SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
    1354 research outputs found

    KEEFEKTIFAN METODE DIALOG SOCRATES UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA MTs

    No full text
    ABSTRACT KEEFEKTIFAN METODE DIALOG SOCRATES UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA MTsKeterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan seseorang mengambil keputusan dalam menghadapi masalah, keputusan yang diambil melewati pemikiran yang kritis terlebih dahulu, proses pemikiran kritis yang dilalui diantaranya menganalisis, mengevaluasi, membuat kesimpulan dan membuat keputusan. Keterampilan berpikir kritis dapat ditingkatkan dengan tanya jawab sehingga metode dialog socrates dapat dijadikan salah satu metode dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa karena pada metode dialog socrates siswa diberikan deretan pertanyaan yang harus dijawab dan pertanyaan berkembang sesuai jawaban yang disampaikan oleh siswa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keefektifan metode dialog socrates untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa MTs.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Single Subject Design dengan model A-B-A, subjek penelitian ini berjumlah tiga siswa kelas VIII-B MTsN 1 Kediri yang memiliki keterampilan berpikir kritis rendah diukur menggunakan inventori keterampilan berpikir kritis. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah inventori keterampilan berpikir kritis dan observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran IPA. Data hasil penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan visual inspection.Hasil analisa data menunjukkan perubahan skor inventori keterampilan berpikir kritis ketiga subjek sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan yang menunjukkan tingkat keterampilan berpikir kritis dari sangat rendah menjadi sedang dan tinggi, sedangkan dari hasil observasi menunjukkan subjek ASF meningkat sebesar 66,7%, FNS 63,7% dan QN 72,2%, sehingga dapat disimpulkan metode dialog socrates efektif  meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa MTs. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada konselor dapat menggunakan metode dialog socrates sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dengan berkolaborasi bersama guru mata pelajaran, kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan subjek yang berbeda jenjang pendidikan, dengan rancangan penelitian A-B-A-B, dan dengan fokus keterampilan berpikir kritis pada bidang lain

    Hubungan Pengendalian Emosi dan Perilaku Agresif siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Dewi, Rosi Evangelista. 2016. Hubungan Pengendalian Emosi dan Perilaku Agresif siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang. Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Widada M.Si, (2) Drs.Hariadi Kusumo M.Pd.   Kata Kunci : pengendalian emosi, perilaku agresif.   Pengendalian emosi adalah kemampuan siswa dalam mengendalikan atau mengontrol emosi yang mereka miliki untuk dapat memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Remaja saat ini rentang terhadap perilaku agresif karena masa remaja merupakan masa proses mencari jati diri, mereka belum bisa mengendalikan luapan emosi sebagai reaksinya ditampakkan pada pengrusakan barang milik orang lain dengan unsur sengaja yang diekspresikan dengan kata-kata verbal dan perilaku non verbal. Penelitian ini  bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yaitu pengendalian emosi, perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang, dan untuk mengetahui hubungan antara pengendalian emosi dan perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang, Kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini ada seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Subjek penelitian berjumlah 108 siswa. Instrumen penelitian menggunakan angket. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas dan uji korelasi. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa siswa yang memiliki pengendalian emosi berada pada kategori tinggi. Siswa melakukan perilaku agresif berada pada kategori rendah. Hasil uji statistic menunjukkan nilai p = – 0,483 < ɑ = 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan hubungan yang negatif antara pengendalian emosi dengan perilaku agresif. Saran yang diberikan kepada 1)sekolah tetap menjaga kondisi saat ini dan membuat kebijakan mengenai pengendalian emosi dan perilaku agresif seperti memberikan bimbingan 2)konselor adalah konselor lebih memahami siswa dan memberikan layanan informasi atau klasikal, layanan bimbingan kelompok dan teknik bermain peran, sosiodrama dan modeling yang berkenaan dengan pengendalian emosi 3) bagi guru mata pelajaran mempertahankan perilaku dan kondisi yang sudah ada 4)bagi peneliti selanjutnya agar dapat menguji lagi dan juga mengembangkan populasinya.                         ABSTRACT   Dewi, Rosi Evangelista. 2016. The Correlation between Emotional Management and Aggressive Behavior of VIII Year Class Students at State Junior High School 8 Malang. Guidance and Counseling Department, Education Science Faculty,  State University of Malang. The Advisors: (1) Drs. Widada M.Si, (2) Drs.Hariadi Kusumo M.Pd.   Keywords: emotional management, aggressive behavior   The meaning of emotional management is the students ability in managing or controlling the emotion they have to be able to solve the problem they faced. Nowadays, the adolescents more have conflict comes from the individual inside and outside who more sensitive, angry, and has aggressive behavior. This research was carried out with the aim was to describe some matters, such as emotional management, aggressive behavior of VIII Year Class Students at State Junior High School 8 Malang, and to know the correlation between emotional management and aggressive behavior of VIII Year Class Students at State Junior High School 8 Malang, Malang City. The design used in this research was correlational descriptive. The population of this research was all VIII year class students State Junior High School 8 Malang. The sampling in this research used random sampling technique, where the researcher carried out the collecting randomly to the class. The amount of subject was 108 students. The research instrument used questionnaire. The technique of data analysis in this research used descriptive statistical analysis, normality test, linearity test, and correlation test. Based on the result of research, it was known that students who had emotional management stood on the high level. The students who did aggressive behavior stood on the low level. The statistical test result showed that = – 0,483 < ɑ = 0,05. The conclusion from this research was there was negative relation between emotional management with aggressive behavior. The suggestion given to the counselor is counselor should undertand the students more and give the information service or clasical, group guidance service and role playing technique, sociodrama and modelling in connection with emotional management. Also the suggestion for the next researcher is in order to add the subject matter in instrument used

    Pengembangan Panduan Bimbingan Dengan Teknik Diskusi Untuk Meningkatkan Adversity Quotient Siswa SMA

    No full text
    ABSTRACT Pengembangan Panduan Bimbingan Dengan Teknik Diskusi Untuk Meningkatkan Adversity Quotient Siswa SMAAnggrian, Riki. 2016. Pengembangan Panduan Bimbingan dengan Teknik Diskusi untuk Meningkatkan Adversity quotient Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Ella Faridati Zen, M.Pd, (II) Drs. H. Widada, M.Si.Kata Kunci:  Panduan bimbingan, adversity quotient, teknik diskusi, pendekatan experiential learningLayanan bimbingan dan konseling di sekolah berfungsi untuk membangun kondisi sejahtera bagi siswa agar tercapai perkembangan optimal berdasarkan standard kemandirian. Dalam aktifitas belajar, terkadang siswa mengalami beberapa masalah yang muncul dan mengakibatkan terhambatnya proses belajar mengajar. Masalah tersebut dipengaruhi adanya konflik internal maupun eksternal yang dapat menurunkan daya belajar, menghilangkan gairah belajar, serta menurunkan kepercayaan diri/sikap optimis siswa. Oleh sebab itu, kemampuan siswa dalam menghadapi kesulitan/adversity quotient mutlak diperlukan agar siswa memiliki ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan panduan bimbingan dengan teknik diskusi untuk meningkatkan adversity quotient siswa SMA yang dapat diterima berdasarkan ketepatan, kegunaan, dan kemenarikan.Produk berupa buku panduan bimbingan ini dapat digunakan oleh konselor untuk meningkatkan adversity quotient siswa SMA. Panduan bimbingan untuk meningkatkan adversity quotient ini berisi petunjuk dalam melaksanakan serangkaian kegiatan bimbingan dengan teknik diskusi menggunakan pendekatan experiential learning secara terprogram.Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan/research and development, dengan menggunakan desain penelitian yang dikembangkan oleh Borg & Gall. Prosedur penelitian ini dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pengembangan produk awal, (3) uji coba produk, (4) revisi, (5) produk akhir. Instrument penelitian berupa angket/kuesioner. Sedangkan data yang diperoleh berupa data kuantitatif numerikal dan verbal. Analisis data numerikal dilakukan dengan menggunakan perhitungan rerata/mean dan data verbal dianalisis secara deskriptif.Berdasarkan hasil uji ahli bimbingan dan konseling serta ahli media dan pembelajaran, produk pengembangan dikategorikan ke dalam kriteria sangat tepat, sangat berguna, dan sangat menarik.  Hasil uji calon pengguna produk, produk pengembangan dikategorikan ke dalam kriteria sangat tepat, sangat berguna, dan sangat menarik. Sehingga secara keseluruhan produk yang dikembangkan dapat dikategorikan ke dalam kriteria sangat tepat, sangat berguna dan sangat menarik untuk digunakan dalam meningkatkan adversity quotient siswa SMA. Saran bagi kepala sekolah, hendaknya memberikan fasilitas agar pelaksanaan bimbingan untuk meningkatkan Adversity quotient di sekolah terlaksana secara optimal. Saran bagi konselor, hendaknya memahami buku panduan terlebih dahulu, agar pelaksanaan kegiatan bimbingan dapat terlaksana secara efektif. Saran bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menguji efektifitas produk dan mendesiminasikannya pada pertemuan-pertemuan professional atau jurnal ilmiah

    Efektifitas Teknik Sosiodrama untuk Meningkatkan Percaya Diri Siswa Kelas VII B SMP Negeri 15 Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Dewi, Erindah Eka Kusuma. 2016. Efektifitas Teknik Sosiodrama untuk Meningkatkan Percaya Diri  Siswa Kelas VII B SMP Negeri 15 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Elia Flurentin, M.Pd (II) Irene Maya Simon, S.Pd, M. Pd.   Kata Kunci: percaya diri, sosiodrama, siswa SMP.   Berdasarkan hasil pengamatan pada Kajian dan Praktik Lapangan (KPL), banyak dijumpai siswa yang kesulitan dalam berinteraksi. Siswa yang berada pada usia 11-12 tahun adalah siswa yang memasuki Sekolah Menengah Pertama kelasVII, mereka berada dalam masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa remaja awal. Salah satu hambatan perkembangan adalah siswa terlihat canggung dan lebih banyak berdiam diri ketika berada pada lingkungan baru. Hambatan perkembangan berikutnya adalah siswa berinteraksi dengan teman sekelas hanya seperlunya saja.Hambatan perkembangan seperti itu terjadi disebabkan karena tingkat percaya diri yang rendah. Lindenfield yang menyatakan bahwa orang yang percaya diri adalah orang yang merasa puas dengan dirinya. Adapun maksud dari merasa puas terhadap dirinya yaitu orang yang memahami dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, dan bangga atas apa yang dimiliki serta bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan tanpa rasa cemas dan ragu-ragu.Teknik sosiodrama merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan percaya diri, teknik sosiodrama merupakan alat untuk mencapai tujuan bimbingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik sosiodrama untuk meningkatkan percaya diri siswa kelas VII B SMP Negeri 15 Malang. Desain penelitian ekperimen dalam penelitian ini menggunakan one group pretest-posttest design.Subjek dalam penelitian ini adalah lima siswa yang mempunyai tingkat percaya diri terendah dalam satu kelas. Instrumen penelitian yang digunakan adalah inventori percaya diri dan pedoman eksperimen. Uji pembeda untuk mengukur hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji T-Test. pada hasil uji T-Test yang diperoleh nilai signifikan sip-value sebesar 0,000. Nilai tersebut kurang dari batas kritis penelitian, yaitu 0,05. Nilai  t hitung -9.237 lebih besar dari tabel t pada DF 30 yakni sebesar 1,694 sehingga keputusan hipotesis adalah menerima H1 atau yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara skor pretest dan skor posttest. Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan untuk konselor dan peneliti selanjutnya. Bagi konselor sebaiknya mengetahui isi garis besar cerita dan pesan yang terkandung didalam skenario sosiodrama serta memperhatikan ketersediaan waktu .Bagi peneliti selanjutnya agar dalam melaksanakan penelitian, sebaiknya menggunakan kelompok kontrol agar sama-sama diberi perlakuan.agar bisa diketahui perbedaan skor antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen serta menggunakan teknik permainan terstruktur agar keseluruhan jabaran variabel percaya diri terlampaui

    Keefektifan Konseling Naratif untuk Meningkatkan Penyesuain Diri Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

    No full text
    ABSTRAK   Wati, Marsinta Eko. 2016. Keefektifan Konseling Naratif untuk Meningkatkan Penyesuaian Diri Siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M.A, (II) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd.   Kata Kunci: konseling naratif, penyesuaian diri, SMK   Penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk bisa sejalan, selaras, atau sebanding dengan keadaan lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, nilai, maupun norma yang berlaku di suatu wilayah. Begitu juga dengan siswa ketika di sekolah yang diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan sekolah. Kenyataannya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri di sekolah, terutama bagi siswa baru. Peran konselor dalam hal ini adalah membantu siswa untuk bisa mengenal dan memahami lingkungan baru sehingga siswa dapat menyesuaikan diri di sekolah. Upaya bantuan yang dapat diberikan adalah konseling, yang salah satunya menggunakan pendekatan naratif. Konseling naratif mengajak siswa untuk mengubah perspektif usang menjadi perspektif baru yang konstruktif dan kongruen dengan realitas saat ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui keefektifan konseling naratif untuk meningkatkan penyesuaian diri siswa SMK di sekolah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Single Case Experimental Design (SCED) model A-B-A’, dengan subjek penelitan siswa SMKN 2 Malang sebanyak tiga siswa yang berada di kelas X. Pengambilan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling. Untuk penjaringan calon subjek penelitian digunakan skala penyesuaian diri dan data perkembangan terhadap pemberian treatment dikumpulkan dengan pedoman observasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan visual inspection. Konseling naratif diberikan dengan tahapan membangun rapport, dekonstruksi, pembentukan narasi baru, dukungan terhadap narasi baru. Tahapan konseling tersebut dilaksanakan dalam enam sesi pertemuan konseling. Dari hasil analisis, perubahan penyesuian diri menunjukkan persentase yang berbeda pada setiap subjek. Ketiga subjek penelitian mengalami peningkatan antara lain sebesar 88%, 59,3%, dan 68,75%. Secara umum semua subjek penelitian mengalami peningkatan meski tampak bervariasi. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa konseling naratif efektif untuk meningkatkan penyesuaian diri siswa SMK di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, diajukan saran yang perlu dipertimbangkan konselor dan peneliti selanjutnya. Konselor hendaknya menggunakan konseling naratif untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan penyesuaian diri siswa di SMK. Peneliti selanjutnya hendaknya melakukan penelitian eksperimen konseling naratif untuk meningkatkan penyesuaian diri siswa dengan menggunakan kelompok kontrol

    Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Mengelola Emosi sebagai Upaya Preventif Perilaku Bullying Siswa SMP

    No full text
    ABSTRAK   Irani, Luthfita Cahya. 2016. Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Mengelola Emosi sebagai Upaya Preventif Perilaku Bullying Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A., (II) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd.   Kata Kunci: panduan, mengelola emosi, bullying, siswa SMP.   Berbagai faktor penyebab timbulnya perilaku bullying pada siswa disekolah, salah satunya adalah tingkat keterampilan mengelola emosiyang rendah. Keterampilan mengelola emosi merupakan salah satu aspek pengembangan kepribadian individu yang berfungsi sebagai pengendali diri dari berbagai perilaku maladaptif, termasuk bullying. Proses terjadinya bullying diawali dari sebuah peristiwa yang menyebabkan timbulnya emosi negatif yang selanjutnya emosi tersebut akan membawa seseorang pada pilihan untuk mengatasi, melarikan diri atau menantang terhadap emosi negatif yang ia rasakan. Aspek menantang inilah yang dianggap sangat serius, sebab menjadi akar dari timbulnya perilaku bullying, sehingga seseorang dengan tingkat keterampilan mengelola emosi yang tinggi, memiliki kecenderungan yang rendah terhadap perilaku bullying. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan terhadap 301 siswa SMP terkait skala keterampilan mengelola emosi di 5 sekolah yang tersebar di 5 kecamatan di Kota Malang, diketahui bahwa 4,31% atau 13 siswa masuk pada skala sangat rendah, selanjutnya 48,1% atau 145 siswa masuk pada skala rendah, sisanya berturut-turut masuk pada skala sedang, tinggi dan sangat tinggi dengan  perolehan persentase  41,5% atau 125 siswa, 4,9% atau 15 siswa, dan 1,6% atau 5 siswa. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat keterampilan mengelola emosi siswa SMP di Kota Malang masuk pada kategori rendah yang artinya banyak siswa memiliki kecenderungan untuk berpotensi melakukan perilaku bullying di sekolah. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini ialah menghasilkan panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi sebagai upaya preventif perilaku bullying siswa SMP yang terdiri dari buku panduan pelatihan untuk konselor, media DVD pelatihan untuk konselor, buku materi untuk siswa dan buku format kerja siswa. Prosedur penelitian pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian model Borg & Gall (1983) dengan tahap-tahap yang dimodifikasi sesuai dengan keterbatasan dan asumsi untuk memaksimal setiap tahap penelitian. Tahap yang digunakan ialah: 1) penelitian awal dan pengumpulan data, 2) perencanaan, 3) pengembangan produk awal, 4) uji coba produk awal, 5) perbaikan produk awal, dan 6) uji coba produk lanjutan dan perbaikan produk akhir. Hasil uji ahli bimbingan dan konseling, psikologi, dan teknologi pendidikan menunjukkan kesepakatan yang tinggi terhadap produk berdasarkan aspek kegunaan, kemenarikan, ketepatan dan kepatutan. Melalui skala penilaian yang diberikan pada calon pengguna produk menunjukkan hasil bahwa, panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi sebagai upaya preventif perilaku bullying siswa SMP telah memenuhi kriteria keberterimaan yaitu: berguna, menarik, tepat dan patut untuk diterapkan pada siswa SMP yang masuk pada skala keterampilan mengelola emosi yang rendah. Sehubungan dengan pemanfaatan yang didasarkan pada hasil temuan di lapangan, terdapat saran bagi konselor agar produk yang dihasilkan  ini dapat digunakan dalam kegiatan kurikulum pengembangan diri siswa dengan melakukan kajian lebih lanjut dengan pihak-pihak sekolah yang berwenang. Disamping itu, untuk kegiatan pengembangan produk bagi peneliti selanjutnya adalah melaksanakan uji kelompok kecil untuk mengetahui keefektifan panduan pelatihan keterampilan mengelola emosi sebagai upaya preventif perilaku bullying siswa SMP

    Pengembangan Modul Konsep Diri Bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama

    No full text
    ABSTRAK   Corina, Selma. 2016. Pengembangan Modul Konsep Diri Bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hariadi Kusumo, M.Pd. (II) Dr. H. Adi Atmoko, M.Si.   Kata kunci: modul, konsep diri, siswa SMP.   Siswa SMP umumnya berusia 13-15 tahun yang dapat digolongkan sebagai usia remaja. Masa remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.Salah satu tugas perkembangannya adalah remaja sudah mempunyai konsep diri yangbaik dimana seorang remaja dapat mengenal dirinya dengan baik sekali serta dapat menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Fenomena yang terjadi bahwa kebanyakan remaja memiliki konsep diri yang belum stabiluntuk sementara waktu dan ini terjadi pada saat transisi masa anak-anak ke dewasa. Konselor sebagai tenaga profesional perlu memberi bimbingan demi mengoptimalkan tugas perkembangan peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul yang tepat, berguna, mudah dan menarik bagi siswa SMP melalui uji ahli materi, uji ahli media, dan uji calon pengguna serta keefektivan produk yang dikembangkan melalui uji lapangan operasional.Penelitian pengembangan menggunakan langkah-langkah dari Borg & Gall (1983). Uji lapangan operasional dilakukan dengan melancarkan skala pengukuran konsep diri untuk mengetahui tingkat konsep diri siswa. Analisis data yang digunakan untuk mengolah hasil validasi uji ahli materi, ahli media dan calon pengguna adalah menggunakan rerata sedangkan untuk uji lapangan operasional menggunakan SPSS uji wilcoxon. Hasil validasi ahli materi, ahli media dan calon pengguna menunjukkan bahwa modul konsep diri sangat tepat, sangat berguna, sangat mudah dan sangat menarik yang berarti modul konsep diri layak digunakan. Hasil uji lapangan operasional menggunakan uji beda wilcoxon diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,028. Nilai 0,028 kurang dari batas kritis penelitian yaitu 0,05, maka terdapat perbedaan yaitu peningkatan skor antara sebelum dan sesudah diberikannya modul konsep diri. Hal ini menunjukkan bahwa modul konsep diri efektif untuk mengembangkan konsep diri siswa. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini, disarankan kepada konselor untuk menggunakan modul konsep diri sebagai media dalam layanan informasi. Bagi peneliti lanjut, disarankan untuk melakukan penelitian dengan melibatkan sekolah dan subjek siswa lebih banyak lagi dalam skala besar dengan waktu diluar proses penelitian ini

    KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK SINGKAT BERFOKUS SOLUSI UNTUK MENGURANGI PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 20 MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Dewanti, Brigita. 2016. Keefektifan Konseling Kelompok Singkat Berfokus Solusi Untuk Mengurangi Prokrastinasi Akademik Siswa Kelas VII SMPN 20 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Program Studi S1 Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. H. Widada, M. Si, (II) Dr. H. Adi Atmoko, M. Si.   Kata Kunci: konseling kelompok singkat berfokus solusi, prokrastinasi akademik, siswa SMP.   Pelaku prokrastinasi akademikmemilih mengerjakan tugas akademiknya dibatas akhir pengumpulan tugas sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman, keterlambatan dan kegagalan dalam menyelesaikan tugas akademiknya. Salah satu fungsi bimbingan dan konseling di sekolah adalah pengentasan perilaku prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling kelompok singkat berfokus solusi dalam mengurangi prokrastinasi akademik siswa SMP. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan design quasi eksperimen one group pretest and posttest. Subjek penelitian berjumlah lima siswa yang memiliki skor konsisten katagori prokrastinasi tinggi dari hasil dua kali pretest menggunakan instrumen prokrastinasi. Data dianalisis melalui uji Wilcoxon Signed Raks Test. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok singkat berfokus solusi efektif untuk mengurangi prokrastinasi akademik siswa SMP (Z=-2,023; 0.04

    PEMUNGUTAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN DI KOTA MALANG SEPANJANG 2010 SAMPAI 2014

    No full text
    ABSTRACT PEMUNGUTAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN DI KOTA MALANG SEPANJANG 2010 SAMPAI 2014PEMUNGUTAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN DI KOTA MALANG SEPANJANG 2010 SAMPAI 2014Awaludin, AkhmadOddi. 2016. PemungutanPajak Hotel Dan Restoran Di Kota Malang Sepanjang 2010 Sampai 2014. Skripsi, JurusanAkuntansi, FakultasEkonomi, UniversitasNegeri Malang, Pembimbing: (I) SawitriDwiPrastiti, S.E.,M.Si.,Ak. (II) YuliWidiAstuti, S.E., Msi.,Ak.Kata Kunci:Pajak Hotel Dan Restoran, PendapatanAsli DaerahSalah satusumber PAD yang paling potensialadalahpajakdaerah. BerdasarkanPeraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 TentangPajak Daerah Di Kota Malang, pajak hotel dan pajak restoran merupakan dua jenis pajak daerah yang potensinya semakin berkembang seiring dengan makin diperhatikannya komponen pendukung yaitu sektor jasa dan pariwisata dalam kebijakan pembangunan daerah. Dengana danya hotel dan restoran yang telah berdiri sendiri, maka akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi pemerintah daerah. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas, kontribusi dan, daya pajak hotel dan restoran di kota Malang sepanjang tahun 2010 sampai 2014.Rancangan ini menggunakan research exploratory dengan metode deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Dispenda Kota Malang dalam laporan pendapatan asli daerah (PAD).Analisis penelitian yang akan digunakan adalah analsis deskriptif dengan model presentase, yaitu untuk menghitung potensi, efektivitas, dan kontribusi terhadap pajak hotel dan restoran di kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektifitas pajak hotel dan restoran pada tahun 2010-2014 keseluruhan masuk dalam kategori efektif karena memiliki nilai di atas 100%. Kontribusi pajak hotel Kota Malang antara tahun 2010-2014 memiliki kategori sangat kurang yaitus ebesar 6-7% terhadap pajak daerah sedangkan pajak restoran memiliki kontribusi kategori kurang yakni sebesar 10-14% terhadap pajak daerah. Daya pajak hotel kota malang antara tahun 2010-2014 memiliki angka rata-rata 0.84% terhadap PDRB, dan daya pajak restoran memiliki angka rata-rata 1.67% terhadap PDRB.Keterbatasan penelitian ini hanya mengambil sampel 5 tahun dan data diperoleh hanya dari dokumen laporan keuangan dan wawancara satu orang saja. Saran dari penelitian ini adalah memperpanjanng periode penelitian agar data yang dihasilkan lebih konsisten, dandilengkapidenganobservasi agar hasil penelitian lebihr elevan

    PERBEDAAN TINGKAT INTERAKSI SOSIAL TATAP MUKA ANTARA SISWA KELAS XI PENGGUNA SMARTPHONE DAN BUKAN PENGGUNA SMARTPHONE DI SMA PANJURA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Kemunculan smartphone sebagai salah satu alat bantu komunikasi tentu akan berpengaruh terhadap interaksi sosial tatap muka masyarakat modern saat ini, yang tentunya berdampak terhadap interaksi sosial tatap muka penggunanya. Kini banyak fenomena individu lebih memilih memainkan smartphonenya ketika ia berada dalam suatu kegiatan atau bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Interaksi sosial tatap muka merupakan salah satu aspek pribadi dan sosial remaja yang harus dipenuhi dalam tugas perkembangan remaja. Dalam interaksi sosial tatap muka terjalin komunikasi yang pada dasarnya dibutuhkan dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling di sekolah antara konselor dan konselinya, karena dalam proses layanan BK terjadi hubungan saling mempengaruhi dan menimbulkan hubungan timbal balik. Berkaitan dengan itu, diperlukan pembahasan tentang tingkat interaksi sosial tatap muka para siswa remaja di sekolah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan tingkat interaksi sosial tatap muka di sekolah antara siswa kelas XI pengguna dan bukan pengguna smartphone di SMA Panjura Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif deskriptif komparatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan dari bentuk interaksi sosial tatap muka yang diturunkan dari proses penjabaran variabel. Uji Independent t-test digunakan sebagai teknik menguji hipotesis penelitian, karena penelitian ini merupakan jenis penelitian parametrik dengan jumlah responden yang besar dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan, dengan satu variabel bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan uji-t diketahui nilai p = 0, 608> 0,05 . Dari perolehan nilai ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat interaksi sosial tatap muka antara siswa kelas XI pengguna dan bukan pengguna smartphone. Dari penelitian yang dilakukan, peneliti mengajukan saran untuk guru BK untuk proaktif dalam melihat gejala penurunan interaksi sosial tatap muka para siswanya sehingga penurunan dalam berinteraksi sosial tatap muka dapat dicegah sedini mungkin. Saran bagi peneliti selanjutnya untuk dapat lebih dalam dan luas mengkaji tentang interksi sosial tatap muka dengan desain penelitian yang berbeda, serta memperluas subjek penelitiannya. Kata Kunci: interaksi sosial tatap muka, pengguna smartphone dan bukan pengguna smartphon

    0

    full texts

    1,354

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇