SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
    1354 research outputs found

    KEEFEKTIFAN TEKNIK PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMECAHKAN MASALAH PRIBADI SOSIAL SISWA SMP LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Mumpuni, Rinda Eka. 2012. Keefektifan Teknik Problem Solving untuk Meningkatkan Keterampilan Memecahkan Masalah Pribadi Sosial Siswa SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ella Faridzati, Zen, M. Pd, (II) Dr. Andi Mappiare. A. T, M. Pd   Kata Kunci: teknik problem solving, keterampilan memecahkan masalah, bimbingan  pribadi sosial   Salah satu ciri masa remaja adalah waktu dimana kesempatan dan berbagai resiko datang. Resiko yang dimaksud adalah berbagai masalah yang seringkali dialami remaja. Masalah tersebut adalah permasalahan fisik, psikis dan sosial. Tidak semua remaja bisa mengatasi masalah yang dialami tersebut dengan efektif. Salah satu metode pemecahan masalah adalah teknik problem solving. Efektifkah teknik problem solving dalam meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pribadi sosial siswa?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji keefetifan teknik problem solving untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pribadi sosial siswa SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Pre-Eksperimental, dengan desain eksperimen One Group Pretest-Posttest. Proses penelitian terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu persiapan, meliputi kegiatan observasi, penyusunan instrumen penelitian serta uji coba instrumen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah inventori keterampilan memecahkan masalah, panduan eksperimen pelatihan teknik problem solving dan pedoman observasi. Tahap kedua yaitu seleksi subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, diperoleh delapan orang siswa yang memiliki tingkat keterampilan memecahkan masalah rendah. Tahap ketiga adalah pelaksanaan pelatihan teknik probem solving. Teknik analisis data yang digunakan adalah Wilcoxon Signed-Rank. Analisis statistik memberi kesimpulan bahwa terdapat perbedaan, karena itu maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  teknik problem solving efektif dalam meningkatkan keterampilan memecahkan masalah siswa SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Hal tersebut terbukti dari hasil analisis Wilcoxon Signed-Rank yang membandingkan antara skor pre tes dan pos tes, diperoleh angka Z -2, 521 dengan  sig 0, 012. Angka sig 0, 012 berarti < 0, 05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan  atau perubahan tingkat keterampilan memecahkan masalah antara sebelum dan setelah perlakuan berupa kegiatan pelatihan teknik problem solving. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan,saran bagi konselor yaitu teknik problem solving dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pribadi sosial siswa.  Disamping itu, bagi Jurusan BK, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam mengkaji teknik-teknik keterampilan memecahkan masalah. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan referensi bagi peneliti lain dalam melaksanakan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan keterampilan memecahkan masalah.

    Keefektifan Teknik Model Simbolik Sebagai Upaya Peningkatan Pemahaman Diri Siswa Kelas X SMAN 1 Pule Kabupaten Trenggalek

    No full text
    ABSTRAK   Astuti, Lilis Dwi. 2012. Keefektifan Teknik Model Simbolik Sebagai Upaya Peningkatan Pemahaman Diri Siswa Kelas X SMAN 1 Pule Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan M.Pd. (II) Yuliati Hotifah, S.Psi, M.Pd   Kata Kunci: Remaja, Pemahaman Diri, Teknik Model Simbolik   Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak hingga masa awal dewasa yaitu usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Mereka belum memiliki pegangan dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Dengan mengamati remaja mudah menirukan lingkungannya tanpa melihat kemampuan yang dimiliki. Sedangkan untuk dapat mencapai tugas perkembangannya, remaja diharapkan mampu mengoptimalkan diri sesuai dengan keadaan dirinya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Oleh karena itu diperlukan pemahaman diri remaja agar terdapat kesesuaian antara kemampuan dan kemauan. Dari fenomena bahwa dengan mengamati remaja mudah menirukan lingkungannya, maka peneliti memilih teknik model simbolik berupa film sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman diri siswa kelas X SMAN 1 Pule. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan bentuk penelitian One Group Pre-test Post-test Design. Sampel diambil dengan teknik sampel bertujuan (purposive sampling) untuk mengetahui siswa yang memiliki pemahaman diri rendah. Dari seleksi 2 kelas yaitu kelas X-A dan X-B diperoleh 8 subjek penelitian yang memiliki pemahaman diri rendah. Data tingkat pemahaman diri siswa diperoleh dari subjek penelitian melalui skala pemahaman diri. Setelah itu subjek penelitian diberikan treatment sebanyak 4 kali pertemuan, pertemuan pertama dan ketiga diberikan film berdurasi pendek dan kegiatan refleksi selama 45 menit sedangkan  pertemuan kedua diberikan potongan film documenter dan pertemuan keempat diberikan tayangan berupa potongan film inspiratif serta kegiatan refleksi selama 2x45 menit. Setelah treatment berakhir, subyek penelitian diberikan posttest. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistic nonparametrik dengan uji Wilcoxon menggunakan bantuan . Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest yaitu dari 598 menjadi 810 sehingga total selisihnya adalah 212 angka. Sedangkan nilai yang diperoleh dari uji Wilcoxon dan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar  dimana  sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pemahaman diri siswa SMAN 1 Pule Kabupaten Trenggalek sebelum dan sesudah pemberian treatment berupa teknik model simbolik melalui tayangan film. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada konselormenggunakan teknik model simbolik berupa film untuk meningkatkan pemahaman diri siswa kelas X. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol serta dalam jenjang pendidikan sekolah yang berbeda.

    PENGEMBANGAN MEDIA PERMAINAN SIMULASI PEMBENTUKAN KONSEP DIRI POSITIF PADA SISWA KELAS TINGGI SEKOLAH DASAR (SD)

    No full text
    ABSTRAK   Septiana, Erlis. 2012. Pengembangan Media Permainan Simulasi Pembentukan Konsep Diri Positif pada Siswa Kelas Tinggi Sekolah Dasar (SD). Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Elia Flurentin, M. Pd., Pembimbing (II) Dr. M. Ramli, M. A.   Kata Kunci: permainan simulasi, konsep diri positif, siswa SD   Konsep diri positif adalah penilaian positif individu terhadap dirinya sendiri, mengenai keadaan fisik, diri pribadi, kedudukan sebagai anggota keluarga, diri sosial, dan diri moral etik. Dalam mencegah adanya konsep diri negatif pada siswa SD kelas tinggi, maka diperlukan bantuan wali kelas atau guru matapelajaran melalui pendekatan bimbingan secara terpadu dan tepat. Salah satu yang dilakukan yaitu melalui pengembangan media yang dapat membantu wali kelas dan guru dalam melakukan bimbingan berupa media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif. Dalam pelaksanaannya, pengembangan media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif ini mempunyai suatu keuntungan, misalnya mendorong siswa SD untuk mengembangkan sikap menilai diri secara positif. Demikian juga siswa SD dapat mengembangkan sikap sabar, menghargai pendapat orang lain, dan menaati peraturan. Pengembangan ini bertujuan menghasilkan media permainan simulasi berupa beberan simulasi dan buku panduan pelaksanaan sebagai media yang dapat digunakan wali kelas dan guru matapelajaran untuk pelaksanaan bimbingan. Penggunaan media permainan simulasi diharapkan siswa dapat mengembangkan konsep diri posit if melalui kegiatan permainan simulasi. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan Borg and Gall. Adapun prosedur pengembangan menggunakan enam pendekatan yaitu sebagai berikut: 1) pengumpulan informasi, 2) pengembangan produk awal, 3) uji lapangan permulaan, 4) revisi produk utama, 5) uji lapangan utama, 6) penyusunan produk akhir. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan berupa kuesioner need assessment dan kuesioner uji ahli. Data dianalisis dengan teknik deskriptif. Subyek coba dalam penelitian ini adalah siswa SD kelas lima. Hasil pengembangan yang telah dihasilkan yaitu media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif berupa beberan simulasi dan buku panduan pelaksanaan. Pengembangan beberan simulasi ini menggunakan gambar kartun Spongebob. Alasan penggunaan gambar kartun Spongebob yaitu karena subjek penelitian anak Sekolah Dasar kelas tinggi yang masih menyukai dunia bermain. Bentuk beberan simulasi mirip permainan monopoli. Berdasarkan penilaian ahli BK yang terdapat dalam media permainan simulasi ditinjau dari aspek kegunaan, ketepatan, kejelasan, kemenarikan sudah sesuai dan layak untuk diterapkan dalam kegiatan layanan bimbingan. Penilaian ahli media berdasarkan aspek kegunaan, ketepatan, kejelasan, dan kemenarikan menunjukan bahwa media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif sudah sesuai dan layak. Penilaian calon pengguna produk (wali kelas), media permainan simulasi sudah sesuai dan layak ditinjau dari aspek kegunaan, ketepatan, kejelasan, dan kemenarikan. Hasil uji kelompok kecil menunjukan bahwa kegiatan permainan simulasi dengan media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif ini menarik serta menyenangkan bagi siswa, menambah wawasan, melatih antri dan tertib. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada: 1) wali kelas atau guru matapelajaran di sekolah lain juga dapat menggunakan media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif tentunya dengan menghubungi pengembang selaku pemilik hak cipta dan hal guna, 2) hendaknya wali kelas atau guru matapelajaran menindaklanjuti hasil evaluasi siswa dengan melakukan bimbingan individual jika diperlukan, 3) diharapkan untuk peneliti selanjutnya untuk melakukan uji kelompok besar sehingga produk media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif lebih sempurna, 4) untuk peneliti selanjutnya diharapkan melakukan uji efektivitas media permainan simulasi pembentukan konsep diri positif sehingga diketahui efektivitas penggunaan media permainan simulasi dalam pembentukan konsep diri positif.

    PENGEMBANGAN PAKET PELATIHAN ETIKET BERKOMUNIKASI SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

    No full text
    ABSTRAK   Wardhani, Diatri Kusuma. 2012. Pengembangan Paket Pelatihan Etiketb Berkomunikasi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Widada, M.Si, (II) Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd.   Kata kunci: pengembangan, paket pelatihan, etiket berkomunikasi, siswa SMP.   Usia remaja merupakan usia yang rentan berkenaan dengan perkembangan pribadi dalam menjalankan kehidupannya. Hal ini dapat terjadi karena remaja merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Salah satu pengaruh dalam kehidupan remaja adalah cara remaja yang bertingkah laku tidak berdasarkan tata krama atau nilai sopan santun dalam pergaulan di kehidupan bermasyarakat. Sebagai manusia, remaja mempunyai berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial dapat terpenuhi karena adanya interaksi dengan orang lain. Pada saat berinteraksi dengan orang lain, tidak menutup kemungkinan remaja akan merasa kesulitan mengkomunikasikan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan. Berkomunikasi menjadi faktor terpenting ketika berinteraksi dengan orang lain, berkomunikasi tidak hanya menerangkan tentang berbicara yang baik dengan orang lain. Etiket berkomunikasi menjelaskan tentang cara bersikap dan bertindak yang dilakukan oleh individu kepada orang lain. Etiket berkomunikasi yang diharapkan mencakup segala aspek dalam berinteraksi sosial dengan orang lain yang disampaikan secara verbal maupun non verbal. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan paket Pelatihan etiket berkomunikasi siswa SMP yang terdiri dari buku panduan untuk pengguna yaitu konselor dan siswa yang dapat diterima dari segi teoritik dan praktis serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Paket pelatihan etiket berkomunikasi adalah seperangkat alat yang terdiri dari buku panduan konselor dan buku panduan siswa yang mempunyai tujuan untuk melatih ketrampilan beretiket siswa dalam berkomunikasi baik verbal maupun non verbal yang berisi tentang aturan atau tata cara berkomunikasi yang terdiri atas mengenal diri sendiri dan orang lain, ragam hasa dalam ragam situasi, cara menyampaikan pesan, cara menerima pesan, tindakan dalam komunikasi dan kesiapan sikap dan penampilan diri. Pengembangan paket pelatihan etiket berkomunikasi ini mengadaptasi tahaptahap penelitian dan pengembangan dari model Borg and Gall (1983). Tahapan dalam penelitian pengembangan ini hanya sampai pada tahap kelima yaitu: 1) analisis kebutuhan, 2) perumusan tujuan pelatihan, 3) penyusunan prototype, 4) melakukan uji lapangan permulaan (uji ahli materi, bahasa, dan calon pengguna produk), 5) revisi. Uji validitas paket pelatihan dilakukan oleh tiga subjek yaitu uji ahli materi, uji ahli bahasa dan uji calon pengguna produk ( 2 konselor) dan siswa (6 orang siswa kelas VII B SMP Laboratorium UM ). Uji validitas bertujuan untuk mengetahui keberterimaan paket pelatihan etiket berkomunikasi dalam aspek ketepatan, kegunaan dan kemenarikan. Instrumen yang digunakan dalam uji validitas uji ahli (materi, bahasa dan calon pengguna produk untuk konselor dan siswa) berupa skala penilaian dan lembar saran, sedangkan uji validitas untuk siswa menggunakan angket. Hasil dari uji validitas dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Berikut hasil analisis data validitas dari uji ahli : 1) dari ahli materi dan ahli bahasa menunjukkan bahwa paket pelatihan etiket berkomunikasi siswa SMP termasuk dalam kategori sangat tepat dengan rata-rata skor 3,13, sangat berguna dengan rata-rata skor 3,15 dan menarik dengan rata-rata skor 3,5. 2) dari calon pengguna produk (konselor) menunjukkan bahwa paket pelatihan etiket berkomunikasi termasuk dalam kategori sangat tepat dengan skor 3,21, sangat berguna dengan skor 3,5 dan sangat menarik dengan skor 3,25. 3) dari calon pengguna produk (siswa) menunjukkan bahwa pengembangan etiket berkomunikasi siswa SMP dapat dikategorikan sangat layak. Dapat disimpulkan bahwa paket pelatihan etiket berkomunikasi siswa SMP ini memiliki keberterimaan yang tinggi secara teori dan praktis dari segi ketepatan, kegunaan dan kemenarikan. Berdasarkan saran penelitian pengembangan ini, peneliti mengajukan beberapa saran, untuk saran pemanfaatan antara lain : 1) konselor diharapkan  memberikan motivasi kepada siswa untuk terus berlatih ketrampilan sikap berkomunikasi yang etis. 2) siswa dapat terus belatih ketrampilan berkomunikasi yang sesuai dengan materi dalam paket pelatihan. Sedangkan untuk saran pengembangan produk lebih lanjut adalah untuk penelit i selanjutnya dapat menguji keefektifitasan paket pelatihan etiket berkomunikasi siswa SMP dengan jumlah sampel uji pengguna produk (siswa)  lebih banyak.

    Keefektifan Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Kesadaran Tanggung Jawab Siswa SMP

    No full text
    ABSTRAK   Fitriyah, Anggun Dian. 2012. Keefektifan Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Kesadaran Tanggung Jawab Siswa. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Blasius Boli Lasan., M.Pd, (II) Dr. M. Ramli., M.A   Kata Kunci:  keefektifan, kesadaran tanggung jawab, permainan simulasi   Tanggung jawab adalah kewajiban untuk  bertindak sesuai dengan norma yang berlaku secara umum terhadap segala situasi dalam hal untuk memenuhi kebutuhannya  dengan cara tidak merugikan, merampas atau mengorbankan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, serta kemampuan memikul segala konsekuensi dari apa yang dilakukan. Pada kenyataannya masih banyak individu yang kurang memiliki kesadaran tanggung jawab, dalam hal ini adalah siswa SMP. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab adalah permainan simulasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan permainan simulasi dalam meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP. Permainan simulasi merupakan penggambaran berbagai kejadian atau fakta permasalahan dalam kehidupan yang dituangkan dalam lembar beberan yang dilengkapi pesan-pesan bimbingan  dan nantinya akan dimainkan oleh beberapa orang pemain dengan aturan permainan yang telah disepakati bersama. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre-experimental design dengan bentuk Pre-test and Post-Test One Group Design. Rancangan pelaksanaan penelitiannya adalah pertama dengan memberikan pretest, kemudian melaksanakan treatment dan yang terakhir adalah pemberian posttest. Subjek penelitian sebanyak sebelas orang siswa yang memiliki klasifikasi skor skala kesadaran tanggung jawab rendah dan sedang. Instrument yang digunakan untuk pengumpulan data adalah angket kesadaran tanggung jawab. Data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif dan analisis uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT). Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa teknik permaninan simulasi efektif untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP. Kesimpulan tersebut berdasarkan perbedaan skor pretest dan posttest yang menunjukkan adanya peningkatan setelah diberikan treatment, serta juga dapat dilihat dari hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT) yang membuktikan hipotesis penelitian diterima. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) konselor hendaknya menggunakan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa (2) peneliti selanjutnya  hendaknya menggunakan kelompok kontrol dengan teknik yang berbeda sebagai pembanding dari kelompok eksperimen.

    Keefektifan Metode Klarifikasi Nilai untuk Meningkatkan Kesadaran Akan Nilai Toleransi Pada Siswa SMP

    No full text
    ABSTRAK   Purwanti, Deny. 2012. Keefektifan Metode Klarifikasi Nilai untuk Meningkatkan Kesadaran Akan Nilai Toleransi Pada Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Dany M. Handarini, M.A., (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd.   Kata Kunci : klarifikasi nilai, kesadaran akan nilai toleransi.   Toleransi merupakan suatu kunci untuk bersosialisasi dan hidup dengan damai di lingkungan masyarakat yang penuh dengan keragaman dan diwarnai dengan berbagai perbedaan. Melihat fakta yang ada, dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, masih banyak kejadian-kejadian yang diakibatkan oleh kurangnya kesadaran bertoleransi antar individu. Oleh karena itu diperlukan suatu metode spesifik untuk mengembangkan kesadaran akan nilai toleransi pada siswa. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran akan nilai toleransi adalah metode klarifikasi nilai. Penelitian bertujuan menguji keefektifan metode klarifikasi nilai dalam meningkatkan kesadaran akan nilai toleransi pada siswa SMP. Metode Klarifikasi Nilai adalah suatu langkah-langkah yang sistematis yang digunakan untuk membantu siswa, mengkaji nilai-nilai yang ada pada dirinya. Siswa dapat memilih nilai sesuai dengan apa yang diyakini dan dapat merencanakan tindakan serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada dirinya yang diyakini kebenaranya. Penelitian ini menggunakan Pre-test and Post-Test One Group Design, desain eksperimen diobservasi sebanyak dua kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Subjek penelitian adalah sepuluh orang siswa yang memiliki klasifikasi skor skala kesadaran akan nilai toleransi rendah dan sedang, dengan mengunakan contoh kasus sebagai media dalam pelaksanaan metode klarifikasi nilai. Hasil dari pengumpulan data dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT). Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa metode klarifikasi nilai efektif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai toleransi pada siswa SMP yang juga dapat dilihat dari kenaikan skor post test setelah pemberian perlakuan. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagi konselor sebaiknya menggunakan kasus-kasus yang mudah difahami dan tidak terlalu panjang,  agar siswa mudah  memahami kasus –kasus yang berkenaan dengan nilai toleransi. Dengan memahami kasus akan mempermudah siswa melakukan penilaian, sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam dirinya. (2) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan need assessment  tentang  nilai yang akan diklarifikasi,sehingga metode ini dapat bermanfaat dan tepat guna bagi siswa.

    EFEKTIVITAS METODE KLARIFIKASI NILAI UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN AKAN NILAI KEBERANIAN SISWA SMP

    No full text
    ABSTRAK   Hikmah, Ovi Nur.2012. Keefektifan Metode Klarifikasi Nilai untuk meningkatkan Kesadaran akan Nilai Keberanian (Courage) Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A, (II) Dr. Triyono M.Pd.   Kata Kunci: klarifikasi nilai, kesadaran akan nilai kepedulian, contoh kasus.   Memiliki kesadaran akan pentingnya memahami nilai moral keberanian (courage value) merupakan keyakinan seseorang atau kelompok untuk berbuat benar meskipun yang lain tidak dengan dasar kejujuran, tanggung jawab, dan pertimbangan resiko yang kemudian diwujudkan dalam bentuk fisik, mental, maupun spiritual. Melalui pendidikan dan pengalaman, kesadaran akan nilai keberanian dapat dibentuk dan dikembangkan. Jika pemahaman nilai keberanian (courage) tidak diberikan kepada anak, maka akan berdampak buruk terhadap perkembangan moral yang lainnya, contoh: kenakalan remaja (sok jago) untuk menguji keberanian bertarung, berani mencontek karena takut dan cemas mendapat nilai rendah atau tidak lulus, dll. Oleh sebab itu, pendidikan dibutuhkan tidak hanya untuk mengembangkan aspek  intelektualnya saja, akan  tetapi beriringan dengan juga pengembangan aspek moral siswa. Hal ini menjadi tanggungjawab orang tua, sekolah, dan masyarakat. Fokus pada bidang BK, moral keberanian (courage) siswa dapat dikembangkan dengan metode klarifikasi nilai yang menekankan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Teknik klarifikasi nilai dilaksanakan dengan menyajikan sejumlah contoh kasus yang mengandung konflik nilai untuk didiskusikan dan direfleksikan dengan diri siswa. Subjek dilibatkan dalam pembacaan contoh kasus dan didorong untuk menjelaskan perasaan dan nilai yang ada pada dirinya serta mengambil keputusan dan komitmen dalam memilih nilai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan metode klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai courage siswa SMP. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP berjumlah 10 orang. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah one group pretest posttest design, dengan menggunakan alat berupa skala kesadaran akan nilai courage siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir treatment. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan uji statistik nonparametrix tipe tes wilcoxon. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa metode klarifikasi nilai efektif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai courage siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor pada posttest diakhir pertemuan setelah pemberian treatment. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)Konselor mempersiapkan bahan bacaan yang sesuai kebutuhan kelompok eksperimen dengan menyajikan contoh kasus yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari dan setting tempat untuk melaksanakan eksperimen harus dipertimbangkan terlebih dahulu. (2) Pada peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan kegiatan need assesment dan uji validitas treatment.

    Studi tentang Pemahaman Siswa kelas X SMA Negeri 1 Pagak Kabupaten Malang terhadap Tugas-tugas Perkembangan Remaja

    No full text
    ABSTRAK   Arikuncahyo, Aditya. 2012. Studi tentang Pemahaman Siswa kelas X SMA Negeri 1 Pagak Kabupaten Malang terhadap Tugas-tugas Perkembangan Remaja. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dra Elia Flurentin, M.Pd. Pembimbing II: Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd.   Kata kunci: Pemahaman, tugas-tugas perkembangan, siswa SMA.   Jenjang Sekolah Menengah Atas merupakan jenjang pertengahan untuk remaja dalam melaksanakan berbagai tugas perkembangannya. Pemahaman tugas perkembangan remaja sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah. Agar pelaksanaan tugas perkembangan berjalan dengan baik, maka perlu adanya bantuan dari konselor sekolah untuk membantu pelaksanaan tugas perkembangan yang dilaksanakan oleh siswa. Remaja sebagai bagian dari masyarakat mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan pada tugas-tugas berikutnya. Sebaliknya, bila gagal  maka ia menjadi tidak bahagia, dan mengalami kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan seberapa besar pemahaman siswa terhadap tugas-tugas perkembangan remaja yang berkaitan dengan (1) keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME; (2) menerima keadaan fisik/jasmani; (3) memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya; (4) memperoleh peran sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing; (5) mencapai kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya; (6) mencapai kebebasan ekonomi; (7) memperoleh seperangkat nilai hidup dan falsafah hidup; (8) mencapai tingkah laku secara moral dan sosial; (9) mengembangkan ketrampilan dan konsep-konsep intelektual bagi warga negara yang berkompeten; (10) memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan; dan (11) mempersiapkan pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Pagak Kabupaten Malang. Jumlah sampel sebanyak 100 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket. Data penelitian dianalisis dengan perhitungan analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa kelas X SMA Negeri 1 Pagak terhadap tugas-tugas perkembangan remaja secara keseluruhan adalah sebagai berikut: 1) sebagian besar (56%) siswa memahami tugas perkembangan aspek beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME pada  klasifikasi sedang; 2) sebagian besar (72%) siswa memahami tugas perkembangan menerima keadaan fisik/jasmani pada klasifikasi sedang; 3) pada umumnya (84%) siswa memahami tugas perkembangan memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya pada klasifikasi sedang; 4) sebagian besar (58%) siswa memahami tugas perkembangan memperoleh peran sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing pada klasifikasi sedang; 5) pada umumnya (87%) siswa memahami tugas perkembangan mencapai kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya pada klasifikasi sedang; 6) pada umumnya (76%) siswa memahami tugas perkembangan mencapai kebebasan ekonomi pada klasifikasi sedang; 7) sebagian besar (62%) siswa memahami tugas perkembangan memperoleh seperangkat nilai hidup dan falsafah hidup pada klasifikasi sedang;  8) sebagian besar (59%) siswa memahami tugas perkembangan mencapai tingkah laku secara moral dan sosial pada klasifikasi sedang;  9) pada umumnya (89%) siswa memahami tugas perkembangan mengembangkan ketrampilan dan konsep-konsep intelektual bagi warga negara yang berkompeten pada klasifikasi sedang; 10) pada umumnya (79%) siswa memahami tugas perkembangan memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan pada klasifikasi sedang siswa memahami tugas perkembangan ini dengan klasifikasi sedang; dan 11) sebagian besar (67%) siswa memahami tugas perkembangan mempersiapkan pernikahan dan kehidupan berkeluarga pada klasifikasi sedang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan kepada konselor sekolah agar mengembangkan program Bimbingan dan Konseling yang memprioritaskan layanan yang bersifat perkembangan dan penanggulangan guna membantu siswanya dalam perkembangan secara optimal. Bimbingan yang bersifat perkembangan ditujukan kepada siswa yang memahami tugas perkembangan remaja ini pada klasifikasi tinggi dan sedang. Bimbingan ini bersifat pengayaan, layanan yang dapat diberikan misalnya informasi dengan topik peran sosial antara laki-laki dan perempuan, cara bergaul dengan lawan jenis, cara menyikapi perbedaan nilai dalam keluarga. Bimbingan yang bersifat penanggulangan ditujukan kepada siswa yang memahami tugas perkembangan remaja pada klasifikasi rendah, layanan yang diberikan misalnya konseling individu, konseling kelompok, dan juga bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama yang temanya disesuaikan dengan permasalahan yang dialami oleh siswa. Kemudian bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat memperluas jumlah populasi penelitian sehingga didapat data dan hasil yang valid.

    Perilaku Bullying di Kalangan Remaja Awal (Studi Fenomenologi Sekolah Menengah Pertama)

    No full text
    ABSTRAK   Zulfiyaturrizqiyah. 2012. Perilaku Bullying di Kalangan Remaja Awal (Studi Fenomenologi Sekolah Menengah Pertama). Skripsi Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: I) Dr. Nur Hidayah, M.Pd., II) Dr. Danny Moenidyah Handarini, M.A.   Kata Kunci: perilaku bullying, remaja awal, sekolah menengah pertama   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh makin maraknya perilaku bullying yang terjadi dikalangan remaja awal. Bullying merupakan tindakan negatif yang dilakukan perseorangan atau kelompok pada orang lain secara terus-menerus hampir setiap hari hingga menimbulkan dampak dan korban merasa tidak berdaya.  Perilaku bullying dapat berupa ancaman fisik atau verbal. Fokus penelitian ini adalah karakteeristik korban dan pelaku bullying, faktor penyebab anak berperilaku bullying dan dampak tindakan bullying bagi korban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik snowball sampling. Dalam penelitian ini, yang menjadi sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati adan diwawancarai seperti subjek, teman-teman subjek dan konselor sekolah. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi partisipatif, wawancara mendalam, triangulasi dan dokumentasi. Analisis data yang didapat selama dua bulan penelitian ini dilakukan menggunakan teknik deskriptif melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Setelah data diperoleh kemudian selanjutnya dilakukan pengecekan keabsahan data dengan menggunakan perpanjangan keikutsertaan metode triangulasi, dan ketekunan pengamatan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Setiap jenjang kelas tedapat peluang terjadinya kasus bullying, namun prosentase terbesar terjadinya bullying terdapat pada kelas 7 dan kelas 8.  Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VII RSBI, VIII RSBI dan VIII Regular. Pelaku tidak hanya terdapat dari kalangan anak biasa namun pelaku juga berasal dari kalangan anak-anak popular disekolah. Tindakan bullying juga tidak hanya dilakukan secra individu melainkan juga dilakukan secara kelompok. Penyebab pelaku melakukan tindakan bullying adalah adanya permasalahan diamasa lalu dengan korban dan pelaku juga memanfaatkan kepopularnya disekolah untuk mendapatka dukungan dari teman-teman maupun gurunya. Kurangnya perhatian dari keluarga juga menjadi faktor penyebab anak berperilaku bullying. Korban tindakan bullying adalah anak pendiam dan pemalu, kelompok minoritas di kelas, anak baru dilingkungan sekolah dan korban yang memiliki cirri atau etnis yang berbeda dengan mayoritas anak dikelasnya. Tindakan bullying berdampak pada penurunan prestasi akademik korban disekolah, pola belajar korban, interaksi sosial korban dengan orang-orang disekitarnya bahkan perilaku korban sehari-hari yang bisa menjadikan penyimpangan perilaku yang dilakukan korban untuk menghindari tindakan bullying. Berdasarkan temuan ini disarankan kepada pihak-pihak terkait yaitu bagi konselor, informasi awal untuk mencegah adanya bullying disekolah dan membuat program pencegahan bullying melalui intervensi berbasi sekolah yang berkolaborasi dengan guru maupun orang tua siswa. serta untuk mentindaklanjuti pemberian layanan maupun bimbingan pada korban maupun pelaku bullying yang berupa pemberian layanan konseling individu maupun kelompok, selain itu juga bisa diberikan melalui layanan informasi dan bimbingan kelompok. Bagi pihak sekolah, diharapkan digunakan sebagai informasi untuk membuat program khusus anti-bullying disekolah untuk mencegah dan mengatasi perilaku bullying yang terjadi disekolah dengan cara berkolaborasi dengan guru mata pelajaran, konselor, serta seluruh pihak-pihak sekolah.. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan informasi jika ada penelti yang ingin melakukan penelitian tentang bullying dan bisa lebih menyempurnakan serta mendalami penelitian dengan membahas lebih dalam tentang penonton atau saksi yang melihat terjadinya peristiwa bullying.

    MOTIVASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS: STUDI KASUS DI SEKOLAH PENYELENGGARAAN INKLUSI

    No full text
    ABSTRAK   Yohanika, Dita. 2012. Motivasi Belajar Anak Berkebutuhan Khusus:Studi Kasus di Sekolah Penyelenggara Inklusi. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd., (II) Dr. Triyono  M.Pd.   Kata kunci: Motivasi belajar, anak berkebutuhan khusus, inklusi   Motivasi belajar adalah keadaan yang terdapat pada diri individu dimana ada dorongan untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan.Anak berkebutuhan khusus juga memiliki motivasi belajar yang mengalami fluktuasi tergantung dengan faktor yang mempengaruhinya. Anak berkebutuhan khusus memiliki kebetuhan-kebutuhan yang terpenuhi dan setelahnya akan memunculkan motivasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi belajar anak berkebutuhan khusus yang tergabung dalam sekolah inklusi, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar anak berkebutuhan khusus dalam sekolah inklusi, peran guru pendamping khusus (GPK) dan konselor dalam upaya membantu dan meningkatkan motivasi belajar anak berkebutuhan khusus dalam sekolah inklusi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dilakukan di SMKN 2 Malang dengan subjek siswa ABK di kelas inklusi. Penelitian kualitatif ini menggunakan desain penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar yang dimiliki ABK mengalami fluktuatif tergantung dengan faktor yang mempengaruhinya. Anak berkebutuhan khusus memiliki kebutuhan-kebutuhan yang terpenuhi dan setelahnya akan memunculkan motivasi belajar. Kebutuhan ABK berupa kebutuhan dasar (deficiency motivation) dan kebutuhan untuk berkembang (growth motivation). Peranan kolaborasi antar guru pendamping khusus dan guru BK sangat penting dalam upaya ikut meningkatkan motivasi belajar ABK dan keefektifan belajar di sekolah inklusi. Guru pendamping khusus dan guru BK berfungsi sebagai penghubung kepada siswa lain, guru matapelajaran, orang tua ABK, orangtua siswa dan seluruh komponen lainnya. Selain itu guru pendamping khusus dan guru BK menerima sharing  dari ABK mengenai kesulitan belajar dan masalah pribadi lainnya, agar tercapai perkembangan Saran: konselor hendaknya memberikan bimbingan mengenai cara menumbuhkan motivasi belajar ABK; Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi  hendaknya memasukkan kelompok  mata kuliah ABK dalam mata kuliah wajib, bukan mata kuliah pilihan;peneliti lanjut disarankan untuk mengadakan penelitian lanjut terhadap fenomena serupa dengan latar yang berbeda dan dengan multi subjek.

    0

    full texts

    1,354

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇