ZOOTEC
Not a member yet
629 research outputs found
Sort by
Identifikasi kelelawar di sekitar Gunung Lolombulan desa Pakuure Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan
Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kelelawar hasil tangkapan pemburu di Gunung Lolombulan Desa Pakuure Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan. Sampel yang digunakan sebanyak 100 ekor kelelawar pemakan buah. Metode yang digunakan yaitu deskriptif. Pengamatan dilakukan secara langsung pada kelelawar, untuk mengamati ciri-ciri morfologi kelelawar. Prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan mempersiapkan semua peralatan yang digunakan untuk melakukan identifikasi, menemui pemburu untuk mengambil sampel, setelah itu melakukan identifikasi. Data yang diperoleh ditabulasi kemudian dibahas secara deskriptif. Variabel morfologi yang diamati yaitu bobot badan, ciri-ciri tubuh, ukuran morfometri. Berdasarkan pada morfologi maka kelelawar yang ditemukan di sekitar Gunung Lolombulan yaitu lima spesies dari lima genus yang berbeda, yaitu Thoopterus nigrescens, Rousettus amplexicaudatus, Cynopterus minutus, Nyctimene cephalotes dan Dobsonia exoleta. Dari kelima spesies tersebut, terdapat dua spesies endemik sulawesi yaitu, T. nigrescens dan D. exoleta
Kata Kunci: Identifikasi, Gunung Lolombulan, Kelelawa
Pengaruh pemberian pakan probiotik terhadap kualitas fisik telur burung puyuh (coturnix-coturnix japonica L..)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan probiotik terhadap kualitas fisik telur burung puyuh. Materi yang digunakan 100 ekor burung puyuh betina dengan jumlah 64 butir telur burung puyuh. Perlakuan penelitian ini adalah pemberian penambahan probiotik kedalam pakan burung puyuh dengan level 0,5%, 1%, dan 1,5%. Variable yang diamati meliputi berat telur puyuh, berat kerabang, berat kuning telur, dan berat putih telur untuk mendapatkan hasil persentase. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan setiap ulang percobaan berisi 4 butir telur burung puyuh. Data yang diperoleh dianalisi menggunakan analisis ragam (ANOVA), apabila ada pengaruh perlakuan yang nyata dilanjutkan dengan uji BNT (beda nyata terkecil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik kedalam pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase kerabang telur burung puyuh, namun berpengaruh nyata terhadap berat telur, persentase kuning telur dan putih telur burung puyuh. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan probiotik pada pakan memberikan pengaruh yang baik karena menghasilkan berat telur, persentase kuning dan putih telur yang tinggi pada penambahan 1% probiotik pada penelitian ini sedangkan kerabang telur tidak memberikan perbedaan yang nyata.
Kata Kunci: Probiotik, kualitas fisik, telur puyu
Prevalensi telur cacing ascaris sp. dan trichuris sp. pada babi di Desa Tolok Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa: Indonesia
Infestasi cacing nematoda umum terjadi pada ternak babi, sehingga menyebabkan kesehatan ternak babi terganggu dan berdampak pada menurunnya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa tingkat serangan cacing Ascaris sp. dan Trichuris sp. dengan menghitung prevalensi. Penelitian ini diawali dengan pengambilan sampel feses secara purposive pada ternak babi yang berada di Desa Tolok, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa sebanyak 42 ekor ternak babi dari 5 Peternakan. Sampel feses yang diperoleh diuji apung di Balai Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kalasey. Dari penelitian yang sudah dilakukan terdapat 5 ekor ternak babi yang terinfestasi, 3 ekor diantaranya terdapat cacing Ascaris sp. dan 2 ekor lainnya terdapat cacing Ascaris sp. dan Trichuris sp. Prevalensi telur cacing Ascaris sp. dan Trichuris sp. pada ternak babi adalah 11,9% (5/42). Penelitian ini mendapatkan masing-masing nilai prevalensi Ascaris sp 11,9% (5/42), dan prevalensi Trichuris sp. 4,7% (2/42). Adapun hasil yang didapat berdasarkan jenis kelamin ternak babi, pada jantan memiliki nilai yang sama antara Ascaris sp. dan Trichuris sp. yaitu 6,6% (1/15), pada betina prevalensi Ascaris sp. yang diperoleh adalah14,8% (4/27), dan Trichuris sp. 3,7% (1/27). Jika dilihat berdasarkan umur ternak babi, prevalensi Ascaris sp. 40% (4/10) terjadi pada grower, dan 8,3% (1/12) terjadi pada indukan, sedangkan prevalensi Trichuris sp. hanya terjadi pada grower dengan nilai 20% (2/10). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan semua variabel maka dapat disimpulkan bahwa nilai prevalensi telur cacing Ascaris sp. dan Trichuris sp. pada babi di Desa Tolok Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa tergolong kategori rendah
Studi tingkat ketertarikan masyarakat terkait pengembangan ekowisata desa berbasis hewan endemik di Wilayah Sea Kecamatan Pineleng
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat ketertarikan dan pemahaman masyarakat terhadap perkembangan ekowisata berbasis hewan-hewan endemik Sulawesi Utara. Penelitian ini dilaksakana pada bulan Juli sampai September 2022. Teknik pengumpulan data dan informasi menggunakan metode survei dengan mengambil sampel 20% dari jumlah masyarakat yang berusia 20 tahun keatas. Hasil penelitian diperoleh dari sisi pemahaman masyarakat tentang ekowisata 17,30% sangat memahami dan 64,86% pada kategori paham serta kurang begitu paham 17,30% serta tidak paham sama sekali 0,5%, masyarakat yang mengetahui ekowisata 17,93% pada kategori sengatmengetahui 63,03% dan 16,25% kategori kurang begitu mengetahui serta 2,80% tidak mengetahui sama sekali. Sedangkan masyarakat yang sangat tertarik ada 20,67%, dan 70,54% pada kategori tertarik dan 7,75% kurang begitu tertarik serta 1,04% pada kategori tidak tertarik sama sekali dengan ekowisata. Dilihat dari pengertian masyarakat terhadap perlindungan satwa endemik Sulawesi Utara ada sekitar 23,86% pada ketegori sangat mengerti dan 51,14% kategori mengerti, 22,16% kategori kurang mengerti dan 2,84% pada kategori tidak mengerti. Namun 27,86% sangat mendukung ekowisata desa berbasis hewan endimik dan 66,42% kategori mendukung, 4,98% kurang begitu mendukung serta 0,75% tidak mendukung terhadap ekowisata desa berbasis hewan endemik. Disisi lain ada 32,77% aparat desa sangat mendukung, dan ada 64,34% pada kategori mendukung dan 2,41% kurang begitu mendukung serta 0,48% tidak mendukung. Dilihat dari sisi pengertian aparat desa dimana 18,78% berada pada kategori sangat mengetahui dan 60,50% mengetahu dan 19,34% kurang mengetahui serta 1,38% tidak mngetahui sama sekali, namun dilihat dari sisi pengertian aparat desa dimana ada 22,22% sangat mengerti dan 54,17% pada kategori kurang mengerti serta 1,39% dari aparat desa tidak mengerti sama sekali tentang ekowisata desa. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat di desa Sea Satu paham dan sangat mengetahui serta tertarik dengan pengembangan ekowisata berbasis hewan endemik SULUT dan aparat desa juga mengetahui serta mengerti tentang ekowisata sehingga mempermudah rencana pengembangannya ke depan sebagai daya dukungan ekonomi masyarakat dan daerah
Morfometrik burung hantu (Tyto rosenbergii) di Daerah Wisata Kabupaten Minahasa
Burung hantu merupakan burung pemangsa. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora atau pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Burung hantu ini juga banyak memiliki keunikan tersendiri seperti, kepalanya yang bisa berputar 180° dan bisa melihat dalam gelap. Burung hantu biasa disebut juga dengan serak, punggok dan celepuk sedangkan di Minahasa dikenal dengan nama manguni. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang morfometrik burung hantu (Tyto rosenbergii) di daerah wisata Kabupaten Minahasa. Penelitian ini dilaksanakan selama 14 hari pada tanggal 4 September sampai 17 September 2022 di dua tempat wisata Kabupaten Minahasa. Sampel penelitian yaitu menggunakan 10 ekor burung hantu yang diambil dari tempat wisata yang terdapat burung hantu yaitu di Monumen Benteng Moraya Tondano dan Bukit Kasih Kanonang. Menggunakan metode observasi terhadap burung hantu. Variabel yang diteliti yaitu berat badan, panjang ekor, panjang sayap, panjang paruh, lebar paruh, panjang shank dan panjang jari kaki tengah. Hasil penelitian menunjukan bahwa morfometrik burung hantu (Tyto rosenbergii) di daerah wisata Kabupaten Minahasa yaitu di Monumen Benteng Moraya Tondano dan Bukit Kasih Kanonang memiliki berat badan rata-rata 646,3 g, panjang bulu ekor 146,5 mm, panjang sayap 339,5 mm, panjang paruh 40,635 mm, lebar paruh 18,635 mm, panjang shank 70,4 mm dan panjang jari kaki tengah 65,8 mm. Burung hantu (Tyto rosenbergii) mempunyai berat badan yang berbeda-beda dikarenakan kondisi burung yang dipelihara buat dijadikan objek foto untuk wisatawan dengan ruang gerak yang terbatas serta pola hidup yang berubah dari nocturnal (hewan giat malam) menjadi dinurnal (hewan giat siang).
Kata Kunci : Burung hantu, morfometrik, Minahas
Pengaruh penggunaan jambu biji merah terhadap pH, Total bakteri Asam Laktat, kadar alkohol dan viskositas kefir
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan Jambu biji merah (Psidium guajava) sebagai minuman fungsional dengan melihat pengaruh perlakuan terhadap terhadap nilai pH, Total BAL, kadar alkohol dan viskositas kefir yang dihasilkan. Bahan utama pembuatan kefir adalah susu UHT, jambu biji dalam bentuk juice jambu biji merah serta grain kefir komersial sebagai starter. Bahan lain yang digunakan adalah media MRS broth, MRS Agar, Pepton water, bufer pH 4 dan pH 7 untuk analisa pH kefir, kertas aquadest dan bahan bahan untuk uji sensoris. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang di gunakan pada penelitian ini antara lain : P0 ; Susu UHT 100% + 0% juice jambu, P1 : Susu UHT 90% + 10 % Juice Jambu, P2; Susu UHT 80% + 20 % juice jambu P3; Susu UHT 70 %, + 30% juice jambu, P4; Susu UHT 60% + 40% Juice Jambu P5; Susu UHT 50% + 50% Juice Jambu. Grain kefir digunakan sebanyak 5%. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap Nilai pH, dan kadar alkohol, berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap Viskositas Kefir dan Tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap Total Bakteri Asam Laktat, kefir. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa penggunaan jambu biji merah dengan prosentase 40% menghasilkan nilai pH, kadar alkohol dan viskositas yang terbaik pada kefir.
Kata kunci : Kefir, juice jambu biji merah, grain kefir, susu UH
Pengaruh penambahan daun kemangi (Ocimum basilicum L.) terhadap penurunan berat telur dan sifat sensoris telur ayam ras asin
Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung minyak atsiri, flavonoid, tannin yang berfungsi sebagai antioksidan, antibakteri, serta sebagai pengawet alami dan memberikan cita rasa yang khas. Penambahan daun kemangi dalam pembuatan telur asin ayam ras diharapkan dapat memberikan inovasi pengolahan telur asin dan sebagai bahan informasi masyarakat dan industri pangan tentang pengaruh pemanfaatan daun kemangi dalam proses pengasinan telur serta menambah nilai ekonomis telur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 4 ulangan. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah berat telur, dan sifat sensoris (warna, aroma, rasa). Data dianalisis dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan daun kemangi (Ocimum basilicum L.) memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap warna dan cita rasa telur asin, berbeda nyata (P<0,05) dan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap berat telur. Berdasarkan hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa penambahan daun kemangi (Ocimum basillicum L.) sampai 40% memberikan hasil yang baik terhadap aroma, warna, rasa telur asin ayam ras dan penurunan berat telur sampai 80% dengan bertambahnya daun kemangi.
Kata Kunci: Daun kemangi, telur ayam asin, sensori
Kontribusi rumput lapang terhadap kebutuhan protein dan komponen karbohidrat pada sapi peranakan ongole (PO) yang dipelihara secara tradisional di Kecamatan Langowan Barat
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi rumput lapang terhadap pemenuhan kebutuhan protein dan komponen karbohidrat sapi PO yang dipelihara secara tradisional. Pola tradisional dimaksud, selanjutnya disebut “System Yantum”. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan secara kuantitatif, dimana perolehan informasi dan data dilakukan dengan metode survey. Penentuan lokasi dan ternak sebagai contoh (sampling) dilakukan dengan purposive sampling. Selanjutnya, data pengamatan dianalisis secara deskriptif statistik. 20 ekor sapi PO, berumur antara 2 – 4 tahun, digunakan dalam penelitian ini, dimana penentuan bobot badan sapi PO dihitung menggunakan rumus Schorll. Variabel yang diamati, meliputi: jumlah konsumsi protein kasar (Pr-K) dan kontribusi protein kasar rumput lapang, jumlah konsumsi serat deterjen netral (neutral detergent fibre=NDF), dan jumlah konsumsi karbohidrat bukan serat (non fiber carbohydrate=NFC). Hasil penelitian menunjukkan, rerata konsumsi Pr-K sebesar 0,92 kg, lebih rendah dari kebutuhan standar Pr-K, sebesar 1,11 kg. Nilai rerata konsumsi NDF yang diperoleh, sebesar 6,86 kg, melampaui kebutuhan standar NDF yang hanya sebesar 5,025 kg. Nilai rerata konsumsi NFC adalah sebesar 0,97 kg, yang perlu dikoreksi dengan penggunaan sumber-sumber karbohidrat tersedia. Disimpulkan, kebutuhan protein kasar sapi PO yang dipelihara secara tradisional masih belum terpenuhi, namun nilai rerata konsumsi NDF melampaui kebutuhan standar, sementara nilai rerata konsumsi karbohidrat bukan serat (NFC), masih perlu dikoreksi dengan penambahan sumber-sumber karbohidrat tersedia.
Kata kunci: Sapi PO, pemeliharaan tradisional, rumput lapang, protein kasar, NDF, NFC
Penggunaan bunga telang kering (Clitoria ternatea L.) terhadap nilai pH dan sensoris kefir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan bunga telang terhadap nilai pH dan sifat sensoris kefir. Bahan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah susu UHT, grain kefir dan serbu bunga telang kering. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 35 ulangan (panelis). Pengujian sensoris menggunakan skala hedonik. Perlakuan disusun sebagai berikut: P0=Tanpa penambahan larutan bunga telang dan grain kefir 25 mL, P1= Penambahan larutan bunga telang 2%, dan grain kefir 25 mL, P2= Penambahan larutan bunga telang 4%, dan grain kefir 25 mL, P3= Penambahan larutan bunga telang 6%, dan grain kefir 25 mL, P4= Penambahan larutan bunga telang 8%, dan grain kefir 25 mL, P5= Penambahan larutan bunga telang 10%, dan grain kefir 25 mL, P6= Penambahan larutan bunga telang 12% dan grain kefir 25 mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pada perlakuan penambahan larutan bunga telang pada P0, P1, P2, P3, P4, P5 dan P6 memberikan pengaruh sangat nyata ( P<0,01) terhadap pH dan rasa kefir dan berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap warna, Aroma dan tekstur. Berdasarkan hasil pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan penggunaan bunga telang kering dengan penambahan 12% menghasilkan kefir yang terbaik terhadap pH, aroma, tekstur dan rasa.
Kata kunci: Kefir, grain kefir, bunga telang, sensori
Analisis margin of safety usaha ayam petelur di Desa Tetey Kabupaten Minahasa Utara
Usaha peternakan ayam ras petelur “UD. Tetey Permai” di Desa Tetey Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara telah melakukan ekspansi 32.000 ekor pada tahun 2021 dari sebelumnya 10.000 ekor tahun 2019. Agar tidak mengalami kerugian, berapakah jumlah penurunan penjualan telur yang dapat terjadi pada usaha peternakan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis break even point dan margin of safety (MOS) usaha peternakan ayam ras petelur “UD. Tetey Permai” Desa Tetey Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara. Tahun 2019 populasi sebanyak 10.000 ekor dan tahun 2021 melakukan ekspansi dengan jumlah 32.000 ekor. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa titik impas diperoleh nilai sebesar Rp561.049.580, sedangkan titik impas dalam satuan unit jumlah telur diperoleh 3.392.579 butir dengan tingkat keuntungan yang diperoleh sebesar Rp10.493.942.846 per periode produksi. Hasil analisis MOS sebesar 41,57%, artinya penurun jumlah penjualan telur yang dapat ditolerir agar peternak tidak mengalami kerugian yaitu 41,57% dari total penjualan, apabila penurunan terhadap penjualan lebih dari 41,57%, maka perusahaan akan mengalami kerugian