Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
627 research outputs found
Sort by
Proses Pembuatan Manisan Kering Ubi Jalar (Ipomoea Batatas L.) dengan Dehidrasi Osmotik dan Pengeringan Oven
AbstractSweet potato (Ipomoea batatas L.) is a local food group that has the potential to be developed in order to support the program of diversification of non-rice food for food security, one of sweet potatoes product is sweet potatoes candied. The purpose of the study was to develop sweet potato manufacturing processfor osmotic dehydration and oven drying. Each sweet potato treatment is weighed 1000 grams, then immersed with citric acid (C6H8O7) 2% solution for 1 hour, the next step is sweet potatoes boiled 10 minutes at the concentration of sugar solution 32.8°Brix, 37.4°Brix, and 40.5°Brix, and then drying usingan oven at 50°C and 60°C for 5 hours. Parameters tested in this research were: Water content, total dissolved solid (TDS) Brix, water loss, solid gain. The water content of sweet potatoes as raw material from each treatment ranged from 70.03%-74.61%, the water content after boiling 10 minutes ranged from57.58%-72.64%, and the moisture content after drying for 5 hours ranged from 19.99%-20.58%. Total dissolved solids (TDS) after booiling for 10 minutes ranged from 24.8-26.0°Brix, and TDS after drying for 5 hours ranged from 67.2-74.0°Brix. Sweet potato water loss after boiling the osmotic solution for 10 minutes ranged from 1.21- 8.20%, sweet potato solid gain after boiling the osmotic solution for 10 minutes ranged from 2.25-17.06%.AbstrakUbi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan kelompok pangan lokal yang berpotensi untuk dikembangkan yang menunjang program diversifikasi pangan non beras menuju ketahanan pangan, salah satu produk olahan ubi jalar adalah manisan kering ubi jalar. Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan proses pembuatan manisan ubi jalar (Ipomoea batatas L.) terhadap dehidrasi osmotik dan pengeringan konvektif. Pada setiap perlakuan ubi jalar ditimbang beratnya yaitu 1000 gram, selanjutnya dilakukan perendaman dengan larutan asam sitrat (C6H8O7) 2% selama 1 jam, seterusnya ubi jalar direbus 10 menit pada konsentrasi larutan gula 32.8°Brix, 37.4°Brix, dan 40.5°Brix, selanjutnya dilakukan pengeringan menggunakan oven pada suhu 50°C dan 60°C selama 5 jam. Parameter yang dianalisis pada penelitian ini yaitu meliputi parameter proses kadar air, total padatan terlarut, water loss, solid gain. Kadar air ubi jalar sebagai bahan baku dari setiap perlakuannya berkisar antara 70.03%-74.61%, kadar air setelah perebusan 10 menit berkisar 57.58%-72.64%, kadar air setelah pengeringan selama 5 jam berkisar antara 19.99%-20.58%. Total padatan terlarut setelah peebusan dalam larutan osmotik selama 10 menit berkisar 24.8-26.0°Brix. Total padatan terlarut setelah pengeringan selama 5 jam berkisar 67.2-74.0Brix. Water loss ubi jalar setelah perebusan larutan osmotik selama 10 menit berkisar 1.21-8.20%, Solid gain ubi jalar setelah perebusan larutan osmotik selama 10 menit berkisar 2.25-17.06%
Prediksi Tingkat Kematangan Buah Jeruk Siam Gunung Omeh (Citrus Nobilis Var. Microcarpa) dengan Pengolahan Citra
AbstractEvaluation of the quality of Gunung Omeh Citrus fruit based on the level of maturity or skin color of fruit and other physical properties are still done conventionally. Human assessment of maturity level is subjective and has different perceptions. Humans also have limitation in terms of labor and time. An alternative to increasework productivity on citrus fruit quality evaluation required a system that can help human to work automatically, quickly and objectively and consistently. Digital image is a technique that can process visual perception, in this case is color of the fruit skin surface or object, without direct contact to the object. This study aims to analyze the quality of parameters based on the level of maturity or color, and physical properties of Siam Omeh Citrus. Levels of maturity of citrus fruit used are at the age of picking 150 days before flower blossom, 180 days before flower blossom, 210 days before flower blossom and 240 days before flower blossom. By conventional method, the maturity can be indicated through measurement of diameter, hardness of fruit flesh and total dissolved solid, meanwhile by image processing method, it can be obtained through area parameter and color index (red, greenand blue). The area parameters of image processing do not show differences on various levels of maturity. Color index (red, green and blue) from image processing can be used as reference to identify the level of maturity.There is correlation on color index (red, green and blue) and total dissolved solid, fruit hardness of Gunug Omeh citrus. There is a correlation between the area of image processing and the weight of citrus.AbstrakEvaluasi mutu buah jeruk siam Gunung Omeh berdasarkan tingkat kematangan atau warna kulit buahdan sifat fisik lainnya masih dilakukan secara konvensional. Penilaian manusia terhadap tingkat kematangan bersifat subjektif dan mempunyai persepsi yang berbeda-beda. Manusia juga mempunyai keterbatasan dalam hal tenaga kerja dan waktu. Salah satu alternatif untuk meningkatkan produktifitas kerja seperti dalam evaluasi mutu buah jeruk diperlukan suatu sistem yang dapat membantu pekerjaan manusia secara otomatis, kerjanya relatif cepat dan hasilnya objeksif serta konsisten. Citra digital merupakan suatu teknik yang dapat mengolah persepsi visual dalam hal ini adalah warna dari permukaan kulit buah atau objek tanpa berhubungan langsung dengan objek tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis parameter mutu berdasarkan tingkat kematangan atau warna, dan sifat fisik buah jeruk siam Gunung Omeh. Tingkat kematangan buah jeruk yang digunakan, yaitu pada umur petik 150 sbm, 180 sbm, 210 sbm dan 240 sbm. Metode konvensional didapatkan melalui pengukuran diameter, kekerasan daging buah dan total padatan terlarut sedangkan dengan metode pengolahan citra didapatkan parameter area dan indeks warna (red, green dan blue). Parameter area dari pengolahan citra tidak menunjukan perbedaan pada berbagai tingkat kematangan. Indeks warna (red, green dan blue) dari pengolahan citra menunjukan perbedaan pada berbagai tingkat kematangan sehingga dapat dijadikan acuan untuk mengidentifikasi tingkat kematangan. Terdapat korelasi indeks warna (red, green dan blue) dengan total padatan terlarut dan kekerasan buah jeruk siam Gunung Omeh. Terdapat korelasi antara area dari pengolahan citra dengan berat buah jeruk
Rancang Bangun dan Pengujian Penetrometer Digital dengan Perekam Data Berbasis Android
Abstract Static penetrometer is designed to measure the force that required to push a conical probe of the soil deepness through a constant velocity. The output data are force per unit area without soil factor influenced, i.e. soil moisture content. Soil moisture content is an important factor that affects soil penetration resistance. The soil moisture content method that commonly uses a gravimetric method can takes a long time to obtain data of soil moisture conten. Therefore a penetrometer is needed which can measure the soil moisture content at once. The objective of study is to design and develop static penetrometer equipped with soil moisture sensor and android based data record system. Loadcell and HX711 used as force sensor, HC-SR04 and DHT11 used as depth sensor and a kit soil moisture module has been modified as soil moisture sensor. Calibration and validation result of the sensor shown that the correlation value of R2=0.9994 and R2=0.9995 (force sensor), R2=0.9999 and R2=0.9999 (depth sensor) and R2= 0.9098 and R2=0.9255 (soil moisture sensor). Penetrometer performance test in land result obtained the value of R2=0.9583 for cone index, R2=0.9994 for depth sensor dan R2=0.6673 moisture content sensor. Penetrometer pervormance test in rice field result obtained the value of R2=0.9583 for cone index, R2=0.9941 for depth sensor and R2=0.7201 moisture content sensor. The result of regression anlaysis for moisture content equation obtained value R2=0.7201 for testing on dry land and R2=0.9058 for testing in the paddy fields. The experimental result shown that the new develop penetrometer instrument can be used as an alternative instrument to measure soil pentration that eqquiped with soil moisture content data.AbstrakPenetrometer statis didesain untuk mengukur gaya yang dibutuhkan untuk menekan probe kerucut kedalaman tanah dengan kecepatan konstan. Output datanya adalah gaya persatuan luas tanpa faktor sifat tanah lain seperti kadar air. Kadar air tanah merupakan faktor penting yang memengaruhi tahanan penetrasi tanah. Metode pengukuran kadar air yang umum menggunakan metode gravimetri yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan data kadar air tanah. Maka dari itu dibutuhkan penetrometer yang dapat sekaligus mengukur kadar air dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang, membangun dan menguji penetrometer digital dilengkapi pembacaan kadar air dengan perekam data berbasis android. Loadcell dan HX711 digunakan sebagai sensor gaya, HC-SR04 dan DHT11 digunakan sebagai sensor kedalaman dan kit sensor kadar air tanah termodifikasi digunakan sebagai sensor kadar air. Hasil kalibrasi dan validasi sensor didapatkan nilai R2=0.9994 dan R2=0.9995 untuk sensor gaya, R2=0.9999 dan R2=0.9999 untuk sensor kedalaman, R2=0.9098 dan R2=0.9255 untuk sensor kadar air tanah. Hasil pengujian kinerja di lahan kering secara terpadu di dapatkan nilai nilai R2=0.9583 untuk cone index, R2=0.9994 untuk sensor kedalaman dan R2=0.6673 untuk sensor kadar air. Hasil pengujian di lahan sawah didapatkan nilai R2=0.9583 untuk sensor gaya, R2=0.9941 untuk sensor kedalaman dan R2=0.7696 untuk sensor kadar air. Hasil analisis regresi pada proses kalibrasi ulang didapat persamaan penduga kadar air dengan nilai R2=0.7201 untuk pengujian di lahan kering dan R2=0.9058 untuk pengujian di lahan sawah. Berdasarkan data yang didapatkan maka penetrometer yang dirancang dapat digunakan sebagai alternatif instrumen ukur tahanan penetrasi yang dilengkapi dengan data kadar air.
Sebaran Suhu Daerah Perakaran pada Sistem Hidroponik untuk Budidaya Tanaman Cabai di Kawasan Tropika
AbstractChili production in Indonesia is very unstable because most of chili production areas are open field that are quite influenced by weather. Therefore, it is important to develop hydroponic technology for chili cultivation under greenhouse. As energy-efficient cooling system for tropical greenhouses, root zone cooling could be applied by flowing cooled water in pipes that are burried in the root zone. Determining the space between the pipes for flowing the cooled water requires temperature distribution in the root zone. The objective of this research were to find out the temperature distribution in the root zone, to simulate temperature distribution with based on computational fluid dynamics, and to validate the simulated root zone temperature. The results showed that an uniform horizontal temperature distribution during the day time and night time. Uniform verticaltemperature distribution were also noted during the night time. There were quite wide temperature variation in the root zone during the day time, vertically. The validation results showed that temperature distribution in the root zone could be predicted accurately by computational fluid dynamics as indicated by the value of R2 obtained at 0.84 and the linear equation is y axis approaches the value of x axis. Therefore, the predicted temperature distribution would be very useful in determining zone cooling system for chili cultivation in hydroponic system under tropical greenhouse.AbstrakProduksi cabai di Indonesia sangat tidak stabil karena sebagian besar areal budidaya tanaman cabai dilakukan di lahan terbuka yang sangat dipengaruhi oleh cuaca. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan teknologi hidroponik untuk budidaya tanaman cabai di dalam rumah tanaman. Metode pendinginan yang efisien dari segi konsumsi energi untuk rumah tanaman di daerah tropika salahsatunya adalah pendinginan daerah perakaran. Pendinginan daerah perakaran dapat diterapkan dengan mengalirkan air dingin di dalam pipa yang dibenamkan dalam daerah perakaran tersebut. Penentuan jarak antar pipa pendingin tersebut memerlukan sebaran suhu di daerah perakaran tersebut. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk memprediksi sebaran suhu daerah perakaran, melakukan simulasi suhu daerah perakaran menggunakan computational fluid dynamics, dan melakukan validasi hasil simulasi sebaran suhu daerah perakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran suhu daerah perakaran secara horizontal ternyata seragam pada waktu siang maupun malam hari. Data sebaran suhu daerah perakaran yang seragam secara vertikal juga diperoleh pada waktu malam hari. Sebaran suhu daerah perakaran secara vertikal pada siang hari ternyata cukup bervariasi. Validasi menunjukkan bahwa sebaran suhu daerah perakaran dapat diprediksi dengan baik menggunakan computational fluid dynamics yang ditunjukkan dengan nilai R2 yang diperoleh sebesar 0.84 dan diperoleh persamaan y yang mendekati nilai x. Oleh karena itu, suhu daerah perakaran hasil prediksi dapat digunakan untuk perancangan zone cooling system budidaya tanaman cabai secara hidroponik di dalam rumah tanaman
Rancangan Sistem Kendali Kelembaban Tanah Berbasis Mikrokontroler Arduino
AbstractControl of soil moisture can save water supply for crops. The soil moisture sensor integrated with the Arduino microcontroller board can be programmed as the control system. Addition of RTC module and SD module tools also make the system as the data logger. The purpose of this research was to developed the irrigation automation system with the control of soil moisture. This system has been integrated with the automation system using the power source of solar energy. Soil texture is sandy clay loam, which is dominated by the sand content of 59.67%. Rainfall during the study was 58.5 mm. The control system with Arduino board, set to keep soil moisture between 0.23 cm3cm-3 - 0.30 cm3cm-3. The soil moisture in that range was able to be controlled with this system. Land without agricultural cultivation activities when water resources are limited, can be empowered with the application of irrigation automation systems.AbstrakPengendalian kelembaban tanah dapat menghemat pasokan air untuk tanaman. Sensor kelembaban tanah yang diintegrasikan dengan papan mikrokontroler Arduino dapat diprogram sebagai sistem pengendalian tersebut. Penambahan alat RTC module dan SD module juga menjadikan sistem sebagai data logger. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem otomatisasi irigasi dengan kendali kelembaban tanah. Sistem ini terintegrasi dengan sistem otomatisasi menggunakan sumber tenaga dari energi surya. Tekstur tanah adalah lempung liat berpasir, yang didominasi oleh kandungan pasir sebesar 59.67%. Curah hujan selama penelitian adalah 58.5 mm. Sistem kontrol dengan papan Arduino, diatur untuk menjaga kelembaban tanah antara 0.23 cm3cm-3 – 0.30 cm3cm-3. Kelembaban tanah pada kisaran tersebut mampu dikontrol dengan sistem ini. Lahan tanpa kegiatan budidaya pertanian pada saat sumber daya air terbatas, dapat diberdayakan dengan aplikasi sistem otomatisasi irigasi
Studi Coating dengan Metode Semprot Berbasis Bahan Baku Pektin untuk Mempertahankan Kesegaran Buah Rambutan
AbstractRambutan is still going on physiological processes after harvesting, that can cause diminishing fruit freshness and water loss. One of postharvest treatment that can help with physiological processes is by using coatings. The purpose of this study was to study the characteristics of films and droplets formed from various types and concentrations of solutions using the spray method. The type of pectin used was high methoxyl and low methoxyl citrus pectin with concentrations of 0.5% and 1%. Parameters test are droplet diameter, droplet density, film thickness and WVTR (Water Transmission Rate Transmission Rate). The results showed that the best pectin formulation using a low methoxyl orange pectin spray technique with a concentration of 1%. The resulting dropet size was 0.404±0.068 mm, droplet density 13.901-18.602, viscosity was 8.5875±0.043 mPas, film thickness was 0.10±0.138 mm, WVTR 5.08±0.172 g/m2/day andrespiration rate was 6.63 ml O2 /kg-hour. The observations on the 14th day of rambutan coating reduced water content by 13.19% with a weight loss of 12.76%, L value of 11.00, Hue value of 29.50, chroma value of 26.94, TPT value between 22.10-24.37 0Brix and consumer acceptance is above the consumer acceptance limit for all sensory test observation variables.AbstrakBuah rambutan setelah dipanen tetap melangsungkan proses fisiologi yang dapat menyebabkan berkurangnya kesegan buah dan kehilangan air. Salah satu perlakuan pascapanen yang dapat menghalangiproses fisiologi adalah dengan menggunakan coating. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik film dan droplet yang terbentuk dari berbagai jenis dan konsentrasi larutan pektin denganmetode semprot. Jenis pektin yang digunakan adalah high metoxyl dan low metoxyl pektin jeruk dengan konsentrasi 0.5% and 1%. Parameter pengujian adalah diameter droplet, kerapatan droplet, ketebalan filmdan WVTR (Water Vapor Transmission Rate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi larutan pektin terbaik dengan menggunakan teknik semprot adalah pektin jeruk low metoxyl dengan konsentrasi 1%. Ukuran dropet yang dihasilkan 0.404±0.068 mm, kerapatan 13.901-18.602 droplet, viskositas 8.5875±0.043 mPas, ketebalan film 0.10±0.138 mm, WVTR 5.08±0.172 g/m2/hari dan laju respirasi 6.63 ml O2/kg-jam. Hasil pengamatan pada hari ke-14 rambutan coating mengalami penurunan kadar air sebesar 13.19% dengan susut bobot 12.76%, nilai L 11.00, nilai Hue 29.50, nilai chroma 26.94, nilai TPT antara 22.10-24.37 0Brix dan penerimaan konsumen berada pada atas batas penerimaan konsumen untuk seluruh variabelpengamatan uji sensori
Peningkatan Efektivitas Ekstraksi Oleoresin Pala Menggunakan Metode Ultrasonik
AbstractApplication of ultrasonic-assisted extraction (UAE) is widely used to extract active compounds of certain product due to its lower energy consumption and shorter operating times than conventional method. However, proper configuration of UAE in improving extraction efficiency in spices, particularly nutmeg, remains unknown. Therefore, the aim of this research is to study the effect of particle size and amplitudes of UAE on the oleoresin extraction effectiveness in nutmeg. Experiments were carried out under the following conditions: the mass ratio of dry meat nutmeg to solvent of 1:5, therespective particle size of the material 20, 40, and 60 mesh and the ultrasonic amplitudo were 20 and 40% with extraction time 30 minutes. Maceration method at 350C for 7 hour was used as control. The result shows that particle size had a significant effect on yield of oleoresin, while the amplitude had no effect. The best UAE configuration based on the highest yield (31.33%) was held on 60 mesh by amplitude of 40%. The application of UAE can improve oleoresin extraction efficiency in nutmeg by increasing yield and shorten extraction time.AbstrakAplikasi ekstraksi berbantukan ultrasonik (UAE) banyak digunakan untuk mengekstrak senyawa aktifproduk tertentu karena konsumsi energinya lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat dari pada metode konvensional. Namun, konfigurasi yang tepat dari UAE dalam meningkatkan efektivitas ekstraksidalam rempah-rempah, terutama pala, belum diketahui. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh ukuran partikel dan amplitudo UAE terhadap efektivitas ekstraksi oleoresin pada pala. Penelitian dilakukan dengan kondisi sebagai berikut: rasio bahan dan pelarut yaitu 1:5, ukuranbahan 20, 40, dan 60 mesh dan amplitudo ultrasonik adalah 20% dan 40% dengan waktu ekstraksi 30 menit. Metoda Maserasi pada suhu 350C selama 7 jam digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel berpengaruh nyata terhadap hasil oleoresin, sedangkan amplitudo tidak berpengaruh. Konfigurasi UAE terbaik berdasarkan hasil tertinggi (31.33%) dilakukan pada 60 mesh dengan amplitudo 40%. Penerapan UAE dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi oleoresin pada pala dengan meningkatkan rendemen dan mempersingkat waktu ekstraksi
Uji Performansi Prototipe Alat Pengering Kopra Memanfaatkan Panas Buang PLTU Berbahan Bakar Arang Tempurung Kelapa
AbstractThe exhaust heat of steam power plant has considerable energy potential that can be recovered for various processes, one of which is for the drying of materials. The purpose of this research is to know the performance of a copra dryer by utilizing exhaust heat from coconut shell charcoal fired power plant which has been developed by P3TKEBTKE. Copra dyers consisting of a fan, heat exchangers, and a drying chamber are installed on the boiler combustion flue gas duct as the heat source. This research was conducted by varying fan speed at 2.2 m/s and 3.7 m/s. The results show the drying room temperature between 36-130°C, are not equally distributed. The test results with the air flow rate of 4.14 m3/m shows the average temperature of 72.18°C drying copra final moisture content 17.72%, the drying rate of 4.72%, energy consumed 55.97 MJ/kg, thermal efficiency 20,90% and drying efficiency of 4.83%. While the test results with an air floe rate of 6.97 m3/m shows better results with an average temperature of 68.13°C drying copra final moisture content 16.05%, the drying rate of 5.1%, energy consumed 32.47 MJ/kg, thermal efficiency 55.57% and drying efficiency of 8,25%..AbstrakPanas buang PLTU memiliki potensi energi yang cukup tinggi yang dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai proses, salah satunya untuk pengeringan bahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui unjuk kerja alat pengering dengan memanfaatkan panas buang dari PLTU berbahan bakararang tempurung kelapa yang telah dikembangkan oleh P3TKEBTKE. Alat pengering tipe rak yang terdiri dari komponen kipas, heat exchanger, dan ruang pengering dipasang pada saluran gas buang pembakaran boiler sebagai sumber panasnya. Pada penelitian ini dilakukan pengujian dengan variasi laju alir udara4.14 m3/m dan 6.97 m3/m. Hasil pengujian dengan laju alir udara 4,14 m3/m menunjukkan rata-rata suhu pengeringan 72.18°C kadar air kopra akhir 17.72%, laju pengeringan 4.72%, kebutuhan energi untuk menguapkan air dari produk kopra adalah 55.97 MJ/kg, efisiensi termal pengering 20.90%, dan efisiensi sistem pengeringan 4.83%. Sedangkan hasil pengujian dengan kecepatan 3.7 m/s menunjukkan hasil lebih baik dengan rata-rata suhu pengeringan 68.13°C kadar air kopra akhir 16.05%, laju pengeringan 5.1%, kebutuhan energi untuk menguapkan air dari produk kopra adalah 32.47 MJ/kg, efisiensi termal pengering 55.57%, dan efisiensi sistem pengeringan 8.25%
Analisis Teknis Kolektor Surya Tipe Pelat Datar Glazed dan Unglazed pada Berbagai Laju Aliran Debit dan Suhu Inlet
AbstractResearches on glazed and unglazed flat plate type solar collectors have been carried out previously for the purposes of water heaters and air heaters. However, studies related to the comparison of glazed and unglazed solar collectors especially to heat air suitable for rice drying have not been carried out yet. The purpose of this study was to compare the performance of glazed and unglazed solar collectors in the same weather conditions to heating the water for various water flow rates and inlet temperatures. The research approach used in this study is the experimental approach. Parameters measured include inlet temperature, outlet temperature, ambient temperature, flow rate, wind speed, and irradiation. The collector test uses four collectors (two unglazed and two glazed). The test results show that the highest efficiency is shown bythe glazed collectors, which is 63%, while the unglazed collector efficiency is 54%. Both of the efficiencies occured at a flow rate of 3 liters/minute, inlet temperature of 40°C and at noon time. The cost per watt (useful energy) of glazed flat plate solar collector was less than unglazed flat plate solar collector.AbstrakSalah satu cara untuk memanfaatkan energi surya adalah dengan menggunakan kolektor surya sebagai alat untuk mengubah energi matahari menjadi energi panas. Penelitian tentang kolektor surya tipe plat datar glazed dan unglazed telah dilakukan sebelumnya untuk keperluan pemanas air dan pemanas udara. Namun, studi yang terkait dengan kombinasi kolektor surya glazed dan unglazed khususnya yang akan digunakan untuk pemanasan udara yang sesuai dengan gabah belum dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kinerja kolektor surya glazed dan unglazed dalam kondisi cuaca yang samauntuk memanaskan air pada berbagai laju aliran air dan suhu inlet. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan eksperimental, dimana data diperoleh dari proses pengukuran di lapangan. Parameter yang diukur meliputi suhu inlet, suhu outlet, suhu lingkungan, laju aliran, kecepatan angin dan iradiasi surya. Pengujian kolektor menggunakan empat buah kolektor (dua glazed dan dua unglazed). Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada kolektor glazed, efisiensi tertingginya adalah 63%, sedangkan kolektor unglazed adalah 54%. Kedua efisiensi tersebut terjadi laju aliran 3 liter/menit dan suhuinlet 40°C dan waktu tengah hari. Biaya per watt (energi berguna) kolektor surya pelat datar glazed lebih rendah daripada kolektor surya pelat datar unglazed
Pemodelan Sorpsi Isotermi dan Pendugaan Umur Simpan Beras Pratanak pada Kemasan Plastik Film
AbstractMoisture sorption isotherms have an important role in the quantitative approach to predict shelf life of the food due to their sensitivity to moisture changes. The objectives of this research were to determine the equilibrium moisturecontent ofparboiled rice,to findthe bestmodel todescribe thesorption isotherm curve ofparboiled rice, and to predict shelf-life of the parboiled rice during storage. Moisture sorption isotherms of parboiled rice were determined using the standard gravimetric static methodat temperature of 30o, which involves the use saturated salt solution to maintain a fixed equilibrium relative humidity. To achieve different relative humidity environments, aqueous solutions of NaOH, MgCl2, Mg(NO3)2, KI, NaCl, KCl, Na2SO4, and NH4H2PO4 to have relative humidity of 7%, 33%, 52%, 69%, 75%, 84%, 87% dan 92%. Five gram samples of parboiled rice were stored in dessicators. The samples were weighed periodically until they constant. The Hasley, Oswin, Henderson, Chen-Clayton and Caurie models were applied to describe the relationship between equilibrium moisture content and relative humidity. The mean relative deviation was used to evaluate the goodness of each models. The result showed that equilibrium moisture content of parboiled rice fromrelative humidity of 7%, 33%,52%,69%, 75%, 84%, 87% dan 92% respective of 6.93% dry basis (db), 11.09%db, 14.22% db, 15.86% db, 17.05% db, 19.68% db, 23.92% db, dan 25.59% db. Water sorption isotherm parboiled rice had sigmoid shape. The Oswin model was found to be the best model to describe the experimental sorption data for parboiled rice was the value MRD is 3.85 and R2 is 0.98. Parboiled rice packaged with HDPE, LDPE, and PP have a predict shelf-life respective of 2.2, 2.3 and 8.8 year.AbstrakSorpsi isotermi memiliki peran penting dalam pendekatan kuantitatif untuk menduga umur simpan bahan yang rentan terhadap perubahan kelembaban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar air kesetimbangan beras pratanak, menentukan model yang tepat dalam mendeskripsikan pola kurva sorpsi isotermi beras pratanak, dan memprediksikan umur simpan beras pratanak dengan metode kadar air kritis. Sorpsi isotermi beras pratanak ditentukan dengan menggunakan metode gravimetri statis pada suhu 30o, dengan menggunakan larutan garam jenuh untuk mengatur kelembapan relatif. Untuk mencapai lingkungan kelembaban relatif yang berbeda, larutan NaOH, MgCl2, Mg(NO3)2, KI, NaCl, KCl, Na2SO4, dan NH4H2PO4 dengan kelembaban relatif berturut turut7%,33%,52%,69%,75%,84%, 87%dan92%.Limagramsampel beraspratanakdisimpandalam desikator. Sampel ditimbang secara berkala hingga mencapai berat konstan.Model Hasley, Oswin, Henderson, Chen-Clayton dan Caurie diterapkan untuk menggambarkan hubungan antara kadar air kesetimbangan dan kelembaban relatif. Mean Relative Determination digunakan untuk mengevaluasi ketepatan masing-masing model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air kesetimbangan beras pratanak pada RH 7%, 33%, 52%, 69%, 75%, 84%, 87% dan 92% berturut-turut adalah 6.93% bk, 11.09% bk, 14.22% bk, 15.86%bk, 17.05% bk, 19.68% bk, 23.92% bk, dan 25.59% bk. Kurva sorpsi isotermi beras pratanak memiliki bentuk sigmoid. Model Oswinadalah model yang paling tepat dalam menggambarkan sorpsi isotermi beras pratanak dengan nilai MRD sebesar 3.85 dan R2sebesar 0.98. Beras pratanak yang dikemas dengan HDPE, LDPE, dan PP memiliki umur simpan berturut 2.2 tahun, 2.3 tahun dan 8.8 tahun