Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
314 research outputs found
Sort by
Kinerja Pembiayaan Perikanan Skala Kecil di Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah (Performance of Small Scale Fisheries Financing in Tegal City, Central Java Province)
Usaha perikanan skala kecil yang dikelola oleh masyarakat pesisir termasuk yang paling kecil mengakses kredit atau pembiayaan perbankan, padahal jumlah usaha skala kecil pada bidang perikanan ini cukup besar, yaitu mencapai 26,2 juta unit. Kondisi ini tidak lepas dari belum efektifnya interaksi stakeholders dan komponen terkait dalam mendukung kinerja pembiayaan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi komponen pembiayaan yang signifikan mempengaruhi kinerja pembiayaan perikanan skala kecil di Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan metode structural equation modeling (SEM). Hasil analisis menunjukkan peran lembaga perbankan signifikan mempengaruhi naik-turunnya kinerja pembiayaan, sedangkan kebijakan politik, performance usaha perikanan skala kecil, dan peran lembaga pemerintah tidak signifikan. Pada tataran teknis, penyaluran kredit/pembiayaan oleh bank umum (BRI dan BPD) secara signifikan mendukung peran lembaga perbankan dan dapat meningkatkan kinerja pembiayaan, sedangkan BPR belum. Terkait jenis kredit/pembiayaan, yang siginfikan dirasakan manfaatnya oleh nelayan kecil adalah kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE), sedangkan kredit usaha kecil (KUR) dan bantuan pinjaman langsung masyarakat (BPLM) belum signifikan dirasakan manfaatnya meningkatkan pembiayaan perikanan skala kecil Kota Tegal. Program penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI)signifikan membantu peningkatan kinerja pembiayaan perikanan skala kecil di Kota Tegal. Nilai Net B/C, IRR, dan ROI yang baik signifikan dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja pembiayaan perikanan skala kecil, sedangkan nilai NPV tidak.Kata kunci:pembiayaan, kinerja, signifikan, perikananan skala keci
Model Sea Ranching Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Perairan Semak Daun, Kepulauan Seribu (Sea Ranching Model of Brown- Marbled Grouper (Epinephelus Fuscoguttatus) in Semak Daun Island, Seribu Islands)
Sea ranching merupakan pelepasan ikan ke laut untuk ditangkap setelah mencapai ukuran konsumsi. Sea ranching biasanya diterapkan ketika rekrutmen alami rendah atau bahkan tidak ada dikarenakan sangat intensifnya penangkapan atau rusaknya habitat yang mendukung hal tersebut. Penelitian ini mengkaji daya dukung berdasarkan produktivitas primer. Selain itu juga mengkaji model restocking dalam sistem sea ranching. Kajian ini menemukan bahwa perairan Semak Daun sudah mengalami tangkap lebih rekrutmen (recruitment overfishing). Untuk itu perlu dilakukan restocking dengan sistem sea ranching. Daya dukung perairan bagi ikan kerapu macan, yaitu antara 0,703-1,06 ton/th dengan rata-rata 0,88 ton/th. Tebar sebaiknya diterapkan setiap bulan dan penangkapan pun dilakukan setiap hari sepanjang bulan. Pola tebar yang optimal adalah panjang benih 11 cm dengan padat tebar 14.000 ekor pada mortalitas tangkapan 0,5 atau panjang benih 13 cm dengan padat tebar 13000 pada mortalitas tangkapan 0,4.Kata kunci: daya dukung, Epinephelus fuscoguttatus,restocking, sea ranchin
Potensi Lestari Perikanan Tangkap di Kabupaten Kepulauan Sitaro (Sustainable Potential of Fisheries Capture in Sitaro Island Regency)
Analisis potensi lestari perikanan tangkap di Kabupaten Kepulauan Sitaro dilatarbelakangi oleh besarnya potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki yaitu 78,18% dari seluruh jumlah produksi ikan di Kabupaten Kepulauan Sitaro atau 11.743,20 ton/tahun pada tahun2010.Penelitian ini bertujuan melihat karakteristik pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap dan berapa besar potensi lestari perikanan tangkap di Kabupaten Kepulauan Sitaro sebagai dasar penilaian pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. Hasil perhitungan dengan mengguna-kan model Schaefer didapatkan potensi lestari (MSY) ikan pelagis kecil sebesar 7.904,85 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 18.291,60 unit/tahun.Kemudian diikuti oleh kelompok ikan pelagis besar sebesar 2.689,32 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 99.173,20 unit/tahun. Sedangkan kelompok ikan damersal potensi lestari sebesar 702,74 ton/tahun dan upaya optimumnya adalah 16.151,97 unit/tahun, selanjutnya kelompok ikan karang potensi lestari sebesar 446,30 ton/tahun dan upaya optimum adalah 34.129,00 unit/tahun. Keberlangsungan perikanan tangkap di Kabupa-ten Kepulauan Sitaro dilakukandengan membuat kebijakan, strategi, program dan rencana aksi pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan yang mengatur secara tegas zona penang-kapan; jumlah, ukuran dan jenis ikan yang boleh dan tidak boleh ditangkap; zona perlindungan daerah pemijahan dan tempat asuhan ikan kecil maka dapat menjaga keberadaan sumberdaya perikanan untuk masa yang akan datang.Kata kunci: perikanan, kepulauan, MSY, Sitar
Pendugaan Thermal Front dan Upwelling sebagai Indikator Daerah Potensial Penangkapan Ikan di Perairan Mentawai (The Prediction of Thermal Front and Upwelling as Indicator of Potential Fishing Grounds in Mentawai Water)
Parameter oseanografi seperti upwelling dan thermal front dapat digunakan sebagai indikator daerah penangkapan ikan potensial. Pengetahuan tentang lokasi perairan dengan fenomena tersebut akan dapat membantu para nelayan untuk mencari daerah penangkapan ikan potensial. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran suhu permukaan laut (SPL), dan memprediksi keberadaan thermal front dan upwelling di perairan Mentawai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2006 di Perairan Mentawai. Sedangkan Citra SPL yang diolah Juni 2006-September 2007.Analisa data yang digunakan adalah secara visual untuk menentukan thermal front dan upwelling. Pada musim timur SPL berkisar 26-32°C, musim peralihan timur-barat berkisar 23-32oC, musim barat berkisar 23-32oC, musim peralihan barat-timur berkisar antara 25-32oC. Thermal front hampir ditemukan sepanjang tahun di sekitar Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan dan sekitar Pasaman. Indikasi upwelling tidak ditemukan pada musim barat. Pada musim timur, upwelling ditemukan di sekitar Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan. Pada musim peralihan timur barat, upwelling ditemukan di sekitar Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara. Pada musim barat timur, upwelling ditemukan di sekitar Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara.Kata kunci: Perairan Mentawai, suhu permukaan laut (SPL), thermal front, upwellin
STRATEGI PENGELOLAAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI UDANG DI KABUPATEN CILACAP (Management Strategies to Increase Shrimp Production in Cilacap Regency)
Cilacap is the center of the shrimp fishery in Central Java’s south sea. Lately, the shrimp resources in that area have decreased biologically, which is characterized by a decrease in shrimp production trend line. From 2004 to 2008 there was a decrease by 6.3% per year which was caused by large scale utilization in shrimp resources and degradation in carrying capacity. This study aimed to determine influential factors in decreasing shrimp production and to develop strategies for business development in Cilacap’s shrimp fishery. Data were analyzed using the fish-bone diagram and SWOT (Strengths Weakness Opportunities and Threats) analysis. Influential factors in decreasing shrimp production were 1) fishermen; 2) units of fishing; 3) mangrove forests; 4) fishing methods, and 5) shrimp resources stock. Strategies for Cilacap shrimp fishery management were 1) law enforcement in controlling the shrimp capture and mangrove exploitation; 2) the economic development of fishermen and society; 3) integrated shrimp fisheries management; 4) mangrove and aquatic ecosystems rehabilitation; and 5) increase the environmental and shrimp resources carrying capacity.Key words: Cilacap, fish-bone diagrams, management, shrimp fishery, SWOT analysi
Densitas Insulasi Polyurethane pada Palka Kapal Penangkap Ikan Tradisional di Pekalongan (Density of Polyurethane for Fish Hold Insulator on Traditional Fishing Boats in Pekalongan)
Penggunaan polyurethane sebagai bagian dari sistem insulasi pada palka kapal penangkap ikan sudah sangat umum digunakan. Namun demikian takaran yang diaplikasikan masih berdasarkan pengalaman dan perkiraan pembuatnya.Salah satu kriteria teknis adalah densitas material insulasi (ρ). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan nilai densitas insulasi yang digunakan pada palka kapal penangkap ikan di Pekalongan. Palka dari dua kapal penangkap ikan dan bahan insulasi polyurethane digunakan sebagai obyek dalam penelitian ini untuk menentukan apakah densitas insulasi yang digunakan sudah memenuhi batas minimum. Nilai densitas standar yang digunakan adalah nilai densitas (ρ) polyurethane> 30 kg.m-3 (Dellino 1997).Hasil penelitian menunjukkan, nilai densitas insulasi yang bervariasi. Pada kapal 1 densitas berkisar 28,15 kg.m-3-30,86 kg.m-3, sementara itu pada kapal 2 berkisar 31,67 kg.m-3-33,58 kg.m-3. Pada kapal 1 hanya 70% dindingpalka memiliki insulasi sesuai dengan standar, sementara pada kapal 2 semua dinding palka memenuhi standar yang digunakan.Kata kunci: densitas, insulasi, polyurethane, kapal penangkap ika
STRATEGI DAN REKOMENDASI PENGELOLAAN PERIKANAN KARANG BERDASARKAN STATUS KELEMBAGAAN (Strategies and Reef Fisheries Management Recommendations Based on Institutional Status)
Dengan adanya Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah kabupaten atau pemerintah kota memiliki peranan penting dalam pengelolaan perikanan karang. Disisi lain kapasitas sebagian pemerintah kabupaten dan kota dalam pengelolaan perikanan masih relatif lemah. Sehingga banyak pemerintah kabupaten dan kota tidak melakukan kegiatan pengelolaan perikanan karang. Kota Sabang, merupakan kota terletak di ujung barat laut Pulau Sumatera, termasuk wilayah Provinsi Aceh. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Sabang, bidang perikanan merupakan salah satu bidang prioritas dalam rencana tersebut. Salah satu masalah utamanya adalah kapasitas pemerintah Kota Sabang masih terbatas dalam melakukan pengelolaan perikanan khususnya perikanan karang sehingga memiliki kelemahan dalam menyusun strategi pengelolaan perikanan. Tujuan penelitian ini adalah: adanya kajian status kelembagaan pemerintah kota sabang dalam melakukan pengelolaan perikanan karang; dan adanya strategi dan rekomendasi pengelolaan perikanan karang berdasarkan status kelembagaan. Metode yang dipakai dalam studi ini adalah Institutional Development Framework (IDF) yang dikembangkan oleh Renzi (1996) dan Manulang (1999). Hasil penelitian menunjukkan secara kelembangaan, Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian (DKPP), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Kebersihan dan Pertamanan (BAPEDALKEP) berada dalam tahap pemantapan dalam melakukan pengelolaan perikanan karang.Kata kunci: kapasitas pemerintah, pengelolaan perikanan, perikanan karan
ANALISIS SUMBER DAYA PERIKANAN LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI (Analysis of the Sardine Oil (Sardinella lemuru Bleeker 1853) Resources in Bali Strait)
Sardine oil (Sardinella lemuru Bleeker 1853) is the one of fish target of fishermen from Banyuwangi and Jembrana who fish in Bali strait. An in-depth study on current utilization rates and over 6 year period is required to obtain information on utilization of the sardine oil. . This study can be used as a guideline in formulating a policy in fishery management to promote sustainable sardine oil resources in Bali Strait. The purposes of this research were to calculate catch per unit effort (CPUE) of fishing gears, determine the standard fishing gears, determine of the production function, and determine feeding habits of sardine oil by analysing the stomach contents. Compared to other fishing gears, CPUE of purse seine has the highest average which made up 332.2032 metric ton per unit. Based on the calculation of the production function, the value of Cmsy was 88,358.71 metric ton per years, and the value of Emsy was 414.601 units. The analysis of the stomach contents showed that sardine oil’s food was plankton which consisted of phytoplankton and zooplankton. During the 6 year period, utilization of sardine oil resources was still allowed, because the highest catch did not exceed Cmsy. However, to sustain the resources, management and regulation in the use of fishing gears, especially purse seine was still needed. It can be done by renewing the joint decree between Governor of East Java and Bali in 1992.Key words: resources analysis, sardine oil fisheries, Bali Strai
Pendekatan Fungsi Dan Kelembagaan dalam Analisis Pemasaran Ikan Segar di Maluku Tengah (Functional and Institutional Approach in Analysis of Fresh Fish Marketing in the Region of Central Maluku)
Penelitian ini dilakukan di sejumlah pasar ikan segar di Kawasan Maluku Tengah dan bertujuan untuk menganalisis perilaku pasar ikan segar dengan pendekatan fungsi dan kelemba-gaan. Pengetahuan tentang fungsi dan kelembagaan pemasaran berguna untuk mempertimbang-kan bagaimana pemasaran harus dilakukan, mengevaluasi biaya pemasaran akibat adanya perbedaan perlakuan serta mempertimbangkan sifat dan karakter dari pedagang perantara, hubungan agen dan susunan/perlengkapan organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat rantai pemasaran ikan segar di Kawasan Maluku Tengah dan fungsi jual, risiko, biaya dan informasi pasar dilakukan oleh semua lembaga yang ada pada setiap saluran pemasaran. Peran pedagang pengumpul dalam menentukan harga ikan di pasar sangat besar. Strategi pedagang untuk menarik pembeli adalah dengan menambah satu atau dua ekor ikan kepada pembeli. Pedagang jarang menurunkan harga jual ikan, namun ketika satu atau dua ekor ikan ditambahkan kepada konsumen, secara tidak sengaja pedagang telah menurunkan harga jual ikan.Kata kunci: Maluku Tengah, fungsi dan kelembagaan, pemasara
Integrasi Pasar Komoditas Unggulan Minapolitan di Palabuhanratu (Market Integration for Major Minapolitan Commodities in Palabuhanratu)
Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu telah ditetapkan sebagai lokasi proyek minapolitan perikanan tangkap.Pemerintah daerah menetapkan tuna dan layur sebagai komoditas unggulan minapolitan. Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan komoditas unggulan adalah integrasi pasar. Dalam integrasi pasar, harga suatu komoditas sangat responsif terhadap perubahan harga produk yang memiliki kualitas yang sama di pasar lainnya. Hubungan harga spasial dapat menunjukkan kinerja pasar secara keseluruhan.Kinerja pasar yang efisien dapat digunakan sebagai salah satu daya saing komoditas unggulan minapolitan di Palabuhanratu.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pasar tuna dan layur di kawasan minapolitan perikanan tangkap Palabuhanratu. Model Ravallion digunakan untuk menganalisis integrasi pasar tuna dan layur antara pasar lokal dan pasar ekspor. Metode Index of Market Connection digunakan untuk menghitung derajat integrasi di antara kedua pasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasar bigeye tuna segar dan layur di Palabuhanratu terintegrasi baik untuk jenis pasar lokal maupun pasar ekspor.Kata kunci: perikanan tangkap, integrasi pasar, minapolitan, Palabuhanrat