629 research outputs found

    Model pengembangan usaha ternak sapi berdasarkan faktor aksesibilitas sumber daya di kabupaten Minahasa

    No full text
    ABSTRAK  Keberlanjutan pengembangan usaha peternakan sapi potong di kabupaten Minahasa  tidak terlepas atas factor aksesibilitas peternak terhadap berbagai sumber daya. Penelitian yang dilakukan,  bertujuan menemukan model strategi pengembangan usaha peternakan  sapi potong berdasar faktor aksesibilitas. Pengambilan data dilakukan dengan metode survei, dimana survei ini dilakukan  dengan cara wawancara,  pengisian angket  (kuisioner) dengan mengikuti model skala likert. Responden dipilih dengan sengaja (purposive sampling) sebanyak 60 peternak sapi potong di Kabupaten Minahasa. Pengolahan data memakai uji indikator, uji “multiple regression”. Berdasarkan uji indicator menunjukkan peternak sapi potong  di kabupaten Minahasa mempunyai akses terhadap aksesibilitas.  Uji regresi linier berganda model 1, variabel sumber daya ekonomi, sumber daya lingkungan, sumber daya sosial dan sumber daya peternak, secara simultan (bersamaan) berpengaruh pada variabel perkembangan  peternakan sapi potong sebesar 32,6 %. Uji regresi linier berganda model 2, variabel sistem pertanian terpadu, sumberdaya pasar, sumberdaya penyuluhan , regulasi pemerintah , sumberdaya generasi muda tani, peranan swasta, secara simultan (bersamaan) mempunyai pengaruh pada variabel pengembangan usaha ternak sapi potong sebesar 59,8 %, sedangkan lainnya dipengaruhi variabel diluar dari persamaan regresi ini, dalam hal ini variable yang  tidak diamati.

    Karakterisasi lalat pada kuda di Kecamatan Tompaso Barat Kabupaten Minahasa

    Get PDF
      Penelitian karakterisasi lalat pada kuda di kecamatan Tompaso Barat kabupaten Minahasa ini bertujuan untuk melihat karakterisasi lalat yang ada pada kuda berdasarkan cara pemeliharaan yang dikandangkan dan diumbaran, berdasarkan umur dan jenis kelamin. Penelitian ini dilakukan pada 20 ekor kuda.  Pengamatan langsung di lokasi yang ditentukan dengan menangkap lalat yang hinggap di tubuh dan di sekitar ternak kuda dengan menggunakan jarring penangkap (trap net) dan perangkap yang dilakukan pada pagi dan sore hari. Variabel yang diamati adalah lalat pada kuda yang dikandangkan dan yang tidak dikandangkan (diumbaran/Kebun), Lalat pada kuda berdasarkan jenis kelamin, lalat pada kuda berdasarkan umur kuda. Data yang diperoleh dianalisa dengan metode deskripsi kuantitatif. Berdasarkan hasil pengamatan morfologi lalat yang ada pada dua tempat yang berbeda tidak memiliki perbedaan yang mencolok karena jenis lalatnya sama, hanya pada jumlah populasi lalat yang berbeda pada dua tempat penelitian. Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan penelitian terhadap karakteristik lalat pada kuda dikecamatan Tompaso Barat. Jenis  lalat yang ditemukan pada kuda di lokasi penelitian adalah musca domestica, stomoxys calsitrans dan tabanus sp yang terdapat pada kuda  yang dikandangkan dan tidak dikandangkan (diumbar). Infestasi lalat tertinggi pada kuda yang tidak dikandangkan, pada umur 3-5 tahun dan jenis kelamin betina .Kelimpahan jenis lalat yang paling dominan pada dua lokasi ini lalat, musca domestika  64,97%, dibandingkan dengan Stomoxys calsitrans 27,88 % dan Tabanus sp 7,17%. Kata Kunci : Karakteristik, lalat, kuda, umur, jenis kelami

    Substitusi Konsentrat dengan Ampas Jagung dalam Pakan Ayam Broiler yang di Suplementasi Kunyit

    Get PDF
    Penyediaan pakan berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup merupakan salah satu komponen terpenting dalam bisnis peternakan karena pakan dapat menunjang pertumbuhan dan suplai energi sehingga proses pertumbuhan ternak dapat berjalan dengan baik. Penelitian sebelumnya menunjukkan ampas jagung maupun larutan kunyit dapat meningkatkan produksi dan bobot badan ayam broiler, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi penggunaan ampas jagung dan larutan kunyit terhadap pertumbuhan ayam broiler. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan enam ulangan. Sebanyak 72 ekor ayam broiler digunakan dalam penelitian ini yang terbagi dalam empat kelompok perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu P0 = Pakan komersil 100% + air 100% (kontrol), P1 = Pakan komersil 100% + air 98% dan larutan kunyit 2%, P2 = Pakan komersil 90% dan ampas jagung 10% + air 100%, P3 = Pakan komersil 90% dan ampas jagung 10% + air 98% dan larutan kunyit 2%. Semua kelompok perlakuan diberikan perlakuan selama 21 hari. Data yang diperoleh kemudian di uji dengan menggunakan uji One Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan P0 (kontrol) memiliki nilai tertinggi namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan P1, sedangkan bobot badan ayam broiler pada kelompok perlakuan P2 dan P3 mengalami penurunan dan berbeda nyata (P<0,05) dengan P0 (kontrol) dan P1. Nilai konsumsi pakan dan air minum pada semua kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0,05). Nilai konversi pakan menunjukkan bahwa P1 dan P2 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan P0 (kontrol) juga tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan P3, namun P0 (kontrol) dan P3 menunjukkan adanya nilai konversi pakan yang berbeda nyata (P<0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ampas jagung dan air kunyit (P3) tidak dapat mengoptimalkan pertambahan bobot badan dan konversi pakan pada ayam broiler. Meskipun demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan P1 memiliki hasil yang baik dengan nilai konversi pakan yang rendah

    Kinerja reproduksi sapi peranakan ongole di Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh data atau informasi mengenai kinerja reproduksi sapi PO betina di Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini menggunakan materi sapi PO betina yang sudah pernah beranak minimal dua kali milik petani peternak yang ada di masing-masing desa yang terpilih di wilayah Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara sebanyak 30 ekor sapi PO betina. Variabel penelitian yaitu umur pubertas, service per conception, calving interval, dan umur pertama kali beranak. Hasil penelitian untuk rata-rata umur pubertas sapi PO betina di desa Wori (19,40 bulan), Tiwoho (21,90 bulan) dan Talawaan Atas (19,00 bulan); Service per conception sapi PO betina di desa Wori (1,10 kali), Tiwoho (1,20 kali) dan Talawaan Atas (1,00 kali); Calving interval sebesar (386,10 hari) untuk sapi PO betina di desa Wori, Tiwoho sebesar (395,20 hari) dan Talawaan Atas (380,10 hari); Umur pertama kali beranak dari sapi PO betina di desa Wori, Tiwoho dan Talawaan Atas yaitu masing-masing 2,5 tahun, 2,5 tahun dan 2,4 tahun. Kesimpulan dari penelitian mengenai kinerja reproduksi sapi peranakan ongole di Kecamatan Wori sudah baik. Kata Kunci: Kinerja reproduksi, Sapi PO, Kecamatan Wori, Peterna

    Analisis produktiviras beberapa varietas sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) sebagai pakan

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas beberapa varietas sorgum sebagai pakan yang terukur melalui berat segar daun, berat bahan kering daun, berat segar batang, berat bahas kerin batang, berat segar malai, berat bahan kering malai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perbedaan varietas dan 5 ulangan. Varietas sorgum yang dianalisis yaitu Samurai 2, Suri 4, Super 1 dan Numbu. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan varietas sangat nyata (P<0,01) terhadap berat segar daun, berat bahan kering daun, berat segar batang, berat bahan kering batang, berat segar malai dan berat bahan kering malai. Varietas Numbu menghasilkan berat segar daun, berat segar batang dan berat segar malai tertinggi dibandingan varietas lainnya, namun memberikan hasil yang berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan varietas Suri 4 dan Super 1 terhadap berat segar daun tanaman. Varietas Numbu menghasilkan berat bahan kering batang dan malai yang sangat nyata lebih tinggi (P<0,01) dibandingkan dengan varietas lainnya. Varietas Suri 4 menghasilkan berat bahan kering daun yang sangat nyata lebih tinggi (P<0,01) dibandingkan dengan varietas Samurai 2 dan Super 1, namun berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan varietas Numbu. Disimpulkan bahwa perbedaan varietas tanaman sorgum yang dianalisis yaitu varietas Samurai 2, Suri 4, Super 1 dan Numbu memberikan perbedaan produktivitas yang beragam: dimana untuk berat segar batang, daun dan malai serta berat bahan kering batang dan malai yang tertinggi diperoleh dari varietas Numbu; Berat bahan kering daun tertinggi diperoleh dari varietas Suri 4. Kata kunci: sorgum, varietas Numbu, Varietas super 1, varietas Suri 4, varietas Samurai 2 ABSTRACT PRODUCTIVITY ANALYSIS OF SOME VARIETIES OF  SORGHUM (SORGHUM BICOLOR (L.) MOENCH) AS FEED.                            This study aims to analyze the productivity of several varieties of sorghum as feed as measured through leaf fresh weight, leaf dry matter weight, stem fresh weight, stem dry matter weight, panicle fresh weight, panicle dry matter weight. This study used a completely randomized design (CRD) with 4 different varieties and 5 replications. The sorghum varieties analyzed were Samurai 2, Suri 4, Super 1 and Numbu. The results of the analysis showed that the difference in varieties was very significant (P<0.01) on the fresh weight of leaves, dry matter weight of leaves, fresh weight of stems, dry matter weight of stems, fresh weight of panicles and dry matter weight of panicles. Numbu variety produced the highest leaf fresh weight, stem fresh weight and panicle fresh weight compared to other varieties, but gave results that were not significantly different (P>0.05) with Suri 4 and Super 1 varieties on leaf fresh weight. The Numbu variety produced very significantly higher dry matter weight of stems and panicles (P<0.01) compared to other varieties. Suri 4 variety produced very significantly higher leaf dry matter weight (P<0.01) compared to Samurai 2 and Super 1 varieties, but not significantly different (P>0.05) with Numbu variety. It was concluded that the different varieties of sorghum plants analyzed, namely the Samurai 2, Suri 4, Super 1 and Numbu varieties, gave diverse differences in productivity: where for the fresh weight of stems, leaves and panicles and the weight of dry matter of stems and panicles the highest was obtained from the Numbu variety; the highest weight of dry matter of leaves was obtained from the Suri 4 variety. Keywords : sorghum, Numbu variety, Super 1 variety, Suri 4 variety, Samurai 2 variet

    Kualitas internal telur itik ratu yang dipelihara secara intensif dan semi intensif

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas internal telur itik Ratu dengan sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif terhadap warna kuning telur, berat kuning telur, indeks kuning telur dan indeks putih telur itik ratu yang di laksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak (THT) Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi pada tanggal 27  sampai tanngal 29 maret 2023. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji perbandingan rata-rata, menggunakan Uji t Tidak Berpasangan. Rata-rata warna kuning telur dihasilkan dalam penelitian ini yaitu : 11,956±0,208 pada pemeliharaan intensif dan 15,000±0,000 pada pemeliharaan semi intensif. Hasil Uji t Tidak Berpasangan menunjukan berbeda sangat nyata (P<0,01), untuk rata-rata berat kuning telur itik ratu yang dipelihara secara intensif 29,866±2,089 dan semi intensif 27,990±2,764. Berat kuning telur hasil uji t tidak berpasangan menunjukan berbeda sangat nyata (P<0,01). Rata-rata indeks kuning telur itik pada pemeliharaan intensif 0,505±0,004 dan pemeliharaan semi intensif 0,464±0,046, indeks kuning telur pada pemeliharaan intensif dan semi intensif hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan berbeda  sangat nyata (P<0,01), dan pada indeks putih telur menunjukan bahwa rata-rata pada pemeliharaan intensif 0,299±0,084 dan pemeliharaan semi intensif 0,277±0,078. Hasil uji t  tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak berbeda nyata (P>0,05) pada indeks putih telur telur itik ratu yang dipelihara menggunakan sistem pemeliharaan intensif dan semi intensif. Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa itik yang dipelihara menggunakan sistem pemeliharaan Intensif lebih baik dalam hal berat kuning telur, dan indeks kuning telur. Untuk warna kuning telur menunjukkan bahwa pemeliharaan dengan sistim semi intensif memberikan warna kuning telur itik lebih cerah (lebih orange). Sedangkan dalam hal Indeks putih telur untuk pemeliharaan semi intensif dan Intensif memberikan hasil yang sama baik. Kata kunci : Telur itik ratu, intensif, semi intensi

    Analisis sektor basis usaha peternakan di kabupaten Minahasa Tenggara

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sektor basis bidang peternakan di Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian telah dilaksanakan di Kabupaten Minahasa Tenggara selama satu bulan pada bulan Februari sampai Maret tahun 2023 menggunakan data sekunder yang diperoleh dari hasil publikasi instansi-instansi (lembaga) pemerintah terkait antara lain Kantor Dinas Pertanian Bidang Peternakan dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa Tenggara dan Provinsi Sulawesi Utara. Data yang digunakan berupa data jumlah populasi ternak dan jumlah kepala Keluarga. Analisis yang digunakan  adalah analisis Location Quation (LQ). Potensi pengembangan usaha peternakan di Kabupaten Minahasa tenggara berdasarkan  hasil Analisis LQ diketahui bahwa potensi usaha yang dominan yaitu usaha ternak babi. Keadaan ini didukung dengan faktor sosial kemasyarakatan, ketersediaan sumber daya lahan, ketersediaan pakan ternak berupa dedak, serta pengembangan usaha ini sesuai dengan iklim setempa

    Preferensi pakan Pteropus griseus (Chiroptera:Pteropodidae) di dalam kandang

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari serta mengetahui preferensi pakan Pteropus griseus yang dipelihara dalam kandang budidaya. Pakan yang diberikan selama penelitian yaitu buah pepaya (Carica papaya ), pisang gapi (Musa paradisiaca), jambu kristal (Psidium guajava), semangka tanpa biji (Citrullus lanatus) dan melon (Cucumis melo). Materi penelitian yang digunakan yaitu lima ekor kelelawar P. griseus yang terdiri dari empat ekor jantan dan satu ekor betina. Metode yang digunakan yaitu observasi langsung. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: a. Total konsumsi pakan sebanyak 52186 g/hari, b. Konsumsi pepaya  24,14%, jambu kristal 21,38%, melon 19,98%, pisang gapi 18,40% dan semangka tanpa biji 16,10%, c. Nilai Neu’s index secara berturut-turut yaitu buah pepaya 0,36, jambu kristal 0,32, buah melon  0,29, pisang gapi 0,27 dan semangka tanpa biji 0,24, d. Buah yang pertama kali dipilih P. griseus untuk dikonsumsi yaitu buah pepaya. Prosentase bahan kering pisang gapi yaitu 43,97%, pepaya bangkok 19,33%, jambu kristal 17,15%, semangka tanpa biji 10,56%, melon cantaloupe 8,99%. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa preferensi pakan Pteropus griseus yang dipelihara dalam kandang yaitu pertama pepaya bangkok, diikuti jambu kristal, melon cantaloupe, pisang gapi dan semangka tanpa biji

    Produktivitas rumput gajah kerdil (Pennisetum purpureum cv. Mott) pada berbagai sistem penanaman

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi antara sistem pengolahan tanah dan jarak tanam terhadap produktivitas rumput Gajah kerdil (Pennisetum purpureum cv. Mott).  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap pola Faktorial 3 x 4  yang masing masing diulang sebanyak 3 kali.  Faktor I (pengolahan tanah) yang terdiri dari P0 : tanpa olah tanah; P1 : tanah diolah minimum (diolah 10-15 cm) dan P2 : tanah diolah intensif (diolah lebih dari 20 cm).  Faktor II (jarak tanam) terdiri dari  J1 : jarak tanam  50 cm x 50 cm; J2 : 50 cm x 60 cm;  J3 :  50 cm x 70 cm dan J4 : 50 cm x 80 cm. Jumlah petak percobaan sebanyak 36 petak dengan ukuran 2 m x 2 m. Peubah respon yang diukur meliputi tingi tanaman (cm), produksi segar (ton/ha) dan produksi bahan kering (ton/ha).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi sangat nyata (P<0,01) antara faktor sistem penanaman (pengolahan tanah dengan jarak tanam) terhadap produktivitas rumput Gajah kerdil. Sistem penanaman dengan kombinasi P2J1 (tanah diolah intensif dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm) mempunyai produktivitas rumput Gajah kerdil tertinggi dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya. Kata Kunci : Rumput gajah kerdil, sistem penanaman, pengolahan tanah, jarak tana

    Penampilan Reproduksi Sapi Betina Peranakan Ongole di Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara

    Get PDF
    ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh data informasi mengenai penampilan reproduksi sapi betina Peranakan Ongole (PO) betina di Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara. Populasi sapi di Kabupaten Minahasa Utara pada tahun 2019, 2020 dan 2021 adalah masing-masing 18.351 ekor, 18.627 ekor,dan 19.493 ekor. Dalam data tercantum bahwa Kecamatan Dimembe memiliki sebaran populasi sapi potong tertinggi ketiga (22489 ekor) diantara sepuluh kecamatan yang ada di Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian dilakukan melalui metode survey menggunakan materi sapi PO betina yang sudah pernah beranak minimal dua kali milik petani peternak yang ada di masing-masing desa yang terpilih di wilayah Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara sebanyak 33 ekor sapi PO betina. Variabel penelitian yaitu umur pubertas, umur pertama kawin, service per conception, umur pertama kali beranak dan calving interval. Hasil kajian menunjukkan rata-rata umur pubertas sapi betina PO di Kecamatan Dimembe adalah 22,84 bulan, umur pertama kawin sapi betina PO di Kecamatan Dimembe 22,84 bulan, Service per conception sapi Betina PO di Kecamatan Dimembe  sebesar 1,45, umur pertama kali beranak sapi betina PO di Kecamatan Dimembe mencapai 3,185 tahun, Calving interval sebesar 16,00 bulan untuk sapi betina PO di Kecamatan Dimembe. Kata Kunci: Penampilan reproduksi, Sapi PO, Kecamatan Dimembe Minahasa Utara.  ABSTRACT  REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF ONGOLE CROSS-BREED COWS IN DIMEMBE DISTRICT, NORTH MINAHASA REGENCY. This study aims to identify and obtain information about the reproductive performance of female Ongole Breed (PO) cows in Dimembe District, North Minahasa Regency. The cattle population in North Minahasa Regency in 2019, 2020 and 2021 were 18,351; 18,627 and 19,493 heads, respectively. The data showed that Dimembe District had the third highest population distribution of beef cattle (22,489 heads) among the ten sub-districts in North Minahasa Regency. The research was conducted through a survey method using female PO cattle that had given birth at least twice belonging to farmers in each selected village in the Dimembe District area of North Minahasa Regency as many as 33 female PO cattle. The research variables were puberty, age at first mating, service per conception, age at first giving birth and calving interval. The results of the study showed that the average age of puberty of PO female cattle in Dimembe District was 22.84 months, the first mating age of PO female cattle in Dimembe District was 22.84 months, Service per conception of PO female cattle in Dimembe District was 1.45, the first age of the calving time for PO cows in Dimembe District reached 3.185 years, and the calving interval was 16.00 months for PO cows in Dimembe District. Keywords: Reproductive performance, PO Cattle, Dimembe District, North Minahasa      

    610

    full texts

    629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ZOOTEC
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇