JOURNAL OF INDUSTRIAL AND MANUFACTURE ENGINEERING
Not a member yet
163 research outputs found
Sort by
Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Metode HIRA di CV. X
Banyak faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja pada perusahaan, salah satunya adalah kelalaian manusia. Kurang diperhatikan dan tidak dijalankannya prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan baik oleh karyawan menjadi permasalahan utama. Penelitian ini berfokus menganalisis risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Bengkel Las Bubut CV. Handoko Perkasa Group Medan dengan menggunakan metode Hazard Identification Risk Assessment (HIRA). Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko berdasarkan probabilitas dan keparahan, serta mengusulkan tindakan pengendalian untuk mengurangi risiko. Hasil penelitian menunjukkan beberapa potensi bahaya dengan kategori risiko yang beragam. Berdasarkan penilaian risiko yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa hampir dari setiap tahap pekerjaan di Bengkel memiliki nilai risiko moderate hingga Extreme. Setiap tingkatan bahaya memiliki persentase masing-masing dengan nilai Low Risk (L) 4 %, Moderate Risk (M) 18 %, High Risk (H) 72 % dan Extreme Risk (E) 6 %. Penelitian ini berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap prosedur K3 di industri kecil, khususnya di Bengkel Las Bubut. Usulan perbaikan mencakup pelatihan keselamatan kerja, pemantauan berkala terhadap kondisi kerja, dan penggunaan APD yang sesuai
Analisis Postur Kerja Operator dengan Metode OWAS dan RULA di Pabrik Tempe
Aktivitas kerja pada proses produksi tempe sebagian besar masih dilakukan secara manual dan berulang, seperti mengangkat kedelai, merebus, meniriskan, serta membungkus tempe dalam waktu yang lama. Kegiatan tersebut sering dilakukan dengan postur kerja yang kurang ergonomis, seperti membungkuk, berdiri dalam durasi panjang, serta gerakan berulang pada anggota tubuh bagian atas, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja operator di pabrik tempe menggunakan metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS) dan Rapid Upper Limb Assessment (RULA) untuk mengetahui tingkat risiko ergonomi serta memberikan rekomendasi perbaikan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, dokumentasi postur kerja menggunakan foto dan video, serta pengukuran sudut tubuh pada beberapa aktivitas utama produksi. Aktivitas yang dianalisis meliputi pengangkatan kedelai, pemindahan rak fermentasi, dan pembungkusan tempe. Penilaian postur kerja dilakukan dengan metode OWAS dan RULA.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar postur kerja operator berada pada tingkat risiko sedang hingga tinggi. Berdasarkan analisis OWAS, aktivitas pengangkatan dan pemindahan beban termasuk dalam kategori tindakan yang memerlukan perbaikan segera. Sementara itu, hasil penilaian RULA menunjukkan skor akhir 7 yang mengindikasikan perlunya investigasi lebih lanjut dan tindakan perbaikan dalam waktu dekat
Sistem Pendukung Keputusan untuk Tata Letak Warehouse dengan Pendekatan Class Based Storage
Masalah utama yang dihadapi gudang adalah tata letak produk yang kurang optimal, yang terlihat dari banyaknya ruang kosong yang tidak dimanfaatkan secara maksimal dan penempatan produk yang tidak mempertimbangkan frekuensi pergerakan produk. Hal ini disebabkan oleh penerapan metode randomized storage, di mana produk ditempatkan secara acak hanya untuk mengisi ruang yang tersedia. Akibatnya, admin gudang menghadapi kesulitan dalam menganalisis kebutuhan ruang dan throughput terutama karena proses perhitungan yang kompleks dan berulang. Kondisi ini berimbas pada rendahnya efisiensi pemanfaatan ruang serta jarak tempuh pengambilan barang yang tidak ideal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pendukung keputusan berbasis Python untuk relayout produk di gudang. Sistem ini menggunakan pendekatan metode penyimpanan berbasis kelas dengan menerapkan prinsip klasifikasi ABC. Setelah implementasi, dilakukan evaluasi terhadap efisiensi pemanfaatan ruang dan jarak tempuh pengambilan pesanan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem ini berhasil meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang serta mengurangi jarak tempuh pengambilan barang. Sistem ini memberikan solusi yang signifikan dalam meningkatkan operasional gudang dan menciptakan tata letak yang lebih terstruktur dan efisien
Simulasi Sistem Produksi Robochop Dasar dengan ARENA
Dalam membuat produk terkadang diperlukan suatu perangkat lunak (tools) untuk menjelaskan proses yang terjadi, menganalisis proses dalam pembuatan produk dan bahkan mengusulkan suatu perbaikan dimana perlu. Simulasi komputer merupakan salah satu perangkat lunak (tools) yang lazim dipakai. ARENA merupakan salah satu piranti lunak (tools) yang dapat dipakai untuk menjalankan simulasi sistem produksi. Dalam penelitian ini, simulasi digunakan untuk menggambarkan sistem produksi Robochop Dasar. Dengan menggunakan simulasi ARENA, proses produksi Robochop Dasar dapat dianalisis dengan lebih mudah dan jelas, membantu dalam pemahaman durasi dan tahapan pembuatan produk tersebut. Hasil dari simulasi ini memberikan wawasan yang berguna, seperti identifikasi area yang memerlukan perbaikan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya produksi. Selain itu, simulasi juga memungkinkan perbandingan antara hasil eksperimen dan hasil simulasi, yang dapat memberikan informasi tentang sejauh mana keduanya berbeda. Dengan demikian, penggunaan simulasi komputer dapat membantu dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, serta mendukung upaya perbaikan berkelanjutan dalam sistem produksi Robochop Dasar
Implementasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA) dalam Mengevaluasi Kegagalan Mesin Cetak Offset Toko Type 810
Perawatan pada mesin adalah kegiatan yang penting untuk mempertahankan mutu produk yang dihasilkan. Mesin cetak offset toko merupakan mesin yang digunakan pada laboratorium cetak di Prodi Teknik Grafika. Mesin ini memiliki peran penting dalam proses pelaksaan praktek dan produksi produk grafika. Berdasarkan observasi mesin tersebut mengalami permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa dan memberikan usulan pemeliharaan dengan menggunakan metode FMEA dan FTA. Implementasi metode diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih efektif dalam menangani masalah pemeliharaan Hasil analisis FMEA berdasarkan nilai RPN tertinggi adalah plate cylinder dan Impression Cylinder dengan nilai 48 %. Komponen kritis ini diprioritaskan dalam tindakan perbaikan. Rekomendasi perbaikan untuk plate cylinder adalah memastikan pemasangan plate dilakukan dengan benar dan presisi dan usulan perbaikan untuk komponen Impression Cylinder adalah melakukan kalibrasi silinder secara berkala
Analisis Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Jasa Injection Moulding Menggunakan Metode HIRARC dan 5S (Studi Kasus: CV. Bahana Karya)
CV. Bahana Karya merupakan perusahaan manufaktur yang memberikan jasa khusus di bidang jasa injection moulding. Produk yang dihasilkan oleh CV. Bahana Karya adalah produksi yang disesuaikan dengan permintaan customer, seperti tempat biscuit, tempat ebi furai frozen, alat kesehatan, tempat makan burung dan lain-lain. Permasalahan dalam penelitian ini adalah kesehatan dan keselamatan kerja pada CV Bahana Karya belum optimal. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil saat kunjungan ke CV Bahana Karya, dimana terdapat pekerja yang masih belum memperhatikan Kesehatan dan Keselematan Kerja. Hasil penilaian risiko pada CV. Bahana Karya adalah sebagai berikut Terdapat 16 jenis kegiatan yang memiliki potensi bahaya. Dari 16 potensi bahaya terdapat 1 kategori high risk dengan persentase 7%, kemudian 9 potensi bahaya moderate risk dengan persentase 60%, dan 6 potensi bahaya low risk dengan persentase 33%. dengan metode HIRARC dapat diketahui bahwa sumber bahaya yang terbanyak ada pada moderate risk dengan kategoi 60%, dimana sumber bahaya ini terdapat pada bagian saat bahan baku datang dan bagian finishing, sedangkan potensi bahaya yang sangat berisiko tinggi terjadinya kecelakaan kerja. berdasarkan metode analisa 5S dapat di klasifikasi menjadi 3 stasiun kerja yang perlu dilakukan perbaikan dalam kesehatan dan keselamatan kerja, yaitu pada stasiun kerja Mixer, Inject Moulding, Finishing. Terdapat 8 kegiatan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukkan bagi perusahaan untuk dapat meningkatkan kualitas pada kesehatan dan keselamatan kerja
Analisis Pengelompokan Penjualan Biskuit Menggunakan Metode Fuzzy C-Means (Studi Kasus Perusahaan Biskuit Area Jawa Tengah dan Jawa Timur)
Industri Fast-moving consumer goods (FMCG) di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap produk konsumsi harian, salah satunya perusahaan di bidang biskuit. Dalam upaya memahami perilaku pasar secara mendalam, penelitian ini dilakukan untuk mengelompokan penjualan biskuit menggunakan metode Fuzzy C-Means (FCM) di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penentuan jumlah cluster optimal dalam pengelompokan dilakukan menggunakan Fuzzy Partition Coefficient (FPC) dan divalidasi dengan Silhouette Index. Data penjualan yang dianalisis meliputi lima variabel produk biskuit. Adapun variabel-variabel yang digunakan yaitu wafer block , marie susu , cookies cream , biscuits , dan stick wafer , pada 32 kabupaten pada bulan Agustus 2024. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga cluster dengan karakteristik yang berbeda. Cluster 1 terdiri dari 17 kabupaten dengan pola konsumsi rendah untuk semua produk. Cluster 2 melibatkan 8 kabupaten dengan penjualan tinggi, terutama untuk produk marie susu dan biscuits , menunjukkan potensi pasar yang kuat di wilayah tersebut. Cluster 3 mencakup 7 kabupaten dengan dominasi konsumsi pada wafer block . Temuan ini memberikan wawasan penting untuk pengembangan strategi pemasaran berbasis data yang lebih efektif dan pengoptimalan distribusi produk
SMART Manufacturing System : Sebuah Solusi Teknologi Manufaktur Proses Menuju Industri 4.0
Pembelajaran teknologi memiliki peran penting terhadap pembentukan kemampuan teknologi serta inovasi yang merupakan penentu daya saing di era global seperti saat ini. Sementara itu, negara maju telah mampu mengembangkan industri dengan intensitas teknologi tinggi yang dapat menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Di lain pihak, baru sedikit negara berkembang yang mampu mengembangkan industri tersebut. Di Indonesia sendiri, industri dengan intensitas teknologi rendah terlihat lebih berkembang dibandingkan industri dengan intensitas teknologi tinggi maupun menengah-tinggi. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kurang optimalnya pembelajaran teknologi. Telah banyak literatur mengenai kondisi pembelajaran teknologi di sektor manufaktur. Namun demikian, literatur yang menekankan pada intensitas teknologi masih jarang ditemukan. Tulisan ini akan membahas mengenai model pembelajaran teknologi pada industri manufaktur dengan melakukan studi kasus pada perusahaan dengan intensitas teknologi tinggi dan menengah-tinggi yang ada di Indonesia. Klasifikasi industri berdasarkan intensitas teknologi didasarkan pada pengklasifikasian Organization of Economic Cooperation and Development (OECD). Dari studi kasus pada empat perusahaan, dilakukan analisis terhadap variasi model pembelajaran teknologi dilihat dari aktor-aktor yang terlibat dan dominasi aktor-aktor tersebut dalam proses pembelajaran teknologi. Dari hasil studi kasus yang dilakukan, terlihat bahwa pembelajaran teknologi dapat mendukung penciptaan inovasi. Perusahaan pada sektor manufaktur dengan intensitas teknologi tinggi cenderung memilih pembelajaran teknologi internal. Sedangkan perusahaan pada sektor dengan intensitas menengah tinggi lebih memilih pembelajaran teknologi kombinasi internal eksternal. Peran strategis teknologi terhadap kompetensi inti perusahaan, aspek proprietary dari teknologi,kemampuan sumberdaya, serta karakteristik permintaan terlihat menjadi faktor yang dipertimbangkan oleh perusahaan dalam memilih tipe pembelajaran teknologi
Pengendalian Kualitas Produk Cylinder Block 4TNV 88C Pada PT. Yanmar Indonesia Dengan Pendekatan Six Sigma
PT. Yanmar Indonesia merupakan perusahaan swasta yang bergerak dibidang industri komponen alat-alat pertanian dan generator. Pengendalian mutu merupkan hal yang sangat penting agar pelanggan merasa kebutuhannya terpenuhi oleh produk yang digunakan. Oleh karena itu PT. Yanmar selalu berusahan meningkatkan kualitas mutu dari produk mereka untuk menjaga kepuasan pelanggan dan bertahan di pangsa pasar. Akan tetapi PT.Yanmar dihadapi beberapa masalah kecacatan produk khusunya pada produk Cylinder Block 4TNV 88C. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab masalah serta memberikan rekomendasi perbaikan untuk menurunkan persentase cacat tersebut. Pengendalian mutu dilakukan dengan metode Six Sigma dengan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Didapatkan dalam kurun waktu 12 bulan terdapat 10880 unit yang cacat dari total 337082 total yang di produksi, dan yang produk dengan kecacatan tertinggi yaitu Cylinder Block 4TNV dengan 776 atau sebesar 30,32%. Penyebab terjadinya kecacatan ini disebabkan oleh kurangnya penngetahuan tentang setting mesin dengan skor RPN yang diperoleh yaitu RPN 504. Usulan rekomendasi untuk memenimalisir adanya defect yaitu memberikan pengetahuan berupa training atau seminar terkait dari mekanisme perihal proses produksi yang dilakukan, dan memberikan pengawasan terhadap kinerja operator pada saat melakukan proses setting terhadap mesin. Serta memberikan pengetahuan untuk mengurangi adanya ukuran atau proses yang tidak sesuai
Analisis Postur Kerja Pada Karyawan Dengan Metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA) Guna Memperbaiki Fasilitas Kerja Dengan Pendekatan Antropometri
Bea Cukai Langsa merupakan sebuah instansi yang bertugas melaksanakan pengawasan dan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai. Dalam menjalankan aktivitas perusahaan tiap harinya, para karyawan kantor menggunakan komputer untuk membantu pekerjaan mereka. Setelah dilakukan observasi terhadap 15 orang karyawan merasakan keluhan nyeri pada bagian leher, bahu, punggung, dan pinggang (Musculoskeletal Disorders) Tujuan penelitian Menentukan tingkat risiko postur kerja yang dialami karyawan saat bekerja didepan komputer dan merancang fasilitas kerja untuk perbaikan fasilitas kerja. Metode yang digunakan yaitu ROSA untuk mengukur risiko yang berkaitan dengan penggunaan komputer, antropometri untuk dimensi tubuh, persentil untuk menentukan ukuran rancangan, dan simulasi catia untuk pengaplikasian hasil rancangan, dan perancangan fasilitas kerja menggunakan pendekatan antropometri. Hasil dan pembahasan terdapat 4 karyawan memiliki skor 8, 6 karyawan memiliki skor 7, 4 karyawan memiliki skor 6 artinya berisiko dan 1 karyawan memiliki skor 5 artinya tidak berbahaya. Ada 7 dimensi yang dipergunakan untuk perancangan kursi yaitu Tinggi Lutut, Pantat Poplitieal, Lebar Pinggul, Tinggi Duduk Tegak, Lebar Bahu, Tinggi Siku Duduk, Panjang Lengan Bawah dan 3 dimensi untuk perancangan meja yaitu Tinggi Siku Duduk, Jangkauan Tangan, Rentang Tangan Siku. Seluruh perhitungan mengunakan persentil 50 dengan beberapa alasan, dikarenakan hasil uji keseragaman data hampir semua seragam. Kesimpulan, tingkat risiko yang dialami 15 karyawan disebabkan dari postur duduk yang berisiko dan kurangnya kesadaran penggunaan fasilitas yang benar, maka dibutuhkan perbaikan postur kerja yang diantaranya yaitu merancang ulang kursi dan meja dengan spesifikasi ukuran dimensi tubuh karyawan menggunakan persentil 50