Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
314 research outputs found
Sort by
POTENSI LESTARI IKAN SELAR KUNING (Selaroides leptolepis) DI PERAIRAN SELAT SUNDA (Population Dynamics of Yellowstripe Scad (Selaroides leptolepis) in Sunda Strait)
ABSTRACTYellowstripe scad included the one of commodity that has an important economic value in the Sunda Strait. Commonly, this species processed by Pandeglang fishermen to be the boiled fish, salted fish, grilled fish, besides it also traded in fresh or frozen fish product. The high market demand can not offset the production of this species from the nature. Therefore, it needed an information about resources of yellowstripe scad in the waters of the Sunda Strait in order to manage it well. The objective of this study was to estimate the maximum sustainable yield (MSY) and the optimum fishing effort (fopt), so that the yellowstripe scad resources in the waters of the Sunda Strait can be utilized optimally and sustainably. Based on the standardization analysis, the purse seine be made the standard fishing gear for estimating the MSY of yellowstripe scad. The yellowstripe scad growth patterns during the study is isometric. Trends of CPUE of the yellowstripe scad fisheries tends to decrease during 2003 to 2013. Then, this species was estimated its maximum sustainable yield (MSY) of 304.50 tons per year, with the optimum fishing effort of 12.478 trips per year. The decline of the catch per fishing effort can indicated that the yellowstripe scad fishing conditions in the Sunda Strait was having the overfishing phenomenon.Key words: Sunda Strait, sustainable potential, yellowstripe scad-------ABSTRAKIkan selar kuning termasuk salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting di perairan Selat Sunda. Jenis ikan ini, selain banyak dimanfaatkan oleh nelayan sekitar Kabupaten Pandeglang sebagai ikan pindang, ikan bakar, ikan asin, juga diperdagangkan dalam keadaan segar maupun dibekukan. Tingginya permintaan pasar tidak dapat mengimbangi produksi ikan tersebut di alam. Oleh karena itu, untuk memperoleh informasi mengenai tingkat pemanfaatan sumber daya ikan selar kuning di perairan Selat Sunda, diperlukan suatu kajian mengenai potensi lestari ikan selar kuning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil tangkapan maksimum lestari (maximum sustainable yield atau MSY) serta upaya penangkapan maksimum lestari (fopt) sehingga sumberdaya ikan selar kuning di Perairan Selat Sunda dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil standardisasi, alat tangkap standart yang digunakan adalah purse seine. Pola pertumbuhan ikan selar kuning selama penelitian, yaitu isometrik. Hasil perhitungan CPUE menunjukkan adanya produksi yang cenderung menurun dengan upaya penangkapan yang meningkat dari tahun 2003 sampai 2013. Hasil perhitungan potensi hasil tangkapan maksimum lestari (MSY) diestimasi sebesar 304,50 ton per tahun, dan upaya penangkapan optimumnya adalah 12.478 trip per tahun. Penurunan hasil tangkapan per upaya penangkapan dapat dijadikan salah satu indikasi bahwa kondisi penangkapan ikan selar kuning di Perairan Selat Sunda sedang mengalami gejala lebih tangkap atau overfishing.Kata kunci: Selat Sunda, potensi lestari, ikan selar kunin
KAJIAN NILAI PASAR PRODUKSI HASIL TANGKAPAN DI PPS NIZAM ZACHMAN DAN PPI MUARA ANGKE (The Study of Catch Production Market Value in PPS Nizam Zachman and PPI Muara Angke)
ABSTRACTThe catch production in a particular area especially in fishing port should also be offset by economic value of that catch. So it has a chance to enhance not only for national market but also export market. PPS Nizam Zachman and PPI Muara Angke are two main points of catch distribution center and the biggest supplier fish product in DKI Jakarta. Catch production at ports is very important to know and researched so the port users and managers can compare catches result at that ports toward fisheries production in the DKI Jakarta area, to increase the affordable price and fulfil standard quality of fish consumption. This study aimed to get the market value of catch production and knowing the factors that affect market value. The method in this research used descriptive analysis. This research resulted the index of catch production value at PPS Nizam Zachman and PPI Muara Angke from 2004 until 2013 are more than 1 and less than 1. The factors that influencethe market value of the production of the catch in PPS Nizam Zachman and PPI Muara Angke were (1) dominant fish species (76.8), whereas since dominant product landed in PPI Muara Angke was only squid, 28.40% of total catches; (2) prime handling of dominant fish species in PPS Nizam Zachman, whereas in PPI Muara Angke poor handling of auctioned fish, allowed to sunlight exposure, thus quality could not be maintained and market value can not be increased; (3) fishing gear; most equipments in PPS Nizam Zachman (76%), were able to catch fish species with important economy vallue (84.7%), whereas in PPI Muara Angke is bouke ami (40%) and (4) marketing goals in PPS Nizam Zachman which oriented on exports, whereas PPI Muara Angke which oriented on local.Keywords: Index of production value, market value, PPS Nizam Zachman, PPI Muara Angke-------ABSTRAKProduksi hasil tangkapan di suatu wilayah khususnya di pelabuhan perikanan perlu juga diimbangi dengan nilai ekonomi dari hasil tangkapan tersebut sehingga berpeluang untuk meningkatkan peluang pasar nasional maupun ekspor. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Angke merupakan dua titik utama distribusi hasil tangkapan dan penyuplai produk konsumsi ikan terbesar di DKI Jakarta. Produksi hasil tangkapan di kedua pelabuhan sangat perlu diketahui dan diteliti agar pengguna dan pengelola pelabuhan dapat membandingkan hasil tangkapan yang didaratkan di kedua pelabuhan tersebut terhadap produksi perikanan laut di wilayah DKI, guna meningkatkan harga yang layak serta memenuhi standar mutu ikan konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai pasar produksi hasil tangkapan di kedua pelabuhan dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai pasar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif. Penelitian ini menghasilkan indeks nilai produksi hasil tangkapan masing-masing di PPS Nizam Zachman dan PPI Muara Angke dari tahun 2004-2013 adalah lebih dari 1 dan kurang dari 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai pasar produksi hasil tangkapan di PPS Nizam Zachman dan PPI Muara Angke adalah (1) spesies ikan dominan (76,8%), sedangkan spesies dominan ikan yang didaratkan di PPI Muara Angke hanya cumi-cumi yang jumlahnya 28,40% dari total hasil tangkapan PPI Muara Angke; (2) penanganannya sangat baik untuk ikan dominan di PPS Nizam Zachman, sedangkan di PPI Muara Angke penanganan ikan hasil tangkapan untuk ikan yang dilelang dibiarkan terkena sinar matahari sehingga kualitas mutu dan kualitas tidak terjaga dan tidak dapat meningkatkan nilai pasar; (3) jenis alat tangkap, dimana di PPS Nizam Zachman sebagian besar (76%) alat tangkap mendaratkan jenis ikan ekonomis penting (84,7%), sedangkan di PPI Muara Angke adalah bouke ami (40%); dan (4) tujuan pemasaran di PPS Nizam Zachman berorientasi pada ekspor sedangkan PPI Muara Angke yang pemasarannya berorientasi lokal.Kata kunci: indeks nilai produksi, nilai pasar, PPS Nizam Zachman, PPI Muara Angk
ESTIMASI TANGKAPAN PER UNIT UPAYA BAKU DAN PROPORSI YUWANA PADA PERIKANAN TUNA DI SULAWESI TENGGARA (Estimation of Standard Catch Per Unit Effort and Juvenile Proportion of Tuna Fishery in Southeast Sulawesi)
ABSTRACTTuna is an important fish commodity in Southeast Sulawesi. It valued as an export and interisland trade product as well as an important component of local fish consumption for coastal community around Southeast Sulawesi Waters (PSST). Indonesian fisheries management is currently adopting the concept of ecosystem approach to fisheries management (EAFM). EAFM implementation in Indonesia has continued by indicators establishment to assess the sustainability performance of fisheries. Catch per unit effort standard (Standard CPUE) and juvenile composition were implemented as indicators to assess resource sustainability. Data limitations are one of the issues in fisheries management at this time, however, management efforts remain to be implemented by utilizing the best available data. This study aimed to derived recent ten years coverage of standard CPUE and it trends as well as juvenile proportion in tuna fishery based on statistical data and field observation. Assessment results show that Standard CPUE in 2014 was 0,31 tons per trip and tends to increase in year coverage, while juvenile composition was 48,6%. Based on these results, the tuna fishery in Southeast Sulawesi is still sustainable. However, there is a need to have further control and monitoring, especially on a fishery that caught tuna under Lm. Management measure has to be selected carefully in line with social economic aspects of tuna fishery in this area.Keywords: EAFM, juvenile proportion, Standard CPUE, tuna-------ABSTRAKTuna merupakan komoditas perikanan penting di Sulawesi Tenggara baik sebagai produk ekspor, perdagangan antar pulau maupun pemenuhan kebutuhan lokal bagi masyarakat pesisir di perairan bagian selatan Sulawesi Tenggara (PSST). Untuk mempertahankan keberlanjutan perikanan tuna di daerah ini maka perlu adanya suatu upaya pengelolaan komprehensif yaitu pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem atau Ecosystem approach to Fisheries Management (EAFM). Implementasi EAFM di Indonesia terus dikembangkan dengan tersusunnya indikator penilaian kinerja pengelolaan. Tangkapan per Unit Upaya atau Catch per Unit Effort (CPUE) dan komposisi yuwana merupakan bagian dari indikator EAFM Indonesia khususnya dalam domain sumberdaya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nilai CPUE baku dan kecenderungannya selama sepuluh tahun terakhir, dan proporsi yuwana berdasarkan data statistik perikanan yang diintegrasikan dengan data yang diperoleh melalui pengamatan, wawancara dan pengisian kuesioner dengan pemangku kepentingan terkait. Hasil penilaian menunjukkan bahwa CPUE baku tahun 2014 adalah 0,31 ton/trip dengan kecenderungan meningkat, sedangkan komposisi yuwana adalah 48,6%. Berdasarkan nilai CPUE baku dan proporsi yuwana, maka kinerja perikanan tuna Sulawesi Tenggara masih dinilai baik. Perlu adanya upaya pengendalian dan pemantauan lebih lanjut terutama pada perikanan yang menangkap yuwana tuna. Namun demikian, pemilihan tindakan pengelolaan harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan sosial ekonomi lainnya dari perikanan tuna di daerah ini.Kata kunci: EAFM, proporsi yuwana, CPUE baku, tun
UMPAN BUATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL TANGKAPAN PANCING LAYANG-LAYANG DI SELAT BANGKA, SULAWESI UTARA (The Study of Artificial Bait on the Catch of Kite Fishing in Bangka Strait, North Sulawesi)
AbstractNeedlefish (Tylosurus sp.) known locally as sako is one of the economically important fisheries resources in Bangka Strait of North Sulawesi. The success kite fishing is highly dependent on the availability of small natural bait which is caught only by lift net during the dark moon phase. Therefore, it should be attempted using artificial baits to address the issue of lack of natural bait at certain times. This study aimed to determine the effect of artificial baits toward catch of kite fishing and to identify the species of needle fish caught. This research was carried out in Bangka Strait by using experimental method. Two types of baits were used, namely natural bait (rainbow sardine/Dussumieria acuta), and artificial baits such as rubber fish that widely available in the bait shop. The catch data from four units of kite fishing were analyzed using t-test. The result showed that total catch during the study were 40 needlefish es consist of Tylosurus crocodiles (39) and Tylosurus acus melanotus (1). As many as 22 needlefishes caught with natural baits and 18 caught with artificial baits. The analysis showed that the used of natural baits were not significantly different from the artificial bait. During the study needlefish could be caught at wind speeds of 4- 7 knots and operated on 11.00–14.45 Mid Indonesian Time.Keywords: artificial bait, Bangka Strait, kite fishing, wind speedAbstrakIkan cendro (Tylosurus sp.) yang dikenal dengan nama lokal sebagai ikan sako adalah salah satu sumber daya ikan ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan Selat Bangka, Sulawesi Utara. Keberhasilan penangkapan ikan dengan pancing layang-layang sangat tergantung pada ketersediaan umpan alami berukuran kecil yang tertangkap dengan alat tangkap bagan pada saat bulan gelap. Oleh karena itu, perlu dicobakan penggunaan umpan buatan untuk mengatasi persoalan kurangnya umpan alami pada waktu-waktu tertentu. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh umpan buatan terhadap hasil tangkapan pancing layang-layang dan mengidentifikasi jenis ikan cendro yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan di Selat Bangka didasarkan pada metode eksperimental. Dua jenis umpan yang digunakan, yaitu umpan alami yaitu ikan japuh (Dussumieria acuta), dan umpan buatan. Umpan buatan berupa ikan karet yang banyak tersedia di toko pancing. Data tangkapan dikumpulkan dari 4 unit pancing layang-layang, dan kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji t. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hasil tangkapan selama penelitian berjumlah 40 ekor ikan cendro yang terdiri dari Tylosurus crocodiles (39 ekor) dan Tylosurus acus melanotus (1 ekor). Sebanyak 22 ekor ikan cendro tertangkap dengan umpan alami dan 18 ekor ikan cendro tertangkap dengan umpan buatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan umpan alami tidak berbeda nyata dengan umpan buatan pada pancing layang-layang untuk menangkap ikan cendro di perairan Selat Bangka. Ikan cendro dapat tertangkap pada kecepatan angin antara 4–7 knot dan dioperasikan pada sekitar jam 11.00-14.45 Wita.Kata kunci: umpan buatan, Selat Bangka, pancing layang-layang, kecepatan angi
PENGGUNAAN LIGHT EMITTING DIODE PADA LAMPU CELUP BAGAN (The Use of Light Emitting Diode on Sunked Lamps of Lift Net)
ABSTRACTLift net fishermen usually use fluorescent lamp as attractor to lure fish. As price of fuel rise, fishermen are forced to find another option to change their attractor into some much lower cost and more energy-save lamp, or in other words, to change into LED lamp. This research are providing evidence that sunked LED lamps can be utilized as a helper tools, and also determined the best time for catching fish in the lift net. Two lift net used in this research, one of them used sunked LED lamps and the other used ordinary fluorescent lamps. Lift net are operated as long as 20 nights, with four catching times per night, between 18.00-21.00, 21.00-00.00, 00.00-03.00, and 03.00-06.00. Results showed that LED lamps give a better result with 11 organisms successfully catch (287,6 kg), compared to ordinary fluorescent lamps with only six organisms (238,3 kg). The best time for catching with LED lamps are between 18.00-21.00 (121 kg), while between 21.00-00.00 (67,4 kg), 00.00-03.00 (46,9 kg) and 03.00-06.00 (52,3 kg).Key words: fluorescent lamp, lift net, light emitting diode, Palabuhanratu,sunked lights-------ABSTRAKNelayan bagan biasa menggunakan lampu fluorescent sebagai atraktor untuk memanggil ikan. Harga bahan bakar yang mahal menyebabkan nelayan harus beralih memakai jenis lampu lain yang hemat energi, seperti lampu LED (light emitting diode) Penelitian bertujuan untuk membuktikan bahwa lampu celup LED dapat digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan pada bagan dan menentukan waktu operasi penangkapan terbaik. Dua bagan digunakan dalam penelitian ini. Masing-masing menggunakan lampu celup LED dan lampu fluorescent. Bagan dioperasikan selama 20 malam. Dalam 1 malam dilakukan 4 kali penangkapan, yaitu antara jam 18.00-21.00, 21.00-00.00, 00.00-03.00 dan 03.00-06.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lampu celup LED pada bagan menghasilkan 11 jenis organisma tangkapan seberat 287,6 kg, atau lebih banyak dari lampu fluorescent sejumlah 6 organisma (238,3 kg). Adapun waktu penangkapan terbaik pada bagan yang menggunakan lampu LED adalah antara pukul 18.00-21.00 yang menghasilkan tangkapan seberat 121 kg, sedangkan 21.00-00.00 (67,4 kg), 00.00-03.00 (46,9 kg) dan 03.00-06.00 (52,3 kg).Kata kunci: lampu fluorescent, bagan, light emitting diode, Palabuhanratu, lampu celu
TROPIK LEVEL PADA DAERAH PENANGKAPAN IKAN YANG MENGGUNAKAN LIGHT FISHING DI PERAIRAN SULAWESI TENGGARA (Trophic level in Fishing Ground by Using Light Fishing in Southeast Sulawesi)
ABSTRACTThe Interaction biology of species in the fishing ground caused by displacement energy from one species to another species and create the structure of patterns trophic level. The objectives of this studi are to determine structure of trophic level and composition of dominant spesies in fishing ground by light fishing in waters of the east Southeast Sulawesi. The research method is survey method. Primary data are using simple random sampling of the fish entrails composition of the purse seine and “bagan apung” unit. Analysis of data using analysis trophic level to determine the patterns of trophic level in the fishing ground by using light fishing and descriptive analysis to determine the composition of species based on trophic level. The result showed: (i) The patterns of trophic level in waters of the east Southeast Sulawesi are (I) phytoplankton; (II) zooplankton; (III) shrimp and squid in TL 3,2; (IV) small pelagic fish in TL 3,7; predatory fish in TL 4.2 up; (ii) Composition of dominant spesies in the purse seine is 60% to consumer groups 5 inTL 4,2 up and bagan apung is 66% consumer groups 4 in TL 3,7.Key words: fishing ground, light fishing, trophic level-------ABSTRAKInteraksi biologi antarspesies di daerah penangkapan ikan disebabkan adanya proses pemangsaan antara satu spesies dengan spesies lainnya yang membentuk struktur dalam tropik level. Tujuan penelitian menentukan pola tropik level dan komposisi spesies dominan yang terbentuk di daerah penangkapan ikan menggunakan light fishing di perairan bagian timur Sulawesi Tenggara. Metode penelitian adalah metode survei dengan obyek penelitian hasil tangkapan ikan unit penangkapan purse seine dan bagan apung. Pengumpulan data primer melalui observasi dengan pengambilan sampel simple random sampling terhadap jenis ikan hasil tangkapan untuk identifikasi komposisi isi perut. Analisis data menggunakan analisis tropik level untuk menentukan pola tropik level dalam proses pemangsaan antara spesies di daerah penangkapan menggunakan light fishing dan analisis deskriptif untuk menentukan komposisi kelompok konsumen berdasarkan tropik level. Hasil penelitian menunjukkan: (i) Pola tropik level yang terbentuk di perairan bagian timur Sulawesi Tenggara yaitu (I) fitoplankton; (II) zooplankton; (III) udang dan cumi-cumi pada TL 3,2; (IV) ikan pelagis kecil pada TL 3,7; (V) ikan predator pada TL 4,2 atau lebih; (ii) Komposisi spesies pada purse seine 60 % didominasi spesies kelompokkonsumen 5 pada TL 4,2 atau lebih dan bagan apung 66 % didominasi spesies kelompok konsumen pada TL 3,7.Kata kunci: daerah penangkapan ikan, light fishing, tropik leve
JARINGAN KERJA DAN EFEKTIVITAS PERBAIKAN KAPAL DI GALANGAN KPNDP DKI JAKARTA, MUARA ANGKE (Network and Effectiveness of Ship Repair at KPNDP Shipyard DKI Jakarta, Muara Angke)
ABSTRACTA shipyard is a supporting element to meet the eligibility requirements through maintenance service for vessels and their engines. Lead time for ship repair may vary, depending on the condition of ship. The length of the ship repair process can lead to shipyard queuing. One attempt to improve the mechanism and ship repairing time is by analyzing the network. This study aims to identify the network diagram, to determine the critical path, and to find out the effectiveness of ship repair process. Activities and duration during ship repairing process were analyzed using critical path method (CPM) and measured the value of its effectiveness. The objects that were observed in this study are minor repairs and major repairs. The results showed that a minor repairs can be implemented in 7 days while based on productivity index it can be completed in 5 days and has a 98% effectiveness than the time alocated by the shipyard. Major repairs can be completed during 10 days; these repairing lead time were affected by damage to the machine which requires a long recovery process.Key words: CPM, effectiveness of ship repair, network analysis-------ABSTRAKGalangan kapal merupakan unsur penunjang untuk memenuhi kebutuhan kelaikan kapal melalui perawatan beserta mesinnya. Proses perbaikan kapal dapat bervariasi tergantung dengan kondisi kapal. Lamanya proses perbaikan kapal dapat mengakibatkan terjadinya antrian galangan. Upaya untuk meminimalisir antrian kapal salah satunya dengan menganalisis jaringan kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur jaringan kerja, menentukan jalur kritis serta mengetahui efektifitas proses perbaikan kapal. Proses dan waktu perbaikan kapal dianalisis menggunakan metode jalur kritis (Critical Path Method) kemudian dihitung nilai efektivitasnya. Hal yang diamati dalam penelitian ini yaitu perbaikan ringan dan perbaikan berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian perbaikan ringan di galangan KPNDP membutuhkan waktu selama 7 hari sedangkan berdasarkan index produktivitasnya dapat diselesaikan selama 5 hari dan memiliki efektivitas 98% dibandingkan waktu yang dialokasikan oleh galangan. Perbaikan berat dapat diselesaikan selama 10 hari, lamanya perbaikan ini dipengaruhi dengan kerusakan mesin yang membutuhkan proses perbaikan yang lama.Kata kunci: CPM, efektivitas perbaikan kapal, analisis jaringan kerj
ANALISIS SUMBERDAYA IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) DI PERAIRAN SELAT SUNDA YANG DIDARATKAN DI PPP LABUAN, BANTEN (Analysis of Fringescale Sardinella (Sardinella fimbriata) Resources in Sunda Strait that Landed on PPP Labuan, Banten)
ABSTRACTFringescale sardinella (Sardinella fimbriata) is one of the economically important fish resources found in Sunda Strait waters. High economic value with the increasing demand of fish makes it as one of the main targets of capture. Intensive utilization on fringescale sardinella resulted in overfishing. The aim of this research is to identify production pattern, fishing ground, fishing season pattern and appropriate alternative management. This research carried out on April to June 2014. The results show that fringescale sardinella has a fluctuated production pattern. Fishing season for fringescale sardinella is on May-October, while the fringescale sardinella bad season (low catches) is on March. Fishing ground for fringescale sardinella in Sunda Strait waters are Labuan Bay, Tanjung Lesung, Sumur, Panaitan Strait, Rakata Island, Ujung Kulon, Sebesi Island, Tanjung Alang-alang, and Peucang Island. Management for fringescale sardinella can be accomplished by increase the mesh size, management fishing season (open-close system) and fishing areas.Keywords: Fringescale sardinella, management, PPP Labuan, Sunda Strait-------ABSTRAKIkan tembang (Sardinella fimbriata) merupakan salah satu sumberdaya ikan ekonomis penting di perairan Selat Sunda. Nilai ekonomis yang tinggi serta pemanfaatan yang terus meningkat menjadikan ikan ini sebagai salah satu target utama penangkapan. Pemanfaatan intensif sumberdaya ikan tembang dapat mengakibatkan tangkap lebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola produksi, daerah tangkapan, pola musim penangkapan serta mengidentifikasi alternatif pengelolaan yang lebih tepat. Penelitian ini dilaksanakan pada April hingga Juni 2014. Hasil penelitian menunjukkan pola produksi ikan tembang berfluktuatif. Musim penangkapan ikan tembang terjadi pada bulan Mei-September sedangkan musim paceklik berada pada bulan Maret. Sebaran wilayah penangkapan berada di sekitar perairan Selat Sunda yakni Teluk Labuan, Tanjung Lesung, Sumur, Selat Panaitan, Rakata, Ujung Kulon, Pulau Sebesi, Tanjung Alang-alang, dan Pulau Peucang. Pengelolaan ikan tembang dapat dilakukan dengan memperbesar ukuran mata jaring, pengaturan musim penangkapan dan daerah tangkapan.Kata kunci: Ikan tembang, pengelolaan, PPP Labuan, Selat Sund
ANALISIS BIOEKONOMI DAN OPTIMASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN LAYANG DI PERAIRAN KABUPATEN MUNA SULAWESI TENGGARA (Bioeconomic Analysis and Resource Management Optimization of Mackerel Scad in Muna District, South East Sulawesi)
ABSTRACTThe resource utilization of mackerel scad (Decapterus spp.) has been increasing in Muna waters which will be able to reduce the fish stock and if it exceeds the carrying capacity, it will lead to "overfishing". This study aims to determine the level of production, fishing effort and the optimal economic chain, both biologically and economically, so that the management of fish resources in Muna waters can be carried out in a sustainable way. The study was conducted by the case study method. The analysis method used in this research is biotechnic; bioeconomy; static and dynamic optimization apprOAch of Walter-Hilbon (WH) estimation model. The results of the study provide an indicator that the mackerel scad in Muna waters has not experienced "overfishing" both biological and economic. MEY condition that is optimal for economic management will be achieved when the maximum effort as many as 213.734 trips, production amounted to 3.117,61 tons and maximum economic chain at IDR 33.434,41 billion. The amount of fishing effort in MSY condition within the model is 248.342 trips whereas the production amounted to 3.179,35 tons with the economic chain of IDR 32.557,81 billion. Results of biotechnic, bioeconomy, static and dynamic optimization showed that actual production is still below the sustainable production indicated by high production, effort and economic chain. Based on this analysis, the business effort of mackerel scad can be increased from the current fishing effort of 128.496 trips to 213.734 trips that will give the maximum economic chain and management of fish resources sustainably.Keywords: bioeconomic, economic optimization, mackerel scad, resource management-------ABSTRAKPemanfaatan sumber daya ikan layang (Decapterus spp.) yang meningkat di perairan Kabupaten Muna dapat menurunkan stok ikan layang dan apabila melebihi daya dukung, maka akan menyebabkan terjadinya “overfishing”. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat produksi, upaya tangkap dan rantai ekonomi yang optimal, baik secara biologi dan ekonomi, sehingga pengelolaan sumber daya ikan layang di perairan Kabupaten Muna dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis bioteknis, bioekonomi, optimasi statik dan dinamik menggunakan pendekatan model estimasi Walter-Hilbon (W-H). Hasil penelitian memberikan indikator bahwa ikan layang di perairan Kabupaten Muna belum mengalami “overfishing” baik secara biologi (biological overfishing) dan ekonomi (economic overfishing). Dalam kondisi MEY yang merupakan pengelolaan ekonomi optimal, terestimasi effort sebanyak 213.734 trip, produksi sebesar 3.117,61 ton dan rantai ekonomi maksimum yakni Rp 33.434.410.000. Jumlah effort dalam kondisi MSY adalah 248.342 trip, produksi sebesar 3.179,35 ton dan rantai ekonomi sebesar Rp 32.557.810.000. Hasil analisis bioteknis, bioekonomi, optimasi statik dan dinamik menunjukkan produksi aktual masih berada di bawah nilai produksi lestari baik dari produksi, effort dan rantai ekonomi. Berdasarkan analisis tersebut, effort usaha ikan layang dapat ditingkatkan dari upaya aktual sebesar 128.496 trip menjadi 213.734 trip yang akan memberikan rantai ekonomi maksimum dan pengelolaan sumber daya ikan layang secara lestari.Kata kunci: bioekonomi, optimasi ekonomi, pengelolaan sumber daya, ikan layan
PENGGUNAAN BENTUK DAN POSISI CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU (Shape and Position Escape Gap Application of Collapsible Mud Crab Trap)
ABSTRACTThe use of capture technology is not environmentally friendly and low public awareness to restore the Mud crab (Scylla sp.) that still poses a threat to small crab in natural resource conservation. The use of a gap for passage of the mud crab trap folding is one of the fishing technology innovations that will increase the size of crabs caught making it more environmentally friendly. This study aims to determine the size, shape and position of mounting an effective escape gap on collapsible traps for mud crabs that have not passed a decent catch. The method used was a laboratory experiment conducted on Fisheries Department UNTIRTA using escape gap is 2 boxes (50x50) mm and rectangular (60x36) mm mounted on the top and bottom position of the mouth traps. The results showed that the folding rectangular traps more effective mud crab that has not passed a decent escape capture by the percentage reaches 65%. Position mounting a more effective escape gap is at the bottom position of the mouth traps with crab escape frequency percentage of 54%.Key words: collapsible trap, escape gap, fishing technology, mud crab-------ABSTRAKPenggunaan teknologi penangkapan yang tidak ramah lingkungan dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengembalikan kepiting bakau yang masih berukuran kecil memberikan ancaman terhadap kelestarian sumberdaya kepiting di alam. Penggunaan celah pelolosan pada bubu lipat kepiting bakau merupakan salah satu inovasi teknologi penangkapan yang akan meningkatkan ukuran kepiting yang tertangkap sehingga lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ukuran, bentuk dan posisi pemasangan celah pelolosan yang efektif pada bubu lipat untuk meloloskan kepiting bakau yang belum layak tangkap. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan laboratorium yang dilakukan di Jurusan Perikanan UNTIRTA dengan menggunakan 2 celah pelolosan yaitu kotak (50x50) mm dan persegi panjang (60x36) mm yang dipasang pada posisi atas dan bawah mulut bubu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubu lipat berbentuk persegi panjang lebih efektif meloloskan kepiting bakau yang belum layak tangkap dengan persentase pelolosan mencapai 65%. Posisi pemasangan celah pelolosan yang lebih efektif adalah pada posisi bawah mulut bubu dengan persentase pelolosan mencapai 54%.Kata kunci: bubu lipat, celah pelolosan, teknologi penangkapan, kepiting baka