Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
314 research outputs found
Sort by
KEBUTUHAN FASILITAS POKOK PELABUHAN PERIKANAN PANTAI LAMPULO 15 TAHUN MENDATANG (Main Facility Necessity of Lampulo Coastal Fishing Port for 15 Years for the Future)
ABSTRACTLampulo fishing port located in Banda Aceh. This port categorized as type C. The activity in Lampulo very dense, it is suspected due to inadequate of facilities available at the port. The aims of this study is to determine the projected increase in the production volume of the catch; determine the projected increase in the number of fishing boats; determine the needs of the dock, and harbor, for the current and future needs of 15 years. This research was conducted at the Lampulo fishing port in Banda Aceh by using a case study method. Calculation of the dock and harbour needs presently and in the next 15 years by using statistical data, namely the catch production (1), the number and size of vessel (2), direct measurement of results data objects i.e. jetty length (1), pond depth (2), ships length (3), direct observations data of the research object, namely dock facilities condition (1) port (2), the maximum draft of vessels (3) and the distance between the ship while tethered in the harbour. Based on projections of production, the total production volume in Lampulo reached 14,096 tons in 2027 or increased by 114%, but became decreased in 2028-2029 by 3,6% when compared with the production volume in 2027. The projected number of vessel fleet reached 822 units or an increase of 112% in 2029. Projected increase the size of the dock and the depth of the pool is needed for the next 15 years in the amount of 831m for landing docks and 757m for loading docks. It also required the addition of the port into a vast pool of 224.497 m2 and the depth of the pool minus 3,4 m.Keywords: development, main port facilities, vessel-------ABSTRAKPelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo terletak di kota banda Aceh. Pelabuhan ini adalah pelabuhan perikanan tipe C. Aktivitas di Pelabuhan Lampulo sangat padat, hal ini diduga akibat kurang memadainya fasilitas yang tersedia di pelabuhan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan proyeksi peningkatan volume produksi hasil tangkapan; menentukan proyeksi peningkatan jumlah kapal perikanan; menentukan kebutuhan dermaga, dan kolam pelabuhan, untuk saat ini dan kebutuhan 15 tahun kedepan. Penelitian ini dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo Banda Aceh. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Perhitungan kebutuhan dermaga dan kolam pelabuhan saat ini dan 15 tahun kedepan menggunakan data statistik yaitu produksi hasil tangkapan (1), jumlah dan ukuran kapal (2), data hasil pengukuran langsung objek penelitian yaitu panjang dermaga (1), kedalaman kolam (2), panjang kapal (3); data hasil pengamatan langsung terhadap objek penelitian yaitu keadaan fasilitas dermaga (1), kolam pelabuhan (2), draft maksimum kapal yang paling besar (3) dan jarak antar kapal saat bertambat di pelabuhan. Berdasarkan proyeksi produksi, total volume produksi di PPP Lampulo mencapai 14,096 ton pada tahun 2027 atau meningkat sebesar 114%, namun mengalami penurunan pada tahun 2028-2029 sebesar 3,6% jika dibandingkan dengan volume produksi tahun 2027. Adapun proyeksi jumlah armada kapal penangkapan terjadi peningkatan mencapai 822 unit atau sebesar 112 % pada tahun 2029. Proyeksi penambahan ukuran dermaga dan kedalaman kolam yang dibutuhkan untuk 15 tahun mendatang yaitu sebesar 831 m untuk dermaga pendaratan dan 757 m untuk dermaga muat. Selain itu juga diperlukan penambahan luas kolam pelabuhan menjadi 224,497 m2 dan kedalaman kolam minus 3,4 m.Kata kunci: pengembangan, fasilitas pokok pelabuhan, kapa
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PEMBANGUNAN PERIKANAN: STUDI KASUS PADA PERIKANAN TANGKAP DI INDRAMAYU (Factors affecting the performance of fisheries development: A case study of capture fisheries in Indramayu)
ABSTRACTVarious policies of fisheries development have been implemented by Indonesian government. However, they have not reached the expected results. Until now the policy/program of empowerment has not been able to significantly increase fishermen income and welfare. Fishermen are still poor and underdeveloped compared to other community groups. Therefore, some corrective measures are needed to improve programs/policies that have been implemented over the years. To get the answer, a study that examines factors affect the success of a fisheries policy is conducted in Indramayu, West Java. By using analysis of Structural Equation Modelling (SEM), the research defines that fisheries institutions factor significantly led to the success of fisheries development.Keywords: fisherman, Indramayu, capture fisheries, SEM-------ABSTRAKBerbagai upaya pembangunan perikanan tangkap sudah dilakukan pemerintah. Namun demikian, hasil pembangunan perikanan tersebut belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Sampai saat ini kebijakan/program pemberdayaan belum secara signifikan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan. Nelayan masih dalam kondisi miskin dan terbelakang dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah untuk memperbaiki program/kebijakan yang telah dilaksanakan selama ini. Untuk mendapatkan jawabannya, telah dilakukan suatu kajian faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu kebijakan pembangunan perikanan tangkap di Indramayu, Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan perikanan di Indramayu. Analisis Structural Equation Modelling (SEM) telah diperoleh hasil bahwa faktor (variabel utama) yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan perikanan tangkap adalah kelembagaan. Berdasarkan hal tersebut, pelaksanaan kebijakan perikanan selanjutnya perlu menempatkan aspek kelembagaan sebagai faktor yang penting dilakukan.Kata kunci: Indramayu, nelayan, perikanan tangkap, SE
UKURAN MATA DAN SHORTENING YANG SESUAI UNTUK JARING INSANG YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN TUAL ((Appropriate of Mesh Size and Shortening for Gillnet Operated on Tual Waters))
ABSTRACTShortening and mesh size of gillnet that operated by Tual fishermen are various. The purposes of this study were to determine the effectively of gillnet based on different shortening and mesh size and to estimate the catch diversity index of each mesh size. The study was conducted from April 6th-May 15th of 2012 in Tual waters. Results shown that gillnet with mesh size of 2.25” and shortening of 50% caught the most number of fish (74). It was followed by gillnet of 2.50”-50% (59), 2.50”-55% (31), 2.25”-55% (24), 2.25”-45% (19), 2.50”-45% (15), 3.00”-50% (15) and 3.00”-55% (6). The Shannon index rate of gillnet with mesh size of 2.25” was 1.8, 2.50” (1.9) and 3.00” (1.1). While the Sympson index rate of gillnet with mesh size of 2.25” was 0.2, 2.50” (0.3) and 3.00” (0.4).Keywords: gillnet, mesh size, shortening, Tual waters-------ABSTRAKUkuran mata dan shortening jaring insang yang dioperasikan nelayan Tual sangat beragam. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan efektivitas jaring insang yang didasarkan atas ukuran mata dan shortening yang berbeda dan menentukan indeks keragaman dari setiap ukuran mata. Penelitian dilakukan dari 6 April-15 Mei 2012 di perairan Tual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaring insang dengan ukuran mata jaring 2,25” dan shortening 50% paling efektif menangkap ikan di perairan Tual dibandingkan dengan ukuran jaring lainnya. Jaring ini menangkap 74 ekor. Adapun jaring 2,5”-50% (59 ekor), 2,5”-55% (31 ekor), 2,25”-55% (24 ekor), 2,25”-45% (19 ekor), 2,50”-45% (15 ekor), 3,00”-50% (15 ekor) dan 3,00-55% (6 ekor). Indeks keragaman Shanon untuk jaring insang dengan ukuran mata 2,25” adalah 1,8, 2,50” (1,9) dan 3,00” (1,1). Sementara indeks keragaman Sympson pada ukuran mata 2,25” sebesar 0,2, 2,50” (0,3) dan 3,00” (0,4).Kata kunci: jaring insang, ukuran mata, shortening, perairan Tua
PENDAMPINGAN KONSTRUKSI DAN OPERASIONALISASI SETNET BERDASARKAN KAJI TERAP SETNET DI JENEPONTO, SULAWESI SELATAN
ABSTRACToperating days per year that ensures continuous operation setnet. Assistance during construction continued for operationalization setnet to sustain operations through cooperation setnet technical guidance and management: preparation of backup setnet, care unit set-net, set-net operation, handling set-net catch and utilization of the catch setnet. Research methodology is studied arranging for trials setnet operation in 2012. Based on the results of experiment applied in Jeneponto has inspired a variety of information developed measures setnet fisheries management towards an increasingly comprehensive. Sustainability setnet operation by a group of fishermen setnet followed by an increase in the number of operating days and catch fish to be an important indication for continued development efforts.Key words: days of operation, operationalization, setnet, the catch of fish-------ABSTRAKOperasionalisasi setnet merupakan tahapan selama pengoperasian setnet pada perairan yang bertepatan rute migrasi ikan yang memenuhi jumlah hari operasi per tahun yang menjamin pengoperasian setnet secara berkelanjutan. Pendampingan konstruksi setnet diteruskan selama operasionalisasi setnet untuk menjaga keberlanjutan pengoperasian setnet melalui kerjasama pembinaan bidang teknis dan manajemen: penyiapan cadangan setnet, perawatan unit set-net, pengoperasian set-net, penanganan hasil tangkapan setnet dan pendayagunaannya. Metodologi penelitian adalah kaji terap selama uji coba pengoperasian setnet pada 2012. Berdasarkan hasil kaji terap setnet di Jeneponto menginspirasikan informasi berbagai langkah-langkah yang berkembang kearah manajemen perikanan setnet yang semakin komprehensif. Keberlanjutan pengoperasian setnet oleh kelompok nelayan setnet dengan diikuti peningkatan jumlah hari operasi dan hasil tangkapan ikan menjadi indikasi penting untuk diteruskan upaya pengembangannya.Kata kunci: hari operasi, operasionalisasi, setnet, hasil tangkapa
PERIKANAN SKALA KECIL: PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN NELAYAN DALAM KAITANNYA DENGAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANGKAPAN IKAN (Small-Scale Fishing: Fishers Decision-Making in Relation to Fishing Factors in Conserving Sustainability of Fishing)
ABSTRACTThe human element is an important key factor in the success of small-scale fishing activities. Knowledge of decision-making by fishermen in choosing the location of fishing will determine the sustainability of fisheries resources. There were two aims in this paper which are to explore factors that influenced the decision-making process and to determine how to choose fishing grounds. This method used content analysis to examine the relevant literature. Results showed that some factors that influence decision making process were weather, currents, familiarity with fishing grounds, sources and sharing information, available resources, recent catch effort, socio-historical-cultural and economic factors. Choosing fishing location was determined by the safely routes, travel costs, profit maximization, information, environmental factors, and individual personality.Key words: decision-making process, small-scale fishers-------ABSTRAKUnsur manusia merupakan faktor kunci penting dalam suksesnya kegiatan penangkapan ikan skala kecil. Pengetahuan tentang pengambilan keputusan yang dilakukan oleh nelayan dalam memilih lokasi penangkapan ikan akan menentukan keberlanjutan sumber daya perikanan. Ada dua tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan nelayan skala kecil dalam hal penangkapan ikan dan cara menentukan lokasi penangkapan ikan. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur / studi pustaka dari berbagai jurnal penelitian. Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa faktor cuaca, arus angin, familiar dengan lokasi, berbagi pengalaman dengan nelayan lainnya, hasil tangkapan sebelumnya, ketersediaan sumberdaya, faktor lingkungan sosial, ekonomi, budaya, berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan nelayan. Nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan dilakukan dengan cara memilih rute perjalanan yang aman, memperhitungkan biaya operasional penangkapan ikan, mendapatkan keuntungan maksimal, informasi, faktor lingkungan, ataupun kepribadian individu.Kata kunci: proses pengambilan keputusan, nelayan skala keci
PERBAIKAN KONSTRUKSI BUBU ELVER SKALA LABORATORIUM (Correction of Elver Trap Contruction in Laboratory Scale)
ABSTRACTPVC trap is used by fisherman in Java Island, southern waters to capture elver, or juvenileeels measuring < 10 gr. The problems are that trap catches too less and elver in injured condition,while buyers need a lot of good elvers for cultivating. This study tried to fix a trap construction sothat function more effective and doesn’t hurt elver. All experiments were conducted in the FishingGear Laboratory, Bogor Agricultural University. Three sections of traps were examined were therear cover of trap construction, entrance of trap construction and application two doors of traps.Furthermore, new traps made by three criteria were obtained. The entire test was conducted in theexperimental tank containing between 30-100 elvers. The test was done as much as 20-25 timeswith 20 minutes soaking time. The results showed that more elvers enter the trap which does notseal, the entrance was made from nets and had two doors of the trap. The construction trap basedon three criteria was more effective which could trap 355 elvers or 6.12 times more than thefisherman’s trap (58 elvers).Key words: elver, PVC traps, ijep, Java Island, laboratory--------ABSTRAKBubu paralon digunakan oleh nelayan di perairan selatan Pulau Jawa untuk menangkapjuvenil sidat (elver) berukuran < 10 g. Permasalahannya, jumlah tangkapan bubu tersebut sangatsedikit dan elver yang tertangkap sering dalam kondisi terluka, padahal pembeli membutuhkansangat banyak elver yang sehat untuk dibudidayakan. Penelitian ini mencoba memperbaikikonstruksi bubu agar lebih efektif dan tidak melukai elver. Seluruh penelitian dilaksanakan diLaboratorium Bahan dan Alat Penangkap Ikan, Institut Pertanian Bogor. Tiga bagian bubu yangditeliti adalah konstruksi tutupan bagian belakang bubu, konstruksi pintu masuk bubu danpenggunaan dua pintu. Selanjutnya, bubu dibuat berdasarkan ketiga kriteria yang didapatkan.Seluruh pengujian dilakukan di dalam tangki percobaan yang berisi antara 30-100 elver. Pengujiandilakukan sebanyak 20–25 ulangan dengan lama perendaman 20 menit. Hasilnya menunjukkanbahwa elver lebih banyak masuk ke dalam bubu yang tidak tertutup rapat, pintu masuk terbuat darijaring dan memiliki 2 pintu. Konstruksi bubu yang dibuat berdasarkan tiga kriteria tersebut dapatmemerangkap 355 elver, atau 6,12 kali lebih banyak dibandingkan dengan bubu nelayan (58elver).Kata kunci: elver, bubu paralon, ijep, Pulau Jawa, laboratoriu
KO-EKSISTENSI KEGIATAN PERIKANAN TANGKAP DAN KEBERADAAN ANJUNGAN MIGAS DI LAUT SERTA PENDEKATAN PENGELOLAANNYA DI PANTAI UTARA JAWA BARAT (Coexistence between Capture Fisheries and Oil & Gas Platform – A Management Approach in Northern Coast of West Java)
ABSTRACTIntersection of capture fisheries activities and offshore oil and gas exploitation occurs because they use same areas. Restricted zone at 500 meters radius from oil and gas platform has both positive and negative impacts to ecological, social as well as economic. This condition triggers negative perception and social conflict from fishers community. This paper aims to describe coexistence impact and benefit of both capture fisheries and oil & gas platform, identify stakeholders involved and determine management recommendation. Northern coast of West Java-Indonesia is selected as case study location. The qualitative descriptive, stakeholders identification and gap analysis from Focus Group Discussion (FGD) are undertaken as the method of this study. The qualitative descriptive method is used to describe the positive and negative impact of coexistence between capture fisheries and oil and gas platform. Method for identifying stakeholders is used a continuum of stakeholders from the macro to the micro level. Determination of management recommendation is arranged with gap analysis. Restricted zone at 500 meters radius from oil and gas platform plays as a conservation zone for fishes, and increases productivity of fishers, but it is still triggered negative perception from fishers. Thirteen stakeholders are identified. They have the role and function to manage coexistence of both activities. Management approach should focus on regulation, ecology, social and economic aspects. Role and function played by 13 stakeholders will make both activities go with harmony.Keywords: coexistence, oil & gas platform, capture fisheries, stakeholders-------ABSTRAKKegiatan pertambangan migas di lepas pantai (offshore) seringkali bersinggungan dengan kegiatan penangkapan ikan, karena menggunakan perairan yang sama. Larangan bagi nelayan memasuki zona terlarang hingga radius 500 meter dari bagian terluar anjungan migas menimbulkan dampak positif dan negatif baik secara ekologi, sosial maupun ekonomi. Kondisi ini seringkali memunculkan persepsi negatif dan dapat meningkat menjadi konflik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi manfaat keberadaan masing-masing kegiatan (ko-eksistensi), menentukan stakeholders terkait dalam pengelolaan dan menentukan rekomendasi pengelolaan ko-eksistensi kedua kegiatan. Makalah ini mengangkat studi kasus di perairan pantura (pantai utara) Jawa Barat. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, stakeholder analysis dan gap analysis yang bersumber dari Focus Group Discussion (FGD). Deskriptif kualitatif untuk memaparkan manfaat positif-negatif kedua kegiatan serta persepsi nelayan terhadap keberadaan anjungan migas di laut. Stakeholders diidentifikasi berdasarkan tingkatan kesatuannya dari level makro hingga mikro, serta gap analysis untuk merumuskan rekomendasi pengelolaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan anjungan dan zona terlarang dapat menjadi kawasan konservasi sumber daya ikan, namun memunculkan persepsi negatif dari nelayan dan berpengaruh positif terhadap produktivitas penangkapan. Kajian terhadap stakeholders menunjukkan bahwa terdapat 13 stakeholders yang memiliki peran dan fungsi dalam mengelola kondisi ko-eksistensi antara kegiatan penangkapan ikan dengan keberadaan anjungan migas ini. Pendekatan pengelolaan dengan fokus pengelolaan pada aspek regulasi, ekologi, sosial dan ekonomi dengan pelaksanaan peran dan fungsi masing-masing stakeholders dapat menjadikan kegiatan perikanan tangkap dan keberadaan anjungan dapat berjalan secara selaras dan bermanfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi.Kata kunci: ko-eksistensi, anjungan migas, penangkapan ikan, stakeholder
KEPUASAN NELAYAN TERHADAP PELAYANAN PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) KEJAWANAN CIREBON (Fishermen Satisfaction Service in Kejawanan Cirebon Fishing Port)
ABSTRACTOne of the services with an important role in the fisheries is the availability of services in the fishing port. Provision of services will affect to the level of satisfaction fishermen. Satisfaction fishermen are something important in supporting performance and the development of a fishing port. This study aims to determine what service attributes that already meet the satisfaction of the fishermen, knowing service attributes that need to be prioritized according to the repair or improvement of fishermen, and assess the level of satisfaction with the services of Kejawanan Fishing port’s fishermen overall. The study was conducted at the Fishery Port Nusantara (PPN) Kejawanan in Cirebon, West Java. The study was conducted in August and October 2015 for 14 days. Collecting data using interviews with 17 respondents. Analysis of data using Importance and Performance Analysis (IPA) and Customer satisfaction Index (CSI) using 15 attributes assessment. The results showed that there are eight service attributes were considered to have met the fishermen satisfactory that the physical condition of the facility; the availability of the number of officers; their service procedures are clear; officers provide services as promised; speed of officers in handling services; alacrity officers in serving the fishermen; friendliness, attention and attitude of officers; and delivery of information. There are two attributes of service that still needs to be improved, namely the handling of complaints of fishermen; and the officer knows, understanding the needs and desires of fishermen. Overall fishermen have felt very satisfied with the services provided by the port.Keywords: fishermen satisfaction, Kejawanan fishing port, service-------ABSTRAKSalah satu bentuk pelayanan yang mempunyai peranan penting dalam dunia perikanan yaitu tersedianya pelayanan jasa di pelabuhan perikanan. Pemberian pelayanan akan berpengaruh terhadap tingkat kepuasan nelayan. Kepuasan nelayan penting dalam menunjang kinerja dan pengembangan suatu pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atribut pelayanan apa saja yang sudah memenuhi kepuasan nelayan, mengetahui atribut pelayanan yang perlu mendapatkan prioritas perbaikan atau peningkatan menurut nelayan PPN Kejawanan, dan menilai tingkat kepuasan nelayan terhadap pelayanan PPN Kejawanan secara keseluruhan. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan di Cirebon Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus dan Oktober 2015 selama 14 hari. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara kepada 17 responden. Analisis data menggunakan Importance and Performance Analysis (IPA) dan Customer Statisfaction Index (CSI) menggunakan 15 atribut penilaian. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 8 atribut pelayanan yang dianggap telah memenuhi kepuasan nelayan yaitu kondisi fisik fasilitas; ketersediaan jumlah petugas; adanya prosedur pelayanan yang jelas; petugas memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan; kecepatan petugas dalam menangani pelayanan; kesigapan petugas dalam melayani nelayan; keramahan, perhatian dan sikap petugas; dan penyampaian informasi. Terdapat 2 atribut pelayanan yang masih perlu di tingkatkan yaitu penanganan keluhan nelayan; dan petugas mengetahui, mamahami kebutuhan dan keinginan nelayan. Secara keseluruhan nelayan sudah merasa sangat puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh pihak pelabuhan.Kata kunci: tingkat kepuasan nelayan, PPN Kejawanan, pelayana
PENGUKURAN TARGET STRENGTH DAN STOK IKAN DI PERAIRAN PULAU PARI MENGGUNAKAN METODE SINGLE ECHO DETECTOR (Measurement of Target Strength and Fish Stock in Pari Islands Seawaters Using Single Echo Detector Method)
ABSTRACTEchoes from two targets cannot be distinguished if two targets are located in the same range. This will cause an error in some analysis process such as analysis to estimate fish density. Therefore, a high quality of single echo detection (SED) is needed to minimalize the overlapping echo. The aim of this study is to estimate target strength and density of the fish / stock using different SED criteria using split beam echo sounder in Pari Island. Data processing used was Sonar5-pro software for SED measurement. Data processing stages were producing new SED-echogram and executing biomass analysis using Sv/TS Scaling method. SED criteria setting are SED-ori, SED-d, SED-f, and SED-m. Using different SED criteria in biomass analysis produces different target strength and density of fish. Number of single fish detection and fish size proportion in each SED criteria setting is different. Distribution of Target Strength (TS) is dominated by -70 dB to -61 dB, fish length 0,8-2,2 cm, and density 1.000-5.000 fish/ha. The suggested SED criteria are SED-f for a high accuracy measurement.Keywords: fish density, Pari Island, single echo detection, target strength, split beam echo sounder-------ABSTRAKGema dari dua target tidak dapat dipisahkan jika kedua target berada dalam jarak yang sama. Hal ini menyebabkan terjadinya kesalahan dalam proses pengolahan data seperti analisis untuk mengestimasi densitas atau stok ikan. Oleh karena itu diperlukan metode single echo detection (SED) dengan kualitas tinggi untuk mereduksi gema yang tumpang tindih. Tujuan penelitian ini adalah mengestimasi target strength dan densitas ikan menggunakan pengaturan kriteria SED yang berbeda. Data yang digunakan merupakan data split beam echosounder di perairan Pulau Pari pada bulan Juni 2014. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak Sonar5-pro. Tahapannya terdiri dari pembuatan SED-echogram baru dan analisis biomassa menggunakan metode Sv/TS Scaling. Pengaturan kriteria SED yang digunakan adalah SED-ori, SED-d, SED-f, dan SED-m. Penggunaan pengaturan kriteria SED yang berbeda dalam analisis biomassa menghasilkan nilai target strength dan densitas ikan yang berbeda. Jumlah ikan tunggal yang terdeteksi dan proporsi ukuran ikan juga berbeda pada tiap pengaturan kriteria SED. Dominasi sebaran target strength adalah -70 dB sampai dengan -61 dB (small), ukuran panjang ikan 0,8-2,2 cm (small), dan densitas 1.000-5.000 fish/ha. Pengaturan kriteria SED yang disarankan adalah SED-f karena memiliki akurasi tinggi.Kata kunci: densitas ikan, Pulau Pari, single echo detection, target strength, split beam echo sounde