AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah
Not a member yet
    337 research outputs found

    Bay‘ Mumtalakāt al-Waqf: Dirāsah Taḥliliyyah fī Ḍau’ Tashrī‘āt al-Waqf fī Hukumah Māliziyā

    Full text link
    This article aims to critically examine  the  issue  of  selling  waqf properties  in  Malaysia\u27s  waqf  legislations.  This tudy  adopts  a  qualitative methodology  employing  field  work  data.  The  findings  indicate  that  even though the waqf fiqh provides a choice of periods to be either temporary or permanent waqf, the Malaysian Waqf laws adopt permanent waqf and prohibits the  temporary  waqf  for  the  sake  of  public  interest  (maslahah).  Therefore, waqf properties cannot be cancelled by a donor, and that waqf land cannot be sold, given as a present, or bequeathed. The finding established that the Waqf laws are consistent with the waqf\u27s aims. Thus, this paper proposes that each  State\u27s  Waqf  Corporation  and  Islamic  Religious  Council  in  Malaysia needs to conduct a review of the existing waqf rulings and legal framework to ensure that they are consistent with the waqf purpose for benefiting donors, waqf holdings, and beneficiaries.Keywords: sell; Waqf; Property; legislation; Malaysia  ملخ: تهدف هذه الورقة إلى دراسة المواد القانونية الشرعية المتعلقة ببيع ممتلكات الوقف في دولة ماليزيا. وتعتمد هذه الدراسة على المنهج النوعي مع استخدام المناهج الاستقرائية والوصفية والمقارنة والميدانية في تحليل البيانات. ومن أهم نتائج  هذه الورقة أن تشريعات الوقف لدولة ماليزيا لا تجيز الوقف المؤقت وانتهاء الوقف ورجوعه وبيعه، وهذا دليل على أن تشريعات الوقف في دولة ماليزيا تتفق مع مقاصد الوقف أنه لا يباع أصلها ولا يوهب ولا يورث، ويكون الوقف مستمرا غير مقطوع. وتقترح هذه الورقة تشجيع هيئات الأوقاف لكل ولاية في ماليزيا على تقويم المواد القانونية المنصوصة في قانون الوقف الحالي حتى تتفق مع مقاصد الوقف لمصلحة الواقفين والموقوف عليهم والأموال الموقوفة.  .يازيلام؛ فقو ؛نوناق ؛تاكلتمم ؛عيب :ةيحاتفلما تاملكل

    The New Framework Planned for the Legal Recognition and Regulation of Muslim Marriages in a Secular South Africa: From Litigation to Law Reform

    Full text link
    Muslims, who originate from the East Indies and the Indian sub-continent, have a history in South Africa dating back more than three centuries. Attempts by South African Muslims to have their Muslim marriages (nikāḥs) recognized have a history spanning more than three decades, starting during white minority or apartheid rule and concluding during democracy. Although the Constitution of the Republic of South Africa, 1996, makes provision for Muslim marriages to be formally and separately recognized through legislation, it is a travesty of justice that there is, to date, no legislative framework for the recognition and regulation of the consequences flowing from such marriages. This article critically analyses recent and current litigation and judicial developments and parallel law reform and policy processes pertaining to the formal, future recognition and regulation of Muslim marriages in South Africa. As such, it does not provide any detail regarding why Muslim marriages remain unrecognized or the substantive law content and regulation of Muslim marriages.  AbstrakUmat Islam yang berasal dari Hindia Timur dan anak benua India, memiliki sejarah di Afrika Selatan lebih dari tiga abad. Upaya Muslim Afrika Selatan untuk mengakui pernikahan Muslim mereka memiliki sejarah lebih dari tiga dekade, dimulai pada masa pemerintahan minoritas kulit putih atau apartheid dan berakhir selama demokrasi. Meskipun Konstitusi Republik Afrika Selatan, 1996, membuat ketentuan agar pernikahan Muslim diakui secara formal dan terpisah melalui undang-undang, namun hal itu adalah sebuah ironi keadilan bahwa hingga saat ini, tidak ada kerangka legislatif untuk pengakuan dan pengaturan konsekuensinya. Berdasarkan hal itu, artikel ini secara kritis menganalisis perkembangan litigasi dan peradilan saat ini serta reformasi hukum dan proses kebijakan yang berkaitan dengan pengakuan formal dan masa depan pernikahan Muslim di Afrika Selatan. Kerangka hukum tersebut tidak memberikan rincian apapun mengenai mengapa pernikahan Muslim tetap tidak diakui atau isi hukum substantif dan peraturan pernikahan Muslim

    Coastal Ulama Ijtihād and Destructive Fishing Prevention in Indonesia

    Full text link
    Indonesia has large fisheries and marine resources. However, most of Indonesia\u27s marine ecosystems are still under threat. One of them is the coast of Lamongan. The damage is caused by destructive fishing using destructive gears such as tiger trawls, cantrang (a modified Danish seine), explosives, and others. Government  regulations  to  prevent  those  activities  have  not  been  effective. Therefore, alternative approaches are needed. One approach to be chosen is the Islamic law approach. Because the Lamongan coastal community has a strong Islamic  culture,  the  Islamic  view  of  destructive  fishing  is  expected  to  offer  a better alternative solution. Therefore, this article examines the ecological ijtihād of Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah ulama in Lamongan. This is empirical legal research, with data from focused-group discussions and in-depth interviews.  The  study  finds  that  the  NU  Ulama  had  issued  a  fatwa  through Bahtsul Masail, stating that preserving marine ecology is the obligation of every Muslim  and  destructive  fishing  is  prohibited.  Meanwhile,  Muhammadiyah ulama have not issued fatwas institutionally. Nonetheless, the fatwa of the two communities has become a reinforcement for government policies in preventing marine ecosystems damage through eco-fishing.Keywords: destructive fishing; ecological ijtihād; NU; Muhammadiyah AbstrakIndonesia memiliki sumber daya perikanan dan kelautan yang besar. Namun, sebagian besar ekosistem laut Indonesia masih terancam di antaranya di  pesisir  Lamongan.  Kerusakan  ini  disebabkan  oleh  penangkapan  ikan  yang merusak dengan menggunakan alat tangkap yang merusak seperti pukat harimau,  cantrang,  bahan  peledak  dan  lainya.  Pencegahan  aktivitas  tersebut dengan peraturan pemerintah tidak berjalan efektif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang lebih efektif. Salah satu pendekatan yang dapat dipilih adalah pendekatan hukum Islam karena masyarakat pesisir Lamongan mempunyai kultur keislaman yang kuat. Artikel ini mengkaji ijtihād ekologis ulama pesisir Lamongan yang berafiliasi NU dan Muhammadiyah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan yuridis-empiris, dengan data didapatkan dari diskusi kelompok dan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa Ulama NU di Paciran Lamongan telah mengeluarkan fatwa melalui Bahtsul Masail yang menyatakan bahwa  menjaga  kelestarian  ekologi  laut  adalah  kewajiban  setiap  umat  Islam sehingga  destructive  fishing  dilarang.  Sementara  ulama  Muhammadiyah  belum mengeluarkan  fatwa  secara  kelembagaan,  namun  mayoritas  secara  pribadi menyatakan bahwa kegiatan tersebut juga dilarang. Meskipun demikian, fatwa kedua  komunitas  tersebut  menjadi  penguat  bagi  kebijakan  pemerintah  dalam mencegah kerusakan ekosistem laut melalui eco-fishing.Kata Kunci: destructive fishing; ijtihād ekologi; NU; Muhammadiy

    Qibla Direction Calculation Methods in Islamic Astronomy References in Indonesia

    Full text link
    This research shows that most Islamic astronomy references in Islamic Universities in Indonesia still use the spherical earth concept to explain the qibla  direction.  However,  based  on  modern  astronomy,  the  earth\u27s  shape  is not a perfect sphere but an ellipsoid. In addition, a contradiction occurs in the  conception  of  magnetic  declination  in  determining  the  qibla  direction. This research aims to examine the relevance of Islamic astronomy reference books  with  the  concept  of  geoscience  based  on  the  magnetic  declination formula  and  concept.  This  research  also  examines  the  calculation  methods for qibla direction based on sharia. This library research applies descriptive- analytic  and  normative  approaches  with  the  data  originating  from  various Islamic astronomy references in the digital library of Islamic universities. This research finds that Islamic astronomy references about the qibla direction are not  yet  relevant  to  the  concept  of  geoscience.  Most  of  those  references  still use references astronomy for qibla calculation. There are still some references contradicting the international consensus regarding magnetic declination. In addition, this study reveals that someone who has the ability to determine the qibla direction through the Vincenty formula should use that concept instead of  spherical  trigonometry.  This  is  because  of  skill  (ahliyyah) and sincerity (juhd)  requirements  in  ijtihad;  Shafi\u27i\u27s  notion  regarding  ikhtilāf in ijtihād for qibla direction; and Islamic jurisprudence principle stating that certainty is not overruled by doubt.Keywords: Islamic  astronomy;  qibla  direction;  spherical  trigonometry; Vincenty\u27s formula; sharia AbstrakPenelitian  ini  berangkat  dari  fakta  bahwa  sebagian  besar  referensi ilmu falak di perguruan tinggi Indonesia masih menggunakan konsep bumi bulat  dalam  menjelaskan  pokok  bahasan  arah  kiblat.  Padahal,  berdasarkan astronomi modern, bentuk bumi tidaklah seperti bola sempurna, melainkan berbentuk elipsoid. Selain itu, terdapat pula pertentangan konsepsi deklinasi magnetik  dalam  persoalan  penentuan  arah  kiblat.  Penelitian  ini  bertujuan untuk mengkaji relevansi referensi ilmu falak terhadap konsep sains kebumian berdasarkan ketepatan penggunaan formula dan konsep deklinasi magnetik, serta juga menelaah penggunaan formula perhitungan arah kiblat berdasarkan kajian syariah. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaaan menggunakan pendekatan deskriptif analitik dan normatif sumber data dari berbagai referensi ilmu falak yang ada di perpustakaan digital perguruan tinggi keagamaan Islam. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa referensi ilmu falak pada pokok bahasan  arah  kiblat  belum  relevan  dengan  konsep  sains  kebumian.  Hal  ini disebabkan sebagian besar referensi tersebut masih menggunakan perhitungan referensi astronomi untuk memecahkan persoalan arah kiblat. Beberapa referensi ilmu  falak  juga  tidak  mengikuti  konsensus  internasional  mengenai  konsep deklinasi magnetik. Selain itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa seseorang yang mampu menentukan arah kiblat melalui perhitungan formula Vincenty sebaiknya  menggunakannya  dan  meninggalkan  perhitungan  trigonometri bola.  Hal  ini  disebabkan  beberapa  pertimbangan,  yaitu  pelaksanaan  ijtihād yang mewajibkan kecakapan (ahliyyah) dan kesungguhan (juhd), pandangan Shafi’i  mengenai  penyelesaian  ikhtilāf dalam ijtihād  penentuan  arah  kiblat, dan kaidah ushūl  al-fiqh  yang  menyebutkan  bahwa  keyakinan  tidak  dapat dihilangkan oleh keraguan (shakk).Kata Kunci: ilmu falak; arah kiblat; trigonometri bola; formula Vincenty; syaria

    Complying with Sharia While Exempting from Value-Added Tax: Murābaḥah in Indonesian Islamic Banks

    Full text link
     Law number 42/2009 on Value Added Tax and some subsequent amendments have exempted Islamic banks from the value-added tax on their murābaḥah transactions. This provision raises the sharia issue because the goods are delivered directly from the supplier to the customer. At the same time, the DSN-MUI Fatwa regarding the murābaḥah contract sets that banks must first buy and own the goods from the suppliers before selling them back to the customers. With this tax provision, murābaḥah transactions have shifted from trade systems to service ones because banks directly transfer funds to customers to purchase goods. Such tax policy has dealt with the so-called double taxation issue of Islamic banks but sacrificed the compliance of sharia principles. This paper seeks to solve this dilemma by proposing a revision of tax regulations for murābaḥah transactions using philosophical, juridical, and sociological legal approaches. The delivery of goods from suppliers to banks and from banks to customers is included in non-taxable goods transactions for Islamic banks. With this proposal, Islamic banks are expected to be exempted from value-added tax while complying with sharia principles and competing with conventional banks.  AbstrakUU No. 42/2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan beberapa amandemen berikutnya telah membebaskan bank syariah dari pajak pertambahan nilai (PPN) pada transaksi murabahah. Namun ketentuan ini dianggap menimbulkan isu syariah karena barang diserahkan langsung dari pemasok ke nasabah, sedangkan Fatwa DSN-MUI tentang akad murabahah mengatur bahwa bank harus membeli dan memiliki barang terlebih dahulu dari pemasok sebelum menjualnya kembali kepada nasabah. Dengan ketentuan pajak ini, transaksi murabahah telah bergeser dari sistem jual beli menjadi sistem jasa karena bank dianggap tidak melakukan pembelian barang melainkan mentransfer dana pembelian barang kepada nasabah. Ketentuan pajak ini telah meringankan beban pajak pertambahan nilai bank syariah namun mengorbankan pemenuhan prinsip syariah. Kajian ini berupaya mencari solusi dilema ini dengan usulan revisi regulasi perpajakan untuk transaksi murabahah dengan pendekatan analisa legal filosofis, normatif, dan sosiologis. Penyerahan barang dari pemasok kepada bank dan dari bank kepada nasabah dimasukkan dalam transaksi barang tidak kena pajak. Dengan usulan ini diharapkan bank syariah tetap terhindar dari pajak ganda, namun tetap memenuhi prinsip syariah serta berdaya saing dengan bank konvensional

    Religion and Nationalism in Shaping the Fiqh of Armed Jihad: A Lesson to the Indonesian National Counterterrorism Policy

    Full text link
    Understanding the formulation of the fiqh of jihad is a key success in countering violent  Islamist  extremism  and  terrorism. Two salient factors that often come up in the academic  discussion  of  the  making  of  violent jihad are nationalism and religion. The present study investigates these two crucial  related  factors  in  the  two  prominent  cases  of  armed  jihad  in  Iran (1980-1988) and Palestina (1990-2010); and, then, how they may provide a lesson to the counterterrorism policy in Indonesia. The study uses secondary data  to  investigate  the  making  of  violent  jihad  of  Iran  and  the  Palestinian Hamas. While in the case of Indonesian policy, this article uses a government report  on counterterrorism  and  interviews  with  the  state  counterterrorism authorities. This study shows that the interactions of two ideologies (religion and nationalism) together create a sustained and powerful force of a violent jihad by the Iranians during the Iraq-Iran War and Palestinian Hamas against Israel to achieve their political goals. In contrast to this practice, Indonesia has applied nationalism in counterterrorism policies as a strategy to deradicalize violent ideology with religious motives. This article shows that counterterrorism policies need to put more emphasis on the meaning of non-violent jihad.Keywords: religion; nationalism; jihad; counterterrorism AbstrakMemahami fikih jihad merupakan kunci keberhasilan dalam melawan ekstrimisme  dan  terorisme.  Dua  faktor  yang  sering  muncul  dalam  diskusi akademis tentang pembentukkan wacana jihad kekerasan adalah nasionalisme dan  agama.  Studi  ini  menyelidiki  dua  faktor  penting  dalam  kasus  jihad bersenjata  di  Iran  (1980-1988)  dan  Palestina  (1990-2010);  dan  bagaimana kasus ini menjadi pertimbangan dalam kebijakan kontraterorisme di Indonesia. Studi ini menggunakan data sekunder untuk menyelidiki pembentukkan jihad kekerasan di Iran dan Hamas Palestina. Pada konteks Indonesia, penelitian ini menggunakan  laporan  pemerintah  tentang  kontraterorisme  dan  wawancara dengan  otoritas  terkait.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  interaksi  dua ideologi (agama dan nasionalisme) secara bersama-sama menciptakan kekuatan jihad kekerasan yang signifikan dan berkelanjutan di Iran selama Perang Irak- Iran  dan  Hamas  Palestina  melawan  Israel  dalam  mencapai  tujuan  politik. Berbeda dengan praktik tersebut, Indonesia menggunakan nasionalisme dalam kebijakan kontraterorisme sebagai strategi melawan ideologi kekerasan bermotif agama. Artikel ini menunjukkan bahwa kebijakan kontraterorisme perlu lebih menekankan pada pemaknaan jihad tanpa kekerasan.Kata Kunci: agama; nasionalisme; jihad; penanggulangan terorism

    The Protection of Women and Children Post-Divorce in Sharia Courts in Aceh: A Sociological Perspective

    Full text link
    This  study  discusses  the  protection  of  women  and  children  after divorce  at  the  Syar\u27iyah  Court  in  Aceh.  A  legal  sociology  approach  is  used to  draw  the  decisions  of  the  Banda  Aceh,  Aceh  Besar,  Pidie,  Bireuen,  and Lhokseumawe Syar\u27iyyah Courts. The interviews were conducted with judges, community  leaders,  village  heads,  heads  of  the  Office  of  Religious  Affairs (KUA),  academics,  traditional  figures,  and  non-governmental  organizations (NGO) activists. This study concludes that the Syar\u27iyah Court in Aceh, in its  decision,  has  ensured  the  rights  of  women  and  children.  The  Syar\u27iyah Court  in  Aceh  determined  the  provision  of  \u27iddah,  muṭ\u27ah  maintenance, joint  assets,  and  childcare  rights  to  women.  Children  get  living  expenses, guardianship from the family, and care from the mother. Sociologically, the law has functioned as a means of social control through the Syar\u27iyah Court and judges as the main part of the legal structure supported by other elements of society so that the protection of women and children can be realized fairly.Keywords: protection of women and children; divorce; legal sociology; sharia court AbstrakKajian  ini  membahas  perlindungan  perempuan  dan  anak  setelah perceraian pada Mahkamah Syar’iyah di Aceh. Dengan pendekatan sosiologi hukum,  studi  ini  bersumber  pada  putusan-putusan  Mahkamah  Syar’iyyah Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, and Lhokseumawe dan wawancara kepada hakim, tokoh masyarakat, kepala desa, kepala Kantor Urusan Agama (KUA),  akademisi,  tokoh  adat  dan  aktivis  Lembaga  Swadaya  Masyarakat (LSM). Kajian ini menyimpulkan bahwa Mahkamah Syar’iyah di Aceh dalam putusannya telah memastikan hak-hak perempuan dan anak. Mahkamah Syar’iyah di Aceh menetapkan pemberian nafkah ‘iddah, nafkah muṭ‘ah, harta bersama dan hak pengasuhan anak kepada perempuan; dan anak mendapatkan biaya hidup, perwalian dari keluarga dan pengasuhan dari ibu. Secara sosiologis, hukum telah berfungsi sebagai alat kontrol sosial melalui Mahkamah Syar’iyah dan  hakim  sebagai  bagian  utama  dari  struktur  hukum  yang  didukung  oleh elemen masyarakat lainnya sehingga perlindungan terhadap perempuan dan anak dapat terwujud secara adil.Kata Kunci: perlindungan perempuan dan anak; perceraian; sosiologi hukum; Mahkamah Syar’iya

    Marriage Dispensation and Family Resilience: A Case Study of the Bener Meriah Shariah Court, Aceh Province

    Full text link
    The regulation on marriage dispensation has encouraged the increase in early marriage in various regions in Indonesia, including in Bener Meriah, Aceh.  Early  marriage  has  a  negative  impact  on  family  resilience  as  it  raises problems leading to divorce. This is a normative legal study with a case study approach. Data collection was carried out employing a document study, namely Sharia Court Decisions and related literature. This study concludes a significant relationship  between  marriage  dispensation,  high  underage  marriages,  and weak family resilience. In granting marriage dispensation, the Sharia Court judges consider legal and extra-legal grounds. The dispensation stipulation has met  the  legal  requirement,  although  the  legal  reasonings  are  unconvincing. Furthermore, early marriage has an impact on increasing divorce rates due to issues such as psychological problems and reproductive readiness, as well as adverse effects caused by divorce. Therefore, concrete and strategic steps are needed  with  the  involvement  of  various  groups,  including  the  government, ulama, and traditional leaders, who are able to promote family resilience in society.Keywords: marriage dispensation; underage marriage; family resilience; sharia court AbstrakKebijakan dispensasi nikah telah mendorong peningkatan pernikahan dini  di  berbagai  daerah  di  Indonesia,  termasuk  di  Bener  Meriah,  Aceh. Pernikahan  dini  berdampak  negatif  terhadap  ketahanan  keluarga  karena menimbulkan masalah yang berujung pada perceraian. Penelitian ini merupakan penelitian  hukum  normatif  dengan  pendekatan  studi  kasus.  Pengumpulan data  dilakukan  dengan  studi  dokumen  yaitu  Putusan  Mahkamah  Syar’iyah dan literatur terkait. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dispensasi perkawinan, tingginya angka perkawinan di bawah umur dan lemahnya ketahanan keluarga. Dalam pemberian dispensasi nikah,  hakim  Mahkamah  Syar’iyah  mempertimbangkan  alasan  hukum  dan alasan di luar hukum. Ketentuan dispensasi tersebut telah memenuhi syarat hukum,  meskipun  pertimbangan  hukumnya  tampak  memaksakan.  Lebih lanjut,  pernikahan  dini  berdampak  pada  meningkatnya  angka  perceraian karena masalah-masalah seperti masalah psikologis dan kesiapan reproduksi, serta dampak buruk akibat perceraian. Oleh karena itu, diperlukan langkah- langkah  konkrit  dan  strategis  dengan  melibatkan  berbagai  pihak,  termasuk pemerintah,  ulama,  dan  tokoh  adat,  yang  mampu  mendorong  ketahanan keluarga dalam masyarakat.Kata Kunci: dispensasi  pernikahan;  pernikahan  dini;  ketahanan  keluarga; Mahkamah Syar’iya

    Transition of Civil Law to Public Law: Integration of Modern Punishment Theory in Criminal Apostasy

    Full text link
    This paper aims to analyze the determination of death penalty in apostasy through modern criminal theories and human rights considerations. The approach is used to objectively view the purpose of death penalty on a criminal act in the context of religious freedom. This study is a conceptual study using the library research and descriptive-analytical  approach. Based on the analysis of punishment theories, it is found that the determination of the death penalty in apostasy takes a combined pattern of punishment theories: retributive, deterrence, and reformative theories. The combination of these theories leads to an integration, as it does not focus only on the retributive and deterrence aspects, but it also emphasizes on the reformative aspect, as a means of therapy for apostate criminals so they will not repeat the same acts. The integration of the theories seems perfect when accompanied by moral education that can provide “spiritual enlightenment”, so that criminals can be accepted back into the community. The integrity-morality theory or pulse-integrity theory is expected to neutralize the difference in views on the purpose of punishment in Islamic criminal law, which has long been considered not in line with the norms of human rights under the pretext of the sovereign system of the nation-state, where citizenship status is limited by territorial areas. The equality of rights, justice, morality, and individual accountability is a universal principle of the teachings of the Qur’an which inspire the conception of human rights norms by every citizen.AbstrakArtikel ini menganalisis penetapan hukuman mati dalam pidana murtad menggunakan pendekatan teori pemidanaan dan pertimbangan hak asasi manusia. Pendekatan ini digunakan untuk melihat secara objektif tujuan ditetapkan hukuman mati sebagai perbuatan pidana dalam konteks kebebasan beragama. Studi ini merupakan kajian konseptual, dianalisis menggunakan data kepustakaan melalui pendekatan deskriptif-analitis. Berdasarkan analisis teori pemidanan ditemukan bahwa penetapan hukuman mati dalam pidana murtad mengambil pola perpaduan teori pemidanaan; teori retributif,deterrence dan reformatif. Perpaduan ketiga teori melahirkan integritas, tidak terfokus pada aspek retributif  dan deterrence, tetapi lebih menekankan pada aspek reformatif, sebagai terapi pelaku kajahatan murtad agar tidak mengulangi perbuatan yang sama. Pengintegrasian ketiga teori ini terlihat sempurna manakala diiringi pendidikan moral yang dapat memberikan “pencerahan spiritual”, sehingga pelaku kejahatan dapat diterima kembali dalam kehidupan masyarakat. Teori integritas-moralitas atau teori integritas-plus diharapkan dapat menetralisir perbedaan pandangan tujuan pemidanaan Islam. Persamaan hak, keadilan, moralitas dan pertanggunjawaban individu merupakan prinsip universal ajaran al-Qur’an menjadi inspirasi lahirnya norma hak asasi manusia setiap warga negara

    The Other Side of the History of the Formulation of Aceh Jinayat Qanun

    Full text link
    In the context of fiqh, the provisions of ḥudūd have been agreeable in terms of the actions and punishments. However, some of them are not mentioned in Aceh Qanun No. 6/2014 on Jinayat (Criminal) Law, such as stoning, death sentence, and hand amputation. These three types of punishment were harshly debated during the formulation of the qanun and subsequently abolished. Using the historical legal approach, this study finds out there were some issues that came up during the formulation process. First, the assessment of the local government and people’s readiness to implement those punishments has not been sufficient. Second, stoning, the death penalty, and hand cutting are not in accordance with the Indonesian procedural law. Third, the qanun formulation was affected by the disparity of Islamic legal scholars’ opinions regarding the mentioned penalties. Forth, the discussants in the forum believed that the implementation of Islamic criminal law needs phasing (tadarruj).   AbstrakDalam konteks fikih, ketentuan hudud telah disepakati baik jenis perbuatannya maupun sanksi-sanksinya. Akan tetapi, tidak semuanya tercantum sebagai materi hudud dalam Qanun Aceh No. 6/2014 tentang Hukum Jinayat, seperti hukuman rajam, hukuman mati dan hukuman potong tangan. Ketiga jenis hukuman ini diperdebatkan dengan sengit selama pembahasan Qanun dan akhirnya ditiadakan. Melalui pendekatan sejarah hukum, diketahui setidaknya ada beberapa faktor problematik yang mewarnai perumusan Qanun Aceh No. 6/2014 tentang Hukum Jinayat. Pertama, adanya penilaian internal tentang kesiapan pemerintah dan masyarakat yang belum maksimal untuk melaksanakan hukuman-hukuman itu. Kedua, materi rajam, hukuman mati bagi pelaku riddah dan potong tangan yang tidak sejalan dengan hukum acara yang telah ada sebelumnya. Ketiga, adanya pengaruh perbedaan pendapat ulama (disparitas) dalam konteks fikih tentang hukuman-hukuman itu dalam proses perumusan qanun. Keempat, adanya keyakinan para pembahas bahwa penegakan hukum pidana Islam dalam Qanun Aceh memerlukan pentahapan (tadarruj)

    240

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇