Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
627 research outputs found
Sort by
Analisis Kinerja Traksi Roda Besi Bersirip Di Lahan Sawah
AbstractPaddy field soil condition is an important factor to be considered in designing a lug wheel for paddy field cultivation. To get the optimum wheel design, the wheel traction performance should be predicted before constructing the wheel. The purpose of this research were 1) to develop a prediction method of lug wheel performance, 2) to analyze the performance of lug wheel, and 3) to select the best configuration of lug wheel design. Tractive performance prediction method was developed based on the forces acting onactive lugs when the wheel operates in the soil. Soil reaction forces to wheel lugs were predicted using measured data of soil resistance on plat penetration in the soil. Nine wheel designs were tested in a paddy field to validate the prediction of wheel traction performance. The results showed that the developedprediction method developed had not approached the wheel traction efficiency maesurement results. The wheel traction efficiency prediction showed a high level of error that was more than 65%. The best wheel design for the paddy field was determined from the highest average measurement value of the wheel traction efficiency i.e 47.81%, that was the wheel with 12 lugs and 30° lug angle.AbstrakKondisi lahan sawah merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan roda besi bersirip untuk pengolahan tanah. Untuk mendapatkan desain roda besi bersirip yang optimal, kinerja traksi harus diduga sebelum melakukan perancangan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengembangkan sebuah metode pendugaan kinerja traksi roda besi bersirip, 2) untuk menganalisis kinerjatraksi roda besi bersirip, 3) untuk menentukan konfigurasi desain roda besi bersirip terbaik. Metoda untuk menduga kinerja traksi dikembangkan berdasarkan gaya-gaya reaksi yang bekerja pada sirip aktif pada saat roda besi bersirip beroperasi di lahan. Gaya reaksi tanah pada sirip roda diduga dengan menggunakan data pengukuran tahanan tanah terhadap penetrasi plat. Sebanyak 9 buah tipe desain roda besi bersirip telah diuji pada lahan sawah untuk memvalidasi hasil pendugaan kinerja traksi roda besi bersirip. Hasil validasi menunjukkan bahwa efisiensi traksi hasil pengembangan metode pendugaan belum mendekati hasil efisiensi traksi pengukuran. Pendugaan efisiensi traksi roda besi bersirip menghasilkan tingkat error yang tinggi yaitu lebih dari 65%. Desain roda besi bersirip terbaik untuk lahan sawah ditentukan dari ratarata nilai efisiensi traksi hasil pengukuran tertinggi sebesar 47.81% yaitu roda besi bersirip dengan jumlahsirip 12 dan sudut sirip 30°
Perlakuan Air Panas diikuti Pencelupan dalam Larutan CaCl2 untuk Mempertahankan Kualitas Buah Belimbing Manis (Averrhoa Carambola L.)
AbstractHot water treatment (HWT) followed by CaCl2 solution immersion was well performed to evaluate its effect on the quality of star fruit (Averrhoa carambola L.). The star fruit was dipped in hot water at the temperature 42±0.2OC for 5 and 10 minutes, then dipped in the 1 and 3% CaCl2 solution and stored at 10OC for 27 days. The control was conducted by storing star fruits directly without HWT and CaCl2 solution immersion at the same temperature. The parameter observed in this work were calcium content of the sample, which was measured at the beginning of storage after treatment, microbial total counted at 0, 12, and 24 days of storage, as well as weight loss and browning index were measured every three days during storage. The result evidenced that the HWT were able to suppress the growth of microbes and maintainedfruit color during storage, whereas the application of CaCl2 increased calcium content in star fruit, but it caused fruit damage which increased the number of microbial total and weight loss also decreased of firmness so that the shelf life of fruit shorter.AbstrakPerlakuan air panas (hot water treatment (HWT)) diikuti dengan pencelupan dalam larutan CaCl2 telah dikaji untuk melihat pengaruhnya terhadap mutu buah belimbing manis. Buah belimbing dicelup dalam air panas pada suhu 42±0.2OC selama 5 menit dan 10 menit, kemudian dicelup dalam larutan CaCl2 1% dan 3%) dan disimpan pada suhu 10OC selama 27 hari. Sebagai control, buah belimbing tidak diberi perlakuandan disimpan pada suhu yang sama. Parameter yang diamati meliputi kandungan kalsium diukur pada awal penyimpanan setelah perlakuan, total mikroba diukur pada hari penyimpanan ke-0, 12, dan 24, serta susut bobot dan browning index yang diukur setiap tiga hari selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HWT mampu menekan pertumbuhan mikroba dan mempertahankan warna buah selama penyimpanan, sedangkan aplikasi CaCl2 meningkatkan kandungan kalsium dalam buah belimbing,akan tetapi menyebabkan buah mengalami kerusakan yang berdampak pada meningkatnya total mikroba dan susut bobot serta menurunnya kekerasan sehingga memperpendek umur simpan buah
Respon Suhu pada Laju Pengeringan dan Mutu Manisan Mangga Kering (Mangifera indica L.)
AbstractMango is higly perishable and must be consumed within a few days after harvesting. Preserving mango into dry product can extend shelf life and increase added value. The research aimed to investigate the processing technology of dried candied mango by analysing the drying rate and quality of the product in various drying temperature and slice forms the mango. Mangos of Kopek cv. were sliced into cubes, bar, and flat then dried at 45°C and 50°C. Responses which observed were drying rate, water content, water activity value (aw), yield, and organoleptic. The results showed that the drying rate fluctuates due to the influence of the opening of the drying rack and the heating element. Shortest drying time is obtained in the form of slices drying box at 50°C with a yield of 52.45% and the value of aw 0.59. Organoleptic response indicates that the wedge shape and drying temperature does not affect the assessment of panel.AbstrakBuah mangga sangat mudah rusak dan harus dikonsumsi dalam beberapa hari setelah panen. Mengawetkan mangga menjadi produk kering mampu memperpanjang umur simpan dan meningkatkan nilai tambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teknologi pengolahan manisan mangga kering dengan menganalisis karakteristik pengeringan pada berbagai suhu pengeringan dan bentuk irisan mangga. Buah mangga varietas kopek diiris menjadi bentuk kubus, balok, dan pipih kemudian dikeringkan pada suhu 45°C dan 50°C. Respon yang diamati meliputi laju pengeringan, kadar air, nilai aw, rendemen, dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengeringan berfluktuasi karena pengaruh pembukaan rak pengering dan elemen pemanas. Waktu pengeringan terpendek diperoleh pada pengeringan bentukirisan kubus pada suhu 50°C dengan rendemen sebesar 52.45% dan nilai aw 0.59. Respon organoleptik menunjukkan bahwa bentuk irisan dan suhu pengeringan tidak mempengaruhi penilaian panelis
Pengaruh Lama Pengukusan terhadap Mutu Fisik Beras Pratanak pada Beberapa Varietas Gabah
AbstractParboiled rice processing begins with a process of paddy soaking and steaming. These processes are intended to improve physical quality and lower the glycemic index so it fits for diabetic and diet purposes. Objective of this study was to assess the effect of soaking time and temperature on paddy moisture content and effect of steaming time on milling yield and physical quality of parboiled rice in some paddy varieties. The stages of the research was determination of soaking time and temperature, processing of parboiled rice, milling yield analysis, and physical properties analysis. The result showed that paddy soaking at 60oC takes 3 - 5 hours to reach moisture content of 25 – 30%, whereas at 30oC takes more than 7 hours. Steaming of Ciherang paddy for 20 minutes resulted the highest head rice yield (72.52 ± 5.00%). Parboiling condition that recommended was soaking paddy on 60oC for 4 hours and steaming for 20 minutes using Ciherang paddy variety.AbstrakPengolahan beras pratanak diawali dengan proses perendaman dan pengukusan gabah. Proses tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan mutu fisik dan menurunkan nilai indeks glikemik dari beras yang dihasilkan sehingga cocok dikonsumsi penderita diabetes dan untuk keperluan diet. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh suhu dan waktu perendaman terhadap kadar air gabah dan mengkaji pengaruh lama pengukusan terhadap rendemen giling dan mutu fisik beras pratanak pada beberapa varietas gabah. Tahapan penelitian meliputi penentuan suhu dan waktu perendaman, pembuatan beras pratanak, analisis rendemen giling dan analisis mutu fisik beras pratanak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman pada suhu 60oC membutuhkan waktu 3 - 5 jam untuk mencapai kadar air gabah 25 – 30%, sedangkan pada suhu 30oC membutuhkan waktu lebih dari 7 jam. Pengukusan 20 menit pada gabah varietas Ciherang menghasilkan rendemen beras kepala tertinggi, yaitu 72.52 ± 5.00%. Kondisi proses pratanak yang direkomendasikan adalah perendaman gabah pada suhu 60oC selama 4 jam dan pengukusan selama 20 menit menggunakan gabah varietas Ciherang
Pemanfaatan TKKS Sebagai Pengisi Komposit Epoxy Untuk Struktur Bergerak Mesin CNC Perkayuan
AbstractCNC machinery is widely used at various kind of industrial sector to manufacture of art products up to satellite products. Instead of its massive utilization in automotive and electronic industry which mostly use metallic component, wood working industry has been using it to produces furniture’s, merchandises, and other house ware products which apply light weight non-metallic low density material. High removalrate in wood machining process needs high speed application due to its low density material; however most of wood working CNC machine is built on heavy steel structure for both its supporting structure and moving structure. In fact, the raw material is much lighter than the carrier itself. Its wasteful dynamic movement causes energy loses and vibrations that effect on machining accuracy, live of cutting tool, andproductivity. This research applied new light weight composite material base on renewable resource of oil palm empty fruit bunch (EFB) natural fiber as filler material combine with polymer epoxy as it’s matrix to be constructed as moving mechanical structure of high speed 3D CNC woodworking machine to improve its dynamic performance. Comparative analysis showed that it has better dynamic performance on high speed machining process compared with traditional cast iron materialAbstrakMesin Perkakas CNC (Computerized Numerical Control) digunakan luas oleh industri untuk memproduksi mulai dari benda-benda seni kerajinan hingga untuk membuat satelit. Selain pemanfaatannya secara besar-besaran di industri otomotif dan elektronika yang umumnya menggunakan komponen logam, industri perkayuan telah banyak menggunakannya untuk memproduksi mebel, barang kerajinan, dan peralatan rumah tangga lainnya dengan mengaplikasikan bahan bukan logam seperti kayu yang berberat jenis rendah dan ringan. Tingkat pemotongan yang tinggi pada proses permesinan kayu membutuhkanpermesinan cepat akibat berat jenis bahannya yang rendah tersebut, namun mesin CNC perkayuan umumnya dibangun dengan struktur logam yang berat, baik untuk struktur penopang maupun struktur bergeraknya. Kenyataannya, bahan baku kayunya sendiri jauh lebih ringan ketimbang struktur yang menggerakkannya. Dinamika gerakan pada struktur bergerak yang berat ini menyebabkan pemborosandaya dan getaran berlebih yang mempengaruhi ketelitian, keawetan pahat potong, dan produktivitas. Penelitian ini mengembangkan bahan komposit ringan baru dengan memanfaatkan sumber terbarukan dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan pengisinya dengan matriks polimer epoxy untuk dibangun sebagai struktur bergerak mesin CNC perkayuan metode permesinan cepat 3 dimensi, untuk meningkatkan unjuk kerja dinamiknya. Analisa perbandingan menunjukkan bahan ini memiliki unjuk kerja dinamik lebih baik pada proses permesinan cepat ketimbang menggunakan besi tuang sebagai bahan tradisionalnya
Pengaruh Tanaman Pada Dataran Banjir Terhadap Kekasaran Hidrolik Sungai Barabai
AbstractHydraulic roughness value is a value that describes the estimation of retention towards water flow due to energy loss caused by friction between channel and water. The type, density and height of vegetation cause variations in the hydraulic roughness value. The hydraulic roughness value can be observed by using a physical model representing the real condition. The objective of this research is to figure out theeffect of plants planted in floodplain by conducting a research using physical model in a laboratory. This research was conducted by carrying out experiments and observations in a laboratory on a physical model that represents the condition of the cross section of Barabai River in South Kalimantan. The model was designed with a scale of 1:110, and in the floodplain were planted bamboo plants with a space of 1.82 by 1.82 cm. The plants’ diameter and length were 0.1 cm and 8 cm, respectively. The model was made in two types, namely a model with monocrops and another model with clump. The model is combined with an open channel along with its device. The research results show that there was an effect of plants on the hydraulic roughness value. This value was indicated by n4 value which increased by 65.13% if the plants were changed from monocrops into clump. This increase was caused by the increase of plants density. Besides, it was also discovered that the flow velocity decreased by 33.83% if the plants were changed from monocrops into clump.AbstrakNilai kekasaran hidrolik adalah nilai yang menggambarkan perkiraan retensi terhadap aliran karena kehilangan energi yang disebabkan oleh gesekan antara saluran dan air. Jenis, kerapatan, ketinggian vegetasi menyebabkan variasi nilai kekasaran hidrolik. Nilai kekasaran hidrolik dapat diamati dengan menggunakan sebuah model fisik yang mewakili kondisi sesungguhnya. Penelitian ini bertujuan mengetahuipengaruh tanaman yang ditanam pada dataran banjir dengan melakukan percobaan dengan model fisik di laboratorium. Penelitian dilakukan dengan melakukan percobaan dan pengamatan di laboratorium pada sebuah model fisik yang mewakili kondisi penampang pada Sungai Barabai di Kalimantan Selatan. Model dirancang dengan skala 1:110, pada dataran banjirnya ditanam tanaman bambu dengan jarak 1.82x 1.82 cm. Diameter tanaman 0.1 dan panjang 8 cm. Model dibuat dalam dua jenis yaitu model dengan tanaman tunggal dan model dengan tanaman rumpun. Model dipadukan dengan saluran terbuka beserta perangkatnya. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh tanaman terhadap nilai kekasaran hidrolik. Nilai ini ditunjukkan oleh nilai n4 yang meningkat sebesar 69 – 70% apabila tanaman diubah dari tanaman tunggal menjadi tanaman rumpun. Peningkatan ini disebabkan meningkatnya kerapatan tanaman. Selain itu diketahui kecepatan aliran menurun sebesar 2.3 – 1.7% apabila tanaman diubah dari tanaman tunggalmenjadi tanaman rumpun
Pelapisan Lilin Karnauba dan Kitosan untuk Mempertahankan Mutu Wortel Kupas
AbstractCarrot is one kind of vegetables that is highly consumed in Indonesia and foreign countries. Carrots are usually marketed in the form of unpeeled carrots, but now the demand of peeled carrots or minimally processed carrots increases significantly, especially for export. Unfortunately, the peeled carrot usually is more perishable than unpeeled carrots. Therefore, postharvest technology to maintain the quality of peeled carrot is required, one of them is wax coating technology. The aim of this research was to determine the best treatment of coating and storage temperature to maintain quality of peeled carrot during cold storage. Three kinds of storage temperatures (5, 10, 15 °C) and three kinds of coating (carnauba wax, chitosan, carnauba wax+chitosan) were applied in this research. The change of quality of peeled carrot during storage such as moisture content, weight loss, respiration rate, total plate count, color and organoleptic test was investigated. The results showed that the storage temperature significantly influenced the quality parameters analyzed. Coating did not significant affect the quality parameters of peeled carrot. The temperature of 5 °C suppress damage of peeled carrots during storage compared to other temperatures. Chitosan coating combined with storage temperature of 5 °C is the best postharverst treatment for pelled carrot, with the shelf-life of 9 days. AbstrakWortel merupakan salah satu sayuran yang cukup banyak dikonsumsi oleh konsumen dalam dan luar negeri. Biasanya wortel dipasarkan dalam bentuk wortel tanpa kupas, namun saat ini permintaan wortel kupas atau wortel terolah minimal semakin besar khususnya dari Singapura. Wortel dalam keadaan terolah minimal lebih cepat busuk dibandingkan dengan wortel tanpa kupas, sehingga diperlukan teknologi pascapanen untuk mempertahankan mutu dari wortel kupas, salah satunya dengan pelapisan lilin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis pelilinan dan suhu penyimpanan dingin terbaik untuk mempertahankan mutu wortel kupas. Penelitian ini menggunakan 3 jenis suhu (5, 10, 15oC) dan 3 jenis pelapisan (lilin karnauba, kitosan dan kombinasi). Parameter mutu yang dianalisis adalah kadar air, susut bobot, laju respirasi, total mikroba, warna dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu penyimpanan berpengaruh signifikan terhadap parameter mutu yang dianalisis. Pelapisan tidak berpengaruh signifikan terhadap parameter mutu wortel kupas. Suhu 5oC dapat menghambat kerusakan wortel kupas selama penyimpanan dibandingkan dengan suhu lainnya. Pelapisan dengan kitosan dan suhu penyimpanan 5oC adalah perlakuan terbaik untuk wortel kupas dengan umur simpan 9 hari
Model Arrhenius untuk Pendugaan Laju Respirasi Brokoli Terolah Minimal
AbstractMinimally processed broccoli are perishable product because it still has some metabolism process duringthe storage period. One of the metabolism process is respiration. Respiration rate is varied depend on the commodity and storage temperature. The purpose of this research are: to review the respiration pattern of minimally processed broccoli during storage period, to study the effect of storage temperature to respiration rate, and to review the correlation between respiration rate and temperature based on Arrhenius model. Broccoli from farming organization “Agro Segar” was processed minimally and then measure the respiration rate. Closed system method is used to measure O2 and CO2 concentration. Minimally processed broccoli is stored at a temperature of 0oC, 5oC, 10oC and 15oC. The experimental design used was completely randomized design of the factors to analyze the rate of respiration. The result shows that broccoli is a climacteric vegetable. It is indicated by the increasing of O2 consumption and CO2 production during senescence phase. The respiration rate increase as high as the increasing of temperature storage. Models Arrhenius can describe correlation between respirationrate and temperature with R2= 0.953-0.947. The constant value of activation energy (Eai) and pre-exponential factor (Roi) from Arrhenius model can be used to predict the respiration rate of minimally processed broccoli in every storage temperatureAbstrakBrokoli terolah minimal merupakan produk yang mudah rusak (perishable). Hal tersebut terjadi karena jaringan tumbuhan masih melakukan kegiatan metabolisme selama penyimpanan. Salah satu proses metabolisme yang terjadi adalah respirasi. Besarnya laju respirasi bervariasi tergantung jenis komoditi dan sangat dipengaruhi oleh suhu penyimpanan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pola respirasi brokoli terolah minimal selama penyimpanan, mengkaji pengaruh suhu terhadap laju respirasi dan menganalisis hubungan laju respirasi dengan suhu penyimpanan berdasarkan model Arrhenius. Brokoli yang diperoleh dari kelompok tani “Agro Segar” diolah secara minimal untuk kemudian diukur laju respirasinya. Metode sistem tertutup digunakan untuk mengukur konsentrasi O2 dan CO2. Brokoli terolah minimal disimpan pada suhu 0oC, 5oC, 10oC, dan 15oC. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 taraf perlakuan. Hasil penelitian menunjukan brokoli merupakan jenis sayuran klimaterik yang ditandai dengan adanya peningkatan konsumsi O2 dan produksi CO2 pada fase pelayuan. Laju respirasi meningkat seiring dengan meningkatnya suhu penyimpanan. Hubungan laju respirasi dengan suhu penyimpanan terbukti dapat dijelaskan menggunakan model Arrhenius yang memiliki nilai R2 = 0.953-0.947. Nilai konstanta energi aktivasi (Eai) dan faktor preeksponensial (Roi) dari model Arrhenius dapat digunakan untuk memprediksi laju respirasi brokoli terolah minimal pada setiap suhu penyimpanan
Analisis Sistem Heat Pump Kompresi Uap untuk Pengeringan Gabah
AbstractAs a drying system, heat pump drying with appropriate configuration is potential to safe energy. The objective of this research was to develop vapor compression heat pump system for rough rice drying and to obtain low energy consumption from several system configurations. Therefore, the model of vapor compression heat pump system was designed in which its configuration was modifiable. The result showed that the ratio of specific moisture extraction rate which calculated mechanic and thermal consumption (SMERTot) upon resistive heating dryer for those several configurations was 159 – 329%. The open cycle heat pump drying method with intermittent operation produced the highest specific moisture extraction rate which only calculated thermal energy (SMERT) and SMERTot at 7.06 and 5.06 kg/kWh, respectively. Intermittent operation did not much influence drying rate but significantly reduced energy consumption. Ambient air inlet which placed before evaporator and condenser on a closed cycle could produce different SMERTot i.e. 4.01 dan 3.07 kg/kWh respectively. The utilization of ambient air through forced convection in heat exchanger could increase SMERTot, while the utilization of air flow the dryer from outlet could reduce SMERTot.AbstrakPengeringan heat pump merupakan sistem pengeringan yang berpotensi menghemat energi terutama apabila konfigurasinya sesuai. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan sistem heat pump kompresi uap (HPKU) untuk pengeringan gabah dan mendapatkan konsumsi energi yang rendah dariberbagai konfigurasi sistem. Untuk itu pada penelitian ini didesain sebuah model sistem pengering heat pump yang konfigurasinya dapat diubah-ubah untuk pengeringan gabah. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa rasio peningkatan specific moisture extraction rate yang memperhitungkan konsumsi energi mekanik dan termal (SMERTot) terhadap pengering pemanas resistif untuk berbagai konfigurasi tersebutadalah 159 – 329%. Metode pengeringan heat pump siklus terbuka dengan pengoperasian HPKU yang intermittent memberikan specific moisture extraction rate yang hanya memperhitungkan konsumsi energi termal (SMERT) dan SMERTot yang paling tinggi yaitu masing-masing 7.06 dan 5.06 kg/kWh. Pengoperasian intermittent tidak banyak mempengaruhi laju pengeringan, tetapi secara nyata menurunkan konsumsi energi. Penempatan inlet udara lingkungan sebelum evaporator dan sebelum kondensor pada siklus tertutup memberikan SMERTot yang berbeda yaitu 4.01 dan 3.07 kg/kWh. Penggunaan udara lingkungan dengan menggunakan konveksi paksa melalui penukar panas dapat meningkatkan SMERTot, sedangkan penggunaan aliran udara dari keluaran pengering dapat menurunkan nilai SMERTot
Analisis Dimensional Reaktor Berpengaduk Statis untuk Produksi Biodiesel
AbstractBiodiesel production can be done using static mixing reactor (SMR). The production by this method requires less energy than blade agitator. However, the use of elements in the helix-shaped stirrer reactors causing large pressure drop. The other factors that affect the flow in the SMR can be determined using dimensional analysis. Dimensional analysis can be used to eliminate the variables that are not required so that can be done to optimize the energy used in the SMR design. The variables that influence the pressure drop (ΔP) in the SMR can be formulated into mathematical equation as:Total irreversibility due to the use of a static mixer in the SMR tested is 0.237 W.AbstrakProduksi biodiesel dapat dilakukan dengan menggunakan reaktor berpengaduk statis atau SMR (Static Mixing Reactor). Pembuatan biodiesel dengan metode ini membutuhkan energi yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan blade agitator. Namun demikian penggunaan elemen pengaduk yang berbentuk helix dalam reaktor menimbulkan pressure drop yang besar. Faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap aliran di dalam SMR dapat ditentukan dengan menggunakan analisis dimensional. Analisis dimensional mampu menghilangkan variabel-variabel yang tidak diperlukan sehingga dapat dilakukan untuk mengoptimalkan energi yang digunakan dalam perancangan SMR. Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap pressure drop (ΔP) di dalam SMR yang dapat diformulasikan ke dalam bentuk persamaan matematis sebagai:Ketakmampubalikan total akibat penggunaan elemen berpengaduk statis yang diuji adalah 0,237 W