Proyeksi: Jurnal Psikologi
Not a member yet
    174 research outputs found

    ANTARA CINTA DAN REALITA: MENGUNGKAP PROFIL PSIKOLOGIS PADA NARAPIDANA DENGAN KASUS KEKERASAN SEKSUAL DI LAPAS X

    Get PDF
    Saat ini kekerasan seksual menjadi kasus yang menarik perhatian publik karena jumlah laporan kasusnya tergolong tinggi. Pelaku kekerasan seksual merupakan salah satu bagian dalam lingkaran masalah yang perlu diteliti untuk mendapatkan pemahaman lebih menyeluruh mengenai fenomena kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan mengungkap profil psikologis pelaku kekerasan seksual, mencakup karakteristik yang sama maupun yang khas dari para pelaku. Riset kualitatif ini dirancang menggunakan studi kasus, dengan teknik purposive sampling melalui wawancara sebagai metode pengumpulan data utama. Data dianalisis melalui proses koding, dilengkapi teknik inter-rater reliability untuk memperkuat konsistensi data dan pada akhirnya menemukan profil psikologis. Partisipan adalah tiga narapidana kasus kekerasan seksual yang sedang menjalani masa hukuman di sebuah lembaga pemasyarakatan. Hasil utama yang bersifat umum menunjukkan bahwa profil psikologis pelaku kekerasan seksual mencakup sifat impulsif (berkaitan dengan rendahnya kontrol diri terhadap dorongan seksual), defisit empati pada korban, serta superioritas sebagai pelaku. Di samping itu ditemukan pula profil khas individu mencakup pembelaan diri, kecenderungan menyalahkan korban, adiksi alkohol dan obat-obatan, konformitas, serta rendahnya keintiman yang disertai kesepian emosional. Temuan penelitian ini membantu untuk memetakan penyebab yang mendorong munculnya kejahatan seksual dari sisi psikologis pelaku, dan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan upaya preventif maupun alternatif intervensi

    CAREER DECISION-MAKING SELF-EFFICACY: CAREER GOAL DISCREPANCY DAN RESILIENSI

    Get PDF
    Kesulitan mahasiswa dalam menentukan pilihan karier seringkali berkaitan dengan rendahnya career decision-making self-efficacy (CDMSE). Kondisi ini menyebabkan mahasiswa mengalami tekanan dalam menentukan arah kariernya. Penelitian ini dilakukan untuk menguji hubungan antara career goal discrepancy dan resiliensi dengan CDMSE. Sampel pada penelitian ini melibatkan 235 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Angkatan 2022. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Data penelitian diperoleh menggunakan Career Goal Discrepancy Scale (CGDS) (α = 0,902), skala resiliensi (α = 0,892, dan Career Decision-Making Self-Efficacy Scale (CDMSES) (α = 0,928). Analisis data menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil analisis diperoleh bahwa career goal discrepancy dan resiliensi berhubungan dengan CDMSE (R = 0,559; p = 0,000 < 0,01) dengan sumbangan efektif sebesar 31,2% (R2 = 0,312). Secara parsial, career goal discrepancy berhubungan negatif dengan CDMSE (r = -0,406; p = 0,000 < 0,01). Kemudian, variabel resiliensi berhubungan positif dengan CDMSE (r = 0,524; p = 0,000 < 0.01). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara career goal discrepancy dan resiliensi dengan CDMSE.University students often face difficulties in making career choices, which are closely linked to low levels of career decision-making self-efficacy (CDMSE). Such a condition can lead to increased psychological pressure and uncertainty in determining their career paths. This study aims to examine the relationship between career goal discrepancy and resilience with CDMSE. The sample of this study consisted of 235 students from the Faculty of Psychology at Ahmad Dahlan University, Class of 2022. This research using quantitative methods with cluster random sampling techniques. Data were collected using the Career Goal Discrepancy Scale (CGDS) (α = 0.902), the Resilience Scale (α = 0.892), and the Career Decision-Making Self-Efficacy Scale (CDMSES) (α = 0.928). Data analysis was conducted using multiple linear regression analysis. The analysis results indicated that career goal discrepancy and resilience are related to CDMSE (R = 0.559; p = 0.000 < 0.01) with an effective contribution of 31.2% (R² = 0.312). Partially, career goal discrepancy is negatively related to CDMSE (r = -0,406; p = 0,001 < 0,01). Meanwhile, the resilience variable is positively related to CDMSE (r = 0,524; p = 0,000 < 0.01). This study highlights the relationship between career goal discrepancy and resilience with CDMSE.

    KESEMPATAN HIDUP KEDUA: MAKNA HIDUP PADA NARAPIDANA RESIDIVIS PENYINTAS COVID-19

    Get PDF
    Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran kebermaknaan hidup pada narapidana residivis penyintas Covid-19. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat kebermaknaan hidup pada narapidana residivis penyintas Covid-19 dalam memaknai kesempatan hidup kedua setelah sembuh. Metode penelitian ini adalah statistik deskriptif untuk mengetahui gambaran kebermaknaan hidup pada narapidana residivis penyintas Covid-19. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh narapidana residivis yang pernah terkena Covid-19 di Lapas Kedungpane Semarang yang berjumlah 28 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Metode pengambilan data dengan menggunakan skala Kebermaknaan Hidup. Indeks daya beda aitem bergerak dari 0,290 sampai 0,605. Reliabilitas dengan Alpha Cronbach sebesar 0,869. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 orang responden berada pada kategorisasi sangat tinggi (3,6%), 7 orang berada pada kategorisasi tinggi (25%), 14 orang berada pada kategorisasi sedang (50%), 5 orang berada pada kategorisasi rendah (17,9%) dan 1 orang berada pada kategorisasi sangat rendah (3,6%). Artinya narapidana residivis memanfaatkan kesempatan hidup kedua yang dimilikinya dengan baik setelah sembuh dari Covid-19 dengan cara tetap memotivasi dan menggunakan waktu yang dimilikinya untuk dapat melakukan kegiatan positif agar lebih berguna di sepanjang kehidupannya. The problem in this study is how the picture of the meaning of life in recidivist prisoners who survived Covid-19. The goal is to determine the level of meaning of life in recidivist prisoners who survived Covid-19 in interpreting the meaning of a second chance at life after recovery. This research method is descriptive statistics to determine the picture of the meaning of life in recidivist prisoners who survived Covid-19. Respondents in this study were all recidivist prisoners who had contracted Covid-19 at Lapas Kedungpane, Semarang, totaling 28 people. The sampling technique used was purposive sampling. The data collection method used the Meaning of Life scale. The item discrimination index ranged from 0.290 to 0.605. Reliability with Cronbach's Alpha was 0.869. The results of the study showed that 1 respondent was in the very high category (3.6%), 7 people were in the high category (25%), 14 people were in the medium category (50%), 5 people were in the low category (17.9%), and 1 person was in the very low category (3.6%). This means that recidivist prisoners are making the most of their second chance at life after recovering from Covid-19 by maintaining motivation and using their time to engage in positive activities to be more useful throughout their lives

    Peran Efikasi Diri dalam Menjembatani Keterlibatan Orang Tua dan Siswa

    Get PDF
    Keterlibatan siswa dalam pembelajaran sangat penting bagi keberhasilan akademik dan perkembangan sosial-emosional. Dukungan orang tua dapat meningkatkan keterlibatan siswa, terutama ketika dimediasi oleh efikasi diri yang kuat pada diri siswa. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan antara keterlibatan orang tua dan keterlibatan siswa dengan mempertimbangkan peran mediasi efikasi diri akademik. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional. Sampel adalah 123 siswa. Instrumen penelitian skala keterlibatan siswa, skala keterlibatan orang tua, dan skala efikasi diri. Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri memediasi secara penuh hubungan antara keterlibatan orang tua dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran

    PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP KONTEN “MARRIAGE IS SCARY” DI TIKTOK

    Get PDF
    Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telah memunculkan tren “Marriage is Scary” yang ramai diperbincangkan di kalangan generasi muda, termasuk mahasiswa. Tren ini mencerminkan ketakutan terhadap proses akan melakukan pernikahan yang dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya, serta pengalaman traumatis di masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi mahasiswa terhadap tren “Marriage is Scary” di TikTok serta bagaimana konten tersebut berpengaruh terhadap regulasi emosi dan pemaknaan pernikahan. Dengan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga informan mahasiswa yang aktif menggunakan TikTok. Hasil menunjukkan bahwa tren “Marriage is Scary” memicu kecemasan dan kesadaran kritis serta menggugah refleksi diri dan memotivasi persiapan lahir batin yang lebih matang. Meski konten dapat memperkuat ketakutan kolektif, literasi digital yang baik dan dukungan nilai spiritual menjadi kunci bagi mahasiswa untuk mengolah narasi negatif menjadi langkah proaktif dalam merencanakan pernikahan. Temuan ini merekomendasikan pentingnya program literasi media, pendidikan pranikah holistik, dan pembekalan psikososial-spiritual bagi generasi muda.The development of social media, particularly TikTok, has given rise to the "Marriage is Scary" trend, which is widely discussed among young people, including college students. This trend reflects fears about the process of marriage, influenced by social, economic, and cultural factors, as well as past traumatic experiences. This study aims to describe college students' perceptions of the "Marriage is Scary" trend on TikTok and how this content influences their emotional regulation and understanding of marriage. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews with three student informants who actively use TikTok. The results indicate that the "Marriage is Scary" trend triggers anxiety and critical awareness, stimulates self-reflection, and motivates more thorough physical and spiritual preparation. Although the content can reinforce collective fears, good digital literacy and support of spiritual values are key for college students to transform negative narratives into proactive steps in wedding planning. These findings recommend the importance of media literacy programs, holistic premarital education, and psychosocial-spiritual provision for the younger generation

    ACADEMIC BURNOUT DAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG BEKERJA PART-TIME

    Get PDF
    Kuliah sembari bekerja merupakan fenomena yang cukup banyak ditemukan di dunia perkuliahan. Mahasiswa yang kuliah perlu bekerja memiliki tantangan untuk menjaga keseimbangan antara dua peran tersebut, yaitu sebagai pelajar dan pekerja. Tidak jarang mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mengalami berbagai kendala, salah satunya adalah melakukan penundaan pengerjaan tugas atau prokrastinasi akademik akibat mengalami academic burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara academic burnout dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang bekerja part-time. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan subjek penelitian sebanyak 103 mahasiswa yang berkuliah di Kota Semarang sembari bekerja part-time selama 16-35 jam per minggu. Alat ukur yang digunakan adalah Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS). untuk mengukur academic burnout dan skala prokrastinasi akademik untuk mengukur prokrastinasi akademik mahasiswa. Berdasarkan uji korelasi Pearson Product Moment diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0.496 dan signifikansi 0,000 (p<0,001). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara academic burnout dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang bekerja part-time. Sumbangan temuan dan saran didiskusikan lebih lanjut pada artikel ini.Studying while working is a phenomenon that is often found in universities. Students who study while working are required to maintain a balance between these two roles, as students and workers. A fairly common problem for students who study while working is to end up delaying assignments, often termed as academic procrastination, due to experiencing academic burnout. This research aims to determine the relationship between academic burnout and academic procrastination in students who work part-time. This research used a correlational quantitative approach involving 103 students studying in Semarang City, who are at the same time working part-time for 16-35 hours per week. Measures used were the Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) to measure academic burnout and the academic procrastination scale to measure student academic procrastination. Based on the Pearson Product Moment correlation test, it was found a correlation coefficient (r) of 0.496 and a significance level was 0.000 (p<0,01). Thus, it can be concluded that there is a significant positive relationship between academic burnout and academic procrastination in students who work part-time. Important findings and future directions are discussed further in this article

    Keterkaitan antara Inner Child dan Kematangan Emosi pada Individu di Masa Emerging Adulthood

    Get PDF
    Inner Child merupakan permasalahan yang terjadi saat individu masih kecil yang dapat berdampak secara psikologis saat individu berada pada masa emerging adulthood. Permasalahan tersebut bisa berupa luka atau ingatan yang masih berbekas hingga individu berada pada masa sekarang yang bisa menyebabkan kondisi emosional belum sepenuhnya matang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara inner child dan kematangan emosi pada individu emerging adulthood. Metode penelitian yang digunakan ialah kuantitatif korelasional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 349 subjek yang memiliki permasalahan/luka masa kecil yang belum terselesaikan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah Inner Child Scale (ICS) dan Emotional Maturity Scale (EMS). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara inner child dengan kematangan emosi pada individu emerging adulthood ( r = 0,007 ; p < 0,05 ), yang mengindikasikan bahwa semakin besar luka inner child maka semakin rendah pula kematangan emosi yang dimiliki individu emerging adulthood. Penelitian ini menemukan bahwa luka masa kecil dapat berpengaruh atau menjadi salah satu penyebab tingkat kematangan emosi seseorang

    DUKUNGAN SOSIAL GURU SEBAGAI PREDIKTOR MOTIVASI BELAJAR: STUDI PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH

    Get PDF
    Motivasi dalam belajar adalah elemen krusial yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan akademik. Perkembangan teknologi digital menjadi salah satu elemen yang bisa mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi motivasi belajar adalah dukungan sosial dari pendidik. Tujuan dari dilakukannya kajian ini untuk menganalisis dampak dari dukungan sosial guru terhadap motivasi belajar siswa. Penelitian ini melibatkan 75 siswa (40 siswa laki-laki dan 35 siswa perempuan) di salah satu sekolah menengah pertama swasta di Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan menerapkan stratified random sampling untuk menetapkan partisipan dalam penelitian. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui skala motivasi belajar (α = 0,742) serta skala dukungan sosial guru (α = 0,859). Kemudian data dianalisis menggunakan analisis regresi sederhana dengan bantuan software SPSS 30. Data penelitian yang telah diolah menunjukkan dukungan sosial dari guru memiliki pengaruh positif pada motivasi belajar siswa (p = 0,00; p < 0,05). Besarnya pengaruh atau kontribusi dukungan sosial dari guru terhadap motivasi belajar sebesar 62,7%. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru sangat krusial dan dibutuhkan adanya peningkatan peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendukung dan menciptakan motivasi belajar siswa. penelitian ini juga mengindikasikan jika guru berperan penting dalam mendorong hasil belajar siswa lebih maksimal melalui dukungan yang diberikan oleh guru.Motivation in learning is a crucial element that can affect students' success in achieving academic goals. The development of digital technology is one of the elements that can affect students' motivation to learn. One of the factors that can affect learning motivation is social support from teachers. The purpose of this study is to analyze the impact of teachers' social support on students' learning motivation. This study involved 75 students (40 male and 35 female) in a private junior high school in Pasuruan Regency. This study adopted a quantitative approach by applying stratified random sampling to determine the participants in this study. Data in this study were collected through the learning motivation scale (α = 0.742) and teacher social support scale (α = 0.859). Then the data were analyzed using simple regression analysis with the help of SPSS 30 software. The processed research data showed that social support from teachers has a positive influence on student learning motivation (p = 0.00; p < 0.05). The amount of influence or contribution of social support from teachers on learning motivation is 62.7%. Research findings indicate that the role of teachers is crucial and that there is a need to enhance the role of teachers in creating a learning environment that supports and fosters student learning motivation. This study also suggests that teachers play an important role in maximizing student learning outcomes through the support they provide

    DUKUNGAN TEMAN SEBAYA DAN PENYESUAIAN DIRI SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS: STUDI PADA SEKOLAH INKLUSI DI YOGYAKARTA

    Get PDF
    Proses penyesuaian diri menjadi langkah penting bagi setiap siswa untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Namun, proses ini sering kali menantang bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik bagaimana hubungan dukungan teman sebaya terhadap penyesuaian diri siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif korelasional dengan melibatkan 63 siswa berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi yang berada di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Penyesuaian Diri dan Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan teman sebaya dengan penyesuaian diri siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Selain itu, aspek dukungan emosional memiliki korelasi positif terkuat dengan penyesuaian diri. Secara keseluruhan, temuan dalam penelitian ini memberikan kontribusi substansial pada pengembangan ilmu psikologi pendidikan, khususnya terkait penyesuaian diri siswa berkebutuhan khusus di konteks sekolah inklusi.The self-adjustment process is a crucial step for every student to adapt to their school environment. However, this process can be particularly challenging for students with special needs in inclusive schools. This study aims to empirically examine the relationship between peer support and the self-adjustment of students with special needs in inclusive schools. This study is a correlational quantitative study involving 63 students with special needs who attend inclusive schools in the city of Yogyakarta, Sleman Regency, and Bantul Regency. The measurement tools used in this study were the Adjustment Scale and the Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS). The results of the study indicate that there is a significant positive relationship between peer support and the self-adjustment of students with special needs in inclusive schools. In addition, the aspect of emotional support has the strongest positive correlation with self-adjustment. Overall, the findings in this study contribute substantially to the development of educational psychology, particularly in the context of the adjustment of students with special needs in inclusive schools

    PELATIHAN MANAJEMEN DIRI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MANAJEMEN WAKTU SANTRI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pelatihan manajemen diri untuk meningkatkan keterampilan manajemen waktu pada santri. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen one group pretest-posttest design. Subjek penelitian terdiri dari 7 santri yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan sebagai pretest dan posttest adalah skala manajemen waktu yang memiliki reliabilitas sebesar 0,858. Pelatihan manajemen diri dilakukan sebanyak 5 sesi dengan metode cermah, diskusi dan praktik, serta 1 sesi follow up. Hasil analisis data menggunakan non-parametric 2-related test dengan uji wilcoxon menunjukkan p (Asymp. Sig. (2-tailed)) sebesar 0.018 yang menunjukkan bahwa p<0,05 (0,012<0,05), artinya ada perbedaan yang signifikan pada manajemen waktu kelompok subjek sebelum dan sesudah intervensi, sehingga pelatihan manajemen diri dapat meningkatkan keterampilan manajemen waktu santri

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Proyeksi: Jurnal Psikologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇