Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
    970 research outputs found

    PENGGUNAAN ADJEKTIVA MAJIME, SHINKEN DAN HONKI DALAM ANIME BAKUMAN SEASON 1 DAN 2 KARYA SUTRADARA KENICHI KASAI

    Get PDF
    Kata kunci :Sinonim, adjektiva, majime, shinken, honki Seperti halnya dengan bahasa Indonesia, di dalam bahasa Jepang juga terdapat sinonim. Sinonim adalah kata yang maknanya mendekati kata lain. Pada penelitian ini, penulis meneliti mengenai adjektiva majime, shinken dan honki, dimana ketiga adjektiva tersebut mempunyai makna yang sama yaitu serius. Sumber data yang digunakan adalah anime bakuman season 1 dan season 2, dimana masing-masing season berjumlah 25 episode. Pada penelitian ini data yang terkumpul berjumlah 57 data, yang terdiri dari majime 17 data, shinken 14 data dan honki 26 data. Dari data-data tersebut penulis melakukan analisis mengenai persamaan dan perbedaan dari ketiga.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan dan persamaan  adjektiva majime, shinken dan honki adalah sebagai berikut. 1. Majime mengarah pada serius untuk orang, pemikiran dan situasi. Selainbermakna serius, majime juga mempunyai makna lain yaitu rajin, jujur atautulus. 2. Shinken bermakna serius pada sutu hal dan perbuatan yang sedang dilakukan.3. Honki bermakna serius pada keyakinan, niat dan keinginan terhadap suatu hal atau perbuatan.4. Dari segi subjek,  majime digunakan untuk orang yang sudah akrab dan belum terlalu akrab, sementara shinken dan honki digunakan untuk orang yang sudahakrab.  5. Shinken dan honki dapat digunakan untuk objek perbuatan berupa pertarungan dan pertandingan

    AN ANALYSIS OF LANGUAGE FUNCTIONS USED BY THE MAIN CHARACTERS IN TWILIGHT MOVIE

    Get PDF
    Keywords: Language functions, Twilight MovieLanguage is not only used to express intent of heart and mind to others, but also to deliver message from the addresser to the addressee. Therefore, language has some functions, such as emotive, directive, phatic, poetic, metalinguistic, referential, and contextual function. In this study, the writer examines  the language functions used by the main characters in Twilight movieto know the language functions used and types of the language functions that are mostly found in Twilight movie.This study uses qualitative approach to examine the language functions used in the main characters’ utterances in Twilight movie and their analysis. The data of this study are the utterances transcript of the main characters in Twilight movie containing language functios. After classifying the utterances into types of language functions, the writer gives the implementation of them.The results show that there are five language functions out of seven language functions found in the utterances of the main characters of Twilight movie. They are emotive function, directive function, phatic function, and referential function. From fifty utterances, the writer finds 21 referential function, 17 phatic function, 7 emotive function, 12 directive function, and 8 poetic function. Referential function is the mostly used language function since many utterances produced by the addresser give information to the addressee. The second language function that is mostly used is phatic function because when the addresser wants to know something, she/he has to open a conversation with others. The third language function used by the main characters is emotive function, since they often express their emotion to response the addressee. The other language function used by the main characters is directive function since the addresser orders the addressee to do something. Another language function used by the main characters is poetic function because the addresser gives information to the addressee by focusing on the real meaning of the message.The writer gives some suggestions to the next writer who wants to do further research. Firstly, it is suggested to the next writers to examine the order part of language functions. Secondly, the writer would like to suggest the next writer to examine language functions in other media such as novel, daily conversation, etc

    REPRESENTASI KISAH CINTA POSTMODERN DALAM CERPEN RASEN KARYA YOSHIMOTO BANANA

    No full text
    Kata kunci : Yoshimoto Banana, Postmodern, Representasi, Kisah CintaParadigma postmodern yang selalu menyajikan alternatif jawaban dari pandangan-pandangan yang muncul dalam paradigma modern, memunculkan perbedaan pandangan antar keduanya, salah satunya adalah mengenai cinta. Pandangan ‘Love is Beautiful’ yang muncul di era modern, memunculkan respondari postmodernis yang akhirnya berpengaruh pada pola pikir mereka mengenai cinta itu sendiri. Hal ini terlihat dari munculnya kisah cinta ala postmodern yangterdapat dalam karya sastra. Salah satunya adalah dalam cerpen Rasen karya Yoshimoto Banana. Cerpen ini berkisah tentang sepasang manusia modern yangsedang menjalin hubungan cinta, antara tokoh ‘Aku’ dan kekasihnya. Dalam cerpen Rasen ini, terdapat banyak problematika cinta tersendiri yang dialami oleh keduatokoh yang menjadi representasi dari kisah cinta postmodern. Oleh karena itu,dalam studi ini penulis akan menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu : Bagaimana representasi kisah cinta postmodern yang tertuang dalam cerpen Rasenkarya Yoshimoto Banana?Untuk menjawab penelitian di atas, penulis menggunakan teori postmodern mengenai cinta. Terutama dalam hal problematika cinta yang kemudian memunculkan posisi postmodern dalam padangannya mengenai cinta. Hal inilah yang kemudian memunculkan karakteristik kisah cinta postmodern itu sendiri. Karakteristik tersebut diantaranya adalah; mengenai pasangan yang teralienasi, diskomunikasi, ketakutan menjalin hubungan yang dialami manusia modern,termasuk diantaranya mengenai schizophrenic fragmentation.Hasil studi menunjukkan bahwa problematika kisah cinta postmodern mulaidari diskomunikasi, alienasi, ketakutan menjalin hubungan yang dialami manusia modern, schizophrenic fragmentation yang memisahkan hubungan antar individu, semuanya tergambar jelas dalam narasi dan dialog antara tokoh ‘Aku’ dankekasihnya. Hal ini pula yang kemudian semakin mengukuhkan posisi postmodern dalam pandangannya mengenai cinta. Bahwa cinta itu tidak selamanya bermakna indah, tetapi bisa bermakna lebih dari itu dengan hubungannya yang kompleks.Penulis menyarankan peneliti selanjutnya untuk meneliti kembali dan menggali lebih dalam cerpen Rasen karya Yoshimoto Banana ini. Mulai dari unsur ambiguitas khas Yoshimoto Banana yang kental dalam cerita, ada pula nilai estetika yang tersirat dari narasi tokoh ‘Aku’. Hal tersebut bisa dilakukan dengan  berbagai macam pendekatan teori, baik dengan menggunakan sosiologi sastra, filsafat, ataupun dengan menggunakan pendekatan psikologi melalui tokoh-tokoh didalamnya

    A MORPHOLOGICAL PROCESSES OF INDONESIAN SLANG WORD FOUND IN RADITYA DIKA’S NOVEL “KAMBING JANTANâ€

    Get PDF
    Keywords: word formation processes, Indonesian slang word,  “Kambing Jantan†novel.Words as the smallest part of language always evolve day by day because human beings tend to use and create new words to make their conversation runwell. In its development, human beings are able to create new words orvocabulary that exists in human’s life. A new word can be borrowed from otherlanguages, invented by known or unknown individual person, or created fromexisting words. The process of forming new words or new meaning of the oldwords is known as word formation processes. People usually use variation oflanguage that is appropriate with their society. In this case, members of a society,especially teenagers, usually tend to use informal language like slang language intheir communication. In this study, the writer is interested in analyzing wordformation processes of Indonesian slang word since the word formation processestake a crucial part in forming Indonesian slang word.This study is aimed to investigate word formation processes of Indonesianslang word found in Raditya Dika’s novel “Kambing Jantanâ€. The problem of thestudy are: (1) what are the word formation processes of Indonesian slang wordsfound in Radit ya Dika’s novel “Kambing Jantanâ€. (2) what is the meaning  of Indonesian slang words found in radit ya Dika’s novel “Kambing jantanâ€.This study used qualitative approach. The data were 61 Indonesian slangwords found in Radit ya Dika’s novel “Kambing Jantanâ€. In addition, the types of morphological processes applied were derivation, inflection,  backformation, acronym, clipping, blending, coinage, compounding, borrowing, reduplication andmultiple processes. Furthermore, the writer analyzed the data by using somesources like Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, Kamusgaul.com, KamusSlang.com, Bahasa Gaul vs Bahasa Baku and artikata.com.In particular, the writer only focused to analyze the morphological processes of Indonesian slang word found in Raditya Dika’s novel “Kambing Jantanâ€. Therefore, the writer would like to suggest further researchers tocontinue this study. There will be better insight for other readers if furtherresearchers can analyze other aspects of language beside morphological aspectsuch as phonology, syntax and discourse analysis so that the readers deeply knowall aspect of language in “Kambing Jantan†novel. They also can conduct a studyabout slang words in a contemporary poem

    GAYA BAHASA KIASAN DALAM ALBUM CLICKED SINGLES BEST 13 KARYA L’ARC~EN~CIEL

    Get PDF
    Kata Kunci: Gaya Bahasa Kiasan, L’arc~en~Ciel, MaknaBahasa kiasan bertujuan untuk memberikan makna tambahan dan memberikan kesenangan yang imajinatif pada kata, frase, atau kalimat. Tapi terkadang makna tersebut sulit ditangkap karena adanya pengiasan-pengiasan pada kata, frase atau kalimat tersebut. Hal ini banyak ditemukan pada karya sastra dan salah satunya adalah album Clicked Singles Best 13 karya L’arc~en~Ciel.Permasalahan yang diteliti pada penelitian ini adalah apa saja jenis bahasa kiasan yang digunakan pada album Clicked Singles Best 13 karya L’arc~en~Ciel dan apa makna dari gaya bahasa tersebut berdasarkan referensi dari Tarou (1987), Tomoko (1999), Lestari (2001) dan Mitsuho (2010). Penelitian ini merupakan penelitian deskripitif. Data yang yang di analisis adalah lirik-lirik yang mengandung bahasa kiasan. Analisis yang dilakukan adalah dengan mengklasifikasikan data temuan, kemudian menganalisis makna yang terkandung di dalam lirik tersebut.Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan 4 jenis gaya bahasa kiasan yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan. Sedangkan makna dari gaya tersebut terbagi menjadi dua, yaitu makna denotatif dan makna konotatif

    ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN PRONOMINA DEMONSTRATIVA SISWA KELAS XII BAHASA TAHUN AJARAN 2013/2014 DI SMA NEGERI 1 BATU

    Get PDF
    Kata Kunci : Analisis kesalahan, pronomina dan demonstrativa.Latar belakang timbulnya penelitian ini berdasarkan pada penggunaan kata tunjuk yang penting untuk dipelajari bagi pembelajar bahasa Jepang. Namun kenyataannya pembelajar bahasa Jepang sering mengalami kesulitan dalam menggunakan kata tunjuk di dalam sebuah kalimat sehingga penelitian ini berjudul “Analisis Kesalahan Penggunaan Pronomina Demonstrativa Siswa Kelas XII Bahasa Tahun Ajaran 2013/2014 di SMA Negeri 1 Batuâ€. Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Kesalahan jenis apakah yang dilakukan oleh para siswa kelas XII Bahasa di SMA Negeri 1 Batu dalam menggunakan pronomina demonstrativa ? (2) Faktor apa saja yang menyebabkan para siswa kelas XII Bahasa di SMA Negeri 1 Batu sering salah dalam menggunakan pronomina demonstrativa bahasa Jepang? Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif, yaitu mendeskripsikan penyebab kesalahan penggunaan pronomina demonstrativa pada siswa kelas XII Bahasa tahun ajaran 2013/2014 di SMA Negeri 1 Batu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan angket. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat 4 kesalahan yang terjadi pada siswa kelas XII bahasa tahun ajaran 2013/2014 di SMA Negeri 1 Batu dalam menggunakan pronomina demonstrativa. (2) Penyebab kesalahan adalah (a) Kata tunjuk bahasa Indonesia berbeda dengan kata tunjuk bahasa Jepang, (b)buku pegangan siswa kurang lengkap, (c)guru pengajar menjelaskan terlalu cepat/kurang mendetail, (d) materi yang diajarkan terlalu rumit dan (e) kurang adanya latihan

    PENGGUNAAN KONJUNGSI GA, DEMO DAN KEDO PADA SERIAL DRAMA YOROZU URANAIDOKORO ONMYOUYA E YOUKOSO EPISODE 1 & 2 KARYA HIJIKATA MASATO

    Get PDF
    Kata Kunci : Konjungsi dan Yorozu Uranaidokoro Onmyouya E Youkoso Banyak kata dalam bahasa Jepang yang memiliki makna yang sama, tapidengan cara penggunaan yang berbeda. Seperti ‘ga’, ‘demo’, dan ‘kedo’ yangtermasuk dalam jenis kata konjungsi, yaitu jenis kata yang berfungsi sebagai katapenghubung, yang memiliki makna sama, yaitu ‘tetapi’.Penelitian ini dilakukan guna mengetahui perbedaan penggunaankonjungsi ‘ga’, ‘demo’, dan ‘kedo’ dan apakah ketiga konjungsi tesebut dapat bersubtitusi satu dengan yang lain. Sumber data yang dipilih dalam penelitian ini adalah serial drama Yorozu Uranaidokoro Onmyouya E Youkoso episode 1 & 2 karya Hijikata Masato yang didalamnya ditemukan banyak penggunaan konjungsi ‘ga’, ‘demo’, dan ‘kedo’.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu penelitianyang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis yang merupakan deskripsi dari sesuatu yang diamati terkait dengan hal yang diteliti yaitu perbedaan penggunaankonjungsi ‘ga’, ‘demo’, dan ‘kedo’ dan potensi subtitusi ketiga konjungsi tersebut.Data yang ditemukan sejumlah 57 data, yaitu konjungsi ‘ga’ 10 data, konjungsi ‘demo’ 21 data dan konjungsi ‘kedo’ 26 data. Kesimpulan yang diperoleh yaitu konjungsi ‘ga’ dan konjungsi ‘kedo’ sama-sama digunakan diakhir klausa utama sehingga konjungsi ‘ga’ dan konjungsi ‘kedo’ dapat saling bersubtitusi, tetapi tidak dapat bersubtitusi dengan konjungsi ‘demo’. Namun,konjungsi ‘ga’ dan konjungsi ‘kedo’ jika digunakan di awal kalimat akan menjadi ‘desuga’ dan ‘desukedo’ atau ‘dakedo’. Oleh karena itu, konjungsi ‘demo’ dapatsaling bersubtitusi dengan konjungsi ‘desuga’ dan ‘desukedo’ atau ‘dakedo’

    TINDAK ILOKUSI EKSPRESIF DALAM FILM 「筆談ホステスã€HITSUDAN HOSTESS KARYA HAJIME TAKEZONO

    No full text
    Kata kunci: Pragmatik, Tindak ilokusi ekspresif, Film. Tindak ilokusi ekspresif dijabarkan oleh Shibatani (2000:126) menunjukkan tindakan tingkah laku penutur secara kejiwaan berterima kasih, memuji, meminta maaf, kekhawatiran dan lain-lain. (apabila diucapkan “saya berterima kasih padamu†menjadi suatu tindakan berterima kasih). Menurut Bach dan Harnish (1993:15), jenis tindak ilokusi ekspresif (acknowledgment) mengekspresikan perasaan tertentu kepada mitra tutur. Ekspresif (acknowledgment) dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: Apologize (permintaan maaf), Condole (ucapan ikut berduka), Bid (harapan), Greet (mengucapkan salam), Accept (penerimaan), Reject (menolak), Congratulate (mengucapkan selamat).   Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data yang diteliti berupa film 「筆談ホステスã€Â  Hitsudan Hostess karya Hajime Takezono. Keseluruhan data temuan berjumlah 38 data, diantaranya adalah (1) ilokusi ekspresif meminta maaf berjumlah 11 data, (2) tindak ilokusi ekspresif harapan berjumlah 1 data, (3) tindak ilokusi ekspresif salam  berjumlah 16 data, (4) tindak ilokusi ekspresif penerimaan berjumlah 2 data, (5) tindak ilokusi ekspresif penolakan berjumlah 4 data, (6) tindak ilokusi ekspresif mengucapkan selamat berjumlah 4 data, dalam penelitian ini tidak ditemukan tindak ilokusi belasungkawa. Selain jenis tindak ilokusi ekspresif juga terdapat fungsi tindak ilokusi diantaranya fungsi convival (menyenangkan), fungsi conflictive (bertentangan)

    MAKNA SIMBOL PATUNG ANJING DALAM FILM HIGH SCHOOL DEBUT KARYA SUTRADARA TSUTOMU HANABUSA

    Get PDF
    Kata Kunci: Film, Semiotik, Ikon, Indeks, Simbol Penelitian yang berjudul Analisis Simbol Patung Anjing Dalam Film High School Debut Karya Sutradara Tsutomo Hanabusa bertujuan untuk menganalisis makna dari simbol patung anjing yang digunakan sebagai latar dalam film tersebut. Berdasarkan alasan tersebut, maka dalam penelitian ini ditentukan beberapa rumusan masalah yaitu apa saja ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam film High School Debut dan apa makna dari simbol patung anjing dalam film tersebut. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini menggunakan teori Semiotik Charles Sanders Pierce.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ikon, indeks, dan simbol serta mengetahui makna simbol patung anjing dalan film High School Debut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa simbol patung anjing berwajah manusia menginterpretasikan sosok Haruna. Haruna yang mempunyai sifat gigih dalam menanti seorang kekasih disimbolkan kepada patung anjing Hachiko. Hachiko sendiri terkenal dengan kesetiaanya kepada majikan. Persamaan antara karakter Haruna, Hachiko, dan isi dari cerita yang memberikan pesan kesetiaan membuat ketiga aspek saling berkaitan. Ikon dalam film ini adalah sosok Haruna, Yoh, dan patung anjing Hachiko berwajah manusia. Keberadaan Haruna dan patung anjing Hachiko berwajah manusia yang sering terlihat di setiap adegan menjadi indeks bahwa adanya suatu kemiripan antara Haruna dan  patung anjing. Setiap adegan penantian Haruna yang begitu panjang untuk mendapatkan kekasih menjadi simbol dari kesetiaan seorang wanita.Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti film ini dengan teori yang berbeda, misalnya menggunakan teori psikologi. Penelitian ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan teori semiotik dari Roland Barthes atau Ferdinand de Saussure. Â

    PENGGUNAAN KONJUNGSI SOSHITE, SOREKARA, DAN SORENI DALAM MAJALAH NIPPONIA

    Get PDF
    Susanti, Lina. 2014. Penggunaan Konjungsi Soshite, Sorekara, dan Soreni dalam Majalah  Nipponia.  Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya.  Pembimbing: (I) Dewi Puspitasari (II) Nadya Inda Syartanti Kata Kunci: Setsuzokushi dan makna Konjungsi  adalah  kelas kata yang digunakan menggabungkan atau merangkaikan bagian-bagian kalimat. Kelas kata bahasa Jepang  di bagi menjadi 10 jenis, salah satunya yaitu konjungsi. Penelitian ini meneliti tentang konjungsi soshite, sorekara, dan soreni. Penelitian ini digunakan untuk  mengetahui penggunaan  konjungsi  soshite, sorekara, dan soreni dalam majalah Nipponia. Berdasarkan alasan di atas agar penelitian ini lebih terfokus, maka  rumusan masalah yang didapat  yaitu Bagaimana penggunaan  konjungsi  soshite, sorekara,  dan  soreni  dalam majalah nipponia dan apakah ketiga konjungsi tersebut dapat saling bersubsitusi atau tidak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena data yang didapat  berupa kata-kata  tertulis yang mengandung  konjungsi  soshite, sorekara, dan  soreni  dalam majalah Nipponia.  Kemudian data tersebut dianalisis secara bersama-sama baik dari segi penggunaan dan untuk mengetahui apakah ketiga konjungsi tersebut dapat saling bersubstitusi atau tidak. Penggunaan konjungsi  soshite,  sorekara  dan  soreni  dalam majalah Nipponia yang ditemukan sebanyak 58 data. Soshite sebanyak 43 data, sorekara 4 data, dan soreni 11 data. Penggunaan soshite pada kalimat setara sebanyak 1 data, penggunaan  soshite  pada kalimat yang berhubungan dengan waktu sebanyak 4 data, penggunaan soshite pada kalimat yang mengandung hubungan sebab akibat sebanyak 2 data,  penggunaan  soshite  untuk menggabungkan antar nomina sebanyak 3 data, penggunaan  sorekara  pada kalimat yang berhubungan dengan waktu sebanyak 1 data, penggunaan  sorekara  dalam  kalimat setara sebanyak 2 data, penggunaan soreni dalam kalimat setara sebanyak 2 data, penggunaan soreni dalam menggabungkan antar nomina sebanyak 4 data, penggunaan  soreni dalam menjelaskan suatu topik sebanyak 3 data

    871

    full texts

    970

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇