Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
314 research outputs found
Sort by
KESESUAIAN JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PADA ZONA PEMANFAATAN TRADISIONAL MISOOL, RAJA AMPAT Suitability of Fishing Gear Type in Traditional Use Zone of Misool, Raja Ampat
Traditional use zones (TUZ) of Misool is located within the marine protected area of Misool which has high marine biodiversity, especially coral and reef fish. Regulating the use of fishing gears in TUZ of Misool,it is essential to ensure the sustainability of marine ecosystems and fisheries in the region. The objective of this study isto determine the suitability of fishing gear inthe depth zone of less than 50 m and more than 50 m in Misool TUZ, Raja Ampat. The fishing gear suitability was assessed based on bioecological, social, and legal aspects. The method used in this research was analytic hierarchy process (AHP) whichderivesthe prioritiesfor criteria and alternative fishing gear using expert judgment. The results of the analysis showed that fishing gears that wasmost appropriate to be operated in the zone which has thewater depth of less than 50 m was handline. The most decisive criteria for thiswasthat the fishing gear was undestructive to coral reef ecosystem and seagrass ecosystem. In addition,fishing gears that were suitable inthe zone with depth more than 50 m were trolline and handline, and the most decisive criteria wasthe availability of fish target and not causing conflict between fishermen. On the other hand gillnet and liftnet had a low compatibility to be used in both zones.Keywords: Analytic hierarchy process, marine protected area,Misool Raja Ampat,suitability of fishing gear, traditional use zones ABSTRAKZona pemanfaatan tradisional (ZPT) Misool terletak di dalam kawasan lindung laut Misool yang memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi, terutama ikan dan terumbu karang. Oleh karena itu,pengaturan penggunaan alat tangkap ikan di ZPT Misool sangat penting untuk menjamin keberlanjutan ekosistem laut dan perikanan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian alat tangkap untuk dioperasikan di zona perairan pada kedalaman kurang dari 50 m dan lebih dari 50 m di ZPT Misool, Raja Ampat. Kesesuaian alat penangkapan ikan dinilai berdasarkan aspek bioekologi, sosial dan legal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan pembobotan terhadap kriteria dan alternatif alat tangkap menggunakan penilaian pakar. Hasil analisis menunjukkan bahwa alat tangkap yang paling sesuai digunakan di zona perairan pada kedalaman kurang dari 50 m adalah pancing ulur, dengan kriteria yang paling menentukan adalah tidak merusak ekosistem terumbu karang dan ekosistem padang lamun. Kemudian pada zona perairan pada kedalaman lebih dari 50 m, alat tangkap yang sesuai digunakan adalah pancing tonda dan pancing ulur, dengan kriteria yang paling menentukan adalah ketersediaan target ikan dan tidak menimbulkan konflik antara nelayan. Alat tangkap jarring insang dan bagan perahu memiliki kesesuain yang rendah untuk digunakan dikedua zona.Kata kunci: Analytical Hierarchy Process,kesesuaian alat tangkap, zona pemanfaatan tradisional, Marine Protected Area, Misool Raja Ampa
HASIL TANGKAPAN PER UPAYA DAN PARAMETER POPULASI LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) DI PERAIRAN GUNUNG KIDUL Catch per Unit Effort and Population Parameters of Scalloped Spiny Lobster (Panulirus homarus) in Gunung Kidul Waters
Scalloped Spiny Lobster (P. homarus) of the genus Panulirus is the most caught species in the coastal waters of Gunung Kidul. The intensity of fishing activities and less environmentally friendly fishing practices caused decline in catch per unit effort (CPUE) of this species. The objective of this study is to analyze the exploitation rate of P. homarus in Gunung Kidul waters using CPUE trend and population parameters as indicators. From February 2013 to January 2014, there were 1067of P. homarus collected using a stratified random sampling method for the duration of the research.The carapace length data were analyzed using analytical model application of ELEFAN I program. Daily catchment product was obtained from middlemen for five consecutive years to identify the CPUE trend. The result showed that there was a decrease in CPUE of P. homarus in 2010 and 2011.The average carapace length of the first capture (Lc) (53 mm CL) was smaller than the size of first sexually mature lobster (Lm) (58,5 mm CL). The exploitation rate of P. homarus had also exceeded 0,5. These factors indicated that Scalloped Spiny Lobster (P. homarus) was over exploited. In this study, mortality rate of fish catches (F) was influenced by the high value of E0.5 which is highly correlated with fishing pressure.Von Bertalanffy growth function shows that both females and males of P. homarus have a slow growth rate (0,46/year and 0,49/year), which is still in the range of Palinuridae family’s growth rate (0,27-0,54/year). The maximum age is between 8-10 years old, which is younger than other lobster species in Palinuridae family. Harvest control and environmentally friendly fishing practices are necessary to reduce fishing pressure of this species. Keywords: CPUE, exploitation, Panulirus homarus, populationABSTRAKLobster pasir (Panulirus homarus) merupakan spesies lobster dari genus Panulirus yang paling banyak tertangkap di perairan Gunung Kidul. Intensitas penangkapan yang dilakukan sepanjang tahun serta ketidakpahaman sebagian besar nelayan terhadap penangkapan yang ramah lingkungan telah mengakibatkan penurunan hasil tangkapan per upaya tangkap (CPUE) dari spesis ini.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tekanan eksploitasi P. homarus di perairan Gunung Kidul ditinjau dari tren CPUE dan parameter populasinya. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2013–Januari 2014. Sebanyak 1067 ekor P. homarus dijadikan contoh dengan metode penarikan contoh acak berlapis setiap bulan selama periode penelitian. Data panjang karapas P. Homarus diolah dengan aplikasi model analitik menggunakan program ELEFAN 1. Data hasil tangkapan harian diperoleh melalui catatan pembelian nelayan pengumpul selama lima tahun berturut-turut untuk mengetahui tren CPUE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan CPUE P. homarus pada tahun 2010 dan 2011. Ukuran rata-rata P. homarus pertama kali tertangkap (Lc) lebih kecil (53 mm CL) dari ukuran matang kelamin secara fungsionalnya (Lm) (58,5 mm CL). Nilai laju eksploitasi (E0.5) juga sudah melebihi 0,5. Dua hal ini menjadi indikator sudah mengalami tangkap lebih.Nilai laju kematian karena penangkapan (F) berkontribusi besar terhadap tingginya nilai E dalam penelitan ini, yang dikaitkan erat dengan tingginya tekanan penangkapan terhadap spesis ini. Fungsi pertumbuhan von Bertalanffy untuk lobster betina dan jantan menunjukkan bahwa lobster memiliki pertumbuhan yang lambat (0,46/tahun dan 0,49/tahun) namun masih dalam rentang laju pertumbuhan dari lobster-lobster famili Palinuridae pada umumnya (0,27-0,54/tahun). Umur maksimal yang dapat dicapai antara 8-10 tahun, lebih muda dibanding lobster-lobster famili Palinuridae pada umumnya. Pengendalian penangkapan dan penerapan penangkapan yang ramah lingkungan perlu dilakukan untuk menghindari tekanan penangkapan terhadap spesis ini.Kata kunci: CPUE, eksploitasi, Panulirus homarus, populas
PENENTUAN WARNA DAN INTENSITAS LAMPU LIGHT EMIITTING DIODE (LED) YANG OPTIMUM PADA PENANGKAPAN IKAN SELAR KUNING (SELAROIDES LEPTOLEPIS) UNTUK PERIKANAN BAGAN TANCAP
ABSTRACTFishing activity using light emitting diode (LED) on a fixed lift net in Banten Bay is equipped using blue and white LED as its attractor. The colour and intensity of the lighting affects the successful capture of the lift nets. The colour selection is influenced by the interaction of the fish as the target. The objective of this study is to determine the optimum colour and intensity for Yellowstripe Scad (Selaroides leptolepis) based on their behavioural response and light adaptation to different colours of green and white at three different intensities which are low (1.53 x 10-5 – 2.42 x 10-5 W/cm²), medium (5.39 x 10-5 – 7.60 x 10-5 W/cm²), and high (9.03 x 10-5 – 9.42 x 10-5 W/cm²). The behavioural response of the fish was conducted using a tank experiment to measure the preferences zone, the nearest neighbour distance (NND), and behavioural response pattern for different colours and light intensity. Histological approach for each experimental light colour and intensity was used to investigate the retinal adaptations. The results showed that the schooling position of fish was dominant found in the bright zone (67%) for all colours and intensities. The average NND showed the tendency to gradually decrease with the increased light intensity. While, the cell cone index and swimming speed of fish were slightly increased with increasing intensity. The highest light adaptation was found in white LED at high intensity about 97.52%. The schooling pattern in the green LED indicated that the fish gradually swam closely and stable regularly to the neighbour with increasing light intensity. However, the fish swam widely and randomly in accordance to the increased white LED intensity. This information suggests that the green LED may be regarded as an excellent fishing light to control the behaviour in order to harvest the yellow stripe scad in lift net fishing.Keywords: colour, lift net, light, yellowstripe scad ABSTRAKEfisiensi aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan bagan tancap sangat ditentukan oleh penggunaan cahaya sebagai atraktornya. Ketepatan warna dan intensitas cahaya sangat menentukan keberhasilan operasional bagan tancap. Penetapan warna dan intensitas cahaya yang tepat sangat dipengaruhi oleh respon yang dihasilkan oleh ikan target. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan warna dan intensitas cahaya lampu LED yang optimum untuk penangkapan ikan selar (Selaroides leptolepis) berdasarkan respons tingkah laku dan adaptasinya terhadap warna dan intensitas cahaya yang berbeda. Penelitian dilakukan secara eksperimental di perairan Teluk Banten dengan target penangkapan adalah ikan selar (Selaroides leptolepis). Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua kelompok perlakuan yaitu warna dan intensitas cahaya. Perlakuan warna adalah dengan menggunakan lampu LED berwarna hijau dan putih. Adapun perlakuan intensitas cahaya adalah dengan menggunakan tiga intensitas cahaya yaitu intensitas rendah 1,53 x 10-5 – 2,42 x 10-5 W/cm²; sedang 5,39 x 10-5 – 7,60 x 10-5 W/cm²; tinggi 9,03 x 10-5 – 9,42 x 10-5 W/cm². Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap respon ikan target dari famili Engraulidae dan Carangidae. Pengamatan respons tingkah laku dilakukan pada bak pengamatan untuk menentukan zona preferensi, nearest neighbor distance (NND) dan pola tingkah laku ikan terhadap warna dan intensitas berbeda. Adaptasi retina dianalisis secara histologi berdasarkan warna dan intensitas yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian posisi schooling ikan dominan berada pada zona terang (67%) pada seluruh warna dan intensitas lampu LED. Nilai NND cenderung turun seiring dengan peningkatan intensitas cahaya, sedangkan indeks kon dan kecepatan renang semakin tinggi dengan penambahan intensitas cahaya yang diberikan. Nilai adaptasi tertinggi diperoleh pada penggunaan lampu LED putih dengan intensitas tinggi sebesar 97,52%. Pola tingkah laku ikan pada LED hijau semakin teratur dengan jarak semakin dekat seiring meningkatnya intensitas. Namun pola renang ikan cenderung acak dan semakin jauh pada LED putih. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa LED hijau lebih optimum untuk digunakan sebagai lampu pengumpul, pengkonsentrasi dan hauling pada penangkapan ikan selar dengan bagan tancap.Kata kunci: bagan, cahaya, warna, ikan selar (Selaroides leptolepis
KOMPETISI ALAT PENANGKAPAN IKAN SKALA KECIL DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TEGALSARI
The fishermen in Tegalsari Fishing Port have been using vary of fishing gears that is feared could competing in getting catches. This research aims to identify fishing gear types according to fishing gear vessel’s volume, fishing time and frequency in every operation, fishing gears productivity, and fishing gears competition. The subject of this research are four biggest number of fishing gear units in PPP Tegalsari (cantrang, arad, gillnet, and mini purse seine) with fishing vessel volume below 10 GT. Samples were taken with purposive sampling method and collected through filling out the questionnaires. The fishing gears’s productivity determined by the number of catch per unit effort (CPUE). Furthermore, the fishing gear competition mapped by classified the matrix of transformed fishing gear’s productivity number into some clusters with hierarchycal cluster analysis (HCA). The results show the dominant fishing gear that local fishermen use are cantrang (5, 6, 10 GT), arad (3, 5, 6, 10 GT), gillnet (6 GT), and mini purse seine (9 GT), the highest average of fishing gear operation time is gillnet (3 hours), and the least is mini purse seine (± 1 hour) and the highest average of fishing setting number is cantrang by 27 times/trip and mini purse seine is the least by 5 times/trip, the highest productivity gained by cantrang (5163 kg/trip) and the least is Gillnet (363 kg/trip), and the most intensive fishing gear competition is between cantrang (5 and 6 GT), arad (3,5, and 6 GT), and gillnet (3 GT).Keywords: Competition, fishing gear, productivityABSTRAKNelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari menggunakan alat tangkap yang beragam. Dikhawatirkan antar alat tangkap saling berkompetisi dalam mendapatkan hasil tangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis alat tangkap berdasarkan GT kapal, waktu untuk 1 kali operasi dan frekuensinya dalam satu trip penangkapan ikan, produktivitas alat tangkap, dan kompetisi antar alat tangkap. Alat tangkap yang diamati adalah cantrang, arad, gillnet dan mini purse seine yang dioperasikan menggunakan kapal berukuran ≤ 10 GT. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Produktivitas alat tangkap ditentukan berdasarkan nilai CPUE dan kompetisi antar alat tangkap ditentukan menggunakan metode hierachycal cluster analysis. Hasil penelitian menunjukkan: jenis alat tangkap berdasarkan GT kapal yakni cantrang (5, 6 dan 10 GT), arad (3, 5, 6 dan 10 GT), gillnet (6 GT), dan mini purse seine (9 GT); waktu untuk 1 kali operasi penangkapan ikan tertinggi pada alat tangkap gillnet (3 jam) dan terendah pada cantrang dan mini purse seine (± 1 jam) serta jumlah operasi penangkapan ikan per trip tertinggi pada alat tangkap cantrang (27 kali/trip) dan terendah pada mini purse seine (5 kali/trip); produktivitas tertinggi pada alat tangkap cantrang (5163 kg/trip) dan terendah pada gillnet (363 kg/trip); dan antar alat tangkap yang berkompetisi secara ketat adalah cantrang (5 dan 6 GT), arad (3, 5 dan 6 GT), dan gillnet 6 GT.Kata kunci: Kompetisi, alat penangkapan ikan, produktivitas
PEMULIHAN STOK TANGKAPAN PERIKANAN TERIPANG DI KEPULAUAN SERIBU: SUATU PENDEKATAN EKOSISTEM
ABSTRACT
Kepulauan Seribu known as Thousand Islands is one of the sea cucumbers producing centers in Indonesia. Sea cucumber has been considered as one of the fishery export commodities with high selling prices. In the last two decades, the catch has been indicating a serious declining. The high intensity of catching and habitat degradation are two main factors that threaten the sustainability of sea cucumber fisheries. In order to recovery the stock, a restocking program in frame of ecosystem approach to fishery has been piloted in Thousand Islands, Jakarta. This research covers the bio-technical aspects of sea cucumber fisheries in an integrated manner with the ecosystem approach. There were several steps in conducting the restocking study, namely the study of habitat status and feasibility, preparation of maintenance sites for biota, seed spreading, monitoring and evaluation. A well coordination and collaboration with local institutions (Kepulauan Seribu National Park) was needed to build previously. The results of the study indicated that efforts to restore sea cucumber fisheries should be integrated with conservation of seagrass ecosystems which as sea cucumbers habitat and a proper maintenance system. Eight species of sea cucumbers, consist of 4 species of Holothuridae (Bohadschia bivittata, Actinopyga lecanora, Holothuria leucospilota, H. scabra), and 4 species Stichopodidae (Stichopus herrmanni, S. ocellatus, S. horren, S. monotuberculatus) have been identified and restocking in this area. The released biota can live and grow well and breed at the research site. The construction of seagrass-based sea cucumber ecosystem restocking system has become one of the new tourist attractions integrated with the Thousand Islands National Park tourist facilities, which are very attractive to visitors.
Keywords: ecosystem approach fishery managemen (EAFM), restocking, sea cucumbers fishery, seagrass ecosystem
ABSTRAK
Kepulauan Seribu merupakan salah satu sentra penghasil teripang di Indonesia. Teripang merupakan salah satu komoditi ekspor perikanan dengan harga jual yang tinggi. Dalam dua dekade terakhir, tangkapan teripang telah menunjukkan penurunan tajam. Tingginya intensitas penangkapan dan degradasi habitat merupakan dua faktor utama yang mengancam keberlanjutan perikanan teripang. Salah satu upaya untuk pemulihan stok teripang melalui pendekatan ekosistem telah diujicobakan di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta. Tulisan ini mencakup aspek bio-teknis upaya pemulihan perikanan teripang secara terintegrasi dengan pendekatan ekosistem. Upaya pemulihan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu studi status dan kelayakan habitat, penyiapan wadah pemeliharaan biota, penebaran benih, monitoring dan evaluasi. Sebelum kegiatan dilakukan, terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan institusi lokal (Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu). Hasil kajian menunjukkan bahwa upaya pemulihan perikanan teripang harus diselaraskan dengan upaya konservasi ekosistem lamun sebagai habitat teripang dan sistem pemeliharaan yang layak secara teknis. Delapan spesies teripang, terdiri dari 4 spesies Holothuridae (Bohadschia bivittata, Actinopyga lecanora, Holothuria leucospilota, H. scabra), dan 4 species Stichopodidae (Stichopus herrmanni, S. ocellatus, S. horren, S. monotuberculatus) telah terindentifikasi dan di-restocking di lokasi ini. Biota yang dilepas dapat hidup dan tumbuh dengan baik dan berkembangbiak di lokasi penelitian. Konstruksi sistem restocking teripang berbasis ekosistem lamun telah menjadi salah satu obyek wisata baru terintegrasi dengan fasilitas wisata Taman Nasional Kepulauan Seribu, yang sangat menarik bagi pengunjung.
Kata kunci: pendekatan ekosistem (EAFM), restocking, perikanan teripang, ekosistem lamu
PENENTUAN PRIORITAS WILAYAH KERJA UNTUK PENINGKATAN PENGAWASAN PERIKANAN DI WPP NRI 711 (Priority Determination of Working Area For Surveillance Improvement in Indonesia Fisheries Management Area 711 (WPP NRI 711))
ABSTRACTThe Fisheries Management Area of Republic Indonesia or often abbreviated as WPP-NRI is a fisheries management area for fishing, conservation, research and fisheries development covering inland waters, archipelagic waters, territorial sea, additional zones and the Exclusive Economic Zone of Indonesia (ZEEI). Priority of selection work unit surveillance as the base pier becomes something very important because the pier of the surveillance vessel becomes a major requirement. The base pier is not just a place to moor the vessel but the base pier becomes a function of ongoing surveillance operations. In this case the facilities and facilities of the base pier should be able to provide facilities as well as ease in supporting surveillance operations activities.Problem in selection of prioritization unit of work is a complex problem, it needs a method to overcome them.TOPSIS is one of decision making method capable for solving the problem of multi-criteria, TOPSIS working principle is the chosen alternative should have the closest distance from the positive ideal solution and the farthest from the most negative solution.The result of testing on 11 alternatives in 6 criteria showed that development priority area for fisheries surveillance work units in WPP NRI 711 were: Batam (score 0,672) work unit Pontianak (score 0,671), and Natuna (score 0,647).The results of the ranking are to be used as a reference for determining the improvement surveillance strategy and to minimize losses due to illegal fishing of the natural resources in the region of WPP NRI711 in Indonesia.Keywords: TOPSIS, work unit, WPP NRI 711ABSTRAKWilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia atau sering disingkat dengan WPP NRI merupakan wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan ikan, konservasi, penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Prioritas pemilihan UPT Pengawasan SDKP (Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) sebagai dermaga pangkalan menjadi sesuatu yang sangat penting dikarenakan dermaga kapal pengawas menjadi suatu kebutuhan yang paling utama. Dermaga pangkalan bukan hanya sebatas tempat untuk tambat kapal saja melainkan dermaga pangkalan menjadi sebuah fungsi berlangsungnya kegiatan operasi pengawasan. Dalam hal ini adalah sarana dan fasilitas dermaga pangkalan harus mampu memberikan fasilitas serta kemudahan dalam mendukung kegiatan operasi pengawasan. Permasalahan penentuan prioritas pemilihan satker merupakan masalah yang komplek maka diperlukan suatu metode untuk membantu mengatasinya. TOPSIS adalah metode pengambilan keputusan yang mampu menyelesaikan masalah multi-criteria. Prinsip kerja TOPSIS adalah alternatif yang dipilih harus memiliki jarak terdekat dari solusi ideal positif dan terjauh dari solusi ideal negatif. Dari pengujian 11 alternatif dari 6 kriteria didapatkan prioritas pengembangan satuan kerja wilayah pengawasan perikanan di WPP 711 adalah: Satker Batam = 0,672; Satker Pontianak = 0,671 dan Satker Natuna = 0,647. Hasil perangkingan tersebut akan dijadikan acuan sebagai dasar penentuan strategi peningkatan pengawasanwilayah perikanan di WPP 711 sehingga mampu meminimalisasi kerugian negara akibat pencurian SDA di wilayah WPP 711 Indonesia.Kata kunci: TOPSIS, unit kerja, , WPP NRI 71
SISTEM PEMANFAATAN IKAN TUNA DI NUSA TENGGARA (Tuna Utilization System in Nusa Tenggara)
ABSTRACTCompetition of tuna utilization in Nusa Tenggara has resulted in the inclining toward irresponsible utilization, which causes various issuess of tuna utilization system in Nusa Tenggara. The objectives of this research are to identify the issues of tuna utilization system in Nusa Tenggara and the root of issues. Analysis data used three steps of Soft System Methodology (SSM), there were understanding of the issues situation, established issues situation, and establish the issues definition. The results showed the issues in tuna utilization system in Nusa Tenggara are illegal installation of FADs; the depleted productivity of tuna fishing unit; inefficient fishing capacity utilization and over-input production input on tuna fishing units, fishermen catch baby tuna (undersized tuna), in optimal quality of landed tuna and conflicts related to FADs utilization. The solution that can be performed for these problems are: 1) Strict and effective law enforcement for illegal FADs and ideal allocated number of FAD\u27s; 2) determining of optimum allocation number for tuna fishing unit (effort) and the right time for close session; 3) determining the size of the ship which is efficient and determining the optimum amount of effort; 4) Establishing the regulations related to baby tuna fishing, developing the fishing technology which minimizes the catch of baby tuna and controlling the season and the location of the tuna fishing activities; 5) facilitating and training the fishermen and tuna fishing companies or trader for cold-chain handling; and 6) strict and effective law enforcement for fishermen trespassing the fishing area.Keywords: Nusa Tenggara, root definition, tuna utilization system, Soft System MethodologyABSTRAKPersaingan dalam pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara mengakibatkan kegiatan pemanfaatan tersebut menjadi cenderung ke arah yang tidak bertanggungjawab, sehingga muncul berbagai permasalahan pada sistem pemanfaatan ikan tuna. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan sistem pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara dan upaya yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Analisis data pada penelitian ini menggunakan tiga tahapan Soft System Methodology (SSM), yaitu memahami situasi permasalahan, menyusun situasi permasalahan, dan menyusun definisi permasalahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan pada sistem pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara adalah pemasangan rumpon tanpa ijin, penurunan produktivitas unit penangkapan ikan tuna, belum efisiennya pemanfaatan kapasitas dan berlebihnya input produksi pada unit penangkapan ikan tuna, penangkapan baby tuna, belum optimalnya mutu ikan tuna yang didaratkan, serta adanya konflik penggunaan rumpon. Upaya penyelesaian yang dapat dilakukan untuk permasalahan-permasalahan tersebut adalah: 1) penegakkan hukum yang tegas dan efektif untuk rumpon yang tidak berijin serta penentuan alokasi jumlah rumpon yang ideal; 2) penentuan alokasi jumlah effort optimum untuk unit penangkapan ikan tuna dan waktu yang tepat untuk close session; 3) penentuan ukuran kapal yang efisien dan jumlah effort yang optimal; 4) pembuatan regulasi terkait penangkapan baby tuna, pengembangan teknologi penangkapan yang meminimalkan hasil tangkapan baby tuna, serta pengaturan musim dan lokasi penangkapan ikan tuna; 5) penyediaan fasilitas serta pelatihan kepada nelayan dan perusahaan perikanan tuna atau pengumpul ikan tuna untuk penanganan rantai dingin; serta 6) penegakkan hukum yang tegas dan efektif untuk nelayan yang melanggar jalur penangkapan ikan.Kata kunci: Nusa Tenggara, root definition, sistem pemanfaatan ikan tuna, Soft System Methodolog
RESPONS DAN ADAPTASI IKAN TERI (Stolephorus sp.) TERHADAP LAMPU LIGHT EMITTING DIODE (LED) (Response and Adaptation of Anchovy (Stolephorus sp.) to Light Emitting Diode (LED) Lamp)
ABSTRACTInnovation of LED lamp are encouraged the research and development to obtain effective and eco-friendly fishing lamp. However, information about response, behaviour and retina adaptation of main target species to LED light are still limited. Meanwhile, this information is a key to determining intensity of effective LED light for fishing operation. The aims of this study are to determine response and retina adaptation of anchovy (Stolephorus sp.) to different LED colour. This research was performed to the anchovies with total length 4.80-6.10 cm, which were acclimated in the fish tank. Fish response was observed visually and recorded by video camera. Retina adaptation was analysed by using histology method through pigment and cone index at light zone respectively. The results showed the fish response to white LED 3.4 times was faster than blue LED. However times duration of anchovy at the lighting area was 1.8 times longer in the area of blue lighting. The anchovies were more responsive to white LED (p value= 0.0033) with the average number of fish was 45 individuals. White LED with illumination between 42-96 lux was the optimal illumination for fishing operation which can reach the highest cone index about 64-73%.Keywords: cone index, effectiveness, fishing, illuminationABSTRAKPenemuan lampu LED mendorong berkembangnya penelitian untuk menghasilkan fishing lamp yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Namun informasi tentang respons, tingkah laku dan adaptasi retina mata ikan target tangkapan terhadap cahaya lampu LED masih terbatas. Pada dasarnya, informasi tersebut menjadi kunci dalam penentuan intensitas cahaya lampu LED yang efektif untuk penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan respons dan adaptasi retina mata ikan teri (Stolephorus sp.) terhadap lampu LED dengan warna berbeda. Penelitian menggunakan ikan teri dengan panjang total antara 4,80-6,10 cm yang telah melalui proses aklimatisasi dalam bak penampungan. Pengamatan terhadap respons ikan teri dilakukan secara visual dan direkam dengan video kamera. Adaptasi retina mata ikan teri diamati berdasarkan hasil histologi dengan melihat nilai indeks pigmen dan indeks kon pada masing-masing zona pencahayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan teri 3,4 kali lebih cepat merespons lampu LED putih dibandingkan terhadap lampu LED biru. Namun ikan teri bertahan 1,8 kali lebih lama di area pencahayaan warna biru. Ikan teri lebih memberikan respons yang lebih baik pada LED putih (p value= 0,0033) dengan rata-rata jumlah ikan yang berkumpul di area pencahayaan sebanyak 45 ekor. Lampu LED warna putih dengan iluminasi cahaya antara 42-96 lux merupakan lampu paling ideal untuk penangkapan teri karena menghasilkan adaptasi sel kon paling tinggi dengan indeks kon antara 64-73%.Kata kunci: indeks kon, efektivitas, penangkapan, iluminas
POLA MUSIM PENANGKAPAN CUMI-CUMI DI PERAIRAN LUAR DAN DALAM DAERAH PENAMBANGAN TIMAH KABUPATEN BANGKA SELATAN (Squid Fishing Seasons Pattern Inside and Outside Waters of Tin Mining Area in South Bangka District)
ABSTRACTSquid fishing inside and outside waters of tin mining area in South Bangka District is carried out by using boat lift nets, stationary lift nets, and hand lines. Squid fishing activities need effective information to achieve maximum results. Good information related to fishing areas and seasonsfor squid fishing can optimize the cost of fishing operations, time and energy. An alternative solution is understanding the patterns of the squid fishing seasons. The objective of this research is to analyze the patterns of the squid fishing seasons outside and inside waters of tin mining area in South Bangka District. Collecting data was done from January to December 2013. This research applied a descriptive survey method using a case study. The results indicatedsquid fishing season outside waters of tin mining area is in September, October, and November (Musim Peralihan II). Whereas in the inside waters of tin mining area, the best season for squid fishing is December, January, and February (Musim Barat), with the highest is in December.Keywords: fishing, patterns of the season, South Bangka, squidABSTRAKPenangkapan cumi-cumi di wilayah perairan luar dan dalam daerah penambangan timah di Kabupaten Bangka Selatan dilakukan dengan menggunakan bagan perahu, bagan tancap, dan pancing. Kegiatan penangkapan cumi-cumi diperlukan informasi yang efektif agar hasil tangkapan bisa mencapai hasil yang maksimal. Informasi yang berkaitan dengan area dan musim dimana cumi-cumi bisa tertangkap dalam jumlah yang besardapat menghemat biaya operasi penangkapan, waktu dan tenaga.Salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik adalah mengetahui pola musim penangkapan cumi-cumi.Tujuan penelitian adalah menganalisis pola musim penangkapan cumi-cumi di wilayah perairan luar dan dalam daerah penambangan timah Kabupaten Bangka Selatan. Penelitian telah dilaksanakan di wilayah perairan Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengambilan data di lapangan dilakukan dari bulan Januari sampai bulan Desember 2013. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif survei yang bersifat studi kasus (case study). Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim cumi-cumi di wilayah perairan luar daerah penambangan timah laut Kabupaten Bangka Selatan, terjadi pada Musim Peralihan II (September, Oktober, dan November) dan puncak musimnya pada bulan November. Sedangkan di wilayah perairan daerah penambangan timah laut, yaitu pada Musim Barat (Desember, Januari, dan Februari) dan puncak musimnya pada bulan Desember.Kata kunci: penangkapan, pola musim, Bangka Selatan, cumi-cum
PERAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN DALAM MENDUKUNG INDUSTRI TUNA (The Role of Nizam Zachman Oceanic Fishing Port to Support Tuna Industries)
ABSTRACTNizam Zachman Oceanic Fishing Port (OFP) has basic facilities, supportive facilities, and functional facilities that are needed for fishing activities in the port. The role of Nizam Zachman OFP as one of the largest tuna fishing ports in Indonesia is to support the availability of facilities required by each tuna industry stakeholders. The aimed of the research were to determine the role of Nizam Zachman OFP in providing support facilities and services in the activities of tuna fishing industries; and to determine the level of interest tuna stakeholders and level performance of Nizam Zachman OFP. Data analysis were carried out using a scoring method based on Ministry Regulation of Marine Affair and Fisheries number 8/PERMEN-KP/2012 about Fisheries Port then adapted to the conditions in the sites and analyze the level of interest and performance level with IPA (Importance Performance Analysis). The results showed that the role of Nizam Zachman OFP was good in production activities, infrastructure and public services, and there were still several service atributes performance that still have to be improved by the fishing port authority.Keywords: tuna industries, IPA, Nizam Zachman, fishing port role, scoring ABSTRAKPelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman memiliki fasilitas pokok, fasilitas penunjang, dan fasilitas fungsional yang sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas perikanan di pelabuhan. Peran PPS Nizam Zachman sebagai salah satu pelabuhan perikanan tuna terbesar di Indonesia dalam menunjang ketersediaan fasilitas diperlukan oleh setiap stakeholder industri tuna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan peran PPS Nizam Zachman dalam menyediakan fasilitas pendukung dan pelayanan dalam kegiatan industri perikanan tuna; dan menentukan tingkat kinerja PPS Nizam Zachman serta tingkat kepentingan stakeholder tuna. Analisis data dilakukan dengan pembobotan atau scoring berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 8/PERMEN-KP/2012 tentang Kepelabuhanan Perikanan yang kemudian disesuaikan dengan kondisi di lokasi penelitian. Selanjutnya dilakukan analisis tingkat kepentingan dan kinerja dari PPS Nizam Zachman dengan menggunakan analisis IPA (Importance Performance Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPS Nizam Zachman berperan baik dalam aktivitas produksi, sarana prasarana dan pelayanan umum dan terdapat beberapa atribut pelayanan PPS Nizam Zachman yang masih harus ditingkatkan kembali kinerjanya.Kata kunci: industri tuna, IPA, Nizam Zachman, peran pelabuhan perikanan, skorin