Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
314 research outputs found
Sort by
SUMBERDAYA IKAN KEMBUNG (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) DI PERAIRAN SELAT SUNDA YANG DIDARATKAN DI PPP LABUAN, BANTEN (Resources of Indian Mackerel (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) in Sunda Strait Water that Landed on PPP Labuan, Banten)
ABSTRACTIndian mackerel is one of the small pelagic fish that has an important economic value and the dominant fish catches landed in PPP Labuan. The catch of Indian mackerel decreaseyear to year. Therefore Indian mackerel resources, alleged have over-exploited. The aim of this research was to identify a production pattern, fishing ground, fishing season pattern and identify a more appropriate alternative recommendation for the management of Indianmackerel. The results showedthat the production of Indian mackerel had a fluctuated seasonal pattern. The peak fishing season was in April to August while low season (low catches) in December and January. Distribution of Indian mackerel fishing grounds wasin the waters around the Sunda Strait such as RakataIsland, Rakata Kecil Island, Anak RakataIsland, Panaitan Island, Papole Island, Sebesi Island, Sebuku Island, Jongor and Tanjung Lesung. Utilization status of Indian mackerel has already overfished in biology and economics. Some recommendation for managing Indian mackerel resources that were landed in PPP Labuan such as, reduce the fishing effort, increase the mesh size, and improvementmanagement infishing season and fishing ground.Keywords: Indian mackerel, management, PPP Labuan, Sunda Strait-------ABSTRAKIkan kembung merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan ikan tangkapan dominan yang didaratkan di PPP Labuan. Hasil tangkapan ikan kembung menurun dari tahun ke tahun. Oleh sebab itu diduga ikan kembung telah mengalami eksploitasi berlebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola produksi, daerah tangkapan, pola musim penangkapan, serta mengidentifikasi alternatif pengelolaan yang lebih tepat. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pola produksi ikan kembung berfluktuatif. Musim puncak penangkapan ikan berada pada bulan April hingga Agustus, sedangkan musim paceklik berada pada bulan Desember dan Januari. Sebaran wilayah penangkapan berada di sekitar perairan Selat Sunda seperti di P. Rakata, P. Rakata Kecil, P. Anak Rakata, P. Panaitan, P. Papole, P. Sebesi, P. Sebuku, Jongor serta Tanjung Lesung. Pengelolaan ikan kembung dapat dilakukan dengan cara mengurangi upaya penangkapan, memperbesar ukuran mata jaring, pengaturan musim penangkapan dan daerah penangkapan.Kata kunci: ikan kembung, pengelolaan, PPP Labuan, Selat Sund
EFISIENSI, PRODUKTIVITAS DAN INDEKS KETIDAKSTABILAN PERIKANAN TUNA LONGLINE DAN PANCING TONDA (Efficieny, Productivity and Instability Index of Tuna Longline and Troll Line)
ABSTRACTTuna longline and troll line are two dominant tuna fishing fleets in Palabuhanratu port. Tuna longline and troll line yielded around 7.06 thousand tons or 89.12 % of total fish production. The main problem of tuna industry was thing related to resource and capturing capacity. This study aimed to understand the capacity, efficiency, and total factor productivity of fisheries business of tuna in PPN Palabuhanratu, using Data Envelope Analysis (DEA) approach. The study was done in harbour area of Palabuhanratu, from January to March 2014. The time series data from 2010 to 2013 were obtained, covering the production of tuna longline and marine hook boats, input usage (boat, fuel, feed, fishermen, ice box, trip number, oil, water, capturing device). Under variable return to scale assumption, the result showed that business capacity of tuna in Palabuhanratu has been efficient. According to Malmquist approach, we found an important indicator of business productivity, ie. Index of total factor productivity change. Malmquist index of troll line was 0.851, while the Malmquist index of tuna longline was 1.139. Both indices showed the magnitude of productive change of the fleets. The annual change of total factor productivity could be described by the change of TFPCH from 2010 to 2013, the respective value of each year were 0.480; 1.945 and 1.023. Those showed the magnitude of productive change of fisheries business of tuna in PPN in Palabuhanratu.Keywords: DEA, efficiency, Malmquist index, productivity, troll line, tuna longline, VRS-------ABSTRAKArmada perikanan tuna longline dan pancing tonda merupakan armada yang dominan menangkap ikan tuna di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu.Total produksi dari keduanya sebanyak 7.066,64 ton (89,12%) dari total produksi ikan di Palabuhanratu. Permasalahan utama industri tuna adalah terkait sumber daya dan kapasitas penangkapan tuna. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat efisiensi, perubahan total faktor produktivitas dan indeks ketidakstabilan usaha perikanan tuna dengan menggunakan tuna longline dan pancing tonda di Palabuhanratu dengan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) dan Indeks Ketidakstabilan (Coppoct Instability Index). Penelitian dilakukan dikawasan PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada bulan Januari – Maret 2014. Data yang digunakan adalah data time series yang dikeluarkan oleh PPN Palabuhanratu dari tahun 2010-2013. Data yang digunakan dalam analisis ini meliputi produksi dari armada tuna long line dan pancing tonda. Adapun input yang digunakan adalah kapal (longline dan pancing tonda), BBM, umpan, nelayan, es, trip, oli, air, alat tangkap. Hasil analisis dengan asumsi variable return to scale (VRS), kapasitas usaha perikanan tuna di Palabuhanratu, pada armada tuna longline dan pancing tonda sudah efisien. Artinya bahwa sumber daya sudah dialokasikan secara efisien, penggunaan input dalam upaya penangkapan tuna sudah efisien. Hasil analisis menggunakan pendekatan indeks Malmquist diperoleh indeks total factor productivity change yang menunjukkan indikator penting produktifitas usaha. Nilai indeks Malmquist untuk amada pancing tonda sebesar 0,851 dan tuna longline sebesar 1,139, menunjukkan besarnya perbandingan perubahan produktivitas antara kedua armada tersebut. Perubahan total faktor produktivitas antar tahun digambarkan dari besarnya perubahan TFPCH dari tahun 2010 sampai dengan 2013 masing-masing besarnya 0,480; 1,945 dan 1,023, yang menunjukan perubahan besarnya produktivitas usaha perikanan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 sampai 2013.Kata kunci: DEA, efisiensi, Malmquist index, produktifitas, pancing tonda, tuna longline, VR
ESTIMASI KEGIATAN ALIH MUAT PADA KAPAL RAWAI TUNA BERDASARKAN DATA VMS DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN (Transshipment Activites Estimation in Tuna Longliner Base on VMS Data and Catch Composition)
ABSTRACTTransshipment in longline fisheries is a common activity at Nizam Zachman Jakarta fishing port. Publication of PERMEN KP No. 57 of 2014 causing strong protests among actors and unloading included in PPS over Nizam Zahman. The purpose of this research are to identify the movement patterns of longline vessels through VMS data and to estimate longline target catch by transshipment. This research was applied descriptive method. Primary data was derived from the VMS tracking data and interviews. Secondary data were obtained from 276 loading and unloading activities longline tuna catches. The results of this study indicated that the movement of the ship only accommodate the catch can be clearly identified by VMS. Transshipment activity, mostly happened to target catches which reaching 62% with bigeye tunadominantly 92.61%. On bycatch, there were three dominant species, that were mackerel scad, mackerel tuna and southern bluefin tuna. Fresh conditions dominate activity over the load by 89%, ie 46% of the quality of export whole quality and 43% reject quality. Fresh condition consists of six species, bigeye tuna (2,408,999 kg), yellowfin tuna (970,186 kg), Swordfish (47,774 Kg), southern bluefin tuna (4,435 kg), marlin (962 kg) and albacore (39 kg). Transshipment at Nizam Zachman Jakarta fishing port dominated by fishing vessel measured 61-100 GT and < 50 days long trip. It shows that there was correlation between transshipment activity and fresh tuna industry.Keywords: catch composition, transshipment, tuna longline, VMS dataABSTRAKAlih muat hasil tangkapan dalam perikanan longline umum terjadi di PPS Nizam Zachman Jakarta. Terbitnya PERMEN KP No 57 tahun 2014 menimbulkan protes keras di kalangan pelaku alih muat termasuk di PPS Nizam Zahman. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pola pergerakan kapal perikanan dalam melakukan kegiatan alih muat dan mengestimasi komposisi hasil tangkapan rawai tuna melalui kegiatan alih muat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Data primer berasal dari data tracking VMS dan hasil wawancara. Data sekunder diperoleh dari 276 aktivitas bongkar muat hasil tangkapan rawai tuna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pergerakan kapal yang hanya menampung hasil tangkapan dapat teridentifikasi dengan jelas melalui VMS. Kegiatan alih muat pada rawai tuna dominan terjadi pada hasil tangkapan utama mencapai 62% dengan spesies yang dominan yaitu tuna mata besar dengan prosentase sebesar 92,61%. Pada hasil tangkapan sampingan terdapat 3 spesies dominan yaitu layang, sunglir dan tuna sirip biru selatan. Kondisi segar mendominasi kegiatan alih muat sebesar 89%, yaitu 46% mutu kualitas ekspor utuh dan 43% mutu reject. Kondisi segar terdiri atas 6 spesies, yaitu tuna mata besar (2.408.999 kg), madidihang (970.186 kg), ikan pedang(47.774 Kg), tuna sirip biru selatan (4.435 kg), setuhuk (962 kg) dan albakora (39 kg). Produksi alih muat didominasi oleh kapal berukuran 61-100 GT dan lama trip <50 hari. Hal ini menunjukkan korelasi antara alih muat dengan kegiatan perikanan tuna segar.Kata kunci: komposisi hasil tangkapan, alih muat, rawai tuna, data VM
PENGEMBANGAN ARMADA PANCING TUNA DENGAN RUMPON DI PERAIRAN PUGER, JAWA TIMUR (The Development of Troll Lines Using Fish Agregation Device (FADs) in Puger Waters, East Java)
ABSTRACTFisheries sector is undergoing a crisis in global dimensions for the last few years caused of unsustainable consumption, overfishing, as well as the increasing of pollution and climate change distribution. One of the overfishing area is South coast Java Seas) where this has the potential resources of tuna included Puger waters. Tunas are catched by troll lines around fish aggregating devices (FADs). Increasing population of FADs can effect tuna resources such as: the size and qualities decreased. The results showed that the length of catched tunas were between 40-49 cm, the weights were from 0 to 3.5 kg, and the organoleptics were dominated on 6 scale. These indicated that tunas had the unexpected sizes and exportless. The rising of FADs utilization also contributed to the increasing insidence of conflicts among fishery stakeholders. There were three kinds of conlicts in Puger, such as: latent conflict (shipping crew and TPI), felt conflict (internal shipping crew), and manifest conflict (shipping crew-institution). Development strategy formula was conducted by SWOT analysis. The important thing for government to overcome these problems were continuing in area socializing, utilization programme of coastal area for integrated and sustainable fisheries.Key words: catch composition analysis, FADs, social conflict, strategy of fisheries development-------ABSTRAKSektor perikanan sedang mengalami krisis dalam dimensi global pada beberapa tahun terakhir ini. Hal ini disebabkan karena pola konsumsi yang tidak berkesinambungan, overfishing, dan polusi serta perubahan iklim. Salah satu wilayah yang mengalami overfishing adalah Samudera Hindia Selatan Jawa dimana wilayah ini memiliki sumberdaya tuna yang potensial. Wilayah tersebut mencakup Perairan Puger, Jawa Timur. Tuna ditangkap menggunakan alat tangkap pancing dan alat bantu rumpon. Peningkatan rumpon dapat mengakibatkan sumberdaya tuna menurun yang dilihat berdasarkan komposisi ukuran dan menimbulkan konflik diantara stakeholder. Sebagai tambahan, penangkapan tuna oleh armada pancing menunjukkan kualitas tuna yang rendah akibat penanganan yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi ukuran tuna berada pada selang 40-49 cm dengan berat ikan pada selang 0-3,5 kg. Hal ini mengindikasikan bahwa tuna memiliki ukuran tidak layak tangkap dan ekspor. Terdapat tiga jenis konflik di Puger, seperti: Latent conflict (Nelayan rumpon dan TPI), felt conflict (antara nelayan rumpon), manifest conflict (nelayan rumpon dan instansi pemerintah). Perumusan strategi pengembangan dilakukan menggunakan analisis SWOT. Hal yang paling penting bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan adanya sosialisasi daerah, program pengembangan wilayah pesisir terpadu dan berkesinambungan.Kata kunci: analisis komposisi hasil tangkapan, rumpon, konflik sosial, strategi pengembanganperikana
STRATEGI PENGEMBANGAN PERIKANAN CAKALANG DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (Skipjack Tuna Fisheries Development Strategy at East Lombok District West Nusa Tenggara Province)
ABSTRACTEast Lombok District has marine waters area that is transversed by skipjack tuna. This condition makes its production to be the third highest after yellow fin and black marlin. However, there are some conditions related to skipjack tuna fishery in east Lombok District that are necessary to be concerned for its development. Therefore, research on skipjack tuna development strategy in East Lombok District according to its condition in that area is needed to conduct. This research is aimed to formulate skipjack tuna fishing development strategy in East Lombok District. The methodology used in this research are descriptive and SWOT analysis. This study resulting to 7 (seven) alternative strategis for skipjack tuna fisheries development in East Lombok District that are optimizing skipjack tuna utilization, rationalizing the number of skipjack tuna fishing unit, training the fishermen about catch handling, improving fishermen institutional to raise their bargaining position, maximizing market potential for skipjack tuna commodity, and diversifying skipjack tuna processing types.Key words: East Lombok District, skipjack tuna fisheries, strategy of development, SWOT analisys-------ABSTRAKKabupaten Lombok Timur memiliki wilayah perairan laut yang dilalui oleh ruaya ikan cakalang. Hal ini menjadikan ikan cakalang sebagai salah satu sumberdaya ikan dengan produksi terbanyak ketiga setelah ikan madidihang dan setuhuk hitam. Namun, terdapat beberapa kondisi terkait perikanan cakalang di Kabupaten Lombok Timur yang perlu dipehatikan. Oleh sebab itu, penelitian mengenai strategi pengembangan perikanan cakalang di Kabupaten Lombok Timur berdasarkan kondisi perikanan cakalang di daerah tersebut perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan perikanan cakalang di Kabupaten Lombok Timur. Metodologi yan digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis SWOT. Penelitian ini menghasilkan 7 (tujuh) alternatif strategi pengembangan perikanan cakalang di Kabupaten Lombok Timur, yaitu mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang, merasionalisasikan jumlah unit penangkapan ikan cakalang, memberikan pelatihan kepada nelayan mengenai cara penanganan hasil tangkapan, memperbaiki kelembagaan nelayan untuk meningkatkan posisi tawar nelayan, memaksimalkan potensi pasar komoditi ikan cakalang, serta diversifikasi jenis pengolahan ikan cakalang.Kata kunci: Kabupaten Lombok Timur, perikanan cakalang, strategi pengembangan, analisisSWO
POLA MUSIM DAN DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN KABUPATEN PANGKEP (Season And Patterns of Catching Swimming Crab (Portunus pelagicus) in Pangkep Waters Regency)
ABSTRACTThe season patern of swimming crab is influenced by rekruitman amount generated by each individual crab in the fishing ground. This study aims to assess the pattern of fishing crab season and the fishing ground as a participatory method in Pangkep water Regency. The data collected consisted of primary and secondary data. Data analysis was performed using the technique of time series analysis on the catch per unit of fishing effort crab monthly during the last six years. The peak season is catching crabs at IMP> 1% which took place in June and September. The highest percentage of catches in the fishing ground is in September which is 11.71% and lowest in April which amounted to 5.77%. The results of the analysis of index fishing season of crabs is throughout the year at the fishing area in Pangkep waters.Keywords: Analysis, Season Patern, Fishing Ground, Swimming Crabs-------ABSTRAKPola musim rajungan dipengaruhi oleh jumlah rekruitman yang dihasilkan oleh setiap individu rajungan di daerah penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola musim penangkapan rajungan dan daerah penangkapan rajungan secara partisipatif di perairan Kabupaten Pangkep. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Analisis data yang dilakukan adalah menggunakan teknik analisis deret waktu (time series) terhadap hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan bulanan rajungan selama enam tahun terakhir. Musim puncak penangkapan rajungan berada pada IMP > 1 % yakni berlangsung pada bulan Juni dan September. Persentase tangkapan tertinggi di daerah penangkapan adalah pada bulan September yakni 11,71 % dan terendah pada bulan April yakni sebesar 5,77 %. Hasil analisis indeks musim penangkapan (IMP) rajungan dilakukan sepanjang tahun di daerah penangkapan di perairan Kabupaten Pangkep.Kata kunci: Analisis; Pola Musim; Daerah Penangkapan; Rajunga
PENGARUH PERBEDAAN UKURAN MATA PANCING TERHADAP HASIL TANGKAPAN PANCING ULUR DI PERAIRAN PULAU SABUTUNG PANGKEP (Effects of Difference of Hook Size on the Catch of Handline in Sabutung Island Waters of Pangkep Regency)
ABSTRACTEffort to exploitation the fishery resources can do in various ways, catching effort by use of hand line is one of the efforts in the field of fisherie. The study was conducted in the Sabutung Island Waters of Pangkep Regency, aims was to investigate the effect of different of hook size and the species composition of the catch of hand line using different of hook size. The effectiveness of hook size is determined by the highest of catches.The method used is experimental fishing on the fishing operation of hand line during 30 trips. Data analysis used normality test and ANOVA test done with SPSS 16.0. The results showed that the differences between hook size number 10 with number 8 and 12 gave influences to the amount of catch. It’s showed by sig score hook size no.10 is 0,00 and sig score hook size no.8 and 12 is 0,00 which them have sig score less than 0,05 and it meant H0 pushed away so it concluded that the hook size influenced the fishing catch. The compositions of fish catch during the study based on the amount and weight were short mackerel, Bigeye scad, Indian scad, yellow tail and diodon histrix. Short mackerel were the most species of fish caught during the research that is equal to 41,2% of the 364 tail of the total catch.Keywords: hand line, hook size, small pelagic fish-------ABSTRAKUsaha mengeksploitasi sumber daya perikanan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satu diantaranya adalah usaha perikanan tangkap dengan menggunakan pancing ulur (hand line). Penelitian dilakukan pada September-Nopember 2012 di Perairan Pulau Sabutung Kabupaten Pangkep, bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan ukuran mata pancing dan komposisi hasil tangkapan dari tiga ukuran mata pancing yang berbeda sehingga diperoleh ukuran mata pancing yang efektif. Efektifitas ukuran mata pancing ditentukan berdasarkan jumlah tangkapan terbanyak. Metode yang digunakan adalah metode experimental fishing, dengan operasi penangkapan ikan sebanyak 30 trip. Analisis data menggunakan uji kenormalan dan uji ANOVA dengan SPSS 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan mata pancing no.10 dengan no.8 dan 12 berpengaruh terhadap jumlah dan berat hasil tangkapan pancing ulur. Hal ini dilihat dari nilai sig mata pancing no.10 sebesar 0,00 dan sig mata pancing no. 8 dan 12 sebesar 0,00 yang menunjukan nilai sig kurang dari 0,05. Ini menunjukan H0 ditolak sehingga disimpulkan bahwa ukuran mata pancing berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Komposisi hasil tangkapan selama penelitian berdasarkan jumlah dan berat terdiri atas kembung lelaki, selar bentong, layang, ekor kuning dan ikan buntal. Ikan kembung lelaki adalah jenis ikan yang paling banyak tertangkap selama penelitian yaitu sebesar 41,2% yaitu 364 ekor dari keseluruhan hasil tangkapan.Kata kunci: pancing ulur, ukuran mata pancing, ikan pelagis keci
POLA DINAMIS PENURUNAN HASIL TANGKAPAN UDANG AKIBAT PENGENDAPAN DAN LIMBAH INDUSTRI DI KAWASAN SEGARA ANAKAN (Dynamic Pattern of Degradation of Shrimps Catch as an Effect of Sedimentation and Industrial Waste in Segara Anakan)
AbstractSegara Anakan, Cilacap Regency is an important marine fisheries producer in Central Java Province, especially for shrimps. The objective of this study were to analyze the production and fishing ground of shrimps, to analyze dynamic patterns of shrimps cat ch affected by sedimentation and industrial waste in Segara Anakan, and to develop intervention option to the degradation of shrimp catch as well. Some methods were used in this study such as descriptive method, geographic information system, and dynamic model approach included the test of model structural stability and performance. In 2002–2013, the highest production of shrimps in the Segara Anakan was in 2006 (2263.0 ton) and the lowest was in 2010 (884.7 ton). Fishing ground of shrimp in the Segara Anakan already had high total suspended solid, and also low contaminated oil and lead (Pb). Results of dynamic model analysis showed that shrimp catch degraded exponentially along with the increasing of sediment accumulation and industrial waste. Shrimps production in 2013 was 1147.8 tons, and might decrease 43.04 % to be 653.8 tons over 75 years later without intervention. If the model was intervenced by fishing open -close system and limited acces fishing ground, hence shrimps catch showing stable around 902.2–929.1 ton every year. While if the intervention was conducted by the stopping of industrial waste to Segara Anakan, hence shrimps catch only decrease 13.00 % to be 998.6 tons over 75 years later.Keywords: dynamic model, fishing ground, industrial waste, shrimp catchAbstrakABSTRAKSegara Anakan, Kabupaten Cilacap merupakan basis produksi perikanan laut yang penting di Provinsi Jawa Tengah terutama jenis udang. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi produksi dan daerah penangkapan udang, menganalisis pola dinamis penurunan hasil tangkapan udang akibat pengaruh pengendapan dan pembuangan limbah industri di kawasan Segara Anakan, serta mengembangkan alternatif intervensi secara modelling terhadap penurunan tersebut. Metode yang digunakan terdiri dari metode deskriptif, sistem informasi geografi, pendekatan model dinamis, serta uji kestabilan struktur dan kinerja model. Pada periode tahun 2002 – 2013, produksi tertinggi udang terjadi pada tahun 2006 (2263,0 ton) dan terendah terjadi pada tahun 2010 (884,7 ton). Daerah penangkapan udang di kawasan Segara Anakan mempunyai total padatan tersuspensi dan kekeruhan yang tinggi, serta tercemar ring an oleh minyak dan logam timbal. Analisis model dinamis menunjukkan bahwa hasil tangkapan udang cenderung menurun secara eksponensial seiring meningkatnya akumulasi endapan dan cemaran limbah industri dari waktu ke waktu. Hasil tangkapan udang yang saat ini (tahun 2013) mencapai 1147,8 ton, bisa menurun 43,04 % menjadi 653,8 ton setelah 75 tahun kemudian. Bila model tersebut diintervensi dalam bentuk penerapan sistem open-close dan pembatasan daerah penangkapan yang bisa diakses, maka hasil tangkapan udang cenderung stabil pada kisaran angka 902,2 – 929,1 ton setiap tahunnya. Akan tetapi bila intervensi dilakukan dalam bentuk penghentian pembuangan limbah industri ke kawasan Segara Anakan dan sekitarnya, maka hasil tangkapan udang hanya turun 13,00 % (menjadi 998,6 ton) setelah 75 tahun kemudian.Kata kunci: model dinamis, daerah penangkapan, limbah industri, hasil tangkapan udan
PERTUMBUHAN, KEMATIAN DAN TINGKAT EKSPLOITASI KERANG POKEA (BATISSA VIOLACEA VAR. CELEBENSIS, VON MARTENS 1897) PADA SEGMEN MUARA SUNGAI LASOLO SULAWESI TENGGARA
ABSTRACTPokeas (Batissa violacea var. celebensis, von Martens 1897) are economic Sulawesi’s clam which production has continued to decline in line with the increase in fishing activities. This study aimed to determine the parameters of growth, mortality and exploitation level of pokea at estuary segment in Lasolo River, Southeast Sulawesi. The results of this study are expected to be a reference in the management of pokea resources in Southeast Sulawesi. Data segregation for age group, growth, mortality (natural, catches and total) and the degree of exploitation were analized by Bhattacharya method, inverse model von Bertalanffy, length converted catch curve and empirical Pauly, that accommodated in FiSAT II version 1.1.3. Results showed that male and female pokea were distributed as juvenile, adult to broodstock, dominated by adult. The growth pattern (Lt) of male and female, was = 6.46-(6.46-0.025)e-2.8t and Lt = 7.79-(7.79-0.025)e-0.5t,respectively. Natural mortality (M), fishing mortality (F) and total mortality (Z) in males were found higher than females. In general, the utilization level of pokea in the Lasolo river has experienced over exploitation.Keywords: clam, Lasolo River, management resources, pokea, Southeast SulawesiABSTRAKKerang pokea (Batissa violacea var. celebensis, von Martens 1897) merupakan kerang ekonomis dari Sulawesi yang produksinya terus mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan aktivitas pengambilannya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter pertumbuhan, kematian dan tingkat eksploitasi kerang pokea di segmen muara SungaiLasolo Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan rujukan dalam pengelolaan sumberdaya kerang pokea di Sulawesi Tenggara. Data pemisahan kelompok umur, pertumbuhan, kematian (alami, tangkapan dan total) dan tingkat eksploitasi masing-masing menggunakan metode Bhattacharya, model inverse von Bertalanffy, hasil tangkapan yang dikonversi dari data lebar cangkang dan empiris Pauly yang terakomodasi dalam program FiSAT II versi 1.1.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pokea jantan dan betina tersebar dari ukuran anak, dewasa dan tua yang didominasi pada ukuran dewasa. Pola pertumbuhan jantan dan betina masing-masing yaitu: Lt = 6.46-(6.46-0.025)e-2.8t dan Lt = 7.79-(7.79-0.025)e-0.5t . Kematian pokea tertinggi secara alami (M), penangkapan (F) dan total (Z) pada jantan ditemukan lebih tinggi dibandingkan kematian pada pokea betina. Secara umum, tingkat pemanfaatan kerang pokea di Sungai Lasolo telah mengalami lebih tangkap.Kata kunci: kerang, Sungai Lasolo, manajemen sumberdaya, pokea, Sulawesi Tenggar
UNJUK KERJA SLURRY ICE REFRIGERATOR BERBAHAN BAKU AIR LAUT DI PERAIRAN TROPIS (The Performance of Slurry ice Refrigerator with Sea Water Raw Material in Tropical Area)
ABSTRACTFish is perishable food. Quality of fish, especially the freshness level will drop significantly if it is not treated quickly and properly. The general method used in fish handling on fishing vessels is cold treatment such as ice cube, ice flake, ice tube, and slurry ice. Usage of slurry ice in Indonesia has not been applied due to high cost of refrigeration slurry ice unit, even though slurry ice has many advantages such as quick cooling, low operating cost, easy operation, and adaptable size. The objective of this research was to determine performance of slurry ice refrigerator (SIR) using sea water as raw material in tropical area. This unit can produce slurry ice for fish handling on fishing vessel. An experimenta lmethod was applied in this research. The results showed that SIR could reach temperatures of -60 C with no-added load, and -40 C with load.Keywords: construction, design, performance, refrigeration, slurry ice ABSTRAK Ikan merupakan bahan makanan yang mudah rusak. Kualitas ikan terutama tingkat kesegarannya akan menurun secara signifikan apabila tidak ditangani dengan cepat dan benar. Penanganan yang umumnya dilakukan terhadap ikan di atas kapal penangkap yakni memberikan perlakuan dingin seperti menggunakan es balok, es curah, es tube, dan slurry ice. Penggunaan slurry ice di Indonesia belum dilakukan dikarenakan mahalnya mesin pembuat slurry ice. Metode pendinginan dengan mesin slurry ice ini memiliki banyak keunggulan diantaranya mampu melakukan proses pendinginan dengan cepat, biaya operasional murah, mudah dalam pengoperasian, ukuran mesin dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tujuan dari penelitian ini yakni menentukan unjuk kerja slurry ice refrigerator (SIR) berbahan baku air laut di daerah tropis. Slurry ice ini digunakan untuk penanganan ikan hasil tangkapan di atas kapal. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimental, melalui tahapan perancangan dan pembuatan unit model mesin pembuat slurry ice dan pengujiannya. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan unjuk kerja mesin dapat mencapai suhu -60 C tanpa penambahan beban, dan dengan penambahan beban mampu mencapai suhu -40 C.Kata kunci: kontruksi, rancangan, unjuk kerja, refrigerasi, slurry ic