SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
Keefektifan Psikodrama Untuk Meningkatkan Kemampuan Penyesuaian Diri Siswa Kelas VIII SMP Al Kamal Kunir Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015
ABSTRAK Prakoso, Bagus Satrio. 2014. Keefektifan Psikodrama Untuk Meningkatkan Kemampuan Penyesuaian Diri Siswa Kelas VIII SMP Al Kamal Kunir Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Widada, M.Si, (II). Arbin Janu Setyowati, S. Pd., M.Pd Kata Kunci : Kemampuan penyesuaian diri, psikodrama, siswa SMP AL Kamal Kunir Penyesuaian diri adalah suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan tingkah Iaku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan tegangan-tegangan, frustrasi-frustrasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin individu dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan oleh dunia dimana individu itu hidup (Semiun, 2006). Penyesuaian diri memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan remaja khususnya dalam lingkungan yang baru. Siswa yang mampu menyesuaikan diri dengan baik, dapat hidup dan bergaul baik pula dalam lingkungan di sekolahnya dan remaja tersebut akan mampu berkembang dengan optimal karena dengan penyesuaian diri yang baik siswa tersebut akan mampu mengatasi permasalahan sosial yang sering kali terjadi pada siswa. Maka dari itu diperlukan adanya penanganan yang tepat dalam mengatasi kurangnya kemampuan penyesuaian diri bagi siswa tersebut. Penanganan tersebut yakni menggunakan teknik psikodrama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keefektifan teknik psikodrama untuk meningkatkan kemampuan penyesuaian diri siswa kelas VIII SMP AL Kamal Kunir Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian eksperimen dengan jenis penelitian quasi experiment/pre ekperimental design (eksperimen semu) dengan desain Pre-test and Post-test Group. Instrumen dalam penelitian ini berupa angket yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan penyesuaian diri siswa dan untuk subjek penelitiannya adalah siswa kelas VIII SMP AL Kamal Kunir Kabupaten Blitar sebanyak 8 siswa yang dipilih berdasarkan skor angket yang memiliki nilai kemampuan penyesuaian diri yang rendah. Analisis data menggunakan statistik inferensial non-parametrik, yaitu uji beda two related samples tests Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan tingkat kemampuan penyesuaian diri siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan teknik psikodrama. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai Wilcoxon sebesar (Z= -2.521a) dan nilai probability error kurang dari 0,05 (p=0.01
Pengembangan Cerita Bergambar Berbasis Online Sebagai Media Layanan Informasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Kelas VIII SMPN 4 Malang
ABSTRAK Anmara, Mirza Helmi. 2014. Pengembangan Cerita Bergambar Berbasis Online sebagai Media Layanan Informasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Kelas VIII SMPN 4 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M.A, (II) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd Kata kunci : Cerita bergambar, layanan informasi, penyalahgunaan narkoba Narkoba termasuk golongan bahan atau zat yang jika masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi-fungsi yang dapat merusak tubuh terutama otak (BNN, 2007:40). Pencegahan penyalahgunaan narkoba dikalangan siswa menengah pertama (SMP) dapat dilakukan dengan memberikan layanan informasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Salah satu media yang dapat digunakan adalah cerita bergambar berbasis online. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan cerita bergambar berbasis online sebagai media layanan informasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba yang mengadopsi langkah-langkah pengembangan dari Borg and Gall. Subjek uji coba adalah ahli bimbingan dan konseling, ahli media, calon pengguna produk (konselor), dan uji kelompok kecil. Data Kuantitatif dianalisis dengan analisis rerata dan data kualitatif dianalisis dengan analisis deskriptif. Produk pengembangan ini telah dinilai oleh ahli, calon pengguna produk (konselor), dan uji kelompok kecil. Secara kuantitatif, hasil penilaian keseluruhan dari para ahli dan calon pengguna produk (konselor) untuk aspek spesifikasi produk aspek kegunaan 3,47 (sangat berguna); aspek kelayakan 3,03 (sangat layak); aspek ketepatan 2,89 (tepat); aspek kemenarikan 2,91 (menarik); dan rata-rata keseluruhan aspek 3,07 (sangat baik).Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa produk cerita bergambar berbasis online sebagai media layanan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba mempunyai nilai sangat baik dan dapat diterima secara teoritis. Hasil penilaian melalui uji kelompok kecilmengenai spesifikasi produk diperoleh nilai rerata 3,28 dalam nilai 0-4. Hal ini berarti uji kelompok kecil menyatakan bahwa cerita bergambar berbasis onlinesebagai media layanan infromasi bahaya penyalahgunaan narkoba mempunyai nilai sangat baik dan sangat sesuai untuk digunakansebagai media layanan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba. Dalam penilaianpretest-postestmempunyai nilai rerata keseluruhan 6,7 dan 8,8 yang berarti terdapattingkat perubahan atau kemajuan siswa setelah diberikan informasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan perlunya melakukan uji kelompok besar, sehingga dapat diketahui penilaian serta masukan-masukan dari siswa baik dari sisi isi materi dan teknis pemberian layanan informasinya agar cerita bergambar berbasis onlineyang telah dikembangkan menjadi lebih baik lagi dan dapat dirasakan manfaatnya. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan produk dalam bentuk komik untuk siswa SMP, disarankan untuk memperhatikanlay out, komposisi, dan pengembangan karakter penokohan yang lebih sesuai dengan usia SMP. ABSTRAK Anmara, Mirza Helmi. 2014. The Development of Picture Story Based Online as A Media Information Service of Drugs Abuse in 8th Grade of Junior High School 4 Malang. Sarjana’s Thesis, Departement of Guidance and Counseling, Faculty of Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. M. Ramli, M.A, (II) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd Keywords: Picture story, Information service, Drugs abuse Drugs is one of the substance that can influence the function of human body especially for brain which can broke it if human consume drugs (BNN, 2007:40). To prevent drugs abuse in the students of junior high school is to give the information service about the dangerous of drugs abuse. One of the media that can be used is based on online picture story. This research is the development research of picture story based online as a media information service of drugs abuse which adopted the development steps from Borg and Gall model. The subject of experiment is speacialist of guidance and conseling, specialist of media, product user aspirant (counselor), and small group experiment. Quantitative data is analized by average analyses and qualitative data with descriptive analyses. This development product have scored by specialist, user product aspirant (counselor), and small group experiment. Quantitativly, the whole result of subject that scored by specialists and user product aspirant (counselor) for spesification aspect product; 3,47 (very useful); properness aspect 3,03 (very proper); accurateness aspect 2,89 (accurate)’ attractiveness aspect 2,91 (attractive); and the whole averages aspect 3,07 (very good). That’s all, it can say that picture story based online as a media information service of drugs abuse has very good value and it acceptable teoritically. The result of the assessment by the small group experiment about the product specification obtain the average value about 3,28 in scoring from 0-4. It means that the assessment by the small group experiment said that the picture story based online as a media information service of drugs abuse has very good value and it is very acceptable for using it as a media information service of drugs abuse. In scoring for pretest-postest has all of the average value 6,7 and 8,8 which means that there is a number of increasing the change or the progress of the student after given the information about the dangerous of drugs abuse. Based on this research , it is need to be adviced for doing a big group experiment, that assessment could be known as well as input from students both from the side of the contents of the material and technical information service delivery based online picture story that has been developed to become better and can be useful. Next for the researchers who want to develop a product in the form of comic to junior high school students , suggested to pay attention to lay out, composition and characterization development which is in line with student of junior high school.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DAN KESEHATAN MENTAL SISWA KELAS X SMAN 1 PROBOLINGGO
ABSTRAK Valentino, Bravo. 2013. Hubungan Kecerdasan Emosi dan Kesehatan Mental Siswa Kelas X SMA N 1 Probolinggo. Pembimbing : (I) Drs. H. Widada, M.Si, (II) Dr. H. M. Ramli, M.A Kata kunci : kecerdasan emosi, kesehatan mental. Siswa yang memasuki masa transisi remaja awal memiliki kecerdasan emosi dan kesehatan mental yang labil. Semakin baik kecerdasan siswa dalam pengelolaan emosi semakin baik pula tingkat kesehatan mental siswa. Konteks kecerdasan emosi itu sendiri mencakup tentang pengendalian diri, penghargaan terhadap orang lain, dan penyelesaian terhadap persoalan yang dihadapi. Hal ini dapat didapatkan jika kesehatan mental siswa dapat dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kecerdasan emosi siswa kelas X SMA N 1 Probolinggo, (2) mendeskripsikan kesehatan mental siswa kelas X SMA N 1 Probolinggo, (3) mengetahui hubungan antara kecerdasan emosi dan kesehatan mental siswa kelas X SMA N 1 Probolinggo. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain deskriptif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA N 1 Probolinggo tahun pelajaran 2013/2014. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Data penelitian diambil dengan menggunakan dua skala yaitu skala kecerdasan emosi dan skala kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8% siswa memiliki kecerdasan emosi dengan kualifikasi tinggi, 78% siswa memiliki kecerdasan emosi dengan kualifikasi sedang dan 14% siswa memiliki kecerdasan emosi dengan kualifikasi rendah. Sebanyak 14% siswa memiliki kesehatan mental dengan kualifikasi tinggi, 78% siswa memiliki kesehatan mental dengan kualifikasi sedang dan 8% siswa memiliki kesehatan mental dengan kualifikasi rendah. Hasil analisis korelasional Pearson menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dan kesehatan mental (rxy = - 0,493; sig = 0,002< 0,05). Artinya semakin tinggi kecerdasan emosi siswa maka akan semakin tinggi pula kesehatan mental siswa, hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosi berbanding lurus dengan kesehatan mental siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka guru BK hendaknya meningkatkan kecerdasan emosi khususnya siswa yang memiliki kecerdasan emosi rendah agar meningkat menjadi sedang dan tinggi. Peneliti selanjutnya hedaknya melakukan penelitian sejenis dengan populasi yang lebih besar dan beragam. Sehingga diperoeh generalisasi yang lebih luas
EFEKTIVITAS KONSELING REALITA UNTUK MENURUNKAN PERILAKU TIDAK BERTANGGUNG JAWAB SISWA DALAM BELAJAR
ABSTRAK MUSYAROFAH* M. RAMLI** HARMIYANTO*** *Jurusan BK FIP UM, email: [email protected] **Jurusan BK FIP UM, Jl. Semarang 5 Malang 65145 e-mail: [email protected] ***Jurusan BK FIP UM, Jl. Semarang 5 Malang 65145 e-mail: [email protected] Abstrak: Efektivitas konseling realita untuk menurunkan perilaku tidak bertanggung jawab siswa dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui efektivitas konseling realita dalam menurunkan perilaku tidak bertanggung jawab siswa kelas IX SMP dalam belajar. Rancangan penelitian ini adalah single-subject design jenis A-B-A’. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah tiga orang siswa yang memiliki tanggung jawab belajar rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling realita efektif untuk menurunkan perilaku tidak bertanggung jawab siswa dalam belajar. Kata kunci: efektivitas, konseling realita, tanggung jawab belajar Abstract: Effectiveness of reality counseling to decrease irresponsible behavior of students in learning. This study aims to determine the effectiveness of reality counseling to reduce student’s irresponsible behavior in learning. The research design of this study is a single-subject design type A-B-A ‘. Research subjects in this study are three students who have a low learning responsibility. The research results show that the change implies the understanding that reality counseling is effective for lowering irresponsible behavior in student learning. Key words: Effectiveness, Reality Counseling, learning responsibility Pemerintah ramai menekankan pencanangan pendidikan karakter. Pendidikan karakter akan mengantarkan warga belajar dengan potensi yang dimilikinya untuk menjadi insan-insan yang beradab, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kehambaan dan kekhalifahan. Tanggung jawab utama seorang siswa adalah tanggung jawab dalam bidang akademik terutama belajar seperti mengikuti pelajaran di kelas, tidak bolos sekolah, mencatat pelajaran, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, mengerjakan PR, mengerjakan ujian tanpa mencontek teman, tidak ramai saat pelajaran. Tanggung jawab belajar siswa terbentuk dari dalam diri siswa sendiri. Soedarsono (2010:245) mengatakan bahwa karakter seseorang dapat dibentuk dengan pemberian tanggung jawab. Perlunya meningkatkan tanggung jawab dalam bidang akademik akan mendorong siswa untuk berprestasi serta membentuk watak yang positif. Dalam hal ini bimbingan dan konseling berperan besar dalam pencanangan pendidikan karakter, terutama membantu siswa yang mencakup prestasi belajar yang rendah serta nilai tanggung jawab siswa terhadap belajarnya. Pembentukan karakter siswa bisa di bentuk melalui layanan-layanan yang diberikan oleh konselor, misalnya melalui layanan bimbingan dan konseling. 2 Tanggung jawab belajar ini bergantung pada diri siswa yang bersangkutan. Jika siswa tidak mampu mengontrol diri mereka sendiri agar bertanggung jawab atas belajarnya maka akan memiliki tingkat tanggung jawab belajar yang rendah. Jika siswa memiliki tingkat tanggung jawab belajar yang rendah maka siswa tersebut kemungkinan besar memiliki prestasi belajar yang rendah pula. Dalam upayanya membantu siswa yang mengalami permasalahan dalam tanggung jawab belajar, konselor menggunakan pendekatan konseling realita. Konselor memilih menggunakan pendekatan konseling realita yang dicetuskan oleh William Glasser karena di dalam pendekan konseling realita ini terdapat tiga sikap yang menunjukkan pribadi sukses, yaitu sikap 3R (right, responsibility, reality) dalam upaya untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut William Glasser manusia memiliki lima kebutuhan dasar (basic needs) yaitu kebutuhan bertahan hidup (survival), mencintai dan di cintai (love and belonging), kekuasaan atau prestasi (power of achievement), kebebasan atau kemerdekaan (freedom), dan kesenangan (fun). Pendekatan konseling realita menyatakan keyakinan dasarnya, yaitu bahwa kita semua bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil untuk kemudian kita lakukan dalam hidup ini dan bahwa dalam lingkungan terapeutik yang hangat dan tidak bernada hukuman kita bersedia untuk belajar lebih banyak lagi untuk menentukan pilihan yang lebih efektif, atau cara yang lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan kita ini. Prosedur yang spesifik dari praktik konseling realita ini diringkas dalam model "WDEP". Sistem tersebut terdiri atas empat tahap yaitu wants (keinginan), doing (melakukan), evaluation (penilaian), dan planning (merencanakan). Menurut Glasser (dalam Corey, 1998) tanggung jawab merupakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengan cara yang tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Zubaedi (2011) menyebutkan bahwa tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan terhadap dir i sendir i, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, TuhanYang Maha Esa. Tanggung jawab belajar merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Tanggung jawab dalam belajar meliputi mengikuti pelajaran, mencatat pelajaran, mengerjakan tugas- tugas yang diberikan oleh guru, mengerjakan PR, mendengarkan aktif saat pelajaran, memperhatikan guru saat menjelaskan pelajaran, mengerjakan PR sendiri, mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling realita dalam menurunkan perilaku tidak bertanggung jawab siswa kelas IX SMP dalam belajar. METODE Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Peneliti menggunakan penelitian eksperimen semu (Quasi- Eksperimental Research) tanpa kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan jenis 3 desain eksperimen kasus tunggal (Single-Case Experimental Design) yang disingkat SCED (Nindia, 2010). Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain A-B-A’. Desain A-B-A’ ini memiliki tiga fase, yaitu : Fase A : baseline 1, Fase B : treatment, Fase A’ : baseline 2. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 2 Malang tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak tiga siswa. Penentuan subjek penelitian melalui pengamatan langsung dan studi dokumentasi yang dikhususkan bagi siwa kelas IX yang memiliki tingkat tanggung jawab belajar yang rendah. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan: (1) Metode Observasi, sebagai metode ilmiah, observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencataan dengan sistematik fenomena- fenomena yang diselidiki. Rangkuman dalam observasi ini di catat dalam catatan lapangan yang memuat tanggal, tempat, subjek, waktu/ jam. situasi dan fakta- fakta yang terjadi di lapangan serta interpretasi peneliti terhadap fakta- fakta tersebut; (2) Metode dokumentasi, Metode dokumentasi digunakan untuk mengungkap data siswa yang memiliki tingkat tanggung jawab belajar yang rendah, yaitu dengan cara melihat bukti-bukti tertulis yang ada pada guru BK dan wali kelas yang berupa buku kejadian siswa, buku absensi siswa, buku daftar nilai siswa, dan perilaku setiap hari; (3) Metode wawancara, wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas, langsung dan terencana. Peneliti mewawancarai siswa untuk memperoleh data mengenai kendala bagi siswa dalam pelaksanaan treatment, terutama mengenai perasaan saat diberikan treatment berupa konseling realita, alokasi waktu, petunjuk kegiatan yang diberikan, kelancaran pelaksanaan treatment. Penelitian ini menggunakan SCED, maka analisa data dilakukan secara individual. Data dari masing-masing subjek penelitian direkam secara terpisah. Untuk melakukan analisa data hasil penelitian ini menggunakan visual inspection. Visual inspection merupakan grafik guna mempermudah melihat perubahan frekuensi perilaku. Dari visual inspection yang ada akan diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan efektif tidaknya konseling realita untuk meningkatkan tanggung jawab belajar siswa. HASIL Pengukuran data perilaku tidak bertanggung jawab siswa dalam belajar dilakukan oleh dua observer. Dua observer ini mengobservasi dalam waktu dan subjek yang sama. Dua observer yang dimaksudkan adalah peneliti dan satu guru BK. Pengambilan data perilaku tanggung jawab siswa dalam belajar dilakukan pada saat siswa sekolah dan kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Pada fase A (baseline I) data diambil selama 5 hari, sedangkan pada fase B (treatment) dilakukan selama 3 hari, dan fase A’ (baseline 2) dilakukan selama 5 hari. Perilaku yang mencerminkan tanggung jawab dalam belajar meliputi mengikuti pelajaran, mencatat pelajaran, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, mengerjakan PR, mengikuti pelajaran dengan tenang, mendengarkan aktif saat guru menjelaskan pelajaran, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mengerjakan PR di rumah. Untuk mendapatkan data perilaku bertanggung jawab siswa dalam belajar yang valid dilakukan dengan mendefinisikan secara operasional perilaku tidak tanggung jawab belajar. Perilaku tidak tanggung jawab belajar yang didefinisikan sebagai berikut: 1) tidak mencatat 4 pelajaran, 2) tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, (3) tidak mengerjakan PR, 4) mencontek pekerjaan teman, 5) ramai saat pelajaran Pemilihan perilaku tidak tanggung jawab tersebut dilakukan dengan cara studi dokumentasi dan mengobservasi tingkah laku kemudian mendefinisikan jenis perilaku tidak tanggung jawab belajar yang ditemukan di sekolah bersama observer pendamping. Akhir dari diskusi tersebut peneliti memberikan justifikasi terhadap setiap jenis perilaku tidak tanggung jawab yang akan diobservasi yakni: 1) tidak mencatat pelajaran, 2) tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, (3) tidak mengerjakan PR, 4) mencontek pekerjaan teman, 5) ramai saat pelajaran. Berdasarkan perhitungan reliabilitas dengan teknik interobserver agreement data fase baseline 1 (fase A), dan fase baseline 2 (A’) dapat dijelaskan bahwa dari 150 data atau 75 pasang data, koefisien reliabilitasnya masing-masing 88,9% dua (2) pasang data, koefisien reliabilitas 90% dua (2) pasang data, koefisien reliabilitas 90,9% dua (2) pasang data, koefisien reliabilitas 91,6% dua (2) pasang data, koefisien reliabilitas 92,3% satu (1) pasang data, dan koefisien reliabilitas 100% enam (6) pasang data. Dengan demikian 75 pasang data baik fase A (baseline 1) maupun fase A’ (baseline 2) dinyatakan reliable karena tidak ditemukan pasangan data yang koefisien reliabilitasnya dibawah 80%. Mengacu pada kriteria yang dimaksudkan oleh Goodwin and Coates (1976) bahwa pengubahan tingkah laku dinyatakan berhasil atau efektif jika perilaku tanggung jawab belajar tereduksi minimal 50%. Berdasarkan perhitungan persentase perubahan perilaku tidak tanggung jawab belajar dari masing-masing subjek tereduksi diatas 50% dan dapat diuraikan sebagai berikut: Subjek 1, pada fase baseline 1 (fase A) data frekuensi perilaku tidak bertanggung jawab siswa dalam belajar sebelum diberi treatment total frekuensinya sebanyak 48 kali. Setelah diberi treatment, pada fase A’ diperoleh total frekuensi perilaku tidak tanggung jawab belajar sebanyak 12 kali atau terjadi penurunan frekuensi 75%. Penurunan frekuensi dari fase baseline 1 (fase A) ke fase baseline 2 (A’) sebesar 75% lebih dari 50% maka treatment dinyatakan efektif. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa keefektifan konseling realita setelah diberi treatment (fase B) untuk menurunkan perilaku bertanggung jawab siswa dalam belajar dinyatakan diterima; Subjek 2, pada fase baseline 1 (fase A) data fekuensi perilaku tidak bertanggung jawab siswa dalam belajar sebelum diberi treatment total frekuensinya sebanyak 53,5 kali. Setelah diberi treatment, pada fase A’ diperoleh total frekuensi perilaku tidak tanggung jawab belajar sebanyak 15 kali atau terjadi penurunan frekuensi 71,2%. Penurunan frekuensi dari fase baseline 1 (fase A) ke fase baseline 2 (A’) sebesar 71,2% lebih dari 50% maka treatment dinyatakan efektif. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa keefektifan konseling realita setelah diberi treatment (fase B) untuk menurunkan perilaku bertanggung jawab siswa dalam belajar dinyatakan diterima; Subjek 3, pada fase baseline 1 (fase A) data fekuensi perilaku tidak bertanggung jawab siswa dalam belajar sebelum diberi treatment total frekuensinya sebanyak 44,5 kali. Setelah diberi treatment, pada fase A’ diperoleh total frekuensi perilaku tidak tanggung jawab belajar sebanyak 10,5 kali atau terjadi penurunan frekuensi 76,4%. Penurunan frekuensi dari fase baseline 1 (fase A) ke fase baseline 2 (A’) sebesar 76,4% lebih dari 50% maka treatment dinyatakan efektif. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa keefektifan konseling realita setelah 5 diberi treatment (fase B) untuk menurunkan perilaku bertanggung jawab siswa dalam belajar dinyatakan diterima. BAHASAN Dalam upaya untuk menurunkan perilaku tidak bertanggungjawab dalam belajar siswa diperlukan intervensi dari konselor sekolah melalui layanan bimbingan dan konseling secara terpadu dan tepat. Salah satu tujuan sekolah ialah agar siswa mempunyai karakter yang baik dan salah satu tugas sekolah untuk menjadikan siswanya berkarakter adalah memberikan layanan bimbingan dan konseling yang bertujuan membantu siswa mengatasi permasalahannya, mengembangkan potensi dirinya, serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar dari kesalahannya. Bimbingan dan konseling diperlukan dan berperan besar bagi penumbuhan karakter pada diri siswa. Penumbuhan karakter pada diri siswa khususnya adalah mengenai aspek afektif, sikap, dan untuk meningkatkankan nilai karakter tanggung jawab yang ada pada diri siswa. Untuk memberikan intervensi tersebut digunakan konseling realita secara individu. Tujuan dasar konseling realita adalah membantu individu untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berdasarkan realita yang ada, bertindak benar dalam pengambilan keputusan yang lebih baik dalam rangka memenuhi semua kebutuhannya. Identitas berhasil dalam konseling realita adalah terpenuhinya prinsip 3R (right, responsibility, reality) dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Prinsip 3R konseling realita merupakan landasan bagi realisasi untuk tumbuh dalam rangka memuaskan kebutuhannya dan menjadi pribadi yang sukses. Setiap manusia memiliki kekuatan untuk tumbuh. Maka dari itu setiap manusia dalam upaya pemenuhan kebutuhannya dan pencapaian tujuannya agar sukses diperlukan prinsip 3R. Penelitan yang diselenggarakan pada tanggal 14 Oktober 2013 dengan mempelajari data, dokumen yang ada di sekolah, dan pengamatan langsung mengenai siswa yang memiliki tanggung jawab belajar rendah. Dari data dan pengamatan tersebut peneliti menentukan tiga orang siswa yang dijadikan sebagai subjek penelitian. Perilaku yang dijadikan penelitian adalah perilaku yang sering dimunculkan oleh ketiga subjek penelitian, yaitu: 1) tidak mencatat pelajaran, 2) tidak mengerjakan tugas, 3) tidak mengerjakan PR, 4) mencontek pekerjaan teman, 5) ramai saat pelajaran Bagian ini mengkaji hasil temuan pelaksanaan konseling individu realita untuk menurunkan perilaku tidak bertanggung jawab dalam belajar siswa kelas IX SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling individu realita efektif untuk menurunkan perilaku tidak tanggung jawab belajar siswa kelas IX SMP, yang ditandai dengan: Pertama, adanya penurunan skor tidak bertanggungjawab dalam belajar pada semua konseli yang memiliki perilaku tidak bertanggung jawab dalam belajar. Perubahan penurunan perilaku tidak bertanggung jawab dalam belajar ini tampak bahwa sebelum adanya treatment , perilaku tidak bertanggungjawab dalam belajar siswa tinggi, setelah diberikan treatment dengan konseling individu realita, perilaku tidak tanggung jawab belajar siswa turun. Secara khusus temuan lain dalam penelitian ini adalah terdapatnya subjek penelitian yang memperoleh skor perilaku tidak tanggung jawab belajar lebih tinggi dari skor perilaku tidak tanggung jawab subjek lain. Salah satu kemungkinan mengapa ini terjadi karena 6 faktor subjek itu sendiri (internal) yaitu kecenderungan minat yang rendah untuk berani berubah dan mengendalikan diri dalam usahanya untuk mencapai kebutuhan dasar secara bertanggungjawab dan realitas. Teori pilihan (Choice theory) menjelaskan bahwa satu-satunya orang yang bisa anda kendalikan untuk mencapai kebutuhan dasar menurut konseling realita adalah diri anda sendiri (Corey 2005). Ini berarti bahwa individu sangat menentukan dalam hubungannya pencapaian kebutuhan dasar secara realistis dan bertanggungjawab. Menurut Glasser (dalam Corey, 2005) bahwa konseling realita lebih menekankan pada kekuatan pribadi dan pada dasarnya meupakan jalan dimana konseli bisa belajar tingkah laku yang lebih realistik dan bisa mencapai keberhasilan. Semua perilaku itu digerakkan dari dalam diri individu sendiri dan masing-masing pribadi memiliki pilihan kepada apa yang akan dilakukan. Kedua, penelitian ini juga membuktikan bahwa pendekatan konseling realita dapat menurunkan perilaku tidak bertanggungjawab dalam belajar siswa yang menggejala dalam bentuk perilaku tidak bertanggungjawab belajar siswa di sekolah seperti, belajar seperti: 1) tidak mencatat pelajaran, 2) tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, (3) tidak mengerjakan PR, 4) mencontek pekerjaan teman, 5) ramai saat pelajaran. Penurunan perilaku tidak bertanggungjawab dalam belajar subjek (segi jumlah maupun waktu) dapat dilihat dari hasil penelitian menggunakan alat observasi tingkah laku langsung terhadap ke-5 perilaku tidak bertanggungjawab tersebut yang menjadi objek observasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku tidak brtanggungjawab dalam belajar tersebut menurun setelah diberikan treatment konseling individu realita. Proses pemberian treatment dilakukan pada tanggal 21-23 Oktober 2013 oleh peneliti. Pada fase B ini dilaksanakan konseling realita dengan prosedur WDEP. Prosedur WDEP mengacu pada kumpulan strategi: W= wants and need (keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan), D= direction and doing (arah dan tindakan), E= self evaluation (evaluasi diri), dan P= planning (perencanaan). Proses konseling ini diawali dengan keterlibatan konseli dalam pelaksanaan konseling realita. Glasser mendefinisikan tanggung jawab sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dengan cara yang tidak merugikan, merampas atau mengorbankan orang lain dalam memenuhi kebutuhan mereka. Sejauh individu bertanggung jawab dalam perbuatannya, sesungguhnya dia telah mencapai identitas sukses atau berhasil dan bermental sehat. Demikian pula sebaliknya, jika manusia itu “sakit” dia akan membuat alasan-alasan atas perbuatannya yang tidak bertanggung jawab. Perilaku yang ditunjukkan oleh ketiga subjek penelitian sebelum diberi treatment tidak mencerminkan perilaku yang bertanggungjawab, merugikan, dan mengorbankan orang lain di sekitar subjek. Sesuai hasil penelitian yang semula subjek berperilaku tidak tanggung jawab belajar kemudian diberi treatment, setelah itu di ukur kembali perilakunya maka diperoleh perubahan perilaku dari masing-masing subjek penelitian. Dari subjek yang semula memiliki sikap tidak tanggung jawab belajar tinggi mengalami penurunan. Mengacu pada kriteria yang dimaksudkan oleh Goodwin and Coates (1976) bahwa pengubahan tingkah laku dinyatakan berhasil atau efektif jika perilaku tanggung jawab belajar tereduksi tidak kurang dari 50%. Berdasarkan 7 perhitungan persentase perubahan perilaku tidak tanggung jawab belajar dari masing-masing subjek tereduksi diatas 50%. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga subjek bertanggungjawab atas belajarnya. Keefektifan konseling realita ini menunjang hasil-hasil penelitian lain, misal penelitian Nindia untuk menegakkan kedisiplinan siswa SMP di Kabupaten Ponorogo dan penelitian Widodo untuk meningkatkan perilaku disiplin siswa di sekolah. Berdasarkan hasil pembahasan pelaksanaan konseling realita di atas, secara umum dapat dikatakan bahwa konseling realita dengan menggunakan prosedur WDEP efektif untuk menurunkan perilaku tidak bertanggung jawab dalam belajar siswa kelas IX SMP. SIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan pelaksanaan konseling realita pada bab sebelumnya, secara umum dapat dikatakan bahwa konseling realita dengan menggunakan prosedur WDEP efektif untuk menurunkan perilaku tidak bertanggung jawab siswa kelas IX SMP dalam belajar. Persentase perubahan perilaku tidak bertanggung jawab dalam belajar yang dimunculkan ketiga subjek setelah diberi treatment semuanya mengalami penurunan lebih dari 50% (melebihi persentase perubahan minimal). Adapun persentase perubahan yang dicapai berkisar 70%-75% terhadap ketiga subjek penelitian. Sehingga konseling realita dengan prosedur W-D-E-P dinyatakan efektif untuk menurunkan perilaku tidak ber tanggug jawab siswa kelas IX SMP dalam belajar. Pengujian yang dirancang dalam penelitian ini hanya dilakukan kepada siswa kelas IX SMP, sehingga belum diketahui keefektifan konseling realita bila diterapkan pada subjek lain misalnya siswa SMA sehingga diperoleh kesimpulan yang lebih luas. Oleh karena iui, untuk peneliti yang tertarik mengembangkan penelitian dapat melakukan pengujian keefektifan konseling realita untuk menurunkan perilaku tidak bertanggungjawab dalam belajar siswa terhadap subjek dengan latar belakang dan karakteristik yang berbeda. Penelitian eksperimen ini hendaknya dapat dikembangkan dengan mengembangkan desain yang ada, misalnya dengan menggunakan desain A-B-A’-B’ atau A-B-A-B-C supaya hasilnya lebih maksimal. DAFTAR RUJUKAN Alberto, P. & Troutmant, A. 1990. Applied Behavior Analysis for Teachers (3rd.Ed). Ohio: Meril Publishing Company. Corey, G. 1998. Theory and Practice of Counseling and psychoterapy. Monterey, California: Brooks/
Efektivitas Teknik Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Kerjasama Siswa SMP Laboratorium UM
ABSTRAK Amalia, Rizka. 2014. Efektivitas Teknik Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Kerjasama Siswa SMP Laboratorium UM. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Elia Flurentin, M. Pd. dan (II) Drs. Widada, M. Si. Kata kunci: Permainan simulasi, kerjasama, siswa SMP Dalam rentang kehidupan manusia, masa remaja merupakan masa dimana seorang individu memasuki satu bentuk hubungan antar pribadi dengan orang lain. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya. Siswa dalam mengembangkan kemampuan sosial cenderung bergabung dengan kelompok dan banyak berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas kelompok di sekolah. Permainan simulasi merupakan teknik bimbingan kelompok yang dapat digunakan untuk memberikan layanan bimbingan pribadi sosial untuk meningkatkan kerjasama siswa dalam mencapai tingkat kematangan sosial yang optimal. Siswa yang memiliki kecakapan kerjasama yang baik cenderung lebih mudah bergaul, diterima anggota kelompok sebayanya. Berdasarkan pengamatan di sekolah, dilakukan penelitian untuk meningkatkan kerjasama siswa SMP dengan menggunakan teknik bimbingan kelompok berupa permainan simulasi ular tangga. Permainan ini mensimulasikan situasi-simulasi di mana siswa bekerjasama dalam kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan teknik permainan simulasi berupa beberan simulasi ular tangga untuk meningkatkan kerjasama siswa SMP. Penelitian ini menggunakan rancangan Eksperimen Semu dengan desain one group pretest-postest. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII dengan variabel bebas yaitu teknik permainan simulasi dan variabel terikat yaitu kerjasama. Instrumen yang digunakan yaitu pedoman eksperimen permainan simulasi ular tangga dan kuesioner skala keterampilan kerjasama. Setelah dilakukan pretest, diperoleh 36 orang siswa yang akan diberi treatment. Data dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dengan menggunakan SPSS versi 16.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kerjasama antara sebelum dan sesudah treatment. Aspek dari kerjasama yaitu 1) aspek ketergantungan positif, 2) memiliki tanggung jawab pribadi, 3) interaksi yang mendorong, 4) keterampilan sosial, 5) proses sosial. Dari penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa permainan simulasi ular tangga untuk meningkatkan kerjasama siswa SMP dengan adanya perbedaan antara skor pretest dan posttest pada hasil uji paired sample t-test mengalami peningkatan dari pada sebelum diberikan treatment. Dalam layanan di sekolah, konselor diharapkan dapat menggunakan teknik permainan simulasi ular tangga sebagai media layanan bimbingan kelompok sesuai dengan prosedur untuk meningkatkan kerjasama. Penelitian selanjutnya dalam menguji efektivitas teknik permainan simulasi ular tangga, disarankan menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk membandingkan perbedaan hasilnya.
KONTRIBUSI LAYANAN KONSULTASI DENGAN ORANG TUA TERHADAP PENURUNAN MASALAH MEMBOLOS DI SMK NEGERI 5 MALANG
ABSTRAK Firnandi, Dody Aria. 2014. Kontribusi Layanan Konsultasi dengan Orang Tua terhadap Penurunan Masalah Membolos di SMK Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultasi Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Dr. IM Hambali, M.Pd. Kata Kunci: Konsultasi dengan orang tua, Membolos, SMK Negeri 5 Malang Membolos sering dilakukan oleh siswa SMK Negeri 5 Malang. Masalah membolos merupakan salah satu masalah yang menjadi tantangan bagi konselor di SMK Negeri 5 Malang untuk membantu siswa menyelesaikannya. Sejak tanggal 19 Agustus 2013 sampai dengan tanggal 17 September 2013 di Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak terdapat 26 siswa pernah membolos. Dari 26 siswa tersebut 3 diantaranya melakukan membolos lebih dari 3 hari secara beruntun. Untuk mengatasi masalah siswa terutama masalah membolos, konselor SMK Negeri 5 Malang, sering menggunakan layanan konsultasi dengan orang tua.Bukan hanya untuk menangani siswa membolos saja, konselor SMK Negeri 5 Malang juga banyak melibatkan orang tua untuk penangananan masalah siswa. Dari dua fenomena tersebut yaitu, membolos dan pelibatan orang tua dalam penanangan siswa, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya kontribusi layanan konsultasi dengan orang tua dalam mengatasi masalah membolos di SMK Negeri 5 Malang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian expost facto, yaitu dengan metode penelitian kausal komparatif atau uji beda. Dengan menggunakan sampel total yaitu semua siswa dalam populasi dipelajari dan menggunakan teknik kajian dokumen untuk pengumpulan datanya. Setelah itu dari data tersebut dianalisis dengan menggunakan uji beda Wilcoxon untuk menguji hipotesis penelitiannya. Untuk mengetahui tinggi rendahnya data, juga dihitung rata-rata frekuensi membolos setiap siswa sebelum dan sesudah layanan konsultasi dengan orang tua diberikan. Berdasarkan analisis data,ditemukan bahwa: (1) ada perbedaan antara frekuensi membolos sebelum layanan konsultasi dengan orang tua diberikan dan frekuensi membolos sesudah layanan konsultasi dengan orang tua diberikan, (2) rata-rata frekuensi membolos setiap siswa sebelum konsultasi adalah 2,5 hari dan rata-rata frekuensi membolos setiap siswa sesudah layanan konsultasi adalah 0,5 hari. Saran yang diberikan dari penelitian ini adalah konselor dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi layanan yang dapat digunakan khusus untuk masalah siswa membolos. Jika bila dengan konseling atau layanan yang lain belum menghasilkan perubahan yang signifikan terhadap masalah membolos konseli, layanan konsultasi dengan orang tua bisa membantu untuk mengatasi masalah membolos tersebut. Serta perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait efektivitas layanan konsultasi dengan orang tua dengan menggunakan berbagai macam teknik dan model layanan konsultasi untuk membantu menyelesaikan masalah konseli.
Perbedaan Keterampilan Pengelolaan Diri Antara Siswa Kelas Akselerasi Dan Siswa Kelas Reguler Di SMA Negeri Se-Kota Malang
ABSTRAK Prasetyo, Johan Teguh. 2014. Perbedaan Keterampilan pengelolaan diri antara Siswa Kelas Akselerasi dan Siswa Kelas Reguler di SMA Negeri se-Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany M. Handarini, M. A. (II) Drs. Lutfi Fauzan, M. Pd. Kata Kunci : Keterampilan pengelolaan diri, Akselerasi, Reguler. Keterampilan pengelolaan diri (keterampilan pengelolaan diri) merupakan aktivitas yang berorientasi pada keteraturan dan kedisiplinan diri. Dalam hal ini apabila diterapkan pada siswa berarti merupakan strategi yang digunakan siswa dalam mengatur dan mengontrol cara belajarnya dan untuk mencegah datangnya faktor-faktor penghambat dalam belajar. Banyak hal yang mempengaruhi keterampilan pengelolaan diri siswa salah satunya adalah model pembelajaran kelas akselerasi dan kelas reguler. Akselerasi adalah salah satu bentuk pelaksanaan pendidikan khusus untuk anak berbakat dengan cara mempersingkat waktu dalam menyelesaikan bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan istimewa yang mereka miliki. Program reguler adalah program pendidikan dengan masa belajar normal yaitu tiga tahun. Penelitian ini menggunakan model deskriptif komparatif yaitu penelitian yang mendeskripsikan perbandingan dua kelompok data. Metode yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan keterampilan pengelolaan diri siswa akselerasi dan siswa reguler adalah dengan menggunakan uji Independent Sample t-test. Dari hasil uji t diketahui bahwa terdapat perbedaan keterampilan pengelolaan diri antara siswa akselerasi dan siswa reguler dengan Sig. 2 tailed 0,00
Peran Pengasuh dalam Meningkatkan Prestasi Akademik Santri Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal Kelas X Di MAN Kunir Wonodadi Blitar
ABSTRAK Ashar, Miftahudin. 2014. Peran Pengasuh dalam Meningkatkan Prestasi Akademik Santri Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal Kelas X Di MAN Kunir Wonodadi Blitar.Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Widada, M.Si, (2) Yuliati Hotifah, S.Psi, M.Pd. Kata kunci: peran pengasuh, pondok pesantren, prestasi akademik Sistem pendidikan pondok pesantren sangatlah beragam, sangat sulit ditemui sistem pendidikan pondok pesantren yang memadukan sistem tradisional (salafi) dengan modern (kholafi). Di Kabupaten Blitar hanya pondok pesantren terpadu Al-Kamal yang menerapkan sistem pendidikan dengan memadukan sistem tradisional dan modern, selain itu pondok pesantren ini secara langsung juga mendukung prestasi akademik santri di sekolah formal, maka peran pengasuh sangatlah penting di pondok pesantren dalam menunjang peningkatan prestasi akademik santri di sekolah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran dari pengasuh pondok pesantren dalam meningkatkan prestasi akademik santri khususnya siswa kelas X di MAN Kunir Wonodadi Blitar. Fokus dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) sistem pendidikan; (2) faktor pendukung; (3) faktor penghambat; dan (4) strategi peningkatan prestasi akademik santri di sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan maksud memahami fenomena terkait dengan peran pengasuh pondok pesantren dalam meningkatkan prestasi akademik santri. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah pengasuh (kyai), pembina dan ketua pondok pesantren. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuh pada pondok pesantren terpadu Al-Kamal sangat berperan dalam meningkatkan prestasi akademik santri. Sistem pendidikan di pondok pesantren terpadu Al-Kamal yaitu terpadu, artinya memadukan sistem tradisional dengan modern. Faktor pendukung peningkatan prestasi akademik santri di sekolah meliputi, asaatidz yang berkompeten dibidangnya, proses pembelajaran yang terkordinasi dengan baik antara pondok dan sekolah untuk mengetahui perkembangan santri di sekolah serta pendekatan melalui arahan oleh pihak pondok pesantren (ustadz) sebagai strategi peningkatan prestasi santri. Berdasarkan hasil penelitian dapat diajukan beberapa saran. Saran bagi pengasuh pondok pesantren terpadu Al-kamal agar meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) asaatidz dengan mempertimbangkan input pondok pesantren yang heterogen. Bagi guru bimbingan dan konseling agar bekerjasama dengan pondok pesantren untuk memahami aktifitas di pondok pesantren guna kemandirian dan peningkatan pretasi akademik santri di sekolah. Peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain yang bermanfaat bagi pondok pesantren seperti manajemen pondok pesantren
Pengembangan Media Pembelajaran Mengapresiasi Karya Seni Rupa Terapan Nusantara Berbasis Power Point Untuk Siswa Kelas VIII SMP Karya Pagelaran
ABSTRAK Prihandika, C. 2013. Pengembangan Media Pembelajaran Mengapresiasi Karya Seni Rupa Terapan Nusantara Berbasis Power Point untuk Siswa Kelas VIII SMP Karya Pagelaran. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd., (II) Drs. Eko Budi Winarno Kata Kunci: media pembelajaran, mengidentifikasi, karya seni rupa terapan nusantara. Media pembelajaran merupakan alat bantu ajar yang digunakan oleh guru maupun siswa. Keberadaan sebuah media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar sangatlah penting. Media berfungsi untuk memberi kesempatan pada siswa agar siswa di kelas tidak terus-terusan berpusat pada guru. Kebiasaan berpusat pada guru, pada akhirnya membuat siswa tidak mampu berpikir kreatif dan sulit untuk mengembangkan pengetahuan mereka. Selain itu, tidak banyak guru yang menggunakan media pembelajaran ketika menyampaikan materi pembelajaran. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pengembangan media yang menarik dan inovatif. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan (1) media pembelajaran yang memenuhi syarat pengembangan isi media pembelajaran, (2) media pembelajaran yang memenuhi syarat pengorganisasian isi media pembelajaran, (3) media pembelajaran yang memenuhi syarat penggunaan bahasa dalam media pembelajaran, dan (4) media pembelajaran yang memenuhi syarat tampilan media pembelajaran. Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran adalah adaptasi dari model pengembangan Borg & Gall (dalam Sukmadinata, 2012:169—170). Berdasarkan model tersebut, terdapat empat tahap pengembangan, yaitu (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi atau penyempurnaan. Produk hasil pengembangan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yaitu melalui uji ahli, uji praktisi, dan uji kelompok kecil (siswa SMP kelas VIII). Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil pengembangan sebagai berikut. Pertama, masalah pengaruh media tersebut terhadap siswa. Media yang dikembangkan menarik perhatian siswa, sehingga dapat merangsang pola pikir siswa dalam mengapresiasi karya seni rupa terapan. Kedua, masalah pengaruh media tersebut terhadap guru. Media yang dikembangkan dapat membantu guru, baik untuk menggunakan atau untuk mengembangkan media pembelajaran apa yang tepat untuk digunakan dalam proses belajar mengajar. ABSTRACT Prihandika, C. 2013. Prihandika, C. 2013. The Development of Learning Media for Appreciating Archipelago Applied Fine Arts Based on Power Point for Students in VIII Grade of Junior High School Karya Pagelaran. Thesis, Departement of Design and Arts, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: (I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd., (II) Drs. Eko Budi Winarno Keyword: the development of learning media, appreciating, archipelago applied fine arts. Learning Media is a teaching tool used by teachers and students. The existence of a learning media in teaching and learning activities is essential. The media serves to provide students with opportunities for students in the class did not keep a teacher-centered. Teacher-centered habits, ultimately making students not able to think creatively and hard to develop their knowledge. Moreover, not many teachers who use learning media in delivering learning material. Related with that, it would require the development of learning media which interesting and innovative. The purpose of this development research is to produce (1) learning media that qualified to media content development, (2) learning media that qualified to organizing instructional media content, (3) learning media that qualified to learning media language, and (4) learning media that qualified to learning media display. Development model used to develop the learning media is an adaptation of Borg & Gall (in Sukmadinata, 2012:169-170) model of development. Based on this model, there are four stages of development, namely (1) pre-development phase, (2) developing phase, (3) product testing phase, and (4) phase of revision or refinement. Products tested to determine the worthiness of the products, namely through expert testing, practitioners testing and small group test (eighth grade junior high school students). Based on the results of the data analysis, two conclusions obtained results following development. First, the problem of the media's influence on students. Developed learning media excites students, so it can stimulate students' thinking in appreciating applied fine arts. Second, the problem of the influence of the media on the teacher. Media were developed to help teachers, either to use or to develop instructional media that suitable for use in teaching and learning.
Kematangan Karier Siswa dari Keluarga Utuh dan dari Keluarga Broken Home di SMA Negeri 7 Malang
ABSTRAK Oktaviani, Kharisma Nur. 2014. Kematangan Karier Siswa dari Keluarga Utuh dan dari Keluarga Broken Home di SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd, (II) Dr. Carolina Ligya Radjah, M.Kes Kata Kunci: kematangan karier, keluarga utuh, keluarga broken home. Kematangan karier merupakan ide sentral dalam perkembangan karier siswa. Setiap siswa memiliki tingkat kematangan karier yang berbeda-beda karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah keakraban keluarga. Keakraban keluarga dapat meliputi keluarga utuh dan keluarga broken home. Salah satu penyebab keluarga menjadi keluarga broken home adalah adanya perceraian orang tua. Diilhami dari angka perceraian yang terus bertambah dari waktu ke waktu, dan krusialnya kematangan karier siswa, maka perlu pengkajian lebih dalam mengenai kematangan karier siswa dari keluarga utuh dan dari keluarga broken home. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kematangan karier siswa dari keluarga utuh di SMA Negeri 7 Malang, mendeskripsikan kematangan karier siswa dari keluarga broken home di SMA Negeri 7 Malang, dan mengetahui perbedaan kematangan karier siswa dari keluarga utuh dan siswa dari keluarga broken home di SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 7 Malang kelas X dan XI dengan sampel siswa dari keluarga utuh dan siswa dari keluarga broken home. Instrumen yang digunakan adalah inventori kematangan karier dan angket keadaan keluarga. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan uji hipotesa menggunakan uji beda dengan Independent Sample t-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan siswa dari keluarga utuh sangat banyak yang memiliki kematangan karier pada klasifikasi sangat matang. Sedangkan untuk siswa dari keluarga broken home banyak yang memiliki kematangan karier pada klasifikasi sangat matang. Selanjutnya berdasarkan hasil uji hipotesa menunjukkan terdapat perbedaan kematangan karier siswa dari keluarga utuh dan siswa dari keluarga broken home, dimana kematangan karier siswa dari keluarga utuh lebih tinggi daripada kematangan karier siswa dari keluarga broken home. Saran yang diberikan peneliti untuk konselor, diharapkan konselor memberikan layanan informasi dan layanan perencanaan individual dengan mempertimbangkan karakteristik siswa dari keluarga utuh dan siswa dari keluarga broken home yang memiliki tingkat kematangan karier berbeda. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya, diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi saat melakukan penelitian tentang kematangan karier. Di samping itu, untuk sumbangan kemajuan ilmu bimbingan dan konseling diharapkan adanya penelitian lebih lanjut tentang kematangan karier dengan batasan penelitian yang berbeda dari penelitian ini.