SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
Pengembangan Paket Pelatihan Perilaku Asertif dalam Hubungan Teman Sebaya Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 9 Malang
ABSTRAK Langensari, Diorani. 2015. Pengembangan Paket Pelatihan Perilaku Asertif dalam Hubungan Teman Sebaya Siswa kelas VIII di SMP Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd., (II) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd. Kata Kunci: pelatihan asertif,hubungan teman sebaya Dari beberapa fenomena di SMPN 9 Malang, diperoleh bahwa perilaku asertif yang di miliki siswa SMPN 9 Malang cenderung rendah. Kebanyakan siswa-siswi di SMP tersebut cenderung tidak berani mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara jujur dan terus terang kepada teman-temannya. Hal itu membuat perlunya media untuk konselor agar konselor dapat melakukan layanan bimbingan dan konseling secara maksimal.Media bantu disini adalah paket pelatihan perilaku asertif. Paket pelatihan perilaku asertif adalah suatu media bantu yang disusun untuk konselor sekolah dan siswa guna meningkatkan perilaku asertif siswa sehingga siswa dapat bersikap atau berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungan.Tujuan umum pengembangan dalam penelitian ini adalah menghasilkan paket pelatihan perilaku asertif dalam hubungan teman sebaya siswa kelas VIII di SMPN 9 Malang, yang dapat membantu konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling mengenai perilaku asertif secara efektif sehingga siswa dapat menunjukkan perilaku tegas terhadap pengaruh negatif dalam hubungan teman sebaya.Tujuan khusus dalam penelitian ini yaitu dapat menghasilkan paket pelatihan perilaku asertif yang memiliki ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan sehingga dapat meningkatkan perilaku asertif siswa SMP.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan dengan mengadaptasi model Borg and Gall (1983) yang terdiri dari beberapa tahap, antara lain: (1) pengumpulan data; (2) perencanaan; (3) mengembangkan produk awal; (4) uji coba produk awal; (5) revisi produk berdasarkan saran-saran dari hasil uji lapangan; (6) melakukan uji coba lapangan terbatas; dan (7) melakukan revisi produk akhir.Berdasarkan hasil pengembangan, paket pelatihan perilaku asertif dalam hubungan teman sebaya siswa SMPdapat disimpulkan bahwa paket pelatihan perilaku asertif dalam hubungan teman sebaya siswa SMP berterima secara teoritis dan praktis menurut aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan. Hasil penelitian disarankan agar konselor sebaiknya memahami dan mempelajari langkah-langkah pelatihan dan materi dalam paket pelatihan sebelum mengaplikasikan kepada siswa. Bagi peneliti selanjutnya, produk hasil penelitian dan pengembangan ini dapat dilanjutkan dengan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan paket pelatihan perilaku asertif dalam hubungan teman sebaya
Modul Perencanaan Karir Untuk Meningkatkan Keterampilan Mengambil Keputusan Karir Siswa SMP Pada Sekolah Lanjutan
ABSTRAK Janah, Rista Rohmatul. 2015. Modul Perencanaan Karir Untuk Meningkatkan Keterampilan Mengambil Keputusan Karir Siswa SMP Pada Sekolah Lanjutan. Skripsi, Jurusan BK, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. H. IM. Hambali, M.Pd. (II) Drs. H. Widada, M.Si Kata kunci: modul, perencanaan karir, keputusan karir, siswa SMP Salah satu tugas perkembangan yang harus dilaksanakan oleh seorang individu adalah menentukan karir untuk masa dapan. Siswa sebaiknya merencanakan dan mememutuskan karirnya berdasarkan pada keputusan siswa itu sendiri, yang dilandasi dengan prospek kerja yang ada dilingkungan masyarakat, tetapi keberhasilan pemilihan karir siswa yang tepat tidaklah semudah yang dibayangkan. Karir adalah suatu rangkaian pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan dan kedudukan yang dipegang oleh seseorang dalam hidupnya.Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di SMPN 2 Malang dan wawancara dengan beberapa siswa kelas IX fenomena yang diperoleh dilapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa Sekolah Menengah Pertama yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan karir.Tidak sedikit dari pengakuan siswa yang mengaku bahwa mereka tidak mengetahui tentang sekolah lanjutan yang akan mereka ambil nanti setelah lulus dari SMP. Hal ini dikarenakan oleh banyak faktor salah satunya adalah kurangnya informasi tentang karir yang diberikan oleh siswa sehingga mengakibatkan siswa mengalami kesulitan dalam menentukan arah pilihan karirnya.Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan modul perencanaan karir untuk meningkatkan keterampilan mengambil keputusan karir siswa SMP pada sekolah lanjutan yang berterima secara teoritis dan praktis dari aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan Borg and Gall (2003). Adapun prosedur pengembangan menggunakan tujuh langkah yaitu sebagai berikut: 1) penelitian pendahuluan, 2) perencanaan, 3) mengembangkan produk awal, 4) uji coba produk awal, 5) revisi produk awal, 6) uji lapangan utama, 7) revisi produk akhir.Produk yang dihasilkan berupa modul perencanaan karir untuk meningkatkan keterampilan mengambil keputusan karir siswa SMP pada sekolah lanjutan. Terdapat lima penggalan di dalam modul yang dikembangkan, yaitu Self Knowledge (pengetahuan tetang diri), Career Knowledge (pengetahuan tentang karir), Educational Knowledge (pengetahuan tentang pendidikan), Career Goals (tujuan karir), Career Planning (perencanaan karir).Berdasarkan hasil pengembangan modul perencanaan karir dapat diterima baik secara teoritis maupun praktis karena memiliki penilaian dengan skor rata-rata yang diperoleh dari uji ahli materi BKpertama sebesar 3,525 dan uji ahli materi BK kedua sebesar 3,225; uji ahli media pertama sebesar 3,75 dan uji ahli media kedua sebesar 3,9; uji calon pengguna produk sebesar 3,76; dan uji kelompok kecil sebesar 3,55. Melihat hasil analisis data kuantitatif dan kualitatif dari para ahli, calon pengguna produk, kelompok kecil, dapat disimpulkan bahwa modul perencanaan karir untuk meningkatkan keterampilan siswa SMP dalam mengambil keputusan karir pada sekolah lanjutan berterima secara teoritis dan praktis menurut aspek kegunaan, ketepatan, kemudahan, kemenarikan, dan keterlaksanaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar (1) konselor di sekolah lain juga dapat menggunakan modul perencanaan karir untuk meningkatkan keterampilan siswa SMP dalam mengambil keputusan karir pada sekolah lanjutan serta menindak lanjuti hasil evaluasi siswa dengan melakukan bimbingan individual dan konseling jika diperlukan (2) peneliti selanjutnya dapat melakukan uji kefektifitasan dari modul perencanaan karir untuk meningkatkan keterampilan siswa SMP dalam mengambil keputusan karir pada sekolah lanjutan sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat
EFEKTIVITAS TEKNIK ROLEPLAYING SEBAGAI TEKNIK PENGENALAN KARIER BAGI SISWA KELAS TIGA SDN O1 PLANDIREJO KECAMATAN BAKUNG KABUPATEN BLITAR
ABSTRAK Tristiana, Elva. 2015. Efektivitas Teknik Roleplaying Sebagai Media Pengenalan Karier Bagi Siswa Kelas 3 SDN 01 Plandirejo Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd, (2) Dr. H. IM. Hambali, M.Pd Kata kunci: roleplaying, pengenalan karier, siswa kelas 3 SD. Pengenalan karier sejak usia dini sangat diperlukan, tidak terkecuali bagi siswa kelas tiga di SDN 01 Plandirejo Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar, pernyataan tersebut didukung oleh fakta di lapangan, ketika beberapa siswa kelas 3 SDN 01 Plandirejo Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar ditanya tentang macam-macam pekerjaan yang ada di sekitar rumahnya maka ia hanya mampu menjawab beberapa pekerjaan dan belum mampu membedakan pekerjaan tersebut berada pada bidang apa (wawancara dilakukan secara langsung dengan siswa pada tanggal 10 November 2014). Siswa akan mengalami kesulitan dalam memilih jenis pekerjaan apabila mereka tidak memiliki pengetahuan mengenai ragam pekerjaan yang ada di lingkungan sekitar. Roleplaying adalah salah satu teknik bimbingan kelompok yang dapat membantu siswa dalam mengenal karier khususnya bagi siswa keas 3 di SDN 01 Plandirejo Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keefektifan penerapan roleplaying sebagi media pengenalan karier bagi siswa kelas 3 SDN 01 Plandirejo Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu menggunakan one group pretest posttest desain. Pengumpulan data menggunakan pengenalan karier, dan observasi. Analisis data menggunakan uji wilcoxon membandingan hasil pretest dan posttest setelah diberikan treatment. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penerapan roleplaying efektif sebagai media pengenalan karier bagi siswa kelas 3 SDN 01 Plandirejo Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi p-value sebesar 0,043
Pengembangan Panduan Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Kesadaran Bahaya Perilaku Seks Bebas pada Siswa SMA
ABSTRAK Amelia, Yusabella Rizki. 2015. Pengembangan Panduan Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Kesadaran Bahaya Perilaku Seks Bebas pada Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. M. Ramli, M.A., Pembimbing (II) Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd. Kata Kunci: permainan simulasi, seks bebas, remaja Penelitian pengembangan panduan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran bahaya perilaku seks bebas pada siswa SMA, dilatarbelakangi oleh tingginya angka kehamilan pada remaja yang disebabkan oleh perilaku seks bebas saat ini. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan konselor, beberapa fenomena perilaku seks bebas juga terjadi di SMA Negeri 2 Nganjuk. Rata-rata siswi di SMA Negeri 2 Nganjuk putus sekolah karena hamil di luar nikah yang disebabkan oleh perilaku seks bebas. Tujuan pengembangan ini adalah dihasilkan sebuah panduan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran bahaya perilaku seks bebas pada siswa sekolah menengah atas yang dapat digunakan oleh konselor di sekolah dalam menarik perhatian siswa terhadap informasi yang telah disediakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan model adaptasi pengembangan Borg and Gall, adapun prosedur pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) tahap persiapan: analisis dan menetapkan prioritas kebutuhan, 2) tahap pengembangan: merumuskan tujuan dan membentuk desain media, 3) tahap penilaian: penilaian produk oleh ahli bimbingan dan konseling dan ahli media, revisi produk dari uji ahli bimbingan dan konseling dan ahli media, penilaian dan diskusi calon pengguna produk revisi produk dari calon pengguna produk, uji kelompok kecil, revisi dari uji kelompok kecil, produk jadi. Hasil pengembangan adalah panduan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran bahaya perilaku seks bebas pada siswa SMA. Berdasarkan hasil analisis data penilaian para ahli dan calon pengguna produk terhadap panduan permainan simuasi untuk meningkatkan kesadaran bahaya perilaku seks bebas dapat disimpulkan bahwa pada umumnya panduan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran bahaya perilaku seks bebas pada siswa SMA sudah layak digunakan sebagai panduan dalam memberikan layanan informasi. Aspek kegunaan memperoleh skor 9 dengan kategori berguna dari ahli bimbingan dan konseling, skor 10 dengan kategori sangat berguna dari ahli media dan skor 11 dengan kategori sangat berguna dari calon pengguna produk. Aspek kelayakan memperoleh skor 7 dengan kategori sangat layak dari ahli bimbingan dan konseling, skor 7 dengan kategori sangat layak dari ahli media, skor 6 dengan kategori sangat layak dari calon pengguna produk. Aspek ketepatan memperoleh skor 9 dengan kategori tepat dari ahli bimbingan dan konseling, skor 11 dengan kategori sangat tepat dari ahli media, skor 12 dengan kategori sangat tepat dari calon pengguna produk. Aspek kemenarikan memperoleh skor 12 dengan kategori menarik dari ahli bimbingan dan konseling, skor 12 dengan kategori menarik dari ahli media dan skor 11 dengan kategori menarik dari calon pengguna produk. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: 1) saran pemanfaatan: a) hasil pengembangan ini diharapkan dapat digunakan sebagai media layanan informasi terkait dengan meningkatkan kesadaran bahaya perilaku seks bebas. b) siswa dapat memanfaatkan panduan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran bahaya perilaku seks bebas pada siswa SMA agar lebih mudah memahami informasi tentang bahaya perilaku seks bebas, sehingga siswa lebih berhati-hati dan tidak terjerumus dalam perilaku seks bebas. c) apabila produk ingin digunakan sekolah lain, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas. 2) penelitian lanjutan: a) hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas permainan simulasi untuk mencegah perilaku seks bebas yang dikembangkan dalam penelitian ini, karena hasil penelitian ini hanya terbatas sampai penyusunan produk saja. b) penelitian ini dapat dikembangkan dengan subyek yang berbeda misalnya pada siswa SMK atau yang sejajar. c) pengembangan produk lebih lanjut hendaknya dilakukan uji ahli materi bidang kesehatan. d) pengembangan produk perlu dilakukan uji kelompok besar agar dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk kesempurnaan produk
Pengembangan Permainan Simulasi Ular Tangga untuk Meningkatkan Tanggung Jawab Belajar Siswa SMP
ABSTRAK Putri, Sekar Ariyanti Prahesthi. 2015. Pengembangan Permainan Simulasi Ular Tangga untuk Meningkatkan Tanggung Jawab Belajar Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Lutfi Fauzan, M.Pd., Pembimbing (II) Dr. H. M. Ramli, M.A. Kata Kunci: Layanan Informasi, permainan simulasi, tanggung jawab belajar Penelitian pengembangan ini, dilatarbelakangi oleh kurangnya media yang ada di sekolah untuk memberikan layanan informasi kepada siswa dan masih banyak siswa yang tidak memiliki sikap tanggung jawab belajar di SMP Laboratorium UM. Tujuan penelitian ini adalah dihasilkan sebuah media, buku panduan untuk konselor dan siswa mengenai permainan simulasi ular tangga untuk meningkatkan tanggung jawab belajar siswa SMP yang dapat digunakan konselor yang tepat, berguna, mudah, dan menarik agar menumbuhkan keaktifasn siswa sehingga tidak merasa bosan ketika menerima layanan dari konselor sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan pengembangan model Borg and Gall (1983) yang telah dimodifikasi, adapun prosedur pengembangan yang dilakukan adalah: 1) Penelitian dan pengumpulan data, 2) Perencanaan: merumuskan tujuan dan menentukan langkah pengembangan, 3) Mengembangakn produk awal, 4) Validitas desain: uji ahli materi dan uji ahli media, 5) Uji coba produk: uji calon pengguna produk dan uji kelompok kecil, 6) Revisi produk akhir. Pemilihan media dan subjek penelitian diperoleh berdasarkan hasil penyebaran need assessment kepada 72 siswa dan konselor. Sebanyak 45 % siswa membutuhkan layanan bimbingan mengenai cara meningkatan tanggung jawab belajar dan 60% siswa memilih permainan simulasi sebagai teknik untuk memberikan layanan bimbingan mengenai tanggung jawab belajar. Dari hasil need assessment, siswa memiliki banyak masalah mengenai belajar di sekolah. Hasil rata-rata penilaian uji ahli (ahli bimbingan dan konseling serta ahli media), uji calon pengguna produk dan uji kelompok kecil bahwa media permainan simulasi ular tangga untuk meningkatkan tanggung jawab belajar siswa SMP, buku panduan untuk konselor dan untuk siswa adalah 3,4 yang berarti sangat tepat, berguna, mudah, dan menarik. Setelah permainan dilaksanakan, terjadi perubahan sikap dalam diri siswa yaitu siswa menghargai pemberian dan penjelasan materi dari guru, siswa datang tepat waktu ke sekolah, siswa tidak mencontek ketika mengerjakan tugas, siswa mengumpulkan tugas tepat waktu, dan siswa tidak membolo, sehingga dapat dikatakan bahwa permainan simulasi ular tangga efektif untuk memberikan layanan bimbingan mengenai tanggung jawab belajar dan dapat meningkatkan tanggung jawab belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: 1) diharapkan konselor dapat menggunakan media permainan simulasi ular tangga untuk memberikan layanan bimbingan mengenai tanggung jawab belajar kepada siswa, 2) diharapkan konselor lebih memahami prosedur permainan agar proses pemberian layanan dapat berjalan secara efektif dan maksimal sehingga siswa mampu menerapkan apa yang telah dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari
EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK SINGKAT BERFOKUS SOLUSI UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI SISWA PUTUS CINTA
ABSTRAKDamayanti, OysSepta.2013. EfektivitasKonselingKelompokSingkatBerfokusSolusiuntukMeningkatkanHargaDiriSiswaPutusCinta.Skripsi, JurusanBimbingandanKonseling.FakultasIlmuPendidikan, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M.A, (II) Drs. LutfiFauzan, M.PdKata Kunci: SFBC, konselingkelompok, hargadiri, putuscintaSalah satutugasperkembanganremajaadalahmenjalinhubungandenganlawanjenis.Tugasperkembangantersebutmenjadisorotankarenaberkaitandenganpermasalahanputuscinta yang mempengaruhiperubahanfisikmaupunpsikishinggamenurunkantingkathargadiriremaja. Perubahantersebutmenyebabkanremajaberadadalamkeadaan yang tidakmenyenangkan.Hal initercermindariberkurangnyaminatbelajar, ketidakharmonisanhubungansosialdenganlingkungansekitar, seringmenyendiri, melamun, tidakadanafsumakan, dansampaikepadatindakanbunuhdiri.Dengandemikianperluadanyatindakankonselorsecaraefektifdanefisien.Salah satudiantaranyaialahpemberianlayanankonselingkelompoksingkatberfokussolusi.Penelitianinibertujuanmengetahuiefektivitaskonselingkelompoksingkatberfokussolusiuntukmeningkatkanhargadirisiswaputuscinta.Hal inididasarkanpadapertimbanganpermasalahanputuscintadialamisiswapadajenjang SMP yang beradapadamasa-masapertumbuhan yang tidakstabildanberesiko.Rancanganeksperimendalampenelitianiniadalahone group pretest and posttestdengansubjek6 siswa SMP yang mengalamiputuscintayaitusiswa yang memilikihargadirisangatrendah. Pengumpulan data denganinstrumenpengukuranhargadirisiswaputuscinta.Data dianalisisdenganstatistiknonparametrikujibedasign test.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaterdapatperbedaanantaraskorpretestdanposttestdengansignifikansi 0.031 (0.03
Perbedaan Kemandirian Pengelolaan Emosi Siswa Kelas X Berdasarkan Pemahaman Terhadap Pola Mendidik Orang Tua di SMA Negeri 1 Purwosari
ABSTRAK Wardani, Oggan Oktaviana Kusuma. 2014. Perbedaan Kemandirian Pengelolaan Emosi Siswa Kelas X Berdasarkan Pemahaman Terhadap Pola Mendidik Orang Tua di SMA Negeri 1 Purwosari. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Andi Mappiare AT., M.P.d, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata Kunci: pemahaman pola mendidik orang tua, kemandirian pengelolaan emosi, siswa Kelas X Pemahaman pola mendidik orang tua merupakan pandangan siswa atau anggapan siswa tentang gambaran sikap dan perilaku orang tua dalam mendidik anak. Pemahaman siswa dengan kategori yang dilihat dari segi pola mendidik otoriter, demokratis, dan permisif. Pola mendidik yang diterapkan oleh orang tua berpengaruh pada kehidupan remaja. Remaja saat ini berada pada masa yang sulit secara emosional, maka dilakukan penelitian dari cara anak memandang gaya mendidik yang diterapkan oleh orang tua dengan kemampuan pengelolaan emosi anak. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menggambarkan kemandirian pengelolaan emosi siswa, mengambarkan pemahaman siswa terhadap pola mendidik orang tua, dan perbedaan kemandirian pengelolaan emosi siswa berdasarkan pemahaman terhadap pola mendidik orang tua. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif jenis survei deskriptif komparatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner pemahaman pola mendidik orang tua dan kuesioner kemandirian pengelolaan emosi. Selanjutnya kedua kuesioner di uji validitas dan reliabilitasnya. Dari 50 item yang diuji validitasnya, terdapat 30 item yang valid dan reliabilitasnya 0,854 > 0,5. Teknik analisis data dengan pengolahan dan selanjutnya dilakukan analisis statistik menggunakan analisis deskriptif dan analisis uji beda (anova). Melakukan analisis deskriptif, kemudian dilakukan analisis uji beda menggunakan anova dengan taraf signifikansi < 0,05. Dalam pengujian ini menggunakan bantuan software SPSS 16 dan Ms. Excel. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, gambaran pola mendidik orang tua menurut pemahaman siswa SMA Negeri 1 Purwosari memiliki perbedaan jenis yaitu pola mendidik orang tua otoriter, demokratis, dan permisif. Kedua, gambaran kemandirian pengelolaan emosi siswa berada pada kategori tinggi, sedang, dan rendah. Ketiga, terdapat perbedaan kemandirian pengelolaan emosi siswa berdasarkan pemahaman terhadap pola mendidik orang tua (otoriter, demokratis, dan permisif). Hal ini berdasarkan salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan anak adalah lingkungan keluarga. Sebuah keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu anak untuk mengembangkan kemandirian pengelolaan emosi. Saran yang dapat diajukan sebagai berikut: pertama, Bagi jurusan BK agar dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi dalam menambah waawasan dan pengetahuan terkait gambaran pola mendidik yang digunakan orang tua sekarang. Kedua, Bagi pendidik khususnya konselor hendaknya mampu menciptakan situasi yang kondusif dan mambantu mengembangkan potensi dengan memfasilitasi secara sistematik dan memprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Ketiga, Bagi penelitia selanjutnya, hendaknya melakukan penelitian yang lebih komprehensif berkesinambungan dan penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya.
PENGEMBANGAN MODEL LAYANAN INFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK DAN TWITTER BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS
ABSTRAK Rahmawati, Novi Rosita. 2014. Pengembangan Model Layanan Informasi dengan Menggunakan Situs Jejajring Sosial Facebook dan Twitter bagi Siswa Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Carolina Ligya Radjah, M.Kes, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata kunci: Layanan informasi, Facebook, Twitter Layanan informasi merupakan suatu kegiatan yang dipandang bermanfaat bagi siswa melalui komunikasi langsung maupun melalui media. Media yang digunakan dapat berupa papan bimbingan, leaflet, atau menggunakan layanan internet. Sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman yang mengarah pada perkembangan teknologi maka layanan informasi dapat dikemas secara lebih efektif dengan menggunakan media sosial, yaitu melalui Facebook dan Twitter. Facebook dan Twitter merupakan situs jejaring sosial yang sampai saat ini masih di idolakan oleh siswa SMA. Layanan bimbingan klasikal yang terbatas hanya satu jam pelajaran setiap satu minggu membuat beberapa informasi yang dibutuhkan oleh siswa tidak dapat tersampaikan secara optimal. Kebutuhan siswa yang beragam dan informasi yang update setiap harinya membuat pemberian layanan informasi secara klasikal kurang optimal. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan media pemberian layanan informasi bimbingan menggunakan Facebook dan Twitter. Prosedur pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall, yaitu sebagai berikut; (1) tahap persiapan pengembangan, tahap ini meliputi studi pendahuluan dan identifikasi kebutuhan siswa; (2) tahap penyusunan produk, tahap ini meliputi pembuatan buku panduan layanan informasi Bimbingan Konseling melalui Faebook dan Twitter, penyusunan materi, pembuatan akun Facebook dan Twitter; (3) tahap validasi produk, meliputi uji ahli materi, uji ahli media, uji praktisi, uji kelompok kecil, revisi produk. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket uji coba produk. Kegiatan analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif (kategori) untuk data verbal. Sedangkan data berupa angka menggunakan teknik analisis deskriptif (mean). Hasil validasi produk menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan berupa materi layanan informasi yang diunggah pada Facebook dan Twitter dinilai sangat berguna, sangat mudah, sangat tepat, dan cukup menarik. Sedangkan pada buku panduan untuk konselor memiliki penilaian sangat berguna, sangat mudah, cukup tepat, dan cukup menarik. Dapat disimpulkan bahwa materi layanan informasi yang diunggah pada Facebook dan Twitter serta buku panduan “Layanan Informasi BK melalui Facebook dan Twitter” untuk konselor telah memenuhi persyaratan keberterimaan dalam kategori kegunaan, kemudahan, ketepatan, dan kemenarikan. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Facebook dan Twitter dapat dijadikan sebagai media penyampaian layanan informasi bimbingan. Adanya feedback dari sejumlah teman di Facebook dan Twitter menambah nilai keberterimaan dari materi yang sudah disajikan pada Facebook dan Twitter. Berdasarkan hasil pengembangan disarankan, (1) Konselor dapat mengoptimalkan Facebook dan Twitter sebagai media pemberian informasi; (2) Perlu diadakan uji lapangan dalam skala besar dan diperluas populasinya untuk SMA se-Kota Malang; (3) Diadakan penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan pemberian layanan informasi melalui situs jejaring sosial Facebook dan Twitter.
Keefektifan Model Problem Based LearningUntuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Menengah Pertama
ABSTRAK Kristyowati, Anik. 2014. Keefektifan Model Problem Based LearningUntuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd, (II) Drs. H. Widada, M.Si. Kata Kunci: problem based learning, berpikir kritis, siswa SMP Keterampilan berpikir kritis adalah keterampilan untuk membiasakan pola berpikir yang sistematis melalui tahap menganalisis inti berita dan/atau cerita, mengevaluasi bukti berita dan/atau cerita, membuat kesimpulan berita dan/atau cerita dan mengambil keputusan atas berita dan/atau cerita. Fakta menunjukkanbahwa pada umumnya siswa dalam menghadapi berbagai informasi seringkali tidak bersikap rasional, mudah diperdayai, bersikap emosional, tidak menggunakan fakta dan nalar untuk memaknainya. Berkaitan dengan itu, salah satu upaya konselor dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah melalui penerapan model problem based learning dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan model problem based learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMP. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian interrupted time series. Subjek penelitian ini adalah 8 siswa kelas VIII A SMP KHA. Thohir, yang mempunyai keterampilan berpikir kritis rendah. Data penelitian dikumpulkan dari observasi awal selama tiga kali berturut-turut (pretest), pelatihan keterampilan berpikir kritis selama empat kali pertemuan tatap muka dan observasi pasca pelatihan selama tiga kali berturut-turut (posttest). Tujuan observasi tersebut adalah untuk mengukur keterampilan berpikir kritis siswa dengan menggunakan inventori keterampilan berpikir kritis. Inventori keterampilan berpikir kritis terlebih dahulu diuji melalui uji validitas konstruk. Berdasarkan uji validitas inventori dapat diketahui bahwa dari 72 pernyataan terdapat 41 pernyataan yang valid dengan hasil reliabilitas inventori sebesar 0,969. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model problem based learning efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMP. Hal ini ditunjukkan dari angka z hitung berkisar 2,524 lebih besar dari z tabel dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0,012 pada derajat signifika
Perbedaan Tingkat Konsep Diri Siswa Kelas X SMA Atas Penerapan Teknik Role Playing
ABSTRAK Fitriyani, Aprillia. 2014. Perbedaan Tingkat Konsep Diri Siswa Kelas X SMA Atas Penerapan Teknik Role Playing. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling , FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Dr. Andi Mappiare A.T, M.Pd. Kata kunci: perbedaan, role playing, konsep diri Konsep diri merupakan gambaran atau persepsi yang dimiliki individu tentang dirinya. Terdapat dua kecenderungan konsep diri pada individu yaitu konsep diri positif dan negatif. Individu yang memiliki konsep diri yang negatif, kehidupannya akan dirasakan kurang baik, permasalahan-permasalahan menjadi biasa dan dianggap wajar terjadi di sekolah, padahal berbagai perilaku negatif dapat berdampak tidak baik terhadap perkembangan pribadi, dan aktualisasi potensi remaja. Dalam upaya menangani masalah konsep diri dapat digunakan layanan bimbingan kelompok dengan berbagai teknik, dalam penelitian ini digunakan teknik role playing. Penelitian ini dilaksanakan minimal 8 kali pertemuan dengan tema yang telah disiapkan, namun tetap berdasarkan pada konsep diri. Diakhir pertemuan siswa diberikan kesempatan mengembangkan garis besarnya sendiri untuk mengetahui sejauhmana kemandiriannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan konsep diri siswa sebelum dan sesudah role playing pada siswa kelas X di SMA Laboratorium UM tahun 2013/ 2014. Penelitian ini menggunakan desain one group pretest and posttest. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling menggunakan instrument konsep diri dan diporeleh 9 orang siswa yang akan diberi treatment dengan kategori tingkat konsep diri rendah. Analisis data dengan uji beda two related samples test Wilcoxon dengan menggunakan SPSS versi 20.00. Analisis menunjukkan bahwa H0 ditolak, H1 diterima, dan indikator terjadi perbedaan antara skor pretest dan posttest pada hasil uji Wilcoxon Sign Rank Test. Kesimpulannya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat konsep diri antara sebelum dan sesudah role playing, skor posttest lebih tinggi dibandingkan skor pretest dengan kata lain seluruh subjek penelitian telah menunjukkan peningkatan konsep diri atas penerapan teknik role playing. Konselor diharapkan dapat menggunakan teknik role playing sebagai metode layanan bimbingan kelompok sesuai dengan prosedur untuk pengembangan konsep diri siswa SMA dan peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan rancangan penelitian menggunakan kelompok kontrol dengan tujuan untuk membandingkan perbedaan hasil dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.