629 research outputs found

    Kelas mutu sapi betina Peranakan Ongole berdasarkan uji performa kuantitatif pada sistem pemeliharaan tradisional di Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa

    Get PDF
      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelas mutu sapi betina Peranakan Ongole (PO), yang dipelihara secara tradisional melalui uji performa kuantitatif. Pengamatan ini dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Kawangkoan, yaitu Desa Kanonang 3, Tondegesan Satu, dan Tondegesan Dua. Penelitian ini menggunakan metode survei, dimana terdapat 30 ekor sapi PO betina berumur 24-36 bulan yang dijadikan sebagai materi sampel. Penentuan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Data observasi dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif komparatif. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah penampilan kuantitatif lingkar dada (LD), panjang badan (PB), tinggi pundak (TP), dan berat badan (BB) sapi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja kuantitatif sapi PO yang terdiri dari LD, PB, dan TP secara berturut-turut adalah 162,8 cm, 145,4 cm, dan 137,5 cm. Sedangkan rata-rata berat badan adalah 344,9 kg. Performa tersebut menunjukkan bahwa sapi betina PO dalam penelitian ini termasuk dalam kelas mutu I berdasarkan rekomendasi Standar Nasional Indonesia (SNI) 7651.5:2015. Disimpulkan bahwa performa kuantitatif sapi betina PO di Kecamatan Kawangkoan walaupun sistem pemeliharaan masih bersifat tradisional namun memenuhi kelas mutu I berdasarkan Standar Nasional Indonesia. Kata kunci: performa kuantitatif, sapi PO betina, sistem pemeliharaan tradisional

    Evaluasi mutu sensorik, berat jenis, lemak, dan protein susu kambing sapera di Peternakan Kambing Perah Alam Farm Manglayang Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung

    Get PDF
    Susu segar yang baik untuk dikonsumsi dalam hal kandungan gizi dan keamanan pangan harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku. Kualitas susu sangat ditentukan oleh komponen zat yang terdapat di dalam susu diantaranya dengan mengetahui mutu sensorik, fisik dan kimia pada susu tersebut. Penelitian mengenai evaluasi mutu sensorik, fisik dan kimia Susu Kambing Sapera di Peternakan Kambing Perah Alam Farm Manglayang Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung telah dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2022. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi mutu susu secara sensorik (warna, aroma, dan rasa), fisik (berat jenis) dan kimia (lemak dan protein) pada kambing Sapera laktasi dua. Penelitian ini menggunakan metode analisis data deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu sensorik susu Kambing Perah Sapera pada laktasi dua berwarna putih kekuningan, aroma khas susu, rasa manis khas susu, mutu fisik yaitu berat jenis (BJ) susu 1,027 g/mL, mutu kimia susu kambing perah Sapera pada laktasi dua yaitu kadar lemak 4,82% dan protein 2,86%. Kesimpulan adalah pengujian mutu sensorik, fisik, dan kimia pada susu Kambing Sapera laktasi-2 menghasilkan berwarna putih kekuningan, aroma khas susu, rasa manis khas susu, berat jenis susu (BJ) 1,027 g/mL, kadar lemak 4,82% dan protein 2,86% masih dalam kategori normal Kata Kunci: susu, sensorik, berat jenis, lemak, protei

    Penggunaan perasan jeruk nipis terhadap kualitas fisik dan organoleptik sosis daging babi

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menentukan level penggunaan perasaan jeruk nipis terhadap kualitas fisik dan organoleptik sosis daging babi. Materi yang digunakan daging babi, jeruk nipis, bumbu untuk pembuatan sosis. Penelitian ini menggunakan  rancangan acak  lengkap  (RAL)  dengan  perlakuan  penambahan  konsentrasi perasan jeruk nipis yang terdiri dari P0: 500 g daging babi tanpa perasan jeruk nipis, P1: 500 g daging babi dengan 5% perasan jeruk nipis,  P2: 500 g daging babi dengan 10% perasan jeruk nipis, P3: 500 g daging babi dengan 15% perasan jeruk nipis, P4: 500 g daging babi dengan 20% perasan jeruk nipis. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati adalah pH, daya mengikat air, susut masak dan organoleptik (warna, aroma, tekstur, cita rasa). Hasil analisis ragam menunjukan bahwa sosis daging babi dengan menggunakan perasan jeruk nipis memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata (P>0,01) terhadap nilai susut masak, warna, dan tekstur. Sedangkan untuk pH, daya mengikat air, aroma dan cita rasa menunjukkan pengaruh yang nyata. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan untuk semua variabel maka disimpulkan bahwa menggunakan jeruk nipis pada sosis daging babi sampai dengan 20% menghasilkan sifat fisik yang baik dan disukai panelis. Kata kunci : sosis, jeruk nipis, daging babi        

    Kualitas wafer complete berbasis hijauan sebagai pakan sapi lokal: Kualitas Wafer Complete berbasis hijauan Sebagai Pakan Sapi Lokal

    No full text
    Riset ini bertujuan untuk mengetahui kualitas nutrisi wafer complete sebagai pakan sapi lokal. Dari hasil ini, dapat diidentifikasi jenis-jenis hijauan pakan yang berkualitas dan mempengaruhi kerja mikroorganisme sehingga diharapkan produksi CH4 dan CO2 pun ikut berkurang. Tumbuhan leguminosa seperti Kaliandra (KL), Gamal (GL) dan Indigofera zollingeriana (IZ) memiliki kualitas hijauan pakan yang tinggi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), menggunakan tiga jenis legum KL, GL dan IZ dengan masing masing 7 ulangan. Peubah yang diamati meliputi data analisis proksimat. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) dan jika antar perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada level P<0,05 dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perbedaan bahan dasar penyusun WFC memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan PK, LK, dan SK. Uji BNJ, menunjukkan bahwa WFC dengan bahan dasar IZ menghasilkan kandungan PK yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari WFC berbahan dasar KL dan GK, selanjutnya WFC dengan bahan dasar KL menghasilkan kandungan LK yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari WFC berbahan dasar GL dan IZ, kemudian WFC dengan bahan dasar GL menghasilkan kandungan SK yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari WFC berbahan dasar KL dan IZ. Dari hasil riset ini dapat disimpulkan bahwa WFC terbaik adalah dari jenis WFC berbahan dasar hijauan IZ dengan kandungan nilai nutrien terbaik karena memiliki kandungan PK yang tertinggi dan memiliki kandungan SK yang terendah. Kata-kata kunci: wafer complete, leguminosa, sapi loka

    Strategi Pengembangan Pasar Sapi/Blante dalam Meningkatkan Kepuasan Pengunjung

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk strategi pengembangan pasar sapi/Blante Kawangkoan dalam meningkatkan kepuasan pengunjung. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai bulan November 2023. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Metode sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling, yaitu teknik pemilihan sampel dengan pertimbangan khusus. Responden dalam penelitian berjumlah 15 orang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis SWOT, didapatkan strategi pasar sapi/blante Kawangkoan berada pada kuadran I. Kuadran I merupakan situasi yang sangat menguntungkan, memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada, strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif. Maka strategi yang didapatkan adalah meningkatkan strategi serta mengeksplor keunikan dari pasar sapi/Blante sehingga membuat banyak pengunjung yang datang bukan hanya di daerah kabupaten Minahasa tapi ada di daerah Indonesia bagian timur, memaksimalkan dukungan dari pemerintah dalam pendistribusian hingga keluar daerah serta hubungan kemitraan dengan daerah sekitar.

    Evaluasi pakan lengkap menggunakan tebon jagung dan rumput raja (pennistum purpupoides) berdasarkan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada sapi Peranakan Ongole (PO)

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kecernaan bahan kering (KcBK) dan kecernaan bahan organik (KcBO) dari pakan lengkap yang menggunakan hijauan pakan dasar rumput tebon jagung dan campuran tebon jagung dan rumput raja, pada sapi PO. Percobaan ini terdiri dari 2 (dua) perlakuan, yaitu: (RA) = 50% konsentrat + 50% tebon jagung dan (RB) = 50% konsentrat + 25% rumput raja + 25% tebon jagung, dan setiap perlakuan diulang 7 (tujuh) kali. Analisis statistik data penelitian menggunakan (t-test two sample assuming unequal varience. Variable yang diamati, meliputi: konsumsi bahan kering (KBK), kecernaan bahan kering (KcBK) dan kecernaan bahan organik (KcBO). Rerata KBK sapi PO terhadan pakan RA dan RB, masing-masing sebesar 5,39 kg dan 5,52 kg per ekor per hari, dimana kedua perlakuan tidak berbeda nyata  (P>0,05). Rerata nilai KcBK yang diperoleh dari pakan RA dan RB, secara berurutan, yaitu 68,20% dan 73,91%. Uji t menunjukkan, KcBK pakan RB berbeda lebih tinggi (P<0,05) dari RA. Rerata nilai KcBO yang diperoleh dari pakan RA dan RB, secara berurutan adalah 72,46% dan 77,17%. Uji t menunjukkan, KcBO pakan RB ternyata lebih tinggi (P<0,05) dari RA. Disimpulkan, nilai KcBK dan KcBO sapi PO terhadap pakan lengkap RB, lebih baik dari pakan RA. Kata kunci : Kecernaan, bahan kering, bahan organik, sapi P

    Performans itik raja dan itik ratu fase starter yang dipelihara intensif di musim basah

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi ransum, pertambahan berat badan, konversi ransum, bobot badan awal dan bobot badan akhir itik jantan (Raja) dan itik betina (Ratu) fase starter yang dipelihara intensif di musim basah.  Untuk melihat performa / kinerja antara kelompok itik jantan (Raja) dan itik betina (Ratu), data penelitian terlebih dulu ditabulasi menggunakan Excell, kemudian dianalisis secara deskriptif dilanjutkan dengan pengujian T-student secara berpasangan menggunakan aplikasi SAS versi 10.  Hasil analisis memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata (P<0,01) pada rataan konsumsi ransum, pertambahan berat badan, konversi ransum dan bobot badan akhir antara itik jantan dan itik betina fase starter di musim basah, namun tidak pada bobot badan awal;  untuk itik Raja, rata-rata konsumsi ransum 572,59 (SE 9,56) g/ekor/minggu, pertambahan berat badan 179,75 (SE 0,19) g/ekor/minggu,  konversi ransum 3,186 (SE 0,05), berat badan awal 42,60 g/ekor (SE 0,16) dan bobot badan akhir 1.480,60  (SE 1,50) g/ekor, sedangkan itik Ratu, rata-rata konsumsi ransum510,33 (SE 1,98) g/ekor/minggu, pertambahan berat badan 149.98 (SE 0,24) g/ekor/minggu, konversi ransum 3,40 (SE 0,01), bobot badan awal 42,20 (SE 0,13) g/ekor dan bobot badan akhir 1.241,60 (SE 3,45) g/ekor.  Temperatur kandang di siang hari selama penelitian berkisar 26-34oC dengan rata-rata 30,93oC dan temperature kandang yang tinggi tidak membuat itik-itik penelitian panting. Disimpulkan bahwa, performans itik Raja lebih tinggi dari itik Ratu pada fase starter, namun keduanya menunjukan efisiensi penggunaan ransum yang cukup baik dan itik Raja umur 8 minggu sudah memungkinkan dijadikan itik pedaging karena berat badan rata-rata hampir 1,5 kg/ekor.  Kata kunci: performans, itik Raja, itik Ratu, Fase starter, musim basah

    Persentase karkas dan lemak abdomen ayam broiler fase akhir yang mengonsumsi air minum mengandung ekstrak rumput laut cokelat (Sargassum crassifolium)

    Get PDF
    Penelitan ini bertujuan untuk melihat pengaruh penggunaan ekstrak rumput laut cokelat (Sargassum crassifolium) dalam air minum terhadap persentase karkas dan lemak abdomen ayam broiler fase akhir. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan berupa tingkat pemberian ekstrak rumput laut cokelat, yaitu 0%, 5% (0,18 g dalam 3 L air), 10% (0,37 g dalam 3 L air), 15% (0,56 g dalam 3 L air). Variabel yang diukur yaitu konsumsi ransum, konsumsi air minum, bobot karkas, persentase karkas, dan persentase lemak abdomen. Hasil analisis keragaman menunjukan bahwa perlakuan pemberian ekstrak rumput laut cokelat dalam air minum memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap konsumsi ransum, bobot karkas dan persentas karkas ayam broiler, namun berpengaruh secara nyata terhadap konsumsi air minum dan persentase lemak abdomen. Hasil uji lanjut Tukey untuk konsumsi air minum menunjukkan bahwa P0 berbeda tidak nyata dengan P1 dan P2 (P>0,05), dan berbeda nyata lebih tinggi dengan P3 (P<0,05), P1 berbeda sangat nyata lebih tinggi terhadap P3 (P<0,01) tapi berbeda tidak nyata dengan P2 (P>0,05), sedangkan P2 berbeda nyata lebih tinggi dengan P3 (P<0,05). Uji lanjut Tukey terhadap persentase lemak abdomen menunjukan bahwa P0 berbeda nyata lebih tinggi dengan P1 (P<0,05), dan berbeda sangat nyata lebih tinggi dengan P2 dan P3 (P<0,01), P1 berbeda nyata lebih tinggi terhadap P3 (P<0,05) tapi tidak dengan P2 (P>0,05), dan P2 berbeda tidak nyata dengan P3 (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan ekstrak rumput laut cokelat dalam air minum ayam broiler fase akhir dapat diberikan sampai 10% karena menghasilkan lemak abdomen yang rendah dan bobot karkas serta persentase karkas yang baik. Kata kunci : Ayam broiler, Sargassum crassifolium, karkas, lemak abdome

    Inventarisasi satwa liar dan satwa endemik yang beredar di pasar tradisional di Wilayah Minahasa Utara

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui informasi jenis-jenis satwa liar dan endemik yang banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional beredar di Wilayah Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini telah dilaksanakan di beberapa pasar tradisional yang ada di Minahasa Utara. Objek penelitian adalah masyarakat pengguna pasar-pasar tradisional di Wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan ini merupakan data primer. Data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait dengan penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Data yang dikumpulkan dengan cara mendatangi langsung ke responden dan mewawancarai melalui quisioner yang berikan tanpa adanya intervensi dari peneliti. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara sederhana yaitu menghitung persentase dari tiap-tiap vartabel yang terkait dengan responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa, satwa liar yang diperjual belikan di pasar Minahasa Utara diambil atau didatangkan dari Gorontalo dan Palu  sebanyak 1 sampai 2 pedagang, akan tetapi ada 1 orang pedagang mendapatkannya dari Gunung Kelabat dan Likupang. Jenis satwa liar yang diperdagangkan diantaranya tikus, kelelawar, babirusa dan juga ular phyton. Jumlah pembeli daging satwa liar dipasar tradisional Minahasa Utara untuk daging babirusa yang dikonsumsi sendiri sebanyak 6 orang pembeli dan untuk dijual kembali ke rumah makan hanya 1 orang, sedangkan pembeli daging tikus 12 orang hanya untuk dikonsumsi sendiri dan dijual kembali hanya 1 orang. Untuk daging kelelawar pembelinya 7 orang dan dijual kembali hanya 1 orang, serta pembeli daging ular piton pembelinya 5 orang dan tidak menjual kembali daging yang mereka beli. Kesimpulan penelitian ini  bahwa, ada peredaran satwa liar  baik dalam bentuk hidup maupun mati yang ditemukan dipasar tradisional Minahasa Utara, dan ini sangat bervariasi sedangkan satwa endemik tidak diperjual belikan dipasar tersebut baik dalam bentuk hidup maupun mati. Kata Kunci: Pasar tradisional, satwa endemik, satwa liar

    Pengaruh penambahan angkak terhadap sifat fisik dan sensoris kornet ayam broiler

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh penambahan angkak terhadap sifat fisik dan sensoris kornet ayam broiler. Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 19 Juli sampai 20 Agustus Tahun 2022, bertempat di Manado. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ayam sebanyak 5 kg dan angkak sebanyak 50 gr. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) Yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Data analisis menggunakan ANOVA dan uji organoleptik menggunakan skala hedonic dengan 35 panelis. Apabila perlakuan berpengaruh nyata maka akan dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Adapun perlakuannya A0: Tanpa penambahan angkak; A1: Penambahan angkak 0,5%; A2: Penambahan angkak 1%; A3: Penambahan angkak 1,5%; dan A4: Penambahan angkak 2%. Variabel yang diukur adalah daya mengikat air, susut masak dan organoleptic (Warna, aroma, tekstur dan rasa). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan penambahan angkak A0, A1, A2, A3 dan A4 memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap Daya mengikat air, susut masak dan orgonoleptik. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penambahan angkak sampai konsentrasi 1.5% menghasilkan sifat fisik yang baik serta sifat sensoris yang disukai dan diterima oleh panelis. Kata kunci: angkak, kornet, ayam broile

    610

    full texts

    629

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ZOOTEC
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇