629 research outputs found

    Peran penyuluh terhadap pengembangan usaha peternakan babi di Kecamatan Langowan Barat Kabupaten Minahasa

    Get PDF
    Tujuan  penelitian ini  untuk menganalisis stuktur hubungan antara peran penyuluh dengan upaya meningkatakan usaha peternakan babi di Kecamatan Langowan Barat Kabupaten Minahasa. Penyuluh pertanian berperan dalam membimbing petani dalam mengelola usahataninya secara efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Desain penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 40 responden peternak babi. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan  metode pengumpulan data model skala likers. Sedangkan alat analisis yang digunakan adalah analisis korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh pertanian berperan   sebagai motivator, educator dan fasilitator, katalisator, komunikator, konsultan dan organisator dalam meningkatan populasi usaha peternakan babi  di kecamatan Langowan Barat Kabupaten Minahasa

    Kecernaan bahan kering, retensi nitrogen dan energi metabolis ransum ayam pedaging yang menggunakan tepung kulit nenas (Ananas comosus L. Merr) sebagai pengganti sebagian jagung

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan bahan kering, nilai retensi nitrogen dan energi metabolis (AMEn) ransum ayam pedaging yang menggunakan tepung kulit nenas (Ananas comosus L. Merr) sebagai pengganti sebagian jagung. Penelitian ini menggunakan 20 ekor broiler unsexed, strain Cobb berumur 5 minggu, dan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu: R0= 50% Jagung, dengan 0 % kulit nenas, R1=45% jagung dengan 5% tepung kulit nenas, R2 =40% jagung dengan 10% tepung kulit nenas dan R3=35% jagung dengan 15% tepung kulit nenas. Variabel yang diteliti adalah: Kecernaan bahan kering, nilai retensi nitrogen dan energi metabolis ransum. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh atau berbeda nyata (P<0,05) terhadap nilai kecernaan bahan kering, retensi nitrogen dan energi metabolis. Hasil uji BNJ untuk nilai kecernaan bahan kering menunjukkan bahwa perlakuan R0 (70,62%), R1 (69,04%), dan R2 (65,49%) berbeda tidak nyata, akan tetapi RO berbeda nyata dengan R3 (62,65%), sedangkan R1(69,04%), dan R2 (65,49%) berpengaruh tidak nyata dengan R3 (67,11%). Nilai retensi nitrogen pada perlakuan R0 (75,99%), R1 (73,28%), dan R2 (69,83%) berbeda tidak nyata, akan tetapi R0 berbeda nyata dengan R3 (67,11%), sedangkan R1 (73,28%), dan R2 (69,83%) berbeda tidak nyata dengan R3. Nilai AMEn pada perlakuan R0 (2854,34 Kcal/kg) berbeda tidak nyata dengan R1 (2825,69 Kcal/kg) dan R2 (2706,51 Kcal/kg) tetapi berbeda nyata dengan R3 (2634,73 Kcal/kg). Perlakuan R1 (2825,69 Kcal/kg) tidak berbeda nyata dengan R2 (2706,51 Kcal/kg) tetapi berbeda nyata dengan R3 (2634,73 Kcal/kg). Perlakuan R2 (2706,51 Kcal/kg) berbeda tidak nyata dengan R3 (2634,73 Kcal/kg). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tepung kulit nenas (Ananas Comosus L. Merr) dapat digunakan sebagai pengganti sebagian jagung dalam ransum ayam pedaging sampai 20% atau penggunaan 10 % dalam ransum dilihat dari nilai kecernaan bahan kering, retensi nitrogen dan energi metabolis

    Karakteristik peternak dan manajemen pemeliharaan ternak babi di Desa Mopolo Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan

    Get PDF
    Tujuan Penelitian ini yaitu untuk memperoleh informasi dan menganalisis bagaimana karakteristik peternak dan manajemen pemelihara babi pada peternakan rakyat di Desa Mopolo Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan. Peternak di desa ini telah memelihara ternak babi selama turun temurun. Variabel yang diamati yaitu, karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan, manajemen penyakit. Penelitian ini bersifat eksploratif dan menggunakan metode survey, dengan melakukan wawancara pada peternak (responden) dan pengamatan langsung pada kondisi peternakan babi di lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak babi di Desa Mopolo berumur 45-64 tahun (60%), pendidikan formal sebagian besar tamat SMA 46,6%. Pekerjaan utama petani/peternak 100%, pengalaman beternak diatas 10 tahun (50%) dan jumlah ternak babi 173 ekor. Manajemen pemeliharaan ternak babi yang dilakukan adalah pemeliharaan tradisional dan semi intensif. Jenis pakan yang diberikan adalah limbah pertanian, limbah dapur, komersil. Perkandangan di Desa Mopolo 90% peternak memiliki kandang, bahan kandang lantai beton (70,37%), dinding beton (50%), serta atap seng (62,96%). Jenis kandang adalah kandang individu (22,22%), kelompok (40,74%), kepadatan kandang 0,1 – 1,0m² (91,07%). Jarak kandang ke rumah 0-15 meter (36,66%), ketersediaan saluran pembuangan kotoran ternak (90%). Peternakan babi di Desa Mopolo sebagian besar ternak babi belum pernak sakit dengan persentase 63,33%. Kesimpulan penelitian ini yaitu manajemen pemeliharaan ternak babi di Desa Mopolo Kecamatan Ranoyapo menunjukkan pemeliharaan tradisional dan semi intensif. Pemberian pakan yang tidak teratur dan kandang yang digunakan adalah kandang individu, kelompok serta memiliki saluran pembuangan. Kata kunci: Karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan babi, peternakan rakya

    Sifat fungsional telur ayam ras yang diawetkan dengan ekstrak kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L) selama penyimpanan

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh ekstrak kulit pisang kepok terhadap sifat fungsional telur ayam ras selama penyimpanan. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu telur ayam ras umur satu hari sebanyak 180 butir dengan berat 55-60 gram, air dan 1000 gram kulit pisang kepok (masih hijau). Penelitian ini menggunakan Rancangan Split plot in time dengan petak utama (ekstrak pisang kepok) yang diatur P1 = Tanpa ekstrak, P2 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 10 %, P3 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 20 %, P4 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 30 %, P5 = Konsentrasi ekstrak kulit pisang 40% dan anak petak (lama penyimpanan) yang diatur H1. 7 hari, H2. 14 hari, H3. 21 hari, H4. 28 hari serta ulangan sebanyak 3 kali. Variabel penelitian adalah daya buih, stabilitas buih, kekuatan gel dan waktu koagulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawetan dengan ekstrak kulit pisang kepok tidak berpengaruh nyata (P>0.05) untuk daya buih, stabilitas buih dan waktu koagulasi telur ayam ras namun berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap kekuatan gel. Lama penyimpanan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,01) terhadap daya buih, stabilitas buih, waktu koagulasi dan kekuatan gel telur ayam ras. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengawetan telur ayam ras dengan 40% ekstrak kulit pisang kepok yang terbaik dan terjadi penurunan sifat fungsional telur dengan semakin lama penyimpanan. Kata Kunci: Ekstrak kulit pisang kepok, sifat fungsional, telur ayam ra

    Kombinasi feses ternak babi dan limbah sayuran untuk optimalisasi produksi biogas

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas biogas yang dihasilkan dari kombinasi feses babi dan limbah sayuran. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi feses babi (83 bagian), limbah sayuran (17 bagian) dan air (150 bagian) dengan perbandingan 1:1,5. Limbah sayuran diambil dari pasar. Penelitian ini telah dilakukan di Rumah Potong Hewan, Bailang, Kecamatan Bunaken, Sulawesi Utara. Pada bulan Maret sampai April 2022. Peralatan yang digunakan adalah digester tipe horisontal, meteran, thermometer, indikator pH, kompor biogas, selang, drum bekas dan ember. Model analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif. pengujian gas dilakukan sebanyak 2 kali, pengujian pertama dilakukan pada hari ke 10 dengan tujuan untuk membuang gas yang ada dalam tong. Pengujian kedua dilakukan pada hari ke 35. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah volume gas, temperature, pH dan aplikasi penggunaan biogas untuk memasak. Hasil penelitian menunjukan bahwa total volume biogas yang dicapai adalah 126.755 mL, dari data hasil penelitian dapat dilihat rata-rata temperature didalam digester yaitu 29ºC. nilai pH adalah 7. Total waktu yang digunakan untuk memasak adalah 23 menit 54 detik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kombinasi 83% feses ternak babi dan 17% limbah sayuran (sawi dan kubis) dengan air 150% pada kisaran temperatur 27-30°C, dan pH 7 dapat menghasilkan biogas sebanyak 126.755 mL, dengan total waktu memasak selama 23 menit 54 detik dan biogas yang digunakan sebanyak 113. 551 mL. Kata Kunci: Biogas, feses babi, limbah sayura

    Pemanfaatan kulit umbi ubi kayu terfermentasi dengan Rizhopus oligosporus dalam ransum terhadap efisiensi ransum broiler

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan kulit umbi ubi kayu terfermentasi dengan Rhizopus oligsporus terhadap konsumsi, pertambahan berat badan, efisiensi penggunaan ransum dan income over feed cost. Penelitian ini menggunakan 100 ekor boiler strain Arbor Acres. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, jika ada perbedaan perlakuan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Ransum yang digunakan yaitu kulit umbi ubi kayu terfermentasi dengan level R1=0%, R1=10%, R2=20%, R3 =30% dan R4=40% dalam ransum. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan berat badan, efisiensi ransum dan income over feed cost broiler.  Hasil uji BNJ menunjukkan bahwa konsumsi ransum R0 berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan R3 dan R4. Uji BNJ terhadap pertambahan bobot badan menunjukkan bahwa R0 berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan R3 dan R4. Uji BNJ  terhadap efisiensi ransum  menunjukkan bahwa R0 berbeda tidak nyata (P<0,05) dengan  R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0.05) dengan perlakuan R3 dan R4. Uji BNJ terhadap income over feed cost menunjukkan bahwa R0 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan R1 dan R2, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan R3, dan R4. Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah pemanfaatan kulit umbi ubi kayu terferntasi dengan Rhizopus oligsporus  dalam ransum broiler sampai 20% masih memberikan hasil yang baik terhadap efisiensi penggunaan ransum dan income over feed cost broiler. Kata kunci: kulit umbi ubi kayu fermentasi, komsumsi, pertambahan berat, efisiesi, IOF

    Studi pengetahuan masyarakat Desa Taratara dan Woloan mengenai tikus ekor putih Sulawesi Utara

    Get PDF
    Tikus ekor putih adalah salah satu kekayaan alam yang ada di Sulawesi Utara. Di desa Taratara dan Woloan tikus ekor putih dikenal dengan nama lokal kulo ipus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat pengetahuan masyarakat desa Taratara dan Woloan terhadap kelestarian tikus ekor putih Sulawesi Utara, untuk menggali informasi terhadap ketertarikan masyarakat desa Taratara dan Woloan dalam usaha penangkaran dan budidaya tikus ekor putih. Penelitian ini dilakukan di desa Taratara dan Woloan Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, pada tanggal 25 Maret - 15 Mei 2021. Menggunakan metode survey dengan menggunakan objek masyarakat sebanyak 1.329 responden di desa Taratara dan sebanyak 1.695 responden di desa Woloan. Teknik pengambilan data yaitu dengan cara mendatangi rumah-rumah masyarakat memberikan kuisioner kepada masyarakat yang menjadi responden yang berusia 17-60 tahun untuk di isi, selanjutnya melakukan wawancara secara langsung kepada responden. Variabel yang diamati yaitu pengetahuan mengenai tikus ekor putih sebagai satwa endemik, tingkat pemahaman masyarakat mengenai tikus ekor putih, pengetahuan masyarakat mengenai instansi badan konservasi alam dinas kehutanan. Hasil penelitian di kedua desa menunjukan bahwa pengetahuan tentang tikus ekor putih sebanyak (36,74%) dan (34,80%), tahu tentang jenis-jenis tikus ekor putih yang dimakan sebanyak (26,85%) dan (35,93%) tahu tentang bentuk dan warna dari jenis tikus ekor putih (39,35%) dan (40,57%). Mengetahui tentang konservasi (36,43%) dan (30,64%), tahu tikus ekor putih dilindungi UU konservasi No 5/1990  (25,64%) dan (29,02%). Mengetahui adanya instansi badan konservasi alam dinas kehutanan (36,31%) dan (33,72%). Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat dasa Taratara dan Woloan rata-rata sudah mengetahui tentang tikus ekor putih. Oleh karena itu perlu adanya penyuluhan tentang nilai ekonomis dan nilai gizi dari tikus ekor putih serta usaha untuk melestarikanya sehingga tikus ekor putih tidak punah, mengingat masyarakat minahasa sangat menyukai kuliner dari tikus ekor putih. Kata Kunci : Masyarakat, Taratara, Woloan, Tikus ekor puti

    Performa ayam dara ras petelur yang diberikan sumber kalsium fosfor berbeda dalam ransum

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan tepung tulang dari berbagai sumber terhadap performa ayam dara ras petelur. Penelitian telah dilaksanakan di Kelurahan Singkil I Lingkungan V Manado, selama 6 Minggu dari tanggal 19 Agustus sampai tanggal 2 Oktober tahun 2020 menggunakan 84 ekor ayam petelur strain NOVOgen umur 12 minggu dipelihara sampai umur 18 minggu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 3 perlakuan dan 7 ulangan. Perlakuan terdiri dari R1: dicalsium fosfat, R2: tepung tulang komersial, R3: tepung tulang limbah hasil perikanan. Variabel yang diukur yaitu, konsumsi pakan, pertambahan berat badan, konversi pakan. Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa performa ayam dara ras petelur yang diberikan sumber kalsium fosfor berbeda dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0.05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, konversi pakan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tepung tulang ikan limbah industri perikanan dapat digunakan sebagai sumber kalsium fosfor menggantikan dicalsium fosfat dan tepung tulang komersial menghasilkan performa yang sama terhadap ayam dara ras petelur

    Tingkat pemenuhan kebutuhan nutrien pada sapi peranakan ongole (PO) yang dipelihara secara tradisional berbasis rumput lapang di Kecamatan Tompaso Barat

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemenuhan hijauan segar, bahan kering dan bahan organik sapi Peranakan Ongole (PO) yang dipelihara secara tradisional berbasis rumput lapang di Kecamatan Tompaso Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan menggunakan 20 ekor sapi peranakan ongole (PO) berumur antara 2 – 4 tahun. Penelitian ini dilakukan 5 tempat pengambilan sampel dalam setiap areal satu lingkaran dimana ternak sapi Peranakan Ongole diikat, setiap tempat dilakukan pengambilan rumput lapang dengan ukuran satu meter bujur sangkar (m²) dengan mempertimbangkan kondisi lahan, pakan atau rumput yang dikonsumsi ternak sapi PO dan kemudahan untuk dijangkau yang menggunakan tali rafia yang membentuk lingkaran. Berdasarkan hasil penelitian rerata bobot hidup sapi PO   417,9 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi hijauan segar (HS) sebesar 37.3 kg ekor-1hari-1(8,92% dari berat badan), konsumsi bahan kering (BK) sebesar 9,66 kg ekor-1hari-1 (2,3% dari berat badan) dan konsumsi bahan organik (BO) sebesar 8.71 kg ekor-1hari-1. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan konsumsi hijauan segar sebesar 8,92% dan konsumsi bahan kering sebesar 2,3%  dari berat badan sapi PO yang dipelihara secara tradisional berbasis rumput lapang di Kecamatan Tompaso Barat belum memenuhi kebutuhan. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemenuhan hijauan segar, bahan kering dan bahan organik sapi Peranakan Ongole (PO) yang dipelihara secara tradisional berbasis rumput lapang di Kecamatan Tompaso Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan menggunakan 20 ekor sapi peranakan ongole (PO) berumur antara 2 – 4 tahun. Penelitian ini dilakukan 5 tempat pengambilan sampel dalam setiap areal satu lingkaran dimana ternak sapi Peranakan Ongole diikat, setiap tempat dilakukan pengambilan rumput lapang dengan ukuran satu meter bujur sangkar (m²) dengan mempertimbangkan kondisi lahan, pakan atau rumput yang dikonsumsi ternak sapi PO dan kemudahan untuk dijangkau yang menggunakan tali rafia yang membentuk lingkaran. Berdasarkan hasil penelitian rerata bobot hidup sapi PO   417.9 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi hijauan segar (HS) sebesar 37.3 kg ekor-1hari-1(8.92% dari berat badan), konsumsi bahan kering (BK) sebesar 9.66 kg ekor-1hari-1 (2.3% dari berat badan) dan konsumsi bahan organik (BO) sebesar 8.71 kg ekor-1hari-1. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan konsumsi hijauan segar sebesar 8,92%  dan konsumsi bahan kering sebesar 2,3%  dari berat badan sapi PO yang dipelihara secara tradisional berbasis rumput lapang di Kecamatan Tompaso Barat belum memenuhi kebutuhan.   Kata kunci: sapi Peranakan Ongole, rumput lapang, konsumsi hijauan segar, bahan kering, bahan organik ABSTRACT LEVEL OF NUTRIENT NEED FULFILLMENT IN TRADITIONALLY BRAINED ONGOLE  (PO) GRASS-BASED FIELD CATTLE IN TOMPASO BARAT DISTRICT. This study aims to determine the level of fulfillment of fresh forage, dry matter, and organic matter for Ongole Crossbreeds (PO) cattle that are kept traditionally based on field grass in the West Tompaso District. The research method used is comparative descriptive using 20 Ongole Crossbreeds (PO) aged between 2-4 years. This study was conducted at 5 sampling sites in each area of ​​a circle where Ongole Peranakan cattle were tied, each place took field grass with a size of one meter square (m²) taking into account the condition of the land, feed, or grass consumed by PO cattle and the ease of harvesting. reached using raffia rope that forms a circle. Based on the results of the study, the average live weight of PO cattle was 417.9 kg. The results showed that consumption of fresh forage (HS) was 37.3 kg head-1day-1 (8.92% of body weight), consumption of dry matter (BK) was 9.66 kg fish-1day-1 (2.3% of body weight), and consumption of dry matter organic matter (BO) of 8.71 kg fish-1day-1. Based on the results of the study, it can be concluded that the consumption of fresh forage is 8.92% and the consumption of dry matter is 2.3% of the bodyweight of PO cattle which are traditionally reared based on field grass in West Tompaso District. Keywords: Ongole Crossbreed cattle, field grass, fresh forage, dry matter, organic matter  

    Kecernaan bahan kering dan bahan organik ransum broiler yang ditambahkan mananoligosakarida (MOS) berasal dari ampas kelapa

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kecernaan bahan kering dan bahan organik ransum broiler yang ditambahkan manan oligosakarida (MOS) berasal dari ampas kelapa. Penelitian ini menggunakan 20 ekor ayam pedaging strain CP707 berumur 35 hari. Metode percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan 4 ulangan, Sebagai perlakuan adalah level ektraksi MOS (0, 1, 2, 3 dan 4%). Setiap perlakuan diulang 4 kali. Peubah yang di ukur yaitu konsumsi bahan kering ransum, kecernaan bahan kering, dan kecernaan bahan organik. Data analisis menggunakan Minitab versi 16. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbeda tidak nyata terhadap nilai konsumsi dan kecernaan bahan kering ransum, sedangkan untuk kecernaan bahan organik menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Uji Tukey menunjukan R0 berbeda nyata dengan R1, tapi berbeda tidak nyata dengan R2, R3, dan R4. R1 berbeda nyata dengan R2 dan R4, tapi berbeda tidak nyata dengan R3. R2 berbeda tidak nyata dengan R3 dan R4. Disimpulkan bahwa penambahan ampas kelapa sebagai sumber manan oligosakarida (MOS) sebanyak 1% dalam ransum broiler tidak mengubah konsumsi dan kecernaan bahan kering namun memberikan nilai kecernaan bahan organik terbaik. Kata kunci: kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, ampas kelapa, manan oligosakarida.                                                     ABSTRACT Digestibility of Dry Matter and Organic Matter of Broiler Feed Added Coconut Pulp as a Source of Mannan Oligosaccharides (MOS). This study was conducted with the aim of determining the digestibility of dry matter and organic matter in broiler feeds added coconut pulp as a source of mannan oligosaccharides (MOS). This study used 20 broiler chickens CP707 strain aged 35 days. The experimental method used a completely randomized design (CRD), with 5 treatments and 4 replications. The treatments were level of MOS extracted (0, 1, 2, 3, and 4%). Each treatment was repeated 4 times. The variables measured included dry matter consumption of the ration, dry matter digestibility, and organic matter digestibility. Data ware analyzed using Minitab version 16. The results of the analysis of variance showed that the treatment was not significantly different on the consumption value of dry matter rations and digestibility of dry matter, but for digestibility of organic matter showed significantly different. Tukey’s test that R0 was significantly different from R1, but not significantly different from R2, R3, and R4. R1 is significantly different from R3. R2 is not significantly different from R3 and R4. It was concluded that the addition of coconut pulp as a source of 1% mannan oligosaccharide (MOS) in broiler rations did not change the consumption and digestibility of dry matter but gave the best organic matter digestibility values.   Keywords: dry matter digestibility, organic matter digestibility, coconut pulp, mannan oligosaccharides.                                                                                                                            

    610

    full texts

    629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ZOOTEC
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇