Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
    970 research outputs found

    PRODUSER SEBAGAI PEMILIK KEKUASAAN DALAM INDUSTRI MUSIK PADA ANIME BECK KARYA SUTRADARA OSAMU KOBAYASHI

    Get PDF
    Kata Kunci: Anime, Beck, Marxisme, Produser, Kekuasaan, Industri MusikMusik adalah salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Saat ini banyak pekerjaan yang ada di bidang musik salah satunya adalah produser musik. Produser adalah orang yang mempunyai visi kemana musisi akan diarahkan. Produser musik berperan penting dalam berkembangnya atau jatuhnya karir musisi.Dalam penelitian ini penulis menggunakan anime Beck sebagai sumber data. Fokus peneleitian kali ini ialah menganalisa gambaran produser sebagai pemilik kekuasaan dalam industri musik. Produser memiliki hal yang mendukung mereka untuk menjadi pemilik kekuasaan dalam industri musik seperti dana, nama label besar, dan relasi–relasi dalam industri musik.Hasil dari penelitian ini mendapatkan gambaran produser sebagai pemilik kekuasaan dalam industri musik pada anime Beck karya sutradara Osamu Kobayashi. Gambaran produser sebagai pemilik kekuasaan ada pada tahapan tahapan pengangkatan musisi menjadi artis label, pengarahan dan pembangunan popularitas artis. Tidak hanya itu, kekuasaan produser juga tergambar pada saat produser menjadi pengorganisir festival musik. Selain itu produser menerapkan kekuasaannya untuk mengalienasi musisi yang menjadi saingan dari artis yang dibesutnya.Anime Beck tidak hanya dapat dianalisa dari sudut pandang produser sebagai pemilik kekuasaan saja. Anime ini juga dapat dianalisa melalui pendekatan sosiologi sastra. Fokus penelitian selanjutnya dapat menekankan pada perkembangan musik Jepang yang ada di anime ini

    A STUDY OF SEMIOTICS ON CONNOTATIVE MEANING IN THE WORLD WIDE FUND FOR NATURE (WWF) ADVERTISING CAMPAIGN ON CLIMATE CHANGES

    Get PDF
    Keywords: Semiotics, Connotative Meaning, WWF, Advertising, Climate Changes. World Wide Fund for Nature (WWF) is one of the world's largest conservation  organizations established in more than 100 countries. WWF has more than 100 advertisements that aim to invite the community in protecting and preserving the environment and habitat. One themes from the advertisements is about climate change. Their advertisement usually uses an interesting images and utterances that have meanings inside it. In this study, the researcher analyzed these images and utterances based on the theory that it used. Furthermore, the researcher proposed two problems of the study, (1) What the signifier and signified found in the WWF advertisement campaign published under climate changes are (2) What the connotation meaning found in the WWF advertisement campaign published under climate changes is. This study uses a qualitative approach to uncover the occurrence in document analysis. The researcher applies the theory of Ferdinand de Saussure (quoted fromChandler, 2007, p.14) which divides the model of the sign into signifier and signified. The researcher also uses the theory of Roland Barthes (quoted in Chandler, 2007, p.137) which describe that in semiotics, denotation and connotation are terms that describe the relationship between the signified and the signifier.The study results shows that advertisement from the World Wide Fund for Nature(WWF) has signifier and signified differently in each advertisement. However, WWF has the same goal in making these advertisements that persuade people to concerned more about environmental issues and their habitats such as over fishing, global warming, illegal logging, and save animals from extinction.The researcher suggests the next researchers who want to do the same research andtheory use a different research subject participant. In the next studies, other researchers may be able to use movie, novels, brand products, or television advertising as the subject

    KEMAMPUAN MEMAHAMI LAMBANG BUNYI ONOMATOPE PLOSSIVE PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG PESERTA BENKYÅŒKAI JLPT LEVEL N2 TAHUN 2013

    Get PDF
    Kata kunci: Onomatope, Lambang bunyi, Plossive, Voiceless sound, Voiced sound Lambang bunyi bahasa Jepang memiliki sebuah perbedaan image bunyi besarkecil yang ditimbulkan oleh perbedaan pasangan hurufnya. Pasangan huruf yang diteliti disini adalah plossive (破裂音/haretsuon). Dalam bahasa Jepang lambangbunyi pada plossive dibedakan menjadi voiceless sound ( 無声音/musei-on) danvoiced sound (有声音/yūsei-on). Huruf /p/, /t/, /k/ termasuk dalam voiceless sound sedangkan huruf /b/, /d/, /k/ termasuk dalam dan voiced sound. Image bunyi yangditimbulkan oleh voiceless sound terdengar lebih ringan dari voiced sound. Olehkarena itu, penulis mengadakan penelitian mengenai kemampuan memahamilambang bunyi pada plossive dengan menggunakan pasangan onomatope. Dalampenelitian ini, penulis menjawab dua rumusan masalah yaitu, (1) Apakah pembelajarbahasa Jepang mampu menangkap perbedaan pasangan onomatope jenis plossivebahasa Jepang yang memiliki kemiripan dalam lambang bunyi sistem klasifikasiplossive dalam bahasa ibu. (2) Apakah pembelajar bahasa Jepang dapat menangkapmakna suara besar atau kecil dari onomatope bahasa Jepang jika dilihat dari lambangbunyinya.Penelitian ini berupa penelitian kuantitatif deskriptif yang menggunakan tes. Data yang digunakan merupakan hasil dari soal-soal tes. Analisis dilakukan dengan cara memuat data dalam tabel, membuat grafik dan mendeskripsikan hasil berdasarkan grafik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, responden cukup mampu dalam memahami lambang bunyi dan menangkap makna suara besar atau kecil dari onomatope jika dilihat dari lambang bunyinya. Namun jika dilihat secara detail ada beberapa pasangan onomatope yang responden kurang mampu memahami dikarenakan persentase yang dipilih responden untuk jawaban benarlebih sedikit dibandingkan jawaban lainya. Sehingga hal ini membuktikan bahwa onomatope jikadilihat dari lambang bunyinya memiliki bagian yang bersifat universal dan bagianyang individual.Penulis menyarankan kepada Program Studi Sastra Jepang sebaiknya memberikan pengetahuan mengenai onomatope jika ditilik dari segi lambang bunyi dan pengaruh kesan/image yang ditimbulkan pada pasangan lambang bunyi tersebut kepada mahasiswa. Agar penelitian mengenai lambang bunyi yang masih sedikit dapat dikembangkan lebih

    PENGGUNAAN REFERENSI PRONOMINA DEMONSTRATIFPADA CERITA RAKYAT MAHOU HAKUSHI DAN HASHIRE MEROSU

    Get PDF
    Kata Kunci : Referensi, Anafora, Katafora, Pronomina demonstratif, Shijishi Sebuah teks ataupun percakapan sering digunakan penunjukan suatu haldengan menggunakan kata ganti tunjuk atau pronomina demonstratif. Penggunaan pronomina demonstratif tersebut mempunyai rujukan atau referensi tehadap hal yang ditunjuk. Penunjukkannya bisa secara anafora (menunjuk pada hal yang muncul sebelumnya) maupun katafora (menunjuk pada hal yang muncul setelahnya). Bahasa Jepang memiliki istilah penunjukan terhadap suatu hal atau bendayang disebut dengan shijishi. Penggunaan shijishi memiliki beberapa fungsi sesuai dengan masing-masing sistem yang dimiliki, yaitu 2 fungsi sistem “Koâ€, 2 fungsi sistem “Soâ€Â¸ dan 2 fungsi sistem “Aâ€. Tujuan dari penelitiana ini adalah untuk mengetahui penggunaan dari referensi pronomina demonstratif pada cerita rakyat Mahou Hakushi dan Hashire Merosu. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menganalisis fungsi perujukan dari pronomina demonstratif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat jenis pronomina demonstratif pada Mahou Hakushi berupa daimeshi sebanyak 77, fukushi sebanyak 39, rentaishi sebanyak 86. Sedangkan, pada Hashire Merosu, daimeishi sebanyak 47, fukushi sebanyak 22, rentaishi sebanyak 48. Dan ditemukan 159 data bunmyakushiji dari cerita Mahou Hakushi dan 93 data dari cerita Hashire Merosu. Dari 159 data terdapat 4 pronomina demonstratif yang merujuk secara katafora. Sedangkan, dari 93 data terdapat 3 pronomina demonstratif yang merujuk secara katafora. Selebihnya merujuk secara anafora. Pronomina demonstratif dalam Mahou Hakushi yang memenuhi fungsi sistem “Ko†sejumlah 56, fungsi sistem “So†sejumlah 99, dan fungsi sistem “A†sejumlah 4. Sedangkan, dalam Hashire Merosu fungsi sistem Ko sejumlah 25, fungsi sistem “So†sejumlah 56, dan fungsi sistem “A†sejumlah 12. Kesimpulan dari penelitian ini sebagian besar pronomina demonstratif pada dua cerita rakyat yang digunakan merujuk secara anafora, dan hanya sebagian kecil yang merujuk secara katafora. Perujukan tersebut dapat dilihat dari jumlah data yang besar pada fungsi sistem “Soâ€, karena ada salah satu fungsi, yaitu mengulang sesuatu yang muncul pada percakapan atau kalimat sebelumnya. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan agar dapat meneliti lebih dalam mengenai referensi pronomina demonstratif dengan sumber data yang berbeda, misalnya film dan komik. Dan juga penelitian mengenai referensi tetapi dengan fokus referensi komparatif dalam bahasa Jepang misalnya, no youna, yori, houga

    PENGGUNAAN SHUUJOSHI RAGAM BAHASA PRIA DALAM ANIME DANSHI KOUKOUSEI NO NICHIJOU

    Get PDF
    Kata Kunci: Shuujoshi, Ragam Bahasa, Ragam Bahasa Pria Bahasa merupakan sebuah alat komunikasi yang vital. Untuk dapat saling berkomunikasi atau berinteraksi dengan satu dan yang lainnya. Shuujoshi merupakan akhiran pada suatu kalimat untuk menyatakan suatu pernyataan, perasaan pembicara seperti rasa haru, seruan, larangan, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Shuujoshi ragam bahasa pria apa saja yang digunakan dalam anime Danshi Koukousei no Nichijou? (2) Bagaimana fungsi penggunaan shuujoshi ragam bahasa pria yang digunakan dalam anime DanshiKoukousei no Nichijou? Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah shuujoshi yang terdapat dalam anime Danshi Koukousei no Nichojou. Analisis yang digunakan adalah dengan mengklasifikasi shuujoshi menurut makna penggunaan, serta menganalisis berdasarkan situasi. Dari hasil analisis yang telah dilakukan shuujoshi yang digunakan adalah shuujoshi (ãª/ãªã‚) na/naa, shuujoshi (ã‹ãª/ã‹ãªã‚) kana/kanaa, shuujoshi (ã•/ã•ã‚) sa/saa, shuujoshi (ãœ) ze, shuujoshi (ãž) zo.  Shuujoshi kana/kanaa digunakan untuk menunjukkan ketidakpastian, pertanyaan, dan permohonan. Shuujoshi na/naa digunakan untuk menunjukkan rasa, perasaan, perintah dan larangan, penegasan. Shuujoshi sa/saa digunakan untuk menunjukkan suatu penegasan, jawaban. Shuujoshi ze digunakan untuk menunjukkan pernyataan yang tegas, menunjukkan kemauan yang kuat. Shuujoshi zo digunakan untuk menunjukkan kalimat perintah, suatu ancaman, untuk menyemangati / memberanikan diri sendiri atau orang lain. Penelitan serupa dapat dilakukan menggunakan ragam bahasa pria atau ragam bahasa wanita dan pria. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan anime, untuk lebih lanjut bisa menggunakan sumber data berupa komik, novel atau orang Jepang langsung sebagai sumber

    THE APPLICATION OF LANGUAGE LEARNING STRATEGIES AND THEIR RELATIONSHIP WITH ENGLISH ACHIEVEMENT OF THE STUDENTS AT SMKN 1 SINGOSARI MALANG

    Get PDF
    Keywords: Language Learning Strategies, English Achievement, the StrategyInventory of Language Learning (SILL) Questionnaire, Heavy EquipmentDepartment. In learning English, learners often face many difficulties such as pronunciation, vocabulary, etc. So, they need learning strategies to solve them in order to improve their English skills. In Indonesian educational system, English is one of the requirements for graduation in high schools. The writer used Oxford’s (1990) theory in analyzing language learning strategies. Therefore, this study is aimed to investigate the application of language learning strategies and the relationship between language learning strategies and English achievement of 11th grade students of SMKN 1 Singosari Malang.This study used quantitative approach since the data were the scores of SILL questionnaire filled by thirty students on 11th grade at Heavy Equipment Department of  SMKN 1 Singosari Malang and their previous semester English score.This study reveals that the use of overall language learning strategies falls into medium level with the mean score of 2.60. Compensation strategies are the most frequently used with the mean score of 2.97. The following strategies used by the students are affective, metacognitive, cognitive, social and memory strategies. In addition, there is no significant relationship between the six categories of language learning strategies and their English achievement. It may be caused by their aim in learning English in which they focus more on getting a good grade rather than improving their skills.It is suggested that the teachers should introduce the appropriate language learning strategies to the students. Next, the students should be aware of using language learning strategies to enhance their achievement. For the next researchers, they can use other English achievement, additional factors influencing the choice of language learning strategies as variables, and employ more samples for future studies

    PENERJEMAHAN KEISHOU PADA HASIL TERJEMAHAN ANIME K-ON! THE MOVIE DARI KANINDO FANSUB INDONESIA

    Get PDF
    Kata Kunci : Keishou, Kesepadanan, Metode Penerjemahan, Penerjemahan, Teknik Penerjemahan. Penerjemahan tak dapat lepas dari sebuah perbedaan budaya. Perbedaan budaya ini salah satunya ditunjukkan dengan adanya perbedaan dalam menyapa seseorang. Contohnya budaya Jepang dan Indonesia dalam menyapa seseorang.Jepang memiliki sapaan yang berbeda dengan Indonesia yang disebut dengan keishou. Sementara sapaan dalam bahasa Indonesia disebut dengan nomina persona. Keishou semakin dikenal setelah media Jepang, khususnya anime yang semakin terkenal di seluruh penjuru dunia.Penerjemah umumnya menggunakan metode dan teknik penerjemahan yang jarang diketahui. Misalnya seperti yang diaplikasikan oleh KANINDO ketika menerjemahkan keishou dalam anime K-ON! The Movie yang diteliti dalam penelitian ini. Hasil dari metode dan teknik penerjemahan yang diaplikasikan menimbulkan efek dalam penerjemahan yang disebut dengan efek kesepadanan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan cara melakukan scanning kemudian menjelaskan secara deskriptif metode dan teknik apa saja yang dilakukan oleh penerjemah saat menerjemahkan keishou dalam anime K-ON! The Movie.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak teknik dan metode penerjemahan yang dilakukan oleh KANINDO saat menerjemahkan keishou dalam bahasa Indonesia. Baik dengan menerjemahkannya begitu saja, sampai menggantinya dengan budaya Indonesia. Dengan diaplikasikannya teknik dan metode penerjemahan tersebut timbullah efek kesepadanan, dimana hasil terjemahan keishou dapat dikenali dengan mudah oleh pembaca

    PERBANDINGAN STRUKTUR CERITA DONGENG JAKA TARUB DALAM KUMPULAN CERITA ANAK KARYA ALI MUAKHIR DENGAN DONGENG SHIROI TORI KARYA KUSUYAMA MASAO

    Get PDF
    Kata kunci : Aktan, Struktur Fungsional, Jaka Tarub, Shiroi ToriDongeng merupakan warisan yang diturunkan dari lisan ke lisan dalam suatu daerah tertentu. Setiap daerah dalam berbagai macam negara pasti mempunyai dongeng tersendiri, yang juga disebarkan secara lisan ke lisan. Dalam proses penyebarannya, tidak menutup kemungkinan dalam satu negara dengan negara lainnya dapat mempunyai dongeng dengan berbagai macam kesamaan, misal kesamaan motif. Dari sekian banyak dongeng atau cerita rakyat di seluruh dunia, ternyata ada dongeng dari Indonesia yang memiliki kesamaan motif dengan dongeng dari Jepang,dongeng tersebut adalah dongeng Jaka Tarub yang berasal dari Jawa Barat dengandongeng Shiroi Tori yang berasal dari Jepang. Penulis ingin mengkaji lebih dalampersamaan dan perbedaan dalam kedua dongeng. Pada penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan struktur naratologi oleh A.J.Greimas untuk menganalisisstruktur cerita kedua dongeng. Pada pendekatan struktur naratologi oleh A.J.Greimasini nantinya akan menghasilkan skema aktan dan fungsional, guna untuk menunjukkan persamaan dan perbedaan struktur cerita kedua dongeng. Meskipunmempunyai banyak kesamaan, Namun dongeng Jaka Tarub dengan dongeng Shiroi tori tidaklah saling mempengaruhi. Hal tersebut dapat dilihat dari ciri khas masing-masing dongeng yang merupakan gambaran kehidupan masyarakat di mana dongeng tersebut lahir.Bagi peneliti selanjutnya, dianjurkan untuk menggunakan objek lainnya yang belum pernah diteliti sebelumnya, misalnya legenda atau mite. Kemudian, tidak hanya meneliti struktur cerita saja, ada baiknya meneliti tentang kebudayaan atau mengkaji perwatakan dalam masing-masing dongeng, ataupun mengkaji dari segi historisnya. Karena dalam sebuah dongeng bisa mengandung nilai historis

    AN ANALYSIS OF TRANSLATION METHODS USED IN THE INDONESIAN SUBTITLES OF THE CROODS MOVIE

    Get PDF
    Kata Kunci: penerjemahan, metode penerjemahan, anak judul, The Croods. Penerjemahan adalah memindahkan arti dari bahasa atau yang diketahui sebagai bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa). Penerjemahan memiliki peran yang penting untuk membuat anak judul dalam bahasa yang berbeda. Penerjemah harus menggunakan metode penerjemahan yang tepat untuk mmbuat anak judul yang baik. Kesetaraan makna antara bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa) juga memiliki peran yang penting, karena tidak semua kata dalam bahasa sumber  memiliki kesetaraan makna dalam bahasa sasaran. Studi ini bertujuan untuk mengetahui metode penerjemahan yang digunakan dalam anak judul Bahasa Indonesia dalam film The Croods dan untuk mengetahui kesetaraan makna antara bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa) yang digunakan dalam anak judul Bahasa Indonesia dalam film The Croods. Theory yang digunakan dalam studi ini adalah teori yang dikemukakan oleh Newmark (1988) dan Baker (1992). Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis dokumen karena data dalam studi ini berupa kata. Sumber data dari studi ini adalah anak judul dari film The Croods. Data yang diteliti adalah kombinasi antara kalimat majemuk dan kalimat majemuk bertingkat pada anak judul Indonesia dalam film The Croods yang didapatkan dari www.subscene.com. Hasil analisis menunjukkan bahwa 3 kalimat menggunakan penerjemahan setia, 4 kalimat menggunakan penerjemahan semantic, dan 13 kalimat menggunakan penerjemahan komunikatif. Metode yang paling banyak digunakan oleh penerjemah adalah metode penerjemahan komunikatif karena metode ini memberikan keutamaan pada konteks BSu dari aspek bahasa dan isi teks, jadi hasil dari penerjemahan komunikatif sangat mudah dipahami oleh pembaca bahasa sasaran, terutama oleh penonton film yang terdiri dari berbagai usia. Selain itu, penulis juga menemukan 9 kalimat diterjemahkan menggunakan kesetaraan gramatikal dan 11 kalimat menggunakan kesetaraan tekstual. Kesetaraan makna yang paling banyak digunakan oleh penerjemah adalah kesetaraan tekstual karena kesetaraan textual fokus pada keberhasilan informasi yang diterima oleh pembaca. Untuk para peneliti berikutnya, diharapkan untuk meneliti mengenai metode penerjemahan pada obyek yang berbeda seperti novel, cerita pendek atau obyek tertulis lainnya. Sedangkan untuk mahasiswa Prodi Sastra Inggris  Universitas Brawijaya diharapkan studi ini dapat menambah pengetahuan mengenai penerjemahan terutama metode penerjemahan

    A SOCIOLINGUISTIC STUDY OF TABOO IN ALAS PURWO BANYUWANGI

    Get PDF
    Key words: sociolinguistic, taboo, folklore, social mental structure Language can be the most powerful attribute to define the mental structure of the people in particular group. Taboo is one of the social phenomena that can be used as an object of the study in sociolinguistic field. Taboo consists of normative rules that are transferred orally through generations without any specific rational. The appeareance of these taboo rules in society are accepted by the society as their local belief in communicating with others. In order to find the relationship between social mental structure and taboo rules, oral tradition as the device to transfer the information must be examined. The oral tradition as the social behaviour that havethe same characteristics with the taboo rules appear as the form of language that can also define the social mental structure. Based on those backgrounds, the writer is interested in analyzing the existence of taboo rules in Banyuwangi society especially in Alas Purwo which is touted as one of the most superstisious society in Banyuwangi area. The focus of the study attempts to find answers of this following problems of study: (1) What kind of taboo are believed in Alas Purwo Banyuwangi, (2) What are the meanings of the taboo in Alas Purwo Banyuwangi, (3) What are the types of folklore for each of the taboo in Alas Purwo? In the study, the writer uses Keith and Burridge (2006) categorization related to thefunction and the impact of breaking the rules. The writer also uses Danandjaja’s (1982) categorization of folklore. The result of the study shows that there are 4 fatal taboos, 1 exploiting taboo, 1Uncleanliness taboo, and 9 less serious taboo. From those taboos, there are two types of folklore that namely Myth and Legend. There are 10 myths and 3 legends in Alas Purwo. This result proves that eventhough the development of technology and information has grown fast in Banyuwangi area, the societ y’s subconscious mind still cannot accept the modernity principles in their life which demands eliminating the traditional beliefs which are full of superstition and myths. The writer suggest the study of taboo in Banyuwangi area be developed by the nextresearcher by tracking the existence of the characters like Werjo and Minak Jinggo with the historical data taken.Â

    871

    full texts

    970

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇