SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
1354 research outputs found
Sort by
Profil Keterampilan Interpersonal pada Peserta Didik Kelas X SMKN 2 Singosari
RINGKASANIshak, Mohamad. 2019. Profil Keterampilan Interpersonal pada Peserta Didik Kelas X SMKN 2 Singosari. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra Elia Flurentin M.Pd, (II)Irene Maya Simon, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Profil, keterampilan interpersonal, peserta didik SMK.Keterampilan interpersonal merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh semua manusia. Keterampilan interpersonal mencakup keterbukaan diri, percaya diri, keterampilan komunikasi, kemampuan verbal dan non verbal, mendengarkan permasalahan orang lain dan membantu menemukan jalan keluar, menghadapi dan menyelesaikan masalah secara konstruktif, menejemen emosi dan strees, menghargai perbedaan, dan memiliki etika dalam berkomunikasi. Keterampilan interpersonal yang tinggi berguna bagi peserta didik dalam berkomunikasi serta memahami inti dari komunikasi yang dibangun.Penelitian bertujuan untuk menemukan profil keterampilan interpersonal beserta profil setiap indikatornya. Keterampilan interpersonal memiliki sembilan indikator yang mencakup keterbukaan diri, percaya diri, keterampilan komunikasi, kemampuan verbal dan non verbal, mendengarkan permasalahan orang lain dan membantu menemukan jalan keluar, menghadapi dan menyelesaikan masalah secara konstruktif, menejemen emosi dan strees, menghargai perbedaan, dan memiliki etika dalam berkomunikasi. Hasil dari setiap indikator akan diubuh menuju gambaran umum dari keterampilan interpersonal.Penelitian dilakukan di SMKN 2 Singosari menggunakan metode penelitian kuantitatif survei. Jumlah populasi sebanyak 108 peserta didik yang diambil dari seluruh peserta didik kelas X jurusan Multi Media. Teknik sampel yang digunakan ialah total population sampling. Analisis dilakukan dengan skala Guttman.Profil keterampilan interpersonal memperoleh skor 65, 2%. Jumlah skor capaian ialah 2043 dengan jumlah skor ideal 3132. Hasil profil keterampilan interpersonal dengan skor 65,2% menunjukkan bahwa sampel memiliki keterampilan interpersonal yang baik.Skor terendah disetiap sampel kelas atau secara total sebaiknya digunakan sebagai fokus dalam menyusun program layananan Bimbingan dan Konseling. Hasil terendah ialah manajemen emosi dan stres. Manajemen emosi dan stress dapat ditingkatkan melalui ekspressive writing. SUMMARYIshak, Mohamad. 2019. The Profile of Interpersonal Skills of 〖10〗^th Graders of SMKN 2 Singosari Malang. Undergraduate Thesis, Department of Guidance and Counseling, Faculty of Education, Universitas Negeri Malang. Advisors: (I)Dra Elia Flurentin M.Pd, (II)Irene Maya Simon, S.Pd, M.Pd. Keywords : Profile, Interpersonal Skills, Student of Vocational High School.Interpersonal skills are skills that all humans must possess.Interpersonal skills including self-disclosure, confidence, communication skills, verbal and non-verbal abilities, listening to other people's problems and helping to find a solutions, deal with and resolve problems constructively, manage emotions and stress, respect differences, and have ethics in communication. High interpersonal skills are useful for students in communicating and understanding the essence of communication.The research goal to find a profile of interpersonal skills and profiles of each indicator. Interpersonal skills have nine indicators which include self-disclosure, confidence, communication skills, verbal and non-verbal abilities, listening to other people's problems and helping to find solutions, deal with and resolve problems constructively, manage emotions and stress, respect differences, and have ethics in communicating. The results of each indicator will be directed towards a general picture of interpersonal skills.The study was conducted at Singosari 2 Vocational High School using quantitative survey research methods. The total population of 108 students was taken from all students of class X majoring in Multi Media. The sample technique used is total population sampling. The analysis was carried out by the Guttman scale.The profile of interpersonal skills scores 65, 2%. The number of achievement scores is 2043 with an ideal number of scores is 3132. The profile results of interpersonal skills with a score of 65.2% indicate that the sample has good interpersonal skills. The lowest score in each class sample or in total should be used as a focus in developing a Guidance and Counseling service program. The lowest result is emotional management and stress. Emotional and stress management can be improved through expressive writing
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA SMA KATOLIK SANTO THOMAS AQUINO TULUNGAGUNG
Siswa SMA berada pada masa remaja dimana masa yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah hubungan dengan teman sebaya. Kebutuhan untuk menjalin hubungan merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Untuk mencapai tugas perkembangan itu maka remaja perlu keterampilan komunikasi interpersonal dan kepercayaan diri. Perbedaan karakteristik siswa dalam keterampilan komunikasi interpersonal dan kepercayaan diri yang menarik untuk dijadikan bahan penelitian. Selain itu hasil penelitian dapat digunakan sebagai sarana untuk membuat program layanan. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk dapat mendiskripsikan tingkat kepercayaan diri siswa dan juga tingkat keretampilan komunikasi interpersonal siswa serta dapat mengetahui ada tidaknya hubungan antara kepercayan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling yaitu kelas X, XI, dan XII dengan jumlah responden 168 siswa. Pengumpulan data menggunakan instrumen dengan menggunakan skala kepercayaan diri, Lauster dan skala keterampilan komunikasi interpersonal, Devito. Bentuk skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert dengan empat pilihan jawaban. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan program SPSS 20. Dalam menganalisis data digunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil analisis deskriptif penelitian keterampilan komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa 66% siswa pada kategori tinggi dan 34% siswa pada kategori sedang, sedangkan hasil analisis deskriptif penelitian kepercayaan diri menunjukkan bahwa 43% siswa pada kategori tinggi dan 57% pada kategori sedang. Variabel kepercayaan diri diperoleh nilai sig > 0,715 sedangkan variabel keterampilan komunikasi interpersonal diperoleh nilai sig > 0,587 yang keduanya memiliki nilai sig > 0,05, sehingga kedua variabel berdistribusi normal. Hasil analisis korelasional kedua variabel dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa diperoleh nilai koefisien korelasi 0,571 dengan probabilitas kesalahan 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Artinya terdapat hubungan antara kepercayaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal. Dengan dibuktikan nilai sig 0,000˂0,05. Keterampilan komunikasi interpersonal yang tinggi mengarah kepada kecendrungan siswa untuk dapat berkata jujur terhadap sesuatu yang disampaikan, mampu bertukar pikiran dengan orang lain, mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, menjadi pendengar yang baik, memahami orang lain secara emosional maupun intelektual, sedapat mungkin untuk menerima hasil karya orang lain, menghargai perbedaan pendapat, mau memuji orang lain, dan berpikir positif terhadap orang lain. Orang yang memiliki kepercayaan diri dapat dilihat ketika melakukan sesuatu dengan sungguh-sunguh, pantang menyerah, berpikir positif tentang keberhasilan, menyampaikan apa yang dipikirkan tanpa ragu-ragu, berani dalam mengambil keputusan dan menghargai perbedaan. Keterampilan komunikasi interpersonal dirasa sangat penting untuk membentuk kepribadian individu karena sifatnya yang interpersonal. Kepercayaan diri juga sangat dibutuhkan dalam berkomunikasi, karena rasa diakui dan diperhatikan dalam berkomunikasi akan dimiliki apabila ada rasa percaya diri. Individu yang percaya diri akan bersikap optimis dengan yang akan dilakukannya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keterampilan komunikasi interpersonal dapat berhubungan dengan kepercayaan diri dalam kehidupan sehari-hari. Saran bagi konselor berdasarkan hasil penelitian. Konselor hendaknya tetap memberikan pengarahan dan bimbingan, sehingga siswa yang memiliki keterampilan komunikasi interpersonal tinggi dan kepercayaan diri tinggi akan bisa menunjukkan perilaku yang positif. Selain itu layanan kolaborasi konselor dengan guru mata pelajaran dan juga wali kelas dimaksudkan untuk pemantauan sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa dan sekaligus membantu menyalurkan bakat dan minat siswa dalam bidangnya. Konselor diharapkan dapat mengembangkan program layanan bimbingan pribadi dan sosial yang mampu membantu meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal, sedangkan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian pengembangan dengan merancang panduan yang dapat digunakan siswa dan konselor dalam mengimplementasikan layanan pribadi dan sosial, selain itu menggunakan metode yang variatif. Peneliti selanjutnya juga dapat mengembangkan beragam strategi dalam mengimplementasikan panduan program layanan pribadi dan sosial. Diharapkan juga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan untuk peneliti selanjutnya yang menggunakan variabel serupa
Keefektifan Structured Learning Approach (SLA) sebagai Upaya Meningkatkan Keterampilan Menyelesaikan Konflik secara Konstruktif untuk Mencegah Bullying bagi Siswa SMP
RINGKASAN Prasetyani, Yohana. 2019. Keefektifan Structured Learning Approach (SLA) Sebagai Upaya Meningkatkan Keterampilan Menyelesaikan Konflik Secara Konstruktif untuk Mencegah Bullying Bagi Siswa SMP. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Budi Santoso, M.Pd., (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata Kunci : keterampilan menyelesaikan konflik secara konstruktif, Structured Learning Approach (SLA), bullying, siswa SMP. Keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk berkomunikasi efektif dengan orang lain baik secara verbal maupun nonverbal. Salah satu keterampilan sosial yaitu keterampilan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Keterampilan menyelesaikan konflik secara konstruktif adalah keterampilan yang dimiliki individu untuk menemukan cara penyelesaian konflik dimana kedua pihak yang mengalami konflik dapat membangun perasaan dan pikirannya dengan bijaksana sehingga tidak menimbulkan berbagai perilaku agresif. Banyak efek yang muncul apabila konflik tidak diselesaikan secara konstruktif, salah satunya bullying. Bullying merupakan perilaku antisosial yang sering terjadi di lingkungan pendidikan. Individu yang memiliki keterampilan menyelesaikan konflik yang rendah cenderung menerima perlakuan bullying. Salah satu cara untuk mencegah bullying dengan melatih keterampilan menyelesaikan konflik secara konstruktif. SLA (Structured Learning Approach) adalah pendekatan pembelajaran yang secara sistematis dan terstruktur mengajarkan keterampilan prososial pada individu. Terdapat lima langkah dalam pendekatan Structured Learning Approach, yaitu: (1) instruction, (2) modelling, (3) role playing, (4) feedback, dan (5) transfer of training. Penelitian bertujuan menguji keefektifan Structured Learning Approach (SLA) untuk meningkatkan keterampilan menyelesaikan konflik secara konstruktif sebagai upaya mencegah bullying bagi siswa SMP. Pendekatan yang digunakan kuantitatif menggunakan metode pre experimental design dengan rancangan one group pre-test post-test design. Subjek penelitian 11 siswa kelas VII salah satu SMP di kota Malang pada tahun ajaran 2018/2019 dengan kategori keterampilan menyelesaikan konflik secara konstruktif sedang dan rendah. Penarikan sampel menggunakan purposive sampling yang ditentukan melalui skala keterampilan penyelesaian konflik secara konstruktif. Treatment yang diberikan berupa pelatihan keterampilan penyelesaian konflik secara konstruktif menggunakan model Structured Learning Approach (SLA) yang telah dirangkum sebagai produk panduan dalam pemberian treatment kepada subjek penelitian. Hasil Uji Wilcoxon menunjukkan ada peningkatan keterampilan penyelesaian konflik secara konstruktif setelah mendapatkan treatment. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon, diketahui nilai beda (Z) -2,938 pada derajat signifikan 0,003. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai derajat signifikan 0,003 dan lebih kecil dari 0,05 maka H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Structured Learning Approach efektif untuk meningkatkan keterampilan menyelesaikan konflik secara konstruktif. SUMMARY Prasetyani, Yohana. 2019. The Effect of Structured Learning Approach (SLA) to Enhance Constructive Conflict Resolution Skills in Preventing Bullying for Junior High School Students. Essay. Department of Guidance Counseling, Faculty of Education, State University of Malang. Mentors: (I) Drs. Djoko Budi Santoso, M.Pd., (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A Keywords : constructive conflict resolution skills, Structured Learning Approach (SLA), bullying, junior high school students. Social skills are the ability of individuals to communicate effectively with others both verbally and nonverbally. One of the social skills is constructive conflict resolution skills. Constructive skills to resolve conflicts are skills possessed by individuals to find ways to resolve conflicts where both parties who experience conflict can develop their feelings and thoughts wisely so as not to cause a variety of aggressive behavior. Many effects arise when conflicts are not resolved constructively, one of which is bullying. Bullying is antisocial behavior that often occurs in the educational environment. Individuals who have low conflict resolution skills tend to accept bullying. One way to prevent bullying is to practice conflict resolution skills constructively. SLA (Structured Learning Approach) is a learning approach that systematically and structurally teaches prosocial skills to individuals. There are five steps in the Structured Learning Approach approach, namely: (1) instruction, (2) modeling, (3) role playing, (4) feedback, and (5) transfer of training. The research aims to test the effect of Structured Learning Approach (SLA) to enhance constructive conflict resolution skills in preventing bullying for junior high school students. The quantitative approach uses the pre-experimental design method with the design of one group pre-test post-test design. The research subjects were 11th grade VII students from one of the junior high schools in Malang in the 2018/2019 school year with moderate and low constructive conflict resolution skills categories. Sampling uses purposive sampling which is determined through a constructive scale of conflict resolution skills. Treatment provided in the form of constructive conflict resolution skills training using the Structured Learning Approach (SLA) model which has been summarized as a guide product in administering treatment to research subjects. The Wilcoxon Test results show there is an increase in conflict resolution skills constructively after getting treatment. Based on the Wilcoxon test results, it is known that the value of difference (Z) -2,938 at a significant degree of 0.003. Hypothesis test results show a significant degree of 0.003 and smaller than 0.05, H1 is accepted. So it can be concluded that the Structured Learning Approach technique is effective to enhance constructive conflict resolution skills
Kebermaknaan Hidup Transjender di Kabupaten Jombang
RINGKASANRachmawati, Rani, 2018. Kebermaknaan Hidup Transjender di Kabupaten Jombang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed., (2) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi. Kata kunci : kebermaknaan hidup, transjender, Kabupaten JombangMakna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Selain itu kebermaknaan hidup adalah sebuah motivasi yang kuat dan mendorong seseorang untuk melakukan suatu kegiatan yang berguna. Kebermaknaan hidup merupakan sesuatu yang bersifat personal dan unik. Untuk menemukan kebermaknaan hidup, individu bebas menggunakan cara sendiri namun faktor lingkungan juga dibutuhkan untuk membantu proses penemuan makna. Apabila makna hidup berhasil ditemukan, maka akan menimbulkan perasaan bahagia.Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kebermaknaan hidup transjender ditengah masyarakat yang menolak kehadiran mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan model penelitian fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, informan dan dokumen. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dan validasi hasil menggunakan triangulasi. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Jombang dengan jumlah 3 partisipan transjender. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa kebermaknaan hidup transjender di Kabupaten Jombang tergolong baik. Kebermaknaan hidup yang baik tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya tujuan hidup yang jelas, mampu bertanggung jawab dengan semua pilihan hidupnya, dan menikmati kehidupannya sebagai seorang transjender. Transjender di Kabupaten Jombang juga berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan selalu berbuat baik dengan masyarakat sekitar agar dapat diterima. Saat ini transjender di Kabupaten Jombang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya karena semua keinginannya telah terpenuhi. Orang tua, keluarga dan masyarakat juga sudah dapat menerima kehadirannya sebagai seorang transjender di tengah kehidupan mereka
PENGEMBANGAN PANDUAN PENYESUAIAN DIRI DENGAN MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING BAGI SISWA SMP
ABSTRAKMunawaroh, Wildah Al. 2019. Pengembangan Panduan Penyesuaian Diri dengan Model Creative Problem Solving bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.Pembimbingan:(I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd,(II) Djoko Budi Santoso, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: penyesuaian diri, creative problem solvingPenyesuaian diri remaja dimulai ketika remaja berada dijenjang sekolah menengah pertama. Hal ini karena pada jenjang SMP siswa berada pada usia masa remaja. Pada masa ini siswa mengalami berbagai perubahan yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai masalah, sehingga dengan adanya perubahan tersebut siswa dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan sekolah meliputi penyesuaian diri terhadap guru, siswa, kurikulum, dan lingkungan sekolah.Oleh karena itu, agar siswa dapat menyesuikan diri dengan lingkungan sekolah dengan maksimal maka perlu dilakukan layanan bimbingan yang bertujuan membantu penyesuaian diri siswa dalam kegiatan tersebut. Untuk itu dikembangkan media dan model bimbingan berupa panduan penyesuaian diri dengan model creative problem solving yang telah diujikan pada ahli materi, ahli media, dan calon pengguna panduan.Penelitian menghasilkan dua produk yakni buku panduan untuk konselor dan buku panduan untuk konseli. Buku panduan disusun dengan acuan hasil analisis kebutuhan siswa dan disesuaikan dengan karakteristik siswa SMP. Penelitian ini menggunakan model penelitian Borg and Gall menggunakan lima langkah pengembangan. Uji ahli terdiri dari uji ahli materi, uji ahli media, dan uji ahli calon pengguna (konselor). Analisis data penilaian dari uji ahli dianalisis dengan mencari rata-rata nilai. Saran, kritik, dan masukan uji ahli digunakan sebagai acuan revisi produk penelitian.Penelitian dan pengembangan dinilai untuk memenuhi kriteria keberterimaan dalam empat aspek yakni ketepatan, kegunaan, kemudahan, kemenarikan. Dari hasil penilaian diperoleh hasil bahwa panduan tersebut telah memenuhi kriteria keberterimaan dengan rata-rata uji ahli materi panduan konselor (3,61), rata-rata uji ahli materi panduan siswa (3,64), rata-rata uji ahli media panduan konselor (3,71), dan rata-rata uji ahli media panduan konselor (3,75) sehingga panduan tersebut dinilai layak utuk digunakan baik konselor maupun siswa. SUMMARYMunawaroh, Wildah Al. 2019. Pengembangan Panduan Penyesuaian Diri dengan Model Creative Problem Solving bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Thesis, Guidance and Counseling, the faculty of education, State University of Malang.Advisor:(I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd,(II) Djoko Budi Santoso, S.Pd, M.Pd. Key Word: self adjustment, the model creative problem solvingAdolescent self-adjustment occur when adolescents are in junior high school. This is because at the junior high school level students are in their teens. At this period students experience various changes, that can lead to various problems, so that with these changes students are required to be able to adjust to the school including adjusting to the teacher, students, curriculum, and school environment.Because of this, students can adapt themselves to the school environment to the fullest, it is necessary to do guidance services aimed at helping students adjust themselves to these activities. For this reason, the media was developed and the guidance model was in the form of a self-adjusting guide to the creative problem solving model that had been tested on material experts, media experts, and prospective user guides.This research produced two products, the first a guidebook for counselors, and the second a guidebooks for counselees. The guidebook is prepared by reference to the results of the analysis of student needs and adapted to the characteristics of junior high school students. This study apply the Borg and Gall research model which is up to five steps development. Expert test consists of material expert test, media expert test, and expert test of the prospective user (counselor). Analysis of assessment data from expert tests was analyzed by looking for average values. Suggestions, criticisms, and input of expert tests are used as references for revision of research products. This research and development is assessed to fulfill acceptability criteria in four aspects, namely accuracy, usability, easy, attractiveness. The results of the assessment show that the guidelines have met the acceptance criteria with an average test of the counselor guide material (3,61), the avarage test of the student guide material expert (3,64), the avarage test of the counselor guide media expert (3,71), and the avarage test of the student guide media expert (3,75), so that the guidelines are worthy of being used for both counselors and students
Fenomena Perilaku Bullying Di Kalangan Siswa SMP Negeri 15 Malang
RINGKASANUffie Dzikrina Utariningtyas. 2019. Fenomena Perilaku Bullying Di Kalangan Siswa SMP Negeri 15 Malang. Skripsi. Malang: Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, 2019. Pembimbing (I) Drs. Djoko Budi Santoso, M.Pd., (II) Dr. H. M. Ramli, M.A Kata Kunci : Perilaku Bullying, Bentuk-bentuk Bullying, Dampak Perilaku BullyingKasus kekerasan di lingkungan sekolah yang banyak disampaikan melalui media cetak ataupun sosial media. Kasus kekerasan tersebut tentunya melibatkan semua personal sekolah baik guru dengan siswa atupun siswa dengan siswa lainnya. Kasus yang sering terjadi ialah sikap agresivitas siswa di sekolah, tidak hanya tawuran antar pelajar akan tetapi bentuk kekerasan yang sudah lama terjadi di sekolah-sekolah dan perlu mendapat perhatian salah satunya ialah bentuk kekerasan intimidasi sesama siswa dalam bentuk fisik maupun verbal atau pengucilan dari temannya yang disebut bullying. Tujuan penelitian untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai perilaku bullying, bentuk-bentuk perilaku bullying yang terjadi di sekolah, dan dampak perilaku bullying terhadap korban di kalangan siswa SMP Negeri 15 Malang.Rancangan penelitian studi fenomenologi dengan menggunakan sumber data purposive sampling yaitu 5 (lima) orang siswa yang merupakan korban perilaku bullying. Prosedur pengumpulan data wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan ialah reduksi data, display data, dan verivikasi data. Keabsahan data yang diperoleh diuji melalui teknik ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecakupan bahan referensi. Penelitian yang dilakukan melalui 3 (tiga) tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan.Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk-bentuk perilaku bullying yang terjadi di SMP Negeri 15 Malang ialah berupa bullying fisik dan verbal. Kasus bullying verbal yang sering terjadi di sekolah ialah memberikan nama panggilan yang tidak menyenangkan atau julukan, memelesetkan nama, memanggil dengan nama orang tuanya, menghina, dan memaki. Bentuk perilaku bullying verbal kerap kali menjadi awal dari perilaku bullying yang lain karena mudah dilakukan. Bullying verbal dilakukan dengan tujuan menyudutkan seseorang dengan cara menyindir dan mengejek. dampak yang dialami korban perilaku bullying yaitu penyesuaian sosial yang buruk, kesulitan dalam menyesuaikan diri di lingkungan, dan timbulnya gangguan psikologis seperti stres, cemas hingga ingin mengakhiri hidupnya. Hal ini membuat siswa di sekolah merasa kurang aman berada di lingkungan sekolahnya sehingga beberapa siswa yang menjadi korban bullying cenderung untuk menarik diri dari lingkungannya. Dalam memberikan layanan mengenai perilaku bullying di sekolah, konselor menggunakan layanan klasikal dengan teknik ekspositori. Peran guru BK dalam mengatasi perilaku bullying di sekolah hanya sampai pada usaha preventif dan kuratif. Beberapa siswa di sekolah cenderung takut untuk melakukan konseling individu dengan guru BK dan lebih memilih untuk pasif ketika memiliki permasalahan di sekolah. Hal ini menyebabkan siswa yang menjadi korban bullying di sekolah merasa kurang diperhatikan. Menurut beberapa siswa yang menjadi subyek penelitian mengatakan bahwa ia tidak berani untuk melaporkan tindakan tersebut dan cenderung untuk memilih diam.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan bagi guru bimbingan dan konseling untuk dapat mengembangkan program layanan bimbingan dan konseling. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan teori-teori terkait perilaku bullying di sekolah secara lebih luas. Diharapkan juga untuk mempertimbangkan estimasi waktu, lokasi penelitian dan metode penelitian secara bijak. Mengingat segala hal yang dilakukan dalam penelitian ini hendaknya mempunyai manfaat untuk lingkungan sekitar. SUMMARYUffie Dzikrina Utariningtyas. 2019. Bullying In SMP Negeri 15 Malang: A Phenomenological Study. Essay. Malang: Guidance and Counseling, Faculty of Education, State University of Malang, 2019. Advisor (I) Drs. Djoko Budi Santoso, M.Pd., (II) Dr. H. M. Ramli, M. Keywords : Bullying Behavior, Forms Of Bullying, The Impact Of Bullying BehaviorMany cases of violence in the school environment are delivered through print media or social media. The case of violence certainly involves all personal schools both teachers and students or students with other students. The case that often occurs is the aggressiveness of students in schools, not only brawls between students but the forms of violence that have long occurred in schools and need attention One of them is the form of intimidation of fellow students in physical and verbal forms or exclusion from friends called bullying. The purpose of the study was to determine students' understanding of bullying behavior, forms of bullying behavior that occurred in schools, and the impact of bullying behavior on victims among students of Malang State Middle School 15.Phenomenology study design by using purposive sampling data source is 5 (five) students who are victims of bullying behavior. Procedure for collecting interview and observation data. Analysis of the data used is data reduction, data display, and data verification. The validity of the data obtained is tested through persistence observation, triangulation, and coverage of reference materials. Research conducted through 3 (three) stages, namely the stages of preparation, implementation, and reporting.The results showed that the forms of bullying behavior that occurred in SMP Negeri 15 Malang were physical and verbal bullying. The case of verbal bullying that often occurs in schools is giving an unpleasant or nickname nickname, slipping names, calling with their parents' names, insulting, and cursing. The form of verbal bullying is often the beginning of another bullying behavior because it is easy to do. Verbal bullying is done with the aim of cornering someone by insinuating and mocking. the impact experienced by victims of bullying behavior is poor social adjustment, difficulty in adjusting to the environment, and the emergence of psychological disorders such as stress, anxiety to want to end his life. This makes students in school feel less secure in their school environment so that some students who are victims of bullying tend to withdraw from their environment. In providing services regarding bullying behavior in schools, counselors use classical services with expository techniques. The role of counseling teachers in overcoming bullying behavior in schools only reaches preventive and curative efforts. Some students in schools tend to be afraid to counsel individuals with BK teachers and prefer to be passive when having problems at school. This causes students who are victims of bullying at school to feel less attention. According to some students who were the subjects of the study said that he did not dare to report these actions and tended to choose silence. This research is expected to provide information and knowledge for guidance and counseling teachers to be able to develop a guidance and counseling service program. Further researchers are expected to develop theories related to bullying behavior in schools more broadly. It is also expected to consider time estimation, research location and research methods wisely. Considering that everything done in this study should have benefits for the surrounding environment
Pengembangan Panduan Permainan Simulasi Ular Tangga untuk Meningkatkan Academic Hardiness Siswa SMP
RINGKASAN Nofianti, Anja. 2019. Pengembangan Panduan Permainan Simulasi Ular Tangga untuk Meningkatkan Academic Hardiness Siswa SMP. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Dra. Elia Flurentin, M. Pd. Kata Kunci : permainan simulasi, academic hardiness, siswa SMP Academic hardiness merupakan kemampuan bertahan dalam menghadapi tekanan akademik dan menganggapnya sebagai tantangan untuk mencapai kesuksesan. Kemampuan ini perlu dimiliki oleh siswa agar tidak menimbulkan stres akademik yang berakibat siswa membolos, terlambat datang ke sekolah, mudah menyerah ketika mendapatkan tugas yang sulit dan malas mengerjakan tugas. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan academic hardiness siswa adalah permainan simulasi. Permainan simulasi adalah metode pembelajaran yang digunakan sebagai salah satu teknik dalam Bimbingan dan Konseling dengan pesan-pesan pendidikan. Melalui permainan simulasi siswa dapat belajar secara langsung dari pesan-pesan yang terdapat pada kartu pesan. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan buku panduan yang dilengkapi dengan media permainan simulasi ular tangga. Hasil produk pengembangan ini dapat digunakan konselor dalam memberikan layanan untuk meningkatkan academic hardiness siswa SMP. Khususnya SMP yang memiliki kesamaan kebutuhan yaitu, topik academic hardiness. Namun, sejauh ini panduan tersebut belum ada di sekolah. Metode penelitian dan pengembangan ini menggunakan model Borg and Gall (1983) yang telah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan penelitian dan berikut langkah-langkahnya: penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan draf produk awal, uji coba ahli, revisi produk, uji coba lapangan dan revisi produk akhir. Pemilihan media permainan simulasi didasarkan pada hasil need assessment yang sebanyak 96% siswa memilih permainan simulasi. Selanjutnya pemilihan subjek uji kelompok kecil didasarkan pada hasil inventori academic hardiness yang rendah. Hasil rata-rata penilaian dari ahli materi bimbingan dan konseling, ahli media dan calon pengguna produk terhadap produk permainan simulasi ular tangga adalah 3,7 yang artinya sangat layak. Hasil ini diperkuat data kuantitatif dari uji kelompok kecil sebesar 3,6 yang berarti produk permainan simulasi ular tangga sangat layak digunakan. Data hasil uji kelompok kecil menunjukkan ketika proses pelaksanaan permainan simulasi ular tangga untuk meningkatkan academic hardiness ini memberikan efek yang menyenangkan bagi siswa. Hasil penilaian evaluasi hasil juga menunjukkan bahwa siswa sudah paham dan mengerti sikap apa yang harus ditunjukkan ketika mengalami kesulitan akademik. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran yang ditujukan kepada konselor, yaitu diharapkan konselor mempelajari dan memahami prosedur permainan ini agar proses pemberian layanan dapat berjalan dengan lancar. Bagi peneliti lain diharapkan dapat menguji keefektifan produk pengembangan ini dan mengembangkan produk dengan topik atau fokus penelitian yang berbeda
KONSTRUKSI SOSIAL PESERTA DIDIK TENTANG SENI BATIK MAJAPAHIT SEBAGAI EKSTRAKULIKULER SMA NEGERI 1 SOOKO
ABSTRAKSudarmanto,Karina2018. KonstruksiSosialPesertaDidikTentangseniBatik MajapahitSebagaiEkstrakurikulerdiSMAN1 Mojokerto.SkripsiProdiPendidikanIlmuPengetahuan SosialFakultasIlmuSosialUniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) I DewaPutuEskasasnanda, S. Ant, M.A. (II) Dr. I NyomanRuja, SUKata kunci: Konstruksi Sosial, Kesenian Batik Mojopahit, EkstrakulikulerKesenian yang dimiliki bangsa Indonesia sangat beraneka ragam, keaneka ragam ini menunjukan kekayaan budaya yang unik dan tidak ternilai harganya. Usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam dunia pendidikan untuk pelestarian salah satunya memasukan kesenian daerah tersebut ke dalam ekstrakulikuler.Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah: (1)Bagaimanakarakteristiksenibatik Majapahitsebagaiekstrakurikuler di SMA Negeri 1Sooko?; (2).Apaalasanyangmelatarbelakangisenibatik Majapahitdipilihmenjadiekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Sooko?;(3)Bagaimanamaknasenibatik MajapahitbagipesertadidiksebagaiekstrakurikulerdiSMANegeri1Sooko?; (4).BagaimanabentukkonstruksisosialpadapesertadidikmengenaiseniBatik Majapahitsebagaiekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Sooko?.Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatif dengan jenis penelitian kulitatif prefektif konstruksi sosial. Kehadiran peneliti yaitu sebagai instrumen kunci dalam penelitian. Lokasi penelitian berada di SMA Negeri 1 Sooko Mojokerto, sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Prosedur pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, redusi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Pengecekan keabsahan temuan dilakkan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan, keajegan pengamatan. Tahap penelitian yang dilakukan adalah tahap pra-lapangan, tahap lapangan, tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan.Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) batik yang diproduksi di SMAN 1 Sooko merupakan batik temporer yang dihasilkan melalui kreativitas para siswa dan peserta didik tidak diharuskan untuk mempunyai kemampuan dalam membatik; (2) momen eksternalisasi pada penelitian ini menjelaskan bahwa pengetahuan awal siswa berasal dari sekolah dan juga keluarga. Momen objektivikasi berupa interaksi dan sosialisasi peserta didik dalam ekstrakulikuler seni batik Majapahit di SMA Negeri 1 Sooko. Momen internalisasi berupa aktualisasi makna dalam batik Majapahit ke dalam kehidupan sehari-hari peserta didik; (3) Makna dari Batik Majapahit dapat dilihat secara keseluruhan dan berdasarkan dari motif batik dan komponen-komponen warna. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah dapat mengkaji kesenian batik Majapahit menggunakan sudut pandang yang berbeda, misalnya fenomenologi studi kasus, serta menguhubungkan dengan nilai-nilai karakter maupun nilai-nilai pendidikan
IdentifikasiProblematikaPengambilan Keputusan KarierSiswa Kelas XII di SMA Negeri 2 Ngawi
ABSTRAKPradana, Adi Rangga. 2019. IdentifikasiProblematikaPengambilan Keputusan KarierSiswa Kelas XII di SMA Negeri 2 Ngawi. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.Pembimbing(1) Dr.Hj. Muslihati, S. Ag, M. Pd,(2) YuliatiHotifah, S.Psi, M.Pd Kata Kunci: problematika, pengambilankeputusan, karierPengambilan keputusan karier adalah proses dimana individu mengambil langkah kejenjang selanjutnya setelah tamat dari sekolah. Pengambilan keputusan karier yang tidak tepat akan memberikan dampak kegagalan selanjutnya, seperti rasa tidak nyaman ketika menjalani pendidikan baru yang sedang ditempuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui problematika pengambilan keputusan karier siswa kelas XII di SMA Negeri 2 Ngawi. Dalam penelitian ini populasi penelitian adalah siswa kelas XII yang berjumlah 380 siswa. Dengan menggunakan teknik total sampling ditemukan sampel sebanyak populasi atau 380 siswa yang menjadi responden. Terdapat 4 problematika dalam pengambilan keputusan karier siswa menurut ahli yaitu ketidakpastian antara minat dan bakat, tidakadapilihan, ketidakpastianpilihankarier, dan pilihan karier tidak bijaksana. Dengan menggunakan skala problematika pengambilan keputusan karier peneliti dapat mengetahui seberapa besar problem siswa dalam pengambilan keputusan kariersiswa.Jenis rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey deskriptif. Pegambilansampelpenelitianmenggunakantekniktotal sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen skalaproblematikapengambilankeputusankariersiswa SMA yang diberikan pada saat melakukanpenelitian di sekolah. Instrumen penelitian yang digunakan berupa skalaproblematika pengambilan keputusan karieryang yang sudah melewati uji validitas sebanyak 31 butirdinyatakan valid dan 9 butirdinyatakantidak valid. Data yang terkumpul dianaliasis dengan menggunakan SPSS 21.00 melalui uji validitasinstrumen. Berdasarkan hasil analisis diperoleh koefisien reliabilitas instrumen problematika pengambilan keputusan karier sebesar 0,902, maka hasil perhitungan reliabilitas dari seluruh item pernyataan instrumen problematika pengambilan keputusan karier > dari 0,650 maka dapat diartikan bahwa instrumen problematika pengambilan keputusan karier 90% valid.Dari nilai hasil analisis ditemukan bahwa sumbangsih masing-masing aspek yang mendasari problematika pengambilan keputusan karier siswa kelas XII di SMA Negeri 2 Ngawi, rata-rata siswa masuk kedalam kategori sedang. Dikatakan sedang artinya siswa kelas XII di SMA Negeri 2 Ngawi masih mungkin memiliki masalah dalam pengambilan keputusan karier. Saran bagi konselor dapat mengembangkan layanan bimbingan karier untuk memberi wawasan yang lebih luas bagisiswa yang akan memasuki dunia karier. Saran bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan identifikasi problematika yang mempengaruhi pengambilan keputusan karier siswa SMA
Keefektifan Bibliokonseling Metaforik Fabel Terhadap Efikasi Diri Akademik Remaja SMP
Efikasi diri akademik merupakan penilaian akan keyakinan individu tentang kemampuannya sendiri dengan menjalankan perilaku tertentu dalam situasi belajar di sekolah. efikasi diri akademik ditandai dengan kemampuan dalam mengatasi masalah, keyakinan dalam mencapai target, serta keyakinan dan kemampuan dalam menumbuhkan motivasi. Rendahnya efikasi yang dimiliki siswa tentu perlu mendapat perhatian tersendiri karena tinggi rendahnya tingkat efikasi diri akademik yang dimiliki oleh siswa dapat mempengaruhi kinerja mereka untuk memperoleh prestasi. Maka dari itu Efikasi diri akademik yang dimiliki oleh individu dapat ditingkatkan dengan proses belajar dari pengalaman yang bisa didapatkan dengan mengamati model sehingga peneliti menggunakan solusi dengan teknik Bibliokonseling melalui metaforik fabel yang diharapkan dapat efektif dan mengubah tingkat efikasi diri akademik siswa khususnya tingkat SMP.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan tingkat efikasi diri akademik antara sebelum dan sesudah pemberian treatment bibliokonseling metaforik fabel. Penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperimental bentuk One-group pretest-postest design. Subjek penelitian ini terdiri dari 19 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Doko yang memiliki skor efikasi diri akademik rendah berdasarkan hasil pretest dengan menggunakan skala efikasi diri akademik. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis wilcoxon.Hasil penelitian dengan analisis wilcoxon diketahui bahwa nilai asymp sig (2 tailed) bernilai 0,000 karena 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yaitu teknik Bibliokonseling metaforik fabel dapat efektif dalam meningkatkan efikasi diri akademik remaja di SMP khususnya kelas 7. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terdapat beberapa saran yang perlu dipertimbangkan bagi konselor SMP Negeri 2 Doko dan bagi peneliti selanjutnya. Saran untuk konselor SMP Negeri 2 Doko adalah dapat menggunakan teknik bibliokonseling metaforik fabel dengan menggunakan setting konseling kelompok yang terbukti efektif dalam meningkatkan efikasi diri akademik. Pelaksanaan konseling kelompok dengan teknik bibliokonseling metaforik fabel dapat digunakan dengan merujuk pada panduan yang telah tersusun. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan kelompok kontrol, sehingga peneliti nantinya dapat menyimpulkan efek jangka panjang dari treatment yang telah diberikan