Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
627 research outputs found
Sort by
Mutu Fisik dan Rendemen Alkali Treated Cottonii Hasil Pengolahan Pada Berbagai Tingkat Konsentrasi NaOH, Suhu dan Waktu Ekstraksi
AbstractThe processing of alkali treated cottonii is an alternative to increase the value of Indonesian seaweed. One type of seaweed used is the type of Eucheuma cottonii. The purpose of this study was to: (1) find an alternative replacement for KOH alkali solvent with NaOH as an alkali solvent that was effective in the treatment of alkali treated cottonii. (2) analyze the effect of alkali NaOH treatment, temperature and extraction time on physical quality and yield of alkali treated cottonii, (3) determine the best method of extraction process. This research was carried out by a treatment method consisting of 2 NaOH concentrations 6% and 8%, 70° C and 80° C and 15 minutes and 30 minutes soaking time. Seaweed water content used is 35%. Seaweed was weighed, washed, immersed in NaOH solution in certain temperatures and soaking times. The seweed was dried until 9% water content and then cut to 2-3 cm length. Then physical quality of alkali treated conttoni was measured and the yield was determined. This research was repeated 3 times to obtain 24 experimental units. The range of yields is 27.33-34.00%. The range of gel strength values is equal to 195.70-402.56 g/cm2. The range of viscosity values obtained was 4.39-31.72 cP. Samples showing the best quality were obtained from alkali treated cottonii samples extracted using 8% NaOH concentration, 800C temperature and 30 minutes extraction time fulfilling the quality standards set by FAO and BSN.AbstrakPengolahan alkali treated cottonii merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai rumput laut Indonesia. Salah satu jenis rumput laut yang digunakan yakni jenis Eucheuma cottonii. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mencari alternatif penggantian pelarut alkali KOH dengan NaOH sebagai pelarut alkali yang efektif dalam proses pengolahan alkali treated cottonii. (2) menganalisis pengaruh perlakuan alkali NaOH, suhu dan waktu ekstraksi terhadap mutu fisik dan rendemen alkali treated cottonii, (3) menentukan metode proses ekstraksi yang terbaik. Penelitian ini dilakukan dengan metode perlakuan yang terdiri atas 2 konsentrasi NaOH yakni 6% dan 8%, suhu 70°C dan 80°C serta lama perendaman 15 menit dan 30 menit. Kadar air rumput laut yang digunakan sebesar 35%. Rumput laut ditimbang dan dicuci, kemudian direndam dalam larutan NaOH dengan 2 konsentrasi (6% dan 8%) pada 2 taraf suhu (70°C dan 80°C) selama 2 taraf waktu (15 menit dan 30 menit). Kemudian rumput laut dicuci sampai mencapai pH 7-9. Selanjutnya rumput laut dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60°C selama 18 jam hingga mencapai kadar air 9%. Kemudian rumput laut dipotong menjadi ukuran 2-3 cm. Penelitian ini diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Tahapan selanjutnya yakni analisis mutu fisik (kekuatan gel dan viskositas) dan rendemen alkali treated cottonii. Kisaran nilai rendemen yakni 27.33-34.00%. Kisaran nilai kekuatan gel yakni sebesar 195.70-402.56 g/cm2. Kisaran nilai viskositas didapatkan sebesar 4.39-31.72 cP. Sampel yang menunjukan kualitas terbaik diperoleh dari sampel alkali treated cottonii yang diekstraksi menggunakan konsentrasi NaOH 8%, suhu 80°C dan waktu ekstraksi 30 menit memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh FAO dan BSN
Pemodelan Bahaya Banjir Kawasan Perkotaan (Studi Kasus di Kota Kendari)
AbstractFlood Disasters in Cities is that often occurred in Indonesia, including in Kendari. Based on historical of the flooding incidence data, Kendari has become a flooded area, so that it is important to analyze the level of flood hazard and and implementation of conservation in that area. The aims of this research is todetermine the flood hazard level of Kendari in 2013 using MAFF-Japan model and the effect by applying water resources conservation to reducing the flood hazard level in Kendari. The analysis result showed that Kendari area is dominated by potentially flooded area is 52.43% of total area and the safe area is 33.95%,while flood-prone areas are 13.62%. The effect of the application of water resources conservation based on simulation I by applying 1 conservation alternative obtained a safe area increased to 87.96%, areas with potential flooding have reduced to 11.83% and flood-prone areas by 0.21%. Whereas in simulation II by applying 2 alternatives obtained a safe area of 99.2%, a potentially flooded area of 0.8%, and a flood-prone area of 0%.AbstrakBanjir di wilayah perkotaan merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia termasuk Kota Kendari. Berdasarkan data historis kejadian banjir, Kota Kendari telah menjadi daerah langganan banjir, sehinggadiperlukan upaya analisis mengenai tingkat bahaya banjir dan upaya konservasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat bahaya banjir di Kota Kendari tahun 2013 menggunakan model MAFFJapan serta pengaruhn penerapan konservasi sumberdaya air terhadap pengurangan tingkat bahaya banjir di Kota Kendari. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kota Kendari didominasi oleh daerah yang berpotensiterjadi banjir sebesar 52.43% dari luas wilayah, daerah yang aman sebesar 33.95%, sedangkan daerah yang rawan banjir sebesar 13.62%. Pengaruh penerapan konservasi sumberdaya air berdasarkan simulasiI dengan menerapan 1 alternatif konservasi diperoleh luas daerah yang aman meningkat menjadi 87.96%, sedangkan daerah yang berpotensi banjir mengalami pengurangan area menjadi 11,83% dan daerah yangrawan banjir sebesar 0.21%, Sedangkan pada simulasi II dengan menerapkan 2 alternatif konservasi sumberdaya air diperoleh luas daerah yang aman sebesar 99.2%, daerah yang berpotensi banjir sebesar0.8%, dan daerah yang rawan banjir sebesar 0%
Kajian Efikasi Asap Cair dan Karakterisasi Film Lilin Lebah dan Asap Cair untuk Mencegah Serangan Cendawan pada Buah Salak Pondoh
AbstractSalak pondoh (Salacca edulis Reinw) is one of the export fruit commodities in Indonesia that is easily exposed to fruit base rot diseases. Coating treatment can be used to prevent the deseases . This research aims to analyze and determine the best composition of beeswax and liquid smoke as coating material. The study consisted of several stages, the first stage was testing of liquid smoke antifungal activity, second was making of film solution, the third was film making with the concentration of beeswax (3%; 5% and 8%) and liquid smoke (1; 2.5 and 5%) using casting or printing techniques, fourth stage was selection of the best beeswax and liquid smoke combination in the solution. Three parameters of the films was evaluated. The results showed that the concentration of 5% liquid smoke was able to inhibit the growth of Thielaviopsis sp. up to 7 days after iniculation. The films had a ΔE film values ranging from 2.21-5.93, thicknesses values were from 0.07-0.16 mm, and WVTR values were from 3.05-4.63 g/m2.24jam. The combination 5% liquid smoke and 8% produces a film formulation that has good characteristics that can be applied as a fruit coating to prevent fruit base desease on salak pondoh.AbstrakSalak pondoh (Salacca edulis Reinw) merupakan salah satu komoditas ekspor penting di Indonesia. yang mudah rusak dan mudah terserang penyakit busuk buah pada bagian pangkalnya. Metode pelapisan lilin dan asap cair dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menentukan karakteristik dan komposisi lilin lebah dan asap cair terbaik sebagai pelapis buah salak pondoh. Penelitian terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap pertama uji aktivitas anti cendawan asap cair, tahap kedua pembuatan larutan film tahap ketiga pembuatan film dengan konsentrasi beeswax (3%, 5% dan 8%) dan asap cair (1; 2.5 dan 50%) menggunakan teknik casting atau cetak, tahap pemilihan larutan film lilin lebah dan asap cair terbaik. Ketebalan, WVTR, dan warna film dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asap cair 5% mampu menghambat pertumbuhan cendawan Thielaviopsis sp. hingga 7 HSI. Film lilin lebah dan asap cair yang dibuat memiliki nilai kekeruhan film berkisar 2.21-5.93, ketebalan berkisar 0.07–0.16 mm, dan nilai WVTR berkisar 3.05-4.63 g/m2.24jam. Kombinasi asap cair 5% dan beeswax 8% menghasilkan formulasi film yang memiliki permeabilitas uap air dan sifat anti cendawan yang baik sehingga berpotensi digunakan sebagai pelapis buah salak pondoh untuk mencegah serangan penyakit busuk pangkal buah
Prediksi Tanin dan Total Padatan Tidak Terlarut Buah Kesemek (Diospyros kaki L.) Menggunakan Spektroskopi NIR
AbstractDetermination of tannin and non-soluble solid content of persimmon are usually carried out by a chemical method, these methods are destructive, time-consuming and can not be applied to the development of online grading. The objective of this study was to develop rapid prediction method of tannin and non-soluble solid content of persimmon non-destructively using NIR Spectroscopy. NIR spectra were measured by NIRFlex N-500 fiber optic solid with the wavelength of 1000-2500 nm. For the reference method, tannin and non-soluble solid content were measured using conventional method. Some pre-processing methods were applied, and the results were calibrated to chemical data using principal component regression (PCR) and partial least square (PLS). The best model for prediction of non-soluble solid content was multiplicative scatter correction (MSC) pre-processing and PLS with a correlation coefficient (r), standard error prediction (SEP) and the ratio of standard deviation to SEP (RPD) of 0.83, 1.48% and 1.59 respectively. The best model for predicting tannin was first derivative Savitzky-Golay (dg1) and PLS with r, SEP and RPD of 0.72, 0.14% and 1.06 respectively. PLS method was better than PCR in predicting non-soluble solid content and tannin of persimmon. AbstrakPenentuan tanin dan total padatan tidak terlarut buah kesemek biasa dilakukan dengan metode kimia, metode ini bersifat destruktif, memakan waktu dan tidak dapat diterapkan untuk pengembangan grading secara on-line. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi secara cepat tanin dan padatan tidak terlarut buah kesemek secara non destruktif menggunakan Spektroskopi NIR. Spektrum NIR diukur dengan NIRFlex N-500 fiber optic solid pada panjang gelombang 1000-2500 nm, Untuk metode referensi, kandungan tannin dan total padatan tidak terlarut diukur dengan menggunakan metode konvensional. Beberapa metode pra-pengolahan data NIR diterapkan, dan hasilnya dikalibrasi dengan data kimia menggunakan metode principal component regression (PCR) dan partial least square (PLS). Model terbaik untuk memprediksi non-soluble solid content adalah menggunakan pra-pengolahan multiplicative scatter correction (MSC) dan PLS dengan r, SEP dan RPD masing - masing 0.83, 1.48%, dan 1.59. Model terbaik untuk memprediksi tanin diperoleh dengan menggunakan turunan pertama Savitzky-Golay (dg1) dan metode PLS dengan r, SEP dan RPD masing - masing 0.72, 0.14% dan 1.06. Metode PLS menghasilkan model kalibrasi lebih baik daripada PCR dalam memprediksi tanin dan non-soluble solid content buah kesemek
Implementasi Teknologi Irigasi Tetes pada Budidaya Tanaman Buah Naga
AbstractDevelopment of an efficient irrigation supplying precise amount of water can have benefits not only by reducing the operating costs but also by enhancing the dry land productivity. In the area with limited water resource, drip irrigation method provides advantage by minimizing water loss due to percolation, evaporation and surface flow. This article presents installation of a drip irrigation system for dragon fruit farmland in Nguntoronadi, Wonogiri, Indonesia. The water requirement of dragon fruit has been determined using the Cropwat software based in the local climate and field conditions. This data is required to determine the irrigation operation time each day. In evaluating economic feasibility of this irrigation system, a cost analysis was performed based on the site technical requirements. It is expected that the drip irrigation implemented will increase the total production of a rain fed farmland.AbstrakSalah satu upaya peningkatan produktivitas lahan kering adalah dengan pengembangan irigasi suplementer hemat air pada musim kemarau. Pada lahan dengan sumber air terbatas, sistem irigasi tetes dapat menghemat pemakaian air karena dapat meminimumkan kehilanganan air yang mungkin terjadi seperti perkolasi, evaporasi dan aliran permukaan. Artikel ini ditujukan untuk melakukan analisis implementasi sistem irigasi tetes pada lahan budidaya tanaman buah naga di wilayah Kecamatan Nguntoronadi Wonogiri yang memiliki topografi perbukitan dengan karakter tanah kering. Kebutuhan air tanaman dan laju aliran penetes digunakan sebagai dasar untuk menetapkan waktu operasional sistem irigasi. Analisis kelayakan teknis menunjukkan bahwa sistem irigasi tetes layak diterapkan di untuk budidaya tanaman buah naga di lahan kering. Analisis biaya dilakukan untuk menguji kelayakan ekonomis implementasi teknologi tersebut. Dibandingkan sistem irigasi manual, sistem irigasi tetes berdampak pada penghematan biaya yang akan berpengaruh pada keseluruhan biaya operasional budidaya tanaman buah naga
Simulasi Perancangan Roda Bersirip Ramping untuk Traktor Roda Dua
AbstractA narrow-lugged wheel is needed to a hand tractor or a machine to be able to pass in between paddy plants rows without ruining paddy plants. The objective of this study is to analyze the design parameter, to simulate narrow-lugged wheel on wet soil (paddy field) to have the stress value on the finned wheels. A narrow-lugged wheel model with 42 cm wheel diameter and 7 cm fin width was tested on a soil bin apparatus filled with wet soil. The wheel was tested on variations of 30º, 40º and 45º fin angles, with variation of 7, 10.5, and 14 cm. Data validation was done by using the performance test result of narrowlugged wheel and the simulation of existing cage wheel. The best result on the 45º fin angle with 7×10.5 cm dimension can produce the maximum tractive efficiency (23.3%), 203.81 N with 3 active fin, and get a low stress value 0.07 MPa compared to the yield strength value 282 MPa.AbstrakRoda ramping bersirip dibutuhkan untuk traktor tangan agar mampu melintas di antara tanaman padi tanpa merusak tanaman padi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap parameterdesain, menyimulasikan roda bersirip ramping pada tanah basah (sawah) untuk menghasilkan nilai stress pada sirip roda. Model roda ramping yang digunakan berdiameter 42 cm dan lebar sirip 7 cm yang diuji padaapparatus uji bak tanah (soil bin) dengan kondisi tanah basah. Roda diuji pada variasi sudut sirip 30º, 40º, dan 45º dengan variasi tinggi sirip 7, 10.5, dan 14 cm. Validasi data dilakukan dengan hasil uji performansiprototipe roda bersirip ramping pada tanah lahan sawah dengan menggunakan simulasi roda ramping bersirip dan simulasi roda sangkar existing. Hasil terbaik pada sudut sirip 45º dengan dimensi 7×10.5 cmdapat menghasilkan efisiensi traksi yang paling tinggi sebesar 23.3%, menghasilkan gaya resultan sebesar 203.81 N dengan 3 sirip aktif, dan memiliki nilai stress yang cukup rendah sebesar 0.07 MPa dibandingkandengan nilai yield strength sebesar 282 MPa
Flow Behavior of Isolate Protein from Soybeans var. Grobogan and Whey Protein Isolate at Acidic Condition under Various Heating Times
AbstractFlow behavior of Soy Protein Isolate (SPI) suspension and Whey Protein Isolate (WPI) solution at pH 2.0 under various heating times were studied using steady shear viscosity measurements. Shear rate sweeps with increasing shear rates (up ramp) was performed to investigate the structural breakdown of the proteins during shearing. Down ramp shear rates were performed to check structural recovery of the proteins. The results showed that unheated SPI suspension has Newtonian flow; meanwhile, unheated WPI solution was slightly shear thickening. Heating the proteins at 80ºC for 4, 8, 12, and 16 h changed flow behavior of the proteins. Flow curve of SPI suspension heated for 12 h and 16, fitted Ostwald model with flow behavior index (n) of 0.625 and 0.264, respectively. This index indicates pseudoplastic (shear thinning) behavior, which also observed in heated WPI solution. The changes in flow behavior was attributed by the changes in protein structures, i.e., globular structures into fibrillar structures under prolonged heating at acidic condition. This conversion also increased the apparent viscosities of the proteins. SPI fibrils have higher apparent viscosities than WPI fibrils. This difference might be attributed to the detail fibril structures. SPI fibrils have branched and curvy structures; meanwhile, WPI fibrils are long and straight.AbstrakPerilaku aliran suspensi Soy Protein Isolate (SPI) dan larutan Whey Protein Isolate (WPI) pada pH 2.0 pada berbagai lama pemanasan diinvestigasi. Shear rate yang meningkat diaplikasikan untuk mengetahui kerusakan struktur protein selama geseran. Shear rate dengan pola menurun dilakukan untuk mengetahui apakah strukturprotein kembali ke struktur awal setelah mengalami kerusakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suspensi SPI yang tidak dipanaskan memiliki perilaku aliran Newtonian; sementara larutan WPI yang tidak dipanaskan bersifat sedikit shear thickening. Pemanasan protein pada 80ºC selama 4, 8, 12, dan 16 jam mengubah perilaku aliran suspensi SPI dan larutan WPI. Kurva aliran suspense SPI yang dipanaskan selama 12 jam dan 16 jam sesuai dengan model Ostwald dengan indeks perilaku aliran (n) masing-masing 0.625 dan 0.264. Indeks ini mengindikasikan perilaku aliran bersifat pseudoplastic (shear thinning), yang juga teramati pada larutan WPI yang dipanaskan. Perubahan perilaku aliran disebabkan oleh perubahan struktur protein dimana SPI dan WPI awalnya memiliki struktur globular lalu menjadi struktur fibrillar akibat pemanasan yang lama pada kondisi asam. Perubahan struktur juga meningkatkan nilai apparent viskositas, dimana viskositas fibril SPI lebih tinggi daripada fibril WPI. Perbedaan ini diakibatkan oleh perbedaan struktur fibril protein dimana SPI berbentuk fibril yang bercabang dan melengkung sedangkan WPI berbentuk fibril yang lurus dan panjang
Tinjauan Perkembangan Proses Katalitik Heterogen dan Non-Katalitik untuk Produksi Biodiesel
AbstractBiodiesel is still expected to be an alternative fuel other than petroleum. Therefore, intensive research is being done by researchers in the world to develop biodiesel production process that is more efficient, economical and environmentally friendly. Among them is by developing a catalytic and non-catalytic process. The heterogeneous catalytic process is of particular concern with many promising results and is expected to address the current lack of homogeneous catalytic processes. In Indonesia, many natural catalyst sources have been investigated into potential heterogeneous catalyst. The non-catalytic process also provides a reasonably reliable process expectation of course with its various challenges. Both heterogeneous catalytic processes and non-catalytic processes are believed to be potential processes that can be applied in the near future. The development of the results and the challenges of these two processes, therefore, is reviewed in this work as an innovative biodiesel process technology research opportunity.AbstrakBiodiesel masih diharapkan menjadi bahan bakar alternatif selain dari minyak bumi. Oleh karenanya penelitian yang intensif tengah dilakukan para peneliti di dunia untuk mengembangkan proses produksi biodiesel yang lebih efisien, ekonomis dan ramah lingkungan. Diantaranya adalah dengan mengembangkan proses secara katalitik dan non-katalitik. Proses katalitik heterogen menjadi perhatian khusus dengan banyaknya hasil penelitian yang menjanjikan dan diharapkan dapat mengatasi kekurangan proses katalitik homogen saat ini. Di Indonesia berbagai sumber katalis alami telah diteliti untuk dijadikan katalis heterogen. Namun, proses non-katalitik juga memberikan harapan proses yang cukup bisa diandalkan tentu dengan berbagai tantangannya. Baik proses katalitik heterogen maupun proses non-katalitik diyakini sebagai proses potensial yang dapat diterapkan dalam waktu dekat ini. Oleh karena itu, perkembangan hasil dan berbagai tantangan dari kedua proses tersebut diulas dalam tinjauan ini sebagai peluang penelitian teknologi proses biodiesel yang inovatif
Pemodelan Jaringan Syaraf Tiruan untuk Memprediksi Color Difference Tepung Sagu pada Pneumatic Conveying Recirculated Dryer
AbstractPneumatic conveying recirculate dryer (PCRD) is an artificial drying machine which is suitable for flour drying. Previous research has designed PCRD machine to dry the sago flour. The change of sago flour color in PCRD machine is very difficult to be directly measured during the drying process. The aim of this research was to develop an artificial neural network (ANN) model to predict the color difference (ΔE) between wet sago flour before drying and dried sago flour after drying by PCRD machine. The value of ΔE observation was obtained based on the sago color data calculation. The color of sago flour was measured using a color meter (TES 135A). The observation ΔE data were trained and tested on the ANN model using Graphical User Interface (GUI) application, a neuralnetwork- toolbox-based ANN on Matlab R2014a. The training and testing results of the ANN model showed that the best network structure were 12 input neurons, 5 neurons of the first hidden layer, 5 neurons of the second hidden layer, 1 neuron of the third hidden layer, and 1 output neuron (12-5-5-1-1). The value of MSE obtained by the ANN model structure was 0.0005121 with 16 times epoch. The validity test result showed that the coefficient of determination value for the training process (R2 train) equal to 0.987 and for the testing process (R2 test) equal to 0.976. Meanwhile, the optimization analysis result showed that the value of MSE and MRE were quite small, as well as the MSE and MRE value on each parameter variation. It showed that the ANN model is valid to be used to predict the color difference of sago flour drying on PCRD machine.AbstrakPneumatic conveying recirculate dryer (PCRD) adalah salah satu mesin pengering buatan yang cocok digunakan untuk mengeringkan bahan tepung. Pada penelitian terdahulu telah dirancang mesin PCRD untuk mengeringkan tepung sagu. Pengukuran perubahan warna tepung sagu pada mesin PCRD sangat sulit dilakukan secara langsung selama proses pengeringan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model jaringan syaraf tiruan (JST) untuk memprediksi perbedaan warna atau color difference (ΔE) antara tepung sagu basah sebelum dikeringkan dengan tepung sagu kering setelah dikeringkan dengan mesin PCRD. Nilai ΔE observasi diperoleh berdasarkan hasil perhitungan data warna tepung sagu. Warna tepung sagu diukur menggunakan color meter (TES 135A). Data ΔE observasi tersebut dilatih dan diuji pada model JST menggunakan aplikasi Graphical User Interface (GUI) JST berbasis neural network toolbox pada Matlab R2014a. Hasil pelatihan dan pengujian model JST menunjukkan bahwa struktur jaringan yang terbaik adalah 12 neuron input, 5 neuron lapisan hidden layer 1, 5 neuron lapisan hidden layer 2, 1 neuron lapisan hidden layer 3, dan 1 neuron output (12-5-5-1-1). Nilai MSE yang dicapai struktur model JST tersebut, sebesar 0,0005121 dengan epoch 16 kali. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi untuk proses pelatihan (R2 latih) sebesar 0.987, dan proses pengujian (R2uji) sebesar 0.976. Sedangkan hasil analisis optimasi menunjukkan bahwa, nilai MSE dan MRE yang dihasilkan cukup rendah, begitupula nilai MSE dan MRE pada setiap parameter variasi. Hal ini menunjukkan bahwa model JST tersebut valid digunakan untuk memprediksi color difference pengeringan tepung sagu pada mesin PCRD
Analisis Performansi Model Roda Ramping Bersirip (Narrow Lug Wheel) pada Tanah Basah di Soil bin
AbstractThe design of lug wheels are generally used for cultivation only, not for seeding, planting and weeding. This is due not compatible the shape and size of the lug wheel general design (existing). Therefore it would need to develop a design of narrow lug wheel which shape and size suitable for rice cultivation on the activities of seeding, planting and weeding. The purpose of this study is to analysis the performance of narrow lug wheel for wetland at soil bin test. Lug angle and lug height were were varied, designed lug angle of 300, 400 and 450, with with lug width 7 cm and lug heights 7 cm , 10.5 cm and 14 cm. Research result analysis included relation of tractive efficiency, wheel slip, wheel sinkage to several levels of drawbar load, and several levels of lug angle and lug height ratio. Lug angle have a dominant influence on the change of slip, sinkage and tractive efficiency. The optimal Lug dimension and lug angle is was was resulted by wide of lug was was 7 cm, high was was 10,5cm and and angle of of 45 degrees, maximum tractive efficiency value on optimal lug dimension and lug angle was was 24.5%.AbstrakRancangan roda besi bersirip pada umumnya digunakan untuk budidaya pertanian terbatas hanya pada kegiatan pengolahan tanah, tidak untuk pembenihan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Hal ini disebabkan oleh tidak cocok bentuk dan ukuran roda besi bersirip rancangan umum (existing). Oleh sebab itu perlu kiranya dikembangkan sebuah rancangan roda ramping bersirip (narrow lug wheel) yang bentuk dan ukurannya sesuai untuk budidaya padi sawah pada kegiatan pembenihan, penanaman dan pemeliharaan. Tujuan penelitian untuk menganalisis kinerja model roda ramping bersirip (narrow lug wheel) pada lahan basah dengan pengujian di soil bin. Sudut sirip dan tinggi sirip divariasikan, sudut sirip dirancang sebesar 300, 400 dan 450 dan lebar sirip tetap 7 cm serta tinggi sirip 7 cm, 10.5 cm dan 14 cm. Analisis hasil penelitian meliputi: hubungan tractive efficiency (%), slipp (%), sinkage (cm) terhadapbeban tarik (N) pada berbagai tingkat sudut dan rasio sirip roda. Sudut sirip memiliki pengaruh dominan terhadap perubahan slip roda, ketenggelaman roda (sinkage) dan efisiensi traksi. Ukuran sirip dan sudut sirip optimum dihasilkan oleh sirip berdimensi lebar 7 cm dan tinggi sirip 10.5 cm dengan sudut sirip 45 derajat, nilai efisiensi traksi maksimum pada ukuran sirip dan sudut sirip optimum adalah sebesar 24.5%.