Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
    314 research outputs found

    PENGARUH INTENSITAS LAMPU BAWAH AIR TERHADAP HASIL TANGKAPAN PADA BAGAN TANCAP (Effect of Underwater Lamp Intensity on The Lift Net’s Fishing Catches)

    Get PDF
    ABSTRACTPurpose of the study is to examine the effect of underwater lamp intensity on the fishing catches of the lift net. A series of the experiment was conducted to test the most effective underwater lamp intensity to aggregate school of fish for lift net fishing target. Four underwater light intensities, such as 140 lux (kerosene lamp) as a control, 290 lux, 2700 lux, and 3900 lux were use as the treatment in this experiments. All the variance data of lift net’s fishing catches were analyzed by ANOVA followed LSD 5% to get the best treatment. The results show that the intensity of underwater lamp was significantly (P<0.05) on the fishing catches of the lift net. The highest fishing catches was underwater lamp with 3900 lux light intensity as 254 kg fishing catches. While the underwater lamp with 2700 lux was 149,5 kg, underwater with 290 lux was 146 kg, and underwater lamp with 140 lux was 91.5 kg. The composition of the fishing catches during experiment were anchovy (Stelophorus sp) as 35.28%, yellow strip (Selaroides sp) as 33.59%, and ponyfish (Leiognathus sp) as 11:25%. The relationship between light intensity on the number and composition are discussed details in the paper.Keywords: lift net, light intensity, underwater lamp-------ABSTRAKPenelitian ini adalah bertujuan untuk mendapatkan intensitas lampu bawah air yang terbaik pada bagan tancap yang beroperasi di perairan Selat Madura. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang menggunakan empat perlakuan, yaitu lampu bawah air yang memiliki intensitas 140 lux (lampu petromax) sebagai perlakuan 1, intensitas 290 sebagai perlakuan 2, intensitas 2700 lux sebagai perlakuan 3 dan intensitas 3900 lux sebagai perlakuan 4. Analisa data yang digunakan adalah Anova yang dilanjutkan uji BNT 5% untuk mendapatkan perlakuan terbaik. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa masing–masing perlakuan menghasilkan tangkapan yang berbeda-beda. Jumlah tangkapan perlakuan 1 (lampu 140 lux) sebesar 91,5 kg, perlakuan 2 (lampu 290 lux) 146 kg, perlakuan 3 (lampu 2700 lux) 149,5 kg, dan perlakuan 4 (lampu 3900 lux) 254 kg. Hasil perhitungan anova menunjukkan bahwa intensitas memberikan pengaruh sebesar 73% terhadap hasil tangkapan ikan. Perlakuan 1 (140 lux) dan perlakuan 2 (290 lux) berbeda nyata terhadap perlakuan 4 (3900 lux) tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan 3 (2700 lux). Intensitas cahaya lampu terbaik adalah perlakukan 4 (3900 lux) dengan hasil tangkapan ikan sekitar 254 kg dan belum mencapai titik maksimum. Komposisi hasil tangkapan di bagan tancap didominasi oleh jenis ikan teri (Stelophorus sp) sebesar 35,28 %, ikan selar (Selaroides sp) sebesar 33,59 %, ikan peperek (Leiognathus sp ) sebesar 11,25 %.Kata kunci: bagan tancap, intensitas cahaya, lampu bawah ai

    KEBIASAAN MAKAN HIU KEJEN (Carcharinus falciformis): STUDI KASUS PENDARATAN HIU DI PPP MUNCAR JAWA TIMUR (Feeding habit of Silky Shark (Carcharinus falciformis): Case Study of Landing Shark in Muncar Coastal Fishing Port East Java)

    Get PDF
    ABSTRACTIndonesia is the biggest country which produced shark in the world. Muncar Coastal Fishing Port, Banyuwangi, is a shark fishing center in East Java. Caught sharks were dominated by silky shark (Carcharinus falciformis). Primary data collected by in situ sampling and stomach content analysis. Stomach content was collected by sectio. It preserved by 10% formaline in coolbox. Silky shark had caught by shark long line and gillnet. Shark is the fish target of longline and by-catch of gillnet. Silky shark preys were grouper fish (Epinephelus sp.) as main prey and squid (Loligo sp.), beltfish (Trichiurus lepturus), sardine (Sardinella lemuru) as complementary preys. Based on stomach content analysis, silky shark was identified on 4.7 trophic level. Silky shark preys were grouper on trophic level 4.1, squid, beltfish on trophic level 4.4, sardine on trophic level 2.1. Silky shark as apex predator could be found in Bali Strait and Makassar Strait, which it classified as fertility water. The existence of silky sharks whicht prey fish in several trophic level layers made silky shark as one of the key species in Bali Strait and Makassar Strait. Catching sharks will have implications for trophic level is high or low.Keywords: feeding habit, silky shark, trophic level-------ABSTRAKIndonesia merupakan negara penghasil hiu terbesar di dunia. PPP Muncar, Banyuwangi merupakan salah satu pusat penangkapan hiu di Jawa Timur. Hiu yang tertangkap oleh nelayan didominasi oleh hiu kejen (Carcharinus falciformis). Data primer didapatkan dari pengambilan sampel dan analisis isi lambung. Isi lambung didapatkan dari proses pembedahan. Isi lambung diawetkan dalam formalin 10% dalam coolbox. Hiu kejen tertangkap menggunakan rawai dan gillnet. Hiu menjadi ikan target pada alat tangkap rawai dan by-catch pada gillnet. Mangsa hiu kejen adalah kerapu sebagai makanan utama dan lemuru, cumi-cumi, layur merupakan makanan pelengkap. Hiu kejen (C.falciformis) yang tertangkap di Selat Bali berada pada trofik level 4,7. Mangsa utama hiu kejen adalah kerapu (trofik level 4,1) dan mangsa pelengkap lemuru (trofik level 2,1), layur (trofik level 4,4) dan cumi-cumi. Hiu kejen sebagai salah satu apex predator dapat ditemukan di Selat Bali maupun Selat Makassar yang memiliki kesuburan tinggi. Keberadaan hiu kejen yang memangsa beberapa ikan di beberapa lapisan trofik level menjadikan hiu kejen sebagai salah satu spesies kunci di perairan Selat Bali dan Selat Makassar. Penangkapan hiu akan memberi implikasi terhadap trofik level yang tinggi maupun rendah.Kata kunci: kebiasaan makan, hiu kejen, trofik leve

    MODEL BIO-EKONOMI PERIKANAN CUMI-CUMI DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKA, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG (Bio-Economic Model of Squid Fisheries in The Waters of Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province)

    Get PDF
    ABSTRACTSquid captured in the waters of Bangka Regency has grown, both with traditional and modern fishing gear. Fishing gear used consisted of squid jigging and stationary lift net. Squid fisheries in this water have not been well managed as evidenced by the tendency of squid production decreased in Sungailiat Fishing Port 17.59% per year in the period 2010-2013, the number of outside fishers who caught squid and rampant illegal tin mining in coastal waters. This study aims to determine the optimal level of squid resource management in the waters of Bangka based on biological and economic aspects. The analysis used is Schnute bio-economic models because it is more appropriate to estimate squid stock in this water. The results showed squid resources utilized in this water was overfishing, both biologically and economically since 2010 in which the production rate for the year has been 116.12% of MEY and 115.94% of MSY. Optimal production levels at MEY conditions are 767.13 tons per year with efforts 5,544 trips per year. The production level at MSY conditions are 768.33 tons per year and the efforts 5,733 fishing trips per year.Keywords: Bangka Regency waters, MEY, MSY, overfishing, squid fisheries-------ABSTRAKPenangkapan cumi-cumi di perairan Kabupaten Bangka telah berkembang, baik dengan alat tradisional maupun modern. Alat tangkap yang digunakan terdiri dari squid jigging dan bagan tancap. Perikanan cumi-cumi di perairan ini belum dikelola dengan baik seperti terlihat dari kecenderungan produksi cumi-cumi di PPN Sungailiat yang menurun 17,59% per tahun pada periode 2010 – 2013, banyaknya nelayan luar yang menangkap cumi dan maraknya penambangan timah illegal di perairan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pengelolaan sumberdaya cumi-cumi yang optimal di perairan Kabupaten Bangka berdasarkan aspek biologi dan aspek ekonomi. Analisis yang digunakan yaitu model bio-ekonomi Schnute karena lebih sesuai untuk menduga stok cumi-cumi di perairan ini. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi di perairan ini sudah mengalami tangkap lebih baik secara biologi maupun ekonomi sejak tahun 2010. Dimana tingkat produksi pada tahun tersebut sudah mencapai 116,12% dari MEY dan 115,94 dari MSY. Tingkat produksi optimal pada kondisi MEY yaitu 767,13 ton/tahun dengan upaya tangkap 5.544 trip/tahun. Adapun pada kondisi MSY, tingkat produksi 768,33 ton per tahun dan upaya tangkap 5.733 trip per tahun.Kata kunci: perairan Kabupaten Bangka, MEY, MSY, tangkap lebih, perikanan cumi-cum

    PRODUKTIVITAS PERIKANAN TUNA LONGLINE DI BENOA (STUDI KASUS: PT. PERIKANAN NUSANTARA) (Tuna Lingline Fisheries Productivity in Benoa (Case study: PT. Perikanan Nusantara))

    Get PDF
    ABSTRACTTuna longline fishery in Indonesia has grown since 1972. With the increasing number of tuna longline vessels operating in Indonesian waters, there are needs to research on the productivity of these vessels, especially vessel owned by PT. Perikanan Nusantara as a case study in this research. Data collected through the research activities at the Port of Benoa from March to November 2011. Overall annual production of tuna longline catches PT. Perikanan Nusantara fluctuated during the years 1999-2009 where the average production of fish caught tuna longline vessels size 60 GT per year amounted to 161.19 tons, 40 GT of 231.18 tons and 15 GT of 34.50 tons. Seen from the catch ability of tuna longline per set during the year 2010, found that overall, the average catch per settings for vessel size of 40 GT is higher than the vessel size of 15 GT and 60 GT. Based on the value of the tuna hook rate for vessels size of 15 GT are 0.3, vessels 40 GT are 0.25 and 60 GT are 0.38.Key words: production, productivity, hook rate, tuna longline-------ABSTRAKPerikanan tuna longline di Indonesia telah berkembang sejak tahun 1972. Seiring dengan pertambahan waktu, telah terjadi peningkatan jumlah kapal tuna longline yang beroperasi di perairan Indonesia. Oleh karena itu perlu adanya penelitian mengenai produktivitas dari kapal-kapal tersebut, terutama kapal milik PT. Perikanan Nusantara sebagai studi kasus dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan penelitian di Pelabuhan Benoa dari bulan Maret hingga November 2011. Produksi tahunan keseluruhan hasil tangkapan tuna longline PT. Perikanan Nusantara selama tahun 1999-2009 berfluktuatif dimana produksi rata-rata ikan hasil tangkapan kapal tuna longline berukuran 60 GT per tahun sebesar 161,19 ton, kapal berukuran 40 GT sebesar 231,18 ton dan kapal berukuran 15 GT sebesar 34,50 ton. Dilihat dari daya tangkap tuna longline per setting selama tahun 2010, diperoleh bahwa secara keseluruhan rata-rata tangkapan per setting untuk kapal berukuran 40 GT lebih tinggi dibanding armada berukuran 15 GT dan 60 GT. Berdasarkan nilai hook rate terhadap ikan tuna untuk kapal berbobot 15 GT diperoleh rata-rata hook rate 0,3, kapal 40 GT 0,25 dan hook rate kapal berbobot 60 GT sebesar 0,38.Kata kunci: laju pancing, produksi, produktivitas, tuna longline

    PERIKANAN PUKAT CINCIN TUNA SKALA KECILYANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAMPERAN (Small Scale Tuna Purseseine Fisheries Based in Tamperan Fishing Port)

    Get PDF
    ABSTRACTIn general, fisheries in Indonesia is still dominated by small-scale fisheries, one of themis the purse seine fishery based in Tamperan Fishing Port. This study aims to determine aspects of purse seine fishery based on Tamperan Fishing Port such as vessel size and fishing gear, FADs , fishing ground and catches. The study was conducted in 2012 in Tamperan Fishing Port with measurement methods and direct observation and interviews with owners, skippers and crew. The results showed that the vessel of small-scale tuna purse seine fishing based in Tamperan Fishing Port have tonnage between 28-45 GT and made of wood with length 17.21-28 m, width 6-7 m, and depth 2-3 m. Nets is used have length between 250-300 m and width 8-10 m. Fishing ground is FADs at coordinates 10º-12º S and 100º-110º E, 60-100 miles from the Pacitan Bay with distance to the location of FADs about one day. The catch is dominated by skipjack about 57.27%, followed by scad26.31% and juvenile yellowfin 10.05%.Keywords: Purse seine, small scale tuna fisheries, Tamperan-------ABSTRAKSecara umum, perikanan tangkap di Indonesia masih didominasi oleh usaha perikanan skala kecil, salah satunya adalah nelayan pukat cincin yang berbasis di PPP Tamperan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek penangkapan perikanan pukat cincin yang berbasis di PPP Tamperan berupa ukuran kapal dan alat tangkap, rumpon, daerah penangkapan dan hasil tangkapan. Penelitian dilakukan pada tahun 2011 di PPP Tamperan Pacitan dengan metode pengukuran dan pengamatan langsung di lapangan serta wawancara dengan nelayan pemilik, nakhoda dan awak kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa armada pukat cincin perikanan tuna skala kecil yang berbasis di PPP Tamperan memiliki ukuran tonase antara 28-45 GT dan terbuat dari kayu dengan ukuran panjang antara 17,21-28 m, lebar 6-7 m, dan dalam 2-3 m. Jaring yang digunakan memiliki panjang antara 250-300 m dan lebar 8-10 m dengan menggunakan rumpon. Daerah penangkapan berada pada koordinat 10º-12º LS dan 100º-110º BT dan berjarak sekitar 60-100 mil dari Teluk Pacitan dengan lama perjalanan menuju lokasi rumpon sekitar 1 hari. Hasil tangkapan didominasi oleh cakalang sebesar 57,27%, diikuti oleh layang 26,31% dan yuwana madidihang 10,05%.Kata kunci: Pukat cincin, perikanan tuna skala kecil, Tampera

    KINERJA LPG PADA MOTOR BAKAR 6,5 HP SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF PERAHU PENANGKAP IKAN (Performance of Liquefied Petroleum Gas for 6,5 HP Engine as an Alternative Fuel in Small Motorized Fishing Boat)

    Get PDF
    ABSTRACTThis research was to analyze the technical effect of LPG compared to the gasoline bymeasuring the engine and exhaust temperature, to calculate the fuel saving (efficiency) for a singletrip by measuring the specific fuel consumption, and to explicate the cost benefit from the use ofLPG compared to the gasoline for fishing operation. During the experimental test, the engine speedwas maintained at idling conditions of 1600, 2000, and 2500rev/min. Technically, the engine andexhaust temperature decrease when running on LPG. The use of LPG as an alternative fuel togasoline can save on fuel consumption up to 26,35% and LPG makes operational cost moreefficiently due to the lower value of FC than that of gasoline. For a single trip, the cost from LPGspecific fuel consumption (sfc) value resulted Rp 5.610 while the gasoline resulted higher valuewhich makes Rp 9.632. With the difference of Rp 4.022, LPG can save cost as much as 41,76%where cost savings in fuel expenditure can be used to reimburse the purchasing cost of converterkit for 41,5 months or 3,46 years.Key words: efficiency, fuel consumption, Liquefied Peltroleum Gas (LPG), temperature-------ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk menentukan secara teknis pengaruh penggunaan LPGdibandingkan bensin premium pada motor bensin 6,5 HP, menghitung penghematan (efisiensi)yang dapat dicapai dari penggunaan LPG dibandingkan bensin premium dalam satu kali operasipenangkapan ikan dan menghitung keuntungan dari penggunaan LPG secara biaya dibandingkandengan bensin premium untuk kegiatan operasional penangkapan ikan. Selama uji coba motordioperasikan menggunakan bahan bakar bensin dan LPG secara bergantian dengan putaran 1600,2000 dan 2500 rpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan LPG secara teknis dapatmereduksi suhu permukaan mesin, suhu gas buang dan konsumsi bahan bakar dibandingkanmotor yang dioperasikan menggunakan bensin premium. Selain itu rata-rata konsumsi bahanbakar menjadi lebih hemat sebanyak 26,35% sehingga biaya operasional menjadi lebih efisien.Dalam satu kali operasi penangkapan ikan didapat nilai spesific fuel consumption (sfc) LPGsebesar Rp. 5.610 sedangkan nilai sfc bensin adalah sebesar Rp. 9.632. Dengan selisih sebanyakRp. 4.022 maka LPG bisa menghemat biaya sebanyak 41,76% dimana penghematan biayabelanja bahan bakar dapat digunakan untuk mengembalikan biaya pembelian converter kit selama41,5 bulan atau 3,46 tahun.Kata kunci: efisiensi, konsumsi bahan bakar, Liquefied Petroleum Gas (LPG), suh

    KELIMPAHAN ZOOPLANKTON DAN BIOMASSA IKAN TERI (Stolephorus spp.) PADA BAGAN DI PERAIRAN KWATISORE TELUK CENDERAWASIH PAPUA (Abundance of Zooplankton and Biomass of Anchovy (Stolephorus spp.) of Liftnet at Kwatisore Bay, Cendrawasih Gulf, Papua)

    Get PDF
    ABSTRACTMillions of organisms can be found in the Cenderawasih Gulf National Park area, especially in the waters of the Kwatisore Bay, Nabire and has been well-known to almost all over the world. Large zooplankton is an important food for migrated fish larvae and all kinds of fish including anchovies. Anchovy is the food of large and small pelagic fish groups. Groups of fish that use plankton as food were included anchovy. The main catch product of lift net at the Kwatisore bay is anchovy (Stolephorus spp.). This study aims to assess the level of availability of anchovy in relation to the abundance of zooplankton as food and to analyze the influence of anchovy fishing activities with lift net fishing gear. The results were obtained 51 species of zooplankton, which consists of 44 types holoplankton and 7 types of meroplankton. There were 17 species of zooplankton were found in the stomach of anchovy with the subgroup dominated by copepods (73.51 %). Among 17 species of zooplankton there 2 types that were found in all four sampling periods, namely Calanus sp. 2 and Euterpina acutifrons. There is a relationship between the abundance of individual zooplankton in the waters of the anchovy biomass and also between the abundance of zooplankton and biomass of anchovy.Keywords: abundance of zooplankton, biomass of anchovy, lift net at Kwatisore-------ABSTRAKJutaan organisme dapat ditemukan dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih khususnya di perairan Kwatisore, Nabire dan telah terkenal sampai hampir ke seluruh dunia. Zooplankton berukuran besar merupakan makanan penting bagi ikan-ikan yang bermigrasi dan larva semua jenis ikan termasuk didalamnya ikan teri. Ikan teri merupakan makanan dari kelompok ikan pelagis besar dan kecil. Kelompok ikan-ikan yang banyak memanfaatkan plankton dari kelompok ikan pelagis kecil diantaranya ikan teri. Hasil tangkapan utama bagan penangkap ikan pelagis kecil di perairan Kwatisore ialah jenis teri (Stolephorus sp.). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat ketersediaan ikan teri dalam kaitannya dengan kelimpahan zooplankton sebagai makanannya serta menganalisis pengaruh dari aktivitas penangkapan ikan teri dengan alat tangkap bagan. Secara keseluruhan dari seluruh stasiun dalam setiap periode sampling, diperoleh 51 jenis zooplankton yang terdiri atas 44 jenis holoplankton dan 7 jenis meroplankton. Terdapat 17 jenis zooplankton yang ditemukan dalam lambung ikan teri dengan didominasi oleh Sub-grup Copepoda (73,51%). Diantara ke-17 jenis zooplankton tersebut terdapat 2 jenis yang ditemukan pada keempat periode sampling yaitu Calanus Sp.2 dan Euterpina acutifrons. Hasil analisis regresi linier antara biomassa ikan teri hasil tangkapan bagan dan kelimpahan maupun antara biomassa ikan teri hasil tangkapan bagan dan jumlah jenis zooplankton menunjukkan adanya korelasi positif.Kata kunci: kelimpahan zooplankton, biomassa ikan teri, bagan di Kwatisor

    PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN DAN LAJU TANGKAP ARMADA PANCING ULUR YANG BERBASIS DI PPI OEBA, KUPANG (The Comparison of Catch And Catch Rate of Handline Fishing Vessel Based On PPI Oeba, Kupang)

    Get PDF
    ABSTRACTThe utilization of fishery resources in the Indian Ocean, especially in the southwest of Sumatra Island, south of Java, Bali to Nusa Tenggara is expected to increase. The objective of this study was to determine the composition of the catches and the catch rate of hand line based on PPI Oeba, Kupang. Research conducted at the Fish Landing (PPI) in Oeba, Kupang, Nusa Tenggara Timur from January to March 2015. The method used is descriptive method in which the research is intended to describe the phenomenon that occurred in the handline fishery and its catch. Catch data and fishing effort are analyzed to determine the value of the catch per unit of fishing effort. To determine differences in fishing fleet catches large and small pull-t test. About 60% catch of handline GT<10 dominated by tuna (Thunnus sp) and skipjack (Katsuwonus pelamis). While the GT>10 dominated by snapper (Lutjanus sp), anggoli (Pristipomoides multidens) and grouper (Epinephelus sp) with percentage of more than 70% of the total catch. There was a significant difference to the average catches between fleets with GT<10 and GT>10 (t = -9.538; df = 2404, p <0.001). The average catch of fishing fleet GT> 10 was 1,074 kg, or about twice that of the average catches of fishing fleets with GT <10 only amounted to 539 Kg. This information can be used as input in the management and development of hand line fishing in the PPI Oeba, Kupang.Keywords: catch composition, catch rate, fishing effort, t-test------ABSTRAKPemanfaatan sumberdaya ikan di Samudera Hindia terutama di sebelah barat daya Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, Pulau Bali sampai Nusa Tenggara cenderung meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan dan laju tangkap pancing ulur yang berbasis di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba, Kupang.Penelitian dilakukan di PPI Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dari bulan Januari – Maret 2015. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dimana penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi pada perikanan pancing ulur dan hasil tangkapannya.Data hasil tangkapan dan upaya penangkapan yang dianalisis untuk menentukan nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan.Untuk mengetahui perbedaan hasil tangkapan armada pancing ulur besar dan kecil dilakukan uji-t.Sekitar 60% hasil tangkapan armada pancing ulur dengan GT<10 didominasi oleh tuna (Thunnus sp) dan cakalang (Katsuwonus pelamis). Adapun hasil tangkapan armada pancing ulur dengan GT>10 didominasi oleh kakap (Lutjanussp), anggoli (Pristipomoides multidens) dan kerapu (Epinephelus sp) dengan persentase ketiganya sebesar lebih dari 70%.Terdapat perbedaan yang nyata terhadap rata-rata hasil tangkapan antara armada GT<10 dengan GT>10 (t=-9,538; df=2404; p<0,001). Rata-rata hasil tangkapan armada pancing ulur dengan GT>10 sebesar 1.074 kg atau sekitar dua kali lipat dibandingkan rata-rata hasil tangkapan armada pancing ulur dengan GT<10 yang hanya sebesar 539 kg. Diharapkan informasi ini dapat dijadikan masukan dalam pengelolaan dan pengembangan perikanan pancing ulur di PPI Oeba, Kupang.Kata kunci: komposisi hasil tangkapan, laju tangkap, upaya penangkapan, uji-

    ANALISIS INTERNAL DAN EKSTERNAL PENGELOLAAN PERIKANAN PANTAI SKALA KECIL DI KOTA TEGAL (An Internal and External Analysis of Small-Scale Coastal Fisheries Management in Tegal City)

    No full text
    ABSTRACTThe problems that occur in coastal areas related to the management of small-scale coastal fisheries in Tegal are the depletion of fish resources in coastal waters, and a variety of pressures including pressure due to population growth, abrasion as well as water pollution. A holistic understanding of internal and external factors of coastal fisheries management is needed to determine how these factors affect the fishing activities in Tegal. The purpose of this research is to analyze the internal and external factors of small-scale coastal fisheries management in Tegal. The benefit of this research is to give feedback to stakeholders and constructive actions in creating sustainable management of coastal fisheries. This study was conducted in Tegal precisely in the village of Muarareja. The sample in this study is 64 small-scale fishermen, using purposive sampling. Primary data were collected by using questionnaires, secondary data were obtained from Departementnof Agriculture and Marine Tegal, Bureau of Statistics of Tegal, Muarareja Fish Auction. Data were analyzed using descriptive analysis and SWOT analysis. The results showed that the present status of coastal fisheries management in Tegal is currently categorized as "good condition", and is still in a stable growth. There were 5 (five) alternative strategies to manage small-scale coastal fisheries management in order to improve and to enhance sustainability, namely, development of fishing gear independently, monitoring surveillance of fishing gear, utilization of fishing equipment to optimize the catch, and utilization of revolving fund for procurement of new machines.Keywords: coastal fisheries management, internal-external analysis, management-------ABSTRAKPermasalahan yang menerpa wilayah pesisir dalam pengelolaan perikanan pantai skala kecil di Kota Tegal terkait dengan adanya penurunan potensi sumber daya ikan di perairan pantai Kota Tegal, selain itu dipicu juga adanya pertumbuhan populasi penduduk, perubahan fungsi / alih lahan, pencemaran perairan, ataupun abrasi. Pemahaman yang holistik terkait faktor internal dan faktor eksternal pengelolaan perikanan pantai sangat diperlukan untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap aktivitas perikanan tangkap yang ada di Kota Tegal. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor internal dan eksternal pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal. Manfaat yang diinginkan adalah memberi masukan kepada pemangku kepentingan dan tindakan konstruktif dalam menciptakan pengelolaan perikanan pantai yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan di Tegal tepatnya di desa Muarareja. Sampel dalam penelitian ini adalah nelayan skala kecil yang berjumlah 64 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Jenis data yang diambil adalah data primer dengan menggunakan kuesioner sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal, BPS Kota Tegal, Tempat Pelelangan Ikan Muarareja. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan kondisi terkini pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal saat ini termasuk kategori ”cukup baik”, dan masih dalam pertumbuhan yang stabil. Usulan program strategis yang terkait dengan pengelolaan perikanan pantai di Kota Tegal yaitu pengembangan alat tangkap secara mandiri, pengawasan bersama keamanan alat tangkap, optimalisasi penangkapan ikan pada saat harga jual ikan naik, pemanfaatan alat tangkap bantuan untuk optimalisasi hasil tangkapan, dan pemanfaatan dana bergulir untuk pengadaan mesin baru.Kata kunci: analisis internal-eksternal, pengelolaan perikanan pantai, manajeme

    ASPEK LINGKUNGAN SIGNIFIKAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA (Significant Environmental Aspects at Jakarta Nizam Zachman Fishing Port)

    Get PDF
    ABSTRACTIdentification  of  significant  environmental  aspects  in  port  is  to  assist  the  Port  Authority  in prioritizing  environmental  management  activities.  The  objectives  of  this  study  are  to  dentify  the significant environment aspects and to analize environmental controlling at PPSNZJ. In this study, the  identification  of  environmental  aspects  in  Jakarta  Nizam  Zachman  Fishing  Port  (PPSNZJ) conducted  by  Strategic  Overview  of  Significant  Environmental  Aspects  procedur   and  were modified according  to  the characteristics  of the fishing harbor.. The results showed the significant environmental aspects in PPSNZJ were: 1) waste production (IF value =4.96), 2) water pollution (IF value  =  4.83)  and  Energy  Consumption  (IF  Value  =  4.16).  PPSNZJ  has  been  controlling  the environmental management aspects of waste production and social interaction. It was implemented under the Security and Sanitation Programme. The water pollution controlling was limitted to waste treatment and sea water reverse osmosis facility.Keywords:  environmental,  port,  Nizam  Zachman  Fishingport,  Strategic  Overview  of  Significant Environmental Aspects (SOSEA)ABSTRAKKegiatan  identifikasi  aspek  lingkungan  signifikan  di  pelabuhan  dilakukan  untuk mempermudah  pengelola  pelabuhan  dalam  memprioritaskan  kegiatan  pengelolaan  lingkungan. Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk  mendapatkan  aspek  lingkungan  yang  signifikan  dan menganalisis  pengelolaan  lingkungan  yang  telah  dilakukan  PPSNZJ.  Dalam  penelitian  ini, identifikasi  aspek  lingkungan  di  Pelabuhan  Perikanan  Nusantara  Ni zam  Zachman  (PPSNZJ) dilakukan  dengan  pendekatan  Strategic  Overview  of  Significant  Environmental  Aspects  yang dimodifikasi  sesuai  karakteristik  pelabuhan  perikanan.  Hasil  kajian  menunjukkan  bahwa  aspek lingkungan  signifikan  di  PPSNZJ  adalah:  1)  produksi  sa mpah  (Nilai  IF=4.96);  2)  interaksi  sosial (Nilai  IF=4.83) dan 3) pencemaran air (Nilai  IF=4.16). Pengelolaan lingkungan di PPSNZJ terkait aspek  penanganan  sampah  dan  aspek  pengendalian  interaksi  sosial  telah  dilakukan  melalui serangkaian  kegiatan  di  bawah  program  Kebersihan  Keamanan  dan  Ketertiban  (K3).  Upaya pengelolaan  terkait  aspek  pengendalian  pencemaran  air  baru  dilakukan  pada  fasilitas  Instalasi Pengolahan Limbah dan Sea Water Reverse Osmosis.Kata kunci: lingkungan, pelabuhan, PPS Nizam Zachman, SOSE

    278

    full texts

    314

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇