Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
    970 research outputs found

    PERKEMBANGAN KARAKTER TOKOH UTAMA SAITO RIE DALAM FILM HITSUDAN HOSTESS KARYA SUTRADARA HAJIME TAKEZONO

    Get PDF
    Film merupakan karya yang digemari masyarakat saat ini. Melalui film, masyarakat dapat melihat gambar mengenai kehidupan. Hal ini tercermin dalam sebuah film, salah satunya adalah film Hitsudan Hostess. Film ini bercerita tentang seorang gadis tuna rungu bernama Saito Rie yang mempunyai keinginan menjadi hostess namun ditentang oleh keluarganya, tetapi Rie tidak menyerah begitu saja, yang pada akhirnya ia berhasil mewujudkan cita-citanya.Dalam perjalannya menuju kesuksesan karakter Rie mengalami perkembangan. Karakter Rie waktu anak-anak yang penuh semangat dan kerjakeras, saat ia menginjak usia remaja menjadi sedikit pemberontak, menuju dewasa Rie menunjukkan karakter yang kuat yaitu berpegang teguh pada pendiriannya. Penulis menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan karakteryang dialami tokoh. Untuk mengetahui perkembangan karakter tokoh tersebut, penulis menggunakan psikologi perkembangan yang terfokus pada tokoh utama. Penulis juga menggunakan teori mise-en-scene sebagai teori pendukung dalam penelitian ini guna menganalisis film lebih dalam.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan karakter tokohutama sangat dipengaruhi oleh keluarga serta lingkungan tempat ia tinggal. Tokoh Rie memiliki karakter yang kuat, ia dapat menyelesaikan tugas perkembangannyasebagai remaja meskipun sempat memberontak kepada ibunya, namun hal itusesuatu yang wajar dalam proses pencarian jati diri. Keberhasilannya dalammelewati proses perkembangan karakter tersebut yang mengantarkannya menujukesuksesan.Penulis menyarankan pada penelitian berikutnya yang menggunakan filmini sebagai data penelitian, agar menggunakan psikoanalisis, sosiologi sastra danmembahas image hostess di Jepang guna memperkaya apresiasi terhadap karyasastra.Kata Kunci : Film, Perkembangan Karakter, Tokoh dan Penokoha

    KONFLIK BATIN TOKOH CÉCILE DALAM NOVEL BONJOUR TRISTESSE KARYA FRANÇOISE SAGAN: KAJIAN PSIKOANALITIS

    Get PDF
    Yunar, Annisa Imania.2014.Konflik Batin tokoh Cécile dalam Novel Bonjour Tristesse Karya Françoise Sagan : Kajian Psikoanalitis. Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis, Universitas Brawijaya.Pembimbing  : (I) Intan Dewi Savitri (II) Lusia Neti HarwatiKata Kunci : Teori struktural, Psikoanalisis, Sigmund Freud, Mekanisme Pertahanan Ego.Bonjour Tristesse merupakan novel karya Françoise Sagan yang menjadi salah satu karya terpopuler yang berkisah tentang problematika psikologis tokoh utama bernama Cécile. Penelitian ini memaparkan kondisi mental tokoh utama yang didasari oleh struktur kepribadian dan mekanisme pertahanannya. Dalam menganalisis roman Bonjour Tristesse ini digunakan dua teori, yang pertama teori struktural, kemudian teori ke dua adalah teori psikologi kepribadian Sigmund Freud. Dengan menerapkan pendekatan psikologis, penelitian kali ini bertujuan menjawab rumusan masalah, yaitu (1) unsur-unsur intrinsik novel  Bonjour Tristesse, (2) problematika yang dialami tokoh Cécile dalam novel  Bonjour Tristesse  yang mempengaruhi mekanisme pertahanannya. Untuk menganalisis novel ini digunakan metode deskriptif analisis yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan data-data yang didapat dari sumber data yaitu novel  Bonjour Tristesse  dan terjemahannya,  kemudian menganalisisnya. Kesimpulan yang didapat dari analisis dengan menggunakan pendekatan psikologi kepribadian Sigmund Freud (Id, Ego, dan Superego) adalah bahwa struktur kepribadian tokoh Cécile mempengaruhi mekanisme pertahanan dirinya. Cécile menggunakan enam macam mekanisme pertahanan untuk meredakan kecemasan yaitu pembentukan reaksi, regresi, represi, rasionalisasi, simbolisasi, dan sublimasi. Represi dan pembentukan reaksi adalah mekanisme pertahanan yang paling banyak dilakukan Cécile. Cécile tidak pernah mampu menyelaraskan ketiga aspek mental tersebut sehingga dalam dirinya timbul berbagai konflik batin Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan peneliti melakukan penelitian dengan mengaplikasikan teori psikologi khususnya teori psikoanalitis Sigmund Freud pada novel lain karya Françoise Sagan misalnya  Aimez-vous Brahms

    THE PHENOMENON OF JULIET’S WALL IN THE MOVIE LETTERS TO JULIET

    Get PDF
    Miranti, Ayu. 2014. “The Phenomenon of Juliet’s Wall in the Movie  Letters to Julietâ€. Study Program of English, Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya.Supervisor: Sri Utami Budi; Co-Supervisor: Aris Siswanti.Keyword: phenomenon, Juliet’s Wall, social group, interaction.Society has tradition in share culture as human social behavior. Social phenomena can spread widely because of society behavior in share culture each other. Society in sharing culture influence and influenced by past generation and social group members. Further, the way society share culture is by social interaction between them. In the movie entitled Letters to Juliet  portrayed  the phenomenon of Juliet’s Wall. It tells about the writing letters phenomenon in Verona, where the story Romeo and Juliet took place. There are some women writing the answer for people who put their letter in Juliet’s Wall as Juliet named Secretaries of Juliet. This phenomenon spread belief of the power of true love and hopes for people who write the letter. Observing the Juliet’s Wall phenomenon will be the main problem in this study. Sociological approach is applied in conducting this study. Since movie is used as material object, movie studies will be applied as supporting approach. This study finds that Juliet is symbolized as the internal symbol of love. People believes in Juliet are because of they looking for a way to unburden their feeling, to share their problems with someone who will listen, unconditionally, as if she were a friend, or confidante. Further, people see Juliet as a legend, someone who has tragic love story written by Shakespeare. From  that point of view people generally think that it is worth if they have “direct contact†with Juliet in order to be part of a legend. Further, social interaction and society behavior in sharing culture each other can make Juliet’s Wall phenomenon alive. People who believe in Juliet’s Wall are the people who believe in the existence of true love. Juliet’s Wall make everyone who writes the letter believe that true love is really exist and drive them to struggling for their love

    APOLOGY STRATEGIES USED BY KEVIN RUDD IN HIS STOLEN GENERATION SPEECH

    Get PDF
    Roronjawi, Wilis. 2014. Apology Strategies Used by Kevin Rudd in His StolenGeneration Speech. Study Program of English, Universitas Brawijaya. Supervisor:Iis Nur Rodliyah, Co-supervisor: Yana Shanti Manipuspika.Key Words: Speech Acts, Apology, Apology Strategies, Stolen Generation Speech.When people make fault or offense that may hurt other people incommunication, they have to do something to repair it in order to make therelationship better. Apology can be the first step that can repair a good relationship. Apology strategies are important to learn in order to know how people ask for an apology appropriately. This study discusses apology strategies by Kevin Rudd in his Stolen Generation speech. The study was conducted in order to find out the types of apology strategies used in Kevin Rudd’s Stolen Generation speech and how the utterances of the speech help repairing the relationship between Australian government and Indigenous people of Australia  This study applied qualitative approach in which the data were collected in theform of words or sentences. The data were the utterances containing apologystrategies in Kevin Rudd Stolen Generation speech and the data source was the Stolen Generation speech by Kevin Rudd. The researcher read the script then the selected utterances which contain apology was marked to be more easily analyzed. Thus, the researcher identified the types of apology by putting into a table then drawing conclusion of all findings that had been analyzed.This study revealed that there are six categories and eight sub-categories ofapology strategies in Kevin Rudd’s Stolen Generation speech that were found. Those were acknowledge of responsibility which is reflected in implicit acknowledgement and explicit acknowledgement sub-categories, explanation or account which is reflected in explicit explanation sub-category, expression of apology which is reflected in expression of regret, offer of apology and request for forgiveness subcategories, offer of repair which is reflected in repair and compensation subcategories, promise of forbearance and expressing concern for hearer categories. The expression of concern for hearer and promise for forbearance were mostly used in conducting the speech because the speech wanted to give respect, showed the promise not to do the mistreatment and wanted the Indigenous people forgive the government of Australia.For the next researchers, it is recommended that they use other theories ofapology strategies from other experts in digging up apology strategies. The next researchers are also suggested to use another object in order to broaden the comprehension in apology strategies

    PERBANDINGAN STRUKTURAL DONGENG “RORO JONGGRANG DAN CANDI PRAMBANAN†(INDONESIA) DENGAN DONGENG “SARU NO OMUKOSAN†(JEPANG)

    No full text
    Kata Kunci: Dongeng, Strukturalisme, Perbandingan sastraLatar belakang penelitian ini didasari oleh ketertarikan penulis pada sastra Jepang, terutama pada dongeng. Dengan membaca dan mempelajari dongengdongeng tersebut, penulis menemukan banyak hal secara tidak langsung di dalam pengetahuan sastra, baik pengetahuan berhubungan karya sastra Jepang, maupun sastra anak antar negara berupa membandingkan. Ada dongeng Jepang yang mempunyai kemiripan tema dengan dongeng-dongeng dari berbagai daerah di Nusantara. Dari sekian jenis dongeng-dongeng yang ada, penulis memilih dongeng yang berjudul Saru no Omukosan untuk dibandingkan dengan dongeng yang berjudul Roro Jonggrang.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menjawab rumusan masalahyakni: bagaimanakah persamaan dan perbedaan unsur-unsur struktural cerita yang terdapat dalam dongeng Roro Jonggrang dan dongeng Saru no Omukosan. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penulis menggunakan kajian strukturalisme pada unsur intrinsik di sastra anak, dan kajian sastra bandingan. Kedua kajian tersebut digunakan karena yang menjadi objek penelitian ini adalah dua dongeng karya sastra anak berbeda bahasa, yang kemudian dibandingkan dari segi persamaan dan perbedaan dalam unsur strukturalismenya.Dari dua bahan naskah yang berupa dongeng berjudul “Roro Jonggrangâ€dan dongeng “Saru no Omukosanâ€, tersebut menghasilkan penelitian yangmenunjukkan bahwa dua dongeng tersebut memiliki isi makna dan gagasan yang sama pada tema, latar waktu, penokohan dan tokoh protagonis, alur, sudut pandang orang ketiga, dan ilustrasi gambar. Kemudian memiliki perbedaan yang ditemukan pada latar, penokohan dan tokoh antagonis dan gaya bahasa dari unsur intrinsik struktur di dua dongeng tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari ciri khas unsur intrinsik struktur masing-masing di isi cerita dua dongeng ini.Penulis menyarankan kepada penelitian selanjutnya mahasiswa fakultas ilmu kebudayaan menganalisis dari segi kebudayaan yang tersirat dalam isi cerita rakyat. Di sisi lain, disarankan pada penulis selanjutnya untuk menganalisis cerita rakyat yang lainnya sebab disetiap cerita rakyat mengandung nilai kebudayaan rakyat yang digambarkan oleh pengarang cerita

    EARTH HOUR'S ADVERTISEMENTS AND LOGO AS ENVIRONMENTAL PROTECTION PROGRAM BY WORLD WIDE FUND

    Get PDF
    Keywords: advertisement, logo, semiotics, world wide fund, earth hour. Logo is an identity or special symbol that represents a company or organization. In this study, semiotics approach from Ferdinand de Saussure is used to analyze the logo and its advertisements. Advertisement is a medium to deliver messages to society with the goal to influence the people to join or follow certain programs. Non-verbal and visual signs are used in advertisement and logo. This study is conducted to explore signs, meanings, and messages constructed in logo and its advertisements of World Wide Fund.Among a lot of advertisements and logos that have been published by WorldWide Fund, the writer analyzes four different advertisements and one logo. In this study, the writer analyzes two advertisements of Earth Hour “For a Living Planet†and two advertisements “You Can’t Afford to be Slow in an Emergency†and logo of Earth Hour program. After  analyzing  the  signs,  it  can  be  concluded  that  every single signifier on each  advertisement have different  meanings and messages. The messages from the logo and its advertisements are related to the efforts in preserving and protecting the nature, including the animal populations. It can be also figured out that the advertisements are designed to persuade the society to join Earth Hour as the environmental protection program.The writer suggests English Department students to learn more about semioticsespecially for analysing advertisement. The writer also suggests the next researchers to conduct a semiotics study in advertisement videos or use other semiotics theories

    THE FLOUTING OF THE CONVERSATIONAL MAXIMS BY OPERA VAN JAVA’S PLAYERS IN “HADIDIE DAN MAIMUN†EPISODE TRANS 7

    Get PDF
    Keywords: Cooperative Principle, Conversational Maxims, Flouting Maxims, Humor and Laughter Cooperative Principle that deals with conversational maxims is the rule that needs to be maintained during conversation. However, people realize they are not always supposed to be serious in having conversation. Sometimes, they break the Cooperative Principle by creating jokes. Therefore, to reveal this humor creations, this study uses “Hadidie dan Maimun†Opera Van Java’s episode as the subject of the study. There are three research problems in this study, namely: (1) what types of conversational maxims are flouted in causing laughter of the audiences in the episode “Hadidie dan Maimun†Opera Van Java Show Trans 7, (2) what are the intended meanings of maxims being flouted in the episode “Hadidie dan Maimun†Opera Van Java Show Trans 7, and (3) how can the flouting of the maxims cause humorous effect in the episode “Hadidie dan Maimun†Opera Van Java Show Trans 7.This study uses qualitative approach by using document analysis to identify the data. In this study, the writer found that all four maxims had been flouted by the players to cause laughter of the audiences. The flouting of the maxims could cause humorous effect was when the players had their particular intentions on their utterances. To cause humor, they flouted Maxim of Quality to avoid and conceal anger, play a fool, conceal enviousness and perform ridiculous action. They flouted Maxim of Quantity as a self-teasing, self-defense, and dejection. They flouted Maxim of Relation by word-playing, demonstrate selfmockery,self-defense, insensibility and foolishness. They flouted Maxim of Manner in making the utterances obscure by word-playing. The maxims which were flouted most were Maxim of Relation because they could easily cause humor by being irrelevant toward the topic of conversation. The maxims which were flouted least were Maxim of Quantity.There were also some factors encourage the players to flout the Maxims such as the different status as the player, relationship, behavior, emotion, unconsciousness, and the benefit of the language usage. In result, the writersuggests the next researcher to find out other theories of humor with the different subject of study such as Talk Show, Stand-Up Comedy Show, etc

    GEGAR BUDAYA TOKOH UTAMA DALAM FILM ANIMASI PRANCIS “PERSEPOLIS†Sebuah Tinjauan Psikologis

    Get PDF
    Kata kunci : Revolusi Iran, pola kehidupan, gegar budaya, coping, pendekatan psikologis Setiap manusia memiliki pola kehidupan yang mencerminkan unsur-unsur budaya. Sifat manusia yang dinamis membuat pola kehidupan yang dijalaninya juga bisa berubah dan menimbulkan permasalahan terutama terhadap sisi psikologis, salah satunya masalah gegar budaya. Gegar budaya bisa dikaji melalui berbagai bidang dan media, salah satunya melalui film animasi Prancis berjudul Persepolis. Film yang diadaptasi dari empat jilid novel grafis: Persepolis 1, Persepolis 2, Persepolis 3, dan Persepolis 4 ini bercerita tentang seorang tokoh bernama  Marji (Marjane Satrapi) yang mengalami masalah gegar budaya akibat perpindahan yang ia lakukan ke Austria setelah terjadi revolusi di negara asalnya, Iran, yang membuatnya mengalami banyak permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan, manifestasi, dan cara tokoh Marji menghadapi masalah gegar budaya yang dialaminya.Penelitian ini menggunakan teori tahapan gegar budaya W-Curve yang dikemukakan oleh Gullahorn dan Gullahorn pada tahun 1963 serta teori coping dari Folkman dan Lazarus pada tahun 1984. Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif dengan menggunakan teknik content analysis (analisis isi) sebagai metode pengumpulan data dan analisis data deskriptif dalam proses analisis data.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh Marji mengalami gegar budaya ketika ia berada di Austria dan gegar budaya ketika ia kembali lagi ke Iran. Kedua gegar budaya ini memiliki tahapan, penyebab, dan manifestasi yang berbeda. Untuk mengatasi masalah gegar budaya yang dialaminya, tokoh Marji melakukan beberapa bentuk coping, yaitu problem-focused coping (distancing, escape, dan planfull problem solving) dan emotion-focused coping (seeking social support, positive reinterpretation, dan self criticism).Penulis menyarankan agar pada penelitian selanjutnya dilakukan pengkajian kesejajaran fakta literer mengenai unsur sejarah dan politik negara Iran yang tampak dalam film Persepolis dengan fakta yang terjadi di Iran pada masa itu. Selain itu, membandingkan film Persepolis dengan novel grafisnya juga akan menjadi sebuah penelitian yang menarik

    PRESUPPOSITIONS IN UTTERANCES OF TWO MAIN CHARACTERS, KING GEORGE VI AND LIONEL LOGUE IN THE MOVIE ENTITLED THE KING’S SPEECH

    Get PDF
    Kata Kunci: Praanggapan, penanda praanggapan, tuturan, film The King’s Speech.Praanggapan merupakan suatu asumsi yang dibuat oleh penutur yang dapat diterima dengan baik oleh pendengar. Dalam penelitian ini, penulis menganalisa praanggapan yang ada dalam tuturan kedua tokoh utama dalam fim The King’s Speech, Raja George ke-6 dan Lionel Logue. Objek penelitian ini dipilih agar pembaca dapat mengetahui bahwa praanggapan bisa juga diperoleh dalam konteks komunikasi apapun termasuk di dalam bahasa lisan yang berbentuk dialog. Penelitian ini menerapkan toeri penanda praangapan dari Karttunen yang melingkupi 13 macam penanda praanggapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan praanggapan dan juga berbagai tipenya di dalam tuturan yang dituturkan oleh kedua tokoh utama dalam film The King’s Speech.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena data yang digunakan adalah data deskripsif dalam bentuk kata-kata berdasarkan pada praanggapan yang ada di dalam film ini. Penelitian in merupakan analisa data karena data yang digunakan adalah data tertulis. Sumber data dari penelitan ini adalah dialog dari dua tokoh utama dalam bentuk tuturan dalam film The King’s Speech. Sementara itu, data dari penelitian ini adalah tuturan-tuturan dari dua tokoh utama yang mengandung praanggapan yang diusulkan oleh Karttunen (seperti yang telah disebutkan oleh Levinson, 1983).Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dari data yang sudah terkoleksi, terdapat beberapa tuturan yang mengandung penanda praanggapam yang mengindikasikan adanya praanggapan. Elemen-elemen lain yang mendukung terdapatnya praanggapan antara lain adalah konteks dalam film, partisipan, dan pengetahuan bersama dari penutur dan pendengar. Dari analisa yang sudah dilakukan oleh penulis, ditemukan 9 tipe dari 13 penanda praanggapan seperti yang telah diusulkan oleh Karttunen dalam film The King’s Speech. Tipe-tipe tersebut adalah penanda praanggapan definite description, factive verbs, implicative verbs, change of state verbs, iterative, cleft sentences, comparison and contrast, counterfactual conditionals, dan penanda praanggapan questions. Sebagai tambahan, tipe praanggapan yang paling sering digunakan dalam film ini adalah penanda praanggapan pertanyaan. Tipe ini khususnya sering digunakan oleh Lionel dikarenakan dia adalah ahli terapi berbicara Bertie sehingga Lionel cenderung menanyakan beberapa pertanyaan kepada Bertie yang berhubungan dengan kegagapanya atau bahkan masalah pribadinya untuk mendekatkan diri padanya

    ALADEEN’S FACE-THREATENING ACTS REFLECTED IN THE DICTATOR MOVIE’S DIALOGUES

    Get PDF
    Key words: Face-threatening acts (FTAs), positive face, negative face, context. Making interaction or socialization with other people to gain something such as information is natural for everyone. Thus, people want to be accepted or liked by society in many ways in which one of them is through communication. However, there are some utterances that cannot be accepted by some people and study of face-threatening acts (FTAs) of pragmatics is needed to analyze the utterances. The researcher conducted a study of FTAs in ‘The Dictator’ movie (TD) which performs FTAs phenomena occuring in the main character’s dialogues. In order to describe the context of the movie scenes, the researcher used a theory of Hymes. There are two problems to be solved, namely: (1) utterances of the main character containing face-threatening acts and (2) the kinds of face-threatening acts are used by the main character in threatening the negative face and the positive face. In this study, the researcher applied qualitative method since the data were transcribed utterances containing face-threatening acts from the main character in TD movie. The researcher also applied descriptive method in which is a research method that uses a technique of searching, collecting, classifying, analyzing the data, interpreting them and then drawing the conclusion in conducting an analysis of the main character’s utterances and the scenes of TD movie. This study reveals that the main character’s utterances containing FTAs by using positive FTAs and negative FTAs. Based on the analysis, the main character’s utterances perform some FTAs, either from positive face and negative face, in order to threat the hearers’ face. The main character does not fulfill the hearer’s desire or feeling in order to get his want of freedom. Later, the chosen scenes of the movie are elaborated by using context theory.Â

    871

    full texts

    970

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇