Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
    314 research outputs found

    ANALISIS OPTIMASI ARMADA PENANGKAPAN MADIDIHANG SKALA KECIL DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT (Fishing Fleet Optimization Analysis of Small Scale Yellowfin Tuna in West Seram Regency)

    Get PDF
    ABSTRACTOptimum allocation of catching fleet must be determined optimally so that the level of utilization of fish resources is not excessive and prevent horizontal conflicts among fishermen in getting the same fishing area in the future. This study aims to determine the optimum allocation of catching yellowfin small-scale units in the district of West Seram. Research using the linear goal programming (LGP). To optimize the number of fishing unit, this study suggested that increasing number of the 40 HP fishing boat size from 25 to 38 units, while for the boat of 18 and 15 HP sizes should be maintained on the actual number of 55 and 45 units, respectively. The allocation does not reduce unit allocation of certain existing arrest, thus avoiding conflict and socially friendly.Keywords: allocation, optimum, fishing fleet, small-scale-------ABSTRAKAlokasi optimum armada penangkapan harus ditentukan secara optimal agar tingkat pemanfaatan potensi sumber daya ikan tidak berlebihan dan mencegah timbulnya konflik horizontal antar nelayan dalam memperebutkan daerah penangkapan yang sama di kemudian hari. Penelitian ini bertujuan menentukan alokasi optimum unit penangkapan madidihang skala kecil di Kabupaten Seram Bagian Barat. Penelitian menggunakan metode Linier Goal Programming (LGP). Optimasi unit penangkapan madidihang, menunjukkan terjadi peningkatan pada alokasi unit penangkapan armada 40 PK dari 25 unit menjadi 38 unit, sedangkan armada 18 PK dan armada 15 PK dipertahankan sesuai kondisi aktualnya masing-masing 55 unit dan 45 unit. Pengaturan alokasi ini tidak mengurangi alokasi unit penangkapan tertentu yang sudah ada, sehingga menghindari konflik dan ramah secara sosial.Kata kunci: alokasi, optimum, armada penangkapan, skala keci

    SISTEM RANTAI PASOK TUNA LOIN DI PERAIRAN MALUKU (Supply Chain System of Tuna Loin in Maluku Waters)

    Get PDF
    ABSTRACTFishing operation pattern in Maluku waters are highly dependent on natural conditions and others supporting technical factors such as fuel supply and other operational capital which generally unstructured and unmeasureable fishing operation management pattern. One important factor in determining quality control process is supplying-chain factor, i.e. loin tuna distribution which ranging from fish hooked on the ship until the receiving product by the consumer. The objectives of this study is to describe loin tuna supply chain system in Maluku. The supply chain was analyzed by using black box diagram system approach and market integration model used to identify a valuate the relationship of each supply chain component with destined market. The results showed that there is no market integration between Japanese markets and Maluku, but there is long term cooperation between American market and Maluku.Keywords: tuna loin, supply chain,market integration, Maluku-------ABSTRAKPola penangkapan ikan tuna oleh nelayan di perairan Maluku sangat bergantung pada faktor kondisi alam dan teknis pendukung operasi penangkapan, seperti ketersediaan bahan bakar serta modal operasional. Hal ini berarti secara umum nelayan belum memiliki pola manajemen operasi penangkapan yang terstruktur dan terukur. Salah satu faktor yang sangat berperan dalam penentuan proses pengendalian mutu adalah rantai pasok (supply chain), yaitu proses distribusi barang (tuna loin) mulai dari produksi ikan di atas kapal hingga produk dikonsumsi oleh konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menganalisa sistem rantai pasok pada produk tuna loin di Maluku. Analisis rantai pasok (supply chain) dengan pendekatan deskriptif dan model integrasi pasar digunakan untuk mengidentifikasikan sistem rantai pasok dan melihat seberapa jauh hubungan masing-masing elemen rantai pasok dengan pasar tujuan. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi integrasi antara pasar Jepang dengan Maluku, sedangkan pasar Amerika dan Maluku terintegrasi dalam jangka panjang.Kata kunci: tuna loin, rantai pasok (supply chain), integrasi pasar, Maluk

    ASPEK KESELAMATAN DITINJAU DARI STABILITAS KAPAL DAN REGULASI PADA KAPAL POLE AND LINE DI BITUNG, SULAWESI UTARA (Safety Aspects Pole and liner From Ship Stability and Regulation Point of View in Bitung, North Sulawesi)

    Get PDF
    ABSTRACTHas become a common understanding that fishing is a risky job, so the safety aspects on board is an important factor that must be considered. Fishing vessels should also be supported with design and good stability, so that fishing activities can run smoothly and avoid the danger of accidents. Pole and liner in Bitung is quite varied and the ships were built in traditional dockyard and not based on the calculation and construction planning and design. One of the instruments on fishing vessel operational safety assurance is the implementation of the regulation, both nationally and internationally. At the international level, many regulations governing the safety of the ship in respect of fish. While national regulations relating to the safety of fishing vessels has not been consistent and in harmony, hence the assessment regulations relating to fishing vessel safety improvement needs to be done to determine the extent of the responsibility of government and the extent of the application of the existing rules. The general objective of this study was to determine the safety aspects of pole and line vessels, while the specific goal are: (1) review and analyze to get the quality stability of the ship (2) identify and assess safety-related regulatory review pole and line vessels in Bitung. The results showed that the quality of the stability of the vessel pole and line in the four conditions of the charge distribution in a state of good stability. It is represented by the value of all the parameters that are above the standard value IMO. In the simulated load conditions, the maximum GZ value at the time the vessel is in operation, while the GZ smallest value in an empty load case ship condition. There are seven international policy and five national policies relevant to the safety of fishing vessels. International policies clearly have established the safety of the ship and crew of fishing vessels, but implementation at the national level is still lacking and not aligned.Keywords: pole and liner, quality stability, regulation-------ABSTRAKTelah menjadi pemahaman umum bahwa kegiatan penangkapan ikan merupakan suatu pekerjaan beresiko, sehingga aspek keselamatan diatas kapal merupakan faktor terpenting yang harus diperhatikan. Kapal ikan juga harus didukung dengan desain dan stabilitas yang baik, sehingga kegiatan penangkapan ikan dapat berjalan lancar dan terhindar dari bahaya kecelakaan. Armada kapal pole and line di Bitung cukup bervariasi dan kapal-kapal tersebut dibangun digalangan tradisional yang tidak berdasarkan perhitungan dan perencanaan konstruksi dan desain. Salah satu instrumen dalam jaminan keselamatan operasional kapal ikan adalah pelaksanaan peraturan, baik nasional maupun internasional. Pada tingkat internasional, banyak regulasi yang mengatur berkenaan dengan keselamatan kapal ikan. Sementara peraturan nasional yang berkaitan dengan keselamatan kapal ikan belum sejalan dan selaras, karenanya pengkajian regulasi terkait dengan peningkatan keselamatan kapal ikan perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tanggung jawab pemerintah dan sejauh mana penerapan aturan yang ada. Tujuan umum dari penelitian ini adalah menentukan aspek keselamatan kapal pole and line, sedangkan tujuan khususnya adalah: (1) mengkaji dan menganalisis untuk mendapatkan kualitas stabilitas kapal (2) mengidentifikasi dan mengkaji tinjauan regulasi terkait keselamatan kapal pole and line di Bitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas stabilitas kapal pole and line pada empat kondisi distribusi muatan dalam keadaan stabilitas yang baik. Hal ini diwakili oleh nilai semua parameter yang berada di atas nilai standar IMO. Pada kondisi simulasi muatan, nilai GZ maksimum berada pada saat kapal beroperasi, sementara nilai GZ terkecil pada kondisi kapal muatan kosong. Terdapat tujuh kebijakan internasional dan lima kebijakan nasional yang relevan dengan keselamatan kapal ikan. Kebijakan internasional jelas telah menetapkan keselamatan kapal dan awak kapal penangkap ikan, tetapi implementasi di tingkat nasional masih kurang dan belum selaras.Kata kunci: Kapal pole and line, kualitas stabilitas, regulas

    POTENSI IKAN UNGGULAN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN DI PPN KARANGANTU (Superior fish potential as Raw Materials of Processing Industry in Karangantu Archipelagic Fishing Port)

    Get PDF
    ABSTRACTKarangantu Archipelagic Fishing Port (Karangantu AFP/PPN Karangantu) has been appointed as regional fisheries industry (formerly minapolitan), sub-sector of catch fisheries since 2010. Today, the development of the fisheries industry one of them is processing industry still undeveloped as the result of lack of area / specific industrial land in PPN Karangantu. In addition, there is no information about the superior fish landed in PPN Karangantu as raw material. This study aims to: (1) Determine the potential of fish catches landed in PPN Karangantu as raw material processing industry; (2) Obtain production alternatives for raw material surrounding fishing port that supports processing industry in PPN Karangantu. The results of this research indicated that there were 7 types of fish that had a positive value of LQ growth with a score is 3 there are squid, mackerel, kuniran, kurisi, sardine, tuna and sea-catfish. LQ score of 3 indicates that the types of fish are concentrated relatively in PPN Karangantu and can be developed in the future become a raw material for processing industry at PPN Karangantu. Alternative production of raw material can be obtained from PPI Kepuh PPI Wadas, PPI Terale, and PPI Lontarby the type of fish that are depend to the needs of processors in PPN Karangantu and brought by the sea or via land transportation.Keywords: Karangantu archipelagic fishing port, processing fish, raw materials, superior potential,--------ABSTRAKPelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu telah ditunjuk sebagai kawasan industri perikanan (sebelumnya minapolitan) subsektor perikanan tangkap sejak 2010. Namun, perkembangan industri perikanan salah satunya pengolahan ikan masih belum optimal sebagai akibat belum adanya kawasan/lahan khusus industri di PPN Karangantu. Selain itu, belum ada informasi mengenai ikan unggulan yang didaratkan di PPN Karangantu sebagai bahan baku olahan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui potensi ikan-ikan hasil tangkapan unggulan yang didaratkan di PPN Karangantu sebagai bahan baku industri pengolahan; (2) mendapatkan alternatif produksi hasil tangkapan dari pelabuhan perikanan sekitarnya yang mendukung industri pengolahan ikan di PPN Karangantu. Metode penelitian adalah studi kasus terhadap potensi unggulan industri pengolahan ikan di PPN Karangantu. Jumlah responden ditentukan secara purposive sampling, terdiri dari nelayan, pedagang, pengolah ikan, pengelola Dinas Perikanan Kota Serang dan pengelola PPN Karangantu. Analisis data menggunakan Location Quotient (LQ) untuk mencari ikan hasil tangkapan unggulan di PPN Karangantu dan analisis kekuatan hasil tangkapan untuk mengetahui karakteristik ikan bahan baku industri pengolahan ikan di PPN Karangantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 jenis ikan yang memiliki nilai pertumbuhan LQ positif dengan skor 3 yaitu cumi-cumi, kembung, kuniran, kurisi, lemuru, tongkol dan manyung. Skor LQ 3 mengindikasikan bahwa jenis-jenis ikan tersebut terkonsentrasi pendaratannya secara relatif di PPN Karangantu dan dapat terus dikembangkan menjadi bahan baku industri pengolahan ikan di PPN Karangantu.Kata kunci: PPN Karangantu, pengolahan ikan, bahan baku, potensi unggula

    PRODUKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MENGGUNAKAN PANCING ULUR YANG BERPANGKALAN DI KABUPATEN MAJENE (Large Pelagic Fisheries Productivity by Using Handline Based in Majene District)

    Get PDF
    -------ABSTRACTLarge pelagic fish is a fishery commodity which has a high economic value, so its development can improve the economy of communities and regions. The aim of this study was to determine the fishing productivity of large pelagic fisheries using handline. This research was conducted in July until September 2012. This study examines the fishing productivity of handling with operated by a fisherman in Majene district, West Sulawesi. Fishing activity utilizing FADs as a fishing ground. Fishing Productivity was obtained from the weight ratio of the amount of catches and duration of fishing time. Fishing productivity is determined for each type of fish catches, namely skipjack tuna (Katsuwonus Pelamis), yellowfin tuna (Thunnus albacares), and mackerel tuna (Auxis thazard). The proportion of the total catches of skipjack tuna showed greater than other fish species. The relationship between fishing productivity with the time fishing is declining with increasing duration of time fishing. Cluster analysis showed that there are two clusters of fishing productivity for 23 fishing activity. Fishing ground with the largest production was in the FADs in 118031\u2744,8\u27\u27E and 118°34\u2716.0"E, and 04030\u2725.6"S and 118029\u2737,3\u27\u27BT. Large pelagic fish species observed is the skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), yellowfin tuna (Thunnus albacares), and tongkol (Auxis hazard). Fishing productivity shows the downward trend and the fishing ground for the production of tuna, mackerel and yellowfin tuna fish highest in FADs at position 04026’06,3”S and 118031’44,8’’E ; 04030’25.6”S and 118029’37,3’’E.Keywords: FADs, fishing productivity, handline, large pelagic, majeneABSTRAKIkan pelagis besar merupakan salah satu komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi, sehingga pengembangan perikanan pelagis besar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan daerah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan produktivitas penangkapan ikan pelagis besar menggunakan pancing ulur. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Juli-September 2012. Penelitian ini mengkaji produktivitas penangkapan pancing ulur yang dioperasikan nelayan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Aktivitas pemancingan memanfaatkan rumpon sebagai daerah penangkapan ikan. Produktivitas penangkapan diperoleh dari perbandingan berat jumlah hasil tangkapan dengan lama waktu pemancingan. Produktivitas penangkapan ditentukan pada masing-masing jenis ikan hasil tangkapan, yaitu cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna ekor kuning (Thunnus albacares), dan tongkol (Auxis thazard). Proporsi jumlah hasil tangkapan menunjukkan cakalang lebih besar dibandingkan jenis ikan lainnya. Hubungan antara produktivitas penangkapan dengan lama waktu pemancingan menunjukkan kecenderungan menurun dengan bertambahnya lama waktu pemancingan. Analisis kluster menunjukkan terdapat dua kluster produktivitas penangkapan selama 23 aktivitas pemancingan. Daerah penangkapan ikan dengan produksi terbesar berada pada rumpon dengan posisi geografi 04026’06,3”LS dan118031’44,8’’BT ; 04030’25.6”LS dan 118029’37,3’’BT. Produktivitas penangkapan menunjukkan tren menurun. Posisi geografi rumpon yang memiliki produksi tuna, cakalang dan tongkol adalah pada posisi 04026’06,3”LS dan 118031’44,8’’BT ; 04030’25.6”LS dan 118029’37,3’’BT.Kata kunci: rumpon, produktivitas penangkapan, pancing ulur, pelagis besar, Majen

    KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN HUBUNGANNYA DENGAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN (Catch Composition of Purse Seine in Relation to Environmental Friendly Fishing Technology)

    Get PDF
    ABSTRACTThe utilization of resources has been using purse seine by light fishing, providing opportunities was captured diverse of total length and volume species. The purpose of this research is determining the composition of total length and volume species of the catch in the purse seine unit by light fishing and determining the level of environmental friendly for purse seine unit by light fishing. The method of research is survey. Analysis of data: (1) the descriptive quantitative to determine the composition of total length and volume species of the catch purse seine unit by light fishing; (2) the analysis of the level of sustainable according to the nine criteria of FAO. The results of research shows: (1) the composition of total length of the catches in purse seine unit by light fishing are the index 1,602 in the total length of 14 cm – 21 cm. The composition of the volume of total length that feasible of catch in percentage 78% and dominated species is the Euthynnus affinis in 48%; (2) the level of environmental friendly for purse seine unit by light fishing in a score 27 and the category environmental friendly.Keywords: environmental friendly, light fishing, purse seine-------ABSTRAKPemanfaatan sumberdaya perikanan menggunakan pukat cincin dengan alat bantu cahaya (light fishing), memberikan peluang tertangkapnya beranekaragam ukuran dan volume spesies. Tujuan penelitian menentukan komposisi hasil tangkapan ikan berdasarkan ukuran panjang dan volume setiap jenis ikan pada unit penangkapan pukat cincin yang menggunakan light fishing dan menentukan tingkat keramahan lingkungan unit penangkapan pukat cincin yang menggunakan light fishing. Metode penelitian yaitu survei. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – Juni 2015. Analisis data yang digunakan yaitu: 1) deskriptif kuantitatif untuk menentukan keankeragaman ukuran panjang dan volume setiap jenis hasil tangkapan pukat cincin yang menggunakan light fishing; dan 2) Analisis tingkat keramahan lingkungan berdasarkan sembilan kriteria FAO. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Keanekaragaman ukuran panjang ikan hasil tangkapan pada pukat cincin dengan menggunakan light fishing berada pada nilai indeks 1,602 dengan ukuran panjang didominasi pada ukuran 14 cm – 21 cm. Nilai indeks menunjukkan pada spesies ikan yang sama memiliki komposisi ukuran panjang total beranekaragam. Komposisi volume ukuran panjang ikan yang belum layak tangkap sebesar 78% dan didominasi spesies ikan tongkol komo sebesar 48%; dan 2) Tingkat keramahan lingkungan unit penangkapan ikan pukat cincin menggunakan light fishing dengan nilai skor 27 pada kategori ramah lingkungan.Kata kunci: pukat cincin, light fishing, ramah lingkunga

    RUMPON HIDUP DAN HUBUNGANNYA DENGAN STRUKTUR KOMUNITAS IKAN SECARA SPASIAL-TEMPORAL DI PESISIR KABUPATEN LUWU (BIO-FADs and Its Association with Spatio-Temporal Fish Community Stucture of Cach in Luwu District Coastal Water)

    Get PDF
    ABSTRACTBiological-Fish Aggregation Devices (Bio FADs) is FADs wich used seaweed or water plants as attractor. FADs live in this study is made using two species of seaweed i.e Eucheuma cottonii and Gracillaria sp. as attractor, so called cottonii FADs or RC and gracillaria FADs or RG. The purpose of this study was to analyze the catches based on its community structures such as the species, abundance, and ecological characteristics spatially and temporally. The research was conducted in Luwu district waters from October 2014-August 2015. RC and RG were installed in three different habitats as an observation station, i.e. river mouth habitat (MS), seagrass habitat (PL), and coral reef habitat (TK). Fish sampling on two types of FADs were collected using a scoop net. Shannon-Wienner diversity index (H\u27) of the three habitats is relatively high. ANOSIM statistical test showed that there is a significance difference of catches abundance between habitats (R = 0.235; p = 0.001). Coral reef habitats have the highest abundance of the catch. Furthermore, there are also highly significant between the months of (R = 0.271; p = 0.001). The highest abundance of fish catches in December. The main species which contribute substantially in the two FADs are Siganus canaliculatus as well as in MS and PL habitat, while in TK habitat the main species is Caranx sp. SIMPER analysis showed that Siganus canaliculatus contribute about 66.42% of the PL habitat.Keywords: Bio- FADs, diversity index, Siganus canaliculatus-------ABSTRAKRumpon hidup atau Biological-Fish Aggregation Devices adalah rumpon yang dibuat dengan menggunakan rumput laut atau tanaman air sebagai atraktor. Rumpon hidup pada penelitian ini dibuat dengan menggunakan rumput laut jenis Eucheuma cottonii (RC) dan Gracillaria sp.(RG). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hasil tangkapan ikan berdasarkan jenis, kelimpahan, dan karakteristik ekologis secara spasial dan temporal. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Kabupaten Luwu dari bulan Oktober 2014 hingga Agustus 2015. Sampel ikan dikumpulkan dengan menggunakan serok pada kedua jenis rumpon yang dipasang di tiga habitat yang berbeda sebagai stasiun pengamatan. Indeks diversitas Shannon-Wienner (H\u27) secara spasial dan temporal relatif tinggi. Uji statistik ANOSIM menunjukkan bahwa kelimpahan hasil tangkapan ikan antar habitat berbeda sangat nyata, (R = 0,235; p = 0,001). Habitat terumbu karang memiliki kelimpahan hasil tangkapan tertinggi. Selanjutnya secara temporal antar bulan (musim) berbeda sangat nyata (R = 0,271; p = 0,001). Kelimpahan hasil tangkapan ikan tertinggi pada bulan Desember. Analisis SIMPER menunjukkan bahwa Siganus canaliculatus sebagai spesies utama (penciri) pada kedua rumpon, begitu pula dengan dua habitat MS dan PL. Adapun habitat TK, spesies utamanya adalah jenis Caranx sp. Kontsribusi Siganus canaliculatus cukup tinggi pada habitat padang lamun yaitu sebesar 66,42% .Kata kunci: rumpon hidup, indeks diversitas, Siganus canaliculatu

    PELUANG PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS PERIKANAN LAUT DI DUSUN PAYANGAN DESA SUMBEREJO KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER

    Get PDF
    ABSTRACTThe  development  of  agro-industries  through  the  development  of  domestic  industry  based fisheries  in  the  Payangan  hamlet  Sumberejo  District  of  Ambulu  Jember  faced  with  various problems that started from the central issue is the level of knowledge and skills  is relatively low, the ownership of venture capital is relatively limited, the production activities as individuals not groups, access  difficult  commercial  lending  and  access  to  technology  is  also  difficult.  These  conditions resulted  in  labor  productivity  and  production  quality  is  low.  The  purpose  of  this  study  were:  1) Knowing  the  agro-industry  development  opportunities  based  marine  fisheries;  2)  Analyze  the added value of the fish catch if processed further; and 3) to analyze the socio-economic factors that affect  the  chances  of  developing  agro-industries  based  marine  fisheries.  The  method  used  is descriptive quantitative and qualitative survey techniques. Types of populations in this study were fishermen and craftsmen, artisans and fishermen of each sampl e taken as many as 10, 11 and 9 of the  techniques  of  simple  random  sampling  and  quota  sampling,  while  the  data  collection techniques  used  depth  Interview.  Analysis  of  the  data  used  to  answer  the  purpose  of  the  first, second  and  third  use  analysis  tools  respective  R  /  C  Ratio,  Value-added  models  Hayami  and probability  cumulative  logit  model.  The  results  of  this  study  concluded:  1)  Opportunities-based agro-industrial development of marine fish in the study area is wide open (R / C = 4.61); 2) Activity based  agro-industry  marine  fish  that  includes  pemindangan,  fogging  and  making  shrimp  paste provide  added  value  as  much  as  Rp  43,672.02  per  kg  per  production  process;  and  3) Simultaneously  five  independent  variables  significantly  affect  the  chances  of  developing  agroindustry  and  the  partial  factor  significant  business  experience,  whereas  other  estimators  factors had no significant effect.Keywords: added value, agro-industry, development opportunities ABSTRAK Pengembangan  agroindustri  melalui  pengembangan  industri  rumah  tangga  yang  berbasis perikanan  di  Dusun  Payangan  Desa  Sumberejo  Kecamatan  Ambulu  Kabupaten  Jember dihadapkan pada berbagai masalah  yang  dimulai dari masalah pokok  yaitu tingkat pengetahuan dan ketrrampilan relatif rendah, kepemilikan modal usaha relatif terbatas, kegiatan produksi secara perseorangan tidak berkelompok, akses pinjaman modal usaha sulit dan akses teknologi juga sulit. Kondisi ini mengakibatkan produktivitas tenaga kerja dan kualitas produksi menjadi rendah. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengidentifikasi peluang pengembangan agroindustri berbasis perikanan laut;   2)  Menganalisis  nilai  tambah  hasil  tangkapan  dalam  bentuk  olahan;   dan  3)  Menganalisis faktor  sosial  ekonomi  yang  mempengaruhi  peluang  pengembangan  agroindustri  berbasis perikanan  laut.  Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dan kualitatif melalui teknik  survei.  Target  responden  adalah  nelayan  sekaligus  pengrajin,  pengrajin  dan  nelayan, sebanyak masing-masing 10, 11 dan 9 orang melalui teknik  simple  random sampling  dan quota sampling.   Teknik  pengumpulan  data  digunakan  depth  Interview.  Analisis  data  yang  digunakan untuk  menjawab  tujuan  pertama,  kedua  dan  ketiga  digunakan  alat  analisis  masing-masing  R/C Ratio, nilai tambah model Hayami dan probabilitas komulatif Model Logit. Adapun hasil penelitian ini menyimpulkan: 1)  Peluang pengembangan agroindustri berbasis ikan laut di daerah penelitian sangat  terbuka  lebar  (R/C  =  4,61);  2)  Kegiatan  agroindustri  berbasis  ikan  laut  yang  meliputi pemindangan,  pengasapan  dan  pembuatan  terasi  memberikan  nilai  tambah  sebanyak  Rp43.672,02 per kg per proses produksi; dan 3)  Secara simultan kelima variabel bebas berpengaruh nyata  terhadap  peluang  pengembangan  agroindustri  dan  secara  parsial  faktor  pengalaman berusaha berpengaruh nyata, sedangkan faktor penduga lainnya  tidak berpengaruh nyata.Kata kunci: nilai tambah, agroindustri, peluang pengembanga

    PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DALAM RANGKA PENGEMBANGAN INDUSTRIALISASI PERIKANAN LAUT (The Development of Capture Fisheries Management Information System in Relation to the Development of Marine Fisheries Industrialization)

    Get PDF
    ABSTRACTDeveloping capture fisheries management information system needs a Management Information System (MIS) which could support various aspects within an integrated and holistic system to gain better access of information on Marine Fisheries Industrialization in Indonesia. The objectives of the research are to investigate the management information system in lobster fisheries and develop management infomation system to support marine fisheries industrialization. This research implemented integrated approach information system for holistic system application. Applies a systems approach that takes into account the system as a whole integrated information for each activity or application. The system limits on the development of the lobster fishery in PPN Palabuhanratu. The technology used for processing the data and information on the lobster fishery is a computerized information technology. Analysis of system requirements derived from the fishing company, fishermen and stakeholders. Establishing the design of information systems in the lobster fisheries at PPN Palabuhanratu by identifying the real system, preparation of the scheme, providing menus, preparation of the logical flow of programs and computer applications. With the establishment of fisheries information management system will facilitate information services more quickly and accurately.Key words: capture fisheries, industrialization, management information system (MIS),-------ABSTRAKPengembangan sistem informasi manajemen perikanan tangkap dalam rangka pengembangan industrialisasi perikanan laut sudah mempunyai dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, tertera pada Bab VI: Sistem Informasi dan Statistik Perikanan, pasal 46: (1) “Pemerintah menyusun dan mengembangkan sistem informasi dan data statistik perikanan serta menyelenggarakan pengumpulan, pengolahan, analisis, penyimpanan, penyajian, dan penyebaran data potensi, sarana dan prasarana, produksi, penanganan, pengolahan dan pemasaran ikan, serta data social ekonomi yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya ikan dan pengembangan sistem bisnis perikanan.” (2)”Pemerintah mengadakan pusat data dan informasi perikanan untuk menyelenggarakan system informasi dan data statistic perikanan.”; pasal 47: (1) “Pemerintah membangun jaringan informasi perikanan dengan lembaga lain, baik di dalam maupun di luar negeri.”, (2) “Sistem informasi dan data statistic perikanan harus dapat diakses dengan mudah dan cepat oleh seluruh pengguna data statistic dan informasi perikanan.” Pengembangan sistem informasi manajemen perikanan tangkap perlu suatu Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang dapat menunjang berbagai aspek dan elemen dalam suatu sistem yang holistik dan terintegrasi untuk mencapai tujuan meningkatkan akses informasi IPTEKS-Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam Pelaksanaan Program Pengembangan Industrialisasi Perikanan Laut di Indonesia.Kata kunci: Perikanan tangkap, industrialisasi, sistem manajemen informas

    KARAKTERISTIK PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN LAUT KABUPATEN SIMEULUE (Characteristics of Capture Fisheries in Simeulue Districts Sea Waters Area)

    Get PDF
    ABSTRACTSimeulue Regency has ± 9.968,16 km2 marine waters area consist of 64 islands (large and small) with high potentials of capture fisheries. However, the management of sustainable fisheries in Simeulue Regency has not optimal yet. Informations about catch composition, diversity index and fishing gear productivity are needed as a reference in policy management decision. The purpose of this research are to determine the compositions of catch, to calculate the fish biodiversity and fishing gear productivity. The research was conducted in Simeulue Regency from December 2013 to January 2014. The method used was purposive sampling survey. Fishing units which observed such as lift net, beach seines, longlines and other collecting gears. Result in five research locations are Simeulue Timur, Teupah Selatan, Teluk Dalam, Simeulue Barat and Teupah Tengah, there were 50 fish species which dominated by Bali sardinella (Sardinella lemuru), slipmouths (Leiognathus spp), Indian anchovy (Stolephorus spp), scad (Selar spp) and frigate tuna (Auxis thazard). Biodiversity index (H \u27) value was beetween 1.40 to 2.67 with average of 1.87, it describes that biodiversity was in the moderate category. Furthermore, the evenness index (E) was in the category of relatively even from 0.58 to 0.89 with the average of 0.74. Dominance index values (D) was beetween 0.09 – 0.33 with average of 0.24, which means that there were not any dominating species. The highest value of productivity (CPUE) was lift net with 603.3 kg/trip and the lowest was lobster or sea cucumber collecting gears with 81.8 kg/trip.Key words: composition, diversity index, productivity, Simeulue-------ABSTRAKKabupaten Simeulue memiliki luas wilayah perairan laut ± 9.968,16 km² dengan 64 pulau besar dan kecil. Wilayah tersebut memiliki potensi perikanan tangkap yang sangat tinggi, meskipun pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutannya masih belum optimal. Oleh karena itu, informasi mengenai komposisi hasil tangkapan, indeks keragaman dan produktivitas alat tangkap sangat diperlukan sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan pengelolaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi jenis hasil tangkapan, indeks keragaman jenis ikan dan produktivitas alat penangkapan ikan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Simeulue antara bulan Desember 2013 - Januari 2014. Metode yang digunakan adalah metode survei secara purposive sampling. Jenis alat tangkap yang menjadi objek penelitian berupa bagan, pukat pantai, rawai dan alat pengumpul. Berdasarkan hasil penelitian pada lima lokasi yang berbeda, yaitu Kecamatan Simeulue Timur, Teupah Selatan, Teluk Dalam, Simeulue Barat dan Teupah Tengah, diperoleh 50 spesies ikan yang didominasi oleh lemuru (Sardinella lemuru), peperek (Leiognathus spp.), teri (Stolephorus spp.), selar (Selar spp.) dan tongkol (Auxis thazard). Indeks keragaman (H’) berkisar antara 1,40 – 2,67 dengan rata-rata 1,87 yang berada pada kategori keanekaragaman sedang. Selanjutnya, nilai indeks kemerataan (E) berada pada kategori lebih merata 0,58 – 0,89 dengan rata-rata 0,74. Sementara nilai indeks dominansi (D) berkisar antara 0,17 - 0,33 dengan rata-rata 0,24 atau tidak terdapat spesies yang mendominasi. Nilai produktivitas (CPUE) tertinggi terdapat pada bagan sebesar 603,3 kg/trip dan terendah pada alat pengumpul lobster/tripang 81,8 kg/trip.Kata kunci: komposisi, indeks keragaman, produktivitas, Simeulu

    278

    full texts

    314

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇