Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
627 research outputs found
Sort by
Studi Kinetika Degradasi Warna Biodegradable Film - Antosianin Untuk Indikator Proses Termal
AbstractAnthocyanins from different sources have been reported for its potential as thermal process indicator. This research aimed in particular to study the color degradation kinetics of anthoyanin from Roselle and in general to provide alternative natural indicator for thermal process. Roselle’s anthocyanin extract was incorporated into 3 biodegradable films (i.e agar, pectin, PVA). Thermal degradation kinetics of anthocyanin’s color (ΔE and Chroma) in biodegradable film was studied at selected temperatures (80oC, 90oC, and 100oC). The color change was observed at minute 0, 30, 60 and 120 by computer vision method. The results showed that anthocyanin incorporated into PVA film had the highest value of activation energy (Ea), while anthocyanin incorporated into pectin film had the smallest value of Ea. Lower value of Ea indicating that the anthocyanin chroma is easily degraded at low temperature. Higher value of Ea indicating that it needshigher energy or higher temperature to degrade the color. The results of this study showed that anthocyanin in PVA film can be selected as indicator for high temperature thermal process (e.g. sterilization), while anthocyanin in pectin film can be used in lower temperature thermal process (e.g. pasteurization). AbstrakPotensi antosianin dari berbagai sumber sebagai indikator proses termal alami telah banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan mempelajari kinetika degradasi warna film-antosianin serta menentukan kombinasibiodegradable film-antosianin terbaik sebagai alternatif indikator proses termal. Pengamatan kinetik ini dilakukan pada suhu 80oC, 90oC, dan 100oC dan parameter degradasi warna yang diukur adalah ΔE danChroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antosianin pada film PVA mempunyai nilai energi aktivasi (Ea) paling besar, sedangkan antosianin pada film pektin mempunyai nilai Ea paling kecil. Nilai Ea degradasiwarna antosianin yang kecil pada film pektin menunjukkan bahwa degradasi warna sudah dapat berjalan pada suhu yang rendah. Sedangkan nilai Ea degradasi warna antosianin yang lebih besar pada film PVA menunjukkan bahwa antosianin pada film tersebut merupakan yang paling sensitif terhadap perubahan suhu dan paling signifikan perubahan warnanya. Namun perubahan warna yang signifikan pada antosianinpada film PVA membutuhkan suhu yang lebih tinggi sehingga lebih tepat untuk digunakan sebagai indikator pada proses termal dengan suhu yang tinggi (misalnya sterilisasi), sedangkan antosianin pada film pektin dapat digunakan pada proses termal dengan suhu yang lebih rendah (misalnya pasteurisasi)
Peningkatan Performansi Ekstraktor Madu Melalui Otomatisasi Alat Dan Desain yang Ergonomis untuk Petani Lebah Madu di Batang
AbstractHoney extractor is a tool used by farmers group “Bunga Alam Lestari”, Batang Regency to squeeze honey from the honeycomb which has been harvested. The tool owned by the farmers is categorized simple. It is operated manually, therefore the extortion process of honeycomb takes a long time. The tool design is not ergonomic yet since the farmers have to pour the honey manually into the collecting bucket. The farmers also have to move the honey extractor from one farm to another farm during the production period. Researchers improved the existing tools referring to ergonomics concept which is collaborating between manual frame and electric motor (hybrid), increasing the number of frames from 2 to 10, creating mechanism of frame rotating termination (braking), adding of transferal tools,and improving the mechanism of the flow of honey without reversing the tool to pour the honey. The test results of the new tool show improvement of the tools performance, specifically it takes only 180 second for one extortion which producing 16.75 kg of honey. The equipment owned by the farmers needs 360 seconds for one extortion time resulting of 3.35 kg honey.Abstrak Ekstraktor madu merupakan alat yang digunakan untuk memeras sarang madu yang telah dihasilkan oleh lebah yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pengembangan desain dan pembuatan ekstraktor madu ini merupakan perbaikan dari alat yang dimiliki oleh Kelompok Petani Bunga Alam Lestari Kabupaten Batang. Alat yang dimiliki petani memiliki kekurangan antara lain : masih manual, tidak ergonomis, waktu pemerasan sarang madu lama dengan hasil madu yang sedikit, susah dalam pemindahan alat tersebut. Peneliti melakukan perbaikan alat yang ada dengan merujuk pada konsep ergonomi, mengkolaborasikan pemutar frame antara manual dan motor listrik (hybrid), menambah jumlah frame dari 2 menjadi 10, membuat mekanisme penghentian putaran frame (pengereman), penambahan pemindah alat, memperbaiki mekanisme aliran madu hasil pemerasan. Hasil pengujian terhadap alat yang peneliti buat satu kali proses pemerasan dibutuhkan waktu 180 detik dengan menghasilkan 16.75 kg madu sedangkan alat yang dimiliki petani waktu pemerasan 360 detik dengan madu yang dihasilkan 3.35 kg. Jadi dapat dikatakan waktu yang dibutuhkan untuk satu kali pemerasan 50% lebih cepat dengan volume berat madu 5 kali lebih besar dibandingkan dengan alat yang dimiliki petani
Mikrostruktur Arang Aktif Batok Kelapa untuk Pemurnian Minyak Goreng Habis Pakai
AbstractThe obejective of this study was to investigate the effect of active carbon derived from coconut shell as adsorbents for consumables cooking oil. Method used in this rescarch was started with coconut shell preparation in form of chips and then carbonized and activated as well as morphological analysis by means of SEM. Variation used were activation times of activated carbon of coconut shell for 80, 100 and 120 min. The analysis results showed that the coconut shell charcoal yield was 41.66%, water contents was 3.7767%, ash contents was 2.9997% and Iod adsorbsion was 1051.07 mg/g. Consumables cooking oil refining process by activated charcoal from coconut shells can increased the quality of the oil market by a decrease in water contents, free fatty acids, peroxide value and turbudity numbers. Purification of cooking oil waste with activated carbon as adsorbent was archieved at temperature of 1000C, a contact time of 20 minutes, water contents of 0.10567%, free fatty acids of 0.7933%, peroxide numbers of 21.4667% andturbidity value of 69.7700 NTU.AbstrakPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh arang aktif batok kelapa sebagai adsorben pada pemurnian minyak goreng habis pakai. Metode penelitian diawali dengan preparasi batok kelapa dalam bentuk cip, kemudian karbonisasi dan aktivasi, serta pengujian morfologi arang aktif menggunakan SEM. Variasi yang dilakukan ialah lama aktivasi arang aktif batok kelapa 80, 100 dan 120 menit. Hasil yang terbaik analisis arang aktif batok kelapa menunjukkan rendemen 41.66%, kadar air 3.7767%, kadar abu 2.9997% dan daya serap Iodin 1051.07 mg/g. Proses pemurnian minyak goreng habis pakai oleh arang aktif dari batok kelapa dapat meningkatkan kualitas minyak yang ditandai dengan penurunan kadar air, bilangan asam lemak bebas, bilangan peroksida dan angka kekeruhan. Pemurnian limbah minyak goreng dengan adsorben arang aktif batok kelapa, tercapai pada temperatur 1000C, waktu kontak 20 menit, kadar air dalam minyak 0.10567%, bilangan asam lemak bebas 0.7933%, bilangan peroksida 21.4667% dan nilai kekeruhan 69.7700 NTU
Evaluasi Konsep Tiga Model Pemisah Biji dan Daging Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
AbstractSeparation of seeds and pulp of mangosteen fruit is still done manually. Separation of seeds and pulp in general has not been done mechanically and systematically. In fact, if it is reviewed further, there needs to be a system of seed and pulp separation so as to produce mangosteen juice that can be consumed and have high economic value. Seed and fruit separation machines have been developed. But the product quantity is low and the quality of pulp is below standard. The purpose of this research is 1) to obtain optimal machine design to separate pulp and mangosteen seeds, 2) to analyze the performance of various mechanisms of seed separation and pulp of mangosteen fruit. The research procedure includes physical identification and characteristics of mangosteen, conceptualization, evaluation, and optimization, analysis, engineering design, manufacture, and testing. There are three mechanisms studied to separate the seeds and pulp of the mangosteen fruit, 1) the horizontal cylinder mechanism with a rotating brush, 2) the vertical cylinder mechanism with a rotating brush, 3) vertical cylinder with a stationary brush. Based on the test results from the three models it is found that the best mechanism that is feasible to be developed for the prototype is a horizontal cylinder mechanism with a rotating brush. The quality value of the separation as measured using the chromamometer obtained ΔE value of -2.8. In the process of separation is not obtained seeds.AbstrakPemisahan biji dan daging buah manggis saat ini masih dilakukan secara manual. Pemisahan biji dan daging buah secara umum belum dilakukan secara mekanis dan sistematis. Padahal jika ditinjau lebih lanjut, perlu adanya sistem pemisahan biji dan daging buah sehingga menghasilkan sari buah manggis yang dapat dikonsumsi dan bernilai ekonomis tinggi. Mesin pemisahan biji dan daging buah telah dikembangkan. Namun kuantitas produknya rendah dan kualitas daging buah di bawah standar. Tujuandari penelitian ini adalah 1) mendapatkan desain mesin yang optimal untuk memisahkan daging buah dan biji manggis, 2) menganalisis kinerja berbagai mekanisme pemisahan biji dan daging buah manggis. Prosedur penelitian meliputi identifikasi fisik dan karakteristik buah manggis, konseptualisasi, evaluasi, dan optimasi, analisis, desain teknik, pembuatan, dan pengujian. Ada tiga mekanisme yang dipelajari untuk memisahkan biji dan daging buah manggis, 1) mekanisme silinder horizontal dengan sikat berputar, 2) mekanisme silinder vertikal dengan sikat berputar, 3) silinder vertikal dengan sikat stasioner. Berdasarkan hasil pengujian dari ketiga model tersebut didapatkan bahwa mekanisme terbaik yang layak dikembangkan untuk prototipe adalah mekanisme silinder horizontal dengan sudu sikat berputar. Nilai kualitas dari hasil pemisahan yang diukur menggunakan chromamometer didapatkan nilai ΔE sebesar -2.8. Pada proses pemisahan tidak didapatkan biji pecah belah
Aplikasi Kinetika Reaksi Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah Melalui Reaksi Transesterifikasi Basa
AbstractThis study aims to determine parameters of first order kinetics of biodiesel production from used cooking oil through transesterification reaction with NaOH catalyst. Used cooking oil was obtained from fried food peddlers in Bandar Lampung. The transesterification reaction was carried out with 100 ml of waste cooking oil and 0.5 grams of NaOH at a molar ratio of 1:4 (oil:methanol). Treatment combinations of temperature (30oC, 40oC, 50oC, and 60oC) and reaction time (10, 20, 30, 40, 50 and 60 minutes) were performed to observe the resulting yield. Kinetic parameters were calculated with assumption that the transesterification is a first order reaction. Results showed that the reaction rate constant increased with temperature (i.e. k = 0.003 min-1at 30oC to 0.010 min-1 at 60oC). The value of activation energy for transesterification of used cooking oil was 30.69 kJ/mol.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter kinetika reaksi orde satu pembuatan biodieseldari minyak jelantah melalui reaksi transesterifikasi dengan katalis NaOH. Minyak jelantah diperoleh dari penjual gorengan di Bandar Lampung. Reaksi transesterifikasi dilakukan dengan 100 ml minyak jelantah dan 0.5 gram NaOH pada perbandingan molar 1:4 (minyak:metanol). Kombinasi perlakuan suhu (30oC, 40oC, 50oC, and 60oC) dan lama reaksi (10, 20, 30, 40, 50, dan 60 menit) dilakukan untuk mengamati rendemen yang dihasilkan. Parameter kinetika dihitung dengan asumsi bahwa transesterifikasi adalah reaksi orde satu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstanta laju reaksi meningkat seiring dengan bertambahnya suhu, yaitu k = 0.003 per menit pada suhu 30oC hingga k = 0.010 per menit pada suhu 60oC. Nilai energi aktivasi transesterifikasi minyak jelantah adalah 30.69 kJ/mol
Desain dan Kinerja Sistem Pneumatik untuk Penabur Pupuk Tanaman Sawit Muda
AbstractCurrent Mechanical fertilizer applicators using centrifugal spreading system could not be applied to young palm oil trees (under 5 years old) and hence needed to be modified. The research was to design a fertilizer spreading system, using a pneumatic system. The design used a positive type pneumatic pressure to blow the granular fertilizer out of the metering device to the soil surface around the tree. The metering device was designed to deliver the fertilizer in several application rates, i.e.: 0.25, 0.75, 1.0, 1.25, and 1.5 kg/tree. Based on pressure drop analysis the pneumatic system needed a power of 0.71 kW, where the blower should be rotated at 3000 rpm to produce an air flow of ± 0.3375 m3/s. A This prototipe spreader was tested in the field at 0.55 and 1.7 m/s forward speed one at a time. Test results showed that the spreader could deliver the fertilizer to the targetted area around the palm oil trees with an accurate application rate. However, the distribution of the fertilizer was relatively low at a range of coefficient of variance of 0.47-0.77.AbstrakMesin pemupuk yang menggunakan mekanisme gaya sentrifugal, perlu dimodifikasi, karena tidak dapat diaplikasikan untuk memupuk tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (di bawah 5 tahun). Penelitian ini dilakukan dengan merancang sistem penabur pupuk, menggunakan sistem pneumatik, dimana Penjatah pupuk didesain untuk menghembuskan pupuk pada beberapa dosis pemupukan, yaitu: 0.25, 0.75, 1.0, 1.25 dan 1.5 kg/tanaman. Berdasarkan analisis kehilangan tekanan, sistem pneumatik ini membutuhkan daya 0.71 kW pada putaran blower 3000 rpm yang menghasilkan aliran udara sebesar ±0.3375 m3/s.Prototipe penabur pupuk ini telah diuji di lapang pada kecepatan maju 0.55 m/s dan 1.7 m/s. Hasil pengujianmenunjukkan bahwa penabur pupuk ini dapat menghembuskan pupuk ke sasaran di sekitar tanamankelapa sawit dengan laju pemupukan yang akurat. Namun, sebaran pupuk relatif rendah dengan koefisien ragam antara 0.47 - 0.77
Karakterisasi Arang dan Gas-gas Hasil Pirolisis Limbah Kelapa Sawit
AbstractEmpty fruit bunch (EFB) and shell of oil palm are potential sources of bioenergy because they contain lignocellulose (cellulose, hemycellulose and lignin) which can be converted to bio-oil (liquid), char, or combustible gases by pyrolysis process. Operating temperature of the pyrolysis process will influence the composition of the liquid, char and gases, as well as its characteristics. The objective of this study is to characterize the pyrolysis product of both empty fruit bunch and shell as affected by the pyrolysis temperature. The experiment was conducted by using a lab scale pyrolysis reactor, specially designed with controlable temperature. The temperature of the pyrolysis process was controled at 300°C, 400°C, 500°C, and 600°C level, and the product was measured and analysed. The result showed that pyrolysis of shell produced char, liquid and gases at the range of 34.99 - 63.78%, 22.76 - 43.28% and 13.47 - 21.73%, in mass fraction respectively. While pyrolysis of empty fruit bunch produced char, liquid and gases at the range of 30.66 - 64.7%, 16.25 - 29.16% and 18.98 - 44.49%, in mass fraction respectively. Increasing temperature resulted in increasing calorific value of the pyrolysis char from shell and empty fruit bunch in range of 25.64 – 29.60 kJ/g and 24.50 – 27.86 kJ/g, respectively. However, the calorific value of pyrolysis gases was decreasing with the increasing temperature in range of 12.18 kJ/g – 20.05 kJ/g and 11.98 kJ/g – 15.94 kJ/g, respectively. The gas calorific value did not account H2 gas, which might be the cause of the phenomenon. Shell pyrolysis temperature increasing caused the increasing of CO concentration in range 2.86% - 18.42% while the CH4 concentration increased at 400°C level afterwards decreased at higher temperature level in range of 0.89% - 2.84%. The increasing of EFB pyrolysis temperature increased CO dan CH4 concentration in range 3.8% - 15.74% and 0.29% - 0.76%, respectively.AbstrakCangkang dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan sumber bioenergi yang potensial karena mengandung lignoselulosa (selulosa, hemiselulosa dan lignin) sehingga dapat dikonversi menjadi cairan, arang atau gas mampu bakar melalui proses pirolisis. Suhu pengoperasian pada proses pirolisis akan mempengaruhi komposisi cairan, arang dan gas serta karakteristik hasil pirolisis tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi produk pirolisis cangkang dan tandan kelapa sawit yang dipengaruhi oleh suhu pirolisis. Penelitian dilakukan dengan menggunakan reaktor pirolisis skala lab, yang didesain khusus agar suhunya dapat dikendalikan. Suhu pirolisis dikendalikan pada level 300°C, 400°C, 500°C dan 600°C, kemudian hasil pirolisis diukur dan dianalisa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pirolisis cangkang menghasilkan fraksi massa arang , cairan dan gas dalam rentang 34.99 - 63.78%, 22.76 - 43.28% dan 13.47 - 21.73% secara berturut-turut. Sedangkan pirolisis TKKS menghasilkan fraksi massa arang, cairan dan gas dalam rentang 30.66 – 64.76%, 16.25 – 29.16% dan 18.98 – 44.49% secara berturut-turut. Peningkatan suhu menghasilkan peningkatan nilai kalor arang hasil pirolisis cangkang dan TKKS dengan rentang antara 25.64 – 29.60 kJ/g dan 24.50 – 27.86 kJ/g. Tetapi, nilai kalor gas pirolisis menurun seiring dengan peningkatan suhu pirolisis dengan rentang 12.18 kJ/g – 20.05 kJ/g dan 11.98 kJ/g – 15.94 kJ/g untuk pirolisis cangkang dan TKKS. Nilai kalor gas tidak menghitung gas H2 yang mungkin menyebabkan fenomena tersebut. Peningkatan suhu pirolisis cangkang kelapa sawit mengakibatkan peningkatan konsentrasi gas CO pada rentang 2.8% - 18.42% sementara konsentrasi gas CH4 meningkat pada suhu 400°C namun menurun kembali dengan rentang 0.89% - 2.84%. Peningkatan suhu pirolisis TKKS meningkatkan konsentrasi gas CO dan CH4 pada rentang 3.81% - 15.74% dan 0.29% - 0.76%
Aplikasi Root Zone Cooling System Untuk Perbaikan Pembentukan Umbi Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum)
Abstract The aim of this research can be formulated as follows: to analyze the effect of different root zone temperature to some extent the temperature is 10oC, 15oC, control and vernalization of plant growth and the formation of shallot bulbs by using aeroponic system. The experimental design used was a draft Plots Divided (Split Plot Design), which is arranged in a randomized block design with four replications. The main plot is a vernalization treatment (without vernalization and with vernalization). The subplots in the form of a nutrient solution temperature at 10oC, 15oC, and without cooling system as a control. The parameters measured were the number of leaves, the number of tillers, the number of bulbs, the weight of bulbs and the wet weight of root. There are no interaction between the annealing temperature by vernalization to the number of leaves, the bulb number, the weight of bulbs, and the weight of the roots. Cooling temperatures nutrient solution to improving root growth and bulb formation of shallot. Optimal root growth can improve nutrient uptaken by plants then can improve plant growth and bulb yield larger and heavier. Temperatures suitable for shallot cultivation in lowland tropical for producing tubers with quenching temperature is 10°C, non vernalization.Abstrak Tujuan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: menganalisa pengaruh perbedaan suhu zona perakaran dengan beberapa taraf suhu yaitu 10oC, 15oC, kontrol dan vernalisasi terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah dan pembentukan umbi dengan menggunakan aeroponik sistem. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Petak utama adalah perlakuan vernalisasi (tanpa vernalisasi dan dengan vernalisasi). Anak petak berupa suhu pendinginan larutan nutrisi 10oC, 15oC, dan tanpa pendinginan sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah jumlah daun, jumlah anakan, jumlah umbi, berat umbi, dan berat basah akar. Tidak terjadi interaksi antara suhu pendinginan dengan vernalisasi terhadap jumlah daun, jumlah umbi, bobot umbi, dan berat akar. Pendinginan suhu larutan nutrisi mampu meningkatkan pertumbuhan perakaran dan pembentukan umbi tanaman bawang merah. Pertumbuhan akar yang optimal mampu meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman yang dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman, menghasilkan umbi yang lebih besar dan lebih berat. Suhu yang cocok untuk budidaya bawang merah didataran rendah tropika basah untuk memproduksi umbi adalah dengan pendinginan suhu 10oC, non vernalisasi
Klasifikasi Inti Sawit Berdasarkan Analisis Tekstur dan Morfologi Menggunakan K-Nearest Neighborhood (KNN)
AbstractAs the by product of palm oil, palm kernel contains high-quality oil. The manual inspection has low efficiency, subjective and inconsistent results due different perspectives between the buyer and the seller regarding the kernel quality. This research aims to determine the quality of palm kernel using the texture and morphological image analysis. Texture analysis performed on the kernel images separation to obtain the value of the mean, variance, skewness, kurtosis, entropy, energy, contrast, correlation, and homogeneity. Morphology analysis performed on the kernel images separation to obtain the value of the area, perimeter, metrics, and eccentricity. The classification was performed by KNearest Neighbor (KNN) method. Based on a simulation, the classification system could classify the palm kernel into the whole kernels, broken, and shells. The highest accuracy of 66.59 % was obtained by using a combination of mean and morphology when k was 1. AbstrakSebagai produk samping dari buah kelapa sawit, inti sawit mengandung minyak berkualitas tinggi. Penentuan mutu inti secara manual seringkali mengakibatkan terjadi konflik antar pembeli dan penjual. Proses penentuan mutu secara manual memiliki kekurangan pada rendahnya efisiensi, subjektif, dan tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kualitas inti sawit menggunakan analisis tekstur dan morfologi. Analisis tekstur dilakukan terhadap hasil pemisahan untuk mendapatkan nilai mean, variance, skewness, kurtosis, entrophy, energy, contrast, correlation, dan homogenity. Analisis morfologi dilakukan terhadap hasil pemisahan untuk mendapatkan nilai area, perimeter, metric, dan eccentricity. Dalam penelitian ini, metode klasifikasi yang digunakan adalah metode K-Nearest Neighbor (KNN). Berdasarkan simulasi, dapat disimpulkan bahwa sistem dapat diklasifikasikan menurut inti utuh, inti pecah, dan cangkang. Akurasi tertinggi 66.59% diperoleh dengan menggunakan kombinasi mean dan morfologi ketika k adalah 1
Keefektifan Zeolit dan Arang sebagai Bahan Penyusun Akuifer Buatan (Artificial Aquifer) untuk Menurunkan BOD dan COD Air Sungai
AbstractBOD and COD levels of river water are increasing due to domestic households residu that have been dumped into the river. This research aimed to discover the decreasing level of BOD and COD in polluted river water after through Artificial Aquifer. Artificial aquifer that consist of arranged materials inside a pipe that flowed by the polluted river water horizontally, was designed to filter the pollutants. The materials in artificial aquifer that used in this research were zeolite and charcoal. It is known that BOD and COD level of river water before pass the artificial aquifer are 2.72 mg/L and 10.61 mg/L. After the river water through artificial aquifer with zeolite, the result of each BOD and COD level in 1.86 mg/L and 6.06, where as by using charcoal, BOD and COD level is 1.42 mg/L and 4.04 mg/L. Based on the research, it is known that the artificial aquifer with the charcoal able to reduce COD level until 60.00 %, which is better than using zeolite that only able to reduce until 40.00 %. Moreover, the charcoal and zeolite ability in reducing BOD level of polluted river is until 47.76 % and 31.53 % respectively.AbstrakLimbah domestik rumah tangga yang telah dibuang ke sungai menyebabkan peningkatan kadar BOD dan COD pada air sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penurunan kadar BOD dan COD pada air sungai yang tercemar setelah dilewatkan pada akuifer buatan guna memperbaiki kualitas air sungai yang telah tercemar. Akuifer buatan adalah bahan yang disusun di dalam sebuah pipa untuk mengalirkan air secara horizontal yang berfungsi sebagai penyaring zat-zat pencemar. Bahan yang digunakan pada akuifer buatan dalam penelitian ini adalah zeolit dan arang. Hasil pengukuran kadar BOD dan COD air sungai sebelum melewati akuifer buatan terukur sebesar 2.72 mg/L dan 10.61 mg/L. Setelah melewati akuifer buatan r dengan zeolit didapatkan hasil kadar BOD dan COD masing masing menjadi 1.86 mg/L dan 6.06 mg/L sedangkan dengan arang didapatkan hasil BOD sebesar 1.42 mg/L dan 4.04 mg/L. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa akuifer buatan dengan arang menurunkan COD sebesar 60.00 %, yang mana lebih baik dibandingkan dengan menggunakan zeolit yakni sebesar 40.00 %. Selain itu, dapat dilihat bahwa kemampuan arang dan zeolit dalam menurunkan kadar BOD pada air sungai yang tercemar masing-masing yakni sekitar 47.76 % dan 31.53 %