAH LANJUTAN BERBASIS MULTIMEDIA DENGAN METODE FOXFIRE BAGI SISWA SMP LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Paramita, Idar Meizza. 2012. Pengembangan Panduan Pemilihan Sekolah Lanjutan Berbasis Multimedia dengan Metode Foxfire bagi Siswa SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Triyono, M.Pd, (II) Drs. H. Widada, M.Si.   Kata Kunci: Panduan Pemilihan Sekolah Lanjutan Berbasis Multimedia (PPSLBM), metode foxfire, blog   Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, beberapa siswa belum bisa menentukan studi lanjutan yang mereka inginkan. Hal ini karena siswa belum mengetahui secara nyata sekolah-sekolah lanjutan tingkat atas di sekitar mereka. Selain itu, penjelasan tentang sekolah lanjutan, tidak cukup hanya disampaikan secara ekspositori saja. Untuk itu, perlu adanya inovasi dalam menyampaikan materi bimbingan. Metode foxfire merupakan salah satu metode alternatif dalam proses bimbingan. Metode foxfire adalah metode penugasan untuk melakukan pengamatan secara langsung ke sekolah-sekolah lanjutan, lalu hasil pengamatan tersebut disusun dalam bentuk tulisan singkat, dan kemudian diterbitkan ke dalam blog sekolah. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan panduan tentang pemilihan sekolah lanjutan berbasis multimedia dengan menggunakan metode foxfire bagi siswa SMP Lab. UM yang memenuhi kriteria kegunaan, ketepatan, dan kemenarikan yang kuat. Untuk itu, penelitian ini menggunakan model yang diadaptasi dari strategi pengembangan yang dikemukakan oleh Borg & Gall dengan 10 tahap. Namun, dalam penelitian dan pengembangan ini hanya menggunakan empat tahap yaitu: (1) melakukan prasurvei, (2) mengembangkan produk awal, (3) melakukan uji coba produk, (4) melakukan revisi terhadap produk. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu pengembang dalam melakukan penelitian dan pengembangan. Hasil analisis uji coba produk diperoleh bahwa dalam penilaian ahli materi terdapat skor negatif, yang mengharuskan adanya revisi. Setelah direvisi, skor menjadi positif. Hal ini dapat diartikan bahwa materi dalam blog telah memenuhi kriteria kegunaan, ketepatan, dan kemenarikan yang kuat. Untuk uji ahli media, calon pengguna produk, dan uji kelompok kecil, mendapatkan skor yang positif dan tidak memerlukan revisi. Dengan kata lain, produk yang dikembangkan ini juga telah memenuhi kriteria kegunaan, ketepatan, dan kemenarikan yang kuat. Dari analisis t-Test menggunakan SPSS, hasil sig. (2-tailed) adalah 0,00. Berarti probabilitas atau signifikansi < 0,05, yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dari 30 subyek kelompok kecil, semuanya mengalami peningkatan setelah mendapatkan treatment. Adapun kelemahan dalam produk ini yaitu tidak dapat dioperasikan secara offline, bahasa yang digunakan masih kurang interaktif, dan panduan ini belum dapat diujikan dalam kelompok besar.

    Keefektifan Metode Klarifikasi Nilai untuk Meningkatkan Kesadaran akan Nilai Disiplin Diri Siswa SMP

    No full text
    ABSTRAK   Dwihandrianto, Bayu. 2012. Keefektifan Metode Klarifikasi Nilai untuk Meningkatkan Kesadaran akan Nilai Disiplin Diri Siswa SMP. Skripsi. Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Elia Flurentin, M.Pd, (2) Dr. Dany M. Handarini, M.A.   Kata Kunci: klarifikasi nilai, kesadaran, disiplin diri, siswa SMP   Kesadaran akan nilai disiplin diri dapat diartikan sebagai suatu kemampuan atau pemahaman mengenai sikap disiplin serta mengerti segala perbuatan yang mengandung nilai disiplin dan kemudian dapat merealisasikan ke dalam bentuk yang nyata sehingga dapat berperilaku patuh terhadap peratuaran, tata tertib atau tunduk pada pengawasan. Fenomena yang terjadi dimasyarakat saat ini yaitu pelanggaran terhadap lalu lintas sehingga menyebabkan macet dan seringnya terjadi kecelakaan dijalan, hal tersebut merupakan salah satu contoh akibat kurangnya kesadaran akan nilai disiplin diri di masyarakat. Yang bertanggungjawab mengurusi masalah disiplin diri adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Metode klarifikasi nilai dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai disiplin diri karena dalam penerapannya memiliki beberapa tahap meliputi, memilih, menghargai, dan merefleksi sehingga dapat memperluas wawasan siswa mengenai keanekaragaman nilai-nilai kesadaran disiplin diri siswa Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan penggunaan metode klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai disiplin diri siswa SMP. Siswa SMP yang memiliki kesadaran akan nilai disiplin diri adalah siswa yang dapat mengerti tentang semua aturan dan tata tertib yang ada dalam masyarakat ataupun sekolah serta dapat merealisasikan ke dalam perbuatan sehari-hari sehingga dapat berperilaku patuh terhadap peraturan, serta sadar bahwa dirinya harus menjauhi segala sesuatu yang bersifat melanggar dan mencoba membina diri untuk selalu menjalankan aturan dan tatatertib yang ada. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah experiment the one group pretest-postest dengan rancangan treatment sebanyak 10 kali. Subjek penelitian adalah sepuluh orang siswa SMP yang memiliki kriteria kesadaran akan nilai disiplin diri sedang dan rendah yang diukur dengan menggunakan inventori kesadaran akan nilai disiplin diri siswa SMP. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan inventori kesadaran akan nilai disiplin diri siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Hasil pengumpulan data telah di analisis dengan menggunakan uji wilcoxon. Hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian eksperimen ini penggunaan klarifikasi nilai efektif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai disiplin diri siswaSMP yang dapat dilihat dari kenaikan skor pada posttest di akhir pertemuan serta hasil dari refleksi diri siwa selama pemberian treatment. Saran yang perlu di perhatikan bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian serupa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan nilai disiplin diri adalah sebagai berikut: (1) saran aplikasi teknik yaitu dalam penggunaan teknik klarifikasi nilai berupa pemberian contoh kasus/masalah hendaknya perlu melakukan validasi internal, serta (2) saran pengembangan, untuk peneliti selanjutnya dapat menggunakan teknik dan media yang  sama, akan tetapi disarankan  menggunakan kelompok kontrol.

    Efektivitas Teknik Bibliokonseling untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMPN 3 Karangan Kabupaten Trenggalek

    No full text
    ABSTRAK   Aseha, Nur. 2012. Efektivitas Teknik Bibliokonseling untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMPN 3 Karangan Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Triyono, M.Pd., (II) Dra. Elia Flurentin, M.Pd.   Kata Kunci: teknik bibliokonseling, kepercayaan diri, siswa SMP   Siswa SMP berada pada fase usia remaja yang mengalami masa pertumbuhan yang sangat pesat pada seluruh bagian fisiknya. Pertumbuhan yang cepat sering menimbulkan permasalahan bagi remaja, khususnya siswa SMP. Permasalahan yang muncul bisa disebabkan karena kondisi fisik yang tidak sesuai dengan bentuk fisik yang diinginkan. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, sehingga ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) maka dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Permasalahan percaya diri tidak bisa dibiarkan karena akan berpengaruh terhadap aspek yang lainnya sehingga diperlukan suatu cara kreatif untuk dapat meningkatkan kepercayaan diri remaja. Cara yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan terkait kepercayaan diri yaitu dengan menggunakan teknik bibliokonseling. Teknik bibliokonseling adalah sebuah cara dalam bimbingan dan konseling untuk membantu individu menyelesaikan masalahnya melalui penyajian suatu bacaan yang di dalamnya memuat cerita yang bisa dikaji dan dapat digunakan untuk mengembangkan tingkah laku yang diinginkan sehingga mampu memberikan intervensi pada aspek intelektual, aspek sosial, aspek perilaku, dan aspek emosional. Penelitian yang dilaksanakan mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri siswa SMP dan untuk mengetahui keefektifan penggunaan teknik bibliokonseling dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa SMP. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu one group pre-test dan post-test design. Pelaksanaan rancangan penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan perlakuan kepada sekelompok individu melalui pemberian pre-test berupa skala kepercayaan diri, treatment berupa cerita pendek melalui teknik bibliokonseling, dan post-test berupa skala kepercayaan diri. Treatment dalam teknik bibliokonseling terdiri dari enam tahapan yang meliputi membaca media teknik bibliokonseling berupa cerita pendek, melaksanakan refleksi isi cerita pendek, melaksanakan refleksi diri, melaksanakan uji coba komitmen, melaksanakan refleksi pengalaman, dan mengembangkan komitmen. Media yang digunakan dalam teknik bibliokonseling berupa cerita pendek yang telah diuji oleh ahli dan pilihan cerita pendek telah disesuaikan dengan karakteristik permasalahan siswa. Penelitian diawali dengan kegiatan pre-test yang dilaksanakan kepada populasi penelitian yang berjumlah 99 orang siswa dan hasilnya menunjukkan 10 orang siswa yang tergolong dalam tingkat kepercayaan diri yang rendah. Sepuluh  orang subjek penelitian tersebut diberikan treatment atau perlakuan berupa pemberian media cerita pendek melalui teknik bibliokonseling dan setelah mendapatkan treatment atau perlakuan kemudian dilaksanakan post-test untuk membandingkan hasil dari pre-test dan post-test. Skor terendah subjek penelitian pada saat pre-test sebesar 117 dengan klasifikasi rendah dan setelah diberi perlakuan skor kepercayaan diri menjadi 159 dengan klasifikasi tinggi. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT) dengan SPSS 17.0. Apabila hasil perhitungan statistik menunjukan bahwa taraf signifikansi < 0.05 maka hipotesis yang diajukan bisa diterima Berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT) diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0.005 dan lebih kecil dari sign. 0.05. Dengan kata lain, hipotesis yang diajukan dapat diterima sehingga teknik bibliokonseling efektif digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa SMP. Atas dasar penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan bagi konselor untuk dapat menggunakan teknik bibliokonseling dalam menyelesaikan jenis permasalahan siswa yang berbeda karena penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang lebih kreatif di dalam menangani masalah siswa. Masalah yang muncul pada diri siswa berbeda dengan siswa yang lain sehingga konselor perlu memiliki teknik penyelesaian masalah yang lebih beragam. Saran bagi peneliti selanjutnya apabila menggunakan teknik bibliokonseling hendaknya menambah alokasi waktu dan memilih tempat yang bisa membuat semua subjek penelitian merasa nyaman. Disarankan pula untuk lebih kreatif dalam menangani siswa pendiam dan pemalu misalnya dengan memberikan permainan atau ice breaking yang membuat siswa lebih aktif lagi dan tidak cepat bosan sehingga tujuan dari penelitian bisa tercapai secara optimal.

    0

    full texts

    1,354

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇