SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
STUDI FENOMENOLOGIS TENTANG STRES SEKOLAH PADA SISWA SMA NEGERI 1 PURI MOJOKERTO
ABSTRAK Savitri, Btari Indra. 2012. Studi Fenomenologis Tentang Stres Sekolah Pada Siswa SMA Negeri 1 Puri Mojokerto. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Ramli, M.A, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata Kunci : stres sekolah, siswa SMA Sekolah merupakan rumah kedua bagi anak setelah keluarga dan sekolah. Sekolah tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan dan perkembangan para siswa. Sekolah dipandang dapat memenuhi beberapa kebutuhan siswa dan menentukan kualitas kehidupan mereka di masa depan. Namun, pada saat yang sama sekolah ternyata juga dapat menjadi sumber masalah, yang pada gilirannya memicu terjadinya stres di kalangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang jelas dan rinci mengenai: (a) makna stres sekolah bagi siswa; (b) ciri-ciri siswa yang mengalami stres sekolah; (c) gambaran umum penyebab timbulnya stres sekolah pada diri siswa; (d) dampak stres sekolah bagi diri siswa; dan (e) cara siswa menghadapi stres sekolah. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman arti suatu peristiwa dan keterkaitannya dengan siswa yang mengalami stres sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah fenomenologi karena penelitian yang dilakukan berusaha memahami arti peristiwa mengenai stres sekolah dan kaitan-kaitannya terhadap siswa yang berada di dalam situasi-situasi stres sekolah di SMA Negeri 1 Puri Mojokerto. Lokasi penelitian ini terletak di Jalan Jayanegara nomer 2 kabupaten Mojokerto. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, dengan subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Puri Mojokerto. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Mengacu pada pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian, dipilihlah teknik sampling, yaitu snowball sampling. Analisis data terdiri dari tiga tahap, yaitu mereduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan lima cara, yaitu: (a) perpanjangan pengamatan; (b) meningkatkan ketekunan; (c) triangulasi yang digunakan adalah triangulasi teknik; (d) menggunakan bahan referensi; serta (e) kepastian (confirmability). Tahap-tahap penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para siswa memaknai stres sekolah sebagai suatu keadaan atau kondisi dimana mereka mengalami tekanan di sekolah yang disebabkan karena tugas yang tidak sesuai dengan kapasitasnya, bermasalah dengan teman, dan bosan terhadap pelajaran. Ciri-ciri yang siswa alami ketika merasa stres adalah tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar, resah atau tidak tenang, sering marah-marah, merasa pusing ketika berpikir, murung atau diam dan suka melamun. Penyebab umum timbulnya stres sekolah yang dialami para siswa antara lain: cara guru dalam mengajar, tugas-tugas yang tidak sesuai dengan kapasitasnya, sering diberikan ulangan, ejekan teman karena nilai ulangan yang rendah serta pelajaran yang dianggap membosankan dan susah. Dampak yang siswa alami ketika mengalami stres sekolah adalah tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar, nilai pelajaran jadi menurun atau rendah, serta malas untuk bersekolah. Ada berbagai macam cara yang dilakukan para siswa dalam mengatasi stres sekolah yang mereka alami, seperti ber-sms-an, facebook atau twitter, bercanda dengan teman, menghibur diri dengan jalan-jalan keliling sekolah, mendengarkan musik dan bahkan pergi ke kantin atau koperasi siswa (kopsis) yang ada di sekolah. Berdasarkan temuan-temuan penelitian, disarankan beberapa hal untuk konselor di sekolah, sekolah SMA Negeri 1 Puri, jurusan BK, dan peneliti. Konselor di sekolah disarankan untuk dapat mengetahui dan memahami gejala-gejala yang timbul pada diri siswa yang mengalami stres ketika berada di kelas serta dapat memberikan layanan BK yang sesuai. Untuk sekolah SMA Negeri 1 Puri disarankan perlu diberikannya pelayanan bimbingan dan konseling bagi para siswa yang mengalami stres sekolah serta perlu diberikan pelatihan bagi para guru dalam pemberian metode pembelajaran. Untuk jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) disarankan untuk dapat menginformasikan hasil penelitian ini kepada mahasiswa agar mahasiswa mampu untuk lebih peka terhadap siswa yang mengalami stres sekolah dan dapat memberikan pelayanan-pelayanan BK sesuai dengan stres yang siswa alami. Untuk peneliti selanjutnya agar lebih fokus meneliti aspek-aspek lain yang berkaitan dengan stres sekolah, terutama tindakan konselor dalam pencegahan dan pengatasan siswa yang mengalami stres sekolah agar dapat memperkecil terjadinya stres di sekolah.
Persepsi Sejumlah Siswa SMA Negeri Terhadap Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Di Kotamadya Blitar
ABSTRAK Sutedjo, Ayu Triasmoro. 2012. Persepsi Sejumlah Siswa SMA Negeri Terhadap Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Di Kotamadya Blitar. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Nur Hidayah, M.Pd (II) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd. Kata Kunci : persepsi, bahaya penyalahgunaan narkoba, siswa SMA Kelompok perempuan dan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan berpotensi untuk dimanfaatkan oleh mafia narkoba. Siswa termasuk kalangan yang rentan terhadap pengaruh narkoba karena pengetahuan dan emosinya masih mengalami perkembangan. Apabila para siswa terpengaruh efek negatif narkoba, maka generasi penerus bangsa akan rusak. Hal ini perlu disikapi secara tepat agar dapat dilakukan pencegahan dan pemberantasannya. Pihak sekolah dapat berpartisipasi dalam gerakan anti narkoba. Informasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa SMA penting untuk mngetahui pendapat siswa tentang narkoba yang saat ini perlu dihindari. Apabila terdapat persepsi yang tidak tepat, maka dapat segera diluruskan oleh pihak sekolah, dalam hal ini adalah bimbingan dan konseling sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi sejumlah siswa SMA Kotamadya Blitar mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas X dan XI SMA Negeri di Kota Blitar. Pengambilan sampel penelitian menggunakan simple random sampling. Jumlah sampel yang penelitian sejumlah 159 orang. Instrumen penelitian ini menggunakan angket persepsi siswa terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba. Hasil penelitian menunjukan bahwa banyak (81,76%) siswa SMA yang memiliki persepsi terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba dalam kategori tepat, sangat sedikit (16,98%) mereka memiliki persepsi dengan cukup tepat, sangat sedikit (0,63%) mereka yang memiliki persepsi dengan kategori sangat tepat dan sangat sedikit (0,63%) mereka yang memiliki persepsi dengan kategori sangat tidak tepat. Berdasarkan hasil penelitian ini, diajukan beberapa saran, yaitu: 1) kepada pihak sekolah, terutama bagian Bimbingan dan Konseling untuk tetap mempertahankan program bimbingan dan kampanye anti penyalahgunaan narkoba dalam rangka preventif terhadap penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. 2) Disarankan kepada siswa untuk berani mengatakan say no to droug agar tidak menyesal pada masa yang akan datang. 3) Kepada orang tua disarankan untuk lebih menguatkan persepsi yang tepat mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba kepada putra-putrinya melalui sikap yang tegas untuk menolak penyalahgunaan narkoba. 4) Kepada peneliti selanjutnya, jika melakukan penelitian dengan tema bahaya penyalahgunaan narkoba disarankan agar menggunakan subyek penelitian yang berbeda, misalnya pelajar SMP, SMK atau anak-anak jalanan.
Perilaku Berpacaran Remaja (Studi Fenomenologis Dimensi Hasrat, Keintiman, dan Komitmen Remaja Berpacaran)
ABSTRAK Istikasari, Arsy Rila. 2012. Perilaku Berpacaran Remaja (Studi Fenomenologis Dimensi Hasrat, Keintiman, dan Komitmen Remaja Berpacaran). Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata Kunci : perilaku berpacaran, hasrat, keintiman, komitmen Salah satu tugas perkembangan remaja adalah perkembangan sosial yang berorientasi pada persiapan pernikahan. Sebagai usaha pemenuhan tugas-tugas perkembangannya tersebut, remaja melakukan usaha melalui hubungan berpacaran (courthip). Dalam menjalani hubungannya, tidak jarang melanggar norma-norma sosial, agama dan susila yang berlaku. Terdapat beberapa remaja yang menyertakan perilaku seksual dalam hubungan berpacarannya. Berdasarkan fenomena tersebut, fokus penelitian meliputi: (1) Alasan remaja memutuskan untuk berpacaran, (2) Faktor yang mempengaruhi adanya perilaku seksual pada remaja berpacaran, dan (3) Dimensi cinta remaja berpacaran yang terdiri dari hasrat, keintiman dan komitmen. Hal ini diteliti karena segala bentuk perilaku dilatar belakangi oleh adanya alasan utama mereka memutuskan berpacaran serta adanya faktor yang mempengaruhi dan mendorong perilakunya tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologis. Kehadiran peneliti sebagai pengamat berperan serta memanfaatkan sumber lain atau informan untuk memperkuat data. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik snow bowling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu reduksi fenomenal, reduksi eiditis, dan reduksi transedental. Teknik pemeriksaan keabsahan datanya menggunakan triangulasi sumber. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah dalam berpacaran subjek, terdapat perilaku seksual yang menyimpang dari norma sosial, agama dan susila. Alasan utama subjek memutuskan berpacaran merupakan upaya pemenuhan kasih sayang dan menyeleksi pasangan hidup. Adanya perilaku seksual tersebut muncul karena terdapat faktor internal yaitu perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksualnya. Sedangkan faktor eksternalnya adalah keadaan lingkungan keluarga dan adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa dengan teknologi yang canggih. Selain itu, diperoleh deskripsi cinta yang dirasakan subjek. Keintimanlah yang paling menonjol dalam berpacaran. Hubungan yang semakin dalam tersebut, menjadikan subjek membumbui hubungannya dengan adanya hasrat yang menimbulkan perilaku seksual. Namun terdapat tanggung jawab dari subjek, yaitu komitmen untuk menikah. Saran dari penelitian ini ditujukan kepada konselor, yaitu memberikan layanan informasi bidang pribadi sosial dengan menyediakan media berupa buku saku tentang etika berpacaran. Layanan informasi bidang pribadi sosial tersebut diharapkan akan mengarahkan para siswa agar tidak melakukan perilaku negatif seperti perilaku seksual dalam berpacaran. Saran kepada peneliti selanjutnya jika dilakukan penelitian sejenis, maka perlu menambah subjek penelitian, misalnya lebih dari satu pasang remaja berpacaran. Saran kepada orang tua, diharapkan menanamkan nilai-nilai sosial, agama, dan susila yang ditanamkan sejak dini kepada anak.
Pengembangan Media Permainan Simulasi Pergaulan yang Sehat untuk Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs)
ABSTRAK Sari, Rossy Atika. 2012. Pengembangan Media Permainan Simulasi Pergaulan yang Sehat untuk Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs). Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Elia Flurentin, M.Pd., Pembimbing (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: permainan, simulasi, pergaulan sehat, siswa MTs Pergaulan yang sehat adalah sebuah interaksi sosial yang berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, dan memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh. Dalam hal ini, berarti remaja harus terbebas dari dampak dan bahaya rokok, NAPZA dan gaya berpacaran yang menyimpang. Rokok, NAPZA, dan pacaran, telah menjadi sebuah trend tersendiri di kalangan remaja yang “gaul”, seiring dengan semakin bebasnya pergaulan remaja sekarang. Untuk mencegah adanya remaja yang terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat, pemahaman tentang pergaulan yang sehat perlu diberikan kepada siswa sedini mungkin. Melihat permasalahan tersebut, serta karakteristik sebuah sekolah dengan latar belakang agama, khususnya Madrasah Tsanawiyah (MTs), diperlukan sebuah media yang tepat untuk memberikan informasi tentang pergaulan yang sehat ini. Salah satu media yang dapat dikembangkan yaitu media permainan simulasi. Pengembangan ini bertujuan menghasilkan media permainan simulasi berupa media permainan simulasi yang dapat digunakan konselor di sekolah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang pergaulan yang sehat. Melalui media ini, siswa diajak untuk melakukan aktivitas belajar yang menyenangkan, yaitu berdiskusi sambil bermain. Selain itu, juga dapat membantu siswa MTs dalam mengembangkan sikap sportif, belajar mentaati peraturan, komunikasi efektif, serta belajar menerima dan menghargai pendapat orang lain. Pengembangan beberan simulasi ini didesain dengan gambar dan pemilihan kata yang disesuaikan dengan karakteristik siswa MTs serta topik bahasan. Bentuk beberan simulasi ini diadopsi dari permainan pencarian jejak harta karun dimana ada beberapa batu pijakan yang harus ditelusuri oleh pemain dengan pion. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan yang diadopsi dari model pengembangan Borg and Gall, adapun prosedur pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) tahap pra pengembangan: melakukan pengamatan, need assessment, dan mengkaji literatur, 2) tahap pengembangan: merumuskan tujuan umum dan khusus, menyusun bahan dan materi (prototip produk), mengembangkan instrumen penilaian, 3) tahap uji coba produk: uji ahli, revisi produk dari hasil uji ahli, uji coba calon pengguna produk (konselor dan siswa), revisi produk dari hasil uji calon pengguna produk, produk jadi. Berdasarkan penilaian pertama oleh ahli materi BK terhadap item materi dari media permainan simulasi pergaulan yang sehat, ditinjau dari aspek ketepatan materi dan kebermanfaatannya, semua materi layak digunakan dalam kegiatan layanan bimbingan terkait pergaulan remaja yang sehat dengan melakukan perbaikan sesuai saran ahli materi BK. Penilaian kedua, penilaian dari ahli media berdasarkan aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan kemenarikan menunjukan bahwa media permainan simulasi pergaulan yang sehat sudah layak untuk digunakan. Penilaian ketiga, penilaian dari calon pengguna produk yaitu oleh konselor dan siswa. Penilaian dari konselor dan siswa terhadap media permainan simulasi ini, baik dari segi materi maupun media secara keseluruhan, menunjukkan bahwa media permainan simulasi tentang pergaulan remaja yang sehat ini sudah layak untuk digunakan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada: 1) konselor di MTs lain juga dapat menggunakan media permainan simulasi pergaulan yang sehat ini, 2) konselor dapat berkolaborasi dengan guru agama maupun pihak kesehatan dalam melaksanakan layanan bimbingan terkait pergaulan yang sehat melalui media permainan simulasi ini, 3) peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan uji kelompok besar sehingga produk media permainan simulasi tentang pergaulan remaja yanga sehat ini dapat dikembangkan menjadi lebih sempurna lagi, 4) peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan uji efektivitas, sehingga penggunaan media permainan simulasi pergaulan yang sehat ini dapat diketahui efektivitasnya dalam usaha preventif untuk menghindarkan remaja dari dampak dan bahaya pergaulan yang tidak sehat.
Pengembangan Materi Bimbingan Peningkatan Kepercayaan Diri melalui Permainan Ular Tangga untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
ABSTRAK Kepercayaan diri merupakan sesuatu hal yang sangat penting baik kita sebagai makhluk individu maupun sosial. Kurangnya kepercayaan diri merupakan suatu masalah yang harus diatasi guna tercapainya suatu tujuan tertentu. Terkait dengan masalah kepercayaan diri pada siswa, konselor mempunyai tugas untuk membimbing siswa agar lebih percaya diri, baik ketika tampil di depan kelas maupun percaya diri untuk bertanya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan konselor yaitu dengan bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan media ataupun tanpa media. Dalam bimbingan kelompok ini digunakan media beberan permainan ular tangga. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan materi bimbingan peningkatan kepercayaan diri melalui permainan ular tangga untuk siswa SMP/Sederajat yang dapat diterima secara teoritis maupun praktis yang dapat digunakan oleh konselor dalam membantu peserta didik untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan Borg and Gall. Adapun prosedur pengembangan menggunakan enam pendekatan yaitu sebagai berikut: 1) pengumpulan informasi, 2) pengembangan produk awal, 3) uji validasi produk, 4) revisi produk utama, 5) uji lapangan utama, 6) penyusunan produk akhir. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan berupa kuesioner need assessment dan kuesioner uji ahli. Data dianalisis dengan teknik deskriptif. Subyek coba dalam penelitian ini adalah siswa SMP kelas VII. Analisis hasil validasi menunjukkan bahwa pengembangan materi bimbingan peningkatan kepercayaan diri melalui permainan ular tangga ini berterima secara teoretis dan praktis. Berdasarkan penilaian ahli BK yang terdapat dalam media permainan ular tangga ditinjau dari aspek kegunaan, ketepatan, kejelasan, kemenarikan sudah sesuai dan layak untuk diterapkan dalam kegiatan layanan bimbingan. Penilaian ahli media berdasarkan aspek kegunaan, ketepatan, kejelasan, dan kemenarikan menunjukkan bahwa media permainan ular tangga sudah sesuai dan layak. Penilaian calon pengguna produk (konselor), media permainan ular tangga sudah sesuai dan layak ditinjau dari aspek kegunaan, ketepatan, kejelasan, dan kemenarikan. Hasil uji kelompok kecil menunjukkan bahwa kegiatan permainan ular tangga ini menarik serta menyenangkan bagi siswa, menambah wawasan, melatih peningkatan kepercayaan diri. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan adalah: 1) konselor dapat menggunakan materi bimbingan peningkatan kepercayaan diri melalui permainan ular tangga untuk siswa SMP, dan 2) peneliti selanjutnya hendaknya menguji keefektivan materi bimbingan peningkatan kepercayaan diri melalui permainan ular tangga, sehingga diketahui efektivitasnya untuk siswa SMP
Sikap dan Keterampilan Dasar Konselor Sebaya Di SMA Negeri 8 Malang
ABSTRAK Hariyanti, Fitri. 2012. Sikap dan Keterampilan Dasar Konselor Sebaya Di SMA Negeri 8 Malang. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. M. Ramli, M. A., (II) Dra. Elia Flurentin, M.Pd. Kata kunci: konselor sebaya, sikap dasar, keterampilan dasar. SMA Negeri 8 Malang sudah menerapkan konselor sebaya dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling. Konselor sebaya adalah tenaga paraprofesional (siswa) yang bekerja di bawah koordinasi konselor profesional yang membantu dalam pelayanan bimbingan konseling tertentu terhadap teman sebayanya. Keberadaan konselor sebaya di SMA Negeri 8 Malang sangat besar sekali perananya dalam program bimbingan dan konseling, khususnya bagi para siswa yang lebih nyaman bercerita pada orang yang seusianya daripada orang diatasnya, sehingga dengan keberadaan konselor sebaya di SMA Negeri 8 Malang sangat membantu konselor untuk menjangkau semua siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap dan keterampilan dasar konselor sebaya menurut siswa SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif (descriptive research). Populasi penelitian adalah siswa kelas X dan kelas XI SMA Negeri 8 Malang. Sampel penelitian diambil dengan teknik simple random Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Data penelitian dianalisis dengan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cukup banyak siswa yang menilai sikap dan keterampilan dasar koselor sebaya di SMA Negeri 8 Malang tinggi. Hal itu berarti bahwa konselor sebaya di SMA Negeri 8 Malang memiliki sikap dan keterampilan dasar yang baik. Berdasarkan hasil konkrit penelitian ini disarankan agar: (1) konselor SMA Negeri 8 Malang dapat menggunakan sikap dan keterampilan dasar sebagai acuan memilih konselor sebaya di sekolah, (2) konselor dapat melatih konselor sebaya dengan sikap dan keterampilan dasar sehingga menghasilkan konselor sebaya yang berkompeten, dan (3) peneliti selanjutnya dapat melaksanakan penelitian tindakan bimbingan guna untuk mengetahui keefektifan pelatihan konselor sebaya dengan sikap dan keterampilan dasar konselor sebaya dari hasil penelitian.
Pengembangan Media Informasi Sekolah Lanjutan Dalam Bentuk Blog Di SMP Negeri 2 Lumajang
ABSTRAK Silvia, Meita. 2012. Pengembangan Media Informasi Sekolah Lanjutan Dalam Bentuk Blog di SMP Negeri 2 Lumajang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd (II) Dr. Triyono, M.Pd. Kata Kunci: Layanan Informasi, Siswa SMP, Sekolah Lanjutan, Blog Sekolah lanjutan merupakan pendidikan yang ditempuh setelah lulus dari jenjang pendidikan sebelumnya. Siswa SMP setelah lulus akan melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Atas sebutan untuk tahap kedua dalam sekolah lanjutan setelah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Indonesia. Bimbingan dan konseling sebagai salah satu usaha bantuan bagi siswa SMP, berkewajiban untuk menyiapkan siswa agar mengetahui dan dapat memilih sekolah lanjutan setelah lulus SMP. Layanan informasi adalah salah satu usaha bimbingan dan konseling untuk memberikan informasi kepada siswa dalam menentukan pilihan sekolah lanjutannya. Salah satu media yang dapat digunakan dalam pemberian informasi adalah media informasi sekolah lanjutan dalam bentuk blog. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan media informasi sekolah lanjutan dalam bentuk blog di SMP Negeri 2 Lumajang, yang memenuhi kriteria kegunaan, kemudahan, kemenarikan, dan ketepatan. Metode penelitian mengadaptasi pendapat Borg dan Gall meliputi tahap: (1) penelitian awal (need assesment), (2) perencanaan berupa penyusunan langkah-langkah dan rancangan produk, (3) pengembangan produk awal, (4) melakukan uji coba, dan (5) merevisi hasil uji coba. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket penilaian menghasilkan data kuantitatif dan kualitatif. Analisis data kuantitaif menggunakan teknik analisis rata-rata, sedangkan teknik analisis deskriptif untuk data kualitatif. Hasil penilaian dari para ahli menunjukkan bahwa produk media informasi sekolah lanjutan dalam bentuk blog telah memenuhi kriteria kegunaan, kemudahan, kemenarikan dan ketepatan. Berdasarkan analisis uji ahli materi didapat hasil sangat berguna, cukup mudah, cukup menarik dan cukup tepat. Dari uji ahli media didapat hasil sangat berguna, sangat menarik dan cukup tepat. Dari uji coba pengguna produk didapat hasil sangat berguna, sangat mudah, sangat menarik, dan sangat tepat. Sedangkan dari uji kelompok kecil hasil yang didapat yaitu sangat berguna, sangat menarik, dan sangat tepat. Sehingga produk media informasi sekolah lanjutan dalam bentuk blog ini layak digunakan sebagai salah satu media bimbingan di sekolah. Saran bagi konselor hendaknya mempelajari panduan terlebih dahulu sebelum menggunakan media informasi sekolah lanjutan dalam bentuk blog ini. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya agar meneruskan penelitian ini untuk menguji tentang keefektifan media informasi sekolah lanjutan dalam bentuk blog ini dan diharapkan adanya inovasi dari peneliti lanjut untuk mengembangkan produk ini dengan menambahkan informasi tentang sekolah-sekolah lanjutan lainnya yang lebih luas.
Pengembangan Informasi Perencanaan Karier Keluar Negeri
ABSTRAK Hanggraeni, Ria Dwi. 2012. Pengembangan Informasi Perencanaan Karier Keluar Negeri. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling, Fakultas Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, (II) Drs.Djoko Budi Santoso. Kata kunci: informasi, perencanaan karier, tenaga kerja Indonesia Siswa SMK PGRI Turen berasal dari daerah yang sebagian besar warganya bekerja keluar negeri. Sebagai mana diketahui faktor lingkungan dapat mempengaruhi pilihan karier siswa. Sehingga tidak menutup kemungkinan siswa SMK PGRI Turen berminat untuk bekerja ke luar negeri, hal itu dipengaruhi lingkungan rumah dan sekolah yang menunjukkan besarnya minat bekerja keluar negeri. Sehingga konselor perlu memberikan informasi tentang bekerja keluar negeri kepada siswa. Tujuan peneliti ini yaitu untuk mengembangkan buku paket dan buku pedoman informasi perencanaan karier keluar negeri dalam bentuk paket yang berterima secara teoritis. Hal itu bertujuan agar siswa memahami dan mengenal lingkungan kerja diluar negeri. Sehingga siswa dapat merencanakan kariernya sesuai kemampuan yang dimiliki. Penelitian pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian Borg and Gall, dimana dalam penerapan pengembangannya dilakukan adaptasi sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan penelitian. Langkah penelitian yang dilakukan ada 7 tahap yaitu: (1) Tahap persiapan. (2) Pembuatan produk. (3) Validasi produk. (4) Revisi produk. (5) Uji coba produk. (6) Revisi produk. (7) Penyusunan Produk akhir. Desain uji coba dilakukan sebanyak 2 tahap yaitu: (1) Uji coba calon pengguna. (2) Uji coba kelompok kecil. Subyek coba/ uji ahli dilakukan oleh ahli BK dan ahli media. Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data dianalisis dengan menggunakan rumus rata-rata. Hasil pengembangan berupa buku paket dan buku pedoman perencanaan karier keluar negeri. Hasil validasi menunjukkan bahwa produk ini telah memenuhi syarat keberterimaan yaitu: keguna, ketepat, kejelas, keefektif, keterlaksana, kemenarik. Dari angket ahli BK, ahli media dan calon pengguna/konselor, peneliti mendapatkan rata-rata penilaian terhadap buku panduan yaitu 3,2 dan buku pedoman 3,1. Untuk mengetahui efektifitas produk, juga dilakukan uji coba kelompok kecil hingga mendapatkan rata-rata penilaian 3,5. Kesimpulan dari hasil uji coba menunjukkan bahwa produk memenuhi syarat keberterimaan. Saran yang dapat disampaikan sebagai berikut, (1) Bagi konselor di SMK sebaiknya dalam menggunakan paket untuk memberikan informasi perencanaan karier keluar negeri menggunakan variasi permainan maupun teknik bimbingan yang lain. Variasi yang menarik dalam pemberian informasi dapat menambah ketertarikan siswa dalam mengikuti informasi. (2) Pengembangan buku paket perencanaan karier keluar negeri telah dilakukan sampai pada uji coba produk pada kelompok kecil, namun belum dilakukan uji lapangan. Oleh karena itu saran bagi peneliti selanjutnya agar melakukan uji lapangan sehingga produk yang sedang dikembangkan dapat diketahui efektifitasnya.
Keefektifan Bibliokonseling untuk Meningkatkan Kesadaran Toleransi Siswa SMP
ABSTRAK Kamaningtyas, Nindya. 2012. Keefektifan Bibliokonseling untuk Meningkatkan Kesadaran Toleransi Siswa SMP. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dany M. Handarini, M.A., (2) Dr. Triyono, M.Pd Kata kunci: toleransi, bibliokonseling, cerita pendek, kesadaran toleransi Toleransi adalah menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Rendahnya toleransi di kalangan siswa dapat menyebabkan adanya pelecehan antar siswa, pengintimidasian, perkelahian dan juga adanya kekerasan. Toleransi siswa dapat ditingkatkan melalui aplikasi teknik bibliokonseling. Bibliokonseling yang digunakan adalah cerita pendek yang dalam penerapannya memiliki beberapa tahap meliputi siswa diberikan waktu untuk membaca cerita pendek, diskusi refleksi isi cerita, refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen dan refleksi pengalaman. Penggunaan bibliokonseling dapat memperluas wawasan siswa mengenai keanekaragaman nilai-nilai yang dianggap berharga untuk membangun aspek-aspek kemanusiaan yang mengarah pada kepedulian, belas kasihan, empati, dan menerima adanya perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan bibliokonseling untuk meningkatkan kesadaran toleransi siswa SMP dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu jenis pretest posttest one group design. Subjek penelitian berjumlah sepuluh orang siswa SMP yang memiliki kriteria toleransi rendah yang diukur dengan menggunakan skala toleransi siswa SMP. Pemberian treatment dengan menggunakan bibliokonseling berupa cerita pendek dilakukan dalam sebelas kali pertemuan yang diawali dengan kegiatan ice breaking pada pertemuan pertama. Sedangkan untuk sepuluh kali pertemuan selanjutnya diberikan satu cerita pendek setiap pertemuan untuk direfleksi. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala toleransi siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon dan berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek efektif untuk meningkatkan toleransi siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor pada postes di akhir pertemuan. Oleh sebab itu, maka diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) aplikasi teknik bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek hendaknya diperhatikan apakah tema cerita sesuai dengan tingkat kemampuan membaca dan usia siswa, tulisan harus menarik serta melatih siswa untuk berfikir, merasakan dan mengartikan makna yang bisa diambil dari cerita, dan alur kisah tidak terlalu rumit sehingga siswa memperoleh wawasan tentang keanekaragaman nilai-nilai yang dianggap berharga bagi manusia, serta (2) peneliti selanjutnya dapat menggunakan kelompok kontrol atau jenis penelitian time series.
Keefektifan Metode Klarifikasi Nilai untuk Meningkatkan Kesadaran akan Nilai Memaafkan Siswa SMP
ABSTRAK Wahyuni, Nova Dwi. 2012. Keefektifan Metode Klarifikasi Nilai untuk Meningkatkan Kesadaran akan Nilai Memaafkan Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A, (2) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd Kata kunci: klarifikasi nilai, kesadaran memaafkan, contoh kasus Kesadaran akan nilai memaafkan sangat penting untuk dimiliki sehingga dapat menciptakan individu yang mampu memaafkan yang nantinya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan kurangnya kesadaran akan nilai memaafkan merupakan penghalang bagi individu untuk berkembang dan bersikap positif, khususnya remaja. Kurangnya kesadaran akan nilai memaafkan pada siswa SMP ditunjukan pada aspek kesewenang-wenangan, yaitu saling mengejek antara teman yang satu dengan yang lainnya, saling berebut pacar, mengadu domba teman, dan seringnya terjadi kesalahpahaman antar teman. Klarifikasi nilai memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai yang dimiliki, yang didalamnya terdapat nilai-nilai memaafkan sebagai bahan bacaan. Tahap-tahapnya yaitu memberikan contoh kasus, refleksi diri, uji coba komitmen terkait dengan pengalaman subyek, dan pengembangan komitmen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai memaafkan siswa SMP. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP yang berjumlah 11 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian one-group pretest-postest design. Pengumpulan data yang digunakan berupa skala kesadaran akan nilai memaafkan siswa SMP yang diberikan pada awal (pretest) dan akhir (postest) perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik non parametrik yaitu dengan menggunakan uji wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa klarifikasi nilai dengan menggunakan contoh kasus efektif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai memaafkan siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor postest di akhir pertemuan. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) bagi konselor, konselor perlu memberikan jeda waktu antara perlakuan satu dengan perlakuan berikutnya agar hasil yang diperoleh sesuai dengan hasil perlakuan, dan konselor perlu mempersiapkan bahan bacaan/kasus yang sesuai dengan usia kelompok eksperimen/sesuai dengan tahap-tahap perkembangan siswa mengenai masalah yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari. (2) bagi peneliti selanjutnya, jika menggunakan metode klarifikasi nilai maka perlu diperhatikan langkah-langkah klarifikasi nilai, dan sebelum melakukan penelitian, sebaiknya peneliti melakukan kegiatan need assessment terlebih dahulu mengenai kasus-kasus yang sering dijumpai pada siswa dalam kehidupan sehari-hari.