SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
Pengembangan Inventori Self Disclosure Berbasis Software untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama
ABSTRAK Ellisofa, Fitria. 2015. Pengembangan Inventori Self Disclosure Berbasis Software untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Harmiyanto, M.Pd; (II) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd. Kata Kunci: inventori, self disclosure, software Self disclosure merupakan kemampuan orang untuk berani mengungkapkan informasi mengenai dirinya kepada orang lain, khususnya pada usia remaja. Pendidikan mempunyai andil yang besar dalam mengetahui tingkat self disclosure siswa. BK di sekolah memiliki teknik pengumpulan data berupa inventori. Inventori yang digunakan konselor biasanya berupa media cetak. Kekurangan inventori berupa media cetak adalah kurang efisien dan praktis dari segi media, waktu dan penyimpanan. Maka dibutuhkan media yang lebih efisien dan praktis untuk melancarkan inventori self disclosure, yaitu dengan mengembangkan software beserta buku panduan untuk konselor. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan inventori self disclosure berbasis software untuk siswa SMP yang berterima secara teoritis dan praktis. Model pengembangan yang digunakan adalah model yang dikembangkan Borg & Gall dengan menggunakan tahap-tahap yang sudah ditetapkan, namun menyesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Adapun tahap yang dilakukan adalah: (1) pengumpulan data, (2) perencanaan, (3) penyusunan draft 1, (4) uji coba permulaan, (5) analisis dan revisi, (6) uji coba lapangan utama, (7) analisis dan revisi, (8) analisis faktor, (9)uji ahli media, (10) analisis dan revisi, (11) uji pengguna (konselor), (12) analisis dan revisi, (13) uji kelompok kecil dan (14) revisi sebagai produk akhir. Pengembangan inventori self disclosure berbasis software menunjukkan bahwa: (1) dari uji ahli isi diperoleh hasil sangat sesuai (2) berdasarkan uji coba lapangan utama menunjukkan bahwa item pernyataan valid dan hasil uji reliabilitas menunjukkan reliabilitas sangat tinggi, (3) hasil uji ahli media sangat sesuai mengenai software dan buku panduan, (4) dari uji calon pengguna produk diperoleh hasil sangat sesuai (5) dari uji kelompok kecil diperoleh hasil sangat sesuai. Peneliti mengajukan beberapa saran yang diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan dan pengembangan produk selanjutnya. Saran pemanfaatan, konselor dapat menggunakan inventori self disclosure berbasis software dan membantu siswa mengetahui self disclosure-nya. Saran diseminasi, produk dapat digunakan siswa di sekolah lain asalkan mempunyai karakteristik yang cenderung sama dan adanya media. Untuk pengembangan produk lebih lanjut, diharapkan kegiatan pengembangan inventori self disclosure berbasis software untuk siswa SMP dilanjutkan dengan populasi yang lebih luas sehingga penggunaan inventori self disclosure berbasis software bisa lebih luas, peneliti selanjutnya juga bisa melakukan pengembangan media lain untuk meningkatkan self disclosure siswa, mengingat self disclosure individu dapat ditingkatkan
Survey Pola Asuh Orang Tua dan Eksplorasi Karier Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 21 Malang
ABSTRAK Sari, Rossalia Agata. 2015. Survey Pola Asuh Orang Tua dan Eksplorasi Karier Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 21 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Carolina Ligya Radjah, M.Kes, (II) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd Kata Kunci: Pola asuh, eksplorasi karier Siswa SMP merupakan remaja yang berada pada usia antara 11 tahun hingga 15 tahun. Remaja yang berada pada usia ini mulai berpikir abstrak dan logis. Dalam proses perkembangannya yang serba ingin tahu, remaja memerlukan arahan dari orang tua agar tidak mudah terpengaruh hal negatif dan dapat menjalankan tugas perkembangannya dengan baik. Riset Roe (dalam Gibson & Mitchell, 2011) menyatakan bahwa jika struktur kebutuhan individu sangat dipengaruhi oleh pengalaman awal anak yang melibatkan interaksi anak dengan orang tua di dalam keluarga. Interaksi awal orang tua dan anak merupakan langkah awal dari pengenalan karier. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua yang dikelompokkan menjadi 3 macam tipe, yaitu pola asuh demokratis, permisif, dan otoriter. Usia SMP merupakan waktu dimana siswa berada pada fase tentative dan proses pilihan karier terjadi diawali dengan kegiatan orientasi dan eksplorasi karier. Eksplorasi karier ini meliputi aktivitas siswa untuk mencari informasi mengenai dirinya sendiri dan lingkungan kariernya. Penelitian ini memiliki rumusan masalah yang secara umum ingin mengetahui bagaimana pola asuh orang tua dan eksplorasi karier siswa SMP. Sedangkan untuk rumusan masalah secara khusus adalah (1) untuk mengetahui pola asuh orang tua siswa SMP dan (2) untuk mengetahui eksplorasi karier siswa SMPN 21 Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif survei dengan populasi siswa kelas VIII dengan sampel sebanyak 128 responden. Pengumpulan data menggunakan angket pola asuh orang tua dan angket eksplorasi karier yang indikatornya di adaptasi dari disertasi Edi Purwanta (2010) yang kemudian dikembangkan oleh peneliti. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua di SMPN 21 Malang cenderung menerapkan pola asuh demokratis. Untuk eksplorasi karier siswa SMPN 21 Malang menunjukkan kecenderungan bahwa siswa SMPN 21 Malang memiliki tingkat eksplorasi karier sedang. Saran bagi konselor di sekolah untuk menambahkan kegiatan bimbingan karier di sekolah agar meningkatkan aktivitas eksplorasi karier siswa serta pengetahuan perencanaan karier siswa. Sedangkan saran bagi peneliti selanjutnya adalah untuk meneliti eksplorasi karier pada siswa di jenjang SMA/SMK
Pengembangan Media Permainan Papan Ragam Pekerjaan Untuk Pemahaman Karir Bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
ABSTRAK Choirunisa’. 2015. Pengembangan Media Permainan Papan Ragam Pekerjaan Untuk Pemahaman Karir Bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra. Hj. Ella Faridati Zen, M.Pd., (II) Dr. H. IM. Hambali, M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, Media Permainan, papan ragam pekerjaan Tugas perkembangan karir remaja atau anak usia SMP berada pada tahap tentatif dimana siswa membutuhkan informasi mengenai jenis-jenis pekerjaan agar siswa mampu mengenal dunia kerja. Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan di SMP Negeri 20 Malang, lebih difokuskan pada bidang belajar, dan selebihnya pada pribadi dan sosial sedangkan bidang karir belum disentuh secara khusus. Pemberian layanan lebih cenderung menggunakan metode ekspositori atau ceramah sehingga siswa kurang tertarik dalam menerima layanan. Dari hasil analisis kebutuhan, siswa kelas VIII membutuhkan informasi tentang jenis-jenis pekerjaan. Oleh karena itu peneliti mengembangkan media permainan papan ragam pekerjaan untuk pemahaman bagi siswa Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media informasi karir berbentuk papan ragam pekerjaan yang berterima secara teoritis dan praktis. Penelitian ini menggunakan prosedur yang diadaptasi dari Borg and Gall. Langkah-langkahnya sebagai berikut; (1) penelitian pendahuluan, melakukan kajian pustaka dan analisis kebutuhan siswa (2) penyususunan produk awal, menentukan tujuan pengembangan dan menyusun media informasi karir papan ragam pekerjaan (3) validasi produk oleh ahli bimbingan konseling,media, dan calon pengguna (4) revisi produk, menyempurnakan produk sesuai dengan saran yang diperoleh dari ahli dan calon pengguna (5) produk akhir. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif untuk menghitung rata-rata skor dan persentase. Analisis kualitatif menggunakan Miles & Huberman untuk mereduksi data yang telah diperoleh dari ahli dan calon pengguna. Hasil penilaian dari ahli materi bimbingan dan konseling menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Hasil penilaian dari ahli media menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Hasil penilaian dari uji calon pengguna yang dilakukan oleh konselor SMP Negeri 20 Malang menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Hasil penilaian dari sasaran pengguna yang dilakukan oleh siswa kelas VIII menunjukkan bahwa media ini sangat berguna, sangat tepat, sangat menarik, dan sangat layak. Dari hasil penilaian ahli dan calon pengguna, dapat disimpulkan media ini memenuhi kriteria sebagai produk yang berterima secara teoritis maupun praktis. Berdasarkan hasil penelitian disarankan pada: 1)konselor SMP Negeri 20 Malang untuk menggunakan media informasi papan ragam pekerjaan ini sebagai alat untuk menyampaikan layanan informasi karir tentang ragam pekerjaan, 2) Saran bagi peneliti selanjutnya, media informasi papan ragam pekerjaan ini dapat di uji keefektivitasannya dalam menyampaikan informasi karir sehingga media ini dapat digunakan di seluruh SMP di Kota Malang
Pengetahuan, Persepsi, dan Sikap Konselor Terhadap Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Malang
ABSTRAK Wijaya, Bellinda Mega Candy.2015.Pengetahuan, Persepsi, dan Sikap Konselor Terhadap Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Malang.Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Carolina Ligya Radjah, M.Kes, (II) Drs. Hariyadi Kusumo,M.Pd. Kata Kunci: Pengetahuan, Persepsi, Sikap, Konselor, MGBK Kompetensi konselor harus selalu dikembangkan. Salah satu wadah pengembangan kompetensi konselor yaitu, Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK). Tetapi, dari hasil dilapangan menunjukkan fakta bahwa kegiatan MGBK diimplementasikan berbeda oleh konselor dan sebagian besar konselor masih belum memahami makna MGBK, tujuan, hingga manfaat yang didapat konselor dari MGBK Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan, persepsi, dan sikap konselor terhadap MGBK. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deksriptif kuantitatif, dengan subjek konselor sekolah menengah atas (SMA) Negeri Kota Malang anggota MGBK. Penelitian ini menggunakan angket sebagai instrumen pengumpul data kemudian diolah dan ditetapkan kategori pengetahuan (tinggi, sedang, rendah), persepsi (positif, cukup, negatif) dan sikap (positif, cukup, negatif) menggunakan rumus lebar interval sama dengan jarak pengukuran (nilai teringgi – nilai terendah) dibagi jumlah interval dan teori kategori pengetahuan, persepsi dan sikap. Kegiatan analisisnya dilakukan dari paparan hasil angket tersebut. Berdasarkan analisis data dihasilkan: Sangat banyak konselor (100%) yang memiliki pengetahuan pada klasifikasi tinggi. Cukup banyak konselor (33,33%) memiliki persepsi positif, banyak konselor (66,67%) memiliki persepsi cukup, dan pada klasifikasi negatif tidak ada. Sedikit konselor (8,33%) yang memiliki sikap positif, sangat banyak konselor (91,67%) yang memiliki sikap cukup posiitif, dan pada klasifikasi negatif tidak ada. Kesimpulan penelitian ini adalah (1)Sangat banyak konselor SMA Negeri Kota Malang yang memiliki pengetahuan tinngi tentang MGBK (mulai dari pengertian, landasan hukum, tujuan, fungsi, peranan, tugas dan kegiatan) meliputi mengetahui, memahami, menggunakan, menguraikan, menyimpulkan dan mengevaluasi dengan baik. (2) sangat banyak konselor SMA Negeri Kota Malang yang memiliki persepsi cukup positif terhadap MGBK. (3) sangat banyak konselor SMA Negeri Kota Malang yang memiliki sikap cukup positif terhadap MGBK. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan agar MGBK meningkatkan persepsi menjadi positif dan meningkatkan sikap konselor menjadi sikap yang positif. Sehingga MGBK bisa menjadi wadah pengembangan kompetensi bagi konselor yang sesuai dengan tujuan, fungsi, tugas dan peranan MGBK
Pengembangan Modul Pelatihan Manajemen Diri untuk Meningkatkan Keyakinan Diri Menghadapi Ujian Siswa SMP Negeri 2 Malang
ABSTRAK Agustin, Ria Elita. 2015. Pengembangan Modul Pelatihan Manajemen Diri untuk Meningkatkan Keyakinan Diri Menghadapi Ujian Siswa SMP Negeri 2 Malang.Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, M.Pd, (II) Drs. Hariadi Kusumo, M. Pd. Kata Kunci: modul pelatihan, manajemen diri, keyakinan diri, ujian matematika, IPA, bahasa indonesia Ujian adalah salah satu kegiatan belajar siswa berupa mengerjakan soal-soal berbagai matapelajaran dalam hal ini matapelajaran yang dimaksud yaitu matapelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia. Dalam melaksanakan ujian, diperlukan keyakinan diri yang tinggi oleh siswa agar mencapai prestasi yang diharapkan. Keyakinan diri pada saat menghadapi ujian diukur dari tiga dimensi keyakinan diri, meliputi: keyakinan diri pada tingkat kesulitan menghadapi ujian, keyakinan diri pada situasi berbeda saat menghadapi ujian, dan kemantapan keyakinan keberhasilan saat menghadapi ujian. Tetapi tidak semua siswa memiliki keyakinan diri yang tinggi dalam menghadapi ujian. Untuk itu, diperlukan latihan manajemen diri untuk meningkatkan keyakinan diri yang tinggi. Tujuan pengembangan adalah menghasilkan modul pelatihan manajemen diri untuk meningkatkan keyakinan menghadapi ujian Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia siswa SMP yang berterima dari aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan.Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengadaptasi model pengembangan Borg and Gall 1983 yang dimodifikasi menjadi 3 tahapan yaitu: 1) prapengembangan, 2) pengembangan produk, 3) pascapengembangan (uji coba). Pengembangan menghasilkan produk modul pelatihan manajemen diri untuk konselor dan untuk siswa. Panduan modul untuk konselor berisi 4 bagian yaitu pendahuluan, petunjuk penggunaan, prosedur pelatihan manajemen diri, dan evaluasi. Sedangkan modul untuk siswa hanya berbeda pada bagian evaluasi yang tidak disertakan. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil angket need assesment, penilaian uji ahli dan calon penggguna produk, dan hasil pretest-posttest skala keyakinan diri yang kemudian dianalisis dengan uji wilcoxon. Data kualitatif diperoleh dari kritik dan saran hasil uji ahli (BK dan media), calon pengguna produk (konselor dan siswa).Berdasarkan penilaian ahli BK, ahli media dan calon pengguna produk, modul yang dikembangankan oleh peneliti sangat tepat, sangat berguna, mudah, dan sangat menarik. Berdasarkan hasil penelitian maka diajukan saran berupa (1) saran pemanfaatan: a) konselor SMPN 2 Malang dapat menggunakan modul pelatihan manajemen diri dalam memberikan layanan BK dibidang belajar, b) konselor dapat melaksanakan pelatihan bersama konselor lain apabila kegiatan dilakukan dalam kelompok besar (2) saran bagi peneliti selanjutnya yaitu: perlu dilakukan uji efektivitas modul pelatihan dengan rancangan eksperimen menggunaan kelompok kontrol (pretest-postest control group design)
Pengembangan Paket Pelatihan Konselor Sebaya pada Kalangan Siswa SMA
ABSTRAK Kentriana, Rani. 2015. Pengembangan Paket Pelatihan Konselor Sebaya pada Kalangan Siswa SMA. Skripsi. Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd, dan (II) Dr. Andi Mappiare, A.T, M.Pd Kata kunci: pelatihan, konselor sebaya, SMA Siswa SMA dalam perkembangannya berada pada masa remaja, sering mengalami masalah mencangkup masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir. Dalam memecahkan masalahnya, remaja membutuhkan orang atau pihak lain untuk membantunya. Pihak lain di sekolah yang bertugas memberikan layanan bantuan adalah konselor. Akan tetapi terbatasnya jumlah konselor dan banyaknya siswa menyebabkan layanan konseling tidak dirasakan oleh siswa. Di samping itu banyaknya siswa yang enggan berkonseling dengan konselor dan lebih senang menceritakan masalahnya kepada teman dan sahabatnya. Mereka menggangkap orang dewasa tidak bisa memahami dan mengerti masalah yang dialaminya. Melihat hal itu maka perlu adanya pelatihan konselor sebaya.Penelitian pengembangan ini menggunakan model Borg and Gall (1983). Adapun prosedur yang pengembangan yang dilakukan sebagai berikut: 1) tahap pertama perencanaan: melakukan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan konselor; 2) tahap kedua pengembangan produk: merancang media paket pelatihan, menyusun media, dan menyusun instrumen penilaian; 3) tahap ketiga uji coba produk: uji ahli (uji ahli BK, uji ahli bahasa, dan uji ahli media); revisi produk hasil penilaian ahli; calon pengguna produk; kelompok kecil; produk akhir paket pelatihan konselor sebaya pada kalangan siswa SMA. Produk yang dihasilkan pada penelitian pengembangan ini adalah 1) panduan paket pelatihan konselor sebaya pada kalangan siswa SMA untuk siswa, dan 2) paket pelatihan konselor sebaya pada kalangan siswa SMA untuk konselor.Berdasarkan penilaian dari ahli materi bimbingan dan konseling menyatakan bahwa paket pelatihan konselor sebaya (peer counselor) memiliki keberterimaan isi sangat tepat, berguna, dan mudah sedangkan untuk keberterimaan format sangat tepat, berguna, mudah dan menarik. Dari ahli bahasa menyatakan bahwa paket pelatihan konselor sebaya (peer counselor) ini memiliki keberterimaan isi sangat baik. Selanjutnya memiliki keberterimaan format sangat tepat, berguna, mudah, dan menarik. Penilaian ahli media menyatakan bahwa paket pelatihan konselor sebaya berdasarkan isi sangat tepat, mudah dan menarik dan berdasarkan format menyatakan bahwa paket pelatihan konselor sebaya memiliki keberterimaan format sangat tepat, berguna, mudah dan menarik. Calon pengguna produk menyatakan bahwa paket pelatihan konselor sebaya memiliki keberteriaan isi sangat tepat, mudah dan berguna. Penilaian berdasarkan format yaitu sangat tepat, berguna dan menarik. Penilaian dari kelompok kecil menyatakan bahwa paket pelatihan konselor sebaya sangat tepat, berguna, mudah dan menarik. Kesimpulannya paket pelatihan konselor sebaya pada kalangan siswa SMA telah berterima secara teori dan praktis. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini, dapat disarankan bagi konselor hendaknya menggunakan paket pelatihan konselor sebaya pada kalangan siswa SMA ini dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektifitas paket pelatihan ini.
STUDY REMAJA CABE-CABEAN DI KOTA BUNGA
ABSTRAK Anggraeni, Novi Tri. 2015. Study Remaja “Cabe-Cabean” di Kota Bunga. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I)Dr. Hj. Muslihati S. Ag., M.Pd (II)Yuliati Hotifah.,S.Psi, M. Pd Kata Kunci: Remaja, Self-Control,Cabe-cabean. Remaja merupakan tahap perkembangan dan pertumbuhan dari anak menjadi dewasa. Perubahan fisik maupun psikis pada masa ini membuat beberapa remaja mengalami kebimbangan identitas. Hal ini berdampak pada perilaku remaja. Remaja yang mengalami kebimbangan umumnya kurang memiliki self control pada dirinya. Self control adalah bagaimana seseorang mengendalikan diri serta dorongan-dorongan dari dalam dirinya. Istiah Cabe-cabeansemulanya digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan fenomena kelakuan remaja yang tergabung dalam kelompok balapan motor liar dan pemenang balapan bisa mengencani si gadis “cabe-cabean”.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian fenomenologi dengan subjek 3 remaja cabe-cabean. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Analisis data pada penelitian ini bersifat induktif dan berkelanjutan.Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karakteristik dan aktivitas remaja ‘cabe-cabean” ini memiliki perbedaan yang cukup menonjol dibandingkan dengan remaja lainya, ciri-ciri yang melekat pada remaja “cabe-cabean” ini adalah helm yang selalu melekat pada saat mereka berkumpul, menggunakan baju yang menunjukkan lekukan badan serta memasang behel ataupun soft lens.sedangkan aktivitas mereka tidak banyak perbedaan, selain senang berkumpul di GOR mereka juga bersekolah, kuliah bahkan kerja, berpacaran dan beraktivitas di lingkungan masyarakat. Self-control remaja “cabe-cabean” dalam hal perilaku seksual kurang bisa mereka kontrol dengan berbagai alasan. Dan sebagai mahluk sosial para remaja “cabe-cabean” ini juga mempunyai permasalahan eksternal dan internal. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan beberapa hal sebagai berikut: 1) Bagi konselor atau sekolah, diharapkan dalam melihat dan memahami karakteristik dan aktivitas remaja “cabe cabean”. Sehingga konselor mampu mengenali sejak dini, mengawasi dan melakukan pendektan khusus terhadap siswa yang terlibat dalam aktivitas seperti ini. Diharapkan program BK dapat memberikan pelayan berkaitan self-control dan dapat merancang layanan apa yang sesuai untuk pencegahan maupun untuk remaja yang sudah terlanjur terjerumus ke dalam aktivitas seperti itu, 2) Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk melakukan penelitian yang lebih lengkap dan lebih mendalam. Serta diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkan faktorlain yang menyebabkan seorang remaja terjerumus dalam dunia “cabe-cabean”, bagaimana remaja “cabe-cabean” mengentaskan suatu permasalahan, dan faktor yang berkaitan dengan remaja kehidupan remaja “cabe-cabean”
Keefektifan Konseling Kelompok Adler untuk Meningkatkan Keterampilan Interpersonal Siswa SMP
ABSTRAK Fitriani, Mega Rahma. 2015. Keefektifan Konseling Kelompok Adler untuk Meningkatkan Keterampilan Interpersonal Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, M. Pd., (II) Drs. H. Lutfi Fauzan, M. Pd. Kata Kunci: konseling kelompok Adler, keterampilan interpersonal, siswa SMP Keterampilan interpersonal adalah kemampuan individu dalam memulai, mengembangkan dan mempertahankan hubungan antarpribadi yang produktif. Keterampilan interpersonal menjadi penting, karena tinggi rendahnya keterampilan interpersonal yang dimiliki akan mempengaruhi individu dalam mengembangkan hubungan sosial. Jika rendah, maka individu akan mengalami banyak hambatan pada tugas-tugas kehidupannya. Oleh karena itu diperlukan usaha untuk membantu siswa meningkatkan keterampilan interpersonal. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan konseling kelompok Adler yang menekankan reedukasi kognitif, seperti nilai, keyakinan, dan minat sosial. Perilaku dapat muncul melalui proses belajar, dan konseling kelompok Adler merupakan salah satu media belajar individu untuk memahami perilakunya yang kurang tepat. Dengan pemahaman baru, diharapkan individu dapat menggunakan pemahaman barunya dalam mencapai superioritas sesuai dengan keunikan dan kemampuannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan konseling kelompok Adler untuk meningkatkan keterampilan interpersonal siswa SMP. Secara empirik konseling kelompok Adler belum diketahui keefektifannya, sehingga peneliti membuat hipotesis penelitian untuk menguji keefektifan konseling kelompok Adler. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode penelitian quasi eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah interrupted time series. Subjek penelitian diperoleh berdasarkan hasil penyebaran angket keterampilan interpersonal dan memiliki skor yang tergolong rendah atau sedang. Subjek penelitian berjumlah lima siswa yang memiliki skor konsiten dari hasil tiga kali pretest. Data hasil penelitian dianalisis dengan statistik nonparametris melalui uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Berdasarkan uji ini diketahui bahwa Z= -2,032 dengan signifikansi sebesar 0,042. Nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, sehingga H0 ditolak. Hasil analisis statistik keterampilan interpersonal ini disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pre-test dan post-test, sehingga konseling kelompok Adler efektif untuk meningkatkan keterampilan interpersonal siswa SMP. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka peneliti mengajukan beberapa saran bagi yang mempunyai minat melakukan penelitian keterampilan interpersonal, di antaranya adalah melakukan perubahan pada desain eksperimen seperti True Experimental Design dengan menggunakan kelompok ekperimen dan kelompok kontrol. Sehingga peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Bagi konselor sekolah, dapat menggunakan konseling kelompok Adler untuk meningkatkan keterampilan interpersonal dengan panduan yang telah tersusun
BERPIKIR REFLEKTIF MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA
ABSTRAK Suharna, Hery, 2015. Berpikir reflektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. (II) Dr. Subanji, M.Si., dan (III) Dra. Santi Irawati, M.Si., Ph.D. Kata kunci: Berpikir reflektif, berpikir reflektif klarifikatif, berpikir reflektif konektif, berpikir reflektif produktif, dan menyelesaikan masalah matematika. Berpikir reflektif adalah berpikir yang dilakukan dengan proses terjadi perplexity dan melakukan penyelidikan berulang-sampai menemukan penyelesaian masalah.Berpikir reflektif memiliki peranan penting sebagai sarana berpikir untuk menyelesaikan masalah matematika. Berpikir reflektif memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar memikirkan strategi terbaik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu berpikir reflektif dapat membantu siswa mengintegrasikan kemampuan berpikirnya dengan melakukan penilaian. Berpikir reflektif juga diperlukan dalam proses pemecahan masalah matematika. Pada proses berpikir reflektif terjadi akomodasi yang merupakan proses pengintegrasian stimulus baru melalui perubahan skema lama atau pembentukan skema baru dengan stimulus yang diterima. Melalui akomodasi seseorang mengubah skema yang ada atau membentuk skema yang baru agar cocok dengan rangsangan yang dihadapi, dan akhirnya tercapai kondisi equilibrium. Mahasiswa dituntut memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep yang berkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lain, salah satunya adalah materi kalkulus. Kalkulus merupakan materi yang disajikan pada semester awal yang terdiri dari materi-materi dasar dan merupakan materi prasyarat untuk matakuliah matematika selanjutnya. Oleh karena itu masalah yang penting untuk diangkat dalam penelitian “bagaimana berpikir reflektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika”. Penelitian ini mengungkap proses berpikir reflektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Oleh karena itu penelitian ini tergolong eksploratif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Proses pemilihan subjek yaitu: (1) mengondisikan yaitu menentukan lokasi atau tempat dalam rangka mencari calon subjek penelitian, (2) pemberian TPM pada calon subjek dengan think aloud, (3) dilakukan wawancara apabila ada informasi yang belum terungkap pada data think aloud. Wawancara ini bertujuan untuk mengategorikan calon subjek berpikir reflektif klarifikatif, berpikir reflektif konektif dan berpikir reflektif produktif, (4) kejenuhan data yang dimaksud adalah data dari subjek untuk setiap kategori memiliki pola yang sama atau tetap dari beberapa subjek penelitian yang akan diambil, dan (5) selanjutnya dari masing-masing kategori tersebut diambil minimal 2 orang untuk dijadikan subjek penelitian. Dengan demikian dalam penelitian ini yang menjadi subjek adalah 6 mahasiswa yang mewakili untuk setiap kategori. Tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan berpikir reflektif klarifikatif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika, (2) mendeskripsikan berpikir reflektif konektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika, dan (3) mendeskripsikan berpikir reflektif produktif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Instrumen pengumpulan data adalah instrumen utama dan instrumen bantu. Sebagai instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti, sementara itu instrumen bantu dalam penelitian ini adalah Tugas Penyelesaian Matematika (TPM), hasilthink aloud, hasil wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menemukan 3 (tiga) struktur berpikir reflektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Tiga temuan tersebut yaitu: (1) berpikir reflektif klarifikatif , (2) berpikir reflektif konektif, dan (3) berpikir reflektif produktif. Berpikir reflektif klarifikatif (clarificative) adalah berpikir yang terjadi pada saat seseorang mengalami perplexity dan melakukan penyelidikan berulang-ulang dengan cara mengklarifikasi. Berpikir reflektif konektif (connective) adalah berpikir yang terjadi pada saat seseorang mengalami perplexity dan melakukan penyelidikan berulang-ulang dengan cara menghubungkan antar konsep (konseptualisasi). Berpikir reflektif produktif (productive) adalah berpikir yang terjadi pada saat seseorang mengalami perplexity dan melakukan penyelidikan berulang-ulang dengan cara penyelesaian yang berbeda
Keefektifan Metode Quantum Learning Dengan Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Kepanjen Malang
ABSTRAK Haryadi, Imam Agung. 2014. Keefektifan Metode Quantum Learning Dengan Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Kepanjen Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Widada, M.Si, (II) Irene Maya Simon, S.Pd, M.Pd. Kata kunci : Bimbingan Kelompok, Quantum Learning, Motivasi Belajar Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa kelas VIII SMPN 3 Kepanjen Malang. Permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah apakah metode quantum learning dengan bimbingan kelompok dapat efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Kepanjen Malang Tahun Ajaran 2014 - 2015?. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui metode quantum learning dengan bimbingan kelompok dapat efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Kepanjen Malang Tahun Ajaran 2014 – 2015. Jenis penelitian ini adalah penelian kuantitatif dengan metode pra eksperimental design dengan jenis one group pretest posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMPN 3 Kepanjen Malang dengan jumlah 332 siswa. Sampel yang digunakah adalah 34 siswa dengan menggunakan teknik clauster random sampling. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui instrumen penelitian (angket) dengan empat alternatif jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Adapun instrumen yang valid dan reliabel digunakan untuk penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (uji hipotesis). Hasil analisis deskriptif membuktikan bahwa mean (nilai rata-rata) post test lebih tinggi dari pada mean (nilai rata-rata) pre test. Nilai mean post test sebesar 123,000 sedangkan mean (nilai rata-rata) pre test sebesar 110,473. Sedangkan analisis inferensial (uji hipotesis) membuktikan bahwa terdapat perbedaan mean yang signifikan secara statistik antara pre test dan post test. Hasil analisis inferensial disimpulkan dari thitung : -6,110, memiliki signifikansi 0,000, sehingga Ho diitolak dan Ha diterima. Maka dapat dikatakan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan metode quantum learning efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMPN 3 Kepanjen Malang dan dinyatakan diterima. Berdasarkan hasil analisis dekriptif dan hasil analisis inferensial (uji hipotesis) layanan bimbingan kelompok dengan metode quantum learning efektif bisa meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Kepanjen Malang Tahun Ajaran 2014/2015. Saran yang dapat peneliti sampaikan hendaknya guru pembimbing mampu memberikan materi layanan bimbingan kelompok sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga tujuan pemberian layanan bimbingan kelompok dapat tercapai dengan menggunakan teknik-teknik atau metode sehingga dirasa tidak monoton bagi siswa salah satunya dengan metode quantum learning