Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
    314 research outputs found

    DISTRIBUSI UKURAN DAN POLA MUSIM PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN KABUPATEN PANGKEP

    Get PDF
    The swimming crab potential is a resource that has high economic value. Therefore the utilization needs to be done continuously and  to achieve this is by conducting an important  research focussed on the size and the fishing season pattern of the swimming crab by studying the pattern of the catching season, it is expected to improve the efficiency and effectiveness of the catching time. The objective of this research is  to 1. Map the distribution of the frequency and size of crab and 2. Determine the pattern of fishing season in Pangkep waters. The research is conducted from March to November 2016. It is located in Pangkep waters regency, South Sulawesi Province. The data is collected through survey method consisted of primary and secondary data. The data were analyzed using frequency distribution analysis approach and time series analysis technique toward catch (kg) of fishing effort. The results obtained showed that the dominant female crab caught with a size > 10.0 cm, as well as dominant male crabs caught with a size > 10 cm. The fishing gear used is trap and gillnet. In addition the catching season is in May, June, July, September, October and November. The peak season of catching season takes place in June and September.Keywords: Size distribution, Season pattern, swimming crab, at Pangkep DistrictABSTRAKPotensi sumberdaya rajungan, merupakan komoditas sumberdaya yang memiliki nilai ekonomis penting, sehingga pemanfaatannya perlu dilakukan secara berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut maka ukuran hasil tangkapan dan pola musim  penangkapan  rajungan menjadi penting untuk diteliti. Adanya informasi pola musim penangkapan, diharapkan dapat meningkatkan efesiensi dan efektifitas waktu penangkapan rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) memetakan distribusi frekuensi dan ukuran rajungan yang tertangkap, dan 2) menentukan  pola musim hasil tangkapan rajungan di perairan Kabupaten Pangkep. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret sampai bulan November 2016, di perairan  Kabupaten Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan.  Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode survei.  Data yang dikumpulkan terdiri dari data hasil tangkapan rajungan per hari; panjang dan lebar  (cm) karapas dan berat (gram/kg) rajungan. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis distribusi frekuensi dan teknik analisis deret waktu (time series) terhadap hasil tangkapan (kg) persatuan upaya penangkapan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa distribusi frekuensi rajungan betina, tertangkap  berukuran < 10,0 cm, lebih sedikit dibandingkan yang tertangkap  di atas ukuran > 10,0 cm. Demikian juga rajungan jantan ukuran < 10,0 cm jumlahnya lebih sedikit dan ukuran rajungan > 10,0 cm lebih dominan tertangkap. Alat tangkap yang digunakan adalah bubu lipat, dan gillnet rajungan. Pola musim penangkapan rajungan di perairan Kabupaten Pangkep terjadi pada bulan Mei, Juni, Juli, September, Oktober dan November dan puncak musim berlangsung pada bulan Juni dan September.Kata kunci: distribusi ukuran,  pola musim, rajungan, Kabupaten Pangke

    PENILAIAN JENIS MULTIGEAR PADA USAHA PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL DI PERAIRAN SUNGSANG KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN

    Get PDF
    ABSTRACT  Multigear has been commonly used in small-scale fishery activities in Sungsang waters. The aim of using the multigear is to enable the fishermen carry out their activities at every catching season. Inaccurate and inefficient use of the multigears are the concern that will present inefficiency or even conflict among the fishermen.  Therefore the research was carried out with the objective to determine the best type of a multigear that will be used in the small scale fishery at Sungsang waters based on economic, productivity, social and biological aspects. Multiple Criteria Analysis (MCA) is the method of assessment on the quality type of the multigear.  The outcome of the research presented that the best quality type of the multigear  is 1) the multigear type with the combination of trammel net  and drift longline; 2) the multigear type with the combination of drift gillnet (mesh, 3 inches) and drift long line; 3) the multigear type with the combination of drift gillnet (mesh, 2 inches) and trammel nets.  Key Words: MA analysis, small-scale fishery, the best quality multigear,ABSTRAKMultigear telah banyak digunakan pada usaha perikanan tangkap skala kecil di Perairan Sungsang. Tujuan penggunaan multigear adalah dikarenakan agar nelayan dapat terus melakukan aktivitas penangkapan dalam setiap setiap musim penangkapan.  Penggunaan multigear yang tidak tepat dan bijak, dikhawatirnya malah akan menimbulkan inefisiensi atau bahkan menimbulkan konflik antar nelayan. Oleh kerana itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan jenis multigear unggulan pada usaha perikanan tangkap skala kecil di Perairan Sungsang berdasarkan aspek ekonomi, aspek produktivitas, aspek sosial, dan aspek biologi. Penilaian keunggulan jenis multigear menggunakan metoda Multiple Criteria Analysis (MCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis multigear unggulan adalah: 1) jenis multigear dangan kombinasi jaring udang dan rawai hanyut;  2)  jenis multigear dangan kombinasi jaring insang hanyut (mesh, 3 inci) dengan rawai hanyut (umpan), dan 3) jenis multigear dengan kombinasi jaring insang hanyut (mesh, 2 inci) dan jaring udang. Kata kunci:  MCA analysis, perikanan skala kecil, multigear unggula

    HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (BYCATCH DAN DISCARD) PADA ALAT TANGKAP GOMBANG (FILTER NET) SEBAGAI ANCAMAN BAGI KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN

    Get PDF
    ABSTRACTFilter net has a mesh size in small size pockets of the net. This allows filter net has the potential to be non-selective fishing gear about the fish size and the target species catch. If the fishing gear allowed, hence its existence will ultimately have a negative impact on the sustainability of fisheries resources, especially in coastal waters. The objective of this research is to calculate compositions and proportions of the main catch, bycatch and discard of the filter net. It is expected by knowing  the composition and proportion of the main catch, bycatch and discard can provide an overview  of the pressure on the stock and sustainability of fisheries resources in  waters where it is operated. This research was used survey method. A series of survey activities was conducted directly in the field to identify and count species of filter net‘s fishing catches. Based on the main catch, bycatch and discard of the filter net, it shows that Sergetes similis is the dominant species caught bythe filter net(98.455%).  The main catch for Escualosa thoracata reaches 1.354%. Besides, the main catches that were caught were Metapenaus monocerus, Parapenaeopsis sp, Panulirus sp and Paneeus monodon with the catch percentage ranging from 0.011 to 0.024%. Percentage of by-catches reached 0.04-0.00004% of the 24 species caught and the catch removed was around 0.001-0.0005% of the 3 species caught.Keywords: bycatch, discard, filter net, fisheries resources, main catchABSTRAKGombang memiliki ukuran mata jaring pada kantong berukuran kecil. Hal ini memungkinkan alat tangkap gombang berpotensi menjadi alat tangkap yang tidak selektif terhadap ukuran ikan dan jenis yang menjadi sasaran tangkapannya. Apabila alat tangkap ini dibiarkan, maka keberadaannya pada akhirnya akan memberikan dampak yang negatif terhadap keberlanjutan sumberdaya ikan terutama di perairan pantai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung komposisi dan proporsi hasil tangkapan utama (main catch), hasil tangkapan sampingan (bycatch) dan hasil tangkapan yang dibuang (discard).Diharapkan dengan mengetahui komposisi dan proporsi hasil tangkapan utama, sampingan dan yang dibuang dapat memberikan gambaran tentang tekanan terhadap stok dan kelestarian sumberdaya perikanan di perairan dimana gombang dioperasikan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei.Serangkaian aktivitas survei dilakukan secara langsung di lapang untuk mengidentifikasi dan menghitung jenis spesies yang tertangkap oleh alat tangkap gombang.Berdasarkan persentase hasil tangkapan utama, sampingan dan buangan per jenis, menunjukkan  Sergetes similis merupakan spesies yang dominan tertangkap oleh alat tangkap gombang (98,455%). Hasil tangkapan utama untuk Escualosa thoracata mencapai 1,354%. Selain itu hasil tangkapan utama yang tertangkap ialah Metapenaus monocerus, Parapenaeopsis sp, Panulirus sp dan Paneeus monodon dengan persentase hasil tangkapan berkisar 0,011-0,024%. Persentase hasil tangkapan sampingan mencapai 0,04-0,00004% dari 24 spesies yang tertangkap dan hasil tangkapan yang dibuang berkisar 0,001-0,0005% dari 3 spesies yang tertangkap.Kata kunci: bycatch, discard, gombang, sumberdaya perikanan, main catc

    KRITERIA ALOKASI TANGKAPAN TUNA UNTUK KOMISI TUNA SAMUDERA HINDIA (IOTC)

    Get PDF
    ABSTRACTCatch allocation scheme generally establish based on country’s historic catch data.  Growing membership from coastal states in the Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), raise issue about the importance of geographical position in determining a catch allocation criteria.  In 2009, Scientific Committee of IOTC estimated that landings of yellowfin tuna and bigeye tuna had nearly or even exceeded its maximum sustainable yield (MSY).  Therefore, in 2010, IOTC adopted resolution to establish a system and criteria on allocation of catch for yellow fin and bigeye tuna and invited member countries to submit proposal. Indonesia proposes criteria on historic catch, economic dependency toward tuna, coastal state status, bio-ecological significance of the fishing ground, IOTC membership and level of compliance. Japan, which represents the state long-distance fishing, proposes historic catch, sustainable management plan, IOTC membership, level of compliance, financial contribution, contribution to research and data collection, and utilization of allocated quota.Objective of the research is to analyse comparation of both proposals with regards to coastal states’ rights and jurisdiction in accord with UNCLOS 1982 and resource management rights concept in Schlager and Ostrom (1992).  The research used a qualitative approach in which literature and report reviews had been conducted as data collection method, strengthened with depth interviews of resource persons, particularly Indonesia’s delegates and other relevant parties. Data obtained were analyzed descriptively using simulation calculations according to the proposed criteria. Results show that Indonesian proposed criteriaprovide advantages for coastal states, but will be disadvantaged for Japan and other distant fishing countries.  It needs an approach and further deliberation to reach agreement on tuna catch allocation criteria in the IOTC.Keywords: catch allocation criteria, coastal states, management rights ABSTRAKSkema alokasi kuota tangkapan seringkali ditentukan berdasarkan catatan sejarah hasil tangkapan armada tiap negara. Meningkatnya keanggotaan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) yang berasal dari negara pantai di Samudera Hindia, menjadikan kriteria alokasi tangkapan berdasarkan posisi geografis menjadi isu yang sangat penting.  Pada tahun 2009, stok tuna sirip kuning (yellowfin) dan tuna mata besar (bigeye) di Samudera Hindia diduga telah mendekati atau bahkan melebihi perkiraan nilai maximum sustainable yield (MSY) nya.  Oleh sebab itu tahun 2010, IOTC mengeluarkan resolusi untuk menyusun sistem dan kriteria alokasi tangkapan dan meminta usulan proposal. Kriteria yang diusulkan Indonesia meliputi sejarah penangkapan, ketergantungan ekonomi terhadap tuna, posisi negara pantai, signifikansi perairan negara, keanggotaan IOTC dan tingkat kepatuhan. Adapun Jepang yang mewakili negara penangkap ikan jarak jauh mengusung kriteria sejarah penangkapan, rencana perikanan berkelanjutan, keanggotaan IOTC, tingkat kepatuhan, kontribusi keuangan, kontribusi pada riset dan pendataan serta tingkat pemanfaatan alokasi kuota. Penelitian ini bertujuan membandingkan kriteria kedua usulan tersebut dari sudut pandang hak-hak negara pantai dalam konvensi hukum laut internasional dan konsep kepemilikan sumber daya ikan (Schlager dan Ostrom 1992). Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dimana data dan informasi diperoleh melalui kajian pustaka dan wawancara terhadap ketua atau anggota delegasi Indonesia serta pihak-pihak terkait lainnya. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan simulasi perhitungan sesuai kriteria yang diusulkan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria yang diusulkan Indonesia lebih menguntungkan bagi Indonesia, tetapi membuat Jepang dan negara penangkap ikan jarak jauh sulit untuk menerimanya. Diperlukan pendekatan dan diskusi lebih lanjut untuk mencapai kesepakatan kriteria alokasi tangkapan tuna di IOTC.Kata kunci: kriteria alokasi tangkapan, negara pantai, hak pengelolaa

    KOMPOSISI JENIS DAN UKURAN IKAN YANG DITANGKAP PADA RUMPON DENGAN PANCING ULUR DI SELAT MAKASSAR

    Get PDF
    ABSTRACTThe objective of the  researcah is to analyze the species composition and size of fish caught at shallow and deep FAD at Makassar strait. In obtaining the data, the research is using survei method carried out for four months, starting April to July 2016 at Makassar strait. The data obtained was descriptively analyzed.  The research result presented that the number of fish caught at shallow FAD 568 fish (45.92%), consisted of skipjack tuna Katsuwonus pelamis (9.86%), Bullet tuna Auxis rochei (8.65%), Yellowfin Tuna Thunnus albacares (11.16%) and Indian Mackerel Rastrelliger kanagurta (16.25%). While 669 fish (54.08%) caught at deep FAD consisted of Katsuwonus pelamis (11.80%), and  Rastrelliger kanagurta (18.35%). The size spread of skipjack tuna (23-42 cm and 29-53 cm), Bullet Tuna (16.5-25.0 cm and 18.5-28.5 cm), Yellowfin Tuna (25-120 cm and 80-160 cm) and Indian mackerel (16-25 cm and 16-25 cm) for shallow and deep FAD respectively. The fish size distribution caught at shallow and deep FAD was skipjack tuna, whereas the  Auxis rochei rochei  and Thunnus albacares had bigger size distribution in deep sea FAD, while the  Rastrelliger kanagurta had relatively similar size distribution in shallow or deep sea FAD.   Keywords:  fish size, fish species composition, hand-line, shallow and deep sea FADABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi jenis dan ukuran ikan yang ditangkap pada rumpon laut dangkal dan rumpon laut dalam di Selat Makassar. Penelitian ini menggunakan metode survei dalam pengambilan data dan dilakukan selama 4 bulan mulai April-Juli 2016 di Selat Makassar. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang ditangkap pada rumpon laut dangkal berjumlah 568 ekor (45,92%), terdiri dari ikan cakalang 9,86%, tongkol lisong 8,65%, tuna madidihang 11,16% dan kembung lelaki 16,25%. Ikan yang ditangkap pada rumpon laut dalam berjumlah 669 ekor (54,08%), terdiri dari ikan cakalang 11,80%, tongkol lisong 12,21%, tuna madidihang 11,72% dan kembung lelaki 18,35%. Sebaran ukuran ikan cakalang berkisar 23-42 cm dan 29-53 cm,  tongkol lisong 16,5-25,0 cm dan 18,5-28,5 cm, tuna madidihang berkisar 25-120 cm dan 80-160 cm serta ikan kembung lelaki berkisar 16-25 cm dan 16-25 cm masing-masing untuk rumpon laut dangkal dan rumpon laut dalam. Distribusi ukuran ikan yang ditangkap pada rumpon laut dangkal dan rumpon dalam dari jenis ikan cakalang, ikan tongkol lisong dan tuna madidihang memiliki distribusi ukuran lebih besar pada rumpon laut dalam, sedangkan ikan kembung lelaki baik pada rumpon dangkal dan dalam memiliki distribusi ukuran relatif sama.Kata kunci:  ukuran ikan, komposisi jenis ikan, pancing ulur, rumpon dangkal dan dala

    RANCANG BANGUN DAN UJI COBA ALAT PEMANGGIL IKAN “PIKNET” UNTUK ALAT TANGKAP JARING INSANG

    Get PDF
    ABSTRACTGillnet is one of the fishing gear used by Indonesian fishermen especially in East Java, with the target of small pelagic fish. The use of gillnet needs an innovation which can help fishermen to increase their catchment, namely by using Fish Aggregation Device (FAD). The objective of the research is to make a fish caller device model using sound waves that are operated on the gillnet and looking its effectiveness by conducting trials in the water. The fish caller is made using sound waves at the frequency between 500-1000 Hz, and named as Piknet (Pemanggil ikan gillnet).  The Piknet dimension after waterproof packed  is 20 cm long x 8.5 cm wide x 6.5 cm high.   The type of fish caught in this research was chicken feathers (Thryssa setirostris) with an average weight of 27.6 kg/per trip in piknet trial while without using Piknet is 17.7 kg/trip. The result of paired t-test analysis presented that there was a significant value of 0.016.   Keywords: sound, frequency, gillnet, piknetABSTRAKJaring insang adalah jenis alat tangkap ikan yang digunakan oleh nelayan di Indonesia dan Jawa Timur khususnya, dengan target tangkapan ikan pelagis kecil.  Penggunaan alat tangkap jaring insang memerlukan inovasi yang dapat membantu nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan, yaitu dengan menggunakan alat bantu pengumpul ikan.  Tujuan penelitian adalah membuat model alat pemanggil ikan berbasis gelombang bunyi yang dioperasikan pada jaring insang dan mengetahui efektivitasnya dengan melakukan uji coba di perairan.  Alat pemanggil ikan dibuat dengan menggunakan gelombang bunyi berfrekuensi antara 500-1000 Hz, dan diberi nama Piknet (Pemanggil ikan gillnet).  Dimensi Piknet setelah dikemas kedap air adalah memiliki panjang 20 cm x lebar 8,5 cm x tinggi 6,5 cm. Jenis ikan yang diperoleh pada uji coba ini adalah bulu ayam (Thryssa setirostris) dengan rata-rata jumlah hasil tangkapan 27,6 kg/trip, sedangkan tanpa menggunakan “Piknet” sebesar 17,7 kg/trip.  Hasil analisis uji-t berpasangan diperoleh hasil nilai signifikansi sebesar 0.016..Kata kunci: bunyi, frekuensi, jaring insang, pikne

    PENERAPAN TEKNOLOGI HIDROAKUSTIK UNTUK PENGUKURAN SEBARAN SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN PELAGIS KECIL DI LAUT BANDA Application of Hydroacoustic Technology to Measure Spatial and Temporal Distribution of Small Pelagic Density in Banda Sea

    Get PDF
    Acoustic method can be used to objectively solve various scientific purposes and management, especially in fisheries field. Banda Sea is a part of fisheries management area (FMA) 714 which is dominated by small pelagic fish according to 2010 Fisheries Statistics. The dominant pelagic fish in Banda is scad (Decapterus spp.) which belongs to small pelagic fish and is commonly caught in Banda Sea. The objective of this research is to estimate small pelagic fish density through spatial and temporal distribution as informaion on fisheries resources in Banda Sea, especially the location and depthwhere scad is abundant and foundin the highest density. Acoustic survey was conducted on 3-18 February 2016. Spatially, density measurement showed that the small pelagic fish distribution in Banda Sea spreadedalong the track of data acquisition and had the highest density in theswimming depth of 5-20 m.  Moreoverhigh density of scad was tended to be found near the slopes of the sea close to the mainland. Temporally,small pelagic fish tended to travel in groups at the day and disperse at night. Density of small pelagic fish distribution according to daily distribution is commonly found at night (06.00 p.m.-05.00 a.m. GMT+8) and dawn (05.00 a.m.-06.00 a.m. GMT+8). Keywords: Banda Sea, fishdensity, small pelagic fish, spatial, temporal ABSTRAKMetode akustik dapat digunakan untuk mengatasi berbagai tujuan ilmiah dan manajemen secara objektif terutama dibidang perikanan, dan berhasil memberikan manfaat. Laut Banda merupakan bagian dari wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 714 dengan sumberdaya ikan didominasi oleh kelompok ikan pelagisberdasarkan data Statistik Perikanan tahun 2010. Jenis ikan pelagis yang dominan di perairan Laut Banda adalah ikan layang (Decapterus spp.) yang termasuk kedalamkelompok ikan pelagis kecil dan banyak dimanfaatkan di Laut Banda. Penelitian ini bertujuan mengestimasi densitas ikan pelagis kecil secara spastial dan temporal sebagai informasi mengenai sumber daya perikanan di Laut Banda terutama lokasi dan kedalaman ikan pelagis kecil yang banyak ditemukan. Survei akustikdilaksanakan pada tanggal 3-18 Februari 2016 di Laut Banda.Perhitungan densitas secara spasial densitas ikan pelagis kecil menunjukkan hasil sebaran ikan pelagis kecil di perairan Laut Banda menyebar sesuai lintasan survei dan memiliki ukuran densitas ikan tertinggi berada di kedalaman renang 5-20 meter dengan densitas ikan cenderung tinggi berada di lereng laut yang dekat dengan daratan utama. Secara temporal, tingkah laku ikan pelagis pada siang hari cenderung membentuk kelompok, sedangkan pada malam hari cenderung menyebar. Sebaran densitas ikan pelagis kecil berdasarkan distribusi harian lebih banyak ditemukan pada waktu malam (18.00-05.00 WITA) dan rembang fajar (05.00-06.00 WITA).Kata kunci: densitas ikan, ikan pelagis kecil, Laut Banda, spasial, tempora

    TINGKAT KELAYAKAN OPERASIONAL KAPAL PERIKANAN 30 GT PADA PERAIRAN SULAWESI (STUDI KASUS KM INKA MINA 957) The Operational Feasibility Level of 30 GT Fishing Vessel in Sulawesi Waters (case study of KM INKA MINA 957)

    Get PDF
    The ability of a vessel to obtain catches is known as fishing vessel productivity. This greatly influences the feasibility level of the fishing operation. The objctive of the study is to evaluate the operational feasiblity level of 30 GT fishing vessel that operates in Sulawesi waters (case study INKA MINA 957). The use of  Net Present Value (NPV) and Internal Rate of Return (IRR) methods showed that the catch should be of more than minimum 116 ton per year or the NPV value at  Rp. 124.797.638,- with 10% interest rate assumption within 10 years. Furthermore, based on the internal rate of return (IRR) the interest obtained was approximately 12.2% which was higher than the market interest rate assumptions at about 2.2%. Keywords: fishing vessel, operational feasibility, NPV and IRRABSTRAKProduktivitas kapal perikanan adalah kemampuan kapal untuk memperoleh hasil tangkapan ikan. Produktivitas ini sangat mempengaruhi tingkat kelayakan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kelayakan operasional kapal perikanan 30 GT yang beroperasi di perairan Sulawesi (studi kasus KM INKA MINA 957). Metode Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR) telah digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapal perikanan layak dioperasikan dengan prediksi hasil tangkapan minimal sebesar 116 ton pertahun atau nilai NPV sebesar Rp.124.797.638,- dengan asumsi suku bunga 10% selama 10 tahun. Selanjutnya berdasarkan Metode IRR diperoleh suku bunga 12,2%, hasil ini lebih besar 2,2% sebagaimana asumsi suku bunga dipasaran.Kata kunci: kapal perikanan, kelayakan operasional, NPV dan IR

    Status Pemanfaatan Perikanan Tuna Madidihang (Thunnus albacares) Berdasarkan Model Biologi Schaefer

    Get PDF
    There are two types of population growth function  of the basic formulation of Schaefer’s biology model, however in this study there is a difference in form and value of “r” as one of a biology parameter.   In addition  to the difference in the method by calculating the process of a and b coefficient. The calculating process of a and b coefficient in Schaefer’s biology model was conducted through linear regression which has not yet been exact.  This is  due to  the model itself which is quadratic. Therefore to provide the solution is through quadratic process. The linear regression shows the value of fmsy and Ymsy 1.40 and 1.34 times smaller than quadratic process respectively. Based on the two graphs from the calculating process of a and b coefficient, it can be concluded that the utilization of yellowfin tuna fishery was still not optimal. According to the result based on the linear and quadratic regression, the maximum production of yellowfin tuna  can be increased to 664,037 and 877,340 kg.Keywords: Population growth function, Schaefer’s Biology Model, Utilization status, Yellowfin tunaABSTRAKDua jenis fungsi pertumbuhan populasi menjadi dasar pembentukan model biologi Schaefer, namun dalam kajian ini terdapat perbedaan dalam bentuk dan nilai r sebagai parameter biologi ditambah juga berdasarkan perbedaan metode perhitungan koefisien a dan b. Metode perhitungan koefisien a dan b model biologi Schaefer melalui regresi linear masih kurang tepat, karena model biologi Schaefer berbentuk kuadratik, sehingga penyelesaiannya harus melalui proses kuadratik. Nilai fmsy dan Ymsy dari proses regresi linear memiliki nilai 1,40 dan 1,34 kali lebih rendah dari proses kuadratik. Berdasarkan kedua kurva dari kedua metode perhitungan koefisien a dan b, maka status pemanfaatan perikanan tuna madidihang diduga masih belum optimal. Sehingga berdasarkan proses regresi linear dan kuadratik, maka produksi maksimal tuna madidihang masih dapat ditingkatkan sampai dengan 664.037 dan 877.340 kg.Kata kunci:  Fungsi pertumbuhan populasi, Model biologi Schaefer, Status pemanfaatan Tuna madidihan

    DINAMIKA INDUSTRI RAWAI TUNA DI PELABUHAN BENOA

    Get PDF
    ABSTRACTThis study presents information about the dynamics of industrial scale tuna longline development in Indonesia, especially tuna longline fisheries in the Eastern Indian Ocean. This study uses a descriptive method based on tuna longline enumeration data landed at Benoa port from 2012 to 2015. Benoa is one of the three main fishing ports in Indonesia, besides Nizam Zachman (Jakarta) and Cilacap (Central Java). It contributes the largest number of tuna catches to 60% of the total long-scale tuna catch industry in the Indian Ocean. This makes Benoa as the main barometer of industrial tuna fisheries in Indonesia. Industrial scale of tuna longline fisheries activities have dropped significantly to 76% from 2004 to 2015. Highest decline occurred in 2004 to 2006 by 43% followed by 2009 to 2010 at 41% and 2014 to 2015 at 19%. Enumeration data coverage in Benoa port is about 57% to 64% of total ship landing. Catch dominated by export products followed by local quality and bycatch products. The catch composition is dominated by four tuna species (BET, YFT, SBT and ALB) which reach 88% of the total catch followed by bycatch of 6.23% and fish with beaks of 5.46%. In period 2012 to 2014, fishing efforts are directly proportional to the number of ships and tuna production, but in 2015, capture efforts, CPUE and catch production increased along with the decline in the number of ships operating.Keyword: Benoa Port, enumeration program, tuna longlineABSTRAKStudi ini menyajikan informasi tentang dinamika perkembangan rawai tuna skala  industri di Indonesia khususnya perikanan rawai tuna di Samudera Hindia Bagian Timur. Studi ini menggunakan metode deskriptif yang berbasis data enumerasi perikanan rawai tuna yang didaratkan di Pelabuhan Benoa tahun 2012 sampai dengan 2015. Pelabuhan Benoa merupakan satu dari tiga pelabuhan perikanan utama di Indonesia disamping Nizam Zachman (Jakarta) dan Cilacap (Jawa Tengah). Pelabuhan Benoa menyumbangkan jumlah tangkapan ikan tuna terbesar mencapai 60% dari total tangkapan rawai tuna skalaindustri di Samudera Hindia. Hal ini menjadikan Pelabuhan Benoa sebagai barometer utama perikanan tuna skala industri di Indonesia. Kegiatan perikanan rawai tuna skala industri telah menurun secara signifikan hingga 76% dari 2004 sampai 2015. Penurunan tertinggi terjadi pada 2004 sampai 2006 sebesar 43% diikuti 2009 hingga 2010 sebesar 41% dan 2014 sampai 2015 sebesar 19%. Cakupan data enumerasi di Pelabuhan Benoa adalah 57% sampai 64% dari total pendaratan kapal. Hasil tangkapan didominasi oleh produk ekport diikuti oleh produk kualitas lokal dan produk hasil sampingan. Komposisi hasil tangkapan didominasi oleh empat spesies tuna (BET, YFT, SBT dan ALB) yang mencapai 88% dari total tangkapan diikuti oleh hasil tangkapan sampingan sebesar 6,23% dan ikan berparuh sebesar 5,46%. Pada periode 2012 sampai 2014, upaya penangkapan berbanding lurus dengan jumlah kapal dan produksi tuna namun pada tahun 2015 upaya penangkapan, CPUE dan produksi  hasil tangkapan  meningkat seiring dengan turunnya jumlah kapal yang beroperasi.Kata kunci: Pelabuhan Benoa, program enumerasi, rawai tun

    278

    full texts

    314

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇