ZOOTEC
Not a member yet
629 research outputs found
Sort by
Profil serat silase sorgum varietas pahat sebagai pakan ruminansia dengan lama penyimpanan ensilase yang berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan ensilase yang berbeda terhadap kadar serat kasar, NDF, dan ADF silase sorgum varietas Pahat. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 7 ulangan.  Materi yang digunakan adalah hijauan sorgum yang dipanen pada umur 70 hari terdiri dari batang, daun, dan malai. Perlakuan pada penelitian ini adalah : (R1) lama penyimpanan 3 minggu, (R2) lama penyimpanan 5 minggu, (R3) lama penyimpanan 7 minggu. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan lama penyimpanan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar serat kasar, NDF dan ADF silase sorgum varietas Pahat. Hasil Uji beda nyata jujur (BNJ) menunjukkan bahwa R3 menghasilkan kadar serat kasar yang berbeda tidak nyata dengan R2, sedangkan R3 dan R2 nyata lebih rendah dari R1. Perlakuan R3 menghasilkan kadar NDF dan ADF yang nyata lebih rendah dari R2 dan R1 sedangkan R2 nyata lebih rendah dari R1.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar serat kasar, NDF, dan ADF silase sorgum varietas Pahat semakin menurun sejalan dengan makin lamanya waktu fermentasi. Lama penyimpanan ensilase 7 mingu menghasilkan kadar serat kasar, NDF, dan ADF terendah.Kata Kunci : sorgum, silase, lama penyimpanan, NDF, ADFÂ
Domestication and genetic characteristics of pig – a review
Pigs are one of the main types of livestock kept by humans because of their high reproductive system and the ability to survive in all kinds of conditions. Modern pigs have gone through a long history of domestication processes, ranging from migration, selection, adaptation, and other natural events. Important records of pig origins have divided the domestic pig population into two main groups namely Asian and European breeds. These two groups clearly separated about 58,000 years ago. In particular it is recorded that the European wild boar was domesticated around the 4th century BC. European pigs then got new genes since the introduction of the Asian pig which is thought to have occurred at the end of the 18th century. Domestication of pigs affects the genetic diversity of these animals which in turn will disrupt the availability of pig germplasm. However, the need for superior breeds with high productivity values will be indispensable given the increasing food supply for the community both in terms of food quality and quantity. This fulfilment is actually not just for a moment but in a very long and sustainable period, and the latter can only be fulfilled if the genetic resources of pigs are maintained through good gene conservation programs.Keywords: Pig, genetic diversity, domestication, livestock genetic conservatio
Kualitas organoleptik naget ayam menggunakan tepung pisang kepok (Musa paradisicicial formatypica)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana sifat organoleptic naget ayam yang ditambahkan tepung pisang kepok (TPK) sebagai filler alternatif. Materi Penelitian terdiri dari daging ayam, tepung pisang kepok, tepung roti, telur, bumbu dan minyak goreng. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan pada penelitian ini dengan 5 perlakuan yaitu: A1= 5% TPK, A2= 10% TPK, A3= 15% TPK, A4= 20 % TPK dan A5= 25% TPK, dimana masing-masing perlakuan diulang sebanyak 35 kali. Uji hedonik dilakukan untuk mengetahui organoleptik karakteristik naget ayam yang di tambahkan TPK.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan tepung pisang kapok (TPK) memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap citarasa dan tekstur naget ayam, tetapi penggunaak TPK memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap warna dan aroma naget ayam. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa tepung pisang kepok 5% dapat digunakan sebagai filler alternative karena memberikan kualitas organoleptik naget ayam terbaik.Kata kunci: Nuget ayam, organoleptik, tepung pisang kepo
Analisis struktur biaya dan efisiensi usaha ternak Ayam ras petelur di Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara (Studi Kasus)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis stuktur biaya dan efisiensi usaha ternak ayam ras petelur di Desa Liwutung Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara. Menggunakan metode studi kasus, untuk mengetahui struktur biaya dan efisiensi usaha ternak ayam ras petelur menggunakan metode pengambilan data secara langsung, wawancara dengan menggunakan kuisoner pemilik perusahaan dan melihat pembukuan dari perusahaan. menggunakan analisis deskriptif yang dilengkapi dengan tabel dan model analisis biaya dengan rumus. Struktur biaya dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga yakni (a) biaya peralatan meliputi biaya pembuatan kandang, tempat pakan, minum, gudang, dan lain-lain (b) biaya sapronak meliputi biaya untuk bibit, pakan, vitamin, obat-obatan dan (c) biaya operasional meliputi biaya gas, listrik, sekam, dan tenaga kerja. hasil perhitungan diketahui bahwa jumlah pendapatan usaha peternakan ayam ras petelur sebesar Rp601.613.600/periode atau Rp25.067.233/bulan. Pendapatan tersebut diperoleh dengan memelihara 5.000 ekor ayam ras petelur. diketahui bahwa nilai efisiensi usaha peternakan ayam ras petelur sebesar 1,15 artinya usaha ternak ayam ras petelur di desa liwutung kecamatan pasan kabupaten minahasa tenggara sudah efisien
Hubungan kinerja penyuluh, kemampuan komunikasi, sikap peternak dengan proses adopsi inovasi teknologi pengembangan usaha ternak Babi di Kabupaten Minahasa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor adopsi inovasi yang berhubungan dengan pengetahuan peternak Babi di Kabupaten Minahasa dalam mengembangkan usaha menuju pada pada pengembangan system agribisnis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penentuan lokasi sampel di Kecamatan Tompaso, Kecamatan Tompaso Barat, Kecamatan Kawangkoan, Kecamatan Sonder, Kecamatan Tombariri Timur, Kecamatan Tombulu di Kabupaten Minahasa karena pertimbangan paling banyak peternak babi (purposive sampling dan  judgment sampling). Total responden 60 peternak yang telah mengikuti penyuluhan ternak babi. Variabel yang dikumpulkan adalah karakteristik peternak, kinerja penyuluh, kemampuan komunikasi, sikap peternak terhadap inovasi teknologi, dan adopsi peternak. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif dan analisis korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ternak babi di Kabupaten Minahasa berpeluang untuk pengembangan agribisnis. Pengetahuan teknologi peternakan babi yang diperoleh petani sebagian besar didapat dari mengikuti kegiatan penyuluhan, sehingga penyuluhan peternakan menjadi sangat penting bagi pengembangan usaha ternak babi. Selanjutnya terdapat hubungan antara kinerja penyuluh, kemampuan komunikasi, sikap peternak dengan proses adopsi inovasi teknologi pengembangan usaha ternak Babi di Kabupaten Minahasa. Dimana semakin tinggi kinerja penyuluh, kemampuan komunikasi dan sikap peternak, maka proses adopsi inovasi teknologi ditingkat peternak akan meningkat. Â
Gambaran pengetahuan masyarakat Desa Tambun terhadap ekowisata berbasis burung maleo (macrocephalon maleo)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons dan tingkat pengetahuan masyarakat dalam kaitan pengembangan ekowisata berbasis burung maleo (Macrocephalon maleo) di wilayah desa tambun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2021. Teknik pengumpulan data dan informasi menggunakan metode survey pada 20 % dari jumlah penduduk masing-masing desa. Hasil penelitian diperoleh profil responden di desa Tambun Atas dan desa Tambun Bawah pada umumnya laki-laki (53,2 %) dan (54,6 %), berusia 17-27 sebanyak (37,6 %) dan (34,2 %), tingkat pendidikan SMA (46,4 %) dan (45,1 %), tingkat pekerjaan bervariasi. Pengetahuan tentang burung maleo di desa Tambun Atas dan Tambun Bawah meliputi pernah melihat (100 %), mengerti burung maleo dilindungi (100 %) dan (99,8 %), mengerti sanksi jika menangkap burung maleo (100 %) dan (99,4 %). Mengerti tentang konservasi (52,4 %) dan (50,5 %), mengerti pentingnya konservasi (63,3 %) dan (63,2 %). Mengerti tentang ekowisata (50,8 %) dan (52,6 %), menyatakan setuju untuk dijadikan lokasi ekowisata (66,3 %) dan (72,5 %). Mengerti jika ekowisata berjalan bisa mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat (52,7 %) dan (50,2 %). Tidak pernah melakukan kegiatan di sanctuary maleo tambun (86,6 %) dan (100 %), tidak pernah melihat masyarakat menangkap burung maleo (100 %) dan (100 %), mengetahui adanya petugas konservasi (100 %) dan (100 %), tidak pernah melakukan penyuluhan (100 %) dan (100 %), dalam setahun tidak pernah melakukan penyuluhan (100 %) dan (100 %). Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa pengetahuan masyarakat desa Tambun Atas dan desa Tambun Bawah terhadap burung maleo (Macrocephalon maleo) sudah sangat tinggi serta masyarakat sangat mendukung kawasan pelestarian burung maleo dijadikan lokasi ekowisata
Keragaan agronomi sorgum varietas pahat fase soft dough dengan kepadatan tanam benih dalam lubang berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan agronomi sorgum varietas Pahat fase soft dough yang ditanam dengan kepadatan tanam benih dalam lubang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan sehingga diperoleh 20 satuan percobaan. Perlakuan yang diberikan yaitu tingkat kepadatan tanam yang terdiri dari KT1 = 1 benih/lubang, KT2 = 2 benih/lubang, KT3 = 3 benih/lubang, dan KT4 = 4 benih/lubang. Variabel yang diukur terdiri dari tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun. Uji lanjut BNJ menunjukkan bahwa tingkat kerapatan tanam KT2 memiliki tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari tingkat kerapatan tanam KT1 dan KT4. Sedangkan KT2 memiliki tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun yang berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan KT3. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa tingkat kerapatan tanam KT2 (2 benih/lubang) memberikan hasil terbaik pada karakter agronomi sorgum varietas Pahat fase soft dough.Kata Kunci : karakter agronomi, sorgum Pahat, Kerapatan tanam,Â
Sifat organoleptik burger campuran restrukturisasi daging babi ras dan babi hutan
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen pada burger campuran restrukturisasi daging babi ras dan babi hutan. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan formulasi perlakuan sebagai berikut : R0: 250 g daging babi ras, R1: 200 g daging babi ras dan 50 g daging babi hutan, R2: 150 g daging babi ras dan 100 g daging babi hutan, R3 : 100 g daging babi ras dan 150 daging babi hutan, R4: 50 g daging babi ras dan 200 g daging babi hutan, R5: 250 daging babi hutan dan dinilai oleh 35 panelis sebagai ulangan. Pengukuran data organoleptik menggunakan skala hedonik yang terdiri dari variabel warna, aroma, tekstur, citarasa. Hasil penelitian  menunjukan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap warna, aroma, tekstur, citarasa, burger daging babi ras dan babi hutan. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerimaan panelis secara organoleptik adalah sama terhadap burger campuran restrukturisasi daging babi ras dan babi hutan.Kata Kunci: Burger, daging babi, sifat organolepti
Evaluasi hasil penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) pada ternak sapi potong di Kecamatan Sangkub
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) pada ternak sapi potong yang berlokasi di Kecamatan Sangkub. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sapi potong milik petani peternak di beberapa desa yang memiliki jumlah ternak sapi terbanyak di Kecamatan Sangkub Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Pemilihan sampel desa ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan tertentu, dan desa yang memiliki populasi ternak sapi potong terbanyak yaitu desa Sidodadi, Desa Monompia, dan Desa Pangkusa. Pemilihan responden peternak sapi potong menggunakan metode Simple Random Sampling karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Analisis data mengenai variabel yang diteliti menggunakan analisis deskriptif dengan mengacu pada model pengukuran setiap variabel. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa evaluasi hasil penerapan teknologi inseminasi buatan pada ternak sapi potong di Kecamatan Sangkub, diperoleh service per conception (S/C) sebesar 1,41, conception rate (CR) 58,33%, dan calving interval (CI) yaitu 377,5 hari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hasil inseminasi buatan (IB) pada sapi potong di Kecamatan Sangkub menghasilkan conseption rate (CR) rendah, dan calving interval (CI) Panjang.Kata kunci :  Inseminasi buatan (IB), sapi potong, performans reproduks
Kecernaan bahan kering, bahan organik dan protein kasar ayam kampung yang diberi ransum menggunakan tepung daun pangi (Pangium edule reinw) melalui metode pengukusan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kecernaan bahan  kering, bahan organik dan protein kasar yang diberi ransum mengandung tepung daun pangi (Pangium Edule reinw) yang diolah dengan metode pengukusan. Penelitian ini menggunakan 20 ekor ternak ayam kampung yang berumur 14 minggu. Ayam dibagi dalam 20 unit kandang metabolisme berukuran 35 x 25 x 40 cm dengan masing-masing dilengkapi dengan tempat pakan, tempat air minum dan tempat penampungan feses. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Pelakuan yang diberikan sebagai berikut: R0 = Ransum basal, R1 = 98% ransum basal + 2% tepung daun pangi, R2 = Ransum basal 96% + tepung daun pangi 4%, R3 = Ransum Basal 94% + tepung daun pangi 6%. Peubah yang diamati terdiri dari kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organic dan kecernaan protein. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai kecernaan bahan kering, nilai kecernaan bahan organik dan nilai kecernaan protein kasar. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tepung daun pangi (Pangium edule reinw)  dapat digunakan sebagai salah satu pakan alternatif dalam ransum ayam kampung  sampai 6% dilihat dari kecernaan bahan kering, bahan organik dan kecernaan protein kasar.Kata Kunci:  Ayam kampung, kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan protein kasar, daun pang