SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
PENINGKATAN EMPATI MELALUI TEKNIK DRAMA SEGITIGA KARPMAN DI SMP ARDJUNA MALANG
ABSTRACT PENINGKATAN EMPATI MELALUI TEKNIK DRAMA SEGITIGA KARPMAN DI SMP ARDJUNA MALANGPENINGKATAN EMPATI MELALUI TEKNIK DRAMA SEGITIGA KARPMAN DI SMP ARDJUNA MALANGRahmadya, Okky. 2016. Peningkatan Empati Siswa Melalui Teknik Drama Segitiga Di SMP Ardjuna Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Andi Mappiare AT M.Pd., (II) Yuliati Hotifah, S.Psi, M.PdKata Kunci: Empati, Drama Segitiga KarpmanEmpati merupakan suatu kemampuan kognitif dan afektif yang timbul dalam diri individu untuk memahami apa yang sedang dipikirkan dan merasakan kondisi yang sedang dialami orang lain tanpa kehilangan kontrol diri. Tingginya keterampilan empati yang dimiliki siswa dapat meningkatkan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Empati bukan hanya sekedar ikut merasakan, tetapi juga berbuat dengan tindakan nyata. Peningkatan empati pada siswa sangat penting untuk ditingkatkan karena saat ini banyak permasalahan di kalangan remaja yang disebabkan rendahnya keterampilan empati. Teknik Drama Segitiga Karpman merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan empati yang dimiliki siswa. Melalui Drama Segitiga Karpman, siswa diajarkan untuk memecahkan masalah melalui komunikasi yang lebih bertanggung jawab dan penuh kesadaran diri.Rancangan penelitian yang digunakan adalah Pre Experimental Design dengan menggunakan One Group Pretest-Posttest Design, dengan subjek penelitian siswa SMP kelas VII dan VIII berjumlah 33 orang. Penentuan subjek eksperimen ditentukan berdasarkan 9 subjek bernilai terendah dari hasil analisis instrumen skala empati. Kemudian 9 subjek eksperimen tersebut dibagi menjadi 3 kelompok yang di dalamya berisi 3 subjek eksperimen dan nantinya 9 subjek eksperimen tersebut akan memainkan Drama Segitiga Karpman. Hasil penelitian, uji analisis Wilcoxon Signed Ranks Test (WSRT) menunjukkan nilai beda sebesar (Z=-4.373b) dengan nilai signifikansi 0.028 dan terjadi peningkatan nilai pada posttest 1, posttest 2 posttest 3. Pada posttest 1 terdapat nilai signifikan sebesar 0.000, pada posttest 2 masih belum mengalami peningkatan nilai signifikansi, pada posttest 3 nilai signifikansi mengalami peningkatan sebesar 0.028. Dengan kata lain terjadi perubahan skor antara nilai posttest 1, posttest 2 dan posttest 3. Nilai probabilty eror kurang dari 0.05 (p=0.02
Transisi Umur 30 Tahun pada Perempuan di Desa X Nusa Tenggara Barat yang Menikah Di Usia Dini
ABSTRACT Fitriani, Elis. 2012. Transisi Umur 30 Tahun pada Perempuan di Desa X Nusa Tenggara Barat yang Menikah di Usia Dini. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) : Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A., (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si.Kata kunci : transisi umur 30, perempuan, menikah usia diniTransisi umur 30 tahun merupakan suatu periode perkembangan yang berada di antara tahap settling down dan tahap memasuki dunia dewasa. Transisi umur 30 tahun ini dapat berjalan lancar maupun krisis, disebabkan oleh tahap perkembangan sebelumnya terkait dengan adanya pengambilan keputusan untuk menikah di usia dini. Keputusan tersebut akan memberikan beberapa dampak khususnya bagi perempuan. Lokasi dalam penelitian ini terletak di desa X Nusa Tenggara Barat.Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, kemudian observasi dan studi dokumen. Adapun subjek dalam penelitian ini merupakan perempuan di desa X Nusa Tenggara Barat yang berjumlah 2 orang. Sedangkan Fokus dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap apakah perempuan di desa X Nusa Tenggara Barat yang menikah di usia dini mengalami krisis ketika berusia 30 tahun.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan di desa X Nusa Tenggara Barat mengalami perkembangan yang krisis. Adanya perekmbangan yang krisis ini diukur melalui aspek-aspek, yakni ketidaksesuaian antara dream dan life structure, adanya konflik, kurangnya keinginan untuk melibatkan orangtua dalam perkembangan dream, dan berkeinginan untuk melakukan perubahan terkait dengan dream dan life structure. Krisis tersebut dialami oleh kedua subjek penelitian sebelum memasuki periode transisi umur 30 tahun. Kedua subjek penelitian mengalami perkembangan yang krisis, sehingga memutuskan untuk menikah di usia dini. Kemudian, ketika memasuki periode transisi umur 30 tahun, kedua subjek penelitian juga mengalami krisis dengan bentuk yang berbeda dari krisis sebelumnya. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini: (1) masyarakat khusunya orangtua dapat memberikan dukungan baik secara emosional maupun finansial dalam perkembangan dream perempuan, khususnya bagi perempuan yang mengalami krisis agar mampu melewati masa krisisnya. (2) Bagi Perempuan yang menikah di usia dini di desa X Nusa Tenggara Barat, hendaknya mempersiapakan diri secara emosional dan kognitif dalam menghadapi kemungkinan adanya krisis sebelum maupun ketika berusia 30 tahun (3) Bagi perempuan usia di bawah 20 tahun di desa X Nusa Tenggara Barat,hendaknya berusaha memperjuangkan kehidupan yang sesuai dengan harapan dan melatih problem solving, (4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan penelitian dengan subjek yang lebih banyak dan karakteristik sama agar menambah gambaran mengenai transisi umur 30 tahun pada perempuan yang menikah di usia dini
Pengembangan Media Bimbingan Autoplay tentang Karakter Tanggung Jawab Siswa SMP Berbasis Cerita Rakyat
ABSTRAK Susilowati, Desy. 2016. Pengembangan Media Bimbingan Autoplay tentang Karakter Tanggung Jawab Siswa SMP Berbasis Cerita Rakyat. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd (II) Yuliati Hotifah, S.Psi., M.Pd Kata Kunci: karakter tanggung jawab, media bimbingan autoplay, cerita rakyat. Nilai-nilai yang dikembangkan pada pendidikan karakter baik dalam pendidikan formal maupun nonformal, diantaranya: jujur, tanggung jawab, cerdas, sehat dan bersih, peduli, kreatif dan gotong royong. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilancarkan oleh konselor SMP N 2 Malang, menunjukkan rendahnya pencapaian tugas perkembangan siswa terdapat pada aspek kesadaran tanggung jawab. Sehingga karakter tanggung jawab siswa perlu dikembangkan. Upaya pendidikan karakter agar bersifat efektif maka konselor dapat mengusahakan implementasi berbagai metode misalnya dengan membaca cerita atau dongeng yang sesuai. Pesatnya perkembangan teknologi saat ini menjadikan siswa lebih memilih teknologi berbasis komputer daripada dalam bentuk cetak. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan media bimbingan autoplay tentang karakter tanggung jawab siswa SMP berbasis cerita rakyat yang layak digunakan untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling Model prosedural penelitian pengembangan ini mengadaptasi 7 dari 10 langkah penelitian Borg & Gall (1983), yaitu (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji coba lapangan awal, (5) merevisi hasil uji coba, (6) uji coba lapangan, dan (7) penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan. Produk pengembangan ini terdiri dari media bimbingan dan buku panduan konselor, yang keduanya telah divalidasi oleh ahli materi dan ahli media, serta telah diuji cobakan pada calon pengguna, yaitu konselor dan siswa. Selain itu penelitian pengembangan ini juga menghasilkan inventori karakter tanggung jawab sebagai instrumen evaluasi yang telah diuji reliabilitas dan validitasnya. Hasil validasi dari ahli materi, ahli media dan uji calon pengguna yang dinilai dari aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan memperoleh hasil rata-rata skor 3,57 dengan kriteria sangat layak. Maka dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan ini sangat layak digunakan sebagai media bimbingan dalam memberikan layanan bimbingan tentang karakter tanggung jawab. Saran bagi konselor diharapkan menggunakan produk dalam layanan bimbingan kelompok/klasikal pada bidang pribadi sosial, serta mampu bekerjasama dengan guru mata pelajaran lain agar mampu memaksimakan media yang dikembangkan. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar memperhatikan spesifikasi komputer yang digunakan untuk membuat dan mengoperasikan media agar tidak lambat ketika dioperasikan. Selain itu perlu dilakukan uji keefektifan produk dengan menggunakan penelitian sejenisnya, melanjutkan pada tahap 8, 9 dan 10 pada model prosedural penelitian pengembangan Borg & Gall
Pengembangan Paket Pelatihan Teknik Modeling Simbolis Sebagai Upaya Meningkatkan Self Efficacy Siswa SMP
ABSTRAK Self Efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan atau potensi yang ada dalam diri individu. Rendahnya self efficacy pada siswa jika dibiarkan terus menerus tanpa adanya upaya untuk meningkatkan maka akan merugikan siswa sendiri. Terkait dengan masalah rendahnya self efficacy pada siswa, konselor mempunyai tugas untuk memberikan layanan bimbingan agar siswa lebih mempunyai self efficacy yang tinggi. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan paket pelatihan teknik modeling simbolis sebagai upaya meningkatkan self efficacy siswa SMP yang dapat digunakan konselor sebagai media dalam memberikan layanan bimbingan berupa materi untuk meningkatkan self efficacy siswa SMP. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembnagan Borg and Gall (2003). Adapun prosedur mengembangan menggunakan tujuh tahap yaitu sebagai berikut: 1) penelitian pendahuluan, 2) perencanaan, 3) mengembangkan produk awal, 4) uji coba produk awal, 5) revisi produk awal, 6) uji lapangan utama, 7) revisi produk akhir. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa kuesioner need assesment dan kuisioner uji ahli. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli materi dan media dengan menggunakan inter rater agrrement. Sedangkan, analisis uji calon pengguna menggunakan rata-rata. Hasil validasi berdasarkan penilaian ahli dan pengguna produk serta revisi-revisi yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa paket pelatihan teknik modeling simbolis sebagai upaya meningkatkan self efficacy siswa SMP sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, dan sangat menarik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar (1) konselor di sekolah lain juga dapat menggunakan paket pelatihan teknik modeling simbolis sebagai upaya meningkatkan self efficacy siswa SMP serta menindak lanjuti hasil evaluasi siswa dengan melakukan konseling individual jika diperlukan (2) peneliti selanjutnya dapat melakukan uji keefektifitasan dari paket pelatihan teknik modeling simbolis sebagai upaya meningkatkan self efficacy siswa sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat
MODUL LAYANAN INFORMASI DISIPLIN TATA TERTIB PESERTA DIDIK DI SMA NEGERI 1 MALANG
ABSTRAK Kurniasari, Anita Dwi. 2016. Modul Layanan Informasi Disiplin Tata Tertib Peserta Didik di SMA Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Harmiyanto, M.Pd, Pembimbing (II) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd. Kata Kunci: modul, layanan informasi, disiplin tata tertib Remaja terutama siswa sekolah masih sering melakukan pelanggaran disiplin tata tertib di sekolah. Banyak faktor penyebab terjadinya pelanggaran disiplin tata tertib. Kasus pelanggaran disiplin tata tertib di sekolah saat ini masih terjadi dan intensitasnya semakin meningkat. Disiplin adalah tingkah laku seseorang yang patuh, taat terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma-norma yang ada dan berlaku di suatu tempat atau instansi. Sedangkan tata tertib adalah serangkaian peraturan yang disusun dalam suatu lembaga secara terstruktur dan teratur yang harus ditaati oleh setiap orang yang berada dalam lembaga tersebut dengan tujuan menciptakan suasana yang aman, tertib dan teratur. Oleh karena itu, diperlukan layanan informasi bagi semua siswa dalam membantu memberikan pemahaman akan disiplin tata tertib sebagai upaya pencegahan pelanggaran disiplin tata tertib. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul layanan informasi disiplin tata tertib peserta didik di SMA Negeri 1 Malang untuk siswa dan buku panduan modul layanan informasi disiplin tata tertib peserta didik di SMA Negeri 1 Malang untuk konselor. Sebagai salah satu media yang dapat digunakan konselor dalam memberikan layanan informasi disiplin dalam tata tertib yang memiliki keberterimaan secara teoritis dan praktis dan menghasilkan modul layanan informasi disiplin tata tertib yang berguna, tepat, mudah, dan menarik bagi siswa. Prosedur pengembangan modul layanan informasi disiplin tata tertib ini mengadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall (1983:775). Tahap-tahap pengembangan meliputi (1) tahap pra pengembangan (need asssesment), (2) tahap perencanaan (merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, desain/langkah-langkah penelitian, mengembangkan materi, melaksanakan instrumen), (3) tahap uji validasi (ahli materi dan ahli media), (4) revisi produk, (5) tahap uji coba lapangan (calon pengguna produk dan kelompok kecil), dan (6) produk akhir. Analisis data kebutuhan siswa menggunakan teknik analisis persentase. Analisis data uji ahli materi, ahli media dan calon pengguna produk menggunakan teknik analisis rata-rata. Hasil produk pengembangan ini berupa modul layanan informasi disiplin tata tertib peserta didik untuk siswa dan buku panduan modul layanan informasi disiplin tata tertib peserta didik untuk konselor. Berdasarkan hasil penilaian ahli materi, media, dan calon pengguna produk, modul layanan informasi disiplin tata tertib peserta didik dan buku panduan modul memiliki penilaian sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, dan sangat menarik. Berdasarkan hasil penilaian uji kelompok kecil, modul layanan informasi disiplin tata tertib peserta didik memiliki penilaian sangat berguna, sangat tepat, sangat mudah, dan sangat menarik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa modul telah memenuhi persyaratan keberterimaan dalam kategori kegunaan, ketepatan, kemudahan, dan kemenarikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ini, disarankan adanya penelitian lebih lanjut dalam skala besar dan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas penggunaan modul. Konselor harus memahami prosedur bimbingan dan materi bimbingan agar konselor dapat mencapai tujuan yang dikehandaki. Perlunya adaptasi kebutuhan siswa apabila modul digunakan selain siswa SMA Negeri 1 Malang. Konselor perlu menindaklanjuti hasil evaluasi diri siswa dengan melakukan konseling individu ataupun konseling kelompok apabila diperlukan. Disarankan agar guru BK SMA Negeri 1 Malang untuk mensosialisasikan modul kepada rekan sejawat satu sekolah agar produk ini dapat digunakan oleh semua guru BK yang ada di SMA Negeri 1 Malang
pengembangan inventori adaptabilitas karier siswa sekolah menengah kejuruan (SMK)
ABSTRACT pengembangan inventori adaptabilitas karier siswa sekolah menengah kejuruan (SMK)Fadhilah,Ifa Ruhimatul. 2016. Pengembangan Inventori Adaptabilitas Karier Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Muslihati, S.Ag, M.Pd, (II) Drs. Harmiyanto, M.Pd.Kata kunci : Adaptabilitas Karier, Inventori, Siswa SMK.Pengembangan inventori adaptabilitas karier siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dilatar belakangi belum tercapainya tugas perkembangan siswa SMK pada aspek wawasan dan kesiapan karier, masih banyak siswa SMK yang belum mampu memahami dirinya dan ragu dengan karier yang akan mereka tekuni, mereka juga belum tahu program studi lanjutan yang akan dipilih. Dari hal tersebut maka diperlukan instrumen sebagai alat pehaman diri.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan sebuah instrument pengumpul data yang dapat membantu siswa untuk memahami dirinya dan membantu konselor untuk mengukur tingkat adaptabilitas karier siswa SMK.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengadaptasi langkah-langkah pengembangan dari Borg and Gall dengan langkah- langkah sebagai berikut: 1) mengumpulkan data, 2) melakukan perencanaan, 3) mengembangkan produk awal, 4) melakukan uji coba lapangan tahap awal, 5) melakukan revisi dan penyusunan tahap akhir.Subjek uji validitas konstruk adalah dosen bimbingan dan konseling. Yang memiliki latar belakang pendidikan S-2 Bimbingan dan Konseling, memiliki masa kerja minimal 5 tahun dan berkompeten dalam bidang instrumentasi. Berdasarkan uji validitas konstruk, diketahui bahwa sebagian besar isi dari inventori adaptabilitas karier siswa SMK, sudah sesuai dengan teori adaptabilitas karier oleh Savickas. Uji coba terbatas melibatkan 29 siswa kelas XI SMKN 3 Malang. Tujuan dari uji coba terbatas ini adalah untuk mengetahui sejauh mana inventori adaptabilitas karier ini, mampu dipahami oleh siswa SMK. Kemudian, uji lapangan utama dilaksanakan kepada 142 siswa kelas XI SMKN 3 Malang. Untuk menghitung koefisien validitas adalah menggunakan rumus korelasi product moment, sedangkan untuk menghitung koefisien reliabilitas menggunakan rumus alpha cronbach, serta untuk penormaan ideal menggunakan rumus kelas interval.Produk yang dihasilkan adalah sebuah inventori adaptabilitas karier siswa SMK, yang berisi 70 item pernyataan terkait 4 aspek adaptabilitas karier yaitu : kepedulian, kontrol, rasa ingin tahu dan keyakinan. Produk ini sudah memenuhi syarat alat ukur, antara lain validitas, reliabilitas dan penormaan. Berdasarkan hasil pengembangan ini, diharapkan konselor mampu memanfaatkan inventori adaptabilitas karier siswa SMK ini sebagai salah satu alat pengumpul data nontesting. Selain itu, untuk peneliti selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan produk ini sampai 10 tahapan dari model penelitian Borg and Gall, dan mengembangkan produk ini menjadi software, atau berbasis komputer, serta sebagai alat penelitian atau instrumen untuk penelitian selanjutnya
PENGARUH KETERAMPILAN PERENCANAAN AKADEMIK, KEMAMPUAN MEMONITOR DIRI, DAN KETERAMPILAN MENGEVALUASI DIRI TERHADAP PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA SMP Se- KOTA MALANG
ABSTRACT PENGARUH KETERAMPILAN PERENCANAAN AKADEMIK, KEMAMPUAN MEMONITOR DIRI, DAN KETERAMPILAN MENGEVALUASI DIRI TERHADAP PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA SMP Se- KOTA MALANG Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterampilan perencanaan akademik, kemampuan memonitor diri, keterampilan mengevaluasi diri, dan prokrastinasi akademik siswa SMP N se Kota Malang. Rancangan pada penelitian ini menggunakan kuantitatif analisis deskriptif dengan teknik analisis regresi linier berganda. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMP N se Kota Malang pada tahun ajaran 2015/2016. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 499 responden, dan pengambilan dilakukan secara acak. Data penelitian diambil dengan menggunakan skala prokrastinasi akademik, tes keterampilan perencanaan akademik, inventori kemampuan memonitor diri, dan tes keterampilan mengevaluasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan perencanaan akademik memebrikan penaruh paling besar terhadap prokrastinasi akademik, kemudian keterampilan mengevaluasi diri dan kemampuan memonitor diri
pengembangan panduan sosiodrama berdasarkan sifat tokoh pewayangan pandawa untuk meningkatkan nilai karakter positif siswa SMP
ABSTRACT Sari, Denik Hardika. 2016. Pengembangan Panduan Sosiodrama Berdasarkan Sifat Tokoh Pewayangan Pandawa untuk Meningkatkan Nilai Karakter Positif Siswa SMP. Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.H. Widada,M.Si (II) Yuliati Hotifah, S.Psi,M.Pd.Kata kuci : Sosiodrama, Sifat Pandawa, Nilai Karakter, Siswa SMPWayang merupakan hasil budaya yang perlu dilestarikan karena banyak mengandung makna atau nilai mendalam tentang hubungan sosial dalam kehidupan. Di sinilah letak arti lambang wayang pandawa, lambang yang memiliki sifat keteladanan. Oleh karena itu dengan mempelajari tokoh wayang pandawa diharapkan siswa dapat memahami tentang kepribadian, watak, dan sifat dari nilai-nilai adiluhung dibalik karakter wayang pandawa. Pengetahuan tentang wayang mengarah pada kerja reflektif, karena wayang adalah bayangan manusia itu sendiri. Inilah letak fungsi wayang sebagai tuntunan kehidupan bagi manusia di dalam membangun karakter yang positif.Peningkatan nilai-nilai pendidikan karakter pada tingkah laku perlu dalam kehidupan sehari-hari. Karena simbolisasi merupakan kegiatan inti dari budi pekerti manusia. Peneliti menemukan masih banyak siswa SMP awal yang mengalami kesulitan dalam meningkatkan nilai karakter positif mereka di zaman modern ini. Untuk itu peneliti mengembangkan sebuah buku panduan yang berisi metode sosiodrama untuk meningkatkan sikap positif siswa. Tujuannya menciptakan sebuah media pengembangan bagi konselor untuk para siswa. Penelitian pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian model pengembangan prosedural. Model pengembangan prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggunakan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk Prosedur Penelitian dan Pengembangan ada 3 tahap yaitu perencanaan, pengembangan produk dan uji coba produk. Sedangkan untuk melengkapi kebutuhan peneliti juga menyiapkan instrumen validasi untuk uji ahli media dalam menilai buku panduan yang sudah disusun dan dikembangkan. Setelah produk divalidasi, kemudian direvisi sesuai hasil validasi baru dideskripsikan dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Subjek uji ahli media adalah ahli desain grafis yaitu dosen seni desain dan grafis serta uji ahli bimbingan dan konseling yang memahami teknik sosiodrama yaitu dosen ahli bimbingan dan konseling yang ahli dalam teknik sosiodrama.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh ahli bimbingan dan konseling yang memahami teknik sosiodrama, diperoleh nilai 86% yang masuk dalam kategori valid dengan revisi, antara lain: 1) pemilihan huruf Font terlalu kecil, 2) cara penulisan daftar pustaka belum tepat, 3) beberapa tulisan salah ketik. Sedangkan hasil analisis yang dilakukan oleh uji ahli media, diperoleh nilai 75% yang masuk dalam kategori valid dengan revisi antara lain: 1) penggunaan font sans serif untuk keterbacaan yang tinggi, 2) cover sebaiknya didesain dengan komposisi yang baik, 3) konten sudah runtut dan cukup untuk ukuran buku. Dari hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan peneliti kepada konselor bahwa calon pengguna produk harus mengeksperimenkan terlebih dahulu, agar dapat memahami dan mempelajari panduan sosiodrama. Kemudian diaplikasikan untuk membantu siswa meningkatkan nilai karakter positif dengan menggunakan teknik sosiodrama secara efektif dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling
Pengembangan Panduan Perencanaan Karier dengan Permainan Simulasi bagi Siswa SMA
ABSTRACT Wira Kusuma, Ardi. 2016. Pengembangan Panduan Perencanaan Karier dengan Permainan Simulasi bagi Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. H. Harmiyanto, M.Pd dan (II) Yuliati Hotifah, S.Psi, M.PdKata Kunci : Perencanaan Karier, Permainan Simulasi Perencanaan karier merupakan suatu proses dimana siswa membuat rencana-rencana yang akan ditempuh untuk mencapai masa depan yang lebih baik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Perencanaan karier sangat dibutuhkan oleh setiap siswa dalam mempersiapkan masa depannya agar dapat meraih cita-cita yang diinginkan sesuai dengan kemampuannya. Konselor sebagai pemberi layanan bimbingan dan konseling di sekolah perlu memberikan layanan terkait dengan karier siswa. Layanan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah permainan simulasi yang layak menjadi salah satu alternatif pilihan model pembelajaran dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling khususnya bidang karier. Penelitian dilaksanakan untuk menghasilkan suatu produk yang berupa panduan perencanaan karier dengan permainan simulasi yang tepat, berguna, mudah dan menarik bagi konselor. Produk yang dihasilkan oleh penelitian ini berupa buku panduan dan beberan permainan simulasi sebagai metode pembelajaran dalam meningkatkan mutu layanan bimbingan dan konseling. Metode yang digunakan dalam penelitian diadaptasi dari sepuluh langkah Borg and Gall (1983). Ketujuh langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Information Collecting, Planning, Develop Preliminary of Product, Preliminary Field Testing, Main Product Revision, Main Field Test, Final Product Revision. Validasi dalam penelitian ini terdiri dari subjek Ahli pengembangan produk yaitu ahli bimbingan dan konseling dan ahli media pembelajaran, subjek uji coba calon pengguna produk yaitu konselor dan konseli sebagai sasaran layanan produk. Teknik dalam pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara, dan pedoman observasi. Data hasil pengembangan didapatkan dengan menggunakan rerata.Hasil penilaian ahli media pembelajaran dan ahli materi menunjukkan bahwa permainan simulasi sebagai metode pembelajaran merupakan produk yang layak digunakan untuk konselor dalam melaksanakan layanan bimbingan. Hasil penilaian calon pengguna produk menunjukkan bahwa produk ini merupakan produk yang layak digunakan sebagai alteratif pembelajaran. Hasil penilaian siswa menunjukkan bahwa produk merupakan layanan yang diberikan kepada siswa. Siswa menyatakan bahwa produk bermanfaat dalam memberikan informasi tentang karier. Beberapa saran bagi konselor, siswa dan peneliti selanjutnya berhubungan dengan panduan perencanaan karier dengan permainan simulasi bagi siswa SMA. pertama konselor dapat menggunakan produk ini sebagai model pembelajaran dalam pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling. Kedua perlunya keaktifan bagi siswa dalam mengikuti kegiatan permainan untuk menambah wawasan dan meningkatkan keterampilan dalam merencanakan karier dan dapat memutuskan karier yang sesuai dengan kemampuannya. Ketiga perlunya melakukan penelitian secara uji kelompok besar dalam rangka uji keefektifan produk, penelitian tindakan bimbingan, ataupun pengembangan produk untuk topik lain.
PENGEMBANGAN PAKET BIMBINGAN PERENCANAAN STUDI LANJUT DENGAN MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING BAGI SISWA SMA
ABSTRAK Nadiarenita, Agrery Ayu. 2016. Pengembangan Paket Bimbingan Perencanaan Studi Lanjut Dengan Model Creative Problem Solving Bagi Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Muslihati, S.Ag., M.Pd., (II) Yuliati Hotifah, S.Psi., M.Pd. Kata kunci: Perencanaan Studi Lanjut, Creative Problem Solving Perencanaan studi lanjut adalah suatu proses penerapan pengetahuan siswa dalam rangka menyusun rencana yang sistematik berkaitan dengan pendidikan lanjutan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Proses perencanaan ini meliputi tiga tahapan yaitu pemahaman kemampuan diri, pemahaman informasi studi lanjut dan diakhiri dengan pengambilan keputusan pilihan studi lanjut. Berdasarkan hasil need assessment di SMAN 9 Malang diketahui permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar siswa dalam mempersiapkan studi lanjut ini adalah siswa kurang memahami potensi yang dimiliki sehingga ragu dalam menentukan penjurusan, siswa kurang memahami informasi studi lanjut yang berkaitan dengan perguruan tinggi dan pada akhirnya berdampak pada pengambilan keputusan studi lanjut yang tidak menggunakan pertimbangan. Selain itu, ketidaksiapan siswa untuk menghadapi kegagalan pada saat seleksi masuk di perguruan tinggi juga menjadi masalah yang belum terselesaikan. Masalah individu yang kompleks ini membutuhkan penyelesaian masalah secara kreatif sehingga individu akan lebih mudah menemukan solusi atas masalahnya. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan paket bimbingan perencanaan studi lanjut dengan model creative problem solving untuk membantu siswa menemukan alternatif-alternatif pilihan studi lanjut dalam rangka pengambilan keputusan karier. Penelitian pengembangan ini mengadaptasi langkah Borg & Gall (1983). Prosedur yang dilaksanakan adalah (1) pengumpulan data, (2) penyusunan produk, (3) uji coba produk, (4) revisi produk, dan (5) penyajian produk penelitian. Produk diuji berdasarkan aspek keberterimaan yang dikembangkan menjadi instrumen skala penilaian oleh peneliti. Subjek uji coba dibagi menjadi dua yaitu uji coba produk awal dan uji lapangan terbatas. Uji coba produk awal telah dilakukan oleh ahli materi dan ahli media sedangkan uji lapangan terbatas dilakukan oleh calon pengguna yaitu konselor. Data kuantitatif dari hasil uji ahli materi, media dan calon pengguna dianalisis menggunakan inter-rater agreement model (Gregory, 2011), serta hasil berupa saran dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil uji ahli materi oleh Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling, ahli media oleh Dosen Jurusan Teknologi Pendidikan dan Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling diperoleh indeks dengan validitas sangat tinggi. Sedangkan data deskriptif pada lembar saran dijadikan sebagai pertimbangan dalam revisi produk. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah produk paket pengembangan perencanaan studi lanjut dengan model creative problem solving telah memenuhi aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan dan kemenarikan. Untuk mengetahui keefektifan paket bimbingan ini, konselor dan peneliti lain dapat melakukan uji eksperimen dengan kelompok terbatas