SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
Keefektifan Self Management untuk Meningkatkan Kecerdasan Adversitas dalam Belajar Siswa SMA Negeri 9 Malang
ABSTRAK Wulandari, Yuni Ayu. 2015. Keefektifan Self Management untuk Meningkatkan Kecerdasan Adversitas dalam Belajar Siswa SMA Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Harmiyanto, M. Pd. (II) Drs. Hariadi Kusumo, M. Pd. Kata Kunci : self-management, kecerdasan adversitas, siswa SMA Kecerdasan adversitas dalam belajar siswa yang rendah merupakan fenomena yang terjadi di SMA Negeri 9 Malang. Siswa yang memiliki kecerdasan adversitasdalam belajar rendah akan berdampak pada prestasi belajarnya. Ketika siswa menemui kesulitan atau hambatan dalam proses belajarnya, maka siswa lebih memilih untuk menghindari atau menghadapi dengan tindakan negatif (menyontek, membolos, penyalahgunaan narkoba dll). Hal tersebut bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan kesulitan dalam belajar siswa, melainkan membuat permasalahan baru yang dapat berakibat negatif pada kehidupan siswa kedepannya. Perlu adanya upaya untuk meningkatkan kecerdasan adversitas dalam belajar siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan pelatihan teknik self-management. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifanSelf Management untuk meningkatkan kecerdasan adversitas dalam belajar siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang. Jenis penelitian ini menggunakan pre-eksperimental design, dengan desain penelitian one group pretest and posttest. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang sebanyak 8 orang yang dipilih berdasarkan pengisian inventori kecerdasan adversitas dalam belajar dan memiliki skor kecerdasan adversitas dalam belajar yang rendah dan sangat rendah. Teknik analisis data yang digunakan adalah Wilcoxon Signed-Rank, yang digunakan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan adversitas dalam belajar siswa sebelum dan setelah pelatihan self-management pada subjek penelitian. Hasil penelitian menggunakan analisis Wilcoxon Signed-Rank inidiperoleh angka Z -2,527 dengan sig 0,012. Angka sig 0,012 berart
KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK RINGKAS BERFOKUS SOLUSI UNTUK MENINGKATKAN DISIPLIN BELAJAR SISWA
ABSTRAK Disiplin belajar merupakan kemampuan siswa dalam mengendalikan diri untuk bertanggung jawab pada kegiatan belajar, baik disekolah maupun dirumah. Pada kenyataannya tidak semua siswa berperilaku disiplin dalam belajar, banyak siswa yang memiliki disiplin belajar rendah. Untuk meningkatkan disiplin belajar siswa,sering dilakukan melalui pemberian hukuman. Hukuman tidak selalu efektif dalam meningkatkan disiplin belajar siswa.Untuk menghindari hal tersebut, maka perlu upaya dalam meningkatkan disiplin belajar siswa dengan menciptakan pemikiran siswa untuk bertanggung jawab terhadap perilaku belajarnya. Salah satu upaya tersebut adalah pemberian konseling kelompok ringkas berfokus solusi.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas konseling kelompok ringkas berfokus solusi dalam meningkatkan disiplin belajar siswa di SMP Negeri 1 Rembang Pasuruan. Penelitian ini menggunakan one-grouppretest-posttest design. Observasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum perlakuan yang disebut pretest dan sesudah perlakuan yang disebut posttest. Hasil pretest dan posttest dilihat dari peningkatan skor pada skala disiplin belajar. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik inferensial non parametrik dengan uji beda two releated test wilcoxon untuk mengetahui perbedaan hasil pretest dan posttest. Hasil analisis data menunjukkan nilai probability error 0.028 (p = 0.028 < 0.05), dengan demikian H0 ditolak dan terbukti bahwa terdapat perbedaan hasil pretest dan posttest pada siswa yang diberikan treatment. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat diambil kesimpulan bahwa konseling kelompok ringkas berfokus solusi dapat meningkatkan disiplin belajar siswa secara efektif. Berdasarkan hasil tersebut, maka disarankan pada: (1) konselor untuk menggunakan konseling kelompok ringkas berfokus solusi sebagai salah satu pendekatan dalam memberikan layanan konseling. (2) peneliti selanjutnya, penelitian ini terbatas pada beberapa siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Rembang, sehingga diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian dalam skala subjek yang lebih besar dan lebih luas agar treatment yang diberikan lebih bermanfaat dan tepat sasaran serta mampu mengendalikan perilaku disiplin belajar siswa dengan lebih baik
Pengembangan Komik sebagai Media Informasi Konformitas untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama
ABSTRAK Rahman, Fatkhi Rizkya. 2015. Pengembangan Komik sebagai Media Informasi Konformitas untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Widada, M.Si, (II) Dra. Hj. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata Kunci: komik, konformitas, media informasi Konformitas atau perilaku ikut-ikutan merupakan kecenderungan yang dilakukan oleh remaja SMP. Perkelahian antar pelajar merupakan salah satu akibat perilaku konformitas remaja SMP. Perkelahian antar pelajar tersebut mengindikasikan bahwa remaja konform pada perilaku yang menyimpang. Konformitas juga dibutuhkan remaja untuk membangun hubungan sosial yang sehat. Remaja perlu belajar mengenai gambaran konformitas secara umum agar memperoleh wawasan tentang manfaat dan dampak konformitas, sehingga mereka dapat lebih selektif dalam konform terhadap apa yang ada di kelompok sosial mereka. Berkaitan dengan fungsi bimbingan dan konseling sebagai layanan preventif dan layanan informasi, penggunaan media secara kreatif akan mengefektifkan kegiatan bimbingan dan memungkinkan siswa untuk menyerap pesan lebih baik. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengembangkan komik sebagai media informasi konformitas. Tujuan pengembangan: menghasilkan komik sebagai media layanan informasi perilaku konformitas untuk siswa SMP yang berterima secara teoritis dan praktis. Produk ini terdiri dari komik konformitas untuk siswa dan panduan komik untuk konselor. Pengembangan produk mengadaptasi langkah model pengembangan Borg dan Gall (1983) sebagai berikut: 1) studi pendahuluan, 2) perencanaan pengembangan produk, 3) pengembangan komik dan buku panduan, 4) uji ahli materi dan media, 5) uji calon pengguna dan kelompok kecil, 6) analisis hasil uji dan revisi akhir. Desain uji coba pengembangan komik dimulai dari uji coba ahli materi dan media, dilanjutkan dengan uji calon pengguna dan subjek layanan. Produk yang dihasilkan adalah komik konformitas bagi siswa SMP dan buku panduan penggunaan komik untuk konselor. Produk yang dihasilkan telah melalui penilaian oleh ahli dan calon pengguna produk. Berdasarkan hasil analisis data penilaian oleh ahli dan calon pengguna, dapat disimpulkan bahwa produk ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat mudah secara teoretis dan praktis sehingga komik konformitas layak digunakan sebagai media informasi konformitas. Berdasarkan hasil penelitian danpengembangan, maka disarankankepadakonselor sebagaipenggunaprodukuntuk memahami prosedur dan materi bimbingan yang ada pada buku panduan komik, sehingga proses bimbingan dapat berjalan secara efektif dan siswa dapat mencapai tujuan bimbingan yang dikehendaki. Saran bagi pengembang selanjutnya adalah hendaknya dilakukan uji lapangan utama dan dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas komik sebagai layanan informasi perilaku konformitas
Keefektifan Cinema Therapy untuk Meningkatkan Kesadaran Bertanggung Jawab Siswa SMK
ABSTRAK Chamalia, Irchamna. 2015. Keefektifan Cinema Therapy untuk Meningkatkan Kesadaran Bertanggung Jawab Siswa SMK. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Lutfi Fauzan M.Pd., (2) Dr. H. Adi Atmoko, M.Si. Kata kunci: cinema therapy, kesadaran, tanggung jawab Tanggung jawab adalah sikap atau perilaku dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya yang dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku yang mampu menyelesaikan tugas dan kewajiban dengan baik, peduli terhadap lingkungan sekitar, mau mengakui dan menanggung kesalahan yang telah diperbuatnya. Kenyataannya masih banyak seseorang yang tidak memiliki kesadaran bertanggung jawab sehingga tanggung jawab luput untuk dilaksanakan, dalam hal ini adalah siswa SMK yang memiliki tanggung jawab lebih ketika masa sekolah berlangsung maupun saat bekerja dan untuk menimbulkan perilaku atau sikap tanggung jawab bisa dengan merangsang kesadaran bertanggung jawab siswa. Berdasarkan studi pustaka dan studi penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa salah satu metode yang diduga dapat meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa adalah cinema therapy. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan cinema therapy untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMK. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dan desain yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design. Dalam desain ini, kelompok diberikan pretest untuk mengukur kondisi awal, selanjutnya diberikan treatment sebanyak delapan pertemuan selama satu bulan, setelah itu kelompok diberikan posttest untuk mengukur kondisi akhir yang dilaksanakan dua kali, posttest yang pertama digunakan untuk pengujian hipotesis yang dilaksanakan tanggal 25 Maret 2015 dan posttest yang kedua dilakukan tiga minggu setelah posttest pertama guna mengetahui keajegan hasil penelitian pada tanggal 16 April 2015. Pengukuran pretest dan posttest menggunakan alat ukur skala kesadaran bertanggung jawab yang diadaptasi dari aspek-aspek karakteristik kesadaran menurut Solso (2008). Subjek penelitian adalah siswa SMK kelas XI berjumlah 8 siswa yang memiliki tingkat kesadaran bertanggung jawab rendah sesuai skala kesadaran bertanggung jawab. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik non-parametrik uji beda Wilcoxon. Hasil analisis menunjukkan nilai Z hitung lebih besar dari Z tabel (2.527>1.96) dan taraf signifikansi 0.012 < 0.05 yang berarti teknik cinema therapy efektif untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMK. Berdasarkan hasil penelitian disarankan pada: 1) konselor hendaknya menggunakan teknik cinema therapy untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa dan film yang digunakan harus sesuai dengan film pada penelitian ini atau bisa menggunakan film lain yang mengandung sembilan karakteristik kesadaran menurut Solso, dan 2) peneliti selanjutnya hendaknya menggembangkan penelitian ini sebagai pedoman penggunaan cinema therapy menggunakan film "My Boss My Hero"
PengembanganModulPerencanaanKarirbagiWargaBelajar Program Paket B di PKBM Sedap Malam Rembang Kabupaten Pasuruan.
ABSTRAK Faizah, Khoirul. 2015. Pengembangan Modul Perencanaan Karir bagi Warga Belajar Program Paket B di PKBM Sedap Malam Rembang Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muslihati, S. Ag, M. Pd, (II) Dr. Triyono, M. Pd. Kata Kunci : modul, perencanaan karir, warga belajar, program paket B. Warga belajar program paket B adalah warga belajar dalam program pendidikan pada jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam kelompok belajar atau kursus yang memberikan pendidikan yang setara dengan SMP. Salah satu tugas perkembangan karir yang harus dicapai oleh warga belajar program paket B adalah mampu memahami, memilih, dan menentukan karir dan studi lanjutnya. Kesadaran akan perencanaan karir dalam lingkungan pendidikan non formal yang minim menjadi salah satu alasan dilakukannya penelitian pengembangan modul perencanaan bagi warga belajar program paket B. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul perencanaan karir bagi warga belajar program paket B yang diterima dari segi teoritis dan praktis baik format maupun isi, sehingga dapat digunakan sebagai bahan bimbingan karir secara mandiri oleh warga belajar dan membantu tutor/konselor untuk memberikan bimbingan karir kepada warga belajarnya. Prosedur pengembangan modul perencanaan karir bagi warga belajar ini mengadaptasi lima langkah model pengembangan Borg and Gallyaitu: research and informasi collecting (melakukan penelitian pendahuluan dan pengumpulan data), planning (melakukan perencanaan), develop preliminary from of product (mengembangkan bentuk produk awal), preliminary field testing (melakukan uji coba lapangan permulaan), main product revision (melakukan revisi terhadap produk utama). Subjek uji coba adalah ahli bimbingan dan konseling, ahli pendidikan luar sekolah, ahli media, calon pengguna produk, dan kelompok kecil. Instrumrn yang digunakan adalah pedoman wawancara, angket need assessment materi, dan intrumen penilaian modul. Analisis data yang dilakukan dari hasil penilaian adalah dengan menggunakan rata-rata () dan panjang kelas interval (P) untuk menetukan kriteria. Hasil penelitian pengembangan ini berupa modul perencanaan karir bagi warga belajar program paket B. Para ahli materi, ahli media, calon pengguna produk memberikan penilaian sangat berguna/sangat mudah/sangat menarik/sangat tepat. Terhadap modul perencanaan karir bagi warga belajar program paket B ini. Hasil dari penilaian kelompok kecil menyatakan bahwa modul perencanaan karir bagi warga belajar program paket B ini sangat berguna/sangat mudah/sangat menarik/sangat tepat. Saran untuk penelitian ini adalah pada pemanfaatan modul perencanaan karir untuk warga belajar program paket B dapat mencapai tujuan yang diinginkan yaitu, dapat membantu warga belajar agar lebih mudah dalam karirnya dan dapat membantu tutor untuk membantu melakukan bimbingan karir kepada warga belajar. Pendidikan nonformal juga membutuhkan peran konselor dengan perbandingan satu konselor menangani seratus lima puluh warga belajar. Perlu penelitian lebih lanjut dengan skala yang lebih besar dan penelitian efektivitasnya, sehingga langkah model penelitian pengembangan dari Borg and Gall dapat terlaksana secara menyeluruh dan keberterimaannya dapat dirasakan oleh pengguna dalam skala yang besar
Efektivitas Teknik Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Pengambilan Keputusan Karier Siswa
ABSTRAK Norisa, Eva. 2015. Efektivitas Teknik Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Pengambilan Keputusan Karier Siswa, Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd, (II) Dr. IM Hambali, M.Pd Kata kunci: problem solving, keputusan karier, karier Siswa SMA merupakan individu yang berada pada masa remaja akhir. Salah satu tugas perkembangan siswa SMA adalah mampu membuat keputusan serius salah satunya dalam hal karier. Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda dari kemampuannya, bakat, minat, potensi dan kekuranganya. Untuk membantu siswa agar mencapai kematangan dalam bidang karier, diperlukan suatu layanan bimbingan karier yang dapat membantu siswa dalam mengambil keputusan karier, salah satunya dengan pelatihan teknik problem solving.Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana tingkat pengambilan keputusan karier siswa SMA Negeri 1 Kandangan?, (2) Apakah teknik problem solving efektif untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan karier pada siswa SMA Negeri 1 Kandangan? Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-experimental dengan menggunakan metode one group pretest-postest design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA 4 di SMA Negeri 1 Kandangan. Teknik pengumpulan data menggunakan tes pengambilan keputusan karier. Analisis data yang digunakan adalah analisis uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh dari pelatihan teknik problem solving terhadap peningkatan kemampuan pengambilan keputusan karier siswa SMA. Hal ini dinyatakan dalam perhitungan uji Wilcoxon didapatkan nilai signifikansi 0,005 dimana lebih kecil dari 0,05 dengan diperoleh angka Z- 2.816 dimana lebih besar dari 1,96 (standar Ztabel). Sehingga dapat diartikan bahwa ada perubahan tingkat kemampuan pengambilan keputusan karier siswa SMA. Kesimpulan dari penelitian ini adalah teknik problem solving efektif untuk meningkatkan pengambilan keputusan karier siswa. hal tersebut ditunjukkan melalui adanya peningkatan kemampuan pengambilan keputusan karier pada saat sebelum dan sesudah diberikan treatment. Adapun saran bagi sekolah dapat dijadikan rujukan mengenai layanan bimbingan dan konseling. Bagi konselor dapat digunakan sebagai salah satu layanan bimbingan dan konseling, dan bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian serupa dengan menggunakan kelompok kontrol
PENGEMBANGAN PANDUAN PELATIHAN KETERAMPILAN MENGELOLA EMOSI BAGI SISWA SMP
ABSTRAK Marnu, Dyah Lestariningsih. 2015. Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Mengelola Emosi Bagi Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany M. Handarini, M.A., (II) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd. Kata Kunci : panduan pelatihan, keterampilan mengelola emosi, siswa SMP Keterampilan mengelola emosi perlu dimiliki setiap individu. Kemampuan mengelola emosi yang berkembang baik dapat menimbulkan kebahagian dan keberhasilan dalam kehidpuan. Namun belum ada pedoman untuk mengembangkan keterampilan mengelola emosi siswa sehingga perlu dikembangkan panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi. Berkaitan dengan itu, peneliti mengembangkan panduan pelatihan ketemrapilan mengelola emosi bagi siswa SMP. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi sebagai pedoman konselor. Panduan pelatihan yang dihasilkan terdiri dari tiga, yaitu panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi untuk konselor, panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi untuk siswa, dan materi panduan pelatihan keterampilan mengelola. Penelitian pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan yang diadaptasi dari model pengembangan Borg & Gall (1983). Tahap yang digunakan adalah 1) need assessment, 2) merumuskan tujuan umum, 3) menyusun tujuan khusus, 4) penyusunan produk awal, 5) menyusun alat evalusi, 6) uji ahli, 7) revisi produk hasil penilaian uji ahli, 8) uji calon pengguna, 9) revisi produk akhir, dan 10) produk akhir. Hasil uji pengembangan menunjukkan bahwa panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi bagi siswa SMP ini memiliki keberterimaan yang baik dari aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan kepatutan. Melalui skala akseptabilitas yang diberikan kepada ahli dan calon pengguna menunjukkan bahwa panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi bagi siswa SMP dikembangkan telah memenuhi kriteria keberterimaan, yaitu berguna, layak, tepat dan patut untuk diterapkan pada siswa. Saran yang diberikan sehubungan dengan pemanfaatan ialah konselor sebaiknya telah menguasai langkah-langkah pelatihan dan materi pelatihan yang ada dalam panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi agar memperoleh perubahan perilaku yang dikehendaki. Selain itu, saran pengembangan produk lebih lanjut adalah penelitian selanjutnya dapat melakukan uji kelompok kecil serta pengkajian lebih luas untuk mengetahui keefektifan panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi bagi siswa SMP
Pengembangan Media Interaktif Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMP
ABSTRAK Daniswari, Herwinda Putri. 2015. Pengembangan Media Interaktif untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Carolina Ligya Radjah, M.Kes, (II) Drs. H. Harmiyanto, M.Pd Kata Kunci: pengembangan, media interaktif, kepercayaan diri Siswa sekolah menengah pertama termasuk dalam usia remaja awal. Salah satu ciri khas yang menandai masa remaja awal adalah masalah yang berhubungan dengan kemampuan. Remaja yang mengetahui diri dan kemampuannya yang berasal dari padangan positif orang lain akan menghasilkan keberanian serta adanya rasa percaya diri untuk bergaul di lingkungan sosialnya, namun kenyataannya masih banyak siswa yang merasa kurang percaya diri dan minder sehingga membuat mereka menutup diri dari lingkungan. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini, yaitu menghasilkan sebuah produk media interaktif untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa SMP yang berguna, tepat, mudah dan menarik. Media ini diharapkan dapat membantu siswa mengembangakan dan meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga tidak menjadi minder dan menutup diri dari pergaulan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini mengadopsi metode penelitian dan pengembangan dari Borg & Gall (1983), yaitu 1) menentukan potensi dan masalah penelitian; 2) mengumpulkan informasi; 3) mendesain produk; 4) validasi desain; 5) perbaikan/revisi desain; 6) uji lapangan; 7) revisi produk akhir. Pengumpulan data need assessment menggunakan angket dan wawancara. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket penilaian dan saran yang diberikan oleh ahli media, ahli materi, calon pengguna produk dan uji kelompok kecil. Hasil penelitian dan pengembangan berdasarkan uji ahli materi menunjukkan rata-rata keseluruhan sebesar 3,2, uji ahli media menunjukkan rata-rata sebesar 3,6, uji calon pengguna produk menunjukkan rata-rata sebesar 3,7, untuk kelompok kecil mendapatkan rata-rata sebesar 3,4. Rata-rata dari keseluruhan uji ahli dan uji kelompok kecil diperoleh nilai sebesar 3,5 sehingga dapat disimpulkan, produk Media Interaktif untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMP layak digunakan. Dari hasil penelitian disarankan, 1) konselor dapat menggunakan media interaktif sebagai salah satu media penyampaian informasi studi lanjut yang menarik dan memandirikan bagi siswa, 2) sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menguji keefektifannya, 3) diharapkan dapat mengembangkan media serupa yang lebih menarik
Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Asertif untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama
ABSTRAK Ratwulan, Adyana Ajeng. 2015. Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Asertif untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M. A, (II) Drs. H. Widada, M. Si. Kata Kunci: pengembangan, panduan pelatihan, keterampilan asertif, structured learning approach (SLA) Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan panduan pelatihan keterampilan asertif yang terdiri atas tiga jenis produk, yaitu buku panduan untuk konselor, buku panduan untuk siswa dan buku materi dengan topik pelatihan keterampilan asertif yaitu memperjuangkan hak-hak pribadi, menanggapi cemoohan, menghindari masalah dengan orang berkonflik dan menghindari perkelahian yang telah teruji akseptabilitasnya. Akseptabilitas yang dimaksudkan mengacu pada aspek kegunaan (utility), kelayakan (feasibility), ketepatan (accuracy) dan kepatutan (propriety) untuk panduan pelatihan keterampilan asertif untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP). Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengadopsi langkah-langkah pengembangan berdasarkan strategi pengembangan Research and Developmental dari Borg and Gall (1983) yang terdiri atas tahap perencanaan, tahap pengembangan produk dan tahap uji coba. Data dikumpulkan melalui format uji ahli dan uji calon pengguna produk berupa skala penilaian. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan metode analisis Inter Rater Agreement Model dan data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Pengembangan panduan pelatihan keterampilan asertif disusun dengan menggunakan model pembelajaran terstruktur (Structured Learning Approach) yang sistematis dan behavioral. Pembelajaran terstruktur (Structured Learning Approach) terdiri atas lima tahap yaitu pemberian materi (instruksi), pemberian model, bermain peran, pemberian balikan dan pemberian tugas rumah. Analisis terhadap penilaian ahli dan calon pengguna produk menunjukkan bahwa panduan tersebut memenuhi kriteria dan layak diadaptasi sebagai panduan pelatihan keterampilan asertif untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa hasil uji ahli dan uji calon pengguna produk terhadap pengembangan buku panduan pelatihan keterampilan asertif untuk konselor, buku panduan pelatihan keterampilan asertif untuk siswa dan buku materi memiliki keberterimaan berguna, keberterimaan layak, keberterimaan tepat dan keberterimaan patut. Oleh karena itu produk pengembangan ini dapat dijadikan sebagai panduan bagi konselor untuk membantu siswa sekolah menengah pertama (SMP) dalam mengembangkan aspek pribadi dan sosial khususnya dalam mengembangkan keterampilan asertif
Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Asertif bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama dengan model Structured Learning Approach
ABSTRAK Djamaluddin, Mawardi. 2015. Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Asertif bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama dengan model Structured Learning Approach. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A, (II) Dr. Carolina Ligya Radjah, M. Kes. Kata Kunci: pengembangan, panduan pelatihan, keterampilan asertif, structured learning approach. Keterampilan asertif merupakan salah satu jenis keterampilan sosial yang perlu dimiliki oleh siswa SMP untuk menunjuang terbinanya hubungan interpersonal yang berkualitas dengan orang-orang disekitarnya. Keterampilan asertif sangat penting untuk memberikan dampak ikutan bagi siswa SMP dalam mengembangkan perilaku yang terintegrasi dengan keterampilan asertif, misalnya perilaku jujur dan mempedulian hak-hak yang melekat pada orang lain dalam kontek hubungan interpersonal. Mengembangkan keterampilan asertif bagi siswa SMP memerlukan sebuah panduan pelatihan yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengembangkan keterampilan asertif siswa. Berdasarkan hasil studi literatur terhadap hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan peningkatan keterampilan asertif, maka panduan pelatihan keterampilan asertif yang dikembangkan ini bertujuan untuk melengkapi panduan sejenis yang telah dikembangkan sebelumnya. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan asertif bagi siswa SMP yang terdiri dari lima komponen keterampilan asertif yaitu keterampilan meminta izin, keterampilan negosiasi, keterampilan membantu orang lain, keterampilan menggunakan kontrol diri, dan keterampilan berbagi sesuatu. Penelitian pengembangan ini menggunakan model Borg dan Gall (2003) sebagai acuannya, secara prosedural pengembangan panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP melalui tiga tahapan, yaitu tahap pra pengembangan, tahap pengembangan, dan tahap pasca pengembangan. Data penelitian yang diperoleh berupa analisis data kuantitatif dan paparan data kualitatif berupa saran dan masukan dari ahli BK dan calon pengguna produk. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala penilaian akseptabilitas yaitu angket penilaian yang meliputi aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan kepatutan panduan pelatihan keterampilan asertif. Data penelitian yang dipaparkan berupa data kuantitatif dan data kualitatif, data kuantitatif berupa hasil penilaian dari ahli bimbingan dan konseling serta penilaian calon pengguna produk melalui skala penilaian akseptabilitas dengan menggunakan teknik analisis data Inter-Rater Agreement Model. Sementara itu, untuk data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara dan penilaian berupa lembar saran dan perbaikan pada skala penilaian akseptabilitas panduan dari ahli bimbingan dan konseling serta calon pengguna produk. Penelitian ini mengembangkan panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP sebagai instrumen panduan pelatihan dengan berbasis pada model Structured Learning Approach yang dapat memfasilitasi konselor dan siswa secara mandiri dalam mengembangkan keterampilan asertif. Panduan ini telah melalui serangkaian tahapan uji validasi untuk mengukur tingkat akseptabilitas dari panduan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah sistematika dalam panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP yang relevan dengan kebutuhan dan karakterisrik siswa serta konselor. Ragam bahasa yang digunakan dalam langkah-langkah pelatihan dan buku materi pada umumnya perlu dilakukan adaptasi sehingga mudah dipahami oleh konselor dan siswa. Kedua, masalah tahapan-tahapan yang perlu terlebih dahulu dilakukan oleh konselor sebelum mengimplementasikan langkah-langkah pelatihan. Instrumen need assement yang representatif sehingga dapat secara objektif menjaring siswa sebagai subyek pelatihan pengembangan keterampilan asertif. Instrumen need assement berperan untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang benar-benar membutuhkan pelatihan tersebut.