ZOOTEC
Not a member yet
629 research outputs found
Sort by
Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan legum Indigofera zollingeriana dengan rumput Pennisetum purpureum cv Mott dalam sistem tumpangsari
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan legum Indigofera zollingeriana dan rumput Pennisetum purpureum cv Mott dalam sistem tumpangsari, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan kombinasi jarak tanam, yaitu, K1: Iz 1,00 m x 0,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, K2: Iz 1,00 m x 0,50 m dan Pp 1,00 m x 0,750 m, K3: Iz 1,00 m x 1,00 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, K4: Iz 1,00 m x 1,00 m dan Pp 1,00 m x 0,75 m, K5: Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, dan K6: Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,75 m. Variabel yang diukur yaitu tinggi, diameter dan jumlah cabang Indigofera zollingeriana dan tinggi, diameter dan jumlah anakan Pennisetum purpureum cv Mott. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi jarak tanam memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan hijauan Indigofera zollingeriana dan Pennisetum purpureum. Uji BNJ menunjukkan bahwa kombinasi K6 menghasilkan tinggi, diameter dan jumlah cabang Indigofera zollingeriana dan tinggi, diameter dan jumlah anakan pennisetum purpureum cv Mott yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari kombinasi K1, K2, K3, K4, namun berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan kombinasi K5. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi K5 yaitu jarak tanam Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m merupakan jarak tanam yang optimal untuk mendapatkan pertumbuhan tertinggi dari Indigofera zollingeriana dan Pennisetum purpureum cv Mott.Kata Kunci: Jarak tanam, pertumbuhan, Indigofera, Pennisetum, tumpangsar
Efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi di Kecamatan Kawangkoan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ada hubungan antara efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi dalam mendapatkan informasi di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan dan Kelurahan Sendangan Selatan Kecamatan Kawangkoan. Penelitian ini berbentuk survei dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden. Sampel lokasi penelitian diambil secara purposive sedangkan sampel jumlah responden diambil menggunakan quota sampling. Analisis data pada penelitian ini digunakan analisis rank spearman. Hasil penelitian yang dilakukan ini menunjukan bahwa efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi dalam menerima informasi di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan dan Kelurahan Sendangan Selatan Kecamatan Kawangkoan sudah baik. Berdasarkan hasil analisis rank spearman yaitu ada hubungan efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok dengan nilai 0,665 dan 0,539 sehingga hubungannya bersifat searah. Artinya bahwa semakin sering dilaksanakan penyuluhan kovensional terhadap kelompok peternak di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan Selatan, dan Kelurahan Sendangan Kecamatan Kawangkoan maka semakin efektif pemahaman peternak tentang indikator dinamika kelompok dalam kelompok tani. Jadi berdasarkan interpretasi dari signifikan, kekuatan/keeratan dan arah hubungan maka Hipotesis H0 ditolak dan Hipotesis H1 diterima. Dari hasil analisis dapat di simpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok dalam mendapat informasi yang mempengaruhi peternak dalam berdinamika kelompok di Kecamatan Kawangkoan.Â
Kajian keragaman genetik sapi lokal campuran untuk penguatan peternakan sapi potong di Sulawesi Utara
Faktor genetik pada pewarisan bobot hidup ternak adalah nilai pemuliaan,  deviasi dominansi dan heritabilitas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komponen genotipe nilai pemuliaan dan deviasi dominansi bobot hidup serta heritabilitasnya pada sapi Peranakan Ongole dan Lokal. Total 74 induk sapi generasi awal (G0), dan 104 induk generasi 1 (G1) dari pejantan sapi Ongole dianalisis kontribusi genetik. Lokus gen sapi Ongole (gen O) dan gen sapi Lokal (gen L) hasil pengukuran bobot hidup ternak genotipe OO, LL dan LO dianalisis melalui komponen nilai pemuliaan dan deviasi dominan gen. Program statistik Excel XP digunakan menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata populasi tetua (µ) bobot hidup ternak (G0) adalah 340,01 ± 6,12 kg. Sedangkan rara-rata populasi (µ1) bobot hidup ternak generasi keturunan (G1) adalah 359,60 ± 5,67 kg, dengan respon seleksi (∆µ) sebesar 19,59 kg. Komponen genotipe homozigot OO dan LL sangat didominasi oleh aksi gen aditif dengan nilai pemuliaan lebih tinggi untuk bobot hidup daripada aksi gen deviasi dominan. Genotipe heterozigot LO didominasi pula oleh aksi gen deviasi dominan yang lebih rendah daripada aksi gen aditif. Heritabilitas (h2) bobot hidup sapi sebagai aksi gen aditif adalah 0,66 dengan kategori tinggi, sedangkan aksi gen dominan () adalah sebesar 0,33 yang dikategorikan heritabilitas sedang.Kata Kunci: Nilai pemuliaan, aksi gen dominan, bobot hidup, sapi Campuran Lokal-Ongol
Evaluasi sistem pemeliharaan tradisional terhadap pemenuhan kebutuhan bahan kering dan bahan organik pada sapi peranakan ongole di Kecamatan Bolangitang Barat
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi sistem pemeliharaan tradisional terhadap pemenuhan kebutuhan pakan sapi potong peranakan ongole (PO) dalam menunjang produktivitasnya. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow utara pada bulan Juni 2021. Pada penelitian ini menggunakan sampel 20 ekor sapi PO berumur antara 2 – 4 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan secara kuantitatif, dimana data-data pengamatan yang diperoleh, dianalisis secara statistik deskriptif. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot badan ternak sapi PO, jumlah konsimsi bahan kering dan jumlah konsumsi bahan organik ternak sapi PO. Bobot badan ternak sapi peranakan ongole di Kecamatan Bolangitang Barat berkisar antara 219,04 – 408,04 kg dengan rerata 306,66 kg. Jumlah konsumsi rerata hijauan rumput segar sapi P0 adalah 31,63 kg/ekor/hari, sementara rerata konsumsi BK dan BO dari rumput lapang, yaitu secara berurutan 7,93 dan 6,92 kg/ekor/hari. Tingkat pemenuhan kebutuhan bahan kering sapi PO diperoleh 102,61% dari standar kebutuhan BK sebesar 7,72 kg/ekor/hari. Dapat disimpulkan, bahwa sistem pemeliharaan tradisional berbasis rumput lapang di Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, ternyata mampu mencukupi kebutuhan bahan kering ternak sapi PO.Kata Kunci: Sapi potong peranakan Ongole, bahan kering, bahan organi
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan pedagang pengecer daging babi di pasar tradisional kota Manado
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya modal (biaya operasional) dan keuntungan serta menganalisis pengaruh modal, jam kerja, jumlah daging babi, harga jual dan lama usaha terhadap keuntungan pedagang pengecer daging babi di pasar tradisional bersehati dan pinasungkulan Kota Manado. Penelitian telah dilaksanakan sejak tanggal 18 Juni 2021 sampai 20 Juli 2021. Penentuan sampel didasarkan pada metode purposive sampling dengan jumlah pedagang pengecer yang dijadikan sampel sebanyak 31 orang. Model analisis data`menggunakan 2 (dua) pendekatan yaitu analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian diperoleh bahawa, modal (biaya operasional) pedagang pengecer daging babi di pasar Pinasungkulan dan pasar Bersehati Kota Manado rata-rata Rp. 4.713.624 per hari per responden dengan rata-rata tingkat keuntungan Rp. 429.157 per hari per responden atau rata-rata keuntungan perbulan Rp.12.874.718 per responden dengan rata-rata berat dari keseluruhan bagian daging babi sebanyak 2.721 kilogram perbulan. Besarnya keuntungan pedagang pengecer daging babi di pasar tradisional bersehati dan pinasungkulan kota Manado sangat nyata dipengaruhi oleh besarnya modal (biaya operasional), curahan jumlah jam kerja dan jumlah daging babi yang di jual sedangkan harga jual dan lama berdagang nyata berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang diperoleh pedagang pengecer daging babi
Kajian pengembangan ekowisata berbasis hewan endemik Sulawesi Utara di Desa Budo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara
Tujuan penelitian adalah menggali tingkat ketertarikan dan pemahaman masyarakat Desa Budo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa  Utara terhadap pengembangan ekowisata desa berbasis hewan endemik Sulawesi Utara.  Variabel yang diukur yaitu tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan, pengetahuan, ketertarikan ekowisata hewan endemik, pengetahuan konservasi hewan endemik Desa Budo. Data  dianalisa dengan menghitung persentase, dan hasil-hasil pengamatan lainnya diuraikan secara deskriptif tentang apa  yang dilihat dan informasi kaitan objek penelitian. Hasil penelitian pengembangan ekowisata berbasis hewan endemik Sulawesi utara di desa Budo menunjukan sekitar 71,96% masyarakat sangat mengetahui Pariwisata Sulawesi utara. Informasi didapat dari Pemerintah Kabupaten Minahasa utara sebesar 55,55%. Mereka juga paham tentang hewan-hewan endemik 39,45% diikuti dengan tingkat pengetahuan tentang ekowisata desa sebesar 37,70%. Rata-rata mereka tertarik 43,73% bila ekowisata dikembangkan di desa mereka. Sekitar 45,97% mereka mengerti tentang konservasi hewan endemik dan mendukung 42,10% bila desa dijadikan desa ekowisata dan pusat konservasi satwa. Hal lain sekitar 51,27% dari mereka pernah melihat satwa liar endemik yang masih hidup di desa Budo. Sekitar 49,71% mereka mengetahui nilai manfaat  satwa liar endemik. Kesimpulan, masyarakat desa Budo sangat mengetahui pariwisata Sulawesi Utara. Informasi ini banyak diterima dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Rata-rata mereka sangat paham tentang hewan endemik, sangat mengetahui ekowisata serta tertarik dengan ekowisata hewan endemik bila dikembangkan. Aparatnya mendukung pengembangan ekowisata ini guna peningkatan ekonomi pedesaan.Kata Kunci: Ekowisata alam, hewan endemik, desa Budo, kecamatan Wori, Sulawesi Utara
Infestasi lalat pada ternak sapi di desa Tempok Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa
Peternakan tradisional yang ada di Desa Tempok Kabupaten Minahasa biasanya dikelola masyarakat perorangan dengan jumlah sapi yang berbeda-beda dimana pagi hari digembalakan diladang, kemudian pada sore hari dikembalikan ke rumah. Lalat merupakan vektor mekanis dari berbagai mikroorganisme patogen dan parasit. Populasi lalat yang tinggi dapat mengganggu kenyamanan ternak sapi, hampir semua bagian tubuh lalat dapat menularkan berbagai mikroorganisme patogen dan parasit seperti, bulu badan, bulu pada anggota gerak, muntahan serta fesesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infestasi lalat pada ternak sapi dengan melihat jenis dan populasi lalat pada ternak sapi, prevalensi infestasi lalat, dan menghitung jumlah defect pada ternak sapi yang dipelihara secara tradisional. Sebanyak 30 ekor sapi dijadikan sampel di Desa Tempok Kabupaten Minahasa. Koleksi lalat dilakukan dengan metode penyapuan dengan menggunakan jaring serangga. Semua koleksi lalat yang ditangkap selanjutnya diidentifikasi di laboratorium dan dihitung dengan mengacu pada kunci determinasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif menyangkut presentasi jenis lalat yang diperoleh, jumlah populasi dari setiap jenis lalat yang diperoleh, prevalensi infestasi lalat, rataan defect kulit. Hasil dari penelitian ini ditemukan 3 jenis lalat yaitu Haematobia sp, Stomoxys sp dan Musca domestica. Rata-rata jumlah populasi lalat yaitu 0.44, M.domestica 3.85, Stomoxys sp dan 44.6, Haematobia sp. Prevalensi infestasi lalat Haematobia sp 100%, Stomoxys sp 70%, M.domestica 30%. Dengan Jumah rata-rata defect sebesar 2,52 dan bagian tubuh yang paling dominan adalah bagian kepala, dan punggung ternak sapi.Kata kunci : Populasi lalat, jenis lalat, defect
Kualitas burger daging itik dengan penambahan ubi jalar (Ipomoea batatas L)
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh penambahan ubi jalar kuning terhadap kualitas burger daging itik. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging itik dan ubi jalar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan, 4 ulangan untuk kualitas fisik sementara untuk pengujian organoleptik terdiri dari 5 perlakuan dan 35 ulangan (panelis). Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah: P0 ubi jalar kuning 0%, P1 ubi jalar kuning 5%, P2 ubi jalar kuning 10%, P3 ubi jalar kuning 15%, P4 ubi jalar kuning 20%. Variabel yang diukur yaitu daya mengikat air, susuk masak, pH dan uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan citarasa). Data yang diperoleh dari semua variabel dianalisis menggunakan analisis varians. Apabila terdapat perbedaan rataan perlakuan dilanjutkan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan penambahan ubi jalar kuning P0, P1, P2, P3, dan P4 memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap daya ikat air, susuk masak, aroma, cita rasa, serta berbeda nyata (P<0,05) terhadap warna, tekstur dan berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap pH burger daging itik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan ubi jalar kuning pada pengolahan burger daging itik kulitas fisik sampai 20% menunjukkan kualitas fisik yang baik dan secara organoleptik dapat diterima oleh panelis sampai 10%.Kata Kunci: Burger, ubi jalar (Ipomoea batatas L), daging iti
Pengaruh substitusi pakan komplit dengan limbah kulit kopi terhadap dimensi tubuh ternak babi finisher
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis pengaruh pemanfaatan kulit kopi sebagai substitusi pakan komplit terhadap dimensi tubuh ternak babi finisher. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 ekor ternak babi umur 16 minggu dengan ras yang berbeda menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola factorial 4 x 3 yaitu faktor A adalah 4 level substitusi kulit kopi terhadap pakan komplit dimana A0= substitusi 0% kulit kopi terhadap pakan komplit, A1= substitusi 5% kulit kopi terhadap pakan komplit, A2= substitusi 10% kulit kopi terhadap pakan komplit, A3= substitusi 15% kulit kopi terhadap pakan komplit sedangkan faktor B adalah B1 kulit kopi yang dijemur, B2 kulit kopi yang direndam dan B3 kulit kopi yang direbus. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara level substitusi (A) 0%, 5%, 10%, 15% dengan kulit kopi (B) jemur, rendam, rebus memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap pertambahan panjang badan, tinggi badan dan lingkar dada. Sedangkan hasil yang berbeda ditunjukkan oleh level substitusi (A) dimana memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap pertambahan panjang badan dan pertambahan tinggi badan sedangkan pertambahan lingkar dada berbeda tidak nyata (P>0.05) atau sama. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kulit kopi rebus pada level 5% yang menggantikan sebagian pakan komplit memberikan penampilan terbaik terhadap pertambahan panjang badan dan pertambahan tinggi badan ternak babi.Kata kunci: Pakan komplit, kulit kopi, ternak bab
Identifikasi potensi bahaya, resiko dan pencegahan kecelakaan kerja pada pembibitan kambing Peranakan Ettawa di Taman Ternak Kaligesing
Manajemen kesehatan dan keselamatan kerja penting untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan besar yang diiringi dengan kenaikan produksi, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya. Tujuan penelitian untuk memberikan arahan pengaturan administrasi, hukum dan sistem teknis dalam pengendalian instalasi beresiko tinggi yang dilakukan dengan memberikan perlindungan kepada pekerja, masyarakat dan lingkungan dengan mencegah terjadinya kecelakaan besar yang mungkin terjadi dan meminimalisir dampak dari kecelakaan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah metode survei dengan melakukan observasi langsung di lapangan, mengikuti kegiatan pembibitan dan budidaya ternak kambing PE, melakukan wawancara dengan pegawai, mempelajari penerapan K3L di Taman Ternak Kaligesing dan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Hasil menunjukkan bahwa penerapan kesehatan, keamanan, keselamatan kerja dan lingkungan belum sepenuhnya diterapkan di Taman Ternak Kaligesing. Keselamatan dan kesehatan kerja secara maksimal, terbukti masih ada pekerja yang tidak memakai APD dengan lengkap, instalasi listrik yang kurang tertata dengan baik, penggunaan chopper yang tidak ada pembatas keamanannya dan lain-lain. Selain itu potensi bahaya, resiko dan pencegahan dalam keselamatan kerja harus dipahami dengan baik oleh semua pekerja sehingga dapat melakukan pencegahan untuk meminimalisir kecelakaan kerja, bahaya kesehatan ataupun bahaya lainnya yang dapat merugikan banyak pihak khususnya di Taman Ternak Kaligesing.Kata kunci: Potensi bahaya, resiko, pencegahan, Taman Kaligesin