Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
314 research outputs found
Sort by
UPAYA PENANGANAN MUTU IKAN TUNA SEGAR HASIL TANGKAPAN KAPAL TUNA LONGLINE UNTUK TUJUAN EKSPOR (Fresh Tuna Handling Quality for Tuna Longliner Caching for Export Market)
ABSTRACTThe main purpose of fresh tuna longline fishing vessels operations is fresh tuna for export. The main market of these products are Japan, American and European Union. The markets require a high quality product that goes to the country. This paper is review of the research were conducted in 2007 and 2010, aims to compare the proportion of feasibility of tuna for export from fresh tunalongliner. The study is based on the research results that conducted in the PPS Muara Baru in April-Mei 2007 and September-Oktober 2010. Method of the research have used mapping control analysis. The results showed that the proportion of products that meet the standards of export in 2007 outside the control of the Central Line (GT): 50,40; Upper Line (BA): 51,45-54,14 and Bottom Line (BB): 47,46-49,35. Meanwhile, the research results of 2010 also showed out of control, with the GT: 21,50; BA: 24,55 and BB: 18,45. Thus although there is a decrease proportion for products that do not meet the export quality standards from 50,40% in 2007 to 21,50% in 2010. Based on these result, we can conclude that there is an increase the proportion of viable tuna export product, indicate that there were an improvement in quality control on fresh tuna longline fishing vessels.Key words: fresh tuna longliner, fresh tuna products, “mapping control”, the feasibility quality-------ABSTRAKTujuan utama operasi penangkapan ikan kapal fresh tuna longline adalah ikan tuna segar untuk tujuan ekspor. Pasar ekspor utama produk tuna segar adalah Jepang, Amerika dan Uni Eropa. Pasar ini mensyaratkan mutu yang tinggi untuk produk yang masuk ke negaranya. Naskah ini merupakan review terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2007 dan 2010, dengan tujuan untuk membandingkan proporsi ikan tuna yang layak ekspor hasil tangkapan kapal tuna longline. Penelitian telah dilakukan di PPS Muara Baru, yaitu pada bulan April-Mei tahun 2007 dan bulan September-Oktober tahun 2010. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis peta kendali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi produk yang tidak memenuhi standar ekspor pada tahun 2007 diluar kendali dengan Garis Tengah (GT): 50,40; Batas Atas (BA): 51,45-54,14 dan Batas Bawah (BB): 47,46-49,35. Sementara itu hasil penelitian tahun 2010 juga menunjukan hasil diluar kendali, dengan GT: 21,50; BA: 24,55 dan BB: 18,45. Namun demikian terdapat penurunan proporsi produk yang tidak memenuhi standar kualitas ekspor dari 50,40% pada tahun 2007 menjadi 21,50% tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa, terdapat peningkatan proporsi produk yang layak ekspor, dengan adanya upaya peningkatan pengendalian mutu pada kapal fresh tuna longline.Kata kunci: kapal fresh tuna longline, produk tuna segar, peta kendali, kelayakan mut
PENGUATAN CAHAYA PADA BAGAN MENGGUNAKAN REFLEKTOR KERUCUT SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN CUMI-CUMI (Light Strengthening on Lift Net with Conical Reflectors to Squid Catch Improvement)
ABSTRACTStudy of light strengthening on lift net with conical reflectors was conducted in Kao Bay waters. Three units of lift net were operated 14 nights at the full moon condition. Every lift nets were completed with three different kind of lamp cover, called tudung, reflector αr23,3o and αr32,6o. Fishing operation time of lift net were divided into two intervals of time i.e 20.00-01.00 and 01.00-05.00 WIT (East Indonesian Timezone). Total yield of lift net with reflector αr23,3o was 5.774 kg (41,45%), while that of the lift net with reflector αr 32,6o was 4.977 kg (35,72%), and that of total yield of the lift net with tudung was 3.180 kg (22,83 %). Fishing operation time of lift net at 01.00-05.00 WIT (East Indonesian Timezone) produced 12.661 kg (91 %) weight of total catch, higher than fishing operation of lift net at 20.00-01.00 am that produced 1.270 kg (9 %) weight of total catch. However, statistical analysis concluded that design of the reflector did not significantly affect the catch per trip (Pvalue > 0,05) while fishing time significantly affected the catch per trip (Pvalue < 0,05).Key words: Kao Bay, light, reflector, squid-------ABSTRAKPenelitian tentang pengaruh penguatan cahaya pada bagan dengan reflektor kerucut terhadap hasil tangkapan cumi-cumi dilakukan di perairan Teluk Kao. Tiga unit bagan dioperasikan selama 14 malam pada saat kondisi terang bulan. Masing-masing bagan dilengkapi penutup lampu berbeda, yaitu tudung standar, reflektor kerucut αr23,3o dan αr32,6o. Setiap pengoperasian bagan dibagi dalam dua interval waktu, yaitu antara 20.00-01.00 WIT dan 01.00-05.00 WIT. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan reflektor αr23,3o memberikan hasil tangkapan cumi-cumi paling banyak dengan bobot total 5.774 kg (41,45%), sedangkan bagan dengan reflektor αr32,6o seberat 4.977 kg (35,72%), dan bagan dengan tudung 3.180 kg (22,83%). Pengoperasian bagan pada interval waktu penangkapan 01.00-05.00 WIT menghasilkan bobot tangkapan 12.661 kg (91%), atau lebih tinggi dari interval waktu penangkapan 20.00-01.00 WIT (1.270 kg) atau 9% dari total hasil tangkapan. Namun hasil uji statistik menyimpulkan bahwa faktor tudung tidak berpengaruh nyata terhadap tangkapan cumi-cumi per trip sedangkan faktor interval waktu penangkapan berpengaruh nyata (Pvalue = 0,05).Kata kunci: Teluk Kao, cahaya, reflektor, cumi-cum
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN DAN IKAN TARGET PERIKANAN RAWAI TUNA BAGIAN TIMUR SAMUDERA HINDIA (Catch Composition of By-Catch and Target Species on Tuna Longline Fisheries in Eastern Indian Ocean)
ABSTRACTTuna longline operations also capture other than tuna species are known as by-catch are caught accidentally due to the ecological linkages. This study aims to identify the species composition of by-catch and try to analyzed the interaction of non-target species with tuna species as the target species on tuna longline fishery in the eastern Indian Ocean. Surveillance was conducted on February 2013-January 2014 by following 7 commercial tuna longliners vessel with fishing operations for 226 days. The results showed there were 36 species, where the target species consists of 4 tuna species (26.11%) and 32 by-catch species consist of by-product (24.08%) and that is not utilized (discards, 49.74%). The Results of by-catch are consists of a lancetfish (Alepisaurus spp., 42.87%), pelagic stingray (Pteroplatytrygon violacea, 22.05%), escolar (Lepidocybium flavobrunneum, 10.22%) and sickle pomfret (Taractichthys steindachneri, 8.21%), while for other species consists of are billfishes (6 species), shark and rays species (10 species), bony fishes (11 species) and turtles (olive ridley).Keywords: by-catch, tuna longline, Indian ocean-------ABSTRAKPengoperasian rawai tuna juga menangkap jenis-jenis lain selain tuna yang dikenal dengan sebutan hasil tangkap sampingan (HTS atau by-catch) yang tertangkap secara tidak sengaja dikarenakan adanya keterkaitan secara ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi jenis hasil tangkap sampingan dan mencoba menganalisis hubungan interaksi ikan hasil tangkap sampingan dengan ikan tuna sebagai tangkapan utama (target species) pada perikanan rawai tuna di bagian timur Samudera Hindia. Pengamatan dilakukan pada bulan Februari 2013-Januari 2014 dengan mengikuti kegiatan operasi penangkapan 7 kapal rawai tuna komersial dengan selama 226 hari operasi penangkapan. Hasil penelitian menunjukkanterdapat 35 jenis ikan dan 1 jenis penyu dimana target utama terdiri dari 4 jenis ikan (26,11%) dan hasil tangkapan sampingan 31 jenis ikan dan 1 jenis penyu dimana yang dimanfaatkan (by-product) (24,08%) dan yang tidak dimanfaatkan (discards) (49,74%). Hasil tangkapan sampingan berturut-turut didominasi oleh ikan naga (Alepisaurus spp., 42,87%), pari lemer (Pteroplatytrygon violacea, 22,05%), ikan setan (Lepidocybium flavobrunneum, 10,22%) dan bawal sabit (Taractichthys steindachneri, 8,21%), selanjutnya juga tertangkap jenis paruh panjang (billfish, 6 spesies), jenis cucut dan pari (elasmobranchii, 10 spesies), jenis teleostei (bony fishes,11 spesies) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).Kata kunci: Hasil tangkap sampingan, rawai tuna, Samudera Hindi
PENGARUH PEMIKAT CAHAYA BERKEDIP PADA BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN KARANG (The Effect of Blinking Light Attractor on Trap Toward the Capture of Coral Fishes)
ABSTRACTThis study was aimed at observing the influence of blinking light attractor of trap on the coral fish catch and identifying the catch species. It was carried out in the coastal waters of Kampung Ambon, East Likupang district, North Minahasa Regency using an experimental method. Data were collected using 6 iron-framed fish traps of net wall and operated for 6 days. Three units had Mackerel and blinking light, and the other three used only Mackerels as bait. Results showed that there were total 71 individuals of fish caught, 49 fish were caught in the blinking light traps and 22 individuals in the trap without blinking light. T-test indicated highly significant different effect on the catch gain between trap with blinking light and that without blinking light.Keywords: attractor, blinking light, coral fish, trap-------ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penggunaan atraktor cahaya berkedip pada bubu terhadap hasil tangkapan ikan karang dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan hasil tangkapan. Penelitian ini dilakukan di perairan pantai Kampung Ambon, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara dengan menggunakan metode eksperimen. Data dikumpulkan dari enam unit bubu besi dengan dinding jaring, selama 6 hari. Pada 3 unit bubu dipasangkan umpan ikan Malalugis dan cahaya berkedip; dan 3 unit lainnya hanya dipasangkan umpan ikan Malalugis. Hasil tangkapan bubu selama penelitian berjumlah 71 ekor ikan, dimana 49 ekor ikan tertangkap dengan bubu lampu kedip dan 22 ekor ikan tertangkap dengan bubu tanpa cahaya berkedip. Hasil analisis uji t menunjukan pengaruh yang berbeda nyata terhadap hasil tangkapan antara bubu dengan cahaya berkedip dan bubu tanpa lampu berkedip.Kata kunci: atraktor, cahaya berkedip, ikan karang, bub
BIOMASSA SESAAT SUMBER DAYA PERIKANAN UNDUR-UNDUR LAUT (CRUSTACEA: DECAPODA: HIPPIDAE) DI PANTAI BERPASIR CILACAP DAN KEBUMEN, JAWA TENGAH
ABSTRACTMole crab is a benthic animal that live buried in sandy beach in the intertidal area. Mole crab has an important ecological role and also has economic value. The sandy beach in south of Cilacap and Kebumen is mole crab’s habitat. Mole crab exploitation in these areas has been increasing for consumption demand. To determine the significant role of the mole crab in the provision of nutritious food, it is necessary to estimate the potential of mole crab biomass. This study aims to determine standing biomass of the mole crab in Kebumen and Cilacap sandy beaches. The specimen collection was conducted by sampling methods every month in March 2012 to February 2013 on Bocor beach, Kebumen and June 2013 to May 2014 on Bunton beach, Cilacap. The data processing was conducted by descriptive statistics methods. The results showed that standing biomass of mole crab family Hippidae, namely Emerita emeritus and Hippa adactyla, fluctuated between 102 and 508 kg on the Kebumen sandy beach, and between 1,811 and 4,671 kg on the Cilacap sandy beach. Standing biomass of E. emeritus fluctuated between 82 and 497 kg on the Kebumen sandy beach and between 1,462 and 3,560 kg on the Cilacap sandy beach.Standing biomass of H. adactyla fluctuated between 2 and 133 kg on the Kebumen sandy beach, and between 234 and 1,701 kg on the Cilacap sandy beach. The difference in standing biomass in each location was caused by the difference of sampling time and environment condition of research area. The economic value potential of the mole crab as fishery resources is discussed.Keywords: Emerita emeritus, Hippa adactyla, Hippidae, momentarily biomass,ABSTRAKUndur-undur laut adalah kelompok hewan bentik yang hidup mengubur di daerah intertidal bersusbtrat pasir. Undur-undur laut mempunyai peran ekologis penting dan juga bernilai ekonomis. Pantai berpasir selatan Cilacap dan Kebumen adalah habitat undur-undur laut. Penangkapan undur-undur laut di kedua wilayah tersebut makin meningkat untuk kebutuhan konsumsi. Untuk mengetahui peran undur-undur laut dalam mendukung penyediaan bahan pangan bergizi, perlu diketahui potensi biomassa undur-undur laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biomassa sesaat undur-undur laut dan fluktuasinya di pantai berpasir Kabupaten Kebumen dan Cilacap. Pengumpulan spesimen undur-undur laut dilakukan dengan metode sampling setiap bulan pada Maret 2012 hingga Februari 2013 di pantai Bocor Kebumen dan pada Juni 2013 hingga Mei 2014 di pantai Bunton Cilacap. Pengolahan data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besaran biomassa sesaat (standing biomass) undur-undur laut famili Hippidae, yaitu Emerita emeritus dan Hippa adactyla, berfluktuasi antara 102 kg hingga 508 kg di pantai berpasir Kebumen, dan antara 1.811 kg hingga 4.671 kg di pantai berpasir Cilacap. Standing biomass E. emeritus berfluktuasi antara 82 kg hingga 497 kg di pantai berpasir Kebumen dan antara 1.462 kg hingga 3.560 kg di pantai berpasir Cilacap. Standing biomass H. adactylaberkisar antara 2 kg hingga 133 kg di pantai berpasir Kebumen, dan antara 234 kg hingga 1.701 kg di pantai berpasir Cilacap. Perbedaan besaran standing biomass di masing-masing lokasi dipengaruhi oleh perbedaan waktu pengumpulan data undur-undur laut dan perbedaan kondisi lingkungan lokasi penelitian. Potensi ekonomi sebagai sumber daya perikanan undur -undur laut juga dibahas dalam paper ini.Kata kunci: Emerita emeritus, Hippa adactyla, Hippidae, biomassa sesaa
IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU PADA INDUSTRI PENANGKAPAN IKAN (Implementation of Quality Management on Fishing Industry)
ABSTRAKThe Indonesian government has already paid high attention to the quality assurance of fishery products. It can be seen from the legislation and policies that have been established. In a Ministry of Marine Affari Regulation (Kepmen KP 01/MEN/2007) clearly stated that the quality assurance requirements and food safety of fishery products, start from the production, processing and distribution. Meanwhile, fisherman understanding of the qualityof fish product is still low. This study was conducted to assess the implementation of Kepmen KP 01/MEN/2007 in the fishing industry. Analysis of the the implementation of the quality elements refers to “The Aplication of the guidelines of PMMT based on the conception HACCP” (Dirjen Perikanan Tangkap, 1999). The results showed that the implementation of quality management system according Kepmen KP 01/MEN/2007 on fishing vessels in Palabuhanratu fishing port wasstill dificult to implement. In small vessels, factors that wascause the difficulty of implementation wasthe limited space of fishing boat and knowledge of fisherman. While in the long line and trolling, structural requirements, the feasibility of the ship and regristation of ship has already implemented, but related to hygiene and handling of fish on board have not implemented properly.Key words: fishing industry, implementation of quality management, Kepmen 01/MEN/2007, PPNPalabuhanratu-------ABSTRAKKeberpihakan pemerintah terhadap jaminan mutu pada produk hasil perikanan sudah cukup tinggi, terlihat dari peraturan perundang-undangan ataupun kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Pada Kepmen 01/MEN/2007 tersirat dengan jelas persyaratan jaminan mutu dan keamanan pangan produk-produk perikanan, mulai dari proses produksi, pengolahan dan distribusi. Sementara itu pemahaman mengenai mutu ikan di tingkat nelayan sebagai pelaku utama industri penangkapan ikan masih rendah. Penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauhmana implementasi dari Kepmen 01/MEN/2007 pada industri penangkap ikan.Analisis kesesuaian implementasi unsur-unsur manajemen mutudilakukan dengan mengacu pada ”Pedoman Penerapan PMMT Berdasarkan Konsepsi HACCP” (Dirjen Perikanan Tangkap 1999). Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan atau implementasi manajemen mutu sesuai Kepmen No.01/Men/2007pada kapal penangkap ikan di PPN Palabuhanratu masih sulit untuk diimplementasikan. Pada kapal berukuran kecil, keterbatasan ruang dan keterbatasan pengetahuan ABK, menjadi faktor sulitnya implementasi, sPersyaratan struktur dan kelayakan kapal serta registrasi sudah diimplementasikan pada kapallongline dan pancing tonda, gistra.Namun terkait dengan higiene kapal dan penanganan masih belum diimplementasikan dengan baik.Kata kunci: industri penangkapa
PENGARUH PERBEDAAN ATRAKTOR TERHADAP HASIL TANGKAPAN JUVENIL LOBSTER DENGAN KORANG DI DESA SANGRAWAYAN, PALABUHANRATU (The Effect of Different Attractor Against Catch of Juvenile Lobster By Korang in Sangrawayan Village, Palabuhanratu)
ABSTRACTThis research has been done in Palabuhanratu bay, Indonesia. Juvenile lobster (Panulirus sp.) is the main target fish in this research. This research was used Fish Aggregating Devices with two different types of attractor. This research was aimed to known differences in the effectiveness of attractor that had been calculated used on Mann-Whitney Methode. Attractor which used for comparison were seaweed and palm leaf as a test and a seaweed as a control. Korang was a tool that used to gotten a data and put a attractor. The result of comparition show that a total of catches with seaweed and palm leaf more than seaweed. From the result concluded that seaweed and palm leaf more effective than seaweed.Key words: effectiveness of attractor, juvenile lobster, fish aggregating devices, korang-------ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di perairan Teluk Palabuhanratu, Indonesia dengan target utama tangkapan juvenil lobster (Panulirus sp.). Penelitian ini menggunakan rumpon dengan 2 jenis atraktor yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efektivitas atraktor yang dihitung menggunakan Mann-Whitney. Atraktor yang digunakan untuk perbandingan adalah rumput laut dan daun kelapa sebagai percobaan dengan rumput laut sebagai kontrol. Korang merupakan alat yang digunakan unuk pengambilan data sekaligus tempat meletakkan atraktor. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa jumlah hasil tangkapan pada atraktor rumput laut dan daun kelapa lebih banyak dibandingkan dengan rumput laut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa atraktor rumput laut dan daun kelapa lebih efektif dibandingkan dengan rumput laut.Kata kunci: efektivitas atraktor, juvenil lobster, rumpon, koran
SASARAN STRATEGIS PENGEMBANGAN MODEL KLUSTER INDUSTRI PERIKANAN TANGKAP (Strategic objectives for Cluster Development Model of Capture Fisheries Industry)
ABSTRACTCluster model in fisheries industry base on leading commodity is a policies initiated by the Ministry of Fisheries and Marine Affairs to promote the accelerated development of marine and fisheries sector. Palabuhanratu is one of the areas designated as fisheries industry cluster development. The successful development of the program needs to be evaluated by measurable indicators. This study aims to formulate strategic goals as a measure of the success of the development model of capture fisheries industrial clusters in Palabuhanratu. SWOT analysis and balanced scorecard are used to formulate a strategy and a benchmark for the success of the program. The study states that the strategic objectives of capture fisheries industry cluster development in Palabuhanratu should be able to synergize the interests of actors and interests among sectors in order to create industries competitiveness and productiveness. Factors of successinclude8 strategic targets with 17 benchmarks are covered in 4 perspectives: customer and stakeholder perspective, financial, internal business and institutional perspective. Strategic objectives include balancing utilization and conservation, continuity of production, quality, customer satisfaction, supply chain integration, partnerships, and commitment among the actors in the development of the program.Keywords: cluster industry model, Palabuhanratu, capture fisheries, strategic objective, benchmark-------ABSTRAKModel kluster industri perikanan berbasis komoditas unggulan merupakan kebijakan yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mendorong percepatan pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Palabuhanratu merupakan salah satu lokasi yang ditetapkan sebagai kawasan pengembangan kluster industri perikanan tangkap. Keberhasilan pengembangan program perlu dievaluasi melalui indikator yang terukur. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sasaran strategis sebagai tolok ukur keberhasilan pengembangan model kluster industri perikanan tangkap di Palabuhanratu. Analisis SWOT dan balanced scorecard digunakan untuk merumuskan strategi dan tolok ukur keberhasilan program. Hasil penelitian menyatakan bahwa sasaran strategis pengembangan kluster industri perikanan tangkap di Palabuhanratu harus dapat mensinergikan kepentingan para pelaku dan kepentingan antar sektor untuk dapat menciptakan industri yang memiliki daya saing dan produktif. Faktor keberhasilan mencakup 8 sasaran strategis, dengan 17 tolok ukur keberhasilan yang tercakup dalam 4 perspektif yaitu perpektif pelanggan dan stakeholder, keuangan, bisnis internal dan perspektif kelembagaan. Sasaran strategis meliputi keseimbangan pemanfaatan dan konservasi, kontinuitas produksi, mutu, kepuasan pelanggan, integrasi rantai pasok, kemitraan, dan komitmen diantara para pelaku dalam pengembangan program.Kata kunci: model kluster industri, Palabuhanratu, perikanan tangkap, sasaran strategis, tolok uku
RANCANG BANGUN BUBU ELVER SPIRAL (Desain of Elver Spiral Traps)
ABSTRACTPVC trap is used by fisherman in the southern Java Island waters to capture elver or juvenile eels measuring < 10 gr. One of some problems is how difficult the traps transportation in great quantities. This study tried to design a new trap from spiral little iron material as frame construction. The aim is toward easy tobe shorted so became simple transportation of traps. All experiments were conducted on the Fishing Gear Laboratory, Bogor Agricultural University. The study is divided into two stages, that are design of spiral traps and testing the effectiveness of a spiral trap with two pipe traps, that are elver traps modification (Sururi et al. 2014) and fisherman‘s traps as control. The entire test was conducted in the experimental tank containing between 60 elvers with 20 times repetition. The soaking time were done within 20 minutes of observation each. Spiral traps design giving simpler and easier in transporting traps, because ist weight is 0.24 kg or 3.25 time less weigh than elver traps modification and 2.16 time less weight than fisherman traps. Beside, spiral traps can be shorted to 6 cm, or 8.3 time shorter than elver traps modification and 5 time shorter than fisherman traps. The results showed that spiral traps construction caught 286 individuals or more than elver traps modification (165 individuals) and fishermen’s traps (43 individuals).Keywords: PVC traps, elver, ijep, spiral traps-------ABSTRAKBubu elver digunakan oleh nelayan di perairan selatan Pulau Jawa untuk menangkap elver atau juvenil sidat berukuran < 10 g. Salah satu permasalahannya, pengangkutan bubu dalam jumlah banyak cukup sulit dilakukan. Penelitian ini mencoba merancang bubu dari material kawat besi berbentuk spiral agar bubu dapat dipendekkan sehingga memudahkan dalam pengangkutan-nya. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Alat Penangkapan Ikan, Institut Pertanian Bogor. Kegiatan terdiri atas 2 bagian, yaitu perancangan bubu dan pengujian bubu elver spiral dibandingkan dengan bubu elver modifikasi (Sururi et al. 2014) dan bubu elver milik nelayan sebagai kontrol. Pengujian dilakukan di dalam tangki percobaan yang berisi 60 elver sebanyak 20 ulangan. Lama perendaman bubu 20 menit per ulangan. Bubu elver spiral lebih simpel dan mudah dalam pengangkutannya, karena berat bubu hanya 0,24 kg atau 3,25 kali lebih ringan dari bubu elver modifikasi dan 2,16 kali lebih ringan dari bubu elver standar. Selain itu, bubu elver spiral juga dapat dipendekkan hingga 6 cm, atau 8,3 kali lebih pendek dari bubu elver modifikasi dan 5 kali lebih pendek dari bubu elver standar. Berdasarkan hasil pengujian, bubu elver spiral memerangkap elver sejumlah 286 ekor, atau lebih banyak dibandingkan dengan bubu elver modifikasi 165 ekor dan bubu elver standar 43 ekor.Kata kunci: Bubu elver, elver, ijep, bubu spira
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN PUKAT CINCIN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) LAMPULO BANDA ACEH PROPINSI ACEH (Analysis Financial Fisheries of Purse Seine in Lampulo Fishing Port Banda Aceh Provinsi Aceh)
ABSTRACTThis research was realized in January-February 2013 at Lampulo Fishing Port Banda Aceh. Sample were selected using purposive sampling. Data used in this reseach is primary data and sekundary data. Method analyzes data used descriptive method and analysis financial. The Results of this study show that of the purse seine fisheries feasibility between the daily and weekly still qualified and feasible to continued. The calculations results of the purse seine fisheries feasibility between the daily Net Present Value (NPV) 294,909,091, IRR 12.10% and B/C 10.47. The calculations results of the purse seine fisheries feasibility between the weekly Net Present Value (NPV) Rp 2,703,945,455, IRR 12.14% and B/C 13.86.Key words: Analysis financial, lampulo, fisheries, purse seine-------ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan mulai Januari sampai Februari 2013 di pelabuhan perikanan pantai (PPP) Lampulo Banda Aceh. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Data yang diambil data primer dan sekunder. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis finansial usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha perikanan pukat cincin harian dan mingguan di Lampulo memenuhi persyaratan dan masih layak dilanjutkan. Hasil perhitungan kelayakan usaha pada usaha perikanan pukat cincin harian Net Present Value (NPV) Rp 294.909.091, IRR 12,10% dan B/C 10,47. Hasil perhitungan kelayakan usaha pada usaha perikanan pukat cincin mingguan Net Present Value (NPV) Rp 2.703.945.455, IRR 12,14% dan B/C 13,86.Kata kunci: kelayakan usaha, Lampulo, perikanan, pukat cinci