Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
    627 research outputs found

    Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Privat di Kota Kupang (Studi Kasus di Perumahan Nasional Nefonaek dan BTN Kolhua)

    No full text
    AbstractThe increasing of development and population cause the reduction of open space. The impact of housing development in Nefonaek and BTN Kolhua precisely resemble the reduction of the quality of life which is indicated by the environmental problem such as the lowness of comfortable level of the occupant who stayed in that residence. The purpose of the study were : 1) To describe the condition and the space distribution of green open space in Nefonaek and BTN Kolhua, 2) To analyze the comfortable level, 3) To analyze the readiness of green open air area requirements in Nefonaek and BTN Kolhua residence based on the oxygen needs. This study has done in Nefonaek of Kota Lama Subdistrict and in BTN Kolhua of Maulafa Subdistrict. The temperature in Nefonaek and BTN Kolhua residence of Kupang City was 27,1 - 28,3oC and it was included as “Rather Hot” and the comfortable level was categorized in “Not Comfort”. Nefonaek residence needs 9,33 hectare green open air area and BTN Kolhua is 5,04 hectare. The total amount of green open air area needs in Nefonaek until 2020 is about 10,04 hectare and in BTN Kolhua is 5,63 hectare. AbstrakMeningkatnya perkembangan pembangunan dan penduduk akan menyebabkan penurunan luas lahan untuk ruang terbuka. Dampak pengembangan perumahan di Nefonaek dan BTN Kolhua justru mengarah pada penurunan kualitas hidup yang ditunjukkan dengan terjadinya permasalahan lingkungan berupa rendahnya tingkat kenyamanan penghuni yang tinggal di permukiman. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan kondisi dan distribusi spasial RTH privat di Perumahan Nefonaek dan BTN Kolhua; 2) Menganalisis tingkat kenyamanan dan 3) Menganalisis ketersediaan kebutuhan RTH di Perumahan Nefonaek dan BTN Kolhua berdasarkan kebutuhan oksigen (O2). Penelitian ini dilakukan di perumahan Nefonaek Kecamatan Kota Lama dan BTN Kolhua Kecamatan Maulafa. Penelitian ini menggunakan metode Gerarkis yang dimodifikasi. Suhu di perumahan Nefonaek dan BTN Kolhua Kota Kupang berkisar 27,1–28,3oC termasuk kategori “Agak Panas” dan tingkat kenyamanan masuk kategori “Tidak Nyaman”. Perumahan Nefonaek membutuhkan RTH Privat seluas 9,33 ha dan BTN Kolhua membutuhkan 5,05 ha. Prakiraan kebutuhan RTH privat di Perumahan Nefonaek sampai tahun 2020 seluas 10,04 ha dan BTN Kolhua 5,63 ha

    Penggolongan Mangga Gedong Gincu Berdasarkan Rasio Kandungan Gula Asam Menggunakan Prediksi Near Infrared Spectroscopy

    No full text
    AbstractThe objective of this research was to classify the quality of ‘Gedong gincu’ mango based on its sugaracid ratio detected nondestructively using spectroscopy near infrared reflectance (NIR). The near infraredwavelength used was in 1000-2500 nm. Some NIR spectral processing and partial least square was selected to develop calibration and validation model of the correlation between NIR reflectance and destructive measurement data. The best model of calibration and validation in predicting sugar acid ratio was found for those model using combination of NIR data treatment of normalization and first derivative (N01, DG1) with 4 PLS factors. The accuracy of model was indicated by the value of r, SEC, CVc and RPDc i.e. 0.89, 29.81%, 24%, 2.23 for calibration model and 0.78, 34.92%, 30%, 1.61 for validation model. It could be concluded that the developed NIR method could classifying the quality of ‘Gedong gincu’ mango based on the sugar acid ratio content with accuracy of 77%.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menggolongkan kualitas mangga Gedong gincu berdasarkan kandungan gula dan asam secara non destruktif menggunakan spektroskopi near infrared reflectance (NIR). Panjang gelombang yang digunakan adalah 1000-2500 nm. Beberapa pengolahan data spektra NIR dan metode partial least square (PLS) dikaji untuk mencari model kalibrasi dan validasi terbaik hubungan antara data reflektansiterhadap hasil pengukuran secara destruktif. Model kalibrasi terbaik untuk menduga rasio kandungan gula asam adalah menggunakan kombinasi normalisasi dan turunan pertama (N01,DG1) dari data spektra NIR dengan 4 faktor PLS. Ketepatan model kalibrasi dan validasi ditunjukkan dengan nilai r, SE, CV dan RPD untuk model kalibrasi yaitu 0.89, 29.81%, 24%, 2.23 dan 0.78, 34.92%, 30%, 1.61 untuk model validasi. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan untuk menggolongkanmangga Gedong gincu berdasarkan rasio kandungan gula asam dengan ketepatan 77%

    Pengaruh Perlakuan Air Panas terhadap Mutu Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.) Selama Penyimpanan

    No full text
    AbstractGuava (Psidium guajava L.) is one of the potential tropical fruits in Indonesia. Guava productivity can decrease because of pest attacks. Fruit fly (Bactrocera carambolae) is one of guava major pests. It’s needed a treatment that can annihilate fruit fly without affecting the fruit quality. Hot water treatment (HWT) is known as one of popular method for fruit fly disinfestation. HWT at 46oC for a minimum of 15 min is known as a method for B. carambolae disinfestation.This research aimed to observe temperature development during HWT and to study the effects of HWT and storage temperature on guava quality. Red guava was treated by hot water at 46oC for 10, 20, 30 min and then stored at two temperatures, 10oC and 28 ± 2oC. Respiration rate and fruit quality were observed during storage.Respiration rate, weight losses, hardness, moisture content, total soluble solid, and color of guava aren’t affected by HWT at 46oC for 10 - 30 min. Low temperature significantly decreased the respiration rate and weight losses during storage. It’s also maintained moisture content and color of guava.AbstrakBuah jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu buah tropis berpotensi di Indonesia. Produktifitas jambu biji dapat mengalami penurunan karena adanya serangan hama. Salah satu hama utama jambu biji adalah lalat buah dengan spesies Bactrocera carambolae. Diperlukan suatu perlakuan yang dapat membunuh lalat buah tersebut dengan tidak mempengaruhi mutu buah. Perlakuan air panas diketahui sebagai salah satu metode yang banyak digunakan untuk disinfestasi lalat buah. Perlakuan air panas pada suhu 46oC selama minimal 15 menit diketahui dapat membunuh B. Carambolae. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perkembangan suhu selama proses perlakuan air panas dan mempelajari pengaruh suhu dan lama perlakuan air panas terhadap mutu buah jambu biji selama penyimpanan. Buah jambu biji merah diberi perlakuan air panas dengan suhu pusat 46oC selama 10, 20, 30 menit dan kontrol kemudian disimpan pada dua taraf suhu berbeda, yaitu suhu 10oC dan 28 ± 2oC. Selama penyimpanan dilakukan pengamatan laju respirasi dan perubahan mutu buah. Perlakuan air panas pada suhu pusat buah 46oC selama 10 - 30 menit tidak berpengaruh terhadap laju respirasi, susut bobot, kekerasan, kadar air, total padatan terlarut, dan warna buah jambu biji. Suhu rendah dapat menekan laju respirasi dan susut bobot buah selama penyimpanan. Selain itu, suhu rendah juga dapat mempertahankan kadar air dan warna buah jambu biji

    Pengembangan Sistem Hidroponik untuk Budidaya Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)

    No full text
    AbstractPotato cultivation in Indonesia is mostly carried out in upper land with steep slope that also contribute a significant portion in annual volume of eroded soil. Hydroponic system could be an effective method for potato cultivation while avoiding soil erosion. The objective of this research was to design a hydroponic system for potato cultivation. Computational Fluid Dynamic (CFD) simulation was used to describe the root zone temperature distribution in a hydroponic bed. Potatoes was grown in hydroponic systems with different treatment of Electrical Conductivity (EC) values of nutrient solution, i.e. 1.8 mS and 2.5 mS. CFD simulation was capable to describe the distribution of fluid temperature inside the hydroponic bed accurately with R2 value of 0.9837 and average error of 1.8%. Potato plants grown in hydroponic system performed well. It produced tubers although the root zone temperatures reached 30.4°C. Plants grown at EC value of nutrient solution 1.8 mS treatment produce the average number of tuber 4.3 tubers and average weight of tubers 77.2 g per plant. While that grown at nutrient solution with EC value of 2.5 mS produced the average number of tuber 4.6 tubers and average weight of tubers 60.0 g per plant. It was demonstrated that the hydroponic system could be used in potato cultivation for consumption tuber.AbstrakBudidaya kentang di Indonesia umumnya dilakukan pada lahan miring di dataran tinggi sehingga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap erosi tanah. Budidaya dengan sistem hidroponik dapat menjadi salah satu metode yang efektif untuk budidaya kentang yang dapat menekan terjadinya erosi tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang sistem hidroponik untuk budidaya tanaman kentang. Simulasi Computational Fluid Dynamic (CFD) digunakan untuk menggambarkan distribusi suhu daerah perakaran pada bedeng tanaman. Tanaman kentang ditanam pada sistem hidroponik dengan dua perlakuan nilai Daya Hantar Listrik (DHL) larutan nutrisi yang berbeda, yaitu 1.8 mS dan 2.5 mS. Simulasi CFD mampu menggambarkan distribusi suhu daerah perakaran pada bedeng tanaman secara akurat dengan nilai R2 0.9837 dan rata-rata error sebesar 1.8%. Tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik pada sistem hidroponik dan mampu menghasilkan umbi meskipun suhu daerah perakaran tanaman mencapai 30.4°C. Tanaman kentang yang ditanam dengan DHL larutan nutrisi 1.8 mS menghasilkan rata-rata jumlah umbi 4.3 umbi per tanaman dan rata-rata berat umbi 77.2 g per tanaman. Sementara tanaman kentang yang ditanam dengan DHL larutan nutrisi 2.5 mS menghasilkan rata-rata jumlah umbi 4.6 umbi per tanaman dan rata-rata berat umbi 60.0 g per tanaman. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem hidroponik dapat digunakan dalam budidaya tanaman kentang untuk produksi kentang ukuran konsumsi

    Prediksi Deteksi Kerusakan Ubi Jalar Cilembu Akibat Serangan Lanas Menggunakan Gelombang Ultrasonik

    No full text
    AbstractThe aim of this research was to examine wave characteristics of healthy and attacked cilembu sweet potatoes. The study was important to develop non destructive sortation system of cilembu sweet potato in order to detect damages that caused by C. formicarius. The research used 105 cilembu sweetpotatoes which consisted of 60 healty and 45 C. formicarius attacked cilembu sweet potatoes. Cilembu sweet potatoes was obtained from farmers in Cilembu village, Sumedang, West Java. The measurement was conducted by passing ultrasonic waves through cilembu sweet potatoes. Amplitude and time were gained from the measurement process. Those data were processed to detemine ultrasonic wave volocity, attenuation, and moment zero power (Mo). The result showed that ultrasonic wave characteristics of C. formicarius attacked cilembu sweet potatoes were respectively; wave velocity of 264.30 m/s, attenuation of 16.85 dB/m, and Mo of 20.10. Meanwhile, ultrasonic wave characteristics of healthy sweet potatoes were respectively; wave velocity of 239.29 m/s ; attenuation of 19.57 dB/m and Mo of 19.14 . The research alsoverified that forcasting model of C. formicarius attack based on wave velocity, attenuation and Mo was not too accurate. The succes rate were respectively; 77.14%, 74.29% and 54.29%.AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengkaji karakteristik gelombang ultrasonik pada ubi jalar cilembu sehat dan yang terkena serangan lanas. Kajian ini diperlukan untuk mengembangkan sistem pemutuan ubi jalar cilembu khususnya dalam mendeteksi kerusakan akibat serangan hama C. formicarius secara non-destruktif. Pada penelitian ini digunakan sebanyak 105 buah sampel ubi jalar cilembu, yang terdiridari 60 ubi jalar cilembu sehat dan 45 ubi jalar cilembu yang terserang C. formicarius. Ubi jalar cilembu diperoleh dari petani di Desa Cilembu Kabupaten Sumedang. Pengukuran dilakukan dengan melewatkan gelombang ultrasonik melalui ubi jalar cilembu. Hasil yang diperoleh dari pengukuran berupa amplitudo dan waktu. Data yang diperoleh diolah sehingga diperoleh kecepatan gelombang, koefisien atenuasidan moment zero power (Mo). Hasil penelitian menjunjukan karakteristik gelombang ultrasonik pada ubi jalar cilembu yang terserang C. formicarius secara berturut-turut rata-rata kecepatan, koefisien atenuasi dan Mo adalah 264.30 ms-1, 16.85 dB m-1 dan 20.10 sedangkan ubi jalar cilembu sehat masing-masing adalah 239.29 ms-1, 19,57 dB m-1 dan 19.10. Model pendugaan serangan C. formicarius berdasarkannilai kecepatan gelombang, koefisien atenuasi dan Mo hasilnya tidak terlalu akurat dengan persentase keberhasilan berturut-turut sebesar 77.14%, 74.29% dan 54.29%

    Uji Performansi Alat Pengering Efek Rumah Kaca Hybrid Tipe Rak Berputar untuk Bawang Merah (Allium Cepa L.)

    No full text
    Abstract Drying is the most important step of shallot processing before it is consumed. Generally, the farmer dried shallot by spreading it on the ground under the sun, however sun drying could not be implemented at rainy season, therefore the mechanical dryer is necessary. The research introduced the rotary tray hybrid green house effect (GHE) solar dryer for shallot drying. The objective of the study was to test the performance of the rotary rack of the GHE hybrid solar dryer for shallot drying. Three drying experiments has been done to got the performance of the Rotary rack type-hybrid GHE solar dryer. The dryer has drying efficiency of 20.8 % and the energy consumed of 12.1 MJ/kg vapor evaporated. Base on the cost analysis, it was obtained that the drying cost was Rp 1,013,- per kg fresh shallot. The shallot drying bussiness is feasible with payback period of 4 years. Volatile reducing substances (VRS) of dried shallot was 31.1 μg eq/g which has no significant decrease compared with fresh shallot. GHE solar dryer -hybrid of solar and biomass energy- utilization for shallot drying is still useful when the solar irradiation is unavailable for sun drying. It could reduce losses caused of decay of shallot.Abstrak Pengeringan merupakan tahap proses pengolahan bawang sebelum siap dikonsumsi. Secara umum petani menjemur bawang merah di bawah sinar matahari. Pada saat musim penghujan, penjemuran langsung tidak mungkin dilakukan, oleh karena itu dibutuhkan pengering mekanis. Pengering Efek Rumah Kaca (ERK) energi hibrid biomassa-surya tipe rak berputar merupakan salah satu pilihan. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah untuk menguji performansi pengering ERK hibrid untuk mengeringkan bawang merah (Allium Cepa L.). Tiga buah percobaan pengeringan telah dilakukan untuk mendapatkan performansi pengering ERK hibrid tipe rak berputar. Pengering ERK hibrid tipe rak berputar memiliki tingkat efisiensi pengeringan 20.8 % dan nilai konsumsi energy pengeringan yang rendah yaitu 12.1 MJ/kg uap. Berdasarkan analisis biaya, diperoleh biaya pokok pengeringan sebesar Rp 1,013,- per kg bawang merah segar. Usaha pengeringan bawang merah akan kembali modal pada tahun ke-4. Volatile reducing substances (VRS) bawang merah kering adalah 31.1 μg ek/g, penurunannya sangat kecil dibandingkan dengan nilai VRS bawang segar. Pada kondisi dimana surya tidak tersedia untuk melakukan metode pengeringan dengan penjemuran, maka penggunaan pengering ERK hibrid berenergi surya dan biomassa dapat menekan kerugian yang diakibatkan oleh kebusukan

    Analisis Sistem Aerasi pada Penyimpanan Gabah dalam Silo Menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD)

    No full text
    AbstractGrains cooling by aeration system usually reduces the rate of insects and fungi population growth and preserves grain quality. An aeration system may perform inefficently if the grain moisture or temperatures exeeds the safe thresholds. Good design of aeration systems is essential for efficient cooling. In this study, Computational Fluid Dynamics (CFD) approach was used to describe the performance of the aeration system on paddy storage in the silos. CFD is a computer software program to predict and quantitatively analyze fluid flow, heat transfer, transport phenomena, and chemical reactions in a system with one or more boundary condition. CFD analysis result can be used to represent the aeration system on paddy storage in the silos with a fairly high-level validation. The average value of error during four hours aeration is ranges from 3.6% - 5:47%. The statistically result showed that tend to be not significantly different between the measurement results and CFD analysis.AbstrakPendinginan biji-bijian dengan aerasi digunakan untuk mengurangi laju pertumbuhan populasi serangga dan jamur serta mempertahankan kualitas bijian. Sebuah sistem aerasi dapat tidak efisien jika kelembaban bijian atau suhu melebihi batas aman. Desain yang baik pada sistem aerasi merupakan hal yang sangat dasar untuk efisiensi pendinginan. Pada penelitian ini, dilakukan pendekatan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk menggambarkan performansi sistem aerasi pada penyimpanan gabah didalam silo. CFD merupakan program perangkat lunak komputer untuk memprediksi dan menganalisis secara kuantitatif aliran fluida, perpindahan panas, transpor penomena dan reaksi kimia pada suatu sistem dengan satu atau lebih kondisi batas. Hasil penelitian menunjukkan analisis CFD dapat mereprensentasikan system aerasi pada penyimpanan gabah dalam silo dengan tingkat validasi yang cukup tinggi. Rata-rata nilai error selama empat jam aerasi berkisar 3.6 % - 5.47 %. Secara statistik menunjukkan hasil yang cenderung tidak berbeda nyata antara hasil pengukuran dengan analisis CFD

    Pengaruh Milling Terhadap Karakteristik Nanopartikel Biomassa Rotan

    No full text
    AbstractThe huge availability of rattan biomass is a fiber rich natural resource that resulted from rattan processing. Nanoparticles biomass is selected material with high potential to be further developed and studied as filler composites, which rattan has better mechanical physical properties than synthetic. Thefiber objective of this study is to obtain natural fiber nanoparticles from rattan biomass as a reinforcing material of PP (Polypropylene) using milling method with time variation of 15, 30 and 45 minutes. The result of using milling method with Herzong tool, the optimum milling time ws 30 minutes with an average particle size of 24.35 nm in the range 15:49 24.35 - 48.99 through PSA test equipment, which using the method ofdistribution comulant amount (number), the surface morphology of nanoparticles fiber rattan skin shows the longer time milling, the smaller the particle size, and ACS amounted to 0.9833 Å (0.09833 nm) with a FWHM 0.1557 rad.AbstrakKetersediaan biomassa rotan yang melimpah merupakan sumber daya alam kaya serat yang dihasilkan dari pengolahan rotan. Nanopartikel biomassa rotan merupakan pilihan material yang sangat potensial untuk dikembangkan dan diteliti lebih lanjut sebagai filler komposit yang memiliki sifat fisis mekanik lebih baik dari sintesis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh nanopartikel serat alam dari biomassa rotan sebagai bahan penguat polipropilen (PP) menggunakan metode milling dengan variasi waktu 15 menit, 30 menit, dan 45 menit. Hasil dari menggunakan metode milling dengan alat Herzong didapatkan waktu milling optimum 30 menit dengan rata-rata ukuran partikel 24.35 nm dalam rentang 15.49 - 48.99 nm melalui ala uji PSA yang menggunakan metode akumulasi distribusi jumlah (number), Morfologi permukaannanopartikel serat kulit rotan menunjukkan semakin lama waktu milling, semakin kecil ukuran partikelnya, dan ACS sebesar 0.9833 Å (0.09833 nm) dengan FWHM 0.1557 rad

    Prediksi Kandungan Kafein Biji Kopi Arabika Gayo dengan Near Infrared Spectroscopy

    No full text
    AbstractCaffein is one of the important quality indicator of coffee. Caffein content usually determined by chemical method. Alternative method such Near Infrared Spectroscopy (NIRS) is needed to determine caffein content of coffee rapidly and nondestructively. Applications of NIRS to predict caffein content of coffee were carried out in coffee powders and liquid not in coffee beans. The objective of this study was to assess NIRS method to predict caffein content of arabica coffee bean. Coffee bean samples were placed in petri dish with 2 and 3 layers. The reflectances are measured BY FT-NIR Spectrometer in wavelengths of 1000 – 2500 nm, followed by determination of caffein content by chemical method. Some pre-processing NIRS data such as normalization between 0 and 1 (n01), first derivative of Savitzky-Golay 5 points (dg1), second derivative of Savitzky-Golay 5 points (dg2), combination n01 and dg1, combination n01 and dg2, and PLS calibration to increase accuracy of NIRS prediction. The best prediction is obtained by second derivative and 5 factors PLS with 3 layers of coffee beans with the high R = 0.97 and RPD (5.93), low of SEP and CV (0.007%, 1.76%). This study demonstrated that NIR spectroscopy had excellent potential analysis to determine caffein content of coffee beans.AbstrakKafein merupakan salah satu indikator mutu terpenting dari kopi. Biasanya kandungan kafein kopi ditentukan dengan metoda kimia. Metoda alternatif seperti Near Infrared Spectroscopy (NIRS) diperlukan untuk penentuan kandungan kafein biji kopi secara cepat dan nondestruktif. Hingga saat ini, aplikasi NIRS untuk penentuan kandungan kafein dilakukan pada kopi bubuk atau kopi cair dan bukan pada biji kopi. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji metoda NIRS untuk memprediksi kandungan kafein biji kopi arabika gayo. Biji kopi diletakkan dalam cawan petri dengan 2 dan 3 tumpukan. Reflektan biji kopi diukur menggunakan FT-NIR Spectrometer pada panjang gelombang 1000 – 2500 nm. Dilanjutkan dengan penentuan kandungan kafein kopi dengan metode kimia. Beberapa pra-pengolahan data NIRS seperti normalisasi antara 0 – 1 (n01), derivatif pertama Savitzky-Golay 5 point (dg1), derivatif kedua SavitzkyGolay 5 point (dg2), kombinasi n01 dan dg1, dan kombinasi n02 dan dg2 serta kalibrasi dengan PLS dilakukan untuk meningkatkan akurasi metoda NIRS. Prediksi NIRS terbaik diperoleh dengan pra-PLS dengan 3 tumpukan dengan koefisien korelasi (R = 0.97) dan RPD (5.93) yang tinggi, SEP dan CV yang rendah (0.007%, 1.76%). Penelitian ini membuktikan metode NIRS berpotensi untuk analisis kandungan kafein biji kopi

    Studi Waktu dan Beban Kerja untuk Penentuan Kebutuhan dan Distribusi Pekerja pada Alur Produksi Nanas Kaleng

    No full text
    AbstractErgonomic considerations are important approach in determining the optimal number of worker on suchan industrial production line. Ergonomical approach may assess suitability of labor characteristic to the condition of the task, hence the optimum results will be achieved on minimum risk and maximum productivity. The aim of this study was to determine the work elements and production flow, standard time, workload and energy consumption rate on production processes of caned pineapple. With the ergonomic parametersobtained, optimum number and distribution of workers for sequencial work elements to meet company\u27s production targets were designed. The results revealed that a line production of canned pineapple consist 22 work elements. The standard time to produce 420 gram (A2-size) canned pineapple was 27.608 s consumed 0.714 kcal equivalent of work energy cost. Based on the analysis of standard time and workloadit was 383 workers required to produce 250000 canned pineapple in the production line.AbstrakPertimbangan ergonomika merupakan pendekatan penting dalam menentukan jumlah tenaga kerja optimal dalam suatu alur produksi sebuah industri. Dengan melakukan pendekatan ergonomika dapat mengevaluasi kesesuaian antara tenaga kerja dengan kondisi pekerjaan sehingga hasil optimal akandicapai pada resiko pekerjaan yang minimal dan produktivitas yang maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan elemen kerja dan alur proses, waktu baku, beban kerja dan laju konsumsi energi dalam kegiatan produksi nanas kaleng. Berdasarkan parameter-parameter ergonomika yang telahdiperoleh, kebutuhan tenaga kerja dan distribusinya yang optimal pada setiap sekuensial elemen kerja untuk mencapai target produksi perusahaan dapat didesain. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 22 elemen kerja dalam proses produksi nanas kaleng. Waktu baku untuk memproduksi satu buah kaleng nanas 420 gram (ukuran A2) adalah 27.608 detik dengan energi yang dibutuhkan sebesar 0.714 kkal setara dengan energi untuk bekerja. Berdasarkan analisis waktu baku dan beban kerja tersebut menunjukkan bahwa dibutuhkan 383 tenaga kerja untuk menghasilkan 25000 nanas kaleng pada proses produksi nanas kaleng

    238

    full texts

    627

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keteknikan Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇