Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
627 research outputs found
Sort by
Simulasi Tungku Gasifikasi Tipe Natural Draft Berbasis Model Efek Cerobong dan Keseimbangan Termokimia
AbstractThis study was aimed to simulate a novel configuration of gasification stove with the natural draft principles (natural draft gasification or called as NDG stove) based on chimney effect and thermochemical equilibrium modeling. The thermochemical equilbrium model used general stoichiometric gasification,methanation and water-gas shift equations and their equilibrium constant equations as well as the general energy balance equation. Those equations were coupled with the chimney effect equation and then solved to obtain the reaction coefficients, equilibrium constants, reaction temperature as well as the mass flow rate of air. Simulation was performed by using VBA programming codes in Excel. Subsequently, a stove was built in order to obtain the charcoal consumption rate data which is required to validate the model. The test results showed that the combustion rate was constant i.e. 8.8 g/min and the quality of the flame of the stove was visually good. The calculation result showed that the model could succesfully predict the product gases including CO, CH4, CO2, O2, N2 and other gases. The simulation showed that by using lower stoveheight (0.5 and 0.4 m) the combustible gases (CO, H2 and CH4) compositions were increased in such a way that with same combustion rate the potential heat of gas increased from 2.33 kW at stove height of 0.6 m to 2.63 kW at 0.4 m.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mensimulasi tungku gasifikasi dengan konfigurasi baru yang menggunakan prinsip natural draft (tungku natural draft gasification atau disebut sebagai tungku NDG) didasarkan padapemodelan efek cerobong dan keseimbangan termokimia. Model keseimbangan termokimia menerapkan persamaan stoikiometri untuk gasifikasi, methanation dan water-gas shift, persamaan-persamaan konstanta keseimbangannya serta persamaan neraca energi umum. Persamaan-persamaan tersebut digabungkan dengan persamaan efek cerbong dan dipecahkan untuk memperoleh koefisien reaksi, konstanta keseimbangan, suhu reaksi dan laju aliran massa udara. Selanjutnya tungku tersebut dikonstruksi dan diuji untuk memperoleh data laju konsumsi arang yang dibutuhkan untuk validasi model. Hasil pengujiankinerja menunjukkan bahwa penggunaan tungku untuk arang kayu memiliki laju pembakaran yang konstan 8.8 g/menit dan kualitas nyala api tungku ini cukup baik secara visual. Hasil perhitungan menunjukkanbahwa model yang diterapkan telah dapat memprediksi konsentrasi gas-gas produk yang mencakup CO, CH4, CO2, O2 serta gas N2 dan gas-gas lainnya. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tinggi tungku yang lebih rendah (0.5 dan 0.4 m) memberikan konsentrasi gas-gas mampu bakar yang lebih tinggi sedemikian hingga dengan laju konsumsi arang yang sama daya gas potensialnya meningkat dari 2.33 kW pada tinggi0.6 m menjadi 2.63 kW pada tinggi 0.4 m
Pengaruh Praperlakuan Medan Elektrostatik Tinggi terhadap Mutu Tomat Ceri (Lycopersico esculentum var. cerasiforme) selama Penyimpanan
AbstractCherry tomatoes are categorized as high value agricultural product. However, the short ripening period accompanied by declining quality due to ongoing respiration and poor postharvest handling became a constraint to the marketability. Therefore, it’s necessary to select a treatment that can maintain quality bydelaying ripening. High electrostatic field (HEF) pretreatment, a non-chemical and low energy techniques, was known to be a viable method to delay fruit ripening. The present study aimed to evaluate the effect of field strength and exposure time of HEF pretreatment on postharvest quality of cherry tomatoes duringstorage. The fruits were treated by HEF of 1, 2, or 3 kV/cm in strength for 1 or 2 hours in a parallel plate electrode system. Then, all fruits were stored at 13oC, 85-90% RH for up to 21 days and regularly measured for respiration rate and quality. The results showed that HEF was able to reduce fruit weight loss 1.2-1.9 times and the effect increases with increasing field strength. Fruit softening percentage also became lower when the field strength and exposure time increased. Climacteric peak successfully postponed for 3 days in all HEF pretreatment, which the greatest emphasis of respiration rate was in 2 kV/cm for 2 hours pretreatment. HEF pretreatment capable of maintaining high level fruit total soluble solids (TSS), despite the field strengh and exposure time had no significant effect. AbstrakBuah tomat ceri termasuk komoditas pertanian bernilai tinggi. Namun, periode pematangan yang singkat disertai penurunan mutu akibat masih berlangsungnya respirasi dan penanganan pascapanen yang kurangbaik menjadi kendala pemasarannya. Oleh karena itu, diperlukan perlakuan yang dapat mempertahankan mutu dengan menunda pematangan. Praperlakuan medan elektrostatik tinggi (HEF), suatu teknik non kimia dan rendah energi, diketahui menjadi metode yang layak untuk menunda pematangan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kuat medan dan lama pemaparan praperlakuan HEF terhadap mutu pascapanen buah tomat ceri selama penyimpanan. Buah dikenai pemaparan HEF dengan kuat medan 1, 2, atau 3 kV/cm selama 1 atau 2 jam dalam sistem elektroda plat paralel. Buah lalu disimpan dalam refrigerator 13oC, 85-90% RH selama 21 hari untuk kemudian diukur laju respirasi dan mutunya secara berkala. Hasil menunjukkan bahwa HEF mampu mengurangi susut bobot buah 1.2-1.9 kali dan efeknya meningkat dengan bertambahnya kuat medan. Persentase pelunakan juga makin rendah saat kuat medan dan lama pemaparan HEF meningkat. Puncak klimakterik berhasil ditunda selama 3 hari pada semua perlakuan HEF, dengan penekanan laju respirasi paling besar pada perlakuan 2 kV/cm 2 jam. Perlakuan HEF mampu mempertahankan total padatan terlarut (TPT) buah tetap tinggi meskipun kuatmedan dan lama pemaparan tidak berpengaruh signifikan
Prototipe Unit Pemetik Tongkol Jagung untuk Mesin Pemanen Jagung
Abstract The purpose of this study was to design and test a corn ears picker unit in two rows of corn crops for locally made corn harvesters. The picker unit was designed to be able to harvest the corn ears from two rows of corn crops, and be able to feed the ears to the threshing unit. Snapping rolls mechanism was used for picking corn ears, and an auger mechanism was used for feeding the ears. Several models of the snapping rolls mechanism equipped with gathering conveyors were analyzed and tested, to get the best design. A prototype of the machine was constructed and then tested by laboratory-scale experimental methods. The prototype was operated in a stationary condition, while 25 cm spaced corn stalks with corn ears were moved forward and fed to the picker unit. The test results showed that the picker unit could successfully harvest corn ears with 100% picking efficiency, and 100% gathering-feeding efficiency.Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan menguji unit pemetik tongkol jagung dalam dua baris tanaman jagung untuk mesin pemanen dan perontok jagung buatan lokal. Unit pemetik dirancang untuk bisa memetik tongkol jagung dari batang tanamannya pada dua baris tanaman jagung, dan bisa mengumpankan tongkolnya ke unit perontok. Mekanisme snapping rolls digunakan untuk memetik tongkol jagung, dan mekanisme ulir digunakan untuk mengumpankan tongkolnya. Beberapa model mekanisme snapping rolls yang dilengkapi rantai penarik telah dianalisis dan diuji, untuk mendapatkan desain terbaik. Sebuah prototipe mesin dibuat dan kemudian diuji dengan metode eksperimental skala laboratorium. Prototipe ini dioperasikan dalam kondisi stasioner, sementara batang tanaman jagung yang memiliki tongkol jagung, yang dipasang dengan spasi antar batang 25 cm, digerakkan maju dan diumpankan ke unit pemetik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa unit pemetik berhasil memetik tongkol jagung dengan efisiensi pemetikan 100%, dan efisiensi pengumpulan-pengumpanan 100%
Aplikasi Irigasi Tetes (Drip Irrigation) dengan Berbagai Media Tanam pada Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.)
AbstractThe purpose of this research was to determine the effects of irrigation water quantity level and growing media on water content, growth pakcoy (Brassica rapa L.) and water use efficiency using drip irrigation systems. The method used in this research was Random Group Factorial Design using two factors which were the irrigation water quantity level and the growing media. The observed parameters were water content, water use efficiency, temperature, relative humidity, plant height, number of leaves and stover weight. The reseach result showed that the pakcoy plant best water use efficiency was at A3B4 treatment (irrigation water quantity 110% with growing media compound ultisol soil, charcoal husk and fern fertilizer)which was 4.351 kg/m3 with 104.67 grams wet pakcoy plant stover and the most inefficient pakcoy plant water use was at A1B1 treatment (irrigation water quantity 90% with growing media compound ultisol soil, and husk charcoal) with water use efficiency was 1.389 kg/m3 and 27.33 grams wet pakcoy plant stover AbstrakTujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jumlah pemberian air dan berbagai media tanam terhadap kadar air, pertumbuhan tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) dan efisiensi penggunaan air dengan sistem irigasi tetes. Metode dalam penelitian ini adalah metode Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan dua faktorial yaitu Faktor jumlah pemberian air dan Faktor media tanam. Parameter yang diamatiadalah kadar air, efisiensi penggunaan air, suhu, kelembaban relatif, tinggi tanaman, jumlah daun dan berat berangkasan. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi penggunaan air terbaik pada tanaman pakcoy yaitu terdapat pada perlakuan A3B4 dengan pemberian air 110% media tanam berupa campuran tanah ultisol, arang sekam, dan pupuk pakis sebesar 4,351 kg/m3 dengan berat brangkasan basah tanaman pakcoy104,67 gram. Penggunaan air paling tidak efisien pada tanaman pakcoy terdapat pada perlakuan A1B1 dengan pemberian air 90% pada media tanam tanah ultisol dan arang sekam sebesar 1,389 kg/m3 danberat brangkasan basah tanaman pakcoy 27,33 gram
Desain Kemasan Buah Rambutan (Nephelium lappaceum L.) untuk Distribusi dan Pemasaran dalam Satuan Eceran (Ritel)
AbstractRambutan is a top fruit from Indonesia, but it has not been get a good postharvest handling. One of the less postharvest handling is using of distribution packaging or retail marketing on fruit stores. The purpose of this research were designing a retail packaging made from polypropylene (PP) film and distribution packaging made from corrugated board. The stages of this research were to determine weight per unitpackaging of rambutan (retail and distribution), dimension of primary and secondary packaging, and analyze the efficiency of packaging arrangement on pallet. Rambutan cv. Lebak was picked from Subang, West Java Province with grade A fruit. The weight average of rambutan was 34.53 ± 2.32 g with individual volume was 21.29 cm3. The weight per retail packaging was 0.5 kg and each distribution packaging contain 4 packaging retail of rambutan. Based on the data, dimension of primary packaging was 12.5 x 12.5 x 15 cm that formed pouch bag with perforated (30 holes). Position of holes were placed with two options on the packaging surface. The RSC type secondary packaging was 28.5 x 28.5 x 16.5 cm for square packaging and the size 33.5 c 20.5 x 16.5 cm for rectangle packaging made from BC flute kraft 150 g. The simulation result shows efficiency of packaging arrangement above pallet should use size 1200 x 1000 mm (effieciency 81.22%) for square packaging and on pallet size 1067 x 1067 mm (effieciency 90.50%) for rectangle packaging.AbstrakRambutan merupakan buah unggulan Indonesia, namun belum mendapat penanganan pascapanen yang memadai. Salah satu penanganan yang masih minim adalah penggunaan kemasan dalam distribusi maupun penjualan di toko buah dalam bentuk eceran (ritel). Tujuan penelitian adalah merancang kemasan ritel berbahan plastik polypropylene (PP) dan kemasan distribusi berbahan karton gelombang. Tahapanpenelitian adalah penentuan satuan berat per kemasan (eceran dan distribusi), dimensi kemasan primer dan sekunder serta efisiensi penyusunan kemasan pada pallet untuk handling. Buah rambutan yang digunakan adalah varietas Lebak mutu A dari Kabupaten Subang, Jawa Barat dengan berat rata-rata 34.53 ± 2.32 g dan volume 21.29 ± 2.45 cm3. Berat per kemasan eceran dibuat 0.5 kg dan tiap kemasan distribusi berisi 4 buah kemasan eceran. Berdasarkan data tersebut, diperoleh dimensi kemasan primer 12.5 x 12.5 x 15 cm dibentuk pouch dengan jumlah perforasi 30 lubang yang diletakkan dengan dua pilihan posisi dipermukaan kemasan. Kemasan sekunder tipe RSC berukuran 28.5 x 28.5 x 16.5 cm untuk bentuk kotak dan 33.5 x 20.5 x 16.5 cm untuk bentuk persegi dengan bahan flute BC dari kertas kraft 150. Hasil simulasi penyusunan kemasan diatas palet menunjukkan, untuk bentuk kotak sebaiknya menggunakan palet ukuran 1200 x 1000 mm (efisiensi 81.22%), bentuk persegi menggunakan palet ukuran 1067 x 1067mm (efisiensi 90.50%)
Penilaian Organoleptik Keripik Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) Pasca Penggorengan Menggunakan Metode Non-Numeric MP-MCDM
AbstractProcessing of purple sweet potato (Ipomea batatas L.) into chips is a means to improve the economic value. Crispiness is considered as one essential quality parameter for chip products that must be pursued. The thickness of slices and concentration of sodium bicarbonate (NaHCO3) constitute crispiness defining factors. This research was aimed at conducting organoleptic evaluation on a variety of purple sweet potato slice thicknesses and post-frying sodium bicarbonate concentrations using Non-Numeric Multi Person-Multi Criteria Decision Making (MP-MCDM). Research results showed that the Non-Numeric MP-MCDM method had successfully determined decision of the best prioritized decision among different alternative treatments of the ingredient. The preferred decision according to respondent opinions on the basis of organoleptic evaluation including color, aroma, taste, texture and overall acceptance were products from the 3 g/L NaHCO3 concentration with 1 mm (KB) slice thickness and the 3 g/L NaHCO3 concentration with 2 mm (KE) slice thickness and respondents seemed to like (SK) those products.AbstrakPengolahan ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) menjadi keripik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi. Kerenyahan adalah salah satu parameter mutu penting bagi produk keripik yang harus diupayakan. Ketebalan irisan dan konsentrasi natrium bikarbonat (NaHCO3) merupakan faktor penentu kerenyahan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian organoleptik berbagai variasi ketebalan irisan ubi jalar ungu dan kosentrasi natrium bikarbonat pasca penggorengan dengan metode Non-Numeric Multi Person-Multi Criteria Decision Making (MP-MCDM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Non-Numeric MP-MCDM telah berhasil menentukan keputusan prioritas terbaik dari berbagai alternatif perlakuan bahan. Keputusan terbaik menurut pendapat responden berdasarkan uji organoleptik yang meliputi warna, aroma, rasa, tekstur dan penerimaan keseluruhan adalah konsentrasi NaHCO3 sebanyak 3 g/L pada ketebalan irisan 1 mm (KB) dan konsentrasi NaHCO3 sebanyak 3 g/L pada ketebalan irisan 2 mm (KE) dengan keputusan suka (SK)
Kinerja Mesin Olah Tanah, Tanam dan Siang (Motasi) pada Budidaya Tanaman Kedelai di Lahan Alfisol
AbstractShortage of labor in soybean cultivation in upland area is becoming a serious problemin terms of supporting the government program of soybean self-sufficiency. Therefore, application of appropriate mechanical technology is essential, particularly those that are applicable for farmers and farmer groups. One of them is the combined machine for plowing, harrowing, planting and weeding engineered by Indonesian Legumes and Tuber Crops Research Institute (ILETRI), namely MOTASI that can be applied for soybean cultivation in the soil with dry light texture, MOTASI consists of three main components, viz: engine motor (5.5 HP), transmission(4 HP), and the plower, harrower, planter and weeder. The total weight of the machine equipped was about 75 up to 90 kg, depending on the component used. The objective of this study was to test the performances of MOTASI which was conducted at the Muneng Experimental Station, Probolinggo. The results showed that the machine operated fairly well with a capacity of plowing, harrowing, planting and weeding was 23.7 hours/ha, 7.9 hours/ha, 12.3 hours/ha and 11.1 hours/ha, respectively. Superior to previous machine because it is lighter and easier to maintain. This study suggests that MOTASI is technically and economically promising to be applied for soybean cultivation in the light dry soil (Alfisol).AbstrakSemakin langkanya tenaga kerja pada budidaya kedelai di lahan kering menjadi salah satu kendala dalam menunjang program pemerintah untuk mencapai swasembada kedelai. Untuk itu diperlukan introduksiteknologi mekanis tepat guna dan multiguna yang dapat diterapkan ditingkat petani maupun kelompok tani. Salah satunya adalah mesin untuk pengolahan tanah, penanaman dan penyiangan (MOTASI) hasilrakitan Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) untuk budidaya kedelai di lahan kering bertektur ringan (Alfisol). MOTASI terdiri dari tiga komponen utama, yaitu : mesin penggerak (5,5HP), transmisi (4,0 HP) dan komponen alat (olah, tanam dan siang). Berat total mesin berkisar 75 – 90kg, tergantung komponen alat yang digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kinerja mesintersebut di Kebun Percobaan Muneng, Probolinggo pada MK II 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mesin tersebut dapat dioperasikan dengan baik dengan kapasitas masing masing 23.7 jam/ha untuk pengolahan tanah, penggaruan 7.9 jam/ha, penanaman 12.3 jam/ha, dan penyiangan 11.1 jam/ ha. MOTASI lebih unggul bila dibandingkan dengan mesin sebelumnya, karena lebih ringan dan mudah merawatnya. Kesimpulannya MOTASI mempunyai peluang secara teknis untuk diterapkan pada budidaya kedelai di lahan kering bertekstur ringan (Alfisol)
Penalaan PID Menggunakan Internal Model Controller dengan Pendekatan Model Tustin
AbstrackPID control is a popular controlling technique in high accuracy control system. PID tuning is a very important stage and affects the reliability of the PID control system. This stage plays a role in determining KP,KI, and KD constants. Currently it has been a lot of PID tuning techniques that have been developed from the Ziegler-Nichols methods. PID Tuning using Internal Model Controller (IMC) by Tustin discrete approached models was used in this study. Open-loop method was used with two variation value of PWM (20% and 80%). The purposes of this study were to determine the PID constants and test those performances using a DC motor. The result of PID tuning process generated two pairs of KP, KI, and KD constants. The first were 0.4013; 0.0988; 0.0176, and the second were 0.2314; 0.0531; 0.044, respectively. The testing results with DC motor showed the performance of the both pairs of PID constants obtained were reliable enough to control motor speed that was characterized by the ability to follow the set-point value that was given and there was no steady state error. There was oscillation at 1500 rpm and 2000 rpm and motor power couldn’t achieve the set-point at 2000 rpm.AbstrakKontrol PID merupakan salah satu teknik pengontrolan yang populer untuk pengontrolan sistem dengan ketelitian tinggi. Terdapat satu tahapan yang sangat penting dan mempengaruhi kehandalan dari sistemkontrol PID yang dihasilkan. Tahapan tersebut adalah penalaan (tuning) PID. Tahapan ini menjadi penting karena berperan dalam penentuan konstanta PID (KP, KI, dan KD). Saat ini telah banyak teknik penalaanPID yang telah dikembangkan dari teknik Ziegler-Nichols. Penalaan PID dengan teknik Internal Model Controller (IMC) melalui pendekatan model discrete Tustin digunakan dalam penelitian ini. Metode openloopdengan teknik pengontrolan PWM dipakai dengan dua variasi nilai PWM yaitu 20% dan 80%. Tujuan penelitian ini adalah menemukan konstanta PID dan menguji performanya dengan motor DC. Dari proses penalaan PID yang dilakukan, diperoleh dua pasang konstanta KP, KI, dan KD. Konstanta pertama masingmasing sebesar 0.4013; 0.0988; dan 0.0176, dan pasangan kedua masing-masing sebesar 0.2314; 0.0531; dan 0.044. Hasil pengujian dengan motor DC memperlihatkan performa konstanta PID yang diperoleh cukup handal dalam mengontrol kecepatan motor yang ditandai oleh kemampuan motor dalam mengikuti nilai set-point yang diberikan dan tidak terjadi steady state error. Akan tetapi terjadi osilasi pada set-point 1500 rpm dan 2000 rpm dan kekuatan motor tidak dapat mencapai set-point 2000 rpm
Pembuatan dan Pendugaan Lama Simpan Bubuk Asam Sunti dalam Kemasan dengan Metode Sorpsi
AbstractAsam sunti is a typical seasoning Aceh cuisine made by processed belimbing wiluh (Averhoa bilimbi. L) in the form of semi-wet. Making asam sunti in powder form as well as other spices such as pepper, turmeric, and ginger others is expected to simplify and expand the asam sunti market as spice. The aim of this research were to make asam sunti powder, to analyze the effect of packing type on the change of water content of asam sunti powder, and to the estimation of shelf life of asam sunti powder in the packaging. Preparation of asam sunti powder was carried out by drieying a semi-wet asam sunti at temperature 70°C for 12 hours. Dried asam sunti was blended and sieved (80 mesh). Measurement of isotherm sorption properties was done using the salts of NaOH (6.9%), NaBr (56%), NaNO2 (64%), NaCl (75.3%), and KCl (83.6%) to regulate the humidity. The packaging tested for asam sunti powder storage was aluminum foil, HDPE and PP. Critical water content to a determine of shelf life of asam sunti powder at 21.26% with powder conditions starting to clot and not accepted by consumers. The estimation of shelf life of asam sunti powder with sorption method for aluminum foil, PP and HDPE packaging were 541.81, 506.83 and 369.24 days at 75% RH storage respectively, while RH of 83% was 364.12, 337.50 and 245.88 days. These results indicate that the best packaging for asam sunti powder was aluminum foil.AbstrakAsam sunti merupakan bumbu khas masakan aceh yang terbuat dari olahan belimbing wuluh dalam bentuk semi basah. Membuat asam sunti dalam bentuk bubuk seperti halnya bumbu lain yaitu lada, kunyit, jahe bubuk, dan yang lainnya diharapkan memudahkan dan memperluas pasar asam sunti sebagai bumbu masakan. Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh jenis kemasan terhadap perubahan kadar air asam sunti bubuk dan pendugaan umur simpan asam sunti bubuk dalam kemasan. Pembuatan asam sunti bubuk dilakukan dengan pengeringan suhu 70oC selama 12 jam. Asam sunti kering diblender dan diayak (80 mesh). Pengukuran sifat sorpsi isotermis dilakukan menggunakan garam NaOH (6.9%), NaBr (56%), NaNO2 (64%), NaCl (75.3%), dan KCl (83.6%) untuk mengatur kelembaban. Kemasan yang diuji untuk penyimpanan adalah aluminium foil, HDPE dan PP. Kadar air kritis sebagai penentu umur simpan pada nilai 21.26% dengan kondisi bubuk mulai menggumpal dan tidak disukai konsumen. Pendugaan umur simpan asam sunti bubuk dengan metode sorpsi untuk kemasan aluminium foil, HDPE dan PP berturutturut adalah 541.81, 506.83 dan 369.24 hari pada penyimpanan RH 75%, sedang pada penyimpanan RH 83% berturut-turut 364.12, 337.50 dan 245.88 hari. Hasil ini menunjukkan bahwa kemasan yang terbaik untuk menyimpan asam sunti bubuk adalah jenis aluminium foil
Analisis Pindah Panas pada Pipa Pendingin untuk Root Zone Cooling System
AbstractRoot zone cooling system is needed to alleviate high-temperature injury for high-yield greenhouse vegetables production. Analysis of heat transfer along the cooling pipe is very important in designing the root zone cooling system. The objectives of this research were (1) to analyze heat transfer in cooling pipe for zone cooling in a hydroponic system, (2) to validate the heat transfer dynamics model to predict the water temperature at the outlet of the cooling pipe, and (3) to perform model simulations for various types of pipe materials and lengths in several thermal conditions in the greenhouse. Root zone cooling system was performed by flowing water (10oC) through a steel pipe along 25 m to the root zone. The analysis showed a decrease up to 2.8oC in the planting medium temperature 28.6oC from control 31.4oC. The validation of heat transfer model was conducted by comparing the predicted water temperature to that of measured on linear regression plot. The result showed a straight line Y=1.0026X and the coefficient of determination (R2) 0.9867. Based on data analysis, the temperature of water reaches 1oC in steel and copper cooling pipes along 40 m and significantly different from the PVC that is 0.8oC. AbstrakRoot zone cooling system diperlukan dalam mengurangi kerusakan akibat tingginya suhu agar hasil produksi sayuran rumah tanaman meningkat. Analisis pindah panas di sepanjang pipa pendingin sangat penting dalam perancangan root zone cooling system. Tujuan penelitian ini adalah (1) melakukan analisis pindah panas pada pipa pendingin untuk zone cooling dalam sistem hidroponik, (2) melakukan validasi model dinamik pindah panas untuk memprediksi suhu air pada bagian outlet pipa pendingin, dan (3) melakukan simulasi model untuk berbagai bahan dan panjang pipa pada beberapa kondisi termal rumah tanaman. Root zone cooling system dilakukan dengan mengalirkan air (10oC) melalui pipa steel sepanjang 25 m ke perakaran tanaman. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan suhu media tanam hingga 2.8oC yaitu 28.6oC dari suhu kontrol 31.4oC. Validasi model pindah panas dilakukan dengan membandingkan angka suhu air hasil prediksi dengan hasil pengukuran dalam grafik regresi linear. Hasil validasi model pindah panas didapatkan garis lurus Y=1.0026X dan koefisien determinasi (R2) 0.9867. Berdasarkan analisis data, kenaikan suhu air mencapai 1oC pada pipa pendingin steel maupun tembaga sepanjang 40 m dan berbeda nyata dengan PVC yaitu 0.8o