SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
KEEFEKTIFAN TEKNIK REINFORCEMENT UNTUK MENINGKATKAN SELF DISCIPLINE AKADEMIK SISWA SMP
ABSTRAK Retnosari, Deta Ayu. 2014. Keefektifan Teknik Reinforcement untuk Meningkatkan Self Discipline Akademik Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr.Hj.Nur Hidayah,M.Pd, (2) Dra.Hj. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata Kunci: reinforcement, self discipline akademik, siswa SMP Siswa SMP memiliki beberapa harapan dan impian yang tinggi. Mereka berusaha dapat mencapai impiannya dengan berbagai cara bahkan mayoritas siswa SMP ingin meraihnya dengan cara yang instan. Dalam mencapai impiannya tersebut, siswa membuat beberapa target dalam belajarnya akan tetapi banyak yang meleset. Siswa lebih suka mengulur-ngulur waktu dan mendahulukan kepentingan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan belajarnya. Rendahnya sikap tanggung jawab dan kesadaran dalam belajar membuat siswa lupa terhadap kewajibannya sebagai pelajar yaitu belajar. Perlu dilatihnya self discipline akademik supaya siswa dapat mencapai harapan dan impiannya sesuai dengan target yang telah mereka tentukan. Reinforcement merupakan salah satu teknik yang ada di dalam konseling behavioral. Teknik reinforcement ini adalah salah satu cara yang dapat memperkuat dan meningkatkan suatu perilaku, salah satunya adalah perilaku self discipline akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik reinforcement dalam meningkatkan self discipline akademik siswa SMP. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP yang memiliki self discipline akademik tergolong rendah yang terdiri dari lima siswa. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu, dengan interrupted time series. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala self discipline akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data skala self discipline akademik dianalisis dengan uji statistik non parametric Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan tingkat self discipline akademik sebelum dan sesudah pemberian treatment secara berulang dengan nilai z = -2,023 pada tingkat signifikansi 0,043< 0,05, artinya H0 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa teknik reinforcement efektif untuk meningkatkan self discipline akademik siswa SMP. Berdasarkan hasil penelitian ini, diajukan saran untuk konselor dan peneliti selanjutnya. Saran bagi konselor adalah konselor dapat menggunakan teknik reinforcement jika ada siswa yang mengalami permasalahan mengenai rendahnya self discipline akademik. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah jika ingin meneliti disarankan untuk menggunakan desain lain seperti single subject design, penelitian eksperimen yang menggunakan kelompok kontrol, dan memperluas subjek penelitian di SMP kota Malang.
Pengembangan Paket Informasi Kelanjutan Studi untuk Calon Mahasiswa Fakultas Teknik bagi Siswa SMA Muhamamdiyah 1 Malang
ABSTRAK Zulvi, Ngindiana. 2014. Pengembangan Paket Informasi Kelanjutan Studi untuk Calon Mahasiswa Fakultas Teknik bagi Siswa SMA Muhamamdiyah 1 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hj. Muslihati, S.Ag., M. Pd, (2) Dr. IM Hambali, M.Pd Kata Kunci: paket informasi, studi lanjut, fakultas teknik Salah satu tugas perkembangan yang selalu ada pada setiap jenjang pendidikan adalah wawasan kesiapan karir. Wawasan kesiapan karir erat hubungannya dengan perencanaan karir. Perencanaan karir yang matang memerlukan informasi yang terus memperkuat sepenuhnya perencanaan, pilihan alternatif pendidikan atau pelatihan, alternatif pekerjaan, dan karakteristik diri adalah hal-hal yang diperlukan untuk pengambilan keputusan karir yang baik. Salah satu perencanaan karir yang dihadapi oleh siswa SMA adalah pemilihan studi lanjut. Namun sebagian besar siswa tidak memiliki perencanaan karir yang matang, bahkan mereka mengalami kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karir dikarenakan kurangnya informasi yang mereka dapatkan.Konselor di sekolah berperan membantu siswa untuk berbagi informasi dan macam pendidikan yang bisa dipilih sesuai dengan kemampuan dan kondisi siswa, termasuk cara memperoleh kesempatan serta persyaratan yang harus dipenuhi. Dari beberapa fakultas di universitas, fakultas teknik dipandang memiliki input yang lebih luas. Fakultas teknik merupakan jurusan dengan peluang kewirausahaan yang lebih besar dibandingkan dengan jurusan lain. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk informasi studi lanjut tentang fakultas teknik. Paket informasi studi lanjut tentang fakultas teknik diharapkan dapat memberikan informasi sehingga dapat membantu perencanaan karir bagi siswa SMA yang diharapkan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Subjek penelitian ini adalah siswa SMA kelas XII jurusan IPA sebanyak sebelas orang. Pengembangan paket informasi ini menggunakan model pengembangan Borg dan Gall (1983). Karena model ini berangkat dari need assesment yang berupa identifikasi kebutuhan atau permasalahan yang ada. Dengan demikian penggunaan media ini sesuai dengan tujuan pengembangan yaitu menghasilkan produk yang berupa paket informasi studi lanjut tentang fakultas teknik bagi siswa SMA. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui analisis data para ahli dan calon pengguna produk serta revisi-revisi yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan terhadap paket informasi studi lanjut tentang fakultas teknik bagi siswa SMA Muhammadiyah 1 Malang dapat disimpulkan bahwa paket ini sangat akurat, sangat berguna, sangat mudah dan sangat menarik secara teoritis.
PENGEMBANGAN BIBLIOEDUKASI UNTUK MELATIH SELF-MANAGEMENT BELAJAR SISWA SMA
ABSTRAK Sulistyoningsih, Andini. 2014. Pengembangan Bibloedukasi untuk Melatih Self-management Belajar Siswa SMA.Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. IM Hambali, M.Pd., (II) Drs. Harmiyanto, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, biblioedukasi, Self-management, belajar, siswa SMA Rendahnya self-management disebabkan karena ketidaktahuan siswa tentang bagaimana cara mengelola belajar, rendahnya self-managamentsiswa meliputi kontrol diri siswa, pengaturan waktu, menentukan prioritas, dan mengelola bahan belajar, oleh karena itu informasi tentang self-management belajar perlu diberikan kepada siswa. Melatihself-management belajar siswa bisa dilakukan dengan beberapa cara dan teknik, salah satunya adalah dengan meng-gunakan bahan bacaan atau lebih sering disebut dengan istilah biblio. Memakai istilah biblio dari biblokonseling yang menurut Lasan (1998) berati bahan bacaan, peneliti membuat istilah baru yaitu biblioedukasi dengan menggabungkan istilah dari biblio yang dan edukasi yang menurut kamus bahasa Indonesia (2008: 375) berati “pendidikan”, dengan kata lain biblioedukasi merupakan bahan bacaan yang mendidik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan biblioedukasi self- management belajar untuk siswa SMA yang bisa digunakan oleh konselor sebagai media penyampaian informasi. Sebagai upaya membantu siswa dalammelatih self-management belajarnya. Media yang dipilih untuk pengembangan biblioedukasi berbentuk buku tercetak. Prosedur penelitian dan pengembangan biblioedukasi Self-management belajar ini mengadaptasi pengembangan Borg and Gall (1983:775), penelitian dan pengembangan biblioedukasi dilakukan sampai pada tahap uji kelompok kecil. Tahap pengembangan produk biblioedukasi terdiri dari 1) Menentukan masalah penelitan dan mengkaji literatur, 2) Melakukan analisis kebutuhan, 3) Menyusun Isi dan prototipe produk serta menyusun alat evaluasi, 4)Penilaian produk oleh uji ahli BK dan ahli Materi serta uji coba calon pengguna produk, 5) Melakukan revisiproduk dari uji ahli dan uji coba calon pengguna produk, 6) Uji kelompok kecil, 7) Revisi produk hasil uji kelompok kecil, 8) Prototype Biblioedukasi untuk melatih self-management belajar siswa SMA. Hasil produk pengembangan ini berupa biblioedukasi Self-management belajar untuk siswa Sekolah Menengah Atas.Berdasarkan hasil penilaian1) Ahli materi,biblioedukasi dinilai sangat berguna, layak, sangat tepat, dan sangat menarik, 2) Ahli media menilai biblioedukasi ini masuk pada kriteria sangat berguna, sangat layak, sangat tepat, dan sangat menarik,3) Calon pengguna produk menilai bahwa biblioedukasi sudah sangat berguna, layak, tepat, dan sangat menarik, 4) Hasil dari ujikelompokkecil, biblioedukasi dinilai oleh siswa sangat berguna, sangat tepat, dan sangatmenarik.Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa biblioedukasi Self-management belajar ini telah memenuhi persyaratandalam kategori kegunaan, ketepatan, kelayakan, dankemenarikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini, disarankan adanya penelitian lebih lanjut dengan subyek dan variabel yang berbeda.Konselor hendaknya menggunakan biblioedukasi sebagai media penyampaian informasi. Sebelum menggunakan biblioedukasi sebagai media penyampaian informasi hendaknya konselor mempelajari panduan yang diberikan beserta dengan buku. Siswa sebaiknya tidak hanya menjadikan biblioedukasi ini hanya sebagai bahan bacaan, tetapi juga melaksanakan apa yang telah dipelajari dalam keseharian.
HUBUNGAN KONFLIK PERAN GANDA DAN DISIPLIN KERJA DENGAN PRESTASI KERJA PADA WANITA KARIER YANG SUDAH BERKELUARGA di RSUD Dr. H. SLAMET MARTODIRDJO KABUPATEN PAMEKASAN
ABSTRAK Fitrianto, Triyono. 2014. Hubungan Konflik Peran Ganda dan Disiplin Kerja Dengan Prestasi Kerja Pada Wanita Karier yang Sudah Berkeluargadi RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo Kabupaten Pamekasan. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) Ike Dwiastuti, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: konflik peran ganda, disiplin kerja, prestasi kerja. Keterlibatan perempuan dalam dunia kerja menimbulkan perubahan peran.Terutama perempuan yang sudah berkeluarga harus menjalankan peran tradisi dan peran transisi.Tuntutan dari kedua peran tersebut seringkali bertentangan dan datang dalam waktu yang bersamaan, sehingga menimbulkan konflik bagi individu yang bersangkutan untuk menentukan peran mana yang harus didahulukan sehingga menimbulkan konflik peran ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konflik peran ganda, disiplin kerja dan prestasi kerja pada wanita karier yang sudah berkeluarga. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional serta menganalisis regresi ganda. Subjek penelitian iniberjumlah 38 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala konflik peran ganda, skala disiplin kerja dan skala prestasi kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat 52,63% mengalami konflik peran ganda dengan kategori tinggi dan 47,37% dalam kategori rendah. Sebagian besar perawat dengan presentase47,37% memiliki disiplin kerja tinggi dan 52,63% memiliki disiplin kerja kategori rendah. Sebagian besar perawat dengan presentase60,53% memiliki prestasi kerja tinggi dan 39,47% memiliki prestasi kerja kategori rendah. Terdapat hubungan yang negatif antara konflik peran ganda dengan prestasi kerja pada wanita karier yang sudah berkeluarga dengan koefisien korelasi -0,486. Terdapat hubungan yang positif antara disiplin kerja dengan prestasi kerja pada wanita karier yang sudah berkeluarga dengan koefisien korelasi 0,474. Terdapat hubungan yang signifikan antara konflik peran ganda dan disiplin kerja dengan prestasi kerja dengan koefisien korelasi sebesar 0,565. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberi saran (1) diharapkan bagi wanita karier yang sudah berkeluarga agar dapat memerankan peran gandanya dan mampu memanajemen diri dan waktu dengan baik antara tugas sebagai ibu rumah tangga dengan tugasnya sebagai pekerja dengan mengikuti pelatihan tentang cara memanajemen diri dan waktu sehingga tidak terjadi konflik peran ganda. (2) diharapkan pada RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo Kabupaten Pamekasan agar lebih memperhatikan wanita karier untuk memberikan kebijakan atau peraturan yang fleksibel, serta memberikan pelatihan tentang cara memanajemen diri dan waktu sehingga tidak terjadi konflik peran ganda. (3) peneliti selanjutnya disarankan agar menambah subjek dalam cakupan yang lebih luas dan banyak agar keakuratan hasil penelitian jauh lebih baik dan maksimal.
Pengembangan Modul Penyesuaian Diri di Dunia Kerja sebagai Persiapan Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Siswa SMK.
ABSTRAK Multisari, Widya. 2014. Pengembangan Modul Penyesuaian Diri di Dunia Kerja sebagai Persiapan Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Siswa SMK. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko,M.Si, dan (II) Dr. Triyono, M.Pd. Kata kunci: Modul, Penyesuaian Diri di Dunia Kerja, Prakerin Program praktik kerja industri (prakerin) merupakan salah satu cara untuk mengembangkan sifat profesional siswa SMK. Sebelum mengikuti kegiatan prakerin di DU/DI, para siswa SMK akan diberi pembekalan dari pihak jurusan dan BK. Pembekalan diberikan dengan tujuan agar siswa siap untuk masuk ke DU/DI yang berbeda dengan sekolah. Hasil survei awal lapangan terhadap 16 siswa SMKN 2 Malang yang pernah melaksanakan prakerin menunjukkan hasil 43,75 % siswa menyatakan kesulitan dalam penyesuaian diri, 25 % siswa kesulitan kontrol emosi, 18,75 siswa kesulitan ketrampilan komunikasi,dan 12,5 % lainnya mengalami kesulitan dalam mawas diri. Kemudian pada tanggal 16 Desember 2013 peneliti melanjutkan pengukuran skala tingkat penyesuaian diri di dunia kerja dengan menggunakan metode purposive incidental sampling terhadap 60 siswa SMK N 2 Malang yang belum pernah melaksanakan praktik kerja industri (prakerin), hasilnya 19 siswa (31, 67%) dalam kategori rendah, 30 siswa (50%) dalam kategori sedang dan 11 (18,33%) siswa dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil data tersebut maka, peneliti menyusun modul untuk membantu siswa meningkatkan keterampilan penyesuaian diri di dunia kerja sebagai persiapan pelaksanaan prakerin. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (development research) yang diadaptasi dari model Borg and Gall (1983). Produk yang dihasilkan adalah 1) modul siswa dan 2) panduan konselor. Hasil analisis data penilaian para ahli, dan calon pengguna produk serta revisi-revisi yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan terhadap modul dan panduan konselor, dapat disimpulkan layak, berguna, menarik, dan tepat secara teoritis maupun praktis untuk digunakan. Penelitian dilanjutkan dengan menguji efektivitas produk yang dihasilkan menggunakan desain penelitian One-Group Pre test-Post test Design. Pada penelitian ini terdapat pre-test sebelum diberikan perlakuan dan post-test setelah diberikan perlakuan. Peneliti menggunakan instrumen skala penyesuaian diri di dunia kerja berupa angket untuk memilih 10 siswa yang memiliki tingkat penyesuaian diri di dunia kerja yang rendah dan sedang. Analisis data menggunakan uji wilcoxon dengan hasil signifikansi 0.00
PENGEMBANGAN PANDUAN DAN BAHAN BIBLIOKONSELING UNTUK MENINGKATKAN DISIPLIN DIRI (SELF-DISCIPLINE) SISWA SMP
ABSTRAK Bimbingan dan konseling di sekolah merupakan program yang tujuannya adalah membantu siswa, salah satunya membantu mengembangkan disiplin diri. Menurut Ramez, disiplin diri merupakan hal yang sangat berguna dan sangat diperlukan dalam keterampilan hidup setiap orang, namun beberapa orang cenderung tidak mengembangkannya. Contohnya, siswa sering datang terlambat ketika upacara, tidak mengumpulkan tugas, dan tidak mendengarkan guru di kelas. Kurangnya informasi dan bimbingan merupakan salah satu alasan selain kurangnya kesadaran diri dan kemalasan dari diri seseorang. Bibliokonseling dapat digunakan sebagai metode yang efektif dalam meningkatkan disiplin diri. Penelitian ini bertujuan menghasilkan panduan dan bahan bibliokonseling untuk meningkatkan disiplin diri siswa SMP. Model penelitian dan pengembangan mengadaptasi langkah-langkah pengembangan dari Borg & Gall (1983). Langkah atau tahapan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahap pengumpualan informasi, tahap penyusunan prototipe produk, tahap validasi, dan tahap final revisi. Subjek uji coba terdiri dari uji oleh ahli materi bimbingan dan konseling, uji rancangan produk oleh ahli media, uji pada calon pengguna produk, dan uji kelompok kecil yang merupakan siswa SMP Negeri 5 Malang. Terdapat dua data yang diperoleh dari uji oleh ahli materi, ahli media, dan calon pengguna produk yaitu data kuantitaif dan saran perbaikan. Data ini diperoleh dengan menggunakan angket. Data kuantitatif di analisis dengan cara menjumlahkan penilaian setiap item pada setiap aspek, kemudian jumlah penilaian setiap aspek tersebut dinormakan pada kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan data berupa saran perbaikan dilakukan revisi sesuai dengan saran yang telah diberikan. Hasil penilaian dari ahli bimbingan dan konseling, ahli media, dan calon pengguna produk terhadap bibliokonseling adalah pada aspek ketepatan, aspek kegunaan., aspek kemudahan, dan aspek kemenarikan mendapatkan penilaian tepat, sangat berguna, mudah, dan menarik. Sedangkan pada hasil uji oleh kelompok kecil pada aspek ketepatan, aspek kegunaan, aspek kemudahan, dan aspek kemenarikan mendapatkan penilaian tepat, berguna, mudah, dan menarik. Berdasarkan hasil penilaian oleh ahli BK, ahli media, calon pengguna produk, dan kelompok kecil, dapat disimpulkan produk buku panduan bibliokonseling untuk meningkatkan disiplin diri (self-discipline) siswa SMP ini dapat diterima (acceptable) secara teoritis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan pada konselor dapat menggunakan panduan bibliokonseling untuk meningkatkan disiplin diri (self-discipline) siswa SMP ini sebagai media konseling siswa. Bagi peneliti selanjutnya, media bibliokonseling ini dapat dilanjutkan dengan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan media bibliokonseling peningkatan disiplin diri siswa SMP
Pengaruh Sosial Konselor (Studi Fenomenologi Mengenai Pengaruh Sosial Konselor Bersertifikat di SMAN 3 Malang)
ABSTRAK Laksana, Eko Pramudya. 2014. Pengaruh Sosial Konselor (Studi Fenomenologi Mengenai Pengaruh Sosial Konselor Bersertifikat di SMAN 3 Malang). Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Andi Mappiare AT., M. Pd., (II) Dr. Blasius Boli Lasan, M. Pd. Kata Kunci: Pengaruh Sosial, Konselor Bersertifikat, dan Fenomenologi. Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa konselor bersertifikat memandang bahwa cara untuk mempengaruhi sikap, perasaan, dan perilaku siswa adalah dengan memajang hasil kerja, bersikap jujur dan tulus, serta penampilan fisiknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi pemahaman konselor bersertifikat tentang pengaruh sosial, sumber pengaruh sosial, dan cara mengekspresikan pengaruh sosial. Jenis penelitian ini adalah fenomenologis dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian adalah konselor bersertifikat di SMAN 3 Malang. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan wawancara. Hasil analisis data dapat diketahui bahwa pemahaman subyek mengenai pengaruh sosial terdiri dari tiga hal yaitu subyek merasa dapat mempengaruhi siswa jika membantu dengan setulus hati, subyek merasa dapat mempengaruhi siswa jika bersikap halus, perhatian, dan akrab, dan subyek merasa dapat mempengaruhi siswa jika menjalankan kode etik. Pemahaman subyek mengenai sumber pengaruh sosial yang dibagi jadi tiga dimensi adalah: (1)ketermenarikan dari penampilan fisik,perilaku, serta faktor lain (2)keterpercayaan dari perilaku, penampilan, serta peran konselor , (3)kecakapan dari bukti fisik, perilaku, serta peran konselor. Pemahaman subyek mengenai cara mengekspresikan pengaruh sosial yang dibagi jadi tiga dimensi adalah: (1) Ketermenarikan diekspresikan lewat perilaku serta penampilan fisik, (2) Keterpercayaan diekpresikan dengan mentaati kode etik dan perilaku yang lain, (3) Kecakapan diekspresikan lewat perilaku dan peran konselor. Temuan penelitian ini dapat disimpulkan konselor bersertifikat: (1)Mempengaruhi siswa dengan bersikap tulus, perhatian dan akrab, serta menjalankan kode etik. (2) Memandang penampilan fisik, perilaku, peran konselor, bukti fisik kecakapan serta faktor lain sebagai sumber pengaruh sosial (3) Menunjukkan pengaruh sosialnya dengan meningkatkan penampilan fisik, menampakkan perilaku yang hangat dan bersahabat, mematuhi kode etik, menguasai informasi yang disampaikan pada siswa, serta menggunakan bahasa verbal dan non verbal yang mendukung keberhasilan pemberian bantuan selama proses konseling. Saran dalam penelitian ini untuk konselor dan peneliti selanjutnya. Kepada konselor diharapkan mampu mengembangkan pengaruh sosial yang dimilikinya dan menggunakannya untuk membantu individu berkembang secara optimal. Bagi peneliti lanjut untuk melakukan pengamatan lebih jauh di lingkungan kerja dan rumah konselor bersertifikat sebagai usaha untuk menyelami dan memahami lebih jauh tentang pemahaman konselor bersertifikat akan pengaruh sosial
Pengembangan Paket Bimbingan Kelola Emosi Marah untuk Pencegahan Tindakan Bullying Siswa SMA
ABSTRAK Purwadisti, Candramurti Wicaksana. 2014. Pengembangan Paket Bimbingan Kelola Emosi Marah untuk Pencegahan Tindakan Bullying Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko, M.Si, (II) Dr. Triyono, M.Pd. Kata Kunci: paket bimbingan, emosi marah, bullying Ketidaknyamanan yang dialami seseorang akan memicu munculnya emosi negatif yaitu emosi marah. Emosi marah yang dialami seseorang akan menimbulkan reaksi pada kecenderungan untuk melakukan tindakan yang negatif. Dengan demikian seseorang yang tersulut emosi marahnya cenderung untuk melakukan tindakan negatif seperti kekerasan atau bullying. Kasus bullyingakan terus berulang dan bermunculan jika tidak ditangani secara tepat dan berkesinambungan dari akar persoalannya. Dari beberapa contoh kasusbullying di dunia pendidikan Indonesia, dapat diketahui bahwa pelaku bullyingmerupakan korban dari tindakan bullyingpara senior sebelumnya. Korban bullyingmerasakan kejadian tidak enak yang menimpa dirinya sehingga memicu munculnya emosi marah. Emosi marah yang ada dalam diri seseorang akan membawa kecenderungan untuk melakukan tindakan bullying kepada orang lain. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, tingkat kelola emosi marah terhadap tindakan bullying di kalangan siswa menunjukkan hasil 35,3% dalam kategori rendah, 53% dalam kategori sedang, dan 11,7% siswa dalam kategori tinggi. Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti menyusun paket bimbingan untuk membantu siswa dalam meningkatkan kelola emosi marah untuk pencegahan tindakan bullying. Penelitian yang dilaksanakan yaitu penelitian dan pengembangan (development research)yang diadaptasi dari Borg and Gall (1983). Produk yang dihasilkan berupa paket bimbingan untuk siswa dan panduan untuk konselor yang sudah divalidasi oleh ahli media, ahli materi, dan calon penggunaan produk mencakup aspek kegunaan, kemudahan, ketepatan, dan kemenarikan. Dengan demikian produk yang dihasilkan layak untuk digunakan dan dapat diterima secara teoritik maupun praktik. Selanjutnya uji kelompok operasional, peneliti melakukan uji coba kelompok operasional dengan 10 siswa menggunakan One-Group Pre-Test Post-Test Design. Pemilihan subyek didasarkan dari hasil angket studi pendahuluan yang memiliki kriteria rendah. Selain itu juga dari rekomendasi konselor, karena ada beberapa siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Uji coba kelompok operasional diberikan pre-test sebelum perlakuan dan post-test setelah perlakuan. Analisis data menggunakan ujiwilcoxon, dengan hasil signifikansi0,00
pengembangan modul bimbingan perencanaan karier untuk warga belajar kelompok belajar paket b
ABSTRAK Prihatiningsih, Riskiyana. 2014. Pengembangan Modul Bimbingan Perencanaan Karier untuk Warga Belajar Kelompok Belajar Paket B. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd Kata kunci: Bimbingan Karier, Perencanaan Karier, Pendidikan Nonformal Penyelenggaraan bimbingan & konseling yang hanya pada tataran pendidikan formal, berakibat pada layanan pada pemberian layanan bimbingan karier juga hanya diberikan pada peserta didik di bangku formal. Pemberian bimbingan karier pada pendidikan nonformal tidak diberikan secara khusus melainkan di berikan sebagai selingan proses pembelajaran. Hasil dari studi awal dari 10 warga belajar menunjukkan 8 dari warga belajar merasa perlu adanya layanan perencanaan karier. Selain itu hasil wawancara yang dilakukan kepada salah satu tutor, menyatakan bahwa perlunya pemberian materi terkait perencanaan karier bagi warga belajar karena memang tidak diberikan materi terkait karier secara khusus pada program di paket B. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menyusun dan mengembangkan modul perencanaan karier untuk warga belajar kelompok belajar paket B, agar warga belajar dapat merencanakan karirnya dengan efektif. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (development research) dengan menggunakan model Borg and Gall (2003). Adapun prosedur pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) tahap I menentukan potensi masalah dan masalah penelitian, (2) tahap II mendesain produk, (3) tahap III uji ahli, (4) tahap IV revisi produk, (5) tahap V uji pengguna produk (tutor), (6) tahap VI revisi produk, (7) tahap VII uji kelompok kecil (warga belajar), (8) tahap VII revisi produk. Produk yang dihasilkan adalah 1) Modul Perencanaan Karir untuk Warga Belajar Kelompok Belajar Paket B dan 2) Panduan Modul Perencanaan Karir untuk tutor kelompok belajar paket B. Modul bagi siswa terdiri atas lima unit yaitu memahami diri, memahami pendidikan, memahami karier, cita-cita karier, dan keputusan rencana karier. Setiap unit berisi materi, latihan mandiri/kelompok, refleksi diri, dan evaluasi. Panduan terdiri dari tiga bagian utama yaitu latar belakang serta tujuan pengembangan produk, bagian dua adalah petunjuk umum, dan bagian tiga ialah petunjuk teknis penggunaan modul. Berdasarkan hasil analisis data penilaian para ahli, penilaian calon pengguna produk dan uji kelompok kecil dapat disimpulkan modul dan panduan bimbingan untuk warga belajar sangat berguna, sangat menarik, sangat efisien dan sangat tepat secara teoritis maupun praktis. Berdasarkan hal tersebut modul dianggap layak untuk dipergunakan oleh warga belajar sebagai media belajar yang mandiri. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini, saran bagi tutor sebagai pengguna produk hendaknya benar-benar memahami dan mempelajari modul ini sebelum mengaplikasikan kepada warga belajar. Saran bagi peneliti selanjutnya, hasil dari penelitian dan pengembangan ini dapat dilanjutkan dengan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan produk yang dihasilkan dalam membantu warga belajar untuk merencanakan karir dengan matang. Saran bagi jurusan bimbingan dan konseling adalah untuk mengadakan layanan bimbingan pada sekolah nonformal
pengembangan modul layanan informasi bahaya minuman keras di SMA Negeri 2 Blitar
ABSTRAK Nisa, Hikmah Ainun. 2013. Pengembangan Modul Layanan Informasi Bahaya Minuman Keras di SMA Negeri 2 Blitar. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Harmiyanto, M. Pd, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M. Pd. Kata Kunci: modul, layanan informasi, bahaya minuman keras Remaja sering kali mengalami kesulitan dalam kehidupannya. Kebingungan remaja tersebut cenderung diwujudkan dalam bentuk perilaku menyimpang seperti minum-minuman keras. Kasus penggunaan minuman keras di kalangan remaja sampai saat ini masih terjadi dan intensitasnya semakin meningkat. Minuman keras adalah minuman beralkohol yang sifatnya memabukkan dan dapat menyebabkan ketergantungan atau kecanduan pada penggunanya. Oleh karena itu, diperlukan layanan informasi bagi siswa dalam membantu memberikan pemahaman akan bahaya minuman keras sebagai upaya pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul layanan informasi bahaya minuman keras di SMA Negeri 2 Blitar, sebagai salah satu media yang dapat digunakan konselor dalam memberikan layanan informasi bahaya minuman keras yang memiliki keberterimaan secara teoritis dan praktis dan menghasilkan modul layanan informasi bahaya minuman keras yang berguna, tepat, mudah, dan menarik bagi siswa. Prosedur pengembangan modul layanan informasi bahaya minuman keras ini mengadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall (1983: 775). Tahap-tahap pengembangan meliputi (1) tahap prapengembangan (need assessment dan wawancara), (2) tahap pengembangan (merumuskan tujuan umum dan khusus, menyusun materi modul, mengembangkan instrument penelitian), (3) tahap uji validasi (ahli media, materi, calon pengguna produk, dan kelompok kecil), (4) revisi produk, dan (5) produk akhir. Analisis data kebutuhan siswa menggunakan teknik analisis persentase. Analisis data uji ahli dan calon pengguna produk menggunakan teknik analisis rata-rata. Hasil produk pengembangan ini berupa modul layanan informasi bahaya minuman keras untuk siswa dan panduan modul layanan informasi bahaya minuman keras untuk konselor. Berdasarkan hasil penilaian ahli materi, media, dan calon pengguna produk, modul layanan informasi bahaya minuman keras dan panduan modul memiliki penilaian cukup berguna, cukup tepat, cukup mudah, dan cukup menarik. Berdasarkan hasil penilaian uji kelompok kecil, modul layanan informasi bahaya minuman keras memiliki penilaian sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, dan sangat menarik. Maka dapat disimpulkan bahwa modul telah memenuhi persyaratan keberterimaan dalam kategori kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini, disarankan adanya penelitian lebih lanjut dalam skala besar dan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas penggunaan modul. Konselor harus mamahami prosedur bimbingan dan materi bimbingan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Perlunya adaptasi kebutuhan siswa apabila modul digunakan selain siswa SMA Negeri 2 Blitar. Konselor perlu menindaklanjuti hasil evaluasi diri siswa dengan melakukan konseling individu atau kelompok apabila diperlukan. Disarankan agar guru BK SMA Negeri 2 Blitar menyebarluaskan modul kepada rekan sejawat agar produk ini dapat digunakan secara luas.