SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
    1354 research outputs found

    PERBEDAAN KETERAMPILAN MEMECAHKAN KONFLIK INTERPERSONAL ANTARA SISWA KELAS AKSELERASI DAN SISWA KELAS REGULER DI SMA NEGERI RSBI SE-KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Nawantara, Rosalia Dewi. 2013. Perbedaan Keterampilan Memecahkan Konflik Interpersonal Antara Siswa  Kelas Akselerasi dan Siswa Kelas Reguler di SMA Negeri RSBI se-Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany M. Handarini, M. A (II) Arbin Janu Setyowati, S. Pd, M. Pd.   Kata Kunci : Keterampilan Memecahkan Konflik Interpersonal, Akselerasi, Reguler, RSBI.   Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kebutuhan untuk dapat berinteraksi dengan orang lain terutama dengan sebayanya. Kebutuhan tersebut menciptakan hubungan interpersonal atau hubungan interpersonal antar individu yang memiliki karakteristik berbeda. Perbedaan tersebut akan menimbulkan konflik apabila individu tidak memiliki keterampilan memecahkan konflik khususnya pada hubungan interpersonal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat keterampilan memecahkan konflik interpersonal antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di SMAN RSBI se-Kota Malang.  Keterampilan memecahkan konflik interpersonal adalah suatu kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah antarpribadi karena kepentingan atau keinginan dan struktur nilai antarpribadi yang berbeda satu sama lain. Kemampuan tersebut meliputi keterampilan membina hubungan baik, keterampilan memecahkan konflik secara kooperatif, dan keterampilan pengambilan keputusan dan pemecahan masalah secara kreatif dan produktif. Akselerasi adalah salah satu bentuk pelaksanaan pendidikan khusus untuk anak berbakat dengan cara mempersingkat waktu dalam menyelesaikan bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan istimewa yang mereka miliki. Program reguler adalah program pendidikan dengan masa belajar normal yaitu tiga tahun. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang menyiapkan peserta didik berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia dan bertaraf internasional sehingga diharapkan lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional. Penelitian ini menggunakan model deskripstif komparatif yaitu penelitian yang mendeskripsikan perbandingan dua kelompok data. Metode yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan keterampilan memecahkan konflik interpersonal siswa akselerasi dan siswa reguler adalah dengan menggunakan uji Independent Sample t-test. Dari hasil uji t diketahui bahwa terdapat perbedaan keterampilan memecahkan konflik interpersonal antara siswa akselerasi dan siswa reguler dengan Sig. 2 tailed 0,00

    KEEFEKTIFAN TEKNIK SANDIWARA BONEKA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA SEKOLAH DASAR

    No full text
    ABSTRAK   Widyastuti, Dian Ari. 2013. Keefektifan Teknik Sandiwara Boneka untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Siswa Sekolah Dasar. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A.   Kata Kunci: sandiwara boneka, komunikasi, interpersonal, keterampilan komunikasi.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya siswa SD yang memiliki keterampilan komunikasi interpersonal rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan masih sering ditemui siswa yang tidak memperhatikan ketika guru memberikan penjelasan, tidak dapat menjawab pertanyaan secara lisan, enggan bertanya ketika menemukan kesulitan dalam pelajaran, serta kurangnya kebiasaan siswa mengucapkan terimakasih dan meminta tolong dengan cara yang tepat dan jelas. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi interpersonal perlu dilatihkan dan dikembangkan  sejak dini yakni ketika usia SD. Selama ini, usaha yang dilakukan guru untuk menumbuhkan skill yang berkaitan dengan keterampilan komunikasi interpersonal adalah integrasi pembelajaran melalui pelajaran Bahasa Indonesia, IPS, Agama, ataupun PKn. Usaha tersebut dipandang kurang efektif karena diberikan melalui ceramah saja. Oleh karena itu, diperlukan usaha lain yang dipandang efektif. Usaha tersebut adalah penggunaan teknik sandiwara boneka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifan teknik sandiwara boneka untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal pada siswa SD. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimental design dengan jenis non equivalent  control group design. Perlakuan (treatment) pada kelompok eksperimen berupa teknik sandiwara boneka sedangkan pada kelompok kontrol berupa teknik bercerita. Subjek penelitian pada masing-masing kelompok adalah sepuluh siswa kelas 1 SDN Percobaan 2 Malang yang memiliki tingkat keterampilan komunikasi interpersonal rendah. Pretest dan posttest berupa observasi/pengamatan yang masing-masing dilaksanakan selama enam kali dalam waktu enam hari. Analisis data menggunakan statistik non parametrik Uji Wilcoxon dan Uji Mann-Whitney. Hasil Uji Wilcoxon menunjukkan ada peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal pada masing-masing kelompok setelah mendapatkan perlakukan. Sementara itu, hasil Uji Mann-Whitney menunjukkan ada perbedaan rata-rata tingkat keterampilan komunikasi interpersonal di antara dua kelompok setelah mendapatkan perlakuan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dibuktikan oleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,03 dengan derajat signifikans

    Pengembangan Paket Pelatihan Penegasan Konsep Diri Sosial Siswa SMA

    No full text
    ABSTRAK   Aprilianti, Ophirda Anisya. 2013. Pengembangan Paket Pelatihan Penegasan Konsep Diri Sosial Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Andi Mappiare-AT, M.Pd, (II) Dr. Muslihati, S.Ag, M.Pd.   Kata kunci: Paket Pelatihan, Konsep Diri, Diri Sosial.   Penelitian pengembangan ini dilatar belakangi oleh adanya kasus siswa kelas X merasa ia dipandang tidak menarik diajak berteman karena ia diejek teman-temannya sebagai penakut dan tidak jantan setelah ia menolak ajakan merokok dari temannya. Hal ini mengindikasikan adanya konsep diri sosial negatif dengan ia merasa tidak memiliki kemampuan yang sama dengan temannya sehingga dibutuhkan penegasan pada konsep diri sosial yang ia miliki. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan deskripsi keterterimaan isi dan bentuk media yang dianggap layak dari aspek kegunaan, ketepatan, dan kemudahan untuk penegasan konsep diri sosial dari penilaian pemakai. Penelitian pengembangan ini menggunakan model Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan. Sebagai berikut: 1) tahap pertama perencanaan: melakukan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan konselor; 2) tahap kedua pengembangan produk: merancang media paket pelatihan, menyusun media, dan menyusun instrumen penilaian; 3) tahap ketiga uji coba produk: uji ahli (uji ahli bk dan uji ahli media); revisi produk hasil penilaian uji ahli; uji calon pengguna produk; produk akhir paket pelatihan penegasan konsep diri sosial siswa SMA. Produk yang dihasilkan pada penelitian pengembangan ini adalah 1) panduan paket pelatihan penegasan konsep diri sosial siswa SMA, dan 2) paket pelatihan penegasan konsep diri sosial bagi siswa. Deskripsi keterterimaan isi paket dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan dengan deskripsi sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, serta sangat menarik diperoleh dari penilaian ahli BK dan satu calon pengguna produk sedangkan yang diterima dengan deskripsi berguna, tepat, mudah, dan menarik diperoleh dari penilaian satu calon pengguna produk. Untuk deskripsi keterterimaan bentuk paket dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan dengan penilaian sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, dan sangat menarik diperoleh dari penilaian ahli media dan satu calon pengguna produk sedangkan yang diterima dengan penilaian berguna, tepat, mudah, dan menarik diperoleh dari penilaian satu calon pengguna produk. Hasil penilaian ini menguatkan bahwa paket pelatihan untuk penegasan konsep diri sosial ini dapat digunakan sebagai salah satu media bimbingan di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini untuk meningkatkan kualitas produk dapat diuji di lapangan dan menguji keefektifan produk ini melalui riset eksperimen. Untuk lebih menyempurnakan produk pengembangan ini maka dikembangkan lebih lanjut hingga tahap ke-10 Borg and Gall (1983)

    Keefektifan Teknik Psikodrama Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak Negara Di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak Blitar.

    No full text
    ABSTRAK   Dianita, Hevie. 2013. Keefektifan Teknik Psikodrama Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak Negara Di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak Blitar. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs.H.Widada,M.Si., Pembimbing (II) Dr.H.Triyono, M.Pd.   Kata Kunci: percaya diri, psikodrama   Percaya diri, yaitu suatu sikap positif seseorang terhadap dirinya, memiliki keyakinan-keyakinan dalam diri, mengenali dan memahami setiap kekurangan dan kelebihan serta mampu beradaptasi dengan lingkungan atau situasi yang sedang dihadapi sehingga memberi keyakinan yang kuat atas kemampuan pada diri untuk melakukan tindakan dalam mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Psikodrama digunakan untuk mengeksploitasi diri melalui tindakan nyata dimana kita hidup, baik internal maupun eksternal. Hal ini memungkinkan untuk mengekspresikan perasaan aman yang kuat, perspektif yang lebih luas pada masalah-masalah individu, sosial, dan juga kesempatan untuk mencoba perilaku yang diinginkan. Anak Negara adalah anak yang berdasarkan putusan pengadilan diasuh oleh negara untuk dididik dan di tempatkan di Lapas Anak paling lama sampai berusia 18 tahun yang dikarenakan pada saat sidang pengadilan tidak didampingi oleh anggota keluarga. Penulisan ini bertujuan untuk menguji keefektifan permainan peran teknik psikodrama melalui bimbingan kelompok untuk meningkatkan rasa percaya diri Anak Negara di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan menggunakan pre-post test single design. Kelompok eksperimen adalah Anak Negara yang memiliki rasa percaya diri rendah yang diukur dengan menggunakan inventori rasa percaya diri. Permainan peran psikodrama dilakukan sebanyak delapan kali treatment dengan tema yang berbeda-beda. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Uji Wilcoxon dengan bantuan SPSS for Windows Versi 16.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan peran psikodrama efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri Anak Negara Di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak Blitar yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest yang telah diberikan. Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran: kepada guru BK di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) bahwa teknik psikodrama perlu digunakan dalam kegiatan bimbingan untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri anak binaan LPA. Bagi peneliti selanjutnya dapat mencoba penggunaan teknik psikodrama dengan menggunakan kelompok kontrol, agar dapat diketahui secara jelas perbedaan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol sehingga keefektifan teknik psikodrama akan lebih tampak.  

    Pengembangan Alat Bantu Pemecahan Masalah Model REBT Berbasis Web Interaktif untuk Siswa SMA

    No full text
    ABSTRAK   Satwika, Purwadi Yoga. 2013. Pengembangan Alat Bantu Pemecahan Masalah Model REBT Berbasis Web Interaktif untuk Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing : (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd   (II) Dr. Muslihati, S.Ag, M.Pd   Kata kunci : web interaktif, REBT, pemecahan masalah   Remaja adalah masa yang tidak realistis, selain itu remaja juga memiliki idealiasme dan angan-angan yang ingin diwujudkan. Karakteristik tersebut menimbulkan permasalahan bagi remaja, salah satunya adalah permasalahan tentang keyakinan-keyakinan yang tidak rasional. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan konselor di sekolah yang menemukan fenomena banyaknya permasalahan siswa yang berkaitan dengan dengan keyakinan irasional. Dalam diri remaja terdapat potensi untuk menyelesaikan masalah. Untuk itu remaja membutuhkan bantuan konselor. Sering kali remaja yang memiliki masalah tidak bisa mendapatkan bantuan dari konselor secara maksimal karena konselor di sekolah memiliki banyak siswa yang menjadi tanggungjawabnya. Untuk membantu siswa, konselor dapat memanfaatkan media interaktif berupa media web. Salah satu media yang dapat digunakan adalah media interaktif alat bantu pemecahan masalah model REBT berbasis web. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan media interaktif alat bantu pemecahan masalah model REBT berbasis web untuk siswa SMA yang dapat berterima secara teoritis dan praktis dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan. Alat ini menggabungkan antara self-report dan self-help worksheet dari model konseling REBT. Metode yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari  model pengembangan Borg and Gall (1983). Tahap-tahap pengembangan meliputi : (1) Tahap awal, yaitu mencari permasalahn pokok melalui need assessment, (2) Tahap desain, yaitu mendesain media interaktifnya  (3) Tahap uji coba dan revisi, yaitu menguji cobakan produk kemudian merevisinya sampai didapatkan hasil yang baik. Analisis data need assessment menggunakan teknik analisis data kualitatif. Uji validitas dan reliabilitas self-report menggunakan teknik korelasi. Analisis data uji ahli dan calon pengguna produk menggunakan teknik analisis rata-rata. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Malang. Hasil penilaian dari para ahli menunjukkan bahwa produk media interaktif alat bantu pemecahan masalah model REBT berbasis web untuk siswa SMA telah memenuhi kriteria kegunaan, ketepatan, kejelasan, kepraktisan dan kemenarikan. Berdasarkan analisis uji ahli Bimbingan dan Konseling tahap pertama didapat hasil sangat tepat. Dari hasil uji ahli Bimbingan Konseling tahap kedua didapat hasil sangat tepat, sangat berguna dan sangat jelas. Dari uji ahli media didapat hasil sangat tepat, sangat menarik, dan sangat jelas. Dari uji calon pengguna produk didapat hasil sangat berguna, sangat praktis, sangat praktis sangat menarik, dan sangat jelas. Sehingga produk ini dinilai layak sebagai salah satu media bimbingan dan konseling di sekolah untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah.  Saran yang diajukan peneliti terkait pemanfaatan, a) Konselor dapat memanfaatkan produk ini untuk membantu siswa-siswanya dalam memcahkan masalah secara mandiri. Konselor diharapkan membaca dan mempelajari manual book terlebih dahulu sebelum mengopreasikannya, b) Sekolah diharapkan menyediakan fasilitas internet yang memadahi agar produk ini bisa berjalan dengan lancar. c) Siswa diharapkan memiliki kepedulian tentang masalah yang sedang dihadapinya dan meyakini bahwa setiap masalah pasti memiliki pemecahan. d) Peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan produk dengan menyusun item-item self-report yang lebih mewakili 12 aspek irrational belief, tampilan yang lebih menarik, perbaikan manual book, mengadakan uji efektifitas produk dengan kelompok yang lebih besar agar diketahui sejauh apa produk ini dapat bermanfaat, mengadakan uji lapangan dalam skala besar untuk SMA se-Kota Malang sehingga penggunaan produk ini bisa benar-benar sesuai dan bermanfaat untuk siswa secara lebih luas. Desiminasi akan dilaksanakan dengan cara mengenalkan produk kepada para konselor yang berada di SMA Negeri 4 Malang. tempat peneliti mengembangkan produk

    PENYADARAN GENDER SISWA MA MELALUI LAYANAN INFORMASI DENGAN MEDIA KOMIK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    No full text
    ABSTRAK   Arofah, Laelatul . 2013. Penyadaran Gender Siswa MA melalui Layanan Informasi dengan Media Komik dalam Perspektif Islam. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Andi Mappiare-AT., M. Pd, (II) Arbin Janu Setiyowati, M. Pd   Kata Kunci: Komik, Kesadaran Gender, Siswa MA   Dari hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa siswa laki-laki dan perempuan kurang menyadari perannya masing-masing. Laki-laki merasa dirinya kuat sehingga cenderung bertindak semena-mena, begitu juga perempuan merasa dirinya dapat melakukan hal-hal yang dilakukan oleh laki-laki. Dalam Islam sudah dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai peran masing-masing, saling menghormati dan terjalin hubungan harmonis antara satu dengan yang lain. Siswa harus sadar akan gendernya, dan untuk membantu mereka menyadari gendernya dibutuhkan sebuah media yang menarik, yang membantu siswa mendapatkan informasi tentang kesadaran gender, yaitu media berupa komik. Tujuan penyadaran gender siswa MA melalui layanan informasi dengan media komik dalam perspektif Islam adalah diperoleh deskripsi penerimaan pemakai atas isi dan bentuk media. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa fragmen komik, dan buku panduan bagi konselor yang dilengkapi lembar evaluasi bagi siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Borg and Gall yang terdiri atas tujuh tahap. Subjek uji ahli media merupakan dosen Teknologi Pendidikan, dan uji ahli materi merupakan dosen Bimbingan dan Konseling. Sedangkan untuk uji calon pengguna produk yang pertama adalah dua konselor MAN Kota Blitar, dan uji calon pengguna produk kedua 10 siswa kelas XI Agama MAN Kota Blitar. Hasil penilaian dari uji ahli dan calon pengguna produk dianalisis secara angka dan verbal. Hasil penilaian dari uji ahli dan calon pengguna produk mendapatkan hasil dengan kriteria sangat berguna/sangat tepat/ sangat jelas/sangat menarik, yang masing-masing kriteria tersebut memiliki deskripsi penerimaan masing-masing. Dari hasil penilaian tersebut dapat disimpulkan bahwa diperoleh deskripsi penerimaan pemakai atas isi dan bentuk dari media komik dengan konten penyadaran gender untuk menegaskan peran sebagai laki-laki dan perempuan dalam perspektif Islam, sehingga produk tersebut layak digunakan sebagai media media dalam pelaksanaan layanan informasi. Saran pengembangan produk lebih lanjut yaitu 1) Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk lebih mengetahui sejauhmana keefektifan penggunaan komik terhadap tingkat kesadaran gender siswa MA. 2) Disarankan untuk melakukan uji lapangan terhadap media komik penyadaran gender ini, karena dengan begitu manfaat dari pengembangan komik ini dapat dirasakan oleh banyak pengguna. 3) Disarankan untuk peneliti selanjutnya mengembangkan fragmen komik penyadaran gender dengan pesan bimbingan yang lebih spesifik pada aspek gender tertentu.

    STUDI REMAJA LESBIAN DI KOTA KEDIRI

    No full text
    ABSTRAK   Sary, Devita Dian. Purnama. 2013. Studi Remaja Belok di Kota Kediri. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. (II) Yuliati Hotifah, S.Psi., M.Pd.   Kata Kunci : Remaja, Lesbian, Homoseksual   Remaja merupakan tahap perkembangan dan pertumbuhan dari anak menjadi dewasa. Perubahan fisik maupun psikis pada masa ini membuat beberapa remaja mengalami kebimbangan identitas. Hal ini berdampak pada munculnya orientasi dan perilaku lesbian. Lesbian merupakan perilaku dan orientasi homoseksual pada remaja puteri. Namun istilah belok lebih sering digunakan oleh remaja lesbian di Kota Kediri untuk menggantikan istilah lesbian. Sebagai kaum minoritas mereka sering mendapat diskriminasi dari masyarakat. Hal tersebut yang membuat peneliti mengadakan penelitian dengan judul "Studi Remaja Belok di Kota Kediri" yang bertujuan untuk mengetahui (1) Karakteristik remaja belok di Kota Kediri, (2) Aktivitas remaja belok di Kota Kediri, dan (3) Permasalahan yang muncul akibat identitas lesbiannya yang berbeda dari remaja lainnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan rancangan studi kasus dengan subjek 4 orang remaja belok di Kota Kediri. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara, observasi, serta studi dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Analisis data pada penelitian ini bersifat induktif dan berkelanjutan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah remaja belok di Kota Kediri terdiri dari butchi, femme, dan andro. Sebagai remaja mereka juga melakukan aktivitas yang sama dengan remaja lainnya yaitu sekolah dan kuliah. Berbagai prestasi baik akademik maupun non-akademik juga sering mereka dapatkan. Selain itu mereka juga melakukan aktivitas pacaran, namun bedanya mereka memiliki orientasi seksual pada sesama jenis. Dalam berpacaran mereka terkadang melakukan aktivitas seksual seperti berciuman dan berhubungan intim (fingering). Remaja belok memiliki hubungan yang baik dengan teman-temannya. Beberapa dari mereka juga mengikuti komunitas lesbian yang ada di Kota Kediri. Namun ada juga masyarakat yang melakukan diskriminasi serta penolakan pada mereka. Hal itu yang membuat remaja lesbian mengalami konflik batin sehingga cenderung tertutup pada orang yang baru dikenalnya. Pada penelitian ini peneliti menemukan adanya proses perkembangan seksual yang berurutan pada remaja lesbian yang dimulai dari kebimbangan identitas. Kemudian mereka mulai meyakinkan diri atas rasa ketertarikannya pada sesama jenis, yang biasanya ditolak oleh remaja lesbian tersebut dengan cara berhubungan dengan lawan jenisnya. Setelah itu mereka akan memutuskan untuk membuka atau menutup diri terhadap orang lain. Hal itu terjadi pada masa remaja awal (SMP), selanjutnya setelah dapat membuka diri, mereka mulai menikmati identitasnya. Kemudian mereka kembali mengalami kebimbangan identitas saat berada pada masa remaja akhir ketika dihadapkan dengan harapan orang lain. Saran untuk masyarakat adalah untuk tidak memandang sebelah mata perilaku lesbian pada remaja. Mereka justru membutuhkan  motivasi dan dukungan yang baik untuk berubah

    Pengembangan Layanan Informasi Bahaya Rokok melalui Media Blog bagi Siswa SMP Negeri 1 Gondangwetan

    No full text
    ABSTRAK   Pramita, Vania Zona. 2013. Pengembangan Layanan Informasi Bahaya Rokok melalui Media Blog bagi Siswa SMP Negeri 1 Gondangwetan. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd.   Kata Kunci: Rokok, Blog, Bimbingan, Layanan Informasi, Pribadi-Sosial   Pada saat ini semakin banyak remaja yang setidaknya pernah mencoba ataupun sudah kecanduan rokok. Remaja cenderung labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya, termasuk terpengaruh untuk merokok. Disini konselor belum memiliki media blog dalam memberikan layanan informasi mengenai bahaya rokok, sehingga perlu dikembangkan media blog yang dapat digunakan oleh konselor dalam memberikan layanan informasi mengenai bahaya rokok. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa blog layanan informasi bahaya rokok untuk siswa SMP Negeri 1 Gondangwetan yang memenuhi persyaratan keberterimaan (akseptabilitas) beserta buku panduan konselor sebagai petunjuk penggunaannya. Produk ini dapat digunakan konselor dalam memberikan layanan bimbingan pribadi-sosial yang berterima secara teoritis dan praktis. Penelitian ini menggunakan model yang diadaptasi dari Borg and Gall (1983). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan sebagai berikut: 1) identifikasi kebutuhan, 2) penyusunan produk, 3) uji coba produk, 4) revisi, dan 5) produk akhir. Identifikasi kebutuhan menggunakan alat berupa angket dan pedoman wawancara. Instrumen uji coba produk menggunakan angket sedangkan validasinya dilakukan oleh ahli media, ahli materi, calon pengguna produk (konselor), dan siswa dalam kelompok kecil. Hasil penilaian ahli dan calon pengguna produk menunjukkan bahwa layanan informasi bahaya rokok berbasis blog untuk siswa SMP Negeri 1 Gondangwetan telah memenuhi aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan, sehingga media blog bahaya rokok memiliki kriteria keberterimaan baik bagi siswa SMP Negeri 1 Gondangwetan. Hal ini terbukti dari hasil analisis penilaian uji para ahli dan calon pengguna produk yang menunjukkan skor penilaian dengan rentangan 3,01-4 yang artinya sangat tepat, sangat berguna, sangat mudah dan sangat menarik. Berdasarkan hasil pengembangan, disarankan: (1) konselor menggunakan media ini dalam pemberian layanan informasi khususnya menjelaskan informasi mengenai bahaya rokok, (2) konselor menambahkan informasi terbaru mengenai bahaya rokok dalam blog sehingga siswa dapat memperoleh berita terbaru, (3) konselor dapat berdiskusi secara aktif dengan siswa melalui blog bahaya rokok mengenai materi yang terkait dengan bahaya rokok, (4) siswa menggunakan sebagai sarana untuk mendapatkan informasi mengenai bahaya rokok serta memberikan alternatif sumber belajar yang lebih menarik.  

    Perbedaan Keterampilan Bekerjasama Antara Siswa Kelas Reguler dan Siwa Kelas Akselerasi SMP Negeri di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Dharma, Abel Surya. 2013. Perbedaan Keterampilan Bekerjasama Antara Siswa Kelas Reguler dan Siwa Kelas Akselerasi SMP Negeri di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd, (2) Dr. Dany M. Handarini, M.A.   Kata kunci: Keterampilan bekerjasama, siswa kelas reguler, siswa kelas akselerasi.    Keterampilan bekerjasama merupakan kemampuan, kecakapan, atau kapabilitas siswa untuk berperilaku kooperatif (skill to cooperate) dengan orang lain dalam kelompok untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan suatu masalah. Unsur-unsur yang membentuk definisi keterampilan bekerjasama tersebut, yaitu adanya saling tergantung yang positif, tanggungjawab perseorangan, interaksi promotif/ tatap muka, keterampilan sosial, dan terjadinya proses dalam kelompok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan keterampilan bekerjasama antara siswa kelas reguler dan siswa kelas Akselerasi SMP Negeri di Kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII reguler dan siswa kelas VIII akselerasi. Teknik yang digunakan untuk penarikan sampel penelitian adalah quota sampling dan total sampling. Quota sampling digunakan untuk penarikan sampel siswa kelas reguler dan total sampling untuk penarikan sampel siswa kelas akselerasi. Pengumpulan data menggunakan Inventori Keterampilan Bekerjasama. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis Independent Sample t-test. Dari hasil uji hipotesis, didapatkan nilai thitung adalah sebesar sebesar 9,711 dengan signifikansi sebesar 0,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan keterampilan bekerjasama antara siswa kelas reguler dan siswa kelas akselerasi SMP Negeri di Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian, maka 1) Konselor mempunyai tugas untuk membimbing siswa yang memiliki keterampilan bekerjasama kurang agar dapat berkerjasama secara positif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh konselor adalah dengan bimbingan kelompok. Media yang dapat digunakan untuk kemudahan pemberian layanan bimbingan kelompok adalah media permainan simulasi, 2) Peneliti selanjutnya, melakukan penelitian lebih lanjut mengenai keterampilan bekerjasama siswa SMP dengan populasi yang lebih luas dan sampel yang lebih representatif, diharapkan dapat mendeskripsikan bagaimanakah karakteristik bekerjasama dari siswa kelas reguler dan siswa kelas akselerasi untuk melengkapi kekurangan dalam penelitian ini dengan melakukan penelitian yang lebih komprehensif dan tidak hanya terbatas pada lingkup sekolah saja, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari siswa

    Pengembangan Multimedia Peningkatan Motivasi Belajar Siswa SMK

    No full text
    ABSTRAK   Hidayat, Rakmahadi Tantram. 2013. Pengembangan Multimedia Peningkatan Motivasi Belajar Siswa SMK. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd, (II) Drs. Djoko Budi Santoso.   Kata kunci: multimedia, motivasi belajar, siswa SMK   Motivasi merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh siswa, tanpa motivasi untuk belajar tentu siswa akan mendapat banyak dampak dari rendahnya motivasi yang dimiliki seperti nilai akademis rendah, semangat untuk berkarir rendah,dll. Dalam peningkatan motivasi tentu kita tidak selalu menyalahkan tinggi rendahnya motivasi yang dimiliki siswa tetapi dari cara penyampaian materi juga perlu diperhatikan, rasa jenuh pada siswa dapat mengakibatkan siswa tidak memperhatikan materi yang disampaikan oleh konselor sehingga informasi yang didapat oleh siswa sangat kurang, perkembangan zaman tentu dapat memediasi cara penyampaian secara menarik dengan materi untuk meningkatkan motivasi belajar sehingga perlu adanya pemanfaatan multimeia yang inovatif dan kreatif oleh konselor. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk multimedia peningkatan motivasi belajar siswa SMK yang berguna, layak, tepat, dan menarik. Multimedia ini diharapkan dapat menarik keinginan siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh konselor. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah Mutimedia Peningkatan Motivasi Belajar Siswa SMK dengan materi motivasi, gaya belajar, Kerangka Klasifikasi Nasional Indonesia (KKNI), dan analisis SWOT, serta materi yang berupa film yang juga diharapkan dapat membantu konselor dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMK, multimedia ini juga dilengkapi dengan buku penduan untuk konselor. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengadaptasi langkah-langkah pengembangan dari Borg & Gall. Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan sebagai berikut: 1) tahap I perncanaan: menentukan potensi dan masalah penelitian, melakukan kajian pustaka dan need assesment; 2) tahap II pengembangan produk: menentukan tujuan pemanfaatan multimedia peningkatan motivasi belajar, menyusun materi multimedia peningkatan motivasi; 3) tahap III uji coba produk: uji ahli (uji ahli media dan uji ahli bimbingan dan konseling); revisi produk hasil penilaian uji ahli; uji calon pengguna produk; uji coba produk terbatas (uji kelompok kecil); produk akhir multimedia peningkatan motivasi belajar siswa SMK. Berdasarkan data hasil tinjauan dari ahli BK dikemukakan bahwa hasil yang diperoleh adalah sangat berguna, sangat layak, sangat tepat dan sangat menarik, yang berarti produk berupa multimedia peningkatan motivasi belajar dapat diterima sebagai media dalam menyampaikan layanan informasi peningkatan motivasi belajar siswa SMK. Hasil penilaian dari ahli media dikemukakan bahwa hasil produk siap untuk diujicobakan ke lapangan karena termasuk dalam kategori penilaian berguna, sangat layak, tepat dan menarik untuk dijadikan media bimbingan. Hasil yang diperoleh dari uji calon pengguna menunjukkan produk diterima dengan kriteria digunakan, sehingga produk multimedia peningkatan motivasi belajar siswa SMK dapat digunakan sebagai media dalam memberikan layanan informasi mengenai peningkatan motivasi. Hasil uji calon pengguna produk (siswa) menunjukkan kategori sangat diterima dengan kriteria digunakan, sehingga produk dapat digunakan untuk memberikan layanan informasi peningkatan motivasi belajar siswa SMK. Berdasarkan hasil uji ahli dan calon pengguna produk tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk yang telah dikembangkan pada umumnya sudah bagus dan layak untuk disampaikan kepada siswa Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang diberikan adalah: (1) konselor sebaiknya lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan perkembangan zaman sehingg penyampaian bimbingan dapat tercapai secara optimal, (2) untuk penelitian selanjutnya, dapat melakukan uji efektivitas dan kelayakan penggunaan multimedia peningkatan motivasi belajar kepada siswa SMK

    0

    full texts

    1,354

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇