Jurnal Sejarah Lontar
Not a member yet
43 research outputs found
Sort by
PENGARUH KRISTEN DALAM HISTORIOGRAFI BARAT
Tulisan ini menguraikan pengaruh agama Kristen yang sangat kuat dalam historiografi Barat dengan mengambil contoh dua karya Santo Agustinus, yakni Confessions dan De Civitas Dua karyanya ini sangat berpengaruh di Eropa sehingga amatlah penting untuk mengupasnya
THE DEBT OF HONOUR
Gerakan Katipunan berhasil memproklamirkan kemerdekaan Filipina dari Spanyol pada 1896.Akan tetapi lepas dari penjajahan Spanyol, Filipina kembali masuk dalam penjajahan Amerika Serikat. Namun berbeda dengan Spanyol, Amerika Serikat merasa wajib bukan hanya memberikan kemerdekaan yang selama ini didambakan oleh elit intelektual dan sebagian besar rakyat Filipina, tetapi juga menyiapkan mereka agar bisa mengelola suatu bentuk negara modern atas dasar demokrasi liberal seperti yang diberlakukan di Amerika Serikat
PERKEMBANGAN HISTORIOGRAFI BARAT PASCA HERODOTUS
Tulisan ini mengulas tentang perkembangan historiografi Barat setelah pembahruan historiografi yang dipelopori Herodotus. Dalam perkembangannya historiografi Barat sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Aristoteles, para filsuf yang tergabung dalam mahzab Stoa, Epikurus dan Skepti
HISTORIOGRAFI BELANDASENTRIS
Historiografi Belandasenris adalah sebuah perspektif sejarah yang pernah dikembangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Sesuai dengan namanya, historiografi ini memusatkan perspektifnya terhadap peranan bangsa Belanda dalam membangun wilayah koloninya. Dimulai dengan pelayaran kapal dagang Belanda di bawah pimpinan Kapten Kapal Cornelis de Houtman yang berhasil mencapai Pelabuhan Banten pada tahun 1595 untuk mencari rempah- rempah. Dari Banten, mereka menuju wilayah timur Indonesia hingga berlabuh di Peraian Maluku. Tujuh tahun kemudian para pedagang Belanda membentuk VOC (Vereedigde Oost Indische Compagnie), sebuah kongsi dagang untuk berdagang di wilayah Hindia Timur yang terbentang antara Tanung Harapan di Afrika hingga Selat Magelhaes. Dari VOC pemerintah Belanda membangun pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang berpusat di Batavia (sekarang Jakarta). Keberhasilan inilah yang dikisahkan dalam historiografi Belandasentris. Tulisan ini menelusuri asal mula pertumbuhan gagasan historiografi Belandasentris: Bagaimana proses perumusannya dan siapakah yang menggagas dan mengembangkannya
PENDEKATAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH
Dalam proses pembelajaran sejarah terdapat dua hal yaitu pengetahuan sejarah sebagai bagian dari pengetahuan budaya dan pengetahuan sejarah sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial. Konsep yang muncul dalam pembelajaran sejarah sebagai pengetahuan budaya menggugah kesadaran kita, karena mengandung konsep budaya dan nilai, seperti pahlawan, rela berkorban, persatuan bangsa, kemanusiaan, dan lain-lain. Pada sisi yang lain, dalam memahami sejarah sebagai realitas kehidupan manusia yang kompleks perlu dimengerti bahwa pengetahuan sejarah tersebut sebagai bagian dari ilmu sosial, sehingga realitas kehidupan manusia bukan hanya faktor kronologi tanggal kejadian, nama-nama tokoh, dan tempat/lokasi, tetapi seluruh interaksi yang melibatkan struktur dan individu serta komunitas yang berlangsung secara berkesinambungan dalam rentangan waktu masa lalu hingga kekinian,yang dapat dipahami secara utuh, dengan menggunakan berbagai konsep dalam ilmu sosial
KYAI HAJI AHMAD SANUSI
Kyai Haji Ahmad Sanusi atau dikenal juga dengan sebutan Ajengan Gunung Puyuh merupakan sosok ulama kharismatik yang dimiliki masyarakat Sukabumi bahkan sudah menjadi milik bangsa Indonesia. Ia juga dikenal sebagai aktivis politik melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Demikian pula peranannya dalam panggung sejarah Indonesia baik itu masa pergerakan maupun revolusi, dan sumbangannya terhadap sejarah perjuangan Bangsa Indonesia sudah yang tidak bisa terbantahkan lagi. Tulisan ini mencoba membuka kembali ingatan kolektif masyarakat Jawa Barat dan Indonesia mengenai sejarah perjuangan KHAS sejak dari pesantren hingga parlemen berdasarkan file arsip-arsip sejarah
KONSEPSI-KONSEPSI ‘TEKNOLOGI DAN BUDAYA’
Berbagai literatur ilmu-ilmu sosial dan humaniora hampir selalu mengasumsikan budaya sebagai entitas yang keberadaannya terpisah dari teknologi. Bertolak dari kritik terhadap asumsi tersebut, artikel ini membahas pertautan teknologi dan budaya dengan mengetengahkan konsepsi ketidakterpisahan di antara keduanya dalam konteks kehidupan keseharian. Argumennya ialah bahwa cara manusia memaknai dunia kehidupannya (budaya) membutuhkan medium artefak material (teknologi)--selain medium perilaku (sosial)--untuk mengekspresikannya. Dalam pandangan ini, budaya dan teknologi sesungguhnya saling berkait erat dan saling memengaruhi satu sama lain dalam setiap praktik sosial. Sudut pandang budaya menyatakan bahwa kebudayaan adalah dimensi maknawi dari praktik sosial, dan setiap praktik sosial senantiasa melibatkan artefak material (teknologi). Hal yang sama dapat pula dinyatakan dari sudut pandang teknologi, bahwa teknologi (artefak material) adalah medium material yang dihuni oleh makna-makna budaya dan sekaligus merupakan sarana bagi praktik sosial
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MEDIA FILM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapat mahasiswa jurusan sejarah tentang kelemahan dan kelebihan media film sebagai media pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan teknik survei, populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan sejarah yang berjumlah 325 orang. Sebagai sample diambil 50 orang dengan cara simple random sampling. Sumber data penelitian menggunakan angket. Teknik analisa data menggunakan deskritif kuantitatif yang diperjelas dengan frekuensi dan prosentase. Ternyata media film sebagai media pembelajaran sejarah menurut pendapat mahasiswa lebih banyak memiliki kelebihan daripada kelemahannya
PENGEMBANGAN FASILITAS INTERPRETASI DI MUSEUM KONFERENSI ASIAâ€AFRIKA BANDUNG JAWA BARAT
Museum Konferensi Asia-Afrika (Asian-African Conference Museum) telah membangun reputasi internasional sebagai salah satu situs Pariwisata warisan dunia yang menarik, yang memperoleh sukses besar baik dalam merumuskan masalah umum dan dalam mempersiapkan pedoman operasional kerjasama antar Negara Asia Afrika serta dalam menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia. Atraksi warisan merupakan sumber daya tak tergantikan bagi industri pariwisata sehingga penafsiran adalah komponen penting dari manajemen mereka. Situs Warisan perlu memiliki atribut unik, kuat berkarakter serta penafsiran dan penyajiannya harus mengakomodasi kebutuhan pengunjung. Studi ini meneliti bagaimana penafsiran dan pengalaman dalam konteks Pariwisata Heritage. Sebuah model yang diusulkan menggabungkan dua pendekatan yang saling melengkapi dalam analisis kepuasan: pendekatan kognitif didasarkan pada kualitas dan diskonfirmasi, pendekatan afektif didasarkan pada emosi. Analisis empiris yang dilakukan pada sampel pengunjung ke interpretasi memungkinkan kita untuk mengkonfirmasi bahwa kualitas yang dirasakan adalah penentu langsung dari kepuasan, seperti juga emosi. Akhirnya, cara di mana teknik interpretasi dipelajari, sebagai generator dari kepuasan pengunjung melalui pengalaman
BERAKHIRNYA ROMANTISME KOLONIAL PRANCIS DI FRANCOPHONE AFRIKA
Tulisan ini bermaksud memaparkan corak kolonialisme Prancis dan kemudian membandingkan bagaimana hubungan Prancis dan negara-negara jajahannya terutama di Afrika pada masa Perang Dingin dan Pasca Perang Dingin. Dalam memperlakukan negara jajahannya, Prancis memiliki karakteristik yang khas. Karakteristik itu adalah keinginan Prancis untuk menyebarkan kebudayaannya yang dianggap lebih tinggi dari kebudayaan negara yang dijajahnya. Penyebaran budaya Prancis yang paling terlihat adalah digunakannya bahasa Prancis sebagai bahasa resmi di negara-negara koloninya. Keinginan untuk menyebarkan peradabannya ini tidak berhenti sampai berakhirnya penjajahan tetapi tetap berlanjut hingga masa dekolonisasi. Prancis tetap berusaha mempertahankan hubungan patron-client dengan negara-negara eks-koloninya di Afrika yang disebut Francophone Afrika dengan memberikan bantuan terutama keuangan dan berbagai keistimewaan. Akan tetapi setelah Perang Dingin berakhir Prancis berangsur-angsur mengurangi hubungan istimewanya dengan Francophone Afrika. Pasca Perang Dingin, situasi dunia telah berubah, tidak ada lagi kekhawatiran besar terhadap komunisme yang kerap dijadikan Prancis untuk intervensi ke sejumlah negara Afrika. Selain itu serangkaian skandal dan biaya yang besar untuk menyokong Afrika membuat Prancis melakukan reorientasi kebijakan Afrika-nya