KURVA S JURNAL MAHASISWA
Not a member yet
896 research outputs found
Sort by
SISTEM PENGENDALIAN WAKTU DENGAN METODE CPM ( CRITICAL PATH METHOD ) DAN PERT ( PROGRAM EVALUATION REVIEW TECHNIC ) PADA PEKERJAAN PEMBANGUNAN KANTOR GARASI & BARAK, GUDANG YONKAV-13/SL KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR ( PAKET-V )
Manajemen waktu proyek dengan tahapan mendefinisikan proses-proses yang perlu dilakukan selama proyek berlangsung berkaitan dengan penjaminan agar proyek dapat berjalan tepat waktu dengan tetap memperhatikan keterbatasan biaya serta penjagaan kualitas produk/service/hasil unik dari proyek. Tujuan dari studi kasus ini yaitu mengoptimalkan dan mentukan lintasan kritis dengan metode Critical Path Method (CPM) dan Project Evaluation Review Technique (PERT) dan dicari metode mana yang paling optimal penggunaannya. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data time schedule yang diperoleh dari PT. Naura Libra Jaya yang menangani rencana penjadwalan proyek pekerjaan pembangunan kantor & garasi, gudang yonkav-13/SL kutai kartanegara kalimantan timur (paket-v) pada bulan Juni 2016. Dari data tersebut dapat dihitung lintasan kritis dan nilai optimum dengan membuat tahap-tahap penyelesaian yaitu, meyusun daftar rencana kegiatan pelaksanaan pembangunan proyek, menyusun network planning, menentukan perhitungan maju dan mundur. Durasi optimal penyelesaian pekerjaan peningkatan pada proyek pembangunan kantor garasi & barak, gudang yonkav-13/SL kutai kartanegara kaltim (paket-v) yang didapat dalam menggunakan metode CPM adalah 117 hari sedangkan, metode PERT 87 hari, sehingga dapat dikatakan waktu yang lebih cepat adalah metode PERT
ANALISIS KERUSAKAN DAN STRATEGI PENANGANAN RUAS JALAN SULTAN SULAIMAN KOTA SAMARINDA
Jalan merupakan prasarana transportasi yang sangat berperan penting dalam mengalirkan arus lalu lintas. Saat ada ruas jalan yang terjadi kerusakan, maka akan berdampak yang cukup besar pada arus lalu lintas. Kerusakan jalan dapat dianalisis untuk mengetahui penyebab terjadinya dan alternatif penyelesainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kerusakan jalan dan nilai kondisi perkerasan jalan sehingga dapat menentukan cara perbaikannya. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Pavement Condition Index (PCI). berdasarkan nilai prioritas Direktorat Jenderal Bina Marga dan Manual Pemeliharaan Rutin Untuk Jalan Nasional dan Jalan Propinsi. Penelitian dilakukan dengan mencari data primer dengan mengukur luasan masing-masing kerusakan dengan menggunakan mistar . Data sekunder didapat dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Propinsi Kalimantan Timur Bidang Bina Marga. Berdasarkan hasil evaluasi kondisi perkerasan jalan Sultan Sulaiman (Sta.0+000 sampai dengan Sta.9+000), Pavement Condition Index (PCI) sebesar 52,57 untuk rata-rata secara keseluruhan berdasarkan rating nilai PCI antara 41 s/d 55 dalam kondisi (sedang) dan nilai yang diberikan oleh Bina Marga sebesar 10 berdasarkan nilai prioritas bina marga antara 7 s/d 10 maka dilakukan pemeliharaan rutin
PERENCANAAN LAMARU RESORT BEACH BALIKPAPAN DENGAN PENDEKATAN EKOLOGI ARSITEKTUR
Laporan ini bertujuan untuk mengembangkan bangunan akomodasi di Balikpapan dengan destinasi wisata di kawasan pantai yang menggunakan penekanan ekologi arsitektur,di Jln. Mulawarman Balikpapan Timur, Laporan ini memberikan akomodasi yang berbeda dari penginapanpenginapan lain di Balikpapan yang kebanyakan penginapan dengan konsep bisnis. Perencanaan ini merupakan bentuk banyaknya para wisatawan dari mancanegara yang dating untuk berkunkung ketempat wisata yang ada di Balikpapan khususnya Pantai Lamaru ,faktor ini lah yang membuat penulis merencanakan Saranan Akomodasi di Pantai untuk memberikan fasilitas yang nyaman bagi para pengunjung yang ingin bermalam menikmati suasana pantai Lamaru,Balikpapan
PERENCANAAN KAWASAN WISATA SENTRAL TENUN DI KAWASAN KAMPUNG TENUN SAMARINDA
Pariwisata sudah ada semenjak adanya perjalanan manusia dari suatu tempat ke tempat lain dan perkembangannya sesuai dengan sosial budaya masyarakat itu sendiri. Munculnya pariwisata di Indonesia dalam sejarah nusantara, diketahui bahwa kebiasaan mengadakan perjalanan telah dijumpai sejak lama.Dalam buku Nagara Kartagama, pada abad XIV, raja Hayam Wuruk telah mengelilingi Majapahit dengan diikuti oleh pejabat negara. Ia menjelajahi daerah Jawa Timur dengan mengendarai pedati. Dari sinilah, pariwisata di Indonesia terus berkembang sesuai dengan keadaan politik, sosial dan budaya masyarakatnya. Kemajuan pesat pariwisata di Indonesia tidak terlepas dari usaha yang dirintis sejak beberapa puluh tahun yang lalu. ( Suwena & Ngurah, hal.5, 2017).Indonesia memiliki berbagai macam tempat wisata, diantaranya adalah wisata laut dan pantai, pegunungan, danau, hutan dan budaya. Salah satu tempat wisata budaya yang ada di Indonesia adalah Kampung Tenun. Kampung Tenun merupakan pusat pengerajin kain tenun yang ada di Kota Samarinda. Kerajinan tenun sarung ini pada mulanya dibawa oleh pendatang suku Bugis dari Sulawesi Selatan yang berdiam di kawasan Tanah Rendah atau saat ini adalah Samarinda Seberang sejak tahun 1668 yang menjadi cikal - bakal pendirian Kota Samarinda. Pada tahun 1985 pengerajin kain tenun mulai berkembang di Kawasan Kampung Tenun.Pada saat itu alat yang digunakan untuk menenun adalah Gedokan. Alat ini terbuat dari bahan kayu dan bambu yang fungsinya untuk mengaitkan benang lungsi. Menenun dengan menggunakan alat gedokan menghasilkan kain tenun yang berkualitas dan memliki nilai jual yang tinggi karena dikerjakan dengan sangat cermat dan teliti namun memakan waktu yang cukup lama dalam proses pembuatannya.Pada tahun 1980-an hingga saat ini, alat tenun beralih menjadi ATBM atau Alat Tenun Bukan Mesin. Alat ini dapat menghasilkan sebuah kain tenun dalam waktu satu atau dua hari, sehingga pengerajin tenun beralih menggunakan ATBM karena proses pembuatannya terbilang lebih cepat dari alat tenun Gendokan. Namun kualitas kain yang dihasilkan dari ATBM lebih rendah jika dibandingkan dengan kain tenun dari alat gedokan, karena apabila ada benang yang putus maka akan tampak pada kain yang dihasilkan.Pada tanggal 14 Maret 2012 lalu Kecamatan Samarinda Seberang ditetapkan sebagai Kampung Wisata Tenun Samarinda. Kawasan ini direncanakan sebagai salah satu obyek wisata andalan Kalimantan Timur dan rumah kelahiran dari Sarung Samarinda sendiri dijadikan Cagar Budaya Rumah Adat.Namun wajah atau ciri khas dari Kampung Tenun itu sendiri masih belum terlihat hingga saat ini. Penanda untuk kawasan wisata Kampung Tenun itu sendiri menggunakan gapura besar yang terletak dekat dengan Jembatan Pasar Sore dan Rumah Adat Cagar Budaya. Letak rumah rumah pengerajin tenun yang diteras rumah nya terdapat ATBM mayoritas berada di dalam gang gang sempit dan boardwalk dari kayu ulin sehingga kurangnya daya tarik wisatawan.Dari beberapa hasil survey didapat yaitu kurangnya sarana dan prasarana penunjang kepariwisataan seperti tidak tersedianya area parkir bagi wisatawan yang ingin berkunjung, tidak tersedianya pusat informasi mengenai Kampung Tenun, aksesbilitas air yaitu dermaga tudak memenuhi standar keamanan, kurangnya toilet umum bagi wisatawan, tidak tersedianya pedestrian bagi pengunjung maupun bagi masyarakat sekitar.Melihat permasalahan yang ada di atas, sehingga pada perencanaan Kawasan Wisata Sentral Tenun akan dibangun prasarana kepariwisataan seperti Galeri, pusat informasi dan tempat pelatihan menenun atau workshop. Menyediakan fasilitas, sarana & prasarana penunjang wisata seperti area parkir, outlet penjualan kain tenun dan pujasera. Wisata Sentral Tenun ini juga dapat menjadi tempat edukasi bagi masyarakat sehingga dapat menarik wisatawan lokal.Diharapkan dengan adanya Perencanaan Kawasan Wisata Sentral Tenun di Samarinda yang didukung dengan fasilitas ataupun sarana dan prasarana penunjang pariwisata, dapat meningkatkan potensi wisata kampung Kampung Tenun yang juga terhubung dengan sejarah masjid tua Sirathal Mustaqiem damakam Lamohang Daeng Mangkona, dapat memfasilitasi pengunjung yang datang sesuai dengan kebutuhannya, dan juga membawa pengaruh positif terhadap masyarakat Kampung Tenun. Selain itu Perencanaan Kawasan Wisata Sentral Tenun ini juga diharapkan dapat menjadi ikon wisata khas Samarinda
ANALISA PERBANDINGAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK) DALAM PEMILIHAN RUTE PERJALANAN (Lokasi Studi : Terminal Lempake - Terminal Sungai Kunjang
Dalam pemilihan rute ada beberapa hal yang mengakibatkan sering terjadinya kemacetan lalu lintas yang terlihat jelas dalam bentuk antrian panjang, tundaan, dan juga polusi suara maupun udara. Masalah kemacetan pada lalu lintas jelas akan menimbulkan kerugian yang sangat besar pada angkutan umum, terutama dalam hal waktu penundaan yang terlalu lama membuat waktu tempuh perjalanan angkutan umum dari suatu tempat ke tempat yang lainnya menjadi sangat lambat, peningkatan pemakaian bahan bakar yang akan mempengaruhi naiknya biaya operasional kendaraan, dan juga ketidaknyamanan. Pemilihan rute Terminal Bus Lempake – Terminal Bus Sungai Kunjang masyarakat lebih memilih R1 dibandingan R2 karena sudah terbiasa dan dianggap rute terpendek, padahal belum tentu R1 tersebut optimal dari segi waktu tempuh. Sebagai contoh, terkadang rute yang pendek mempunyai tingkat kemacetan da n k er u sa k an j al a n yang lebih tinggi sehingga waktu tempuh lebih lama dibanding rute yang sedikit lebih panjang tetapi tingkat kemacetan lebih rendah. Dalam penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis BOK kendaraan pada pemilihan rute, berdasarkan hasil dari analisis perbedaan waktu tempuh pada R1 arah berangkat 24,15 menit dengan kecepatan 41,83 km/jam, sedangkan R1 arah balik 23,87 menit dengan kecepatan 42,31 km/jam, pada R2 arah berangkat 21,05 menit dengan kecepatan 42,53 km/jam, sedangkan R2 arah balik 22,68 menit dengan kecepatan 40,21 km/jam. Perbedaan biaya operasioanal kendaraan pada rute terminal lempake - terminal sungai kunjang berdasarkan hasil analisis R1 dengan panjang jalan 16,83 km pada arah berangkat Rp. 290.728 sedangkan R1 arah balik Rp. 288.566, dan R2 dengan panjang jalan 14,92 km pada arah berangkat Rp. 256.110 sedangkan R2 dengan panjang 15,19 pada arah balik Rp. 270.52
ANALISIS KERUSAKAN DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA PENANGANAN RUAS JALAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA (Studi Kasus : Simpang 3 Batas Kota Tenggarong – Desa Jahab)
Ruas Jalan Kutai Kartanegara (Simpang 3 batas kota Tenggarong – Desa Jahab) dengan panjang ruas 10 km dan lebar 7 meter, Lapisan permukaan menggunakan perkerasan lentur (flexible pavement). Ruas jalan sangat ramai lalu lintasnya karena jalan tersebut merupakan Jalan Nasional yang menghubungkan antar Kabupaten. Peningkatan Volume laulu Lintas pada ruas jalan tersebut dari tahun ke tahun mengakibatkan menurunnya kemampuan jalan untuk menerima beban di atasnya. Tingginya frekuensi kendaraan yang lewat di atas permukaan jalan yang ada menyebabkan turunnya tingkat pelayan jalan. Adanya retak-retak (crack), pengelupasam (raveling) dan lubang-lubang (potholes) pada permukaan jalan merupakan bukti bahwa jalan mengalami penurunan tingkat pelayanan atau jalan dalam kondisi rusak. Kerusakankerusakan kecil yang tidak segera diantisipasi penangannya menyebabkan kerusakan yang terjadi semakin parah, pengaruhnya semakin luas serta mengurangi kapasitas jalan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kerusakan jalan dan tingkat kerusakan jalan berdasarkan nilai Pavement Condition Index (PCI), berdasarkan nilai prioritas Direktorat Jenderal Bina Marga. Penelitian dilakukan dengan mencari data primer dengan mengukur luasan masing-masing kerusakan dengan menggunakan mistar . Data sekunder didapat dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Propinsi Kalimantan Timur Bidang Bina Marga. Hasil penelitian kondisi ruas jalan dengan metode pavement condition index (PCI) didapat secara keseluruhan nilai PCI ratarata sebesar 58,33. Klasifikasi perkerasan jalur simpang 3 batas kota tenggarong – desa jahab berdasarkan rating kondisi jalan adalah fair dan nilai yang diberikan oleh Bina Marga sebesar 9,83 berdasarkan nilai urutan prioritas 7 dan seterusnya ruas jalan tersebut dimasukan ke dalam program Pemeliharaan Rutin. Analisa rencana anggaran biaya untuk penanganan pekerjaan overlay dengan panjang ruas 10 km dan lebar 7 pada ruas jalan Kabupaten Kutai Kartanegara (Simpang 3 batas Kota Tenggarong – Desa Jahab) Sebesar Rp.33.464.145.000,
ANALISA DAYA TAMPUNG SALURAN DRAINASE PADA JALAN DURIAN II KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR
Drainase pada ruas Jalan Durian II Kabupaten Berau Kalimantan Timur, sering dilanda banjir pada musim penghujan sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas. Dengan kapasitas penduduk yang mulai padat dan kondisi lingkungan daerah ini sudah terlihat tidak efesien lagi dalam menghadapi musim penghujan ini. Terlihat dari seringnya banjir yang terjadi yang sangat merugikan masyarakat dalam aktifitas sehari-hari dan juga merugikan dalam segi sarana dan prasarana dari daerah ini, seperti jalan yang terkikis oleh banjir. Untuk menangani permasalahan banjir di Jalan Durian II Kabupaten Berau Kalimantan Timur ini perlu ditinjau kondisi eksisting saluran dengan menghitung hujan rancangan dengan metode Gumbel dan Metode log person type III, kemudian menghitung debit banjir rancangan dengan metode manning. Hasil penelitian menunjukkan dalam jangka waktu 25 tahun seluruh saluran tidak mampu menampung debit air, sehingga diperlukan perubahan dimensi yang lebih besar yaitu lebar 2,00 m dan tinggi 2,00
PERENCANAAN GEDUNG PMI DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR FUTURISTIK
Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. PMI selalu berpegang teguh pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Perencanaan Palang merah Indonesia (PMI) dengan penekanan Arsitektur Futuristik adalah suatu bangunan yang digunakan untuk Proses Trasfusi darah yang bertaraf internasional dengan fasilitas dan lab sebagai sarana penunjang trasfusi darah yang lengkap di Samarinda dengan konsep Arsitektur Futuristik yang Arsitektur yang di desain dengan bentuk yang aneh dan berorientasi masa depan dan juga tidak lazim,. Melihat begitu besar peran Palang Merah Indonesia di setiap bencana, maka dibutuhkan kantor Palang Merah Indonesia di Provinsi Kalimantan Timur yang memadai untuk semua peralatan, sumber daya manusia, dan barang bantuan untuk dibagikan kepada korban bencana
ANALISA GENANGAN BANJIR KAWASAN SEKITAR POLDER DAN RENCANA PENGENDALIANNYA ( STUDI KASUS POLDER VOORVO SIMPANG EMPAT LEMBUSWANA KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR)
Di wilayah Simpang Empat Lebuswana merupakan daerah yang bertopografi rendah. Keadaan ini menyebabkan daerah tersebut sangat rawan akan banjir maupun genangan apabila kapasitas saluran dan Polder Voorvo tidak mampu menampung debit air untuk di alirkan ke Sungai Karang Mumus.Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan dengan menggunakan debit banjir rancangan lima tahunan dapat diketahui bahwa kolam retensi Voorvo yang berkapasitas 4.200 m3 dan kolam retensi Ramania yang berkapasitas 840 m3tidak dapat menampung volume limpasan yang terjadi sebesar 31.542,68 m3 sehingga wilayah Simpang Empat Lembuswana akan terjadi banjir. Untuk penanggulangan banjir pompa perlu penambahan kapasitas pompa yang ada dari 0,5 m3/detik menjadi 3,5 m3/detik dan melakukan normalisasi kolam retensi yang ada sampai kedalaman h = 2.00 m untuk luasan kolam 4.751,12 m2 sehingga di harapkan dapat mencapai kapasitas kolam 9.828,17 m3
PERANCANGAN MONUMEN PERJUANGAN SEBAGAI IDENTITAS KOTA SANGA-SANGA
Perancangan Monumen Perjuangan Sebagai Identitas Kota Sanga-sanga berperan memperkenalkan sejarah dan potensi kota sebagai destinasi wisata di Kabupaten Kutai Kartanegara. Memperkuat identitas kota melalui monumen dengan tujuan memunculkan potensi alam serta sejarah perjuangan. Metode penelitian yaitu meliputi pengumpulan data, analisis, konsep dan drawing. Bentuk tampilan mengambil simbolis perjuangan yaitu tangan dan kobaran api menandakan berkobarnya semangat dalam memperjuangkan Sanga-sanga dengan lima kobaran menandakan 5 kelurahan di San ga-sanga. Serta minyak bumi melambangkan potensi minyak bumi di kota Sanga-sanga. Hasil pembahasan menunjukkan besaran kebutuhan ruang 13548.81 m2 dengan 2 bangunan sudah ada pada lokasi yaitu museum Merah Putih dan gedung Sandisa. Luas lahan 52000 m2 , KDB 14700 m2 dan KDH 34300 m2 . Pola gubahan massa terpusat terdiri dari bentuk-bentuk sekunder mengitari bangunan utama. Dengan meninjau konsep matahari diterapkan pada bangunan, jam 12 siang kepala monumen bersinar terang sehingga memperindah dan memberi point tambahan keagungan pada perancangan monumen perjuangan sebagai identitas kota Sanga-sanga