Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
    627 research outputs found

    Tinjauan Aplikasi Indikator Perubahan Hidrologi di DAS Wonorejo

    No full text
    AbstractThis study use Indicator of Hydrological Alteration (IHA) method to evaluate statistically the flow characteristics between two periods of records. Existing daily discharge data from Wonorejo Watershed was separated in two periods called: pre-assesment (from 1990 to 2001), and post-assesment (from 2002 to 2013). All of 33 IHA parameters, which classified in five (5) class indicator, were used to measure the change or the level of alteration. IHA software version 7.1 was used for the analysis. The result shows that discharge in Wonorejo river has change to negative index. Result show that monthly, daily and extreme value of flow regime have decrease during the last 10 years (2002 – 2014) or post-assesment periods, compared to pre-assesment period (from 1990 - 2001). This study also calculate the environmental flow component of river flow to support sustainability of river ecology and surrounding environment.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi terjadinya perubahan indikator karakteristik hidrologi pada suatu DAS. Penelitian dilakukan di DAS Wonorejo, di wilayah Kabupaten Lumajang. Input utama adalah data rentang waktu berupa debit dan hujan harian. Periode rekaman data lebih dari 20 tahun. Analisis dilakukan menggunakan Indicator of Hydrologycal Alteration (IHA). Data rentang waktu dibagi menjadi dua interval (periode pra-penilaian (1990 – 2001) dan periode paska-penilaian (2002 - 2014). Sejumlah, 33 parameter IHA yang terklasifikasi ke dalam 5 kategori digunakan untuk mengevaluasi perubahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai parameter yang mengindikasikan perubahan hidrologi antara periode sebelum dan sesudah analisis. Selanjutnya, analisis menunjukkan adanya penurunan pada semua aspek aliran, yang mencakup: aliran bulanan, aliran esktrem (minimal dan maksimal), aliran tinggi/ rendah dan aliran dasar. Analisis statistik ini juga dapat menunjukkan adanya perubahan karakteristik aliran tinggi dan rendah yang berpotensi menyebabkan kejadian banjir dan kekeringan.

    Investigasi Penyakit Busuk Ujung Lancip Buah Salak pada Rantai Pasok

    No full text
    AbstractSalak fruit (Salacca edulis Reinw.) which is not handled properly during distribution and marketing will be damaged. The biggest damage caused by rot disease on the taper tip of the fruit, which has an impact on postharvest losses and market rejection. The aims of this study were to examine supply chain pattern of salak pondoh, rot disease causative microorganisms on the salak\u27s taper tip and the magnitude of postharvest losses due to the rot disease. Data were collected by survey method to obtain the pattern of supply chain and postharvest losses rate. Surveys (interviews and observations) were conducted in each of the supply chain actors at salak pondoh production centers, Sleman Regency, Yogyakarta. Laboratory observations to identify disease causative microorganisms were conducted using single spore isolation method on the PDA and fungi morphological observations. The results of the investigation of supply chain patterns in Sleman Regency, in general, there are three patterns, namely supply chain for the distribution of traditional markets, modern markets, and export markets. Total postharvest losses along those supply chains were 22.89%, 11.27%, and 6.26%, respectively. The results of isolation were obtained five fungus isolates, namely Thielaviopsis paradoxa (De Seynes) Honhel (58.4%) Colletotrichum gloeosporioides section (19.48%), Rhizopus stolonifer (Ehrenberg) Vuillemin (15.58%), Mucor sp. (3.90%), and Mycelia sterilia (2.60%). Based on the level of findings, the fungus Thielaviopsis paradoxa was the main causative microorganisms of rot disease on the salak pondoh\u27s taper tip.AbstrakBuah salak (Salacca edulis Reinw.) yang tidak ditangani dengan baik selama distribusi dan pemasaran akan rusak. Kerusakan terbesar adalah karena penyakit busuk ujung lancip buah salak yang berdampak pada kehilangan pascapanen dan penolakan pasar. Tujuan penelitian ini ialah mengkaji pola rantai pasok salak pondoh, jenis mikroorganisme penyebab penyakit busuk ujung lancip buah salak, dan besarnya tingkat kehilangan pascapanen yang disebabkannya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei untuk memperoleh pola rantai pasok salak pondoh dan tingkat kehilangan pascapanen. Survei (wawancara dan observasi) dilakukan di setiap pelaku rantai pasok di sentra produksi salak pondoh, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pengamatan laboratorium untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab penyakit dilakukan dengan metode isolasi spora tunggal pada PDA dan pengamatan morfologi cendawan. Hasil investigasi pola rantai pasok di Kabupaten Sleman secara umum terdapat tiga pola yaitu rantai pasok untuk distribusi pasar tradisional, pasar modern dan pasar ekspor. Total kehilangan pascapanen sepanjang rantai pasoknya masing-masing adalah 22.89%, 11.27%, dan 6.26%. Hasil isolasi diperoleh lima isolat cendawan yaitu Thielaviopsis paradoxa (De Seynes) Honhel (58.4%), Colletotrichum gloeosporioides section (19.48%), Rhizopus stolonifer (Ehrenberg) Vuillemin (15.58%), Mucor sp. (3.90%), dan Mycelia sterilia (2.60%). Berdasarkan besarnya tingkat temuan, cendawan Thielaviopsis paradoxa merupakan mikroorganisme penyebab utama busuk ujung lancip buah salak pondoh

    Studi Variasi Kuat Medan Listrik PEF dan Metode Pengeringan Bahan Terhadap Senyawa Antioksidan Ekstrak Daun Torbangun (Coleus amboinicus L.)

    No full text
    AbstractTorbangun leaf (Coleus amboinicus L.) is an Indonesian plant containing phenolic and flavonoid compounds that act as antioxidants. One method widely used to extract antioxidants from plants is maceration. However, maceration has disadvantages such as time- and solvent-consuming also gives a low yield. Therefore, to solve these disadvantages, the extraction of antioxidant compounds from torbangun leaves has been done using the maceration method with Pulsed Electric Field (PEF) as pretreatment. Before the extraction process, freshtorbangun leaves were dried by using two methods: oven and microwave. Next, torbangun dried-leaves were pretreated by using PEF at various electric field strengths (1.5; 2; 2.5; 3; and 3.5 kV/cm) for 20 seconds and followed by a four hours maceration process. Total phenolic content (TPC) and total flavonoid content (TFC) of extracts were then analyzed using Folin Ciocalteau and Calorimetric AlCl3 methods, respectively. While antioxidant activity (IC50) was determined using 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). The results showed that the best result was obtained on microwave-dried material with PEF pretreatment at 2.5 kV/cm, yielding extract yield of 18.85% with TPC, TFC and IC50 were 60.16 mg GAE/g dw, 34.94 mg QE/g dw, and 0.98 mg/ml, respectively.AbstrakDaun torbangun (Coleus amboinicus L.) merupakan tanaman etnobotani Indonesia yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang dapat berperan sebagai antioksidan. Salah satu metode yang banyakdigunakan untuk mengekstraksi antioksidan dari tanaman adalah maserasi. Namun, maserasi mempunyai kelemahan yaitu lamanya waktu dan banyaknya pelarut yang digunakan untuk ekstraksi, serta rendahnyakandungan senyawa antioksidan yang terekstrak. Oleh karena itu, pada penelitian ini, proses ekstraksi antioksidan dari daun torbangun dilakukan dengan metode maserasi yang dimodifikasi dengan pretreatmentmenggunakan Pulse Electric Field (PEF) guna mempersingkat waktu ekstraksi, meminimalkan penggunaan pelarut dan meningkatkan kandungan senyawa antioksidan, khususnya senyawa fenolik. Sebelum dilakukan proses ekstraksi, daun torbangun dikeringkan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode oven dan microwave. Selanjutnya, daun torbangun kering di-pretreatment dengan PEF pada berbagai variasi kuat medan listrik (1.5; 2; 2.5; 3; dan 3.5 kV/cm) selama 20 detik dan dilanjutkan dengan proses maserasi selama 4 jam.Larutan ekstrak yang diperoleh kemudian dianalisis kandungan total fenolik (Total Phenolic Content, TPC) dan flavonoidnya (Total Flavonoid Content, TFC) serta aktivitas antioksidannya (IC50). Analisis TPC dan TFC masingmasing dilakukan dengan metode Folin Ciocalteu dan kalorimetri AlCl3, sedangkan pengujian IC50 dilakukan dengan menggunakan metode 1,1-difenil-2-pikrihidrazil (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tertinggi diperoleh pada daun torbangun yang dikeringkan dengan microwave (daya 450 watt selama 4 menit) dan di-pretreatment menggunakan PEF pada kuat medan listrik 2.5 kV/cm, menghasilkan rendemen ekstrak sebanyak 18.85% dengan TPC, TFC dan IC50 masing-masing sebesar 60.16 mg GAE/g dw, 34.94 mg QE/g dw, dan 0.98 mg/ml

    Teknik Pengemasan Jagung Pipil untuk Meminimumkan Kadar Aflatoksin

    No full text
    AbstractThe application of hermetic storage, which is a type of modified atmosphere, effectively reduced the growth of Aspergillus flavus during storage and therefore limit the aflatoxin production. However, its relatively high cost isa major obstacle for its adoption by smallholder farmers and traders. The preparation of two layers of HDPE and polypropylene plastic packaging that is expected to limit the aflatoxin production and prevent the mold growthduring storage. The experimental design used in this study was a completely randomized factorial design. The first factor consisted of three levels: plastic bag (J0), multi-layered plastic packaging composed of plastic bag and hermetic GrainPro bag (J1), and multi-layered plastic packaging composed of plastic bag, high density polyethylene (HDPE), and polypropylene bag (J2). Furthermore, the second factor comprised two levels: without inoculation (M0) and with inoculation (M1). The maize grains that had been stored for three months in J1 and J2packaging at 12-13% moisture levels has been able to maintain material moisture content remains low. In these two packaging, the percentage of aflatoxin infection was around 2% during three months. On the other hand, the maize grains that had been stored in J1 and J2 packaging at 17-18% moisture content showed that the material moisture content remains high during storage. The fungal infection percentage attain 3-17% in both two types of packaging. Storing the maize grains in J2 packaging with high moisture levels during three months at risk of being contaminated by aflatoxin and seed fermentation.AbstrakPenyimpanan jagung melalui modifikasi atmosfer yang terbentuk pada kemasan hermetik telah mampu menghambat pertumbuhan cendawan dan produksi aflatoksin. Namun, kemasan hermetik merupakan produk impor dan harganya relatif mahal untuk diterapkan di tingkat petani dan pedagang pengumpul. Penyusunan dualapis kemasan berbahan plastik HDPE dan polipropilen diharapkan mampu menekan produksi aflatoksin dan menghambat pertumbuhan cendawan selama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah jenis kemasan dengan 3 taraf, yaitu (J0) karung plastik, (J1) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik hermetik GrainPro, dan (J2) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik HDPE+plastik polipropilen. Faktor kedua adalah inokulasi sumber inokulum dengan 2 taraf, yaitu (M0) tanpa inokulasi sumber inokulum, dan (M1) dengan inokulasi sumberinokulum. Jagung pipil yang telah disimpan selama 3 bulan pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air rendah (12-13%) telah mampu mempertahankan kadar air bahan tetap rendah. Di kedua jenis kemasan tersebut, persen infeksi cendawan masih sekitar 2% setelah disimpan selama 3 bulan. Sementara itu, penyimpanan jagung pipil pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air tinggi (17-18%) menunjukkan bahwa kadar air bahan tetap tinggi selama penyimpanan. Persen infeksi cendawan mencapai 3-17% pada kedua jenis kemasan tersebut. Penyimpanan jagung pipil dengan kemasan J2 pada kadar air tinggi selama 3 bulan beresiko tercemar aflatoksin serta biji mengalami fermentasi

    Desain Ergonomis Sistem Penggandengan Trailer pada Traktor Roda Dua

    No full text
    AbstractThe existing hitch system which pulled trailer on the two-wheel tractor had disadvantages when turning it, the tractor handlebar moved away from operator control, consequently the handlebar position is already beyond the operator control range so the operator had to bend. For a larger radius turning, the operator had to descend from operator seat. The purpose of this study was to design an ergonomic trailer hitching system for Indonesian operator. Prototype tests carried out include performance and functional testing. The pivot type trailer hitching system was the most superiortype compare to the other concept. With the design of this system the operator\u27s position is fixed to the handlebars of the two-wheeled tractor, both in straight and turn operations, so that theoperator can fully control the two-wheeled tractor along with all the control levers. The ideal dimension of the operator seat were seat height of 410 mm, backrest distance of 1700 mm, seat length of 320 mm, and seat width of 300 mm. Two-wheel tractor with pivot type trailer hitching system has a turning radius of 2.18 m - 2.82 m better than existing system of 3.72 m - 4.03 m.AbstrakSistem penggandengan konvensional untuk menarik trailer pada traktor roda dua memiliki kelemahan pada saat berbelok, stang traktor bergerak menjauh dari posisi kendali operator, akibatnya posisi stang sudahberada di luar kendali jangkauan operator sehingga operator harus membungkuk. Untuk belokan dengan sudut yang lebih besar operator harus turun dari tempat duduk operator untuk dapat mengendalikan traktor. Tujuan penelitian adalah untuk mendesain sistem penggandengan trailer yang ergonomis untuk operator Indonesia.Pengujian-pengujian prototipe yang dilakukan meliputi pengujian kinerja dan fungsional. Sistem penggandengan trailer tipe pivot merupakan yang paling unggul dibandingkan dengan konsep-konsep lainnya. Dengan desain sistem ini posisi operator adalah tetap terhadap alat-alat kendali traktor, baik dalam keadaan berjalan lurus maupun berbelok, sehingga operator dapat sepenuhnya mengendalikan traktor roda dua beserta semua tuastuas kendalinya. Dimensi-dimensi ideal tempat duduk operator (seat) adalah tinggi tempat duduk (Td) 410 mm, jarak sandaran duduk (Jd) 1700 mm, panjang tempat duduk (Pd) 320 mm, dan lebar tempat duduk (Ld) 300 mm. Traktor roda dua dengan sistem penggandengan tipe pivot memiliki radius putar 2.18 m – 2.82 m, lebih baik dibandingkan sistem konvensional yaitu 3.72 m – 4.03 m

    Pengaruh Receiver Terhadap Kinerja Refrigerasi Mesin Pembeku

    No full text
    AbstractFreezing is the best method to preserve the quality of food for a long period of time compared to other technologies such as drying and canning. Technology of freezing requires more energy than other preservation technologies, however. Therefore, an energy efficient freezer is needed. This research aims to the effect of utilization of a receiver to improve the freezer performance efficency. The research is conducted on freezer used to cool and freeze 1 kg of water from a temperature of 27oC to -14oC, then a receiver is installed in the freezer and the same research is conducted (the type and setting of expansion valve and test materials are the same). The refrigerant medium is R404A working fluid. The receiver is installed between condenser and filter dryer in the system circuit of the freezer. The result shows that the utilization of receiver increases the coefficent of performance (COP) from 2.24 to 2.69 and reduce the electricity consumption. The time required for freezing becomes shorter particularly on the transition of liquid to solid phase (ice) . Consequently, the freezing rate becomes quicker and provides advantages for application of food freezing.AbstrakPembekuan merupakan metode yang paling baik untuk menjaga kualitas makanan dalam jangka waktu lama, dibanding dengan teknologi lain seperti pengeringan dan pengalengan. Namun teknologi pembekuan membutuhkan lebih banyak energi daripada teknologi pengawetan lainnya, karena itu diperlukan mesin pembeku yang hemat energi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan receiver untuk meningkatkan efisiensi kinerja mesin pembeku. Penelitian dilakukan pada mesin pembeku yang digunakan untuk mendinginkan dan membekukan air 1 kg dari suhu 27oC sampai -14oC, selanjutnya penelitian mesin pembeku ditambahkan receiver dan dilakukan penelitian yang sama (bukaan katup ekpansi diatur tetap dan sama, serta bahan uji dilakukan dalam kondisi sama). Media pendingin menggunakan fluida kerja R404A. Receiver diletakkan di antara kondensor dan filter dryer pada rangkaian sistem mesin pembeku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan receiver pada mesin pembeku berdampak pada peningkataan koefisien kinerja (COP) dari 2.24 menjadi 2.69, dan terjadi penghematan konsumsi energi listrik. Waktu proses pembekuan menjadi lebih singkat, khususnya pada tahap perubahan fase cair menjadi es, sehingga laju pembekuan menjadi lebih cepat dan memberi keuntungan untuk penerapan pada pembekuan bahan pangan

    Penundaan Kematangan Menggunakan Oksidan Etilen dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Fisiologi Pisang Barangan

    No full text
    AbstractEthylene oxidants were used to delay Barangan banana ripening at ambient temperature. However, a few information about the effect of ripening delay to fruit physiological quality after treatment that has been reported. This study was performed to examine the effects of ripening delay using ethylene oxidants to fruit quality during storage, ripening process, and display period. The experimental design was usedrandomize complete design with two factors consisting 2 levels of picking date and 3 levels of delaying duration. Ethylene oxidants (KMnO4 and zeolite powder) were packaged into sachets and applied to banana packaging. Observed quality parameters were peel color, hardness and TSS content. The results indicated that ethylene oxidants application effectively delayed Barangan banana ripening at 25±2°C compared to control. Banana picked at 10 weeks after flower cutting (WAFC) has longer green life period than 11 WAFC. Ripening delay treatment did not detrimentally affect fruits quality. The fruits ripened normally and attain optimum TSS as the control. Overall, the quality parameters at the display period were not significantly different (α<0.05) between control and treated fruit. Duration of ripening delay did not affect the whole parameters of fruit quality, while the picking date affects Hue color and TSS.AbstrakOksidan etilen telah digunakan untuk menunda kematangan Pisang Barangan pada suhu lingkungan, namun masih sedikit penelitian yang mengkaji efek penundaan kematangan terhadap mutu fisiologi buah pasca-perlakuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji efek penundaan kematangan menggunakan oksidan etilen terhadap mutu buah selama penyimpanan, proses pematangan, dan pemajangan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor meliputi 2 taraf umur petik dan 3 taraf durasi penundaan kematangan. Oksidan etilen (KMnO4 dan zeolit 200 mesh) dikemas dalam bentuk sachet dan diaplikasikan pada kemasan pisang. Parameter mutu yang diamati meliputi warna kulit, kekerasan dan TPT. Hasil pengamatan menunjukkan aplikasi oksidan etilensecara efektif dapat menunda kematangan pisang Barangan pada 25±2°C dibandingkan kontrol. Pisang yang dipetik umur 10 minggu setelah potong ontong (MSPO) umur simpannya lebih lama dibandingkan 11 MSPO. Perlakuan penundaan kematangan tidak memberikan efek yang mengganggu terhadap mutu buah pasca-perlakuan. Buah matang secara alami dan mencapai kandungan TPT setara dengan kontrol. Secara keseluruhan, parameter mutu buah dengan perlakuan dan kontrol selama pemajangan tidak berbeda nyata (α<0.05). Durasi penundaan kematangan tidak berpengaruh terhadap seluruh parameter mutu, sedangkan umur petik berpengaruh terhadap warna Hue dan TPT

    Variasi Intersepsi Cahaya dan Model Pendugaan Biomassa Tanaman Bayam Merah (Amaranthus gangeticus) dalam Sistem Plant-Factory

    No full text
    AbstractArtificial lighting given in plant-factory planting system is inseparable from uniformity problem. Spatial variation in the catch of light (radiation) will occur due to the position of the plant against the lamp. The purpose of this research was; a) to determine the relationship between biomass growth and the intensity of artificial irradiation in plant-factory systems, and b) to apply the mechanical model of plant growth basedon radiation interception and temperature. Six boxes containing red spinach plants were placed on plant factory system in the form of two racks (each rack is placed 3 boxes). In each box, intercepted light was measured and then converted to radiation value. The air temperature in plant-factory space was measured during growth to harvest. Observations showed that there was a difference in light interception in plantfactorygrowing spaces that caused variations in plant biomass growth. Mathematical models were used to predict the relationship between light interception and biomass growth. This research concludes that the variation of light occurring in plant-factory planting cannot be ignored, as this leads to markedly different plant-end biomass differences. Modeling can be applied to design optimal lighting to improve plant biomass.AbstrakPencahayaan buatan yang diberikan dalam sistem penanaman dalam ruang (plant factory) tidak terlepas dari masalah keseragaman. Variasi spasial dalam tangkapan cahaya (radiasi) akan terjadi karena posisi tanaman terhadap lampu. Tujuan dari penelitian ini adalah; a) untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan biomassa dan intensitas penyinaran buatan dalam sistem plant-factory, dan b) menerapkanmodel mekanik pertumbuhan tanaman berdasarkan intersepsi radiasi dan temperatur. Enam buah kotak berisi tanaman bayam merah diletakkan pada sistem plant factory berupa dua buah rak (masing-masing rak ditempatkan 3 buah kotak). Pada masing-masing kotak diukur cahaya terintersepsi yang kemudiandikonversi menjadi nilai radiasi. Suhu udara dalam ruang plant-factory diukur selama pertumbuhan hingga panen. Pengamatan menunjukkan bahwa dalam ruang tumbuh plant-factory terdapat perbedaan intersepsi cahaya yang menyebabkan adanya variasi pada pertumbuhan biomassa tanaman. Model matematikadigunakan untuk memprediksi hubungan antara intersepsi cahaya dan pertumbuhan biomassa. Kesimpulan menunjukkan bahwa variasi cahaya yang terjadi dalam penanaman sistem plant-factory tidak dapat diabaikan, karena menyebabkan terjadinya perbedaan biomassa akhir tanaman yang cukup tajam. Permodelan dapat diterapkan untuk merancang pemberian cahaya yang optimal untuk meningkatkanbiomassa tanaman

    Simulasi Kecepatan Udara dan Pengaruhnya Terhadap Suhu dan Kelembaban Relatif pada Mini Plant Factory

    No full text
    AbstractLimited land for agricultural cultivation, especially in urban areas, makes it difficult to provide healthy and sustainable food. This research is part of the development of the Smart Mini Plant Factory (SMIPY), a household scale mini plant factory used for vegetable production using hydroponic technology to support urban farming. SMIPY is equipped with sensors for monitoring environmental conditions, automatic nutrition control systems, and artificial lighting using Light Emitting Diode (LED). In particular, this researchaims to simulate airflow and analyze its effects on temperature and relative humidity inside SMIPY using Computational Fluid Dynamics (CFD). Data validation were done by collecting temperature and relative humidity inside SMIPY with air velocity 0 m/s, 1 m/s, 1.5 m/s and 1.8 m/s. The error obtained from thedata in temperature and relative humidity were 1.69+1.47% and 2.94+1.57% respectively. Thus, the result showed that the CFD simulation was reliable to predict temperature and humidity inside SMIPY. The airflow moved vertically, but an air turbulance occured between two opposite air inlets. The higher the air velocity, the lower the temperature and the higher the relative humidity.AbstrakTerbatasnya lahan untuk kegiatan budidaya pertanian terutama di wilayah perkotaan menyebabkan sulitnya penyediaan pangan sehat dan berkelanjutan. Penelitian ini merupakan bagian dari pengembanganSmart Mini Plant Factory (SMIPY) yaitu mini plant factory skala rumah tangga yang digunakan untuk produksi sayuran menggunakan teknologi hidroponik untuk mendukung urban farming. SMIPY dilengkapi dengansensor untuk monitoring kondisi lingkungan, sistem kendali nutrisi otomatis, serta pencahayaan buatan (artificial lighting) menggunakan Light Emitting Diode (LED). Secara khusus penelitian ini bertujuan untukmelakukan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk menganalisis pola dan pengaruh aliran udara terhadap keadaan lingkungan pada SMIPY. Validasi data dilakukan dengan mengambil data suhu dan kelembaban relatif pada kecepatan udara 0 m/dt, 1 m/dt, 1.5 m/dt dan 1.8 m/dt. Dari data didapatkan bahwa rata-rata error yang dihasilkan dari simulasi adalah 1.69+1.47% untuk suhu dan 2.94+1.57% untuk kelembaban relatif, sehingga simulasi baik untuk digunakan dalam memprediksi keadaan lingkungan dalam SMIPY. Pola aliran udara secara umum adalah bergerak secara vertikal, namun terjadi turbulensidi titik pertemuan kedua aliran udara dari kipas yang berhadapan. Semakin besar kecepatan udara, maka suhu menjadi semakin rendah dan kelembaban relatif menjadi semakin tinggi

    Modifikasi Instrumen NIR untuk Penentuan Kandungan Kimia Bahan Organik secara Cepat dan Non Destruktif

    No full text
    AbstractNIRS has been successfully applied to determine chemical content of various materials. However, the commercial NIR instrument can not measure many samples in one measurement time so the faster measurement can not be realized. The purpose of this research are (1) to modify NIR instrument designedby Budiastra et al. (1998) so it can be used to measure absorbance of some samples in one measurement time, and (2) to test the performance of the modified NIR instrument in measuring the absorbance of coffee. The modified NIR instrument consists of optical unit, electronic unit and mechanical unit (auto-sample holder). A new mechanical unit (auto-sample holder) has been developed to measure reflectance of some samples automatically. The performance of modified NIR instrument was evaluated by its consistency, delay time, detect ability for different water content and compared to other NIR instrument. The consistency of instrument is high with the percentage of homogeneity of 98.65%. The optimal delay of measurement is 200 ms. The modified NIR instrument is able to measure the different water content of coffee. The modified NIR instrument have same pattern of absorbance characteristic and higher than other NIR instrument, since the modified NIR instrument used integrating sphere and a large amplifier signal amplification.AbstrakNIRS telah berhasil dimanfaatkan untuk menentukan kandungan kimia berbagai macam bahan. Namun, instrumen NIR komersial tidak dapat mengukur banyak sampel dalam satu waktu pengukuran, sehingga pengukuran dengan waktu yang lebih cepat tidak tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) memodifikasi instrumen NIR hasil desain Budiastra et al. (1998) supaya dapat digunakan untuk mengukur beberapa sampel dalam satu waktu pengukuran dan (2) menguji kinerja instrumen NIR hasil modifikasi untuk mengukur absorbansi dari biji kopi. Instrumen NIR hasil modifikasi terdiri dari unit optik, unit elektronikdan unit mekanis (auto-sample holder). Unit mekanis (auto-sample holder) dibuat untuk mengukur reflektan beberapa sampel secara otomatis. Kinerja instrumen NIR hasil modifikasi dievaluasi berdasarkan konsistensi, waktu delay, kemampuan mendeteksi perbedaan kadar air dan perbandingan dengan alat NIR lain. Konsistensi hasil pengukuran instrumen NIR menunjukkan nilai yang tinggi dengan persentase kehomogenan sebesar 98.65%. Delay optimal pengukuran sebesar 200 ms. Instrumen NIR hasil modifikasi mampu mengukur kadar air biji kopi yang berbeda. Instrumen NIR hasil modifikasi mempunyai polakarakteristik absorbansi yang sama dan lebih tinggi daripada instrumen NIR lain, dikarenakan instrumen NIR menggunakan integrating sphere dan penguatan sinyal amplifier yang besar

    238

    full texts

    627

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keteknikan Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇