SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN PANDUAN KETERAMPILAN SOSIAL DENGAN TEKNIK SOSIODRAMA UNTUK SISWA KELAS III
ABSTRAK Setiawati, Ria. 2013. Pengembangan Panduan Keterampilan Sosial dengan Teknik Sosiodram untuk Siswa Kelas III. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Elia Flurentin, M.Pd (II) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd. Kata kunci: sosiodrama, keterampilan sosial, siswa SD Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Hakikat manusia sebagai makhluk sosial, menuntut manusia untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang memiliki aturan dan norma masing-masing. Untuk dapat menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial dan dapat diterima oleh lingkungan, manusia harus memiliki keterampilan sosial dalam bergaul. Keterampilan sosial merupakan keterampilan yang harus dimiliki seseorang yang hubungannya dengan orang lain agar dapat diterima dengan baik oleh lingkungan. Keterampilan sosial tidak bisa begitu saja dikuasai tanpa adanya latihan sejak dini. Masa anak mulai matang adalah usia 9 atau 10 tahun yang setara dengan siswa kelas III , sehingga di masa ini anak akan lebih mudah mempelajari keterampilan sosial yang menjadi bekal mereka untuk hidup dalam lingkungan sosial. Dari hal tersebut, maka dikembangkan suatu panduan keterampilan sosial dengan teknik sosiodrama untuk siswa kelas III SD. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa Panduan Keterampilan Sosial dengan Teknik Sosiodrama Untuk Siswa Kelas 3 di SDN Purwoasri 01 Kabupaten Malang yang dapat digunakan oleh konselor atau guru dalam memberikan layanan bimbingan kepada siswa sehingga siswa memiliki keterampilan sosial. Dalam pengembangan ini, peneliti menggunakan model pengembangan (Research and Development) Borg dan Gall. Tahapan yang digunakan adalah 1) menentukan masalah dan potensi penelitian, 2) mengumpulkan data, 3) mendesai produk, 3) penilain uji ahli, 4) perbaikan atau revisi produk, 5) uji coba produk, 6) uji coba pemakaian, dan 7) revisi produk akhir. Produk yang dikembangkan telah melewati beberapa uji ahli, yaitu uji ahli bimbingan dan konseling serta uji ahli drama. Dari hasil uji ahli bimbingan dan konseling, secara kuantitatif rerata akhir keseluruhan dari format penilaian uji ahli BK menunjukkan sko r3,1 artinya adalah penilain terhadap produk sangat layak. Dari hasil uji ahli drama, secara kuantitatif hasil rerata akhir menunjukkan skor 3,2 yang artinya skenario tersebut sangat layak. Selanjutnya, uji calon pengguna produk dan uji kelompok kecil yaitu siswa kelas III SDN Purwoasri 01. Berdasarkan hasil uji coba tersebut, diperoleh hasil produk panduan keterampilan sosial dengan teknik sosiodrama untuk siswa kelas III SDN Purwoasri 01 Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil diperoleh, maka pengguna produk perlu mempelajari lebih dalam isi produk agar bisa kegiatan bimbingan dapat berjalan dengan baik. Bagi peneliti selanjutnya, produk ini dapat digunakan untuk penelitian dalam menilai efektivitas produk
KEEFEKTIFAN TEKNIK BIBLIOKONSELING UNTUK MENINGKATKAN SIKAP ALTRUISME PADA SISWA SMP NEGERI 7 PROBOLINGGO
ABSTRAK Tithasari, Arien. 2013. Keefektifan Bibliokonseling Untuk Meningkatkan Sikap Altruisme pada Siswa SMP Negeri 7 Probolinggo. Skripsi , Jurusan Bimbingan dan Konseling , Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra.Elia Flurentin, M.Pd., (II) Arbin Janu Setyowati, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: Perilaku Altruisme, Bibliokonseling, Siswa SMP Masa remaja adalah masa dimana seseorang mulai memiliki minat-minat dan keinginan untuk lebih berarti, lebih berguna bagi lingkungan masyarakat. Keinginan tersebut dapat diwujudkan, salah satunya dengan cara membantu sesama dalam berbagai hal. Dengan menolong sesama yang membutuhkan bantuan, seseorang bisa mewujudkan keinginannya untuk menjadi lebih berguna bagi siapapun. Perilaku menolong orang lain dan memberi manfaat bagi orang lain yang ditolong dengan suka rela tanpa meminta balasan disebut dengan perilaku altruisme. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kefektifan penggunaan bibliokonseling dalam meningkatkan sikap altruisme siswa SMP Negeri 7 Probolinggo . Hipotesis penelitian yaitu teknik bibliokonseling efektif untuk meningkatkan sikap altruisme siswa SMP Negeri 7 Probolinggo. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen semu jenis pretest posttest one group design. Subjek penelitian berjumlah enam orang siswa SMP yang memiliki kriteria altruisme rendah . Pemberian treatment dengan menggunakan bibliokonseling berupa cerita pendek dilakukan dalam enam kali pertemuan yang diawali dengan pembinaan hubungan baik/rapport. Sedangkan untuk lima kali pertemuan digunakan untuk pemberian treatment yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi dan refleksi serta pemberian tugas sebagai bahan evaluasi. Instrumen pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala altruisme siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon . Dari hasil uji statistik di atas diperoleh Asymp. Sig.= 0,000 < 0,005, H1 diterima, dapat ditarik kesimpulan bahwa teknik bibliokonseling efektif untuk meningkatkan sikap altruisme pada siswa SMP Negeri 7 Probolinggo. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor pada posttest di akhir pertemuan. Ada tiga saran dalam penelitian ini yang ditujukan pada pihak sekolah, konselor serta pada peneliti selanjutnya. Disarankan kepada pihak sekolah agar memperhatikan dan memantau sikap altruisme siswa serta dapat memanfaatkan hasil penelitian. Kepada konselor untuk dapat membantu siswa meningkatkan sikap altruisme dengan mengembangkan ilmu dalam bidang bimbingan konseling dalam praktik layanan-layanan konseling yang tepat terhadap siswa yang memiliki sikap altruisme rendah. Kepada peneliti lanjutan agar mempertimbangkan lamaya treatment, menggunakan stimulasi yang bervariasi serta menggunakan bacaan yang lebih menarik dan aplikatif
Pengembangan Multimedia Interaktif Bahaya Penyalahgunaan NAPZA sebagai MediaLayananInformasibagi Siswa Kelas VIII SMPNegeri 2 Malang
ABSTRAK Sari, Jayanti Arum. 2013. Pengembangan Multimedia Interaktif Bahaya Penyalahgunaan NAPZA sebagai Media Layanan Informasi bagi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ella Faridati Zen, M. Pd, (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: Multimedia Interaktif, Layanan Informasi, Bahaya Penyalahgunaan NAPZA. Penelitian ini dilatarbelakangi semakin merebaknya masalah penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika dan zata diktif)di kalangan remaja. Masa remaja adalah masa transisi, dimana pada masa ini mempunyai kesempatan untuk mencoba bertingkahl aku yang baru dan identik dengan masa pencarian jati diri. Namun sering kali dalam pencarian jati diri ini remaja cenderung salah dalam bergaul sehingga banyak melakukan hal yang menyimpang seperti penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif). Selainitu di SMP Negeri 2 Malang belum mempunyai media yang memberikan informasi secara lengkap tentang bahaya penyalahgunaan NAPZA. Sehingga diperlukan suatu media yang dapat memberikan informasi dan pemahaman akan bahay apenyalahgunaan NAPZA bagisiswa. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa multimedia interaktif sebagai media layanan informasi bahaya penyalah gunaan NAPZA di SMPNegeri 2 Malang dan sebagai salah satu media yang dapat digunakan konselord alam memberikan layanan informasi bahaya penyalahgunaan NAPZAyang memiliki syarata kseptabilitas dari aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (development research) yang mengadaptasi model pengembangan Borg and Gall (1983: 775).Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan meliputi (1) identifikasi kebutuhan;(2) perumusaantujuanbimbingan (tujuan umum dantujuankhusus); (3) penyusunan bentuk produk awal; (4) uji coba produk (ahli media, materi, calon pengguna produk, dan kelompok kecil; (5) revisi produk; dan (6) produk akhir. Analisis data kebutuhan siswa menggunakan teknik analisis data persentase. Sedangkan analisis data uji ahli, calon pengguna produk dan uji kelompok kecil menggunakan teknik analisis statistik deskriptif yaitu rata-rata (mean). Hasil produk pengembangan ini berupa multimedia interaktif bahaya penyalahgunaan NAPZA sebagai media layanan informasi bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang dan buku panduan penggunaan atau manual book untuk konselor. Berdasarkan hasil analisis data penilaian para ahli,calon pengguna produk, dan uji kelompok kecil serta revisi-revisi yang yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan menunjukkan bahwa multimedia interaktif bahaya penyalahgunaan NAPZA sebagai media layanan informasi bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang memenuhi syarata kseptabilitas dariaspek ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan. Saran pemanfaatan yang diberikan untuk konselor adalah (1) konselor disarankan untuk mendampingi siswa dalam penerapannya di laboratorium komputer sebagai fasilitator; (2) konselor disarankan dapat memuat media layanan informasi bahaya penyalahgunaan NAPZA dalam website sekolah untuk memperluas penggunaannya.Sedangkan saran untuk pengembangan produk lebih lanjut adalah (1) peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan lebih lanjut materi dalam multimedia menjadi paket pelatihan maupun pengembangan dengan jenis lainnya; (2) disarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas penggunaan media layanan informasi bahaya penyalahgunaan NAPZA terhadap pemahaman siswa atau penelitian tindakan dalam bimbingan.
Keefektifan Teknik Self Instruction untuk Meningkatkan Self Efficacy dalam Belajar Siswa Kelas VII di SMP Negeri 3 Malang
ABSTRAK Widiyanti, Ayu. 2013. Keefektifan Teknik Self Instruction untuk Meningkatkan Self Efficacy dalam Belajar Siswa Kelas VII di SMP Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Muslihati, S.Ag., M.Pd (II) Yuliati Hotifah, S.Psi., M.Pd Kata kunci: teknik self instruction, self efficacy, belajar Belajar merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh setiap siswa untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan siswa di sekolah ditandai dengan prestasi belajar yang diperolehnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar siswa adalah self efficacy. Self efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mendapatkan hasil yang baik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Siswa yang memiliki self efficacy rendah cenderung mencerminkan ketidakyakinannya dalam mengerjakan soal ujian maupun tugas, siswa terlihat cemas ketika mengerjakan soal ujian, siswa merasa terbebani dengan adanya tugas maupun kurangnya semangat untuk belajar. Pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki self efficacy rendah dalam belajar dapat dilakukan dengan teknik self instruction. Teknik self instruction adalah teknik yang memberikan keterampilan bantu diri agar siswa dapat mengatasi situasi sulit yang mengganggu keyakinannya dalam belajar dengan cara mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif untuk selanjutnya diucapkan kepada diri sendiri dengan suara lantang, samar dan dalam hati. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keefektifan teknik self instruction untuk meningkatkan self efficacy dalam belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimental jenis one group pretest-posttest design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII sebanyak 8 siswa sebagai kelompok eksperimen yang dipilih berdasarkan hasil pretest siswa yang memiliki self efficacy rendah. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan hasil pretest dan posttest pada kelompok eksperimen. Sedangkan analisis proses didapatkan dari hasil observasi. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan antara hasil pretest dan posttest. Terjadi peningkatan self efficacy belajar siswa yang rendah menjadi sedang dan tinggi. Dengan demikian, teknik self instruction efektif untuk meningkatkan self efficacy dalam belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Malang. Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran sebagai berikut: (1) konselor diharapkan mampu menerapkan teknik self instruction dan membuat agenda secara terprogram dalam memberikan layanan bimbingan belajar maupun konseling untuk meningkatkan self efficacy siswa. (2) siswa diharapkan serius berlatih menerapkan teknik self instruction dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (3) peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan kelompok kontrol dan memperluas subjek penelitian. (4) peneliti selanjutnya diharapkan melakukan perpaduan teknik untuk meningkatkan self efficacy dalam belajar siswa. (5) peneliti selanjutnya dapat mengembangkan buku panduan mengenai penerapan teknik self instruction untuk meningkatkan self efficacy dalam belajar siswa
Pengembangan Paket Pelatihan Efikasi Diri dengan Model SLA (Structured Learning Approach) untuk siswa Kelas VII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang)
ABSTRAK Rahmita, Elvin Bahru. 2013. Pengembangan Paket Pelatihan Efikasi Diri dengan Model SLA (Structured Learning Approach) untuk Siswa Kelas VII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing : (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd (II) Drs. Harmiyanto, M.Pd Kata kunci : Paket Pelatihan, Efikasi Diri, Structured Learning Approach Salah satu tugas perkembangan remaja adalah menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri. Pada kenyataannya, masih banyak remaja kurang mampu menerima dirinya dan kurang percaya terhadap kemampuan diri karena rendahnya keyakinan dari dalam diri untuk menghadapi situasi yang tidak menentu. Akibatnya, remaja sulit untuk menghadapi segala situasi yang tidak menentu dan cenderung menghindari tugas atau tantangan yang sulit. Untuk membantu siswa dalam meningkatkan keyakinan diri dalam menghadapi segala situasi maka diperlukan pelatihan efikasi diri. Berdasarkan hasil wawancara, ternyata konselor belum pernah melaksanakan pelatihan efikasi diri karena belum ada media yang dapat membantu konselor dalam memberikan pelatihan efikasi diri. Oleh karena itu, salah satu media yang dapat membantu konselor dalam memberikan pelatihan efikasi diri adalah paket pelatihan efikasi diri. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach) untuk siswa kelas VII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang yang berupa panduan konselor dan buku latihan siswa yang dapat berterima secara teoritis dan praktis dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan. Metode yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall (1983). Tahap-tahap pengembangan meliputi : (1) Melakukan analisis kebutuhan siswa, (2) Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus paket pelatihan, (3) Menyusun prototype paket pelatihan, (4) Penilaian produk oleh uji ahli, (5) Penilaian produk oleh uji calon pengguna produk, (6) Uji kelompok kecil, (7) Revisi produk, (8) Produk akhir paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach). Analisis data kebutuhan siswa menggunakan teknik analisis data prosentase. Analisis data uji ahli dan calon pengguna produk menggunakan teknik analisis data rata-rata. Hasil penilaian dari para ahli menunjukkan bahwa produk paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach) yang berupa buku panduan konselor dan buku latihan siswa telah memenuhi kriteria kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan. Berdasarkan analisis uji ahli Bimbingan dan Konseling didapat hasil sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat mudah. Dari uji ahli media didapat hasil sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat mudah. Dari uji calon pengguna produk didapat hasil sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat mudah. Sehingga paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach) ini dinilai sangat mudah untuk dilaksanakan sehingga produk ini dikatakan layak sebagai salah satu media bimbingan di sekolah. Saran yang diajukan peneliti terkait pemanfaatan, a) Konselor diharapakan mempelajari petunjuk penggunaan paket pelatihan efikasi diri yang ditulis pada panduan konselor, memahami konsep tentang efikasi diri dengan membaca materi pada bagian lampiran, dan memahami prosedur pelatihan efikasi diri pada tahap kegiatan, b) Siswa diharapkan aktif terlibat dalam setiap kegiatan, karena jika tidak mengikuti satu kegiatan maka akan kesulitan untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Saran untuk desiminasi produk yaitu disarankan kepada konselor SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang untuk menyebarluaskan paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach) kepada rekan sejawat agar produk ini dapat digunakan secara luas. Namun perlu diadakan uji efektivitas terlebih dahulu terhadap paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach) sebagai upaya penyempurnaan produk ini. Sedangkan saran untuk pengembangan produk lebih lanjut yaitu bagi peneliti selanjutnya, apabila berminat bisa melakukan uji lapangan atau kelompok besar, sehingga media yang dikembangkan ini dapat bermanfaat bagi lebih banyak pengguna dan bisa melakukan penelitian terhadap paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach) untuk mengetahui keefektifan pengembangan paket pelatihan efikasi diri dengan model SLA (Structured Learning Approach) ini.
Pengembangan Panduan Pelatihan Sikap Dasar Calon Konselor di Universitas Negeri Malang dengan Pendekatan Pembelajaran Experiential
ABSTRAK Damayanti, Evi Febry. 2013. Pengembangan Panduan Pelatihan Sikap Dasar Calon Konselor di Universitas Negeri Malang dengan Pendekatan Pembelajaran Experiential Learning. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd. (II) Dr. Dany M. Handarini,M.A. Kata kunci : Sikap Dasar, Konselor, Experiential Learning Penelitian pengembangan panduan pelatihan sikap dasar calon konselor di Universitas Negeri Malang dengan pendekatan pembelajaran experiential dilatarbelakangi sikap mahasiswa S1 Bimbingan dan Konseling saat melaksanakan praktikum konseling yang belum menunjukkan sikap dasar seorang konselor profesional pada pelaksanaan praktikum. Selain itu, pengenalan, penanaman, dan pengembangan sikap dasar di kalangan calon konselor kurang memberikan kesempatan mahasiswa untuk berlatih dan belajar secara langsung berdasarkan pengalamannya, sehingga diperlukan suatu panduan pelatihan sikap dasar bagi calon konselor dengan pendekatan experiential learning. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan panduan pelatihan sikap dasar calon konselor dengan pendekatan experiential learning yang berterima secara teoritis dan praktis baik dari segi kegunaan, ketepatan, keakuratan, dan kelayakan. Panduan yang akan dihasilkan dapat digunakan pada masa orientasi mahasiswa baru atau kegiatan PKPT (Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi) dan matakuliah-matakuliah kelompok konseling khususnya matakuliah Keterampilan Dasar Komunikasi. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (research and development) yang mengadaptasi model pengembangan Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan sebagai berikut: 1) tahap I perencanaan: studi literatur, analisis potensi masalah sikap dasar calon konselor di Universitas Negeri Malang, dan need assessment; 2) tahap II pengembangan produk: penyusunan tujuan dan penyusunan prototype panduan pelatihan; 3) tahap III uji coba produk: uji ahli (uji ahli konseling dan uji ahli media), uji calon pengguna produk, revisi produk hasil uji calon pengguna produk, uji coba produk terbatas (uji kelompok kecil); 4) tahap IV pengakhiran: revisi produk hasil uji kelompok kecil dan menghasilkan produk akhir panduan pelatihan sikap dasar calon konselor dengan pendekatan experiential learning. Produk ini terdiri dari panduan bagi dosen dan panduan bagi mahasiswa. Panduan bagi dosen terdiri dari kata pengantar, daftar isi, bab I pendahuluan (latar balakang, tujuan, sasaran pemakai, pokok-pokok materi, media yang digunakan dalam pelatihan, instrumen yang digunakan dalam pelatihan, waktu, dan fasilitator), bab II petunjuk penggunaan (petunjuk penggunaan panduan dan tahap-tahap experiential learning), bab III prosedur pelatihan (topik I:empati yang akurat, topik II: penerimaan positif tanpa syarat, dan topik III: ketulusan), bab IV evaluasi (lembar evalusi dan rubrik evaluasi pelatihan), daftar rujukan, dan lampiran. Panduan bagi mahasiswa terdiri dari kata pengantar, daftar isi, bab I petunjuk penggunaan (petunjuk penggunaan panduan dan peran fasilitator dan mahasiswa), bab II prosedur pelatihan (topik I: empati yang akurat, topik II:penerimaan positif tanpa syarat, topik III: ketulusan), bab III evaluasi (lembar dan rubrik evaluasi pelatihan), daftar rujukan, dan lampiran. Selain itu panduan pelatihan sikap dasar calon konselor dengan pendekatan experiential learning ini juga dilengkapai dengan kata-kata petuah yang memberikan motivasi dan gambar pada sampul pergantian bab. Berdasarkan hasil analisis data penilaian uji ahli dan calon pengguna produk serta revisi-revisi yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan terhadap panduan pelatihan sikap dasar calon konselor dengan pendekatan experiential learning, dapat disimpulkan bahwa panduan pelatihan ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak secara teoritis dan praktis. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar 1) Jurusan Bimbingan dan Konseling memberikan dan mengadakan pengenalan, pembekalan, dan pelatihan sikap dasar kepada mahasiswa baru Bimbingan dan Konseling pada kegiatan PKPT; 2) Dosen kelompok konseling, khususnya dosen pengampu matakuliah Keterampilan Dasar komunikasi sebagai pengguna produk menerapkan pembelajaran dengan pendekatan experiential learning kepada mahasiswa, sehingga mahasiswa berkesempatan untuk mengalami, merefleksikan, merencanakan, dan melatihkan secara langsung sikap-sikap dasar konselor. Penggunaan pendekatan experiential learning akan lebih memudahkan mahasiwa untuk dapat menguasai sikap-sikap dasar konselor dan menumbuhkan keaktifan mahasiswa; 3) Panduan pelatihan sikap dasar calon konselor dengan pendekatan experiential learning ini dapat dilanjutkan dengan penelitian eksperimen dan/atau penelitian tindakan kelas guna diperoleh hasil yang lebih akurat.
EFEKTIFITAS KONSELING KELOMPOK KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENGURANGI KECEMASAN SISWA KELAS X SMK N 5 MALANG
ABSTRAK Utami, Sri Hidayati. 2013. Efektifitas Konseling Kelompok Kognitif-Perilaku untuk Mengurangi Kecemasan Siswa Kelas X SMK N 5 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Arbin Janu Setiyowati S.Pd, M.Pd. Kata kunci : Konseling kelompok, Kognitif-perilaku, Kecemasan tampil, siswa SMK Siswa yang akan tampil di depan kelas sering mengalami kecemasan. Salah satu gejalanya tampak dari tangan gemetar, bicara terbata-bata, raut muka memucat dan sebagainya. Hal tersebut terjadi karena suatu perilaku tidak adaptif yang diakibatkan oleh pemikiran-pemikiran (kognisi) tidak realistis, dimana hal tersebut dapat menghambat potensi yang mereka miliki dan menimbulkan masalah-masalah lainnya. Upaya untuk menangani permasalahan tersebut dengan menggunakan konseling kognitif-perilaku, yang dilakukan dengan 6 tahap dengan menggunakan teknik self-instruction yang dikembangkan oleh Meichenbaum. Self-instruction adalah teknik pengajaran diri yaitu memerintahkan kepada diri-sendiri dengan kalimat positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas konseling kognitif-perilaku untuk mengurangi kecemasan tampil di depan kelas pada siswa kelas X SMK N 5 Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan eksperimen semu (quasi experiment/pre ekperimental design) dengan desain Pre-test and Post-test Group. Subjek dipilih dengan teknik purposive sampling dengan menggunakan angket kecemasan tampil di depan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas X.2 Tekstil. Subjek terdiri dari lima siswa yang dipilih berdasarkan skor angket yang memiliki tingkat kecemasan tertinggi. Penelitian ini menggunakan metode analisis data statistik non-parametrik. Sesuai dengan hal tersebut, peneliti menggunakan tes tanda (sign test). Sign test yang dimaksud adalah dengan membandingkan kondisi berbeda hasil pre-test dan post-test kecemasan tampil di depan kelas setelah pemberian perlakuan (treatment) konseling kelompok kognitif-perilaku pada subjek (kelompok eksperimen). Dari penelitian yang dilakukan kelima subjek bertanda (-) hal itu dilihat dari skor pre-test > post-test dengan signifikasi 0,03
PENGEMBANGAN PAKET BIMBINGAN ETIKET PERGAULAN UNTUK SISWA SMP NEGERI 2 TULUNGAGUNG
ABSTRAK Ermawati, Ardila Yuni. 2013. Pengembangan Paket Bimbingan Etiket Pergaulan untuk Siswa SMP Negeri 2 Tulungagung. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembim-bing: (I) Dr. M. Ramli, M.A., (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: Paket bimbingan, etiket pergaulan, siswa SMP. Masa remaja sering dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan ketidakwajaran. Remaja khusunya siswa harus dapat mem-bawa dirinya agar tidak sampai terjadi penyimpangan dalam melaksanakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga mereka dapat diterima de-ngan baik dalam lingkungan pergaulannya sehari-hari. Etiket pergaulan meru-pakan tata cara yang harus diperhatikan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Berkaitan dengan itu, maka remaja membutuhkan pengetahuan mengenai tata cara berperilaku dalam kehidupan sosial agar terhindar dari perilaku yang dapat menimbulkan penolakan dari lingkungannya. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan suatu paket bimbingan etiket pergaulan siswa SMP dan panduannya yang memiliki keberterimaan dari segi teori dan praktis yang memenuhi syarat ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan sehingga dapat digunakan konselor sebagai sarana dalam memberikan layanan bimbingan etiket di sekolah. Pengembangan paket bimbingan ini, diadaptasi dari langkah-langkah model pengembangan Borg and Gall. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: (1) penelitian dan pengumpulan data; (2) perencanaan penelitian; (3) pengem-bangan produk awal; (4); Uji ahli dan revisi I (5) Uji calon pengguna produk dan revisi II (6) produk akhir. Uji ahli dan uji calon pengguna produk dilakukan untuk mengetahui keberterimaan produk secara teori dan praktis. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah angket format penilaian dan lembar saran. Adapun hasil pengisian angket oleh ahli dan calon pengguna produk kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif jenis tendensi sentral mean dan kualitatif deskriptif. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa paket bimbingan etiket perga-ulan untuk siswa SMP Negeri 2 Tulungagung memiliki kategori sebagai berikut: dari hasil 1) uji ahli materi BK, menunjukkan bahwa produk mudah, sangat berguna, tepat, dan menarik; 2) uji ahli media, menunjukkan bahwa produk sangat berguna, mudah, sangat tepat, dan sangat menarik; 3) uji calon pengguna produk konselor, menunjukkan bahwa produk sangat berguna, mudah, sangat tepat dan sangat menarik; dan 4) uji kelompok kecil, menunjukkan bahwa produk tepat, sangat berguna, sangat mudah, dan sangat menarik. Dapat disimpulkan bahwa paket bimbingan etiket pergaulan untuk siswa SMP dan panduannya ini memiliki keberterimaan yang tinggi secara teori dan praktis dari segi ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan. Berdasarkan penelitian pengembangan ini, peneliti mengajukan beberapa saran yaitu untuk pengembangan produk lebih lanjut, hendaknya dilakukan pengkajian ulang materi-materi yang terdapat di dalam paket dan melakukan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan produk ini
Keefektifan Layanan Konsultasi untuk Mengurangi Rasa Takut Anak di PAUD Mutiara Bunda Pasuruan
ABSTRAK Sari, Rayung Pusvita. 2013. Keefektifan Layanan Konsultasiuntuk Mengurangi Rasa Takut Anak di PAUD Mutiara Bunda Pasuruan. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono M.Pd. (II) Drs. Dr. Nur Hidayati, M.Pd. Kata Kunci: layanan konsultasi, rasa takut, anak PAUD Rasa takut adalahperasaan yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Rasa takut merupakan salah satu kecemasan, yang sebenarnya normal dan alami. Apabilatakut yang dirasakan anak berlebihan akan mengganggu aktivitas bemain dan belajarnya.Anak penakut sebagian besar dikarenakan pola asuh orang tua yang kurang tepat. Hal ini akan berdampak anak lambat untuk mencapai tugas perkembangan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu ada kerja sama pihak sekolah dengan orang tua melalui layanan konsultasi kepadaorang tua.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwalayanan konsultasi efektifuntuk mengurangi rasa takut anak PAUD. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre experimental design dengan jenis One Group Pretest dan Posttest Design. Subjek penelitian adalah anak PAUD Mutiara Bunda Pasuruan yang merasa takut dan membutuhkan perhatian khusus dari orang tua, berjumlah 6 orang anak. Instrumen yang digunakan adalah inventori rasa takut, dengan perlakuan berupa,layanan konsultasi kepada orang tua.Hasil uji reliabilitas inventori rasa takut dinyatakan bagus dengan koefisien alpha sebesar 0.899>ra 0.7. Teknik analisis data dengan penskoran, dengan kriteria tingkatan takut. Hasil pretest dan posttest dianalisis dengan uji beda wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai wilcoxon sebesar (Z=-2,207a) dan nilai probability error kurang dari 0,05 (p=0,02
KEEFEKTIFAN METODE QUANTUM LEARNING TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DAN HASIL BELAJAR SISWA SMP
ABSTRAK Sulistyorini, Cristin Dewi Indra. 2013. Keefektifan Metode Quantum Learning terhadap Motivasi Berprestasi dan Hasil Belajar Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Widada, M.Si (II) Drs. Harmiyanto M.Pd. Kata Kunci: quantum learning, motivasi berprestasi, hasil belajar Metode quantum learning adalah seperangkat usaha bantuan kepada siswa, agar siswa dapat mengadakan penyesuaian, mengembangkan potensi dirinya, menemukan cara belajar yang nyaman dan menyenangkan termasuk kesulitan mempelajari bidang studi tertentu. Metode quantum learning yang digunakan dalam penelitian ini yaitu a) teknik mencatat tingkat tinggi, b) menulis dengan penuh percaya diri, c) upayakan keajaiban-keajaiban memori, dan d) melaju dengan kekuatan membaca. Metode quantum learning dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa SMP. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui keefektifan metode quantum learning terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen one group pretest posttest. Subjek penelitian berjumlah 12 siswa SMP yang memiliki kriteria motivasi berprestasi sedang yang di ukur dengan inventory motivasi berprestasi yang diberikan pada saat pre test. Pemberian treatment dengan menggunakan metode quantum learning dilakukan selama lima kali pertemuan dengan memberikan latihan-latihan kepada subjek penelitian dan dipertemuan terakhir dilakukan kegiatan ice breaking serta evaluasi kegiatan siswa. Setelah treatment diberikan selama lima kali pertemuan selanjutnya dilaksanakan posttest. Data pre test dan post test yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan ststistik non parametrik uji Wilcoxon. Hasil analisis menunjukan nilai Sig 0.0001 < 0.05 maka Ho ditolak yang artinya ada perbedaan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan metode quantum learning. Berdasarkan hasil analisis uji Wilcoxon tersebut dapat disimpulkan bahwa metode quantum learning efektif terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari skor pada posttest di akhir pertemuan yang menunjukan semua subjek penelitian mengalami kenaikan skor yang signifikan. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penenlitian ini adalah sebagai berikut: (1) dalam mengaplikasikan metode ini, konselor harus menambahkan metode dan media yang digunakan supaya lebih menarik. (2) pada peneliti selanjutnya disarankan menambah variasi penyajian pelaksanaan kegiatan yang diberikan dalam bimbingan, dan juga disarankan untuk menggunakan kelompok kontrol agar bisa membandingkan antara siswa hasil eksperimen dengan siswa kelompok kontrol